Showing posts with label Komunis. Show all posts
Showing posts with label Komunis. Show all posts

Tuesday, 21 September 2021

Hentikan Polemik Soal Jenderal Dudung

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ternyata, polemik pernyataan Panglima Kostrad Letnan Jenderal Dudung Abdurachman tidak berhenti, terus digoreng dan di-blow up yang justru makin tidak karuan, kacau balau, sama sekali tidak mendidik, bahkan menyesatkan. Mereka yang terus adu bacot nggak jelas itu terdiri atas dua pihak, yaitu: para Kadrun dan para buzzer. Maaf saya menggunakan dua istilah itu karena memang kenyataannya merekalah yang seolah-olah merasa diri paling pintar tentang segala hal.

            Jenderal Dudung memang pernah mengatakan bahwa “semua agama benar di mata Tuhan”. Kalimatnya ini menjadi perdebatan. Perdebatan itu sebenarnya akan mengasyikkan jika menggunakan standar-standar pengetahuan yang jelas, baik pengetahuan keagamaan, maupun standar ilmiah. Sayangnya, para Kadrun dan buzzer itu tidak menggunakannya meskipun mereka sama-sama mengatakan dirinya menggunakan akal sehat.

            Para Kadrun menggunakan emosinya, rasa sakit hati, atau kebenciannya sampai-sampai pernyataan Jenderal Dudung dianggap sebagai kebangkitan “neokomunis” atau tanda bangkitnya PKI. Ada juga yang mengatakan bahwa Dudung adalah penjilat istana Jokowi. Sementara itu, para buzzer menggunakan pikirannya saja dengan menganggap bahwa akal pikirannya adalah yang paling benar sehingga menganggap pernyataan Dudung adalah benar untuk konteks kebangsaan dalam rangka menguatkan NKRI. Padahal, kemampuan akal dan pikiran manusia itu terbatas. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan para nabi berikut ajarannya untuk memandu akal agar tetap berada dalam koridor wahyu Illahi.

            Pernyataan Dudung tentang semua agama benar di mata Tuhan memang menjadi persoalan akidah. Untuk menilainya, dalam Islam harus bersandar pada dalil naqli yang berupa panduan tertulis dalam Al Quran dan hadits. Kemudian, ada dalil aqli dengan menggunakan akal secara baik dan seimbang. Jika mau berdiskusi ataupun berdebat dengan menggunakan dalil-dalil itu, akan sangat mudah dipahami dan diselesaikan. Tinggal kitanya mau mengikuti dalil atau mengikuti hawa nafsu. Setelah kebenaran tampak jelas, biarkan Allah swt yang memutuskan tindakan-Nya terhadap persoalan itu. Allah swt bisa memutuskannya dan mempertegas tindakannya di dunia atau di akhirat, terserah Dia sendiri.

            Perdebatan menjadi sangat semrawut karena meluas menjadi isu kebangkitan komunis dan penguatan NKRI. Padahal, sama sekali enggak ada hubungannya dengan pernyataan Jenderal Dudung. Para Kadrun dan para buzzer itu adu pintar hingga menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain.

            Hentikan segera perdebatan yang tidak ada artinya itu hingga meluas ke isu-isu lain yang tidak ada hubungannya. Kalau mau didiskusikan atau diperdebatkan, fokuslah ke kalimat Dudung, lalu analisislah dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dengan dasar yang jelas. Jangan ngecapruk hingga menyesatkan orang lain, kasihan orang lain jadi ikut salah berpikir dan bertindak.

            Bagaimana dengan pendapat saya sendiri?

            Baca saja tulisan saya yang lalu tentang pernyataan itu.

            Sampurasun.

Thursday, 26 March 2020

Aliran Marxisme


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam buku Ekonomi Politik Internasional: Suatu Pengantar yang disusun Umar Suryadi Bakry, Cetakan I, Januari 2019, yang diterbitkan Pustaka Pelajar, Yogyakarta, dijelaskan dengan baik mengenai Aliran Marxisme/Strukturalisme. Tokoh-tokohnya, antara lain, Karl Marx dan Friederich Engels yang disebut-sebut sebagai “Bapak Pendiri Komunisme”. Adapula Vladimir Lenin yang melihat ketimpangan antara negara penjajah dengan negara jajahannya. Di samping itu, ada Immanuel Wallerstein dan Robert Cox yang berpaham Neo-Marxis dalam kata lain memberikan kritik dan mengembangkan teori-teori klasik Karl Marx. Dengan demikian, Aliran Marxisme memiliki beberapa varian sesuai pemikiran tokoh-tokohnya tersebut.

            Karl Marx adalah seorang filsuf besar sekaligus pakar ekonomi politik kelahiran Prusia (sekarang Jerman) 1818. Salah satu tulisannya yang sangat terkenal adalah Manifesto Komunis yang mengilhami banyak pemikir strukturalis hingga saat ini.

            Marx berpendapat bahwa inti dari kekuatan ekonomi adalah modal (alat-alat produksi). Oleh sebab itu, di dalam masyarakat yang kapitalis akan terbentuk kekuasaan-kekuasaan ekonomi berdasarkan kepemilikan atas modal. Ada penguasa modal (borjuis) dan ada kaum proletar. Kedua kelas ini akan selalu bertarung untuk mendapatkan modal atau alat-alat produksi.

            Pemikiran Karl Marx yang seperti inilah yang banyak ditulis orang ketika mendeskripsikan pertarungan antara kapitalis (para pemodal) dengan komunis (kaum proletar, buruh). Hampir semua orang memahami bahwa kaum komunis adalah kaum yang memerangi kaum kapitalis karena selalu terpinggirkan dalam menguasai kapital (modal).

            Hal seperti ini pula yang coba digambarkan oleh Presiden ke-1 RI Soekarno dalam bukunya Dibawah Bendera Revolusi (1964). Menurutnya, kaum komunis adalah kaum yang merasa hak-haknya dirampok oleh kaum pengusaha. Hak perumahan, hak kesehatan, hak berpenghasilan besar, dan hak-hak lainnya diambil oleh pengusaha dalam sistem kapitalisme. Oleh sebab itu, kaum proletar ini berlari-lari kesana-kemari untuk meminta pertolongan. Mereka meminta bantuan raja dan para bangsawan, sayangnya raja dan para bangsawan mendukung para kapitalis. Mereka pun meminta bantuan gereja, sayangnya banyak gereja yang sudah disuap oleh para pengusaha kapitalis sehingga justru gereja semakin menyudutkan kaum komunis. Dengan demikian, kekecewaan kaum komunis pun menjadi-jadi sehingga tumbuh kemarahan dengan mengatakan “Tuhan tidak ada”.

            Karl Marx banyak menganalisis ketimpangan-ketimpangan dalam sebuah negara/domestik yang ditandai dengan terjadinya perjuangan kelas antara kaum borjuis dan kaum proletar. Bahkan, perjuangan atau pertarungan di antara kaum kapitalis sendiri banyak menimbulkan konflik dan perang-perang di dunia. Mereka bertikai hanya karena perebutan modal. Berbeda dengan Vladimir Lenin yang lebih suka memperhatikan hubungan-hubungan ekonomi internasional. Lenin pun mengkritik kapitalisme yang disebutnya sebagai sumber dari konflik dan perang. Lenin lebih melihat adanya penguasaan atau dominasi yang dilakukan negara penjajah pada negara jajahannya yang kemudian memunculkan adanya negara kaya dan maju serta negara miskin dan terbelakang.

            Berbeda pula dengan pandangan para ahli Neo-Marxisme yang lebih berdamai dengan sistem kapitalisme. Menurut mereka, negara dan kapitalisme adalah saling membutuhkan untuk menciptakan kehidupan ekonomi yang lebih baik. Negara-negara miskin dan terbelakang suatu saat akan menjadi negara maju dan kaya. Demikian pula, negara-negara maju dan kaya dapat jatuh menjadi negara miskin dan terbelakang. Hal ini mungkin saja terjadi sesuai dengan situasi politik, budaya, dan lingkungan alam. Politik bisa menjatuhkan dan memajukan sebuah negara, begitu pula dengan budaya. Hal yang sama pun bisa terjadi karena perubahan lingkungan alam, bencana besar, wabah penyakit, serta perubahan iklim sangat mungkin mengubah kondisi ekonomi dan politik suatu negara. Bagi neo-marxisme, pertarungan yang tersisa pada zaman ini hanya antara para pengusaha dan kaum buruh, tidak lagi antarnegara atau yang lainnya.

            Meskipun memiliki banyak varian, Aliran  Marxisme memiliki elemen-elemen pokok yang menyatukan perbedaan mereka. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Umar Suryadi Bakry (2019), yaitu: Pertama,         manusia secara individu bersifat kooperatif, namun hubungan antarmanusia dalam sebuah kelompok (masyarakat, negara, hubungan antarnegara) cenderung bersifat konfliktif. Manusia sesungguhnya adalah makhluk sosial sehingga selalu ada keinginan untuk berhubungan secara kooperatif dan positif. Akan tetapi, jika sudah berada dalam suatu kelompok, mereka cenderung membela kelompoknya karena kesamaan kepentingan. Dalam hal ekonomi, manusia akan bersama-sama dengan manusia lainnya yang memiliki perasaan dan kepentingan ekonomi yang sama sekaligus menentang kelompok lainnya yang memiliki perasaan dan kepentingan ekonomi yang berbeda.

            Kedua, konflik muncul dari persaingan antarkelompok individu, khususnya antara pemilik modal/sarana produksi (kelas borjuis) dan pekerja (kelas proletar). Pengusaha kerap memiliki kepentingan yang berbeda dengan para pekerjanya. Seringkali perbedaan ini tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik yang akibatnya timbul rasa saling curiga dan tarik-menarik kepentingan. Pengusaha sering ingin cepat mengembangkan perusahaannya untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Sementara itu, para pekerja memikirkan kesejahteraan dan kemakmuran dirinya yang harus dipenuhi oleh para pengusaha.

            Ketiga, negara (state) biasanya bertindak untuk mendukung pemilik modal (sarana produksi) sehingga menempatkan negara dan pekerja dalam posisi berhadapan satu sama lain. Dalam pemikiran dan pengalaman hidup kaum marxis/komunis, negara selalu melindungi dan bersahabat dengan para pengusaha karena para pengusaha itu memiliki kedekatan dengan penguasa, negara, dan memberikan banyak dukungan materi, baik melalui pajak maupun nonpajak seperti hadiah-hadiah. Dengan kedekatan itu, para pekerja merasa dirinya jauh dari negara sehingga tak jarang mengambil sikap bertentangan dengan negara.

            Keempat, dalam sistem kapitalis, terdapat hubungan yang bersifat eksploitatif dan ketidakadilan (inequality) antara pemilik modal dan pekerja serta antara negara-negara maju (centre) dengan negara-negara sedang berkembang (periphery). Dalam pandangan mereka, pengusaha selalu mengeksploitasi para pekerja, kaum borjuis kerap memeras proletar. Demikian pula negara maju selalu melakukan pemerasan atau melakukan banyak tekanan pada negara-negara lemah. Hal-hal seperti itulah yang mengakibatkan ketidakadilan.

            Kelima, hal-hal tersebut menciptakan kondisi interaksi antara pemilik modal dan pekerja serta antara negara maju dengan negara sedang berkembang adalah zero sum game. Kedua-duanya tidak mendapatkan keuntungan yang besar bersama-sama, tetapi sama-sama rugi. Kalaupun mendapat keuntungan, sangat sedikit dibandingkan kerugian atau biaya yang harus dikeluarkan.

            Demikian pengantar pemahaman Aliran Marxisme. Untuk lebih jelasnya lagi, dapat digali dengan diskusi ataupun menambahnya dengan sumber-sumber bacaan lain.

            Sampurasun.


 Sumber:

Bakry, Umar Suryadi, 2019, Ekonomi Politik Internasional: Suatu Pengantar, Cetakan I, Januari 2019, Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga: Jakarta

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2014, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013, Penerbit Erlangga:  Jakarta

Sukarno, 1964, Dibawah Bendera Revolusi, Cet. 3, Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi: Jakarta

Saturday, 28 December 2019

Indonesia, Ummatan Wasathan


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pembahasan mengenai “ummatan wasathan” sudah dilakukan banyak orang. Ummatan wasathan diartikan sebagai “umat penengah, umat pertengahan, umat yang adil,  dan umat paling utama”. Banyak orang menulis pemahaman ini dari berbagai sudut pandang. Ada yang melihat dari sisi ibadat, akhlak, ketuhanan, kemanusiaan, ekonomi, dan spiritual.

            Kalimat ummatan wasathan sendiri ada dalam QS Al Baqarah, 2 : 143.

            “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘ummat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu ….”

            Begitu hasil terjemahan Dr. Ahmad Hatta, M.A..

            Jika kita memperhatikan Indonesia dan hubungannya dengan negara-negara asing, Allah swt sudah menggiring Indonesia menjadi ummatan wasathan. Tampaknya, Allah swt memberikan ilham kepada para founding fathers untuk berada di tengah-tengah dunia. Hal itu bisa dilihat dari politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif”, ‘bebas dari tekanan negara mana pun dan aktif mendamaikan dunia’. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak mau ditarik-tarik oleh dua kekuatan besar dunia, yaitu kapitalis dan komunis. Indonesia berada di tengah-tengah keduanya. Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia adalah penggagas gerakan nonblok yang utama. Tidak berpihak pada blok kapitalis dan tidak berpihak pada blok komunis, tetapi aktif meningkatkan harga diri bangsa-bangsa terjajah sekaligus aktif dalam perdamaian dunia. Monumennya ada di Bandung, Jawa Barat. Ada Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika, Hotel Homman, Jln. Hofman, Braga, Dasasila Bandung, dan sebagainya.

            Dasar pemikiran untuk bertindak bagi bangsa Indonesia, tentu saja Pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya memuat Pancasila. Jadi, dasar tindakan kita bukanlah ideologi kapitalis maupun komunis, melainkan Pancasila.

            Sampai sekarang pun Indonesia tetap di tengah-tengah. Indonesia bisa bersahabat dengan negara-negara kapitalis, bisa bersahabat pula dengan negara-negara komunis. Kedutaan Besar mereka ada di Jakarta. Jika duta besarnya ada di Jakarta, berarti mereka sahabat. Dengan Israel tidak bersahabat, duta besarnya tidak ada di Jakarta, duta besar Indonesia pun tidak ada di Tel Aviv. Meskipun demikian, Indonesia tidak segan-segan bersuara di tingkat internasional jika ada perilaku internasional yang dipandang melanggar nilai-nilai yang kita anut secara universal.

            Itu dilihat dari segi nilai-nilai, dasar pemikiran, dan dasar bernegara. Dalam praktiknya,  untuk menjadi ummatan wasathan, sulitnya luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari seluruh presiden di Indonesia sejak Soekarno hingga saat ini. Setiap presiden mempunyai kecenderungan/kemiringan sendiri. Terkadang miring ke kapitalis, terkadang pula ke komunis. Akan tetapi, mereka tidak pernah hendak menjadikan Indonesia sebagai kapitalis ataupun komunis. Mereka miring-miring saja karena kondisi dan situasi memaksa mereka untuk melakukan itu demi keselamatan Indonesia sendiri. Bedanya, ada yang miringnya sedikit, ada yang banyak sekali, tetapi pada dasarnya selalu kembali ke tengah. Kesulitan itu karena Indonesia sendiri masih memiliki banyak kelemahan.

            Dalam dunia olah raga, kita mengenal istilah “wasit” yang artinya sama, yaitu “pihak yang harus berada di tengah”, tidak pro ke kanan dan tidak pro ke kiri. Dia harus adil, berada di tengah. Oleh sebab itu, wasit diberi kekuasaan yang besar untuk memberikan “hukuman” kepada mereka yang melanggar aturan. Itulah bedanya dengan Indonesia. Dalam posisi, pikiran, dan jiwa Indonesia berada di tengah dunia, ‘wasathan’, tetapi tidak memiliki kekuasaan yang besar untuk bertindak sebagai wasit, ‘penengah’. Hal itu disebabkan Indonesia masih lemah secara ekonomi, militer, pendidikan, dan teknologi.

            Allah swt menggiring kita ke posisi ummatan wasathan, tinggal kitanya yang harus meningkatkan kualitas diri, keluarga, dan masyarakat dengan berbagai hal yang positif sehingga bermanfaat bagi manusia. Jika kita menjadi manusia-manusia yang berkualitas unggul, otomatis, insyaallah, kita menjadi ummatan wasathan yang sangat dihormati dan berpengaruh di dunia. Dengan itulah, kita akan mempersembahkan amal baik kita ke hadapan Allah swt di akhirat kelak karena telah berperan serta dalam perdamaian dunia dan keadilan manusia dengan kekuatan yang luar biasa, “rahmatan lil alamin”.

            Sampurasun.

Friday, 14 April 2017

Uang Mengalahkan Ukhuwah Islamiyah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Cukup menyedihkan juga jika kita memperhatikan ulang kunjungan Raja Arab Saudi Salman ke Indonesia. Presiden Indonesia Jokowi dan jajarannya menyambutnya dengan sangat baik meskipun sempat hujan. Acara penyambutan dan salam hangat datang dari para petinggi Indonesia, baik eksekutif maupun legislatif. Demikian pula keramahan ditunjukkan dengan tulus oleh seluruh pemimpin agama apa pun di Indonesia. Islam, Hindu, Kristen, Budha, Konghucu, dan pemeluk agama lokal pun ramah dan gembira menyambutnya.

            Hal itu mudah dipahami karena rakyat Indonesia ini menghormati Kerajaan Arab Saudi yang berperan sebagai “Penjaga Dua Kota Suci Umat Islam”, yaitu Mekah dan Madinah. Di samping itu, dunia memandang bahwa Kerajaan Arab Saudi merupakan simbol Islam terbesar karena dua kota suci itu. Adapun Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia. Bertemunya negara simbol Islam terbesar dengan negara berpenduduk Islam terbesar adalah sejarah besar. Bukan hanya rakyat muslim Indonesia yang menghormati Raja Arab Saudi, melainkan pula seluruh umat beragama nonmuslim pun ikut gembira dan senang. Rasa senang itu pun didorong oleh adanya berita yang mengatakan bahwa Raja Salman datang dengan membawa investasi sekitar Rp 331 triliun untuk ditanamkan di Indonesia. Jumlah yang sangat besar. Rakyat berharap ikut “kebagian” dari investasi itu dalam arti ada peningkatan pada berbagai sektor ekonomi.

JOKOWI DAN SALMAN. Foto: nasional.kompas.com
            Sayangnya, kenyataan menunjukkan hal lain. Rakyat Indonesia yang berharap besar, baik muslim maupun nonmuslim, terhadap realisasi investasi itu harus sedikit kecewa karena ternyata investasi yang ditanamkan Raja Salman hanya sejumlah Rp 89 triliun. Itu juga memang investasi yang sangat besar, tetapi tidak sebesar harapan pertama saat Raja Salman hadir di Indonesia. Presiden Indonesia Jokowi pun ikut merasa kecewa.

            Hal yang cukup menjadi perhatian adalah ternyata jumlah investasi yang ditanamkan di Cina jauh lebih besar dibandingkan dengan di Indonesia. Dalam kata lain, Raja Salman berinvestasi di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan dengan di Cina. Padahal, Indonesia dan Arab Saudi adalah sama-sama muslim dan rakyat berharap rasa persaudaraan sesama muslim itu merupakan nilai lebih dalam melakukan hubungan internasional. Adapun dengan Cina, Arab Saudi memiliki perbedaan agama dan keyakinan. Cina itu adalah negara komunis, sedangkan Arab Saudi negara simbol Islam terbesar. Tak ada nilai lebih dari Cina selain ekonomi.

            Mengapa hal ini bisa terjadi?

            Kok sepertinya tidak saling percaya antarsesama umat Islam sendiri?

            Kok Arab Saudi lebih percaya pada komunis daripada pada saudaranya sendiri sesama muslim?

            Bahkan, ketika salah seorang pangeran Arab Saudi bertemu dengan Donald Trump, mengatakan dengan tegas bahwa Trump adalah sahabat umat Islam. Padahal, saat itu dunia tahu bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mengambil kebijakan yang dirasakan cukup menekan beberapa negara muslim, bahkan umat Islam. Akan tetapi, Arab Saudi berinvestasi sangat besar di Cina dibandingkan dengan di Indonesia.

            Mengapa ini bisa terjadi?

            Hal ini terjadi karena bisa dipandang dari dua sisi, yaitu dari sisi negatif dan sisi positif. Dari sisi negatif kita bisa melihat betapa lemahnya ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Rasa saling percaya dan saling mendukung di antara sesama muslim tidak terjalin dengan baik. Negara-negara muslim hanya mementingkan negaranya sendiri dan kurang mementingkan kehidupan kaum muslimin secara keseluruhan. Hal itu menunjukkan betapa lemahnya iman kaum muslimin terhadap ajarannya sendiri, yaitu Islam dan Al Quran.

            Islam selalu menganjurkan, bahkan memerintahkan untuk saling menjaga di antara sesama muslim. Jika seorang muslim sakit atau menderita, seluruh muslim harus merasakan sakit pula. Jika terjadi rasa persaudaraan yang kuat dan saling merasakan penderitaan di antara sesama muslim, Allah swt pun akan melimpahkan rezeki dan harta yang lebih berlimpah penuh berkah di dunia dan akhirat.

            Secara negatif, hal itu bisa dipandang sebagai kelemahan iman di antara kaum muslimin sendiri. Untuk hal ini, kita masih harus memegang teori-teori hubungan internasional yang sesungguhnya agak bertentangan dengan Islam, yaitu hubungan internasional yang terjadi selalu didasarkan pada kepentingan negara masing-masing yang melakukan hubungan internasional itu. Artinya, Arab Saudi datang ke Indonesia adalah bukan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, melainkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi bagi Negara Arab Saudi sendiri. Demikian pula dengan Indonesia. Kerja sama yang terjadi dengan Arab Saudi bukanlah untuk kepentingan Penjaga Dua Kota Suci Umat Islam, melainkan untuk kepentingan rakyat Indonesia. Teori ini ternyata masih tetap berlaku hingga hari ini. Oleh sebab itu, kita pun harus memegang teguh teori ini untuk sementara waktu hingga timbul fenomena lain yang menggugurkan teori tersebut. Soal kesamaan agama, dalam kerja sama ini tidaklah begitu penting. Tak ada unsur agama dalam kerja sama tersebut karena setiap negara melakukan interaksi internasional hanyalah untuk kepentingan negaranya sendiri-sendiri. Setiap negara berjuang untuk mendapatkan uang untuk dirinya sendiri dan bukan untuk ukhuwah Islamiyah, apalagi untuk kesejahteraan seluruh kaum muslimin.

            Secara positif, kita, sebagai bangsa Indonesia, harus memandang bahwa lebih banyaknya Arab Saudi berinvestasi di Cina yang komunis dibandingkan dengan di Indonesia yang mayoritas muslim adalah disebabkan sumber daya manusia Cina lebih baik dan lebih bisa dipercaya untuk mengembangkan investasi Arab Saudi. Raja Salman masih lebih percaya pada Cina dibandingkan pada Indonesia. Oleh sebab itu, kita, Indonesia, harus introspeksi diri bahwa kita masih memiliki kelemahan pada beberapa bidang dan itu harus diperbaiki sehingga orang lain lebih percaya pada diri kita. Kelemahan itu bisa dari sumber daya manusia, dari birokrasi, atau dari sistem. Artinya, Indonesia harus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, memperbaiki birokrasi, serta menyederhanakan sistem untuk investasi dengan tetap mengedepankan nasionalisme dan kepentingan rakyat Indonesia.

            Sekarang bergantung kita bagaimana menyikapinya. Adalah suatu hal yang wajar jika Presiden Jokowi kembali melakukan sambungan telepon pada Raja Salman untuk meminta investasi lebih besar lagi agar seimbang dengan investasi di Cina, bahkan lebih besar lagi.

            Sampurasun.

Friday, 26 August 2016

Dunia Tidak Akan Damai Jika Masih Diurus Mereka

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dunia sampai hari ini harus diakui masih dikuasai oleh dua pemikiran besar yang memiliki kekuatan nyata dalam politik, ekonomi, dan militer. Kedua kekuatan ini adalah kekuatan kapitalis dan komunis. Belum ada pemikiran lain yang setara dengan kapitalis dan komunis dalam mengendalikan dunia. Itulah sebabnya dunia harus bersabar menderita dan terus menderita hingga ada pemikiran lain yang membuat kapitalis dan komunis tersingkir.

            Kapitalis dan komunis dari dulu sama sekali tidak membuat damai. Mereka selalu rebutan benda, kekuasaan, uang, sumber daya alam, dan kehormatan. Kedua pemikiran itu pun sebenarnya memang lahir dari persengketaan soal benda dan uang. Dengan demikian, apa pun yang dilakukan mereka selalu soal benda dan uang. Tak heran jika mereka terus bersaing memengaruhi dunia agar kelompok merekalah yang menang.

            Negara Indonesia pun sempat mengalami masa-masa teramat kelam akibat dari pertarungan antara kapitalis dan komunis ini. Masa-masa kelam itu memuncak dengan terjadinya G-30-S atau Gestok. Abu dari kekelaman masa-masa itu terbawa hingga hari ini dan menjadi gangguan bagi perkembangan bangsa Indonesia.

            Perang-perang dan pembantaian di dunia yang terjadi sekarang ini pun masih melibatkan pertarungan antara kapitalis dan komunis. Adapun orang-orang Islam yang berada di Timur Tengah sekarang ini sedang bertikai dan saling bunuh, hanyalah pion-pion catur yang mendapat pengaruh dari kapitalis dan komunis. Kaum muslim yang sedang berperang itu seolah-olah sedang berada pada jalan yang benar dengan tujuan mendirikan daulah Islam, padahal jika dilihat lebih jauh, tetap saja yang terjadi sesungguhnya adalah pertarungan antara kapitalis dan komunis dalam arti rebutan benda, uang, dan sumber daya alam.

            Dalam berbagai pemberitaan yang beredar pihak AS dan Rusia sepertinya bersungguh-sungguh untuk mengatasi kisruh yang terjadi di Timur Tengah, terutama di Suriah. Sebenarnya, sulit sekali bisa diyakini bahwa mereka mampu mengatasi konflik atau huru-hara yang terjadi. Hal itu disebabkan mereka mengupayakan perdamaian dengan menyertakan niat untuk mendapatkan keuntungan dari perang yang terjadi dan dari perdamaian yang terjadi. Perang atau damai tetap harus menghasilkan keuntungan bagi mereka. Di samping itu pun, kita bisa melihat dengan jelas bahwa kondisi negeri-negeri yang mereka terlibat di dalamnya tidak pernah selesai dari konflik dan selalu berada dalam bahaya. Kita lihat Irak, Libya, Afghanistan, Somalia, dan lain sebagainya yang tidak pernah sepi dari pertempuran dan pembunuhan. Padahal, jika dilihat dari kekuatan militer untuk “menenangkan” suatu kawasan, sangatlah mudah mereka lakukan. Akan tetapi, kenyataannya “ketenangan” itu tidak pernah terjadi. Katanya “Polisi Dunia”, tetapi tidak mampu menciptakan keamanan. Hal itu disebabkan mereka datang hanya untuk mendapatkan keuntungan dengan kedok “perdamaian dan ketertiban”. Itu semua hanyalah kedok dan akal bulus karena perdamaian dan ketertiban itu tidak pernah terjadi.

            Harus ada kekuatan pemikiran lain yang mampu mengatasi pemikiran mereka. Sebetulnya, Presiden RI ke-1 Ir. Soekarno sudah merancangnya dengan to build a world anew, ‘membangun kembali tatadunia baru’. Pemikiran yang dibawa Soekarno adalah Pancasila dengan mengedepankan kesamaan dan kebersamaan. Seharusnya, pemerintah dan bangsa Indonesia saat ini mampu menawarkan pemikiran yang lebih baik berdasarkan Pancasila untuk menciptakan perdamaian dunia. Kita sebenarnya memiliki pengalaman segudang penuh dalam menyelesaikan berbagai konflik dan pengalaman itu dapat ditawarkan dalam bentuk konsep, proposal, atau gagasan ilmiah yang lebih detail dan rinci. Kita memang memiliki cara yang lebih bermutu dibandingkan AS dan Rusia dalam menciptakan perdamaian dunia. Hal itu disebabkan setiap menyelesaikan masalah, dalam pandangan saya, selama ini Indonesia lebih mengedepankan persatuan, pride dan dignity, tanggung jawab terhadap sejarah, dan gotong royong tanpa mengambil keuntungan sepihak sebagai hasil dari proses penyelesaian konflik yang terjadi. Ambon, Papua, Kalimantan, dan Aceh dapat diselesaikan dengan lebih baik dan meminimalisasi pertumpahan darah. Bahkan, Papua dan Aceh diberi kesempatan besar agar mampu berdiri dengan lebih kokoh dan lebih menikmati sumber daya alamnya dengan pembangunan dan pendidikan yang lebih baik. Mereka tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari wilayah Indonesia lainnya serta tidak menjadi wilayah “jajahan” yang dikeruk untuk keuntungan sepihak. Kalau ada yang berniat curang terhadap mereka, seluruh warga Indonesia dari wilayah lain yang sadar akan melakukan penentangan terhadap kecurangan itu. Itulah yang disebut dengan senasib sepenanggungan.

            Konflik Aceh yang sangat terkenal di dunia berhasil diselesaikan dengan lebih baik meskipun harus terlebih dahulu mendapatkan “campur tangan Allah swt”. Aceh bisa selesai dan tetap dalam pangkuan NKRI karena ada “intervensi langsung dari Allah swt”. Intervensi itu berupa peringatan dari Allah swt yang terwujud dalam bencana “tsunami yang teramat dahysat”. Tanpa tsunami yang datang dari sisi Allah swt secara langsung, saya ragu Aceh bisa lebih tenang seperti hari ini. Mungkin jika tidak ada tsunami, Aceh masih bertikai dengan pemerintah pusat RI. Tsunami yang terjadi benar-benar membuat sulit konflik berkembang terus. Hal itu disebabkan pihak-pihak yang bertikai akan mendapatkan kecaman yang keras dan kehilangan dukungan karena terus melakukan huru-hara di tengah-tengah orang-orang yang sedang menderita dan menyita perhatian dunia. Mau tidak mau Aceh harus berdamai dengan RI dan tetap berada dalam NKRI. Itulah yang namanya Allah swt Maha Berkehendak.

            Indonesia harus mampu menawarkan gagasan yang lebih baik untuk perdamaian dunia berdasarkan pengalaman hidup dan dasar negara Pancasila. Syarat yang paling utama adalah harus terlepas dulu dari ketergantungan pada kapitalis maupun komunis. Jika masih ada ketergantungan itu, jalan untuk memberikan sumbangsih bagi perdamaian dunia masih sangat panjang dan berliku.

            Saya pribadi memiliki keyakinan jika dunia ini diselesaikan dengan berdasarkan pada pengalaman Indonesia menyelesaikan konflik yang dilandasi semangat Pancasila, perdamaian pun akan lebih cepat tercipta. Hal itu disebabkan Pancasila mengajarkan bahwa perdamaian dan persamaan itu harus diwujudkan agar keadilan dapat tercipta dalam rangka mengabdikan diri pada Allah swt. Jadi, bukan menciptakan perdamaian untuk mendapatkan keuntungan sepihak, melainkan untuk kepentingan bersama seluruh umat manusia.

            Sesungguhnya, kapitalis pun ingin berdamai asal …. Nah, kata asal ini yang membuat perdamaian sulit sekali tercipta karena merupakan persayaratan yang harus dipenuhi musuhnya yang belum tentu disetujui. Demikian pula komunis, perdamaian boleh terjadi asal …. Nah, mereka pun memiliki kata asal yang berupa syarat yang membuat segalanya tetap runyam.

            Berbeda dengan Pancasila yang mengharuskan terjadinya perdamaian tanpa ada kata asal …. Pancasila mewajibkan kita untuk saling menghormati dan menghargai dalam menikmati dan memiliki materi sebagai sarana untuk mengabdikan diri kepada Allah swt.

            Dunia tidak akan pernah mengalami perdamaian yang hakiki dan akan terus dalam pertikaian dan permusuhan karena setiap pihak ingin memiliki keuntungan rendah dari pertikaian dan penyelesaian yang terjadi. Pancasila pun tetap tidak akan mampu berbicara banyak di dunia internasional jika bangsa Indonesia masih terikat pada kapitalis atau komunis. Kalau sudah benar-benar terlepas dari kendali kapitalis atau komunis, Indonesia bisa berteriak keras pada dunia untuk segera berhenti dari pertengkaran dengan mengikuti keluhuran budi nusantara dalam menyelesaikan masalah dibandingkan terus-terusan rebutan benda dan uang dengan cara saling bunuh, saling tuduh, saling tuding lewat media-media massa.

            Indonesia memiliki tanda-tanda kekuatan itu.

            Bukankah kita sudah tidak takut membuat kapal para pencuri ikan tenggelam?

            Siapa yang kita takuti?

            Bukankah kita sudah tidak takut untuk menghukum mati para penjahat besar Narkoba meskipun kita dikecam negara-negara lain?

            Siapa yang kita takuti?

            Bukankah kita sudah tidak takut untuk mengklaim kedaulatan wilayah NKRI, baik di darat, di laut, maupun di udara?

            Siapa yang kita takuti?

            Bukankah kita sudah tidak takut menghentikan pesawat terbang asing yang melintasi wilayah udara Indonesia tanpa izin?

            Siapa yang kita takuti?

            Bukankah kita sudah merasa terhina jika ada WNI mendapat perlakuan buruk di negara lain dan mulai memberikan perlawanan terhadap pihak-pihak yang merugikan itu?

            Siapa yang kita takuti?


            Untuk memberikan gagasan mengenai perdamaian dunia, kita sudah memiliki modal yang cukup untuk tegak berdiri. Yang masih harus dilakukan oleh kita semua adalah meningkatkan rasa pede, ‘percaya diri’, bahwa kita mampu memberikan solusi yang teramat baik bagi dunia. 

Tuesday, 6 October 2015

Tak Ada Tempat untuk Komunisme Gaya Baru


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sangat banyak orang di Indonesia ini yang mulai melihat dan khawatir tumbuhnya komunisme gaya baru atau komunisme dalam bentuk baru. Kekhawatiran dan atau ketakutan itu sangat bagus untuk melindungi diri kita dari keburukan yang akan terjadi. Allah swt menanamkan rasa khawatir dan takut adalah untuk melindungi kita dari berbagai musibah yang bisa saja terjadi. Rasa khawatir dan takut itu adalah pelindung kita dan bukan merupakan ciri-ciri dari kepengecutan. Contoh kecil adalah ketika kita menyeberang jalan atau mengendarai kendaraan.

Mengapa kita selalu menengok ke kiri dan kanan ketika menyeberang jalan?

Mengapa kita kerap menggunakan rem dan lampu ketika menggunakan kendaraan?

Jawabannya adalah kita khawatir dan takut terjadi musibah kecelakaan lalu lintas yang bisa menimpa kita dan orang lain. So, rasa khawatir dan takut itu merupakan hal yang positif. Akan tetapi, akan berubah menjadi sebuah kepengecutan jika rasa khawatir dan takut itu berlebihan sehingga justru menghalangi hal-hal positif yang  dapat kita lakukan.

Demikian pula rasa khawatir dan takut terhadap kemunculan komunisme gaya baru merupakan hal positif untuk melindungi diri dan generasi selanjutnya dari kerusakan-kerusakan terhadap diri dan kemanusiaan.

Komunisme gaya baru memang bisa muncul, tetapi akan sulit sekali hidup di Indonesia ini karena kita memiliki Pancasila. Sila pertama saja sudah menyatakan penolakan terhadap komunisme, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, setiap orang Indonesia harus percaya terhadap eksistensi Tuhan. Agama apa pun namanya, setiap orang Indonesia harus meyakini adanya suatu kekuatan yang berada di atas dirinya dan yang lebih berkuasa dibandingkan dirinya. Sementara itu, komunisme identik dengan ateisme yang melakukan penolakan terhadap eksistensi Tuhan.

Orang komunis boleh sesumbar bahwa ajarannya adalah untuk kepentingan bersama. Mereka berjuang untuk sesama manusia. Kita cukup tertawa saja karena kita memiliki sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila kelima itu sudah sangat cukup untuk mengerdilkan komunisme.

Artinya, untuk apa ajaran komunis karena kita pun sedang berjuang untuk keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia?

Tak ada tempat untuk komunis di Indonesia. Kalau dulu ya masih punya tempat, tetapi sekarang sudah hancur dan tak diizinkan hidup lagi.

Satu-satunya cara orang komunis-ateis saat ini untuk menguasai pikiran manusia adalah menyerang eksistensi Tuhan. Mereka mengklaim diri sebagai orang-orang cerdas yang percaya penuh pada pikiran dan ilmu pengetahuan. Mereka lumayan berhasil dengan semakin berkurangnya jumlah umat yang pergi ke tempat-tempat ibadat. Ada banyak tempat ibadat yang sepi pengunjung di Inggris, Amerika, dan Eropa lainnya. Orang-orang hanya menggunakan pekarangan tempat ibadat untuk bermain-main dan ngobrol tanpa memasuki gedungnya. Akan tetapi, mereka sangat kesulitan untuk menyerang eksistensi Allah swt. Mereka menggunakan cara yang sama dalam menyerang Allah swt seperti menyerang Tuhan-Tuhan dalam agama lain. Motto mereka adalah belief is not same with knowledge, ‘keyakinan tidak sama dengan pengetahuan’. Mereka hendak mengecilkan arti keimanan karena keimanan tidak bisa dijangkau oleh pengetahuan. Sayang sekali, mereka terpental ketika menyerang eksistensi Allah swt karena Islam mewajibkan pemeluknya untuk mempercayai sesuatu berdasarkan pengetahuan. Bahkan, Islam melarang umatnya untuk meyakini sesuatu tanpa proses berpikir.

            Saya banyak berdebat dengan orang komunis-ateis. Seratus lebih orang yang berdebat dengan saya soal eksistensi Allah swt dan keagungan sosok Muhammad saw. Sebagian besar dari Inggris karena mereka sangat keras permusuhannya terhadap Islam. Tak ada satu orang pun yang mengalahkan saya. Atas izin Allah swt mereka semua hancur pendapatnya. Mereka hanya menyandarkan pendapatnya pada kebohongan dan penghinaan. Ketika saya balik menantang mereka untuk memaparkan kehebatan ajaran mereka, mereka tidak mau dan berupaya berkelit dengan menghina menggunakan kata-kata menjijikan yang sama sekali tidak berpengetahuan terhadap Allah swt, Islam, Muhammad saw, dan kaum muslimin, bahkan melecehkan Indonesia.


            Insyaallah, saya akan tulis lebih banyak tentang perdebatan dengan mereka. Hal itu dimaksudkan agar kita semua memiliki pengetahuan tentang mereka. Pendek kata, tak ada gunanya komunis-ateis untuk Indonesia. Kita memiliki pandangan hidup yang jauh lebih lengkap dan sempurna dibandingkan mereka. Tak perlu silau dengan ajaran keadilan dari orang luar karena kita punya nilai keadilan sendiri. Tidak perlu ragu dengan eksistensi Tuhan. Kalau ada yang masih ragu tentang Tuhan atau ingin membuat orang tidak percaya kepada Allah swt, saya ada di sini untuk menolong siapa pun agar dapat kembali ke jalan yang benar. Jika mau berdiskusi dengan saya, gunakan bahasa yang santun dan kalau bisa, bernilai ilmiah-akademis. Jangan seperti orang-orang kafir Inggris dan Australia yang gemar menggunakan kata-kata kotor dan tidak senonoh. Kita orang Indonesia yang dianugerahi banyak nilai kebaikan.

Sunday, 10 October 2010

Jualan Terorisme

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Terorisme itu cuma barang dagangan. Terorisme itu cuma belanjaan yang ditawarkan di supermarket kapitalis. Kalau kita tidak mau, para salesnya akan maksa kita, mulai dengan sales yang tampan-tampan, lalu yang cantik-cantik, kemudian kalimatnya diucapkan sampai berbusa-busa. Kalau kita masih belum tertarik, akan ditawarkan hadiah yang menggiurkan dan menyenangkan tanpa perlu diundi, bisa dibawa pulang saat itu juga melebihi harga barang yang namanya teroris itu sendiri. Kalau masih juga tidak mau, perusahaan itu, akan menciptakan kondisi palsu agar kita mau membelinya. Misalnya, kita ditawari alarm antirampok, tetapi kita tidak membutuhkannya dan kita memang tidak membelinya. Perusahaan itu akan dengan sekuat tenaga membuat kita membutuhkannya dengan melakukan perampokan ke rumah kita dengan menggunakan orang-orang suruhan. Akibatnya, kita menyadari bahwa memang alarm itu dibutuhkan. Kalau kita masih juga tidak mau membelinya karena memiliki cara lain dalam mencegah perampokan, kita akhirnya yang akan dituduh perampok dengan memasukkan secara diam-diam barang-barang orang lain ke rumah kita. Kemudian, melakukan tindakan hukum terhadap kita dengan bekerja sama dengan pihak yang berkuasa. Begitulah perusahaan itu bekerja. Jalan terakhir adalah stick and carrot, ‘kalau tidak mau dikasih wortel, ya harus dipukul’.

Perhatikan kata-kata Soekarno berikut ini.

“Ideologi, isme, paham, hanyalah kulit dari pokok-pokok hakiki yang menjadi motor peperangan. Demokrasi dan fasisme hanyalah kulit belaka. Demokrasi dan fasisme hanyalah ideologi geschut belaka, ‘meriam fikiran belaka’, yang menurut tiap-tiap ahli perang adalah sedikitnya sama dengan meriam besi dan meriam waja. Peperangan ini adalah tabrakan antara kepentingan dan kepentingan, belang dengan belang, realiteiten dengan realiteiten. Peperangan ini memakai semboyan ideologi dan fasisme oleh karena realiteit itu berkata bahwa pada tingkat dunia sekarang ini ideologi demokrasi dan ideologi fasismelah yang paling bermanfaat buat dipakai semboyan peperangan. Ya, malahan, pada hakikatnya sistem parlementaire democratie dan sistim fascistische dictatuur itu adalah ‘kepentingan mentah’ pula, ‘rauwe belangen’ pula!”

Soekarno mengajarkan bahwa isme apa pun, ideologi apa pun, paham bagaimanapun yang ditawarkan untuk menggerakan perang adalah sebuah barang dagangan untuk kepentingan bisnis, untuk kepentingan ekonomi, untuk kepentingan materi, untuk kepentingan uang, ujung-ujungnya duit. Saat Soekarno menulis itu, terjadi perang antara demokrasi-kapitalis dan fasis. Mereka berperang dengan mengeluarkan semboyan-semboyannya untuk menjatuhkan lawannya. Dari pihak demokrasi menyerang kesewenang-wenangan fasis dan menyatakan bahwa fasis adalah harus dihancurkan karena tidak manusiawi. Demikian pula fasis membela diri dengan seluruh kekuatannya dan keyakinannya bahwa fasis adalah yang terbaik. Kedua kekuatan itu seolah-olah ingin menyelamatkan manusia dan kemanusiaan, padahal kedua-keduanya hanyalah berperang dan bertarung rebutan makanan.

Waktu pun berputar, perang terus terjadi. Namun, kali ini fasisme tidak lagi laku untuk dijual. Yang laku dijual adalah demokrasi dan komunis. Kedua kekuatan ini adu tegang urat leher menyatakan yang terbaik bagi umat manusia. Demokrasi menyerang komunis anti -Tuhan dan kejam gemar membunuh. Komunis menyerang demokrasi-kapitalis sebagai perampok hak-hak orang miskin, korup, dan menggunakan agama untuk kepentingannya. Keduanya memasuki berbagai negara dengan kalimat-kalimat indah yang tampak di luarnya sebagai pembela kemanusiaan. Padahal, kalau mau dilihat lebih dalam, keduanya sama-sama rebutan benda dan makanan. Perang ini tidak ada yang menang mutlak, keduanya tetap tegak berdiri di negeri-negeri yang telah terpengaruh oleh salah satunya.

Tampak sekali benturan rebutan benda dan makanan ini pada saat ini. Mereka tak lagi berperang, tetapi saling memahami. Lantas semboyan-semboyan perang, tudingan-tudingan yang dulu membahana sampai mengorbankan puluhan juta umat manusia itu bagaimana? Masihkah bertahan? Tampaknya, sudah tidak lagi digunakan karena itu hanya amunisi untuk membohongi orang-orang bodoh, malahan mereka sudah bekerja sama dengan erat, bersahabat karib. Tak akan terjadi pembunuhan jika warga komunis berada di dalam negeri kapitalis, begitu juga sebaliknya. Berbeda dibandingkan dahulu yang bisa saling bunuh di mana saja mereka bertemu. Yang menyedihkan adalah Indonesia yang sampai kini masih terjebak dalam propaganda perang antara kapitalis dan komunis dahulu, padahal penyebar propagandanya sudah pada akur. Kita masih ribut dengan urusan komunis dengan sejarah yang tidak jelas itu. Kita masih beranggapan bahwa perang yang dulu melawan komunis sampai menimbulkan korban jutaan itu benar-benar perlawanan terhadap Pancasila, padahal cuma perang import dari pertarungan antara kapitalis dan komunis dunia. Kita memang tidak pernah waspada dan gemar sekali mengikuti isu.

Saat ini komunisme tidak lagi laku untuk dijual. Oleh sebab itu, diciptakan isme baru yang menjadi musuh kapitalisme dalam arti mengancam kepentingan, terutama kepentingan ekonomi kapitalis. Setelah redanya perang dingin, kapitalisme begitu khawatir dengan ghirah Islam yang tinggi, baik di negara-negara berpenduduk muslim maupun di negeri-negeri kapitalis sendiri, terutama kalangan muda dan intelektual Islam. Adanya kesadaran mencolok dari kaum intelektual muda Islam ini untuk kembali pada Islam yang utuh menimbulkan kekhawatiran di kalangan kapitalis. Maklum, Islam adalah satu-satunya agama yang mengajarkan bagaimana menata kehidupan bernegara yang baik plus menjalankan roda ekonomi yang baik dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Di samping itu, Islam pun memang pernah berkuasa di muka Bumi menjalankan roda pemerintahan hampir di dua per tiga luas seluruh Bumi. Hal ini sangat mungkin menggusur ide-ide kapitalisme yang sampai saat ini membuat para kapitalis senang-senang. Kapitalis itu kan sangat menyembah dan memuja terhadap pemusatan modal pada kalangan tertentu, bukan untuk seluruh umat manusia. Mereka khawatir Islam akan kembali menguasai Bumi dengan cara yang lebih islami dibandingkan dahulu.

Yang tak kalah menarik untuk diperhatikan adalah kapitalis memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap minyak yang ada di negeri-negeri berpenduduk muslim. Dengan jualan terorisme yang kemudian laku keras, mereka mendapat kesempatan untuk mengejar teroris ke negeri-negeri tersebut yang kaya minyak dengan harapan bisa berkuasa dan dapat kembali mencoleng harta kekayaannya.

Sesungguhnya, bukan agama Islam dengan berbagai ritualnya yang membuat mereka cemas, melainkan terganggunya kepentingan materialistis mereka oleh sistem-sistem ekonomi yang ada dalam ajaran Islam dan itu mulai muncul ke permukaan. Untuk memusuhi Islam secara frontal, mereka tidak berani. Mereka sangat bergantung juga pada negara-negara Islam, terutama soal minyak dan pemasaran barang. Namun, mereka tetap merasa terganggu. Oleh sebab itu, diciptakanlah isme baru yang Islam seolah-olah berada di belakangnya, yaitu terorisme setelah sebelumnya melakukan dahulu aksi teatrikal dengan penyerangan ke menara kembar WTC, kemudian memperkenalkan tokoh baru Osama bin Laden dan Al Qaeda.

Sejak saat itulah, mulai dijual barang dagangan baru, yaitu demokrasi-kapitalis lawan terorisme-Islam. Indonesia pun kembali terjebak dalam perang itu, padahal pada waktu yang lalu akibat dari jebakan itu masih terasa saat membeli barang dagangan yang namanya demokrasi-kapitalis lawan komunisme-anti-Tuhan.

Satu lagi dari Soekarno.

“Kaum nasionalis harus dikejar, Kaum Pan-Islam juga harus diburu!

Kita ingat ini semuanya. Kita mengakui hak yang demikian itu dan kita hanya tersenyum. Kita di sini hanya menetapkan feitnya saja. Kita ingat bagaimana sesudah pemberontakan, kaum sana meneriaki setinggi langit pergerakan Pan-Islam sebelum dan sesudah kongres di Pekalongan. Bagaimana sesudah pemberontakan, mereka menunjukkan tabiat serendah-rendahnya dengan mengotorkan nama prive saudara kita. Dr. Soetomo. Mereka membencanai saudara kita, dr. Tjipto Mangunkusumo..... Kita mengerti bahwa ini sudah semestinya. Kita hanya tersenyum dan mengambil pelajaran. Pelajaran bahwa sikap kaum itu terhadap kita bukanlah bergantung dari beginsel kita, bukanlah bergantung dari azas kita, bukanlah bergantung dari bahaya ‘isme’ kita, tetapi bergantung dari besarnya bahaya yang mengancam kepentingan oleh sikap dan gerak kita adanya!”


Soekarno mengajarkan bahwa para kapitalis itu menyerang dan memburu bukan karena isme yang kita miliki, bukan karena agama yang kita anut, bukan sistem yang kita pergunakan, namun karena kekhawatiran kepentingan materialistis mereka terganggu. Perhatikan, teroris itu ada di mana-mana dengan nama yang banyak dan isme yang beragam. Akan tetapi, yang mereka perangi adalah teroris yang dengan menggunakan kata Islam, padahal Islam sendiri bukan teroris. Teroris-Islam itu hanya diciptakan mereka sendiri agar tumbuh keyakinan bahwa Islam itu memang mengajarkan teror dan berbahaya bagi umat manusia. Padahal, sungguh upaya itu tidak pernah akan berhasil dan mereka akan kelelahan sendiri sebelum akhirnya hancur berantakan.

Mereka dan kita semua mestinya ingat ketika bagaimana dengan angkuhnya mereka menyebarkan propaganda jahat bahwa orang-orang kulit putih itu lebih tertib dan beradab dibandingkan kulit berwarna yang disebutnya primitif. Dengan propaganda itu, mereka seolah-olah memiliki hak untuk memasuki tanah orang lain, kemudian menjajahnya. Sebetulnya, yang terjadi adalah mereka butuh makanan, barang mentah yang murah, dan tenaga kerja yang juga murah, kalau bisa, gratis. Namun, propaganda dan penjajah angkuh itu harus berakhir dengan kekalahan seluruh penjajah di muka Bumi ini dan menghancurkan propaganda serta ajaran sesat mereka.

Sungguh demokrasi-kapitalis itu jahat. Mereka itu musuh dalam selimut, menohok kawan seiring, dan menggunting kain dalam lipatan.