oleh Tom Finaldin
Bandung, Putera Sang Surya
Nama Jeffrey Winters, profesor
dari Northwestern University Amerika Serikat, sejak pasca-reformasi mendapat
perhatian cukup besar dari media-media di Indonesia, baik cetak maupun
elektronik di dunia maya dan dunia nyata. Pendapat-pendapatnya cukup mendapat
perhatian dari berbagai kalangan karena berkaitan dengan kondisi terkini Negara
Indonesia. Ketika gerakan reformasi berhasil menggulingkan pemerintahan Suharto
dengan Orde Baru-nya, pendapat-pendapat Jeffrey Winters mengenai Indonesia
bersenyawa dengan eforia kebebasan masyarakat Indonesia sehingga sering
dianggap sebagai sumber kebenaran karena sama-sama menyerang pemerintahan Orde
Baru yang korup dan represif. Akan tetapi, pada beberapa kalangan ilmuwan
Indonesia, ia dianggap terlalu berani dan kurang ajar. Prof. Muladi pernah
geram dengan pernyataan Jeffrey Winters yang sangat tendensius karena menuduh
dengan keras Ginanjar Kartasasmita telah melakukan praktik-praktik yang
dianggap korup dan manipulatif.
Sebagaimana telah saya katakan bahwa pendapat ataupun
berbagai komentar Jeffrey Winters mengenai Indonesia bersenyawa dengan kondisi
terkini Negara Indonesia sehingga mendapat tempat di telinga dan pikiran rakyat
Indonesia. Hal itu merupakan kekuatan daya jual seorang Jeffrey Winters pada
khalayak ramai. Akan tetapi, itu juga merupakan kelemahan yang dimiliki Jeffrey
Winters. Artinya, pendapat-pendapat atau komentar-komentarnya sama sekali bukan
sesuatu yang baru. Ia hanya mengungkapkan berbagai kondisi terkini yang
dirasakan bangsa Indonesia secara umum dan telah termuat dalam berbagai media
massa. Misalnya, harga BBM naik, keharusan adanya people power, penegakan hukum yang kurang tegas, tersanderanya
eksekutif oleh kepentingan politik tertentu, pemerintah yang tidak tegas, dan
lain sebagainya. Yang disampaikannya memang benar terjadi, tetapi bukan sesuatu
yang aneh. Tak perlu seorang bergelar profesor untuk menyampaikan komentar dan
atau pendapat seperti itu, orang-orang biasa juga bisa kok mengatakan berbagai
hal sebagaimana yang dikatakan Jeffrey Winters. Tukang becak, tukang cukur,
kuli angkut di pasar atau pelabuhan, anak SMA, pengangguran yang sering baca
koran atau nonton berita teve paham juga apa yang sering dilontarkan Jeffrey
Winters. Biasa saja. Tak ada yang aneh.
Pendapat
yang Kontradiktif
Pendapat dan komentar
Jeffrey Winters selalu menarik karena memang benar terjadi dan kita semua tahu
hal-hal yang disampaikannya, bahkan kita mengalaminya dalam keseharian hidup
kita. Oleh sebab itu, berbagai tulisan atau wawancara dengannya sangat menarik
untuk dibaca karena seolah-olah dia menguatkan berbagai hal yang kita alami
sehari-hari. Karena menarik, saya tertarik membaca beberapa pendapatnya.
Beberapa hal memang benar masuk akal, tetapi saya mencatat ada kontradiksi dari
pendapat-pendapatnya itu. Hal itu ada dalam tulisan-tulisan tentang dia yang
sempat saya baca. Mungkin ada banyak kontradiksi lain pada tulisan-tulisan lain
yang belum sempat saya baca.
Pendapat yang kontradiktif itu dimuat dalam dua tulisan
yang berbeda judul, tetapi sama-sama dimuat dalam media mainstream Wall Street
Journal. Berikut komentar kontradiktif tersebut.
Pada sebuah tulisan ia mengatakan, “Kita di Indonesia belum bisa memilih sosok seperti Bung Karno yang
berani mengajak Indonesia untuk bisa mandiri dalam segala bidang. Selama ini
kita selalu memilih sosok presiden yang sangat suka di bawah pengaruh asing
kapitalisme.”
Akan tetapi, dalam
judul lain ia mengatakan hal yang bertolak belakang, “Beberapa investor asing keberatan karena Jokowi terikat pada gagasan
nasionalisme yang membuat sulit investasi asing masuk di Indonesia.”
Pembaca sekalian yang
budiman bisa melihat bukan bagaimana kontradiktifnya kedua pernyataan tersebut?
Kalau belum bisa melihatnya, mari kita bahas satu per
satu.
1.
Pendapat Pertama
Pernyataan pertamanya adalah, “Kita di Indonesia belum bisa memilih sosok seperti Bung Karno yang
berani mengajak Indonesia untuk bisa mandiri dalam segala bidang. Selama ini
kita selalu memilih sosok presiden yang sangat suka di bawah pengaruh asing
kapitalisme.”
Pernyataannya ini menunjukkan keyakinan yang penuh bahwa
bangsa Indonesia bisa makmur gemah ripah
loh jinawi jika memiliki semangat kemandirian dan terlepas dari pengaruh
kapitalisme sebagaimana yang diajarkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Republik
Indonesia Ir. Soekarno. Memang dalam kenyataannya Soekarno sangat keras sekali
mengajarkan hal ini agar dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam hubungan di
dalam negeri maupun dalam hubungan internasional, Indonesia selalu mendapatkan
keuntungan yang sangat besar. Pengolahan sumber daya alam, sumber daya manusia,
maupun pengelolaan ekonomi harus bertujuan untuk sebesar-besarnya kepentingan
nasional, bukan untuk keuntungan negara lain. Soekarno lebih suka untuk tidak
bergantung pada kapitalisme walaupun para negeri kapitalis itu memiliki modal
besar yang mungkin saja dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Soekarno sama sekali tidak silau dengan besarnya modal yang dimiliki para
kapitalis. Ia lebih suka memberdayakan sumber daya manusia Indonesia untuk
kemudian mengelola sumber daya alam Indonesia untuk kepentingan nasionalnya
sendiri. Ia berkeyakinan bahwa sangat tidak perlu modal-modal dari kapitalis
asing jika hanya membuat Indonesia takluk, bertekuk lutut, mengiba, dan
kehilangan harga diri di percaturan politik internasional. Dari Soekarno-lah
kita mengenal istilah Berdikari, ‘Berdiri
di Atas Kaki Sendiri’.
Semua orang masih
mengingat bagaimana Soekarno menolak bantuan-bantuan kapitalis dengan
kata-kata, “Go to Hell with Your Aids.”
Pergi ke Neraka dengan Semua
Bantuan-bantuan Kalian.
Perhatikan pula kalimat
kerasnya, “Amerika kita seterika, Inggris
kita linggis.”
Hal itu menunjukkan
bahwa Soekarno sama sekali tidak ingin dipengaruhi ataupun berada di bawah
kekuasaan negeri-negeri kapitalis. Ia ingin Indonesia bebas mandiri, Berdikari,
dan berkembang sesuai dengan kemampuannya sendiri. Artinya, ia tidak peduli
apakah investor atau pengusaha asing mau masuk atau tidak. Ia hanya peduli,
baik jika investor atau pengusaha asing masuk atau tidak, yang untung harus
Indonesia. Itulah semangat nasionalisme.
Sejarah mencatat bagaimana hebatnya rasa nasionalisme
Bung Karno dan kesiapan untuk prihatin sambil menunggu saat yang tepat untuk
berkembang dengan menolak berbagai modal asing, pengusaha asing, dan
tenaga-tenaga ahli asing, “Biarlah
kekayaan alam Indonesia tersimpan dan terkubur di dalam perut Bumi Indonesia.
Biarlah tersimpan di sana sampai suatu saat nanti para pemuda kita banyak yang
menjadi ahli pertambangan sehingga mampu menambang sendiri dan mengolah
sendiri.”
Hal yang sangat
mencengangkan adalah ketika Soekarno menerima rombongan pengusaha asing dari
berbagai negara yang berminat untuk mengelola pertambangan di Indonesia.
Soekarno menegaskan dirinya memang tertarik untuk
mengembangkan pertambangan di Indonesia, tetapi meminta waktu, “Kalian boleh menambang di Indonesia, tetapi
bukan saat ini. Sebaiknya, kalian pulang. Silakan kalian datang lagi nanti
setelah presidennya bukan aku. Pada saat itu pemuda-pemuda kami sudah banyak
yang ahli dalam pertambangan.”
Terdapat banyak
kalimat-kalimat atau ajaran-ajaran Soekarno yang mengandung rasa nasionalisme
yang tinggi. Dari beberapa sikap dan ketegasan Bung Karno, kita bisa mengambil
kesimpulan bahwa Soekarno sangat tidak menyandarkan diri pada pengusaha asing,
modal asing, tenaga ahli asing, investor asing, bahkan sumbangan dari pihak
asing kapitalis. Bung Karno menginginkan Indonesia mendidik putera-puteri
Indonesia untuk menjadi pandai sehingga mampu mengelola berbagai sumber
kekayaan Indonesia untuk kemakmuran bersama dalam rangka pengabdian pada nusa
dan bangsa. Memang ada harga mahal yang harus dibayar untuk tetap hidup mandiri
dan Berdikari, yaitu percepatan menuju kemakmuran bangsa akan berjalan tidak
terlalu cepat karena menunggu para pemuda yang dikirim ke berbagai negara untuk
menuntut ilmu agar dapat membangun bangsa dengan tenaganya sendiri, semangatnya
sendiri, pikirannya sendiri, serta keyakinannya sendiri. Soekarno tahu hal itu
dan yakin bahwa rakyat berada bersamanya. Itulah nasionalisme.
Bung Karno tidak antikapitalis asing dalam pergaulan
internasional. Ia hanya mempertahankan kedaulatan dan kekayaan alam Indonesia
agar tidak terjarah oleh pihak-pihak kapitalis asing. Ia bersedia bekerja sama
dengan siapa pun dan negeri apa pun dalam ideologi apa pun sepanjang Indonesia
tidak dirugikan atau tidak hanya untung sedikit pada saat pihak kapitalis asing
mendapatkan untung banyak. Ia ingin Indonesia yang mendapatkan untung besar
dari setiap kerja sama yang dilakukan dengan pihak asing, bukan menggadaikan
asset bangsa dan kehormatan bangsa. Itulah nasionalisme Soekarno.
Pernyataan Jeffrey Winters bahwa sosok Soekarno adalah
presiden terhebat sepanjang sejarah Indonesia dengan nasionalismenya yang tidak
menghendaki pengaruh kapitalis asing menunjukkan bahwa ajaran nasionalisme
Soekarno yang tidak terbuai pengusaha asing, modal asing, investor asing, dan
tenaga ahli asing akan membuat Indonesia makmur sekaligus terhormat secara
berdaulat di hadapan dunia internasional. Pernyataannya itu menegaskan bahwa
Indonesia memang perlu mandiri dan membatasi, bahkan menolak pengusaha asing,
modal asing, investor asing, dan tenaga ahli asing jika Indonesia hanya
mendapatkan keuntungan yang sedikit dan atau dirugikan. Jeffrey Winters
menandaskan bahwa Indonesia perlu seorang pemimpin dan atau presiden yang mampu
menolak dan membatasi modal asing dan tenaga kerja asing jika Indonesia tidak
mendapatkan keuntungan yang besar.
Soekarno menolak atau menunda kerja sama dengan pihak
asing bukan berarti menutup pintu untuk kerja sama, melainkan menunggu saat
yang tepat ketika Indonesia sudah memiliki kemampuan yang cukup dalam negosiasi
serta dalam proses ketika kerja sama berjalan. Soekarno tidak hanya ingin
menjual sumber daya alam karena hanya akan untung sedikit. Ia ingin
putera-puteri Indonesia yang telah terdidik ikut berperan aktif dalam mengambil
berbagai keputusan strategis dalam jalinan kerja sama. Dengan demikian,
Indonesia akan mendapatkan keuntungan berlipat yang bukan hanya menjual sumber
daya alam, melainkan dari hal lainnya.
Tentu saja sikap nasionalisme Soekarno akan membuat pihak
asing berpikir keras dan kemungkinan terburuknya adalah mundur serta tidak
terjalin kerja sama yang diinginkan sehingga tak ada keuntungan yang didapat
oleh kedua pihak. Bagi Soekarno, itu bukanlah masalah. Daripada rugi atau
untung hanya sedikit, lebih baik tidak sama sekali. Ia percaya bahwa suatu saat
bangsanya sendiri mampu mengelola secara mandiri dan Berdikari.
Pemimpin yang senasionalis Soekarno akan dengan mudah
mengatakan, “Go to hell with your capital.”
Pernyataan Jeffrey Winters jelas sekali bahwa nasionalisme
yang diajarkan dan digaungkan Ir. Soekarno adalah obat mujarab untuk membuat
Indonesia tumbuh dan berdiri kuat sebagai bangsa yang besar. Untuk menggapai
kekuatan dan kebesaran itu, Indonesia harus memegang teguh nasionalisme dan
mampu menanggung berbagai risiko dalam mempertahankan keyakinan.
2.
Pendapat Kedua
Pendapat kedua yang
dilontarkan Jeffrey Winters sangatlah bertolak belakang dengan pendapatnya yang
pertama. Pada pernyataan ini justru ia mengkritik gagasan nasionalisme
pemerintahan Jokowi. Ini adalah hal yang aneh. Pernyataan pertama ia memuja
nasionalisme Soekarno, tetapi pernyataan kedua meledek gagasan nasionalisme
pemerintahan Jokowi. Padahal, nasionalisme Jokowi itu belum seujung kuku
nasionalismenya Soekarno.
Menurut Jeffrey Winters, “Beberapa investor asing keberatan karena Jokowi terikat pada gagasan
nasionalisme yang membuat sulit investasi asing masuk di Indonesia.”
Bisa kita lihat bukan
bahwa menurut Jeffrey Winters penyebab sulit majunya Indonesia disebabkan oleh
investasi asing yang sulit masuk ke Indonesia?
Sulitnya
investasi asing masuk ke Indonesia disebabkan pemerintahan Jokowi yang terikat
gagasan nasionalisme. Dalam kata lain pengusaha asing, modal asing, tenaga ahli
asing, dan lain sebagainya dari asing tidak akan mendapatkan untung besar dari
kerja sama yang dilakukan bersama Indonesia. Untung sih jelas akan didapatkan
kapitalis, tetapi mungkin berada di bawah target kapitalis. Hal itu disebabkan
keuntungan yang besar justru akan diraup oleh Indonesia. Keuntungan yang akan
diraup Indonesia itu berasal dari gagasan nasionalisme.
Sangat
aneh bukan?
Pada
pernyataan pertama Jeffrey Winters sangat mengagungkan nasionalisme Soekarno
yang bisa membuat Indonesia kuat dan terhormat. Akan tetapi, dalam pernyataan
kedua ia mengkritik nasionalisme pemerintahan Jokowi. Padahal, nasionalisme
Jokowi yang belum seberapa itu berasal dari ajaran-ajaran nasionalisme
Soekarno. Bahkan, nasionalisme Indonesia itu berawal dari nasionalismenya
Soekarno.
Dari
pendapat-pendapatnya yang kontradiktif tersebut timbul pertanyaan.
Mengapa
dia mengungkapkan pernyataan yang kontradiktif?
Apa
motivasinya?
Untuk
apa?
Siapa
yang untung dari pernyataan-pernyataan itu?
Bagaimana
kita sebagai bangsa Indonesia menyikapinya?
Pernyataan-pernyataan
Jeffrey Winters dapat dianalisis dari berbagai segi, misalnya, segi ekonomi,
segi hubungan internasional, segi politik dalam dan luar negeri, segi
pendidikan, bahkan segi pertahanan dan keamanan. Dalam tulisan kali ini mari
kitat analisis dari segi hubungan internasional.
Untuk
lebih jelasnya, ada baiknya kita mengenal siapa Jeffrey Winters secara singkat.
Profilnya dapat berguna untuk menumbuhkan berbagai hipotesis berkaitan dengan
pernyataan-pernyataannya itu.
Jeffrey
Winters
Jeffrey Winters memiliki
ketertarikan dalam bidang oligarki dan elit; pertahanan kemakmuran,
ketidaksederajatan, dan kekuasaan penting; stratifikasi kemakmuran ekstrim;
negara-negara bekas jajahan. Bidang-bidang itu berada dalam ruang lingkup
perbandingan politik dan politik Amerika. Wilayah yang menjadi pusat
perhatiannya adalah Amerika Serikat dan Asia. Bidang yang sangat dikuasainya
adalah analisis perbandingan sejarah dan perkembangan politik Amerika.
Profesor Winters adalah spesialis dalam hal sejarah dan
kasus-kasus kontemporer mengenai oligarki dan perputaran para elit yang
mencakup pula situasi di Athena dan Romawi kuno, Eropa abad pertengahan,
Amerika Serikat, serta Indonesia, Singapura, dan Filipina. Bukunya yang berjudul
Oligarchy (Cambridge, 2011) meraih APSA’s
2012 Gregory M. Luebbert Award untuk buku terbaik dalam bidang perbandingan
politik. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan
dipublikasikan pula di Cina dan Spanyol. Penelitiannya, karya ilmahnya, dan
pengajarannya berfokus pada bidang Perbandingan dan Ekonomi Politik. Di samping
itu, tema-tema yang penting dalam karyanya adalah termasuk pula Hubungan
Modal-Negara, Mobilitas Modal dan Struktur Kekuasaan Investor, World Bank, Hak Azasi Manusia, Otoritarianisme,
dan Transisi Demokrasi di Negara-negara Bekas Jajahan. Dia telah melakukan penelitian
yang luas di wilayah Asia Timur Selatan.
Bukunya yang berjudul Power
in Motion: Capital Mobility and the Indonesian State (Cornell 1996)
menggali struktur kekuasaan dalam lingkup siapa yang menyuplai dan menyembunyikan
sumber investasi masyarakat. Dengan Jonathan Pincus, dia menjadi co-editor Reinventing the World Bank (Cornell
2002), sebuah kritik yang luas terhadap struktur dan operasional bank tersebut.
Keduanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan di
Jakarta. Jeffrey juga sudah menerbitkan dua buku lainnya di Indonesia pada
1999, yaitu: Dosa-Dosa Politik Orde Baru
(Political Sins of Suharto’s New Order) yang merupakan best seller di Indonesia pada tahun itu dan pada 2004 ia
menerbitkan Orba Jatuh, Orba Bertahan?
(Indonesia’s “New Order” Falls or Endures?). Dia adalah seorang dari tiga
sarjana yang diundang pada 2014 oleh The
American Society for Political and Legal Philosophy untuk menulis karya
ilmiah yang bertopik “kemakmuran” untuk diterbitkan pada jurnal institusi
tersebut, yaitu NOMOS.
Pada 2006, 2008, 2012, dan 2013, Profesor Winters telah
diberi Gulungan Piagam The Associated
Student Government (ASG) Faculty sebagai pengajar unggulan (dipilih oleh
para pelajar terpilih dan ternominasikan). Pada 2014 The Politics Department memberinya penghargaan The Farrell Teaching Prize.
Profesor Winters adalah pendiri dan direktur program The Equality Development and Globalization
Studies (EDGS) dan Direktur The Social
Sciences Program at the Center for Public Policy Transformation
(Transformasi). Keduanya berada di Jakarta.
Buku-buku hasil karyanya, antara lain, Oligarchy (2011): Cambridge University Press; Reinventing
the World Bank (2002), Co-edited with
Jonathan Pincus: Cornell University Press, Dosa-Dosa Politik Orde Baru [Political Sins of Suharto’s New Order] (1999): Djambatan Press, Orba
Jatuh, Orba Bertahan? [Indonesia’s
“New Order” Falls or Endures?] (1999): Djambatan Press; Power in Motion:
Capital Mobility and the Indonesian State (1996): Cornell University Press.
Karya ilmiah
terpilih lainnya, antara lain, Oligarchy (2015,
forthcoming): Encyclopedia of
Political Thought; Oligarchy and
Democracy in Indonesia (2014); In Beyond Oligarchy: Wealth, Power, and
Contemporary Indonesian Politics, edited by Michelle Ford and Thomas B. Pepinsky: Cornell University
Press; Critical Dialogue on Oligarchy and Machiavellian Democracy (2012): Perspectives
on Politics; Oligarchs and Oligarchy
in Southeast Asia (2011); In The
Routledge Handbook of Southeast Asian Politics, edited by Richard Robison: RoutledgeCurzon
Press; Oligarchy in the United
States? (2009), Co-authored with
Benjamin Page: Perspectives on Politics.
Setelah lulus
S-1 ilmu politik, Jeffrey direkrut menjadi dosen sastra Amerika di Fakultas
Sastra, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Itulah awal perkenalannya dengan
Indonesia. Jeffrey sempat menetap tiga tahun di Yogyakarta. Setelah
itu, dia pulang ke Amerika untuk mengambil gelar master di Yale University,
Connecticut. Begitu lulus, dia melanjutkan program doktornya di kampus yang
sama.
Setelah meraih gelar doktor pada 1991, Jeffrey tidak
kembali ke UGM. Dia diterima mengajar ilmu politik di University of Michigan, Ann Arbor. Namun, sejak 1993 dia pindah dan
resmi menjadi dosen ilmu politik di Northwestern
University, Chicago. Meski begitu, sampai sekarang Jeffrey masih rutin 3-5
kali datang ke Indonesia dalam setahun untuk melakukan riset.
Analisis
dalam Perspektif Hubungan Internasional
Kita telah melihat bahwa
Jeffrey Winters adalah seorang akademisi yang memiliki reputasi cukup baik dan
mendapat perhatian cukup besar pula. Setiap pernyataan atau pendapatnya bisa
saja mempengaruhi alam pikiran orang banyak, bahkan menjadi inspirasi bagi
penyelenggara negara untuk membuat suatu kebijakan. Oleh sebab itu, berbagai
komentarnya layak untuk dicermati dan dianalisis sehingga dapat menjadi suatu
pemahaman yang dapat pula menyumbangkan gagasan baru dalam dunia akademis dan
menjadi catatan penting bagi masyarakat serta penyelenggara negara.
Dalam tulisan kali ini penulis menganalisis dari
perspektif hubungan internasional. Ada banyak pemahaman, teori, dan atau
bahasan mengenai hubungan internasional. Akan tetapi, penulis membatasi hanya
pada hal-hal yang berkaitan dengan Jeffrey Winters dan
pernyataan-pernyataannya.
Menurut Coulumbis dan Wolfe (1981), fenomena-fenomena
yang merupakan ruang lingkup hubungan internasional, di antaranya, perang,
konferensi internasional, diplomasi, spionase, olimpiade, perdagangan, bantuan
luar negeri, imigrasi, pariwisata, pembajakan, penyakit menular, dan revolusi
kekerasan. Sebagai fenomena sosial, ruang lingkup hubungan internasional sangat
jamak alias tidak berurusan dengan masalah-masalah politik saja. Namun, seiring
perkembangan zaman, ruang lingkup hubungan internasional juga berkembang, yaitu
menyangkut masalah-masalah lingkungan hidup, hak asasi manusia, alih teknologi,
kebudayaan, kerja sama keamanan, dan kejahatan internasional.
Hubungan
internasional sebagai disiplin ilmu atau bidang studi meliputi berbagai
spesialisasi, seperti, politik internasional, politik luar negeri, ekonomi
internasional, ekonomi politik internasional, organisasi internasional, hukum
internasional, komunikasi internasional, administrasi internasional,
kriminologi internasional, sejarah diplomasi, studi wilayah, military science, manajemen
internasional, serta kebudayaan antarbangsa.
Menurut
J. C. Johari (1960), hubungan internasional adalah suatu studi tentang
interaksi yang berlangsung di antara negara-negara berdaulat. Di samping itu,
juga studi tentang pelaku-pelaku nonnegara (non-state
actors) yang perilakunya memiliki impak terhadap tugas-tugas negara bangsa.
Robert
Strausz-Hupe dan Stefan T. Possony (1960) berpendapat bahwa studi hubungan
internasional mempelajari hubungan timbal balik antarnegara serta mengkaji
tindakan anggota suatu masyarakat yang berhubungan dengan atau ditujukan kepada
masyarakat negara lain.
Trygue
Mathisen, dalam bukunya Methodology in
the Study of International Relations, seperti yang dikutip oleh Suwardi
Wiriaatmaja (1971) mencatat bahwa salah satu istilah hubungan internasional
mempunyai arti semua aspek internasional dari kehidupan sosial umat manusia
dalam arti semua tingkah laku manusia yang terjadi atau berasal dari suatu
negara dapat mempengaruhi tingkah laku manusia negara lain.
Dengan
memperhatikan pendapat para ahli di atas menjadi jelas bahwa kehadiran Jeffrey
Winters di Indonesia, pendapat-pendapat Jeffrey Winters tentang Indonesia dan
manusia Indonesia, serta interaksi lainnya yang dilakukan Jeffrey Winters di
Indonesia dengan elemen-elemen bangsa Indonesia merupakan suatu peristiwa yang
termasuk dalam koridor hubungan internasional. Hal itu disebabkan Jeffrey
Winters berasal dari luar negeri, yaitu Amerika Serikat yang berinteraksi
dengan elemen dalam negeri Indonesia. Hubungan internasional bukan hanya
mempelajari hubungan sebuah bangsa dengan bangsa lain, melainkan juga hubungan
yang terjadi antarpelaku nonnegara yang bisa institusi swasta ataupun
perseorangan. Seseorang Indonesia yang melakukan chatting di media sosial
dengan seseorang asing pun sudah termasuk hubungan internasional.
Hubungan
internasional yang terjadi selalu berada dalam dua situasi yang bertolak belakang.
Artinya, hubungan itu bisa positif atau negatif. Bisa damai atau perang. Contoh
hubungan yang positif adalah pertukaran pelajar, alih teknologi, dagang yang
saling menguntungkan, temu budaya, barter, dan komunikasi antarumat beragama.
Contoh hubungan yang negatif adalah spionase, mata-mata, memicu huru-hara,
penjajahan, perang, intimidasi, penipuan, propaganda, perampokan sumber daya
alam, dan kerja sama manipulatif.
Kehadiran
atau keberadaan Jeffrey Winters di Indonesia termasuk kategori hubungan internasional
dalam interaksi yang positif, bukan negatf. Setidak-tidaknya itulah yang tampak
bisa diukur dari luar. Ia hadir di Indonesia sebagai dosen Sastra Amerika di
Fakultas Sastra, UGM, Yogyakarta. Kemudian, menulis beberapa buku dan karya
ilmiah yang dapat menambah wawasan serta bahan-bahan untuk dianalisis lebih
jauh. Di samping itu, ia pun memberikan ceramah di hadapan peserta seminar yang
bernilai akademis.
Kita
tidak bisa menilai interaksi Jeffrey Winters di Indonesia sebagai hubungan internasional
yang negatif karena memang tidak bisa diukur atau diraba, kecuali menduga dan
dugaan itu pun cukup berbahaya jika tidak ada alasan atau tanda-tandanya.
Misalnya, orang bisa menduga ia adalah spion atau mata-mata asing atau pemicu
kekacauan berpikir, tetapi itu tidak bisa dibuktikan. Hal itu disebabkan yang
namanya spionase atau pemicu kekacauan berpikir adalah kegiatan yang tidak
tampak nyata dan selalu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Kegiatan seperti
itu bisa menjadi tampak nyata setelah terlihat hasil kerja negatifnya dan dia
sendiri mengakuinya atau terdapat bukti akurat yang ditemukan mengenai
upaya-upaya rahasianya. Contoh nyata adalah keberadaan Snouck Hurgronje di Aceh. Ia fasih berbahasa Arab dan mengerti
ajaran Islam dengan cukup baik. Kemampuannya itu menjadikannya akrab dengan
para pemimpin dan rakyat Aceh. Ia dianggap bukan merupakan ancaman bagi rakyat
Aceh. Saat itu rakyat Aceh melihat hubungan internasional antara Snouck
Hurgronje dengan Aceh adalah hubungan yang positif. Akan tetapi, Snouck
Hurgronje sesungguhnya melakukan kerja-kerja rahasia untuk melemahkan Aceh agar
dapat dikuasai oleh para kolonialis. Ia belajar bahasa Arab dan Islam di Arab
untuk mendekati pemimpin dan rakyat Aceh sehingga bisa diterima dengan baik dan
pendapat-pendapatnya tentang Islam dapat pula mempengaruhi rakyat Aceh. Bukti
bahwa Snouck Hurgronje adalah kaki tangan tangan kolonialis dalam menghancurkan
Aceh dapat diketahui setelah Aceh benar-benar dilemahkan oleh
pernyataan-pernyataan Snouck Hurgronje.
Kalimat
Snouck Hurgronje yang terkenal melemahkan rakyat Aceh adalah, “Dunia ini ibarat anjing. Anjing itu najis.
Oleh sebab itu, umat Islam jangan mendekati dunia.”
Kalimat
itu merupakan kalimat yang mengacaukan pikiran orang-orang Aceh. Ketika Snouck
dianggap memahami ajaran Islam, kata-katanya pun dipercaya sebagai bersumber
dari ajaran Islam. Akibatnya, orang-orang Aceh tidak lagi mementingkan dunia
dan lebih banyak diam di masjid-masjid sambil berdzikir dan melakukan
ritual-ritual islami lainnya. Itulah yang kemudian membuat lemah energi orang
Aceh dalam memelihara dan membela tanah airnya. Ketika rakyat Aceh mulai
melemah berbarengan dengan dibukanya Terusan
Suez di Mesir, penjajah merasa perlu untuk segera menguasai Aceh
sepenuhnya.
Dilancarkanlah penyerangan-penyerangan secara fisik yang memang
mengagetkan dan sulit untuk dibendung. Penjajah yang sudah mengumpulkan
kekuatan beradu fisik dengan rakyat Aceh yang mulai melemah akibat kebanyakan
diam di masjid dan mengabaikan duniawi. Penjajah pun yang berada dalam keadaan
kuat berupaya menghancurkan Aceh seperti “dikejar waktu”. Hal itu disebabkan dengan
dibukanya Terusan Suez dipandang dapat “mempercepat” hubungan antara Aceh
dengan Mekah. Hubungan yang cepat itu dianggap berbahaya karena rakyat Aceh akan
mengenal Islam lebih baik dan menyadari kekeliruan yang disampaikan Snouck
Hurgronje.
Demikianlah
hubungan internasional antara Snouck Hurgronje dengan Aceh yang tampak dari
luar positif, tetapi negatif dari dalam. Kesimpulannya adalah interaksi itu sesungguhnya
bernilai negatif.
Apakah
Jeffrey Winters seperti Snouck Hurgronje?
Kita
tidak tahu. Bisa iya, bisa pula tidak.
Dikatakan
bahwa Jeffrey Winters bisa seperti Snouck Hurgronje, memang bisa. Hal itu
disebabkan kita tidak pernah tahu dengan pasti keseluruhan hidup Jeffrey
Winters. Kita tidak tahu dengan siapa saja dia berinteraksi, baik di dalam
negeri Indonesia maupun di luar negeri. Dia bekerja untuk siapa saja dan dari
mana dia mendapatkan uang, baik untuk hidupnya maupun untuk membiayai kegiatan-kegiatannya.
Kita tidak pernah tahu.
Bisa
juga dia tidak seperti itu. Apa yang kita lihat dari luar tentang dia, itu juga
yang sebenarnya dia lakukan, tidak ada yang lain. Kalau apa yang kita lihat
tentang dia adalah benar tak ada yang lain, berarti dia jujur seperti jujurnya
“aquarium”. Aquarium itu benda yang jujur. Apa yang kita lihat dari luar, itu
juga sebenarnya yang ada di dalamnya. Jika yang kita lihat dari luar ikan
arwana, benarlah jika kita tengok ke dalamnya adalah ikan arwana. Tidak mungkin
kita lihat dari luar ikan arwana, ternyata di dalamnya adalah ikan koi. Sangat
tidak mungkin. Akan tetapi, kalau apa yang kita lihat dari luar adalah kedok
dari kenegatifan yang ada di dalam dirinya yang tidak kita lihat, berarti dia
busuk seperti “pispot”.
Tahu
kan pispot?
Pispot
itu adalah wadah tempat buang air kencing, bahkan terkadang air besar. Biasanya
digunakan oleh orang sakit yang tidak bisa ke WC atau orang tua yang sudah
tidak bisa lagi pergi ke WC.
Pispot
itu barang yang manipulatif, penuh kebohongan. Apa yang kita lihat dari luar
sama sekali berbeda dengan yang ada di dalamnya. Dari luar kita lihat pispot
itu bersih, higienis, terkadang mengilap, bahkan sekarang ada yang dihiasi
dengan gambar-gambar indah seperti bunga, ikan, atau buah-buahan yang
berwarna-warni. Akan tetapi, itu sekedar gambar, kesan, dan kedok untuk
menutupi kejijikan yang ada di dalamnya. Dari luar tampak bersih dan indah,
tetapi di dalamnya adalah kotoran yang menjijikkan dan berbau busuk. Itulah
pispot.
Hubungan
internasional pun demikian. Ada yang sejujur aquarium, tetapi ada pula yang
sekotor, sebusuk, dan semenjijikan pispot.
Apakah
Jeffrey Winters sejujur aquarium?
Apakah
dia sekotor pispot?
Kita
tidak tahu.
Yang
jelas setiap hubungan internasional itu selalu didasari kepentingan mereka yang
terlibat di dalam hubungan itu. Setiap pelaku yang melakukan hubungan
internasional harus memahami benar kebutuhan dirinya yang akan diperjuangkan
dalam hubungan itu. Apabila tidak memahami dengan benar kebutuhan dirinya,
apalagi tidak memperjuangkannya, sama artinya dengan menyerahkan diri untuk
dieksploitasi, ditipu, dan diperalat oleh orang lain.
Negara yang terlibat
dalam hubungan internasional, harus dengan pasti memahami kebutuhan dalam
negerinya dan memiliki kemampuan untuk memperjuangkannya di dalam hubungan yang
terjadi. Apabila tidak paham kebutuhan dalam negerinya dan tidak memiliki
kekuatan yang cukup untuk memperjuangkan kebutuhannya, berarti negara itu siap
untuk dijajah, dirampok, dibohongi, dimanipulasi, dikerjai, dikerdilkan, dan
dipandang lemah oleh negara lain atau institusi asing lainnya.
Dahlan
Nasution (1991) menjelaskan, “Landasan
politik luar negeri mana pun juga adalah misi untuk memaksimalkan sintesis
nilainya…. Tindakan negara dalam politik luar negeri senantiasa bertujuan untuk
mencapai sasaran yang dianggap sebagai kepentingan nasionalnya.”
Penjelasan
Dahlan tersebut menggambarkan bahwa politik luar negeri merupakan kebijakan
suatu negara dalam hubungan internasional yang berdasarkan pada kepentingan
dalam negerinya sendiri atau warganya. Suatu negara menjalankan politik luar
negeri adalah untuk mempertahankan, meningkatkan taraf hidup, memberikan
kenyamanan, serta menyalurkan keinginan rakyatnya sendiri.
Dengan
menggunakan penjelasan mengenai landasan politik luar negeri dari Dahlan
Nasution, kita bisa memahami pula bahwa hubungan internasional yang dilakukan
oleh aktor nonnegara seperti institusi maupun individu adalah berasal dari
kebutuhan individu untuk diperjuangkan dalam hubungan yang terjadi. Sekarang
mari kita lihat hubungan internasional yang terjadi antara Jeffrey Winters
dengan pihak yang ada di Indonesia.
Sebatas yang penulis ketahui, Jeffrey Winters direkrut menjadi dosen Sastra
Amerika di Fakultas Sastra, UGM, Yogyakarta, Indonesia. Dalam hubungan itu ada
kepentingan atau keuntungan yang didapat kedua belah pihak. Jeffrey Winters
mendapatkan gaji sebagai dosen, menambah koneksi, meningkatkan wawasan, dan
mempertajam keilmuannya di Indonesia. Paling tidak, itu adalah keuntungan yang
merupakan kebutuhan yang telah didapatnya. Pihak UGM pun memiliki keuntungan
dengan adanya Jeffrey Winters, yaitu memiliki dosen Sastra Amerika yang
merupakan akademisi sekaligus penduduk asli Amerika yang ilmunya ditransfer kepada
para mahasiswa UGM, Yogyakarta, Indonesia. Dilihat dari hal tersebut, hubungan
internasional yang terjadi bersifat positif, kedua pihak mendapatkan keuntungan
yang bernilai positif. Tak ada sesuatu pun yang negatif.
Seiring
dengan berjalannya waktu, Jeffrey Winters tak lagi menjadi dosen di UGM,
Indonesia, tetapi melanjutkan program doktornya sekaligus mengajar di University of Michigan, Ann Arbor.
Namun, sejak 1993 dia pindah dan resmi menjadi dosen ilmu politik di Northwestern University, Chicago. Meski
begitu, sampai sekarang Jeffrey masih rutin 3-5 kali datang ke Indonesia dalam
setahun untuk melakukan riset. Dengan demikian, hubungan internasional antara
Jeffrey Winters dengan pihak di Indonesia mulai berkurang. Meskipun demikian,
dia masih mendapatkan keuntungan dari Indonesia secara langsung, yaitu
mendapatkan bahan dan sumber penelitian yang dijadikannya disertasi. Akan
tetapi, Indonesia tidak mendapatkan keuntungan secara langsung dari penelitian
yang kemudian menjadi disertasinya itu. Artinya, Jeffrey Winters mendapatkan
keuntungan yang lebih besar dibandingkan Indonesia dalam hal tersebut. Akan
tetapi, hubungan internasional tersebut tidaklah bisa disebut negatif karena
hubungan tersebut tidak menimbulkan kerugian pada salah satu pihak. Indonesia
hanya mendapatkan keuntungan paling tidak dari biaya yang dibelanjakan Jeffrey
Winters selama di Indonesia dan buku-buku hasil karya Jeffrey tentang Indonesia
yang bisa menambah wawasan, pemahaman, bahkan menjadi salah satu bahan
pertimbangan bagi bangsa Indonesia dan penyelenggara Negara Indonesia.
Meskipun
sudah tidak lagi mengajar di Indonesia, sebagaimana yang diakuinya, sampai sekarang Jeffrey masih rutin 3-5 kali
datang ke Indonesia dalam setahun untuk melakukan riset. Di samping itu,
tentunya memberikan ceramah pada berbagai kalangan di Indonesia serta
menyampaikan pendapat dan kritikannya pada media massa.
Memang
bukan menjadi urusan kita dan hanya Jeffrey Winters yang tahu dan paham benar
maksud dan tujuannya melakukan riset di Indonesia serta menyampaikan berbagai
komentarnya tentang Indonesia. Akan tetapi, kita pun tidak dilarang untuk tahu
apa maksud dan tujuan dia melakukan riset dan menyampaikan
pandangan-pandangannya tentang Indonesia serta keuntungan apa yang diperolehnya
dari riset dan ungkapan-ungkapannya itu. Untuk dapat menganalisis dari sisi
hubungan internasional, tentu harus bisa dipahami keuntungan-keuntungan dan
kerugian-kerugian yang didapat pihak-pihak terlibat sebagai hasil dari
interaksi internasional tersebut. Apalagi ada pernyataan Jeffrey Winters yang sangat
kontradiktif sebagaimana yang dibahas dalam tulisan ini.
Untuk
memahami keuntungan-keuntungan apa saja yang didapat Jeffrey Winters dengan
pasti dan jelas, tentu saja harus mewawancarai Jeffrey Winters secara khusus
berikut orang-orang terdekatnya serta pihak-pihak yang kontra terhadap Jeffrey
Winters agar didapat hasil yang berimbang. Akan tetapi, dalam tulisan ini
penulis hanya menduga-duga berdasarkan berbagai tulisan tentang Jeffrey Winters
di dunia maya. Kita dapat menduga bahwa Jeffrey Winters mendapat keuntungan
dari Indonesia, di antaranya, menajamkan keilmuannya, mendapatkan materi dari
penjualan buku-bukunya dan honor sebagai pembicara pada berbagai diskusi
akademis, mendapatkan data-data aktual dan faktual, serta memasyhurkan namanya
sebagai akademisi papan atas. Mungkin pula mendapatkan honor dari
konsultasi-konsultasi yang diberikan berkaitan masalah-masalah politik dan
ekonomi.
Hanya
itu?
Mungkin
ada banyak, tetapi baru itu yang dapat peneliti duga. Pembaca dapat
menambahinya sendiri jika tahu.
Mungkin
ada yang bilang atau bahkan Jeffrey Winters sendiri menegaskan bahwa ia tidak
menginginkan apa pun dari Indonesia. Dia hanya peduli dan cinta Indonesia.
Maaf
Saudara sekalian, kepedulian dan cinta itu agak sedikit munafik. Di dalam
hubungan internasional, hampir tidak dikenal tujuan “peduli dan cinta” itu.
Kalaupun ada karena memang dalam beberapa kasus benar-benar terjadi, dibalik
“peduli dan cinta” itu tetap ada keuntungan atau kepentingan yang hendak
dicapai. Misalnya, kita bangsa Indonesia sudah tidak aneh lagi jika memberikan
bantuan uang, pikiran, makanan, tenaga, bahkan nyawa untuk Palestina, Bosnia,
Afghanistan, dan Rohingya.
Mengapa
kita berkorban untuk mereka?
Jawaban
kita adalah karena kita peduli terhadap mereka dan mencintai mereka. Akan
tetapi, dibalik kepedulian dan cinta kita terhadap mereka, ada yang ingin kita
capai yang merupakan keuntungan dan kepentingan yang harus kita raih. Kita
menginginkan hidup lebih baik, menghilangkan penjajahan dari muka Bumi,
memusnahkan kebiadaban manusia atas manusia lainnya, hidup saling menghormati,
dan tak ada yang diperbolehkan berbuat sewenang-wenang terhadap manusia.
Bayangkan jika pembersihan etnis terhadap rakyat muslim Bosnia tidak dilawan,
lalu para pembantai itu yang berkuasa. Kekejaman mereka bisa meluas dan
mempengaruhi rasa aman kita. Bayangkan jika dulu Uni Soviet tidak diusir dari
Afghanistan, kekuasaan komunis-atheis akan lebih luas dan pengaruhnya bisa
masuk pula ke Indonesia. Bayangkan jika kekejian Israel terhadap Palestina, tidak
ditahan atau tidak dibatasi bahkan tidak dilawan, Israel akan semakin angkuh
dan pongah sehingga memiliki kekuatan yang lebih besar dalam mengacaukan dunia.
Mereka kan punya sejarah yang tercatat sebagai pengacau dari zaman ke zaman.
Kekuasaan mereka yang besar itu akan mempengaruhi pula Indonesia. Bayangkan
pula jika kita tidak membantu Rohingya dan tidak meneriaki Myanmar, dunia akan
menyaksikan pengusiran manusia yang dilegalkan oleh kekuasaan dan itu akan
mempengaruhi hubungan antarnegara yang pada suatu saat akan kita rasakan
bersama.
Bukankah
pembiaran terhadap kekejian manusia atas manusia lainnya pernah kita rasakan
bersama pengaruhnya?
Kolonialisme
dan kejahatan penjajahan yang awalnya terjadi di wilayah lain ternyata harus
pula dialami oleh Indonesia. Hal itu disebabkan kita tidak mempedulikan
kejahatan itu karena terjadi di wilayah orang lain. Akibatnya, kekejian itu
meluas dan Indonesia pun harus menderita sangat lama di bawah kaki penjajah
asing.
Bantuan
kita terhadap negeri-negeri yang teraniaya dan perlawanan kita terhadap
kejahatan manusia atas manusia lainnya pada dasarnya adalah melindungi diri
kita sendiri agar tidak mengalami penderitaan yang sama. Kita ingin hidup lebih
baik lagi, saling menghormati, bahkan saling membantu.
Khusus
bagi orang Islam Indonesia, keuntungan dari membantu Palestina, Bosnia,
Afghanistan, dan Rohingya adalah lebih besar lagi, yaitu mempertahankan wibawa serta
kemuliaan Islam dan kaum muslimin serta mendapatkan pahala dari Allah swt, baik
di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Itulah
keuntungan-keuntungan yang ingin kita capai dibalik rasa peduli dan rasa cinta
kita terhadap mereka yang sedang lebih menderita dibandingkan kita.
Demikian
pula jika Jeffrey Winters dan para pendukungnya mengatakan bahwa mereka tidak
ingin apa-apa hanya “peduli dan cinta”, sesungguhnya ada yang ingin mereka
capai dibalik rasa peduli dan cinta itu. Mereka yang lebih tahu, kita hanya
bisa meraba dan menduganya.
Lantas,
apa yang didapat Indonesia dari Jeffrey Winters selain dari uang yang
dibelanjakannya di Indonesia?
Rakyat
Indonesia memang memiliki keuntungan tidak langsung dari Jeffrey Winters, yaitu
buku-buku dan ceramah-ceramahnya dapat memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, masyarakat Indonesia lebih memahami dirinya sendiri dan
masalah yang sedang dihadapinya melalui kacamata Jeffrey Winters. Akan tetapi,
manfaat dari ilmu yang dimilikinya akan jadi “menganggu” Indonesia jika ia
mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang saling bertolak belakang. Sehebat apa
pun pernyataannya, sepintar apa pun dia, jika mengeluarkan pernyataan yang
kontradiktif, hasilnya akan kontraproduktif.
Sebagaimana yang telah ditulis pada awal tulisan ini,
dalam suatu pernyataan ia menyiratkan bahwa Indonesia harus memiliki presiden
yang senasionalis Soekarno untuk membuat Indonesia lebih kuat, mandiri, dan
terhormat. Akan tetapi, pada kali lain ia mengkritik nasionalisme pemerintahan
Jokowi yang membuat sulit investor asing masuk ke Indonesia. Padahal,
nasionalisme Jokowi itu belum seujung kuku nasionalisme Soekarno.
Penulis mencoba memahami Jeffrey Winters dari kedua
pernyataan yang kontradiktif itu. Pertama,
Jeffrey Winters mungkin lupa bahwa nasionalisme Soekarno itu sangat keras
dalam hal penolakan pengaruh asing kapitalis, termasuk investor asing yang bisa
mengurangi kedaulatan Indonesia dalam berbagai hal, khususnya ekonomi. Kedua, Jeffrey mungkin tidak memahami
dengan benar nasionalisme Soekarno dalam membangun dan mempertahankan
kehormatan Indonesia. Ketiga, Jeffrey
mungkin merupakan kepanjangan pemerintah Amerika Serikat dan atau
investor-investor asing untuk meneliti Indonesia sehingga mendapatkan data-data
agar AS dan para investor itu memiliki banyak data tentang Indonesia untuk
dapat berbisnis di Indonesia dengan mendapatkan keuntungan yang besar. Di
samping itu, ia pun mungkin berupaya membuka jalan dengan menggunakan dasar
keilmuan yang dimilikinya agar Indonesia membuka pintu yang lebar bagi para
pengusaha AS dan investor asing lainnya sehingga Indonesia tidak terlalu
terikat pada gagasan nasionalisme.
Jeffrey Winters mungkin lupa bahwa nasionalisme yang
diajarkan Soekarno itu meliputi berbagai bidang. Ajaran-ajaran Soekarno sangat
tidak membuka pintu sesempit apa pun yang bisa mengurangi harga diri bangsa
Indonesia. Soekarno tidak akan mengemis untuk mendapatkan investasi dari
pengusaha asing. Kalaupun perlu, dia akan meminjam untuk kemudian dibayar.
Nasionalisme Soekarno tidak akan menerima investasi asing sekalipun menggiurkan
jika investasi itu dibarengi syarat-syarat “aneh” yang harus dipenuhi
Indonesia.
Prof. Dr. H. Mohamad Surya, selaku anggota DPD RI
mewakili Provinsi Jawa Barat, pernah berceritera kepada saya dalam suatu
perjalanan ketika saya diminta mendampinginya dalam kunjungan kerjanya ke
daerah-daerah, “Soekarno itu tegas bukan main. Amerika Serikat pernah
menawarkan negaranya untuk membangun seluruh infrastruktur jalan yang
diperlukan Indonesia di seluruh wilayah Indonesia. Akan tetapi, Amerika Serikat
memberikan syarat bahwa seluas dua puluh meter di sepanjang kiri dan kanan
jalan yang dibangun AS adalah milik pemerintah AS. Soekarno dengan tegas tanpa
pikir panjang menolaknya.”
Bayangkan kemudahan yang didapat Indonesia jika AS
membangun infrastruktur jalan di seluruh Indonesia. Pemerintah Indonesia secara
free mendapatkan infrastruktur jalan
yang bisa membuka akses ke seluruh pelosok wilayah Indonesia dari Merauke
sampai dengan Sabang yang sampai sekarang pemerintah Indonesia belum bisa
melakukannya. Indonesia pun akan mengalami kemajuan ekonomi yang luar biasa,
termasuk akses terhadap informasi, pendidikan, dan kesehatan yang akhirnya
meningkatkan daya beli. Bagaimana cepatnya Indonesia akan makmur dengan
kemudahan tersebut. Akan tetapi, Soekarno dengan cepat dan tegas menolaknya. Ia
melihat bahaya yang timbul jika memberikan tanah meskipun hanya seluas dua
puluh meter di kiri dan kanan jalan. Di samping sama dengan memberikan setetes
kedaulatan kepada pihak asing, juga sama dengan mempersilakan AS untuk
menguasai Indonesia secara ekonomi di tanah yang hanya dua puluh meter itu.
Pemerintah dan pengusaha AS bisa mendirikan pusat-pusat ekonomi di sana, bahkan
perkantoran. Ketika Indonesia baru merdeka serta belum memiliki banyak tenaga
dan pemikir yang ahli dalam bidangnya, sama saja dengan tindakan bunuh diri jika
memenuhi syarat-syarat yang diajukan AS. Soekarno bukan hanya seorang presiden
bagi Indonesia, melainkan pula ayah bagi rakyat Indonesia. Soekarno memahami
kelemahan bangsanya yang dianggapnya sebagai keluarganya. Oleh sebab itu, ia
tidak membiarkan bangsanya yang masih lemah itu untuk bersaing dengan pihak
asing yang telah lebih dulu maju dengan memberikan tanah seluas dua puluh meter
itu. Ia tahu bangsanya akan kalah. Oleh sebab itu, ia mencegah kekalahan itu
sejak dini.
Jeffrey Winters mungkin tidak memahami dengan benar
nasionalisme yang diajarkan Bung Karno. Soekarno tidak akan membiarkan kerja
sama yang terjadi jika Indonesia untung sedikit, bahkan rugi, sementara negara
lain mendapatkan untung besar. Oleh sebab itu, nasionalisme Soekarno sangat
tegas dalam hal ini. Jika memahami dengan benar nasionalisme Bung Karno bukan
sebatas retorika, Jeffrey tidak perlu mengkritik gagasan nasionalime Jokowi
sekalipun akan mempersulit investasi asing masuk ke Indonesia. Hal itu
disebabkan sulitnya investasi asing masuk ke Indonesia adalah suatu keharusan
yang merupakan akibat dari gagasan nasionalisme. Dia mengatakan investasi asing
sulit masuk ke Indonesia karena Jokowi terikat pada gagasan nasionalisme.
“Sulit” itu masih membuka lebar pintu untuk masuk dengan syarat terjadi
kesepahaman yang saling menguntungkan yang tidak mencederai nasionalisme
Indonesia. Berbeda dengan Soekarno yang punya pikiran jauh ke depan.
Nasionalisme Bung Karno bukan saja membuat sulit investasi asing masuk,
melainkan menolak investasi untuk masuk jika dia melihat bahaya yang akan
timbul dalam waktu dekat maupun puluhan atau ratusan tahun ke depan. Menolak
investasi sama saja dengan “menutup pintu” yang artinya tak ada celah sempit
pun untuk investasi bisa masuk.
Dengan menolak investasi mungkin memang akan membuat
kemajuan terhambat dalam arti memperpanjang waktu kemiskinan dan
keterbelakangan. Akan tetapi, itu lebih baik dibandingkan dengan mengurangi
harga diri dan kehormatan bangsa. Soekarno tahu bahwa rakyat Indonesia itu kuat
bertahan dan sudah terbukti. Rakyat akan bersedia berkorban dalam keadaan hidup
sangat sederhana jika itu jalan yang harus dilalui. Soekarno paham rakyatnya
akan setia bersamanya karena meyakini bahwa pengorbanan itu dilakukan untuk
mendapatkan keuntungan yang sangat besar pada akhirnya, yaitu kemajuan dan
kemakmuran bangsa dalam kondisi bangsa kuat dan terhormat serta tetap
berdaulat. Rakyat Indonesia sebenarnya akan mudah memahami situasi terburuk apa
pun jika harus ditanggung bersama. Oleh sebab itu, ada pemeo “senasib
sepenanggungan”. Hal yang paling tidak disukai rakyat Indonesia adalah
ketidakadilan, ketidakmerataan, ketidakpastian, ketidakseimbangan, ketimpangan,
dan hal lainnya yang mengandung nilai-nilai kecurangan serta kebohongan. Memang
rakyat akan bergolak, kisruh, bahkan berseberangan dengan pemerintah jika
rakyat tidak bisa mengerti mengapa harus ada yang berkorban sementara yang lain
hidup dalam kemewahan.
Jika
rasa “senasib sepenangungan” itu tercipta dalam keadaan nyata, rakyat Indonesia
selalu siap berdiri bersama dalam suasana “gotong royong” dalam menjawab seruan
sebagaimana seruan Jenderal Sudirman, “Ibu Pertiwi telah memanggil, Ibu Pertiwi
telah memanggil.”
Bukan
saja panggilan untuk bertempur secara fisik yang akan dijawab serempak oleh
rakyat Indonesia, melainkan pula bertempur dalam hal ekonomi, pendidikan, dan
lain sebagainya. Sepanjang dirinya paham dengan benar mengapa harus berada
dalam kondisi itu, rakyat Indonesia tidak akan segan menjalaninya sepenuh hati.
Akan tetapi, jika tidak memahaminya karena banyak hal yang membuatnya marah,
panggilan itu sama sekali akan dilecehkannya dan itulah sesungguhnya yang
membuat pemerintahan Indonesia berada dalam keadaan sulit dari zaman ke zaman.
Kalau
memahami dengan benar nasionalisme Bung Karno yang dikaguminya itu, Jeffrey
Winters bukan hanya tidak akan mengkritik gagasan nasionalisme Jokowi,
melainkan pula akan benar-benar menguraikan nasionalisme Bung Karno, terutama
dalam bidang ekonomi yang dikuasainya sehingga Indonesia mendapatkan inspirasi
untuk keluar dari berbagai kesulitan yang sedang dialaminya. Jeffrey bahkan
mungkin bisa sampai memaparkannya hingga ke tingkat operasional-praktis sebagai
pengejawantahan dari nasionalisme Bung Karno.
Jika
dapat memberikan solusi sampai ke tingkat praktis soal ekonomi, minimal
memberikan inspirasi dan membantu pertumbuhan ekonomi berdasarkan nasionalisme
Soekarno, Jeffrey Winters bisa “senasib dan sepenanggungan” dengan Douwes Dekker. Douwes Dekker adalah
orang Belanda, negeri yang menjajah Indonesia paling lama dibandingkan penjajah
lain dan yang paling banyak mengeruk keuntungan dari Indonesia. Akan
tetapi, Douwes Dekker berjuang bersama
kaum nasionalis Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal yang
paling tidak ia sukai adalah perilaku korup para demang yang berkolaborasi
dengan pemerintah kolonial Belanda. Sering ia melaporkan berikut membawa
bukti-bukti tindakan korupsi yang terjadi di Indonesia pada pemerintah Belanda.
Akan tetapi, pemerintah Belanda tidak menanggapi laporan-laporan Douwes Dekker.
Ia kesal bukan main karena jelas tindakan korupsi itu akan menimbulkan
kesengsaraan yang sangat besar pada rakyat. Ia pun menjadi pejuang kemerdekaan
Indonesia dengan terus memerangi tindakan korupsi. Ketika Indonesia merdeka,
Soekarno mengangkat Douwes Dekker menjadi salah seorang menteri di dalam
kabinetnya. Ia pun menjadi salah satu pahlawan Indonesia. Kini namanya diabadikan
menjadi nama jalan di Indonesia, baik nama Belanda-nya, Jln. Douwes Dekker, maupun nama Indonesia-nya, Jln. Setiabudi yang berada di kawasan elit Kota Bandung. Ia dan
keturunannya di Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan orang
Indonesia lainnya karena memang sudah menjadi orang Indonesia.
Begitulah
seharusnya jika ingin membantu Indonesia untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi, kalau
membuat pernyataan yang kontradiktif, jelas tidak bisa dipegang kata-katanya
dan tidak pernah akan membantu, bahkan dianggap “mengganggu”.
Kalau
tidak lupa bahwa nasionalisme Soekarno tidak mudah dipengaruhi modal asing,
Jeffrey Winters memang tidak memahami nasionalisme Indonesia dengan baik. Jika
bukan itu yang menyebabkan Jeffrey Winters mengeluarkan pernyataan yang
kontradiktif, kemungkinan dia berbicara dan bertindak di Indonesia adalah mewakili
dirinya sendiri atau merupakan kepanjangan tangan pemerintah Amerika Serikat
dan pengusaha asing yang ingin berbisnis di Indonesia dengan target mendapatkan
keuntungan yang tinggi. Ia berupaya mencari data terbaru di Indonesia sekaligus
mempengaruhi Indonesia dengan disipilin ilmunya agar pemerintah Indonesia tidak
terikat pada gagasan nasionalisme sehingga memudahkan jalan bagi modal asing
untuk masuk dan mendapatkan untung besar.
Jika
itu yang dilakukannya, Jeffrey Winters mirip dengan Snouck Hurgronje yang
mempengaruhi rakyat Aceh dengan ajaran yang mirip Islam. Bedanya Snouck
Hurgronje menginginkan Indonesia dikuasai penjajah dalam masa imperialisme
kuno. Adapun Jeffrey Winters mempengaruhi secara akademis dengan ilmu
pengetahuan yang pernyataannya seolah-olah ingin membuat Indonesia tambah maju
dengan mengkritik nasionalisme Indonesia saat ini. Padahal, tujuannya adalah menguasai Indonesia dalam
masa neokolonialisme-imperialisme.
Ada
keuntungan yang didapat Jeffrey Winters atas upayanya tersebut?
Jelas
ada.
Untuk
Indonesia, apa untungnya?
Indonesia
hanya terpengaruhi yang jika tidak waspada, bisa jatuh dalam cengkeraman nekolim atau neolib.
Sikap
Kita
Sebagai bangsa Indonesia
yang terus-menerus memperjuangkan cita-cita para pendiri bangsa yang juga
cita-cita kita bersama, kita harus tetap berpegang teguh pada gagasan
nasionalisme bangsa dan dasar negara kita, Pancasila. Dalam berpegang teguh
tersebut tentu saja ada godaan dan cobaan yang harus dilewati. Kita tidak boleh
jatuh dalam godaan tersebut yang hanya akan membuat makmur segelintir orang,
sementara yang lainnya terus berada dalam penderitaan. Gotong royong adalah
senjata utama kita. Kita pun tidak boleh menyerah ketika mendapatkan banyak
cobaan karena sesungguhnya cobaan itu merupakan masa penguatan diri untuk
mencapai keberhasilan. Kritikan-kritikan harus terus kita sampaikan dengan cara
beradab sebagai mana orang timur agar penguasa pemerintahan pun dengan beradab
pula mendengar dan menangkap aspirasi rakyat untuk kemudian dituangkan dalam
lembaran negara sehingga menjadi program yang harus diperjuangkan bersama. Kita
pun tidak boleh lelah untuk memerangi ketidakadilan dan ketimpangan yang
terjadi karena hal itu mengkhianati nasionalisme dan Pancasila.
Pada saat ini kita harus semakin waspada karena setiap diri
dari kita secara individu sudah bukan lagi sebatas anggota sebuah keluarga,
warga suatu RT, RW, kampung, desa, kelurahan, kabupaten, kota, provinsi, bahkan
Negara Indonesia, kita sudah menjadi warga penduduk dunia yang interaksi dengan
dunia luar semakin terbuka dan semakin mudah dilakukan. Kita harus waspada
karena setiap interaksi internasional yang terjadi, baik dilakukan oleh sebuah
pemerintahan, institusi, ataupun individu adalah didasari oleh kepentingannya
masing-masing, bukan untuk kepentingan orang lain. Pihak lain menjalin hubungan
dengan kita disebabkan mereka menginginkan sesuatu dari diri kita.
Oleh
sebab itu, kita harus pandai berhitung jika terjadi interaksi internasional,
apa yang kita dapatkan dari hubungan tersebut?
Untungkah
kita?
Rugikah
kita?
Seberapa
besar keuntungan yang kita raih dan berapa banyak orang lain mendapatkan
keuntungan dari kita?
Semua
itu harus dihitung agar kita tidak rugi dan tidak tertipu seperti pada masa
lalu, terutama dalam masa-masa penjajahan fisik. Bukan hanya terhadap Jeffrey
Winters kita harus waspada, terhadap orang-orang lain yang berbeda negara pun
kewaspadaan itu harus dipertahankan.
Sebagai
orang Islam, kita harus terus berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah Rasul.
Allah swt dalam Al Quran mengajarkan bahwa jika
suatu kaum cenderung berperilaku damai kepadamu, maka kamu pun harus berlaku
damai terhadap mereka. Jika orang lain berperilaku damai terhadap kita,
tetapi kita berlaku kasar, bahkan memerangi mereka, kita termasuk orang
berlebihan dan zalim. Itu adalah perbuatan dosa. Akan tetapi, jika suatu kaum datang untuk memerangimu,
tidak ada dosa bagimu untuk balik memerangi mereka. Meskipun demikian, pemberian maaf dan perdamaian adalah lebih Allah swt sukai daripada perseteruan,
kekerasan, dan perang.
Sebagai
orang Indonesia, kita harus terus berpegang pada Proklamasi, Pembukaan UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan
Sumpah Pemuda. Kita harus memerangi
setiap bentuk penjajahan di atas muka Bumi, baik penjajahan fisik maupun
penjajahan nonfisik dalam bentuknya yang terhalus sekalipun, seperti, neolib dan nekolim. Lebih jauh dari itu, kita harus menunjukkan pada dunia
bahwa kita benar-benar “membenci” penguasaan, penipuan, penindasan, dan
perampokan manusia atas manusia lainnya karena hal itu bertentangan dengan
prinsip-prinsip kemerdekaan, kemanusiaan, dan perdamaian yang kita anut.
Dengan
siapa pun kita berinteraksi, kita harus hadir sebagai orang Indonesia yang
memiliki jati diri Indonesia. Kita harus berbangga dengan itu karena itu adalah
anugerah terindah yang diberikan Allah
swt kepada kita.
*******