Showing posts with label K.H. Imaduddin. Show all posts
Showing posts with label K.H. Imaduddin. Show all posts

Monday, 1 May 2023

Belajar dari Pertentangan Kiyai Imad dengan Gus Fuad

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebagaimana yang telah diketahui masyarakat luas mengenai kasus atau isu yang Viral tentang diragukannya Ba Alawi atau keluarga para habib adalah keturunan Nabi Muhammad saw karena masih terputusnya silsilah sejak Ubeidillah, Gus Fuad Plered semakin mendapatkan angin untuk menghentikan ceramah atau dakwah yang dianggapnya kasar, ngawur, dan berpengaruh buruk. Hasil penelitian K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani menegaskan bahwa para habib dan Ba Alawi ini belum terbukti secara ilmiah merupakan keturunan Rasulullah saw karena ada nama orang yang tiba-tiba ada masuk dalam silsilah atau nasab Nabi Muhammad saw, padahal nama itu tidak ada dalam kitab-kitab nasab pada abad-abad awal. Namanya Ubeidillah.

            Hasil penelitian Kiyai Imad yang sampai hari ini tidak terbantahkan dalam arti belum ada bukti jelas mengenai Ubeidillah adalah keturunan Nabi Muhammad saw membuat Gus Fuad Plered semakin yakin bahwa memang penelitian Kiyai Imad tidak akan bisa terbantahkan. Bahkan, ada orang bilang bahwa peneltian Kiyai Imad tidak bisa dibantah sampai setengah hari sebelum kiamat pun. Menurut Gus Fuad Plered, hal ini  bisa mendorong adanya kelompok-kelompok yang akan melaporkan Rabithah Alawiyah sebagai organisasi para habib telah melakukan kebohongan publik sejak 1928 kepada rakyat Indonesia. Maksudnya, selama ini para habib banyak yang mengaku keturunan Nabi Muhammad saw, tetapi ternyata tidak terbukti dalam penelitian Kiyai Imad. Rabithah Alawiyah berpotensi dilaporkan ke kepolisian karena kebohongan itu. Tampaknya, Gus Fuad Plered ingin memindahkan perdebatan soal nasab Nabi Muhammad saw ini ke pengadilan karena di pengadilan sudah pasti ada perdebatan para ahli yang ujungnya adalah keputusan dari majelis hakim tentang benar-tidaknya soal nasab yang diakui Rabithah Alawiyah dan hasil penelitian Kiyai Imad. 

            Wacana Gus Fuad Plered untuk melaporkan Rabithah Alawiyah ke pihak kepolisian mendapatkan penentangan dari Kiyai Imad secara langsung. Kiyai Imad tidak setuju untuk melaporkan Rabithah Alawiyah ke polisi. Hal itu disebabkan Kiyai Imad melakukan penelitian itu adalah bukan untuk memenjarakan orang atau  berujung di pengadilan, melainkan untuk berkembangnya ilmu pengetahuan.

            Kiyai Imad ini memang orang yang senang dengan ilmu. Dia tampaknya menikmati setiap perdebatan untuk mendapatkan kebenaran. Kalau berujung di pengadilan, perdebatan ilmu itu bisa berhenti dan terputus. Itu bisa merugikan para penuntut ilmu dan kita semua. Kiyai Imad ini pemberani, lurus, dan tegas dalam pendapatnya. Dia itu orangnya detail untuk setiap kalimat, kata, bahkan huruf. Dia tidak menolerir sedikit pun kesalahan. Bahkan, saking detailnya, ada orang bilang setengah huruf pun bisa dia permasalahkan. Video terbaru Kiyai Imad yang saya perhatikan pun luar biasa detailnya. Dia dengan tegas mengatakan kitab yang disusun salah seorang habib tentang larangan “syarifah menikah dengan orang biasa atau pribumi” adalah menyalahi ajaran Islam. Kiyai Imad mengkonfrontir kitab itu dengan kitab awal madzhab Syafii dan Hanafi. Dari setiap huruf dan kata yang dianalisisnya, kitab yang dibuat habib itu salah. Belum lagi bahayanya bagi kehidupan sosial yang bisa menimbulkan kasta-kasta tertentu dan perbedaan lapisan sosial yang tidak perlu.

            Kiyai Imad sangat menentang diselesaikan berbagai hal yang ditelitinya secara hukum seperti yang diinginkan Gus Fuad, tetapi harus diselesaikan dalam berbagai diskusi dan perdebatan ilmiah. Meskipun menentang Gus Fuad, Kiyai Imad tetap santun dan tetap mendoakan Gus Fuad Plered karena merasa sama-sama pernah didoakan oleh guru yang sama dengan Gus Fuad. Sampai hari ini belum ada tanggapan dari Gus Fuad. Belum tahu apa yang terjadi selanjutnya.

            Dari pertentangan keduanya, kita bisa belajar bahwa kita bisa berbeda keinginan, berbeda cara, berbeda pendapat, tetapi pertentangan atau perbedaan itu sangat bisa diselesaikan dengan bahasa yang baik, santun, tetap menghargai orang lain, serta tetap saling mendoakan untuk kebaikan bersama. Pertentangan itu tidak perlu ditampakkan dengan saling buli, saling mencemooh, saling memaki, dan permusuhan. Itu sangat tidak baik.

            Saya sendiri berpendapat bahwa selama diskursus soal pernasaban ini berada dalam perdebatan ilmu, adu argumen ilmiah, sebaiknya terus dilanjutkan demi perkembangan ilmu pengetahuan, jangan diselesaikan dengan cara hukum. Akan tetapi, jika kemudian berubah menjadi fitnah, persekusi, pelecehan, ancaman, perbuatan tidak menyenangkan, menimbulkan keonaran, apalagi huru-hara, memang harus dilaporkan ke polisi untuk diselesaikan di pengadilan yang kemungkinan berujung penjara.

            Sampurasun.

Sunday, 16 April 2023

Bahar bin Smith Tantang Keturunan Para Wali

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Seharusnya, pada bulan Ramadhan ini seluruh umat Islam lebih banyak menahan diri, menguasai diri, mengendalikan hawa nafsu, serta menebarkan kebaikan, menciptakan perdamaian, dan menyebarkan kasih sayang. Artinya, tak perlu diikuti atau dijadikan teladan mereka yang mengumbar hawa nafsu negatif, berbicara kotor, menyakiti hati orang lain, dan menciptakan permusuhan. Sayang sekali, Ramadhan yang mulia ini dikotori oleh hal-hal bernada provokatif negatif.

            Berawal dari kekesalan dan kejengkelan Gus Fuad Plered, pemuka agama yang sangat dihormati kalangan nahdliyin yang menilai bahwa terlalu banyak orang yang mengaku habib, tetapi ceramahnya mengandung banyak kebencian, makian, arogan, kasar, dan menimbulkan perpecahan. Menurutnya, hanya satu-dua atau hanya sedikit habib yang berdakwah memberikan pencerahan dan pemahaman yang menyejukkan bagi umat. Oleh sebab itu, dia menegaskan bahwa para habib yang kasar-kasar dan tidak mencerahkan itu tidak perlu berdakwah lagi di Indonesia karena berbahaya bagi umat. Gus Fuad Plered yang diyakini sebagai keturunan Sunan Ampel itu beberapa kali mengkritik dan menyayangkan sikap, ucapan, dan perilaku Bahar bin Smith yang menurutnya tidak “mempribumi”, tidak sesuai dengan sikap asli bangsa Indonesia yang dikenal baik, lembut, dan tenang.


Gus Fuad Plered (Foto: Editor.id)


            Tampaknya kritikan Gus Fuad dibalas oleh Bahar bin Smith yang sudah dua kali masuk penjara ini gara-gara menganiaya santri dan ocehannya saat ceramah. Entah akan berapa kali lagi dia akan masuk penjara. Bahar menganggap Gus Fuad bodoh, bahkan mengatakan bahwa di Indonesia ini tidak ada keturunan Wali Songo, terputus. Kalau pun ada, itu berasal dari garis keturunan ibu.

Bahar bin Smith (Foto: Postingnews.id)

            Ucapan Bahar ini tentu saja membuat tersinggung dan marah keturunan para wali. Keturunan Sunan Gunung Djati yang nyambung ke Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Maulana Yusuf, Sultan Hasanudin, dan masih banyak lagi benar-benar angkat suara dan meminta Bahar mencabut pernyataannya, termasuk memohon maaf. Kalaupun ada bukti terputusnya keturunan para wali, harus dijelaskan secara ilmiah.

            Lebih jauh dari itu, K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani yang jelas dari Banten, Pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Cempaka, Kresek, Banten lebih mempopulerkan hasil penelitiannya. Kyai Imaduddin yang juga Ketua Fatwa Komisi MUI Banten dengan suara lantang menjelaskan bahwa orang-orang yang mengaku habib di Indonesia belum terbukti secara ilmiah merupakan keturunan Nabi Muhammad saw. Bahkan, menurutnya, Bani Alawiyin itu terputus hubungan darahnya dengan Nabi Muhammad saw. Bani Alawiyin yang biasa disebut Ba alawy ini termasuk di dalamnya Bahar Smith dan orang-orang yang serupa dengannya. Justru bani ini dianggap tidak terhubung dengan Rasulullah saw.  Tak heran, banyak kalangan yang ingin bukti ilmiah, termasuk tes DNA untuk lebih menguatkan keyakinan ada-tidaknya hubungan darah dengan Muhammad saw.


K.H. Imaduddin Utsman Al Bantani (Foto: Inews.id)


            Makin jauh, ada pemuka agama yang sangat marah, mengaitkan dengan  urusan politik bahwa keturunan Yaman tidak pantas untuk banyak gaya di Indonesia. Pribumi adalah pemilik hak yang sah untuk memimpin Indonesia.

            Sayyid Seif Alwy dengan suara menggelegar sangat marah berpidato dalam bahasa Sunda, “Saha nu ngomong keturunan Wali Songo euweuh? Kadieu siah! Dikepret bulak-balik ku aing ayeuna keneh! Gelut jeung aing! Moal eleh gelut aing mah! Rek saha wae digampleng ku aing! [Siapa yang bilang keturunan Wali Songo tidak ada? Ke sini! Saya kepret bolak-balik sekarang juga! Berantem sama gua sekarang! Tidak akan kalah berkelahi saya mah! Siapa pun akan gua tempeleng!]   Kalau ada di Indonesia, tetapi membenci Wali Songo dan menganggap keturunan Wali Songo tidak ada, minggat dari Indonesia!”  


Sayyid Seif Alwy (Foto: Portal Majalengka - Pikiran Rakyat.com)


            Coba kalau sudah begini, makin kacau jadinya, makin aneh. Menurut saya ini perkara yang diada-adakan dengan banyak kebodohan dan ketololan.

            Sejak saya kecil, ngaji, tidak ada guru ngaji, ustadz, atau kiyai yang ngaku-ngaku keturunan Nabi Muhammad saw, terus marah-marah minta dihormati. Tidak ada seorang pun yang teriak-teriak ‘saya cucu Nabi!’, tidak ada yang mengaku-ngaku keturunan Nabi saw, lalu mengemis untuk dimuliakan. Semua biasa saja hubungannya antara murid dengan guru. Kalaupun ada di antara guru-guru saya adalah keturunan Nabi Muhammad saw, bukan dianya sendiri yang bilang, melainkan orang-orang lain yang ngasih tahu saya bahwa dia adalah keturunan Rasulullah saw. Dianya sendiri, tidak pernah bicara soal itu dan bersikap biasa saja seperti orang normal lainnya. Rasa hormat saya dan murid lainnya itu bukan dipaksa, tetapi karena memang timbul dari hati karena keluhuran ilmunya, kemuliaan sikapnya, dan kasih sayang kepada murid-muridnya.

            K.H. Muchtar Adam, pendiri pesantren Babussalam tidak pernah meminta saya untuk memuliakannya, biasa saja. Saya menghormatinya karena memang keluhuran ilmunya yang menulis indeks Al Quran. Dulu sebelum ada internet, untuk memahami Al Quran, saya gunakan buku itu. Fungsinya mirip google, yaitu cari kata kunci yang diperlukan, maka ada runtunan ayat yang memuat kata itu di bukunya. Sekarang, bukunya sudah tidak diperlukan karena ada internet dan google. Setelah K.H. Muchtar Adam wafat, saya baru tahu bahwa cucunya adalah murid saya, mahasiswa saya. Biasa saja, saling menghormati secara normal.

            Keturunan Nabi saw yang sangat saya hormati karena ilmunya, saya kenal dari buku yang ditulisnya sendiri, Futh Al Ghaib, Penyingkap Kegaiban. Syekh Abdul Qadir Jaelani. Kalau membaca bukunya, seolah-olah Syekh ada di depan saya dan saya tunduk mendengarkan ajaran-ajarannya.

            Pada dasarnya saya menghormati semua guru, bahkan semua orang, siapa pun dia jika melakukan kebaikan dan kemuliaan. Tidak peduli dengan leluhurnya. Orang baik adalah orang mulia, keturunan siapa pun dia.

            Dulu itu tidak dikenal istilah habib yang minta dimuliakan, merengek minta dihormati. Istilah habib itu mulai merebak sejak Pilpres 2014 yang kemudian makin marak memasuki Pilpres 2019, semuanya terkait politik. Makin ke sini makin runyam, mengganggu ketenangan keturunan para wali sehingga mereka marah. Para wali itu jelas diakui sebagai keturunan Nabi Muhammad saw. Keturunan para wali sekarang sudah berada pada berbagai bidang kehidupan, ada yang tetap mengajarkan agama, ada yang jadi pengusaha, dokter, pejabat pemerintah, bahkan Jenderal Dudung pun termasuk keturunan Sunan Gunung Djati.

            Sekarang, tiba-tiba bermunculan keturunan para wali yang marah dan tersinggung karena dianggap garis darahnya terputus kepada Nabi Muhammad saw. Padahal, mereka dulu tenang-tenang saja hidup dengan masyarakat tanpa mengaku-aku sebagai keturunan wali dan Nabi Muhammad saw. Biasa saja hidup normal dengan masyarakat lainnya. Sekarang, gara-gara ucapan Bahar yang sudah dipenjara dan mungkin akan dipenjara lagi itu, seolah-olah terjadi rebutan siapa yang paling benar merupakan keturunan Nabi Muhammad saw. Lumayan memalukan menurut saya.

            Untuk apa membicarakan dan menyombongkan garis darah leluhur dengan angkuh?

            Hal yang paling penting kan adalah bagaimana mencerahkan, menenangkan, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat, iya kan?

            Iya toh pisan atuh.

            Memalukan sekali jika mengaku-aku sebagai keturunan Nabi saw, tetapi kerjaannya bikin kegaduhan dan membuat umat berhati keras, tumpul, bodoh, dan tersesat. Sangatlah mulia jika mampu menciptakan kondisi masyarakat yang bermanfaat bagi masyarakat lainnya karena manusia yang paling baik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

            Ingat, ini Ramadhan, jangan picu kegaduhan. Malu-maluin saja.

            Lupa dengan manfaat Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan?

            Kata Habib Jindan bin Novel, nanti di akhirat ada banyak orang yang berteriak-teriak kepada Nabi Muhammad saw bahwa mereka adalah cucu Nabi saw. Akan tetapi, Muhammad saw tidak mengakuinya. Orang-orang itu heran bahwa mereka adalah berasal dari darah daging Nabi saw, tetapi tidak diakui. Kata Nabi saw, benar kalian berasal dariku, tetapi bukan dari spermaku. Kalian berasal dari air kencingku.


Habib Jindan bin Novel (Foto: Twitter)


            Coba Habib Jindan bicara begitu. Artinya, dia marah terhadap orang-orang yang mengaku cucu Nabi saw, tetapi berperilaku memalukan Nabi Muhammad saw.

            Foto Bahar Smith saya dapatkan dari Postingnews id; Gus Fuad Plered dari Editor id; Kyai Imaduddin dari iNews id; Sayyid Seif Alwy dari Portal Majalengka – Pikiran Rakyat com; Habib Jindan bin Novel dari Twitter.

            Sampurasun.