Showing posts with label Arab Saudi. Show all posts
Showing posts with label Arab Saudi. Show all posts

Monday, 5 January 2026

Perbedaan Arab Saudi dan Amerika Serikat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya menulis hal yang pada pokoknya saja bahwa banyak pengamat energi di dunia ini memperkirakan bahwa bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari fosil dan digunakan oleh mayoritas manusia untuk kendaraan bermesin akan habis tiga puluh tahun ke depan. Oleh sebab itu, negara-negara penghasil minyak berupaya keras untuk tetap mendapatkan penghasilan besar bagi hidup rakyatnya tanpa harus menggantungkan diri pada minyak di negaranya.

            Raja Arab Saudi Salman berusaha mengatasi masa-masa sulit nanti ketika minyak fosil habis dengan cara berkeliling ke seluruh dunia untuk menanamkan uangnya pada berbagai fasilitas industri pada berbagai negara. Indonesia adalah salah satu negara yang didatanginya. Dia menyebarkan dan menanamkan uangnya agar rakyat Arab Saudi tetap bisa hidup meskipun nanti minyak habis di negaranya. Artinya, hidup rakyatnya akan banyak ditopang oleh industri-industri yang dibangun pada berbagai negara, termasuk di Indonesia.


Raja Arab Saudi Salman (Foto: BBC)


            Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga berupaya keras agar rakyatnya bisa tetap hidup dan industrinya tetap berjalan. Salah satu usahanya adalah dengan melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Negara Venezuela adalah pemilik cadangan minyak yang terbesar di dunia. Minyak di Venezuela jumlahnya sama dengan cadangan minyak tiga negara jika digabungkan, yaitu Arab Saudi, Iran, dan Kanada. Dengan demikian, Amerika Serikat (AS) memiliki lebih banyak lagi minyak untuk negaranya dan berbagai industri AS tetap bisa berjalan tenang dengan lebih lama lagi.

            Hal ini jelas terucap dari mulut Trump sendiri bahwa setelah menangkap Maduro, AS akan mengelola minyak Venezuela. Dia segera berbicara tentang minyak dan bukan soal hak asasi manusia, kesehatan rakyat, ataupun stabilitas politik Venezuela seperti yang sering dipidatokannya. Dia langsung bicara soal bisnis minyak.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: BBC)


            Meskipun dia membantah bahwa menangkap Maduro adalah untuk menguasai minyak karena minyak di AS sudah cukup, fakta menunjukkan bahwa yang dia ucapkan pertama kali adalah soal penguasaan minyak. Itu sudah menjelaskan bahwa dia menginginkan minyak untuk dirinya dan negaranya.

            Dari sini, kita bisa melihat adanya perbedaan sikap antara Arab Saudi dengan Amerika Serikat soal minyak. Arab Saudi mengatasi kelangkaan minya pada masa depan dengan membangun bisnis nonminyak pada berbagai negara agar rakyatnya tetap bisa hidup. Adapun AS melakukan penyerangan terhadap Venezuela dan menangkap presidennya agar dia bisa lebih banyak lagi menguasai ladang-ladang minyak untuk diri dan negaranya.

            Baik Arab Saudi maupun AS sama-sama melakukan kewajiban untuk hidup rakyatnya masing-masing. Perbedaannya adalah pada caranya dan pada nilai-nilai moralitas manusia.

            Mana yang lebih bermoral?

            Arab Saudi atau Amerika Serikat?

            Pembaca bisa menilainya sendiri dengan menggunakan nurani sebagai manusia. Mari kita menilai sesuai dengan informasi lebih luas dan kejujuran hati. Untuk mampu menilai dan merasakan sesuatu dengan lebih jernih, pikiran dan perasaan kita harus berada dalam posisi positif. Oleh sebab itu, berhenti bergaul dan bergabung dalam kelompok-kelompok yang dipenuhi suasana negatif.

            Foto Raja Salman dan Presiden Trump saya dapatkan dari BBC.

            Sampurasun.

Sunday, 13 November 2022

Eh, Ada Blackpink di Arab Saudi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah menggelar festival Halloween, kini Arab Saudi menggelar konser musik dengan mendatangkan pemusik papan atas wanita-wanita muda seksi K-Pop Blackpink. Grup ini main di Mrsool Park, Riyadh, pada 20 Januari 2023.


Blackpink (Foto: Tribunnews.com)


            Ada tiga pilihan untuk menyikapi hal ini. Nonton, demo menolak konser dan menurunkan pemerintah, serta tidak nonton.

            Kalau mau nonton konser, harga tiket termurah adalah sekitar Rp1 juta dan yang termahal Rp6,2 juta. Siapkan saja uang segitu dengan ongkos dan jajan di sana.

            Kalau mau demo menolak konser dan menurunkan pemerintah Kerajaan Arab Saudi, insyaallah kepala copot dari badan. Dipenggal tuh leher di lapangan. Beneran, tidak akan ditolerir perilaku itu di Arab Saudi.

            Coba saja teriak di sana, “Bubarkan konser Blackpink! Dasar rezim zalim! Konser neraka! Turunkan Pangeran Muhammad bin Salman!”

            Kalian bakal habis di sana, nggak pulang lagi ke rumah hidup-hidup. Paling sudah jadi mayat.

            Kalau tidak nonton, ya nggak perlu pusing. Jangan pikirin saja, biasa saja, aktif dengan kegiatan harian.

            Kalau saya, tidak akan nonton. Pertama, tidak punya uang untuk hal itu. Mendingan dipakai umroh uangnya. Kedua, nanaonan, ‘ngapain’ juga nonton. Ketiga, saya bukan penggemar Blackpink.

Orang seperti saya ini penggemar Rhoma Irama, Lesti Kejora, Via Vallen, Chakra Khan, Alfy Rev, Alip Ba Ta, Lyodra, Tiara Andini, dan Tantri Kotak. Kalau grupnya, saya suka anak-anak Garut, Singajaya, Voice of Baceprot (VOB) yang terdiri atas Marsha (vokalis dan melodi), Widy (Bassis), dan Siti (Drummer).

Samarukna saya tara nyanyi kitu?

Begitu ya. Mau nonton, demo, atau tidak nonton, terserah. Semua punya risiko masing-masing, baik di dunia maupun di akhirat.

Oh ya, foto Blackpink saya dapatkan dari Tribunnews Com. Sengaja pilih foto itu, tidak terlalu seksi. Kalau yang seksi pisan, bahaya.

Saya cuma sedikit bingung sama Arab Saudi karena konser Blackpink boleh digelar, tetapi pengajian maulid Nabi Muhammad saw dilarang.

Kata Tukul, “Sakarepmu.”

Sampurasun.

Thursday, 24 February 2022

Pembatasan Adzan


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, bukan pembatasan adzan, melainkan “pengaturan penggunaan pengeras suara” di masjid dan mushala. Kalau adzan dibatasi mah, kajeun gelut we.

            Kali ini saya ingin menulis pengaturan pengeras suara itu di Arab Saudi, bukan di Indonesia.

            Kenapa menulis yang di Arab Saudi?

            Nya, hayang we.

            Pertengahan tahun lalu Arab Saudi mengeluarkan peraturan tentang hal itu. Menteri Urusan Islam Saudi  Abdul Latif Al Sheikh mengeluarkan aturan itu untuk seluruh masjid di Kerajaan Arab Saudi. Aturan itu berupa volume suara yang diperbolehkan hanya sepertiga dari maksimal serta pengeras suara hanya diperbolehkan untuk adzan dan iqomat, tidak untuk yang lain. Pengaturan ini dibuat setelah kementerian urusan Islam Saudi mendapatkan banyak laporan dan keluhan atas suara pengeras suara yang mengganggu para orangtua, lanjut usia, pasien yang sakit, dan anak-anak.

            Kerajaan Arab Saudi sangat keras dalam hal ini. Menteri Abdul Latif Al Sheikh menegaskan bahwa akan ada sanksi bagi yang melanggar aturan ini. Entah sanksi berupa hukuman apa yang melanggarnya. Saya tidak tahu. Entah potong leher, potong tangan, potong kuku, potong rambut, potong bulu hidung, potong kumis, potong bulu kaki, potong bulu kelek, potong bulu ba … balatak na gado, entahlah. Nggak tahu juga mungkin hukum rajam, dilempari batu, atau dilempari pasir, dilempari air, dilempari ember, dilempari semen, ngecor we sugan mah. Bisa juga hukuman kurungan atau denda. Denda di Arab Saudi itu mahal, bisa seharga dua kambing, sapi, atau unta.

            Begitu konsideran dan keputusan Arab Saudi untuk mengatur penggunaan pengeras suara di masjid.

            Selama di Arab Saudi, saya hanya mendengar adzan dari dua masjid, yaitu Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Suaranya enak, tidak ngageber dan tidak terkesan teriak-teriak. Bahkan, suaranya masuk ke dalam kamar hotel dengan lembut dan tidak bising. Malahan, kita bisa shalat di hotel berjamaah dengan imam shalat tetap di depan Kabah.

            Eh, bisi ada yang nggak percaya saya pernah ke Arab Saudi, saya sertakan foto saya waktu itu. Saya pakai batik dan ikat kepala Sunda. Nyaman pakai pakaian itu saya mah dan mudah dikenali oleh orang luar negeri.




            Mereka terbiasa menyapa saya, “Indonesia?”

            Saya hanya menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum manis sebagaimana yang mereka kenal bahwa orang Indonesia itu ramah-ramah.

            “Alhamdulillah,” kata mereka sambil merapikan sajadah saya ketika hendak shalat.

            Tidak ada yang merasa aneh dengan pakaian saya. Biasa saja.

            Kalau ada dari mereka yang bertanya kepada saya, “Mengapa tidak memakai gamis?”, saya akan jawab, “Saya penggemar wayang golek”.

            Nggak ada sih yang bertanya seperti itu. Itu mah kalau ada saja. Mereka baik-baik kok. Malah, ketika pakaian ihram saya kurang rapi, mereka langsung memperbaiki pakaian saya tanpa diminta.

            Begitu ya, soal pengaturan pengeras suara di Arab Saudi. Kalau pengaturan di Indonesia, harus membaca dan memahami dulu Surat Edaran Menteri Agama No. SE 05 Tahun 2022 Tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala yang terbit pada 18 Februari 2022 dan ditujukan kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, Kepala Kantor Kemenag kabupaten/kota, Kepala Kantor Urusan Agama kecamatan, Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ketua Dewan Masjid Indonesia, Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Islam, serta Takmir/Pengurus Masjid dan Musala di seluruh Indonesia. Edaran ini pun ditembuskan kepada seluruh gubernur dan bupati/walikota di seluruh Indonesia. Peraturan itu harus dibaca dan dipahami terlebih dahulu supaya tidak salah tafsir sehingga menyesatkan diri dan orang lain.

            Sampurasun

Tuesday, 24 December 2019

Museum Rasulullah


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pagi tadi saya buka Grup WA Bas Tour yang anggotanya jamaah umroh bareng saya. Salah seorang teman membagikan berita dari www.liputan6.com tentang terpilihnya Indonesia menjadi lokasi pertama pembangunan Museum Rasulullah di luar Negara Arab Saudi. Sementara itu, negara lain masih berusaha untuk mendapatkan kesempatan tersebut.

            Dari tanggal berita tersebut, tertulis bahwa keterangannya mulai ada pada 24 Desember 2019. Artinya, saya telat satu hari membacanya. Mungkin orang lain sudah lebih dulu tahu. It’s Ok.

            Setelah membaca berita tersebut, langsung teringat pengalaman spiritual ketika saya berdoa dan shalat di samping timur dinding ruangan makam Rasulullah Muhammad saw, Medinah. Sungguh, pengalaman emosional luar biasa yang tidak bisa diungkapkan sempurna dengan kata-kata. Untuk mengucapkan terima kasih kepada Nabi Muhammad saw saja sulitnya minta ampun, tercekat dalam tangis haru. Perlu beberapa waktu untuk mengendalikan diri hingga lancar berkata-kata lagi.

            Sekarang, Indonesia diberikan kesempatan untuk menjadi lokasi pertama pembangunan Museum Rasulullah. Itu artinya masyarakat Indonesia dapat secara langsung lebih dekat mengenal Rasulullah dan mendapatkan pengalaman emosional tersendiri terkait Rasulullah. Kita tidak perlu jauh-jauh untuk melihat benda-benda milik Nabi Muhammad saw. Naskah-naskah, manuskrip, benda-benda peninggalan Muhammad saw yang selama tiga belas tahun dikumpulkan dari berbagai belahan dunia akan disimpan sebagian di Indonesia.

            Bagi para pecinta Nabi Muhammad saw, ini merupakan kebahagiaan tersendiri. Kita bisa lihat contohnya bahwa “selembar rambut Nabi Muhammad saw” saja yang dihadiahkan untuk Indonesia, umat berbondong-bondong datang, berdoa, berdzikir, bersyukur, terharu, dan mendorong umat untuk lebih baik lagi beriman dan berislam. Demikian pula ketika “satu mangkuk tembaga” yang digunakan oleh Nabi Muhammad saw untuk makan, minum, termasuk mengambil air wudhu diarak di jalanan utama Negara Cechnya. Jutaan orang berdiri di pinggir jalan untuk menyambut mangkuk itu hingga diserahkan kepada Imam Besar Cechnya untuk disimpan. Sebelum disimpan, pejabat dan para imam di Cechnya menciumi mangkuk tersebut sambil menangis. Hal-hal seperti itu terjadi karena kerinduan dan kecintaan kepada Muhammad saw hingga seolah-olah Sang Nabi ada bersama mereka.

            Itu baru satu benda. Bayangkan jika ada puluhan atau ratusan benda yang disimpan di museum Indonesia, betapa bahagianya para pecinta Nabi saw di Indonesia. Apa pun yang terkait Rasulullah Muhammad saw selalu berkesan di hati para pecintanya.

            Terpilihnya Indonesia menjadi negara pertama di luar Arab Saudi untuk membangun Museum Rasulullah disebabkan Indonesia lebih serius dibandingkan negara lain dalam menginginkannya. Hal itu ditandai dengan sudah disiapkannya oleh Indonesia lahan pembangunan Museum Rasulullah di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

            Lembaga Muslim Dunia dan Tim Pembangunan Museum Rasulullah yang membiayai pembangunan tersebut menginginkan secepatnya Indonesia bekerja untuk mewujudkannya. Semakin serius kita, semakin cepat terealisasi museum tersebut. Itu artinya, pemerintah, Ormas Islam, para pengusaha, dan masyarakat harus konsentrasi bahu-membahu bekerja sama-sama. Semua orang, apa pun pangkatnya, dapat menyumbangkan apa saja yang positif, misalnya, tenaga, pikiran, ketertiban, ketenangan, kecerdasan, waktu, termasuk dana; paling tidak, kita bisa berdoa agar upaya positif ini bisa terlaksana dengan lancar.

            Jika kita serius, museum ini bermanfaat bukan hanya untuk rakyat Indonesia, melainkan pula untuk masyarakat dunia. Orang-orang dari berbagai belahan dunia akan berdatangan lebih banyak ke Indonesia untuk mengunjungi museum tersebut. Jika Indonesia tidak serius ditambah tidak aman dengan suasana tidak tenang, bisa-bisa pembangunan dialihkan ke negara lain. Itu tidak boleh terjadi.

            Jangan bikin isu aneh-aneh. Mari kita saling bantu agar Rasullah saw semakin dekat dengan kita. Semoga Allah swt selalu bersama kita. Aamiin.

            Sampurasun.

Wednesday, 18 December 2019

Uighur: Grup A Vs Grup B


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dalam beberapa tulisan yang lalu selalu saya jelaskan bahwa jika mendapatkan suatu informasi, harus dicek kebenarannya. Jangan langsung percaya.

            Siapa yang menyebarkan informasi itu?

            Dia bisa dipercaya tidak?

            Informasinya masuk akal tidak?

            Mengapa kita percaya dia?

            Berita tentang Uighur, Xinjiang kembali mengemuka. Sebelumnya, memang sudah terjadi masalah di wilayah itu, bahkan sudah sejak dua ratus tahun yang lalu. Pemerintah Cina pun mencari jalan untuk menyelesaikannya, termasuk datang ke Indonesia dan berdiskusi dengan Ormas besar. Kali ini muncul lagi berita yang hampir sama. Kali ini sumber beritanya berasal dari media “Wall Street Journal” (WSJ), media barat. WSJ memberitakan adanya kekejian dan pelanggaran Ham terhadap muslim Uighur. Beritanya masuk ke Indonesia dan ditambah-tambahi semakin heboh karena menyeret tiga Ormas Islam besar, yaitu NU, Muhammadiyah, dan MUI yang dituduh mendapatkan suap agar diam menutupi kesadisan di Uighur oleh pemerintah Cina. Demikian pula di dunia, berita ini pun mendapatkan reaksi beragam.

            Manusia terbagi dua dalam menghadapi berita ini. Ada yang percaya dan ada yang tidak sekaligus membantah. Sebut saja mereka yang percaya adalah Grup A dan mereka yang tidak percaya adalah Grup B.

            Grup A bisa diwakili negara-negara Barat dan kapitalis, yaitu: Australia, Austria, Belgium, Kanada, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Iceland, Ireland, Japan, Latvia, Lithuania, Luxemburg, The Netherlands, New Zealand, Norway, Spain, Sweden, Switzerland, dan UK (Inggris). Karena percaya, mereka pun melakukan protes ke Cina.

            Grup B bisa diwakili oleh Indonesia, NU, Muhammadiyah, MUI, Turki, dan Arab Saudi. Karena tidak percaya, mereka tidak melakukan protes, tetapi memberikan masukan kepada Cina untuk menyelesaikan masalah Uighur sambil menghormati Cina untuk mengambil kebijakannya sendiri dalam mengatasi masalah dalam negerinya.

            Siapa yang akan kita percayai? Grup A atau Grup B?

            Itu adalah pilihan kita. Akan tetapi, untuk mempercayai salah satu pihak, kita harus punya alasan jelas dan masuk akal pula.

            Mengapa kita harus percaya mereka?

            Ulah kabawa sakaba-kaba.

            Insyaallah, disambung lagi agar kita lebih paham rekam jejak WSJ dalam membuat berita yang mempengaruhi keadaan dunia.

            Sampurasun.

Friday, 14 April 2017

Uang Mengalahkan Ukhuwah Islamiyah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Cukup menyedihkan juga jika kita memperhatikan ulang kunjungan Raja Arab Saudi Salman ke Indonesia. Presiden Indonesia Jokowi dan jajarannya menyambutnya dengan sangat baik meskipun sempat hujan. Acara penyambutan dan salam hangat datang dari para petinggi Indonesia, baik eksekutif maupun legislatif. Demikian pula keramahan ditunjukkan dengan tulus oleh seluruh pemimpin agama apa pun di Indonesia. Islam, Hindu, Kristen, Budha, Konghucu, dan pemeluk agama lokal pun ramah dan gembira menyambutnya.

            Hal itu mudah dipahami karena rakyat Indonesia ini menghormati Kerajaan Arab Saudi yang berperan sebagai “Penjaga Dua Kota Suci Umat Islam”, yaitu Mekah dan Madinah. Di samping itu, dunia memandang bahwa Kerajaan Arab Saudi merupakan simbol Islam terbesar karena dua kota suci itu. Adapun Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia. Bertemunya negara simbol Islam terbesar dengan negara berpenduduk Islam terbesar adalah sejarah besar. Bukan hanya rakyat muslim Indonesia yang menghormati Raja Arab Saudi, melainkan pula seluruh umat beragama nonmuslim pun ikut gembira dan senang. Rasa senang itu pun didorong oleh adanya berita yang mengatakan bahwa Raja Salman datang dengan membawa investasi sekitar Rp 331 triliun untuk ditanamkan di Indonesia. Jumlah yang sangat besar. Rakyat berharap ikut “kebagian” dari investasi itu dalam arti ada peningkatan pada berbagai sektor ekonomi.

JOKOWI DAN SALMAN. Foto: nasional.kompas.com
            Sayangnya, kenyataan menunjukkan hal lain. Rakyat Indonesia yang berharap besar, baik muslim maupun nonmuslim, terhadap realisasi investasi itu harus sedikit kecewa karena ternyata investasi yang ditanamkan Raja Salman hanya sejumlah Rp 89 triliun. Itu juga memang investasi yang sangat besar, tetapi tidak sebesar harapan pertama saat Raja Salman hadir di Indonesia. Presiden Indonesia Jokowi pun ikut merasa kecewa.

            Hal yang cukup menjadi perhatian adalah ternyata jumlah investasi yang ditanamkan di Cina jauh lebih besar dibandingkan dengan di Indonesia. Dalam kata lain, Raja Salman berinvestasi di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan dengan di Cina. Padahal, Indonesia dan Arab Saudi adalah sama-sama muslim dan rakyat berharap rasa persaudaraan sesama muslim itu merupakan nilai lebih dalam melakukan hubungan internasional. Adapun dengan Cina, Arab Saudi memiliki perbedaan agama dan keyakinan. Cina itu adalah negara komunis, sedangkan Arab Saudi negara simbol Islam terbesar. Tak ada nilai lebih dari Cina selain ekonomi.

            Mengapa hal ini bisa terjadi?

            Kok sepertinya tidak saling percaya antarsesama umat Islam sendiri?

            Kok Arab Saudi lebih percaya pada komunis daripada pada saudaranya sendiri sesama muslim?

            Bahkan, ketika salah seorang pangeran Arab Saudi bertemu dengan Donald Trump, mengatakan dengan tegas bahwa Trump adalah sahabat umat Islam. Padahal, saat itu dunia tahu bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mengambil kebijakan yang dirasakan cukup menekan beberapa negara muslim, bahkan umat Islam. Akan tetapi, Arab Saudi berinvestasi sangat besar di Cina dibandingkan dengan di Indonesia.

            Mengapa ini bisa terjadi?

            Hal ini terjadi karena bisa dipandang dari dua sisi, yaitu dari sisi negatif dan sisi positif. Dari sisi negatif kita bisa melihat betapa lemahnya ukhuwah Islamiyah di kalangan kaum muslimin. Rasa saling percaya dan saling mendukung di antara sesama muslim tidak terjalin dengan baik. Negara-negara muslim hanya mementingkan negaranya sendiri dan kurang mementingkan kehidupan kaum muslimin secara keseluruhan. Hal itu menunjukkan betapa lemahnya iman kaum muslimin terhadap ajarannya sendiri, yaitu Islam dan Al Quran.

            Islam selalu menganjurkan, bahkan memerintahkan untuk saling menjaga di antara sesama muslim. Jika seorang muslim sakit atau menderita, seluruh muslim harus merasakan sakit pula. Jika terjadi rasa persaudaraan yang kuat dan saling merasakan penderitaan di antara sesama muslim, Allah swt pun akan melimpahkan rezeki dan harta yang lebih berlimpah penuh berkah di dunia dan akhirat.

            Secara negatif, hal itu bisa dipandang sebagai kelemahan iman di antara kaum muslimin sendiri. Untuk hal ini, kita masih harus memegang teori-teori hubungan internasional yang sesungguhnya agak bertentangan dengan Islam, yaitu hubungan internasional yang terjadi selalu didasarkan pada kepentingan negara masing-masing yang melakukan hubungan internasional itu. Artinya, Arab Saudi datang ke Indonesia adalah bukan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, melainkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi bagi Negara Arab Saudi sendiri. Demikian pula dengan Indonesia. Kerja sama yang terjadi dengan Arab Saudi bukanlah untuk kepentingan Penjaga Dua Kota Suci Umat Islam, melainkan untuk kepentingan rakyat Indonesia. Teori ini ternyata masih tetap berlaku hingga hari ini. Oleh sebab itu, kita pun harus memegang teguh teori ini untuk sementara waktu hingga timbul fenomena lain yang menggugurkan teori tersebut. Soal kesamaan agama, dalam kerja sama ini tidaklah begitu penting. Tak ada unsur agama dalam kerja sama tersebut karena setiap negara melakukan interaksi internasional hanyalah untuk kepentingan negaranya sendiri-sendiri. Setiap negara berjuang untuk mendapatkan uang untuk dirinya sendiri dan bukan untuk ukhuwah Islamiyah, apalagi untuk kesejahteraan seluruh kaum muslimin.

            Secara positif, kita, sebagai bangsa Indonesia, harus memandang bahwa lebih banyaknya Arab Saudi berinvestasi di Cina yang komunis dibandingkan dengan di Indonesia yang mayoritas muslim adalah disebabkan sumber daya manusia Cina lebih baik dan lebih bisa dipercaya untuk mengembangkan investasi Arab Saudi. Raja Salman masih lebih percaya pada Cina dibandingkan pada Indonesia. Oleh sebab itu, kita, Indonesia, harus introspeksi diri bahwa kita masih memiliki kelemahan pada beberapa bidang dan itu harus diperbaiki sehingga orang lain lebih percaya pada diri kita. Kelemahan itu bisa dari sumber daya manusia, dari birokrasi, atau dari sistem. Artinya, Indonesia harus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, memperbaiki birokrasi, serta menyederhanakan sistem untuk investasi dengan tetap mengedepankan nasionalisme dan kepentingan rakyat Indonesia.

            Sekarang bergantung kita bagaimana menyikapinya. Adalah suatu hal yang wajar jika Presiden Jokowi kembali melakukan sambungan telepon pada Raja Salman untuk meminta investasi lebih besar lagi agar seimbang dengan investasi di Cina, bahkan lebih besar lagi.

            Sampurasun.

Sunday, 26 February 2017

Presiden ke-1 RI Pengagum Berat Pendiri Saudi Arabia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dunia Arab sejak dulu memang pengaruhnya sangat besar terhadap Indonesia. Masyarakat memahami bahwa Saudi Arabia adalah negara yang termasuk negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia di samping Mesir, Palestina, dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Masyarakat pun tahu bahwa keluarga Al Saud adalah keluarga yang dipercaya menjadi Penjaga Kota Suci Mekah dan Madinah. Meskipun ada beberapa masalah, seperti, tenaga kerja Indonesia (TKI) atau persoalan izin-izin warga Arab yang berada di Indonesia, hubungan kedua negara tetap baik. Permasalahan yang terjadi di antara kedua negara tidak harus membuat hubungan baik menjadi berantakan. Masalah itu selalu ada, tetapi selalu ada jalan keluarnya. Jalan keluar itu seharusnya win win solution, ‘saling menguntungkan’, dan bukan saling merasa diri paling berkuasa atau paling benar.

           Pengaruh Arab terhadap perjuangan Indonesia sangat besar. Salah satunya adalah pengaruh perjuangan Ibnu Saud  untuk menegakkan Kerajaan Saudi Arabia. Sepak terjang Ibnu Saud menjadi inspirasi yang teramat besar bagi Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Ir. Soekarno. Soekarno sangat mengagumi dan meneladani perjuangan Ibnu Saud. Perjuangan Ibnu Saud ini ditularkan Soekarno kepada rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

SOEKARNO. Sumber Foto: baeksoo11.blogspot.co.id

            Hal ini bisa dilihat dari kutipan surat Soekarno ketika berada dalam masa pembuangannya di Endeh, 12 Juni 1936, kepada Hasan, tokoh Persis di Bandung. Dalam suratnya tersebut, Soekarno menerangkan kertertarikannya pada buku biografi Ibnu Saud.

            Ia adalah menggambarkan kebesaran Ibnu Saud dan Wahabism begitu rupa, mengobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum “tafakur” dan kaum pengeramat Husain cs akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menyalin buku ini, adalah suatu confession bagi saya bahwa saya walaupun tidak mufakati semua sistem Saudisme yang masih banyak feodal itu, toh menghormati dan kagum kepada pribadinya itu laki-laki yang “Towering above all Moslems at his time; an immense man, tremendous, vital, dominant. A giant thrown up out of the chaos and agony of the desert--to rule, following the example of his Great Teacher, Mohammad” (terjemahan bebasnya [Red.]: Menjulang di atas semua Muslim pada waktu itu; seorang pria besar, luar biasa, penting, dominan. Seorang raksasa yang dilemparkan keluar dari kekacauan dan penderitaan gurun-untuk memerintah, mengikuti teladannya Sang Guru Terhebat, Muhammad saw).

IBNU SAUD. Sumber Foto: id.wikipedia.org 

            Selagi menggoyangkan saya punya pena menerjemahkan biografi ini, ikutlah saya punya jiwa bergetar karena kagum kepada pribadinya orang yang digambarkan.

             What a man! (Pria luar biasa!)

            Mudah-mudahan saya mendapat taufik menyelesaikan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Mudah-mudahan nanti buku ini dibaca oleh banyak orang Indonesia agar bisa mendapat inspiration darinya. Hal itu disebabkan sesungguhnya ini buku adalah penuh dengan inspiration. Inspiration bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam-hati, inspiration bagi kaum muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunnah Nabi”,--yang mengira bahwa sunnah Nabi saw itu hanya makan korma pada bulan puasa dan celak-mata dan sorban saja!

            Demikian semangatnya Soekarno terhadap isi buku yang mengisahkan riwayat hidup Ibnu Saud. Saking semangatnya, ia pun menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

            Dengan demikian, sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak menghilangkan segala bentuk kendala yang dapat menghalangi hubungan baik antara Indonesia dan Arab Saudi. Hubungan ini harus terus ditingkatkan demi hubungan yang terus baik di dunia dan di akhirat.

            Bukankah menyenangkan jika kita semua bertemu kembali di alam akhirat dalam keadaan selamat dan sentosa?

            Bukan hanya inspirasi yang didapatkan Soekarno dari Ibnu Saud, melainkan pula buku Ibnu Saud menjadi pula alat atau barang dagangan untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang dialami Soekarno. Ketika dalam masa pembuangan di Endeh, Soekarno hanya diberi uang sebatas untuk makan (natura), tidak lebih dari itu. Uang yang sangat sedikit itu harus dikurangi pula oleh pihak kolonial. Oleh sebab itu, Soekarno menawarkan kesana-kemari buku hasil terjemahannya tentang Ibnu Saud tersebut. Hal itu bisa dilihat dari suratnya saat di Endeh kepada Hasan di Bandung.

            Assalaamualaikum.

            Saudara!

            Saudara punya kartu pos sudah saya terima dengan girang.

            Syukur kepada Allah taala saya punya usul Tuan terima!

            Buat mengganjel saya punya rumah tangga yang kini kesempitan,--saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya pun sudah sesak sekali buat membelanjai—segala saya punya keperluan--, maka saya sekarang lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggris yang mentarikhkan Ibnu Saud.

            Bukan main hebatnya ini biografi!

            Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati. Tebalnya buku Inggris itu—format Tuan punya “Al Lisaan”—adalah 300 muka, terjemahan Indonesia akan jadi 400 muka. Saya minta Saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu.

            Barangkali Saudara sendiri ada uang buat membelinya?

            Tolonglah melonggarkan saya punya rumah tangga yang disempitkan korting itu.

            Bagi saya pribadi, buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, melainkan adalah pula satu pengakuan, satu confession.

            ….

            Saudara, please tolonglah. Terima kasih lahir batin, dunia akhirat.

            Demikian kagum Soekarno kepada pendiri Saudi Arabia dan menjadikannya inspirasi perjuangan kemerdekaan Indonesia sekaligus menjadikan buku Ibnu Saud sebagai alat atau dagangan untuk mengatasi kesulitan keuangan yang sedang dideritanya hanya untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya.

RUMAH PEMBUANGAN SOEKARNO DI ENDE, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR. Sumber Foto: kompas.com/I Made Asdhiana 

            Ada banyak sebetulnya hal yang bisa dikemukakan mengenai kekaguman Soekarno kepada Ibnu Saud, tetapi pada tulisan kali ini cukup sekian dulu. Nanti pada tulisan lain saya akan tambah lagi dalam bahasan yang berbeda.