Showing posts with label Hubungan Internasional. Show all posts
Showing posts with label Hubungan Internasional. Show all posts

Tuesday, 26 July 2022

Table Manner Fisip Universitas Al Ghifari

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Table manner adalah tatacara atau etika ketika di meja makan. Ini merupakan kegiatan yang wajib diselenggarakan di Program Studi Hubungan Internasional, Fisip, Universitas Al Ghifari. Dalam kegiatan ini para mahasiswa diajarkan tatacara atau etika makan di meja makan, khususnya ketika menghadapi tamu dari luar negeri.

            Dalam pergaulan internasional kita dituntut untuk memahami budaya, tatakrama, dan kebiasaan orang luar negeri, termasuk di dalamnya cara makan. Kita tidak bisa memaksakan cara-cara kita sehari-hari ketika menghadapi tamu atau bertamu ke luar negeri secara formal. Kita harus mengikuti dan menghormati aturan mereka agar diplomasi berjalan lancar dan menghasilkan keuntungan positif dari hubungan kita dengan dunia internasional. Dengan tatakrama yang baik, komunikasi akan lebih baik dan menarik rasa hormat orang asing kepada diri kita. Demikian pula, orang luar negeri mempelajari pula cara-cara orang Indonesia ketika makan dengan maksud yang sama dengan kita untuk mendapatkan keuntungan dari kita.

            Untuk hal itu, Fisip Universitas Al Ghifari mengajari para mahasiswa dalam acara Table Manner dengan tema “Good Etiquette and Impression at The Dining Table”, ‘Etika dan Kesan yang Baik di Meja Makan’. Pengajaran ini digelar di Hotel Savoy Homann, Jln. Asia Afrika, No.112, Bandung. Karena table manner ini bermula dari Perancis, maka menu makanan pun untuk kali ini berasal dari Perancis.

            Dalam acara ini mahasiswa diajari cara duduk, cara menggunakan lap, pisau besar, pisau kecil, garpu besar, garpu kecil, sendok, penggunaan piring besar dan kecil, cara memotong roti, memakan makanan, hingga menyimpan peralatan bekas makan. Diajari pula etika memakan makanan menu pembuka, menu utama, dan menu penutup, termasuk gerakan tangan ketika menyuapkan makanan.




            Sebelum ke pelatihan cara makan, para mahasiswa dianggap sebagai perwakilan dari setiap negara yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu, mahasiswa disarankan untuk menggunakan bahasa dari negara yang diwakilinya ketika memperkenalkan diri. Kalau tidak, minimal menggunakan bahasa Inggris.

            Karena sangat banyak jumlah mahasiswa, ketika selesai perkenalan diri, panitia memotong acara dulu dengan ice breaking supaya tidak jenuh dan suasana penuh dengan keceriaan. Tentu saja dengan lagu-lagu saat ini yang bisa dijogetin bersama. Setelah itu, baru ke acara utama table manner. Selepas itu, ada beberapa para mahasiswa yang memiliki penampilan terbaik untuk setiap kategori sehingga diberi penghargaan khusus, termasuk dipilihnya King and Queen of Table Manner untuk tahun ini.




            Table manner yang hanya berlangsung satu hari itu diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk lebih memahami budaya dan tatakrama bangsa lain sehingga pada masa depan jika mendapatkan takdir untuk berperan membangun Indonesia dalam posisi untuk berhubungan dengan negara lain, dapat lebih mudah untuk berkomunikasi dan menghasilkan keuntungan positif bagi Indonesia.




            Sampurasun

Friday, 15 July 2022

Jangan Jadi Generasi Sampah

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada 14 Juli 2022 saya diundang mahasiswa Hubungan Internasional (HI), Fisip, Universitas Al Ghifari untuk memberikan sedikit pencerahan dalam acara HUT ke-18 Himpunan Mahasiswa HI Unfari di Gedung KNPI, Jawa Barat. Selepas memberikan semangat, saya diminta untuk menerima pucuk tumpeng pertama dan memberikan santunan kepada para santri yatim dari Yayasan Raudhatul Jannah.






            Bagus sekali acara seperti itu dilaksanakan mahasiswa. Mereka tetap menghormati guru atau dosen dan berbagi kesenangan dengan mereka yang kurang mampu. Sejak muda sangatlah positif belajar berperilaku amanah. Ketika dititipi sumbangan oleh orang lain, segera disalurkan kepada mereka yang berhak dengan jumlah yang semestinya dan tidak dipotong secara serakah untuk kepentingan pribadi.




            Tidak banyak yang saya sampaikan dalam acara itu. Saya hanya memberikan semangat bahwa ada banyak kesempatan bekerja untuk lulusan hubungan internasional. Soalnya, perhatian dunia saat ini sedang terpusat di dua tempat, yaitu di Ukraina karena “perang” dan di Indonesia karena ada upaya “perdamaian”. Perangnya di Ukraina dan perdamaiannya di Indonesia. Dalam kondisi perang, hanya ada membunuh, menghancurkan, atau dibunuh dan dihancurkan. Adapun dalam kondisi damai, tercipta segala bisnis, kerja sama, alih teknologi, pendidikan, penggalakan seni budaya, pembangunan, perbaikan, dan perilaku positif lainnya.

            Perdamaian itu jauh lebih baik dibandingkan perang. Banyak kegiatan membangun ketika berdamai, sedangkan ketika perang banyak kegiatan yang merusakkan.

            Ketika Presiden Indonesia Jokowi menemui Presiden Ukraina Zelensky, terdengar jelas bahwa Zelensky meminta Jokowi untuk mendatangkan para ahli, perusahaan, dan rakyat Indonesia yang terampil untuk bekerja di Ukraina dalam membangun kembali Ukraina yang telah porak poranda setelah perang selesai. Itu artinya, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan anak-anak muda Indonesia di Ukraina nanti. Demikian pula Rusia akan menyuplai banyak pupuk, bibit pertanian, bahan baku, dan alat pertanian berkualitas tinggi untuk Indonesia. Di samping itu, tampaknya beberapa negara ingin belajar kepada Indonesia dalam upayanya menciptakan situasi sosial yang kondusif, lebih tenang, lebih cepat keluar dari bahaya Covid-19, serta lebih kuat bertahan dalam goncangan ekonomi dunia yang sangat mengerikan dan bisa membangkrutkan sebuah negara semacam Sri Lanka.

            Hal yang harus dilakukan para mahasiswa dan anak-anak muda sekarang adalah serius belajar secara akademis, serius belajar bekerja, menambah kemampuan, melengkapi diri dengan berbagai keterampilan, dan meningkatkan daya jual diri sehingga disukai orang lain. Lebih jauh lagi, ketika Indonesia mengalami bonus demografi dengan sangat banyaknya angkatan muda atau angkatan kerja dibandingkan negara-negara lain, akan sangat banyak negara yang membutuhkan anak-anak muda Indonesia yang terampil dan berpengetahuan tinggi. Akan tetapi, jika anak-anak muda Indonesia tidak mempersiapkan dirinya dengan baik, jumlah yang banyak itu hanya akan menjadi beban bagi negara dan beban bagi orang lain di sekitarnya. Bahkan, akan menjadi sampah jika bergabung dengan para kriminal dan teroris karena tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam perkembangan dunia ini.

            Jangan jadi sampah. Tingkatkan kualitas diri sambil berdoa tanpa henti berharap ridho Allah swt.

            Sampurasun.

Saturday, 29 May 2021

Oleh-oleh Dashi ke-5

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada Jumat, 28 Mei 2021, saya diminta Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himhi), Fisip, Unfari, untuk menjadi pemateri dalam acara Dashi dengan judul “Perubahan Konfigurasi Politik Global karena Pandemi Covid-19”. Dashi itu singkatan yang kepanjangannya adalah “Diskusi Asyik Seputar Hubungan Internasional”. Itu adalah ajang mahasiswa Himhi untuk berdiskusi dengan menyenangkan tentang segala hal berkaitan dengan hubungan antarnegara. Saya sendiri berharap bahwa bukan hanya saya atau dosen sruktural yang menjadi pemateri atau pengantar diskusi, melainkan pula seluruh dosen yang berada di lingkungan Prodi HI, Fisip, Unfari, untuk bergiliran berpartisipasi karena di samping mendapatkan pengetahuan, juga mendorong keakraban antara dosen dengan mahasiswa. Saya sendiri memposisikan diri sebagai teman mereka, tidak merasa lebih pintar, tetapi berharap ada pemahaman baru yang menambah ilmu pengetahuan bagi saya dari diskusi dengan mahasiswa.

            Tulisan ini hanya ingin berbagi sedikit oleh-oleh singkat pengetahuan dari acara Dashi ke-5 tersebut. Materi saya mulai dengan arti konfigurasi, politik, dan pandemi Covid-19. Konfigurasi itu artinya bentuk, wujud, atau format. Politik artinya segala hal yang berkaitan dengan kekuasaan. Pandemi ya berarti segala hal yang berkaitan dengan wabah Covid-19.




            Dalam materi yang saya paparkan memang saya tidak melihat adanya perubahan format politik hubungan antarnegara yang disebabkan oleh Pandemi Covid-19. Dunia tetap anarkis, tidak ada ketertiban dan tak ada satu pun negara yang patuh kepada negara lainnya. Semua masih seperti biasa, mementingkan dirinya masing-masing. Hubungan yang terjadi ya disebabkan oleh kepentingannya sendiri-sendiri. Kalaupun ada konflik, perselisihan, bahkan perang, bukan disebabkan oleh pandemi. Pertengkaran itu memang sudah ada sebelum pandemi, misalnya, Amerika Serikat berseteru dengan Cina karena memang sudah perang dagang sebelumnya. Konflik di Suriah juga sudah terjadi bertahun-tahun sebelum pandemi. Israel Vs Palestina apalagi sudah terjadi secara rutin, tak ada kaitan dengan pandemi. Hal yang saya lihat justru adanya saling bantu di antara negara-negara untuk melawan Covid-19 yang dianggap masalah bersama. Mereka saling tukar informasi dan berupaya berbagi vaksin untuk rakyatnya meskipun dilakukan dengan cara bisnis.

            Di samping itu, ada persaingan sehat di antara negara-negara yang mampu memproduksi vaksin untuk berlomba menghasilkan vaksin terbaik dan murah, Indonesia pun termasuk dalam persaingan itu dengan mencoba memproduksi Vaksin Merah Putih atau Vaksin Gotong Royong. Itu persaingan sehat yang akan memunculkan ilmu baru dalam bidang kesehatan.

            Kalaupun ada pertikaian politik yang disebabkan pandemi Covid-19, justru terjadi di dalam negeri masing-masing. Pihak oposisi biasanya menggunakan penurunan kesehatan, penurunan ekonomi, dan kelemahan sosial sebagai amunisi, peluru untuk menembak pemerintah yang sedang berkuasa. Mereka menyalahkan pemerintah atas berbagai penurunan dan kelemahan itu, padahal berbagai penurunan itu diakibatkan oleh Covid-19. Dalam kehidupan perebutan politik, itu biasa digunakan pihak oposisi agar rakyat tidak percaya kepada pemerintah, kemudian pihak oposisi mendapatkan keuntungan yang akhirnya berharap untuk menggulingkan pemerintah yang sah, lalu kekuasaan jatuh ke tangan pihak oposisi. Jadi, peningkatan perseteruan politik justru terjadi di dalam negeri.

            Bisa saja Pandemi Covid-19 ini mengakibatkan konflik antarnegara, bahkan kehidupan dunia jika ketersediaan vaksin tidak merata. Negara yang mampu memproduksi vaksin sendiri dan yang mampu membeli vaksin menggunakan vaksin sebagai alat untuk menekan negara lainnya yang tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi dan tidak memiliki kemampuan untuk membelinya. Negara yang kuat berupaya menekuk dan menguasai negara lemah dengan vaksin yang dimilikinya. Kondisi ini jika berlarut-larut akan membuat perubahan konfigurasi politik dunia. Akan tetapi, situasi seperti ini sampai saat tulisan ini dibuat, tidak terjadi. Bahkan, organisasi-organisasi dunia menyerukan negara-negara yang maju untuk berbagi vaksin pada negara-negara lemah dan miskin.

            Karena memang perubahan konfigurasi politik global yang disebabkan pandemi Covid-19 sulit dibuktikan keberadaannya, diskusi dalam Dashi tersebut bergeser ke situasi sosial dalam negeri di Indonesia dan ke arah kualitas vaksin berdasarkan pemahaman yang mahasiswa dapat dari berbagai Medsos yang mereka miliki. Hal itu terutama dalam hal kepercayaan masyarakat terhadap program vaksinasi yang dilakukan pemerintah. Dari diskusi tersebut, mayoritas mahasiswa percaya terhadap vaksin yang disediakan pemerintah karena dianggap lebih valid di samping mereka sendiri mendapatkan banyak pemahaman tentang vaksin di lingkungannya masing-masing. Saya sendiri menjelaskan bahwa saya sudah divaksin dua kali dan biasa-biasa saja, malahan lebih percaya diri meskipun tetap harus menjaga protokol kesehatan.

            Demikian oleh-oleh pengetahuan yang bisa saya bagi dari Diskusi Asyik Hubungan Internasional yang digelar Himpunan Mahasiswa HI, Fisip, Unfari.

            Mau ikutan diskusi?

            Boleh.

            Ikutan saja kuliah dengan menjadi mahasiswa Universitas Al-Ghifari.

            Sampurasun.

Monday, 22 June 2020

Fisip, Universitas Al Ghifari-KNPI Jawa Barat Bangun Kampus Pemuda



Bandung, Putera Sang Surya
Senin, 22 Juni 2020, bertempat di Kampus 3 Universitas Al Ghifari, Jln. A.H. Nasution No. 247 Fisip, Universitas Al Ghifari dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Barat bekerja sama membangun kampus pemuda. KNPI selaku organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas para pemuda melalui jalur pendidikan. Sementara itu, Fisip, Universitas Al Ghifari memiliki tugas untuk memberikan pendidikan kepada para mahasiswa atau para pemuda. Singkat kata, baik Fisip, Universitas Al Ghifari maupun KNPI memiliki tugas dan peran yang sama penting untuk turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

            Dalam acara tersebut dari pihak Universitas Al Ghifari hadir Rektor Universitas Al Ghifari Didin Muhafidin, Wakil Rektor Achadijat Sulaeman, Dekan Fisip Dina, Kaprodi Hubungan Internasional Tom Finaldin, Kaprodi Administrasi Negara Ridwan Caesar, Sekprodi HI Henike Primawanti. Sementara itu, dari pihak KNPI hadir Ketua KNPI Riyo, Asep Komarudin, dan Husni.



            Dalam acara pembukaan yang dihadiri pula oleh sekira 150 calon mahasiswa baru anggota KNPI, Ketua KNPI mengucapkan terima kasih ternyata para pemuda di Jawa Barat antusias untuk meningkatkan kualitas dirinya melalui pendidikan dengan menjadi mahasiswa Fisip, Universitas Al Ghifari, baik menjadi mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional maupun Administrasi Negara. Sementara itu, Rektor Universitas Al Ghifari Didin Muhafidin mengucapkan selamat datang kepada calon mahasiswa baru dan memberikan semangat belajar kepada para pemuda dengan mendorong optimisme untuk dapat lebih berkualitas dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Adapun Dekan Fisip Dina menjelaskan bahwa program tersebut telah lama dibangun untuk segera diwujudkan sehingga terjadi ikatan mutualisme, saling menguntungkan, antara KNPI dan Fisip, Universitas Al Ghifari.








            Selepas acara pembukaan para pemuda dari KNPI tersebut dibagi ke dalam dua kelas untuk penjelasan mengenai program studi. Penjelasan di kelas tersebut tentu saja dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip “New Normal”. Untuk menjelaskan mengenai hubungan internasional, dipimpin oleh Kaprodi HI Tom Finaldin dengan  dibantu Sekprodi HI Henike Primawanti. Adapun penjelasan Program Studi Administrasi Negara dipimpin oleh Kaprodi AN Ridwan Caesar.


            Setelah mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap, para pemuda KNPI dipersilahkan untuk memilih program studi sesuai dengan keinginan masing-masing. Hasilnya, para pemuda tersebut memang memilih kedua program studi tersebut, yaitu Hubungan Internasional dan Administrasi Negara. Ada yang mendaftar secara offline maupun online.


            Kerja sama tersebut akan terus dilanjutkan pada masa depan untuk sama-sama berperan serta dalam membangun bangsa. Semoga Allah swt memberikan perlindungan dan keberhasilan untuk kerja sama positif tersebut. Amin. (Tom Finaldin)

Wednesday, 15 April 2020

Move On


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Hari ini mulai terasa berkurang orang yang membicarakan Jokowi. Syukurlah karena nggak ada  untungnya juga terus-terusan membicarakan Jokowi, ngabisin waktu, ngabisin energi. Kita tinggal bantu saja dia dengan dukungan dan kritikan.

            Yang sudah mampu “move on” dari Jokowi, sebaiknya menggunakan waktu dan energinya untuk lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih penting. Dalam masa “physicall  distancing”  ini, kita memiliki lebih banyak waktu luang untuk melakukan introspeksi dan evaluasi diri. Banyak hal yang dapat kita evaluasi.

            Orang biasanya selalu memikirkan uang, kedudukan, cinta, dan hubungan manusia. Hal-hal itu dapat kita evaluasi. Kita bisa mulai dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang kita tujukan pada diri sendiri.

            Mengapa orang lain uangnya lebih banyak?

            Mengapa kedudukan orang lain lebih tinggi?

            Mengapa orang lain mudah mendapatkan cinta?

            Mengapa orang lain lebih dihormati dan diperlukan dibandingkan diri kita?

            Mengapa sih kita selalu menderita dan kekurangan terus?

            Banyak pertanyaan yang dapat kita tujukan kepada diri kita untuk menjadi bahan introspeksi dan evaluasi diri. Tujuannya, tak lain untuk membuat hidup kita lebih baik lagi pada masa depan.

            Untuk menjawab hal itu, tidak perlu kita menuding orang lain sebagai penyebab segala kesusahan kita karena hal itu sama sekali tidak memperbaiki diri kita. Kalau kita selalu menyalahkan orang lain, kita akan selalu tenggelam dalam kesusahan, penderitaan, kegelisahan, dan kebingungan. Hal itu disebabkan kita tidak bisa mengatur hidup orang lain. Satu-satunya manusia yang bisa kita atur adalah diri kita sendiri. Jawablah dengan jujur bahwa penyebab kesusahan kita itu adalah diri kita sendiri.

            Kita harus memegang adagium “hal yang terjadi hari ini kepada kita disebabkan perilaku kita pada masa lalu dan perilaku kita hari ini menentukan masa depan kita sendiri”. Masa lalu, masa kini, dan masa depan saling terhubung dan saling mempengaruhi. Untuk memahami hari ini, kita bisa mengingat masa lalu.

            Apakah dulu ketika zaman sekolah atau kuliah kita rajin, disiplin, dan serius?

            Apakah ketika memiliki pekerjaan kita berusaha maksimal dan bekerja keras?

            Apakah kita jujur atau curang terhadap orang lain dalam bisnis kita?

            Apakah kita disiplin dan selalu menghormati atasan kita?

            Apakah kita menggunakan penghasilan kita untuk hal-hal yang penting atau sama sekali tidak penting?

            Apakah banyak orang yang merasa nyaman dengan kita atau malah banyak yang terlukai oleh kita, baik fisik maupun hatinya?

            Banyak hal yang bisa kita evaluasi. Jika kita jujur, insyaallah kita punya kekuatan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dalam segala hal dibandingkan hari ini.

            Yuk sama-sama introspeksi dan evaluasi diri, jangan banyak ngomongin Jokowi. Jangan menggantungkan hidup kita kepada pemimpin. Orang yang masih berharap hidupnya diurus oleh pemimpinnya adalah orang-orang lemah yang hidup pada zaman kerajaan atau negara yang baru merdeka. Kita harus “move on” dari masa itu. Kita harus kuat hidup dengan kemampuan diri kita. Diri kita harus punya daya jual yang tinggi dalam kehidupan ekonomi. Kalau daya jualnya masih rendah, tingkatkan kualitas diri dengan mengikuti berbagai pendidikan, pelatihan, dan mencontoh pengalaman hidup orang lain yang lebih sukses.

            Orang lain bisa bikin pesawat terbang, handphone, roket, motor, mobil, mengatur ekonomi orang banyak, mengatur kehidupan orang lain, mempengaruhi negara, bisnis antarnegara, ahli kedokteran, masa kita tidak bisa meningkatkan kualitas hidup diri kita sendiri. Move on dari masa lalu, ke masa yang lebih baik.

            Begitu juga saya bersama teman-teman di Program Studi Hubungan Internasional (HI), Fisip, Universitas Al-Ghifari berusaha mengevaluasi diri agar lebih meningkat pada masa depan. Bukan hanya universitas yang harus maju, melainkan pula para mahasiswa harus mendapat jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan aktivitas internasional dalam rangka mewakili Indonesia dalam kancah percaturan internasional. Oleh sebab itu, saya dan teman-teman berusaha berhubungan dengan Prodi HI dari universitas lain, mengajak mahasiswa untuk memahami organisasi internasional seperti Asean, memperkenalkan bagaimana kepentingan nasional Indonesia diperjuangkan melalui jalur wakil rakyat di tingkat internasional, mempererat pergaulan dengan komunitas-komunitas Korea Selatan dan Amerika Serikat, mendorong mahasiswa untuk meneliti perusahaan-perusahaan Indonesia yang berskala internasional, mengajak mahasiswa untuk mengunjungi negara-negara luar, minimal yang dekat-dekat dulu, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Dengan demikian, jalur-jalur untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam dunia kerja internasional dapat lebih terbuka dan mahasiswa dapat memanfaatkannya dengan baik.





            Untuk kunjungan ke luar negeri, sebenarnya sudah direncanakan dalam waktu dekat ini, namun karena ada pandemi Covid-19, ditunda dulu hingga wabah ini diangkat Allah swt. Insyaallah, jika semua sudah memungkinkan, semua program kunjungan ke luar negeri atau menerima tamu dari luar negeri dapat berjalan normal sebagaimana yang diharapkan.

            Sekali lagi, yuk move on dari situasi lama ke situasi yang baru dengan kemampuan diri sendiri. Dengan mengevaluasi diri serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan diri, setelah pandemi corona ini selesai, kita dapat lebih kuat dan lebih sukses dalam hidup dan kehidupan.

            Bagi yang ingin meningkatkan kualitas diri di Universitas Al-Ghifari, klik http://pmb.unfari.ac.id

            Sampurasun

Friday, 27 March 2020

Kuliah Yuk di Universitas Al-Ghifari


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
“Kapankah mendung datang mengalun, mengusir kemarau kali ini …?” begitu lirik “Kemarau” dari Prambors Band.

            Kalaulah wabah Covid-19 diibaratkan kemarau yang menyiksa, tentunya kita berharap bahwa kemarau itu segera berganti dengan mendung yang kemudian menurunkan hujan yang menyegarkan.

            Semakin lama kemarau semakin tersiksa kita, tetapi musim tidak akan selamanya kemarau, musim hujan pun segera datang seperti lanjutan lirik itu, “Tapi sabarlah diri menanti kemarau pasti pergi berganti.”

            Pengalaman menunjukkan hal seperti itu. Kita pernah diserang wabah malaria, kolera, flu burung, flu babi, sars, dan lain sebagainya. Semuanya berlalu, kita melewatinya karena seperti itulah hidup dan kehidupan ini.

            Badai penyakit kerap ada, tetapi semuanya berlalu seperti kata Novelis Marga T, “Badai Pasti Berlalu.”

            Kata Allah swt, “Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan dan sungguh di balik kesulitan ada kemudahan.”

            Dua kali Allah swt mengatakan “di balik kesulitan ada kemudahan” untuk meyakinkan kita agar tetap kuat dalam hidup ini.

            Kita tidak boleh terjebak dalam kekalutan masa ini karena “life must go on”, ‘hidup harus jalan terus’. Waktu terus bergulir dan tidak pernah berhenti. Di dalam masa-masa sulit kita tetap harus merancang masa depan kita. Oleh sebab itu, bagi para lulusan SMA/MA/SMK atau mereka yang kuliahnya sempat terhenti, kami mengajak untuk meneruskan studi di Universitas Al-Ghifari dan memanfaatkan berbagai “fasilitas gratis” yang disediakan bagi mereka yang berhak menggunakannya.

Universitas Al-Ghifari, Bandung, Memberikan Banyak Fasilitas Gratis 


            Life must go on, hidup harus jalan terus. Badai pasti berlalu. Musim Covid-19 akan kita lewati dan tinggal kenangan, insyaallah.

Sampurasun.

Monday, 23 March 2020

Kuliah Online


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kuliah online secara sederhana bisa diartikan sebagai kuliah tanpa tatap muka dengan menggunakan fasilitas akses internet. Caranya bisa bermacam-macam dengan menggunakan aplikasi dan software rupa-rupa pula.

            Sebetulnya, saya sudah melakukannya sejak lama, sekitar tahun 2016. Saat itu niatnya bukan untuk materi kuliah, melainkan untuk semakin mempromosikan Universitas Al-Ghifari, terutama Prodi Hubungan Internasional (HI) yang dikabarkan sulit mendapatkan mahasiswa. Saat mata kuliah Bahasa Indonesia (saya kan lulusan D3, Subprogram Studi Editing, Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran), saya membuat video selama mengajar di kelas gabungan AN-HI. Mahasiswa yang merekamnya menggunakan kamera. Kemudian, saya upload ke youtube, judulnya “Membuat Wacana dengan Sumber yang Jelas” (nonton aja sok). Di video itu saya mengajarkan membuat kerangka karangan sekaligus cara mendeteksi tulisan hoax sehingga kita tidak tertipu dengan menggunakan prinsip 5W + 1H.

            Ada dua video yang saya buat, yaitu ketika di kelas reguler pagi dan reguler sore. Hasilnya, lumayan, saya “geer” saja penerimaan mahasiswa periode berikutnya ada peningkatan untuk semua Prodi. Tentunya, video saya yang di youtube itu hanya bagian kecil dari seluruh upaya promosi yang dilakukan keluarga besar Universitas Al-Ghifari. Dari tahun ke tahun ada peningkatan secara bertahap. Tak disangka pula beberapa mahasiswa yang tidak hadir saat pembuatan video itu dapat mengikuti kuliah melalui video pada hari-hari berikutnya.

            Di samping itu, saya pun menggunakan tulisan-tulisan saya yang sudah ditulis pada tahun-tahun sebelumnya di blog ini untuk materi kuliah “Sistem Dinamika Sosial Politik Lokal” untuk khusus Prodi HI dengan judul “Demokrasi di Indonesia” yang mengurutkan secara kronologis demokrasi di Indonesia sejak kolonial Belanda hingga zaman reformasi. Blog saya itu sebenarnya hanya untuk eksistensi pribadi dan berbagi pemahaman sekaligus sarana untuk mengkritik pemerintah atas nama saya pribadi. Akan tetapi, ternyata sekarang dapat juga menjadi sarana untuk menuliskan materi kuliah sehingga dapat dibaca mahasiswa dan masyarakat umum kapan saja. Memang isinya menjadi campuran antara tulisan pribadi dengan materi kuliah, tak apalah. Dengan adanya keharusan untuk memberikan kuliah secara online, menulis di blog menjadi lebih rutin. Itu artinya, penghasilan dari iklan google semakin bertambah. Google ads itu memberikan kesempatan kita untuk mendapatkan penghasilan dari tulisan kita jika kita bersedia untuk menjadi penayang iklan dari Google. Syaratnya, harus rajin menulis sehingga menarik banyak pembaca untuk melilhat iklan. Jangan berhenti menulis.

            Ketika harus melaksanakan ujian menggunakan internet, saya melakukannya secara sederhana. Mahasiswa diberi soal melalui sekretariat di Fisip, Unfari. Jawabannya harus dikirimkan ke saya melalui email dan waktunya ditunggu sampai pukul 17.00 sore itu. Kalau telat, saya anggap susulan.

            So, tulisan ini sekedar berbagi kepada pembaca saya, siapa tahu bermanfaat.

            Sampurasun.

Thursday, 16 January 2020

Berbaik-Baik dalam Pergaulan Dunia


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dengan semakin banyaknya berita tentang peristiwa dunia yang bisa diakses oleh setiap orang dengan menggunakan “smartphone” masing-masing, kita harus semakin sadar bahwa diri kita adalah warga dunia.  Dengan kesadaran itu, kita pun harus semakin mempersiapkan diri sebagai warga dunia. Jika telat menghadapi situasi dunia, kita bisa tenggelam dan terlindas zaman atau tertipu oleh keadaan.

            Politik luar negeri Indonesia adalah “bebas aktif”. Bebas tidak dikendalikan dan tidak ditekan oleh negara mana pun dan aktif dalam perdamaian dunia. Indonesia hari ini relatif “right on the track”, ‘berada pada jalan yang benar’, dalam hal hubungan internasional. Kita harus mengakui bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memulai cara pergaulan internasional yang sangat baik, yaitu “thousand friends and zero enemy”, ‘ribuan teman dan nol musuh’. Indonesia diarahkan untuk tidak memiliki musuh di dunia ini. Semua negara diupayakan untuk menjadi sahabat.

            Hal ini mirip dengan peribahasa dalam bahasa Sunda, yaitu “balad sarebu kurang keneh, musuh saurang geus loba teuing”, ‘punya teman seribu masih kurang, punya musuh satu sudah terlalu banyak’. Maksudnya, kita harus menjaring banyak teman dan tidak memiliki musuh seorang pun. Kalaupun ingin punya musuh, bermusuhanlah dengan iblis laknatullah dan syetan yang terkutuk.

            Meskipun demikian, saya pernah mewanti-wanti SBY bahwa konsep “ribuan teman dan nol musuh” itu harus dilaksanakan dengan sangat hati-hati karena “mereka bukan kita”. Jangan menganggap mereka sama dengan kita. Jangan menyamaratakan bahwa kebiasaan atau konsep “berteman” yang tumbuh dalam keseharian kita dengan konsep berteman dalam pergaulan antarbangsa. Berteman dalam kehidupan kita, biasanya tulus hingga masuk dalam hati. Berbeda dengan berteman dalam hubungan negara. Hal itu disebabkan dalam teori hubungan internasional setiap negara melakukan hubungan internasional dasarnya adalah kepentingannya sendiri. Kalau kita menolong teman, biasanya tulus karena pertemanan itu sendiri. Kalau dalam dunia internasional, pasti “ada maunya”. Setiap negara yang bersedia berteman dengan Indonesia selalu memiliki “maksud tertentu” yang ingin diincarnya untuk kepentingan negaranya sendiri. Jadi, berteman dengan negara lain itu pun harus diukur dengan kepentingan negara kita. Di samping itu, sikap kita terhadap negara lain harus bergantung sejauh mana mereka bersikap kepada kita. Jika mereka baik, kita pun harus baik. Jika mereka mulai berulah dan menyusahkan, kita pun harus menjaga jarak sesuai sikap mereka.

            Dengan bersikap baik terhadap setiap negara dan mengusahakan agar nol musuh, kita tetap bisa bersikap teguh dan kokoh, tidak terseret-seret kepentingan negara lain. Misalnya, ketika Amerika Serikat dan Iran berperang, kita tetap harus bersahabat dengan mereka dan aktif memberikan saran agar konflik tidak berlanjut, bahkan terjadi perdamaian yang lebih baik. Kita tidak perlu pro-AS ataupun pro-Iran. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi sudah sangat baik ketika perang AS-Iran dimulai, mendatangi Kedubes kedua negara tersebut dan menyatakan keprihatinannya di samping mengungkapkan efek perang mereka terhadap Indonesia.

            Demikian pula jika terjadi perseteruan di negara-negara yang lain, Indonesia harus tetap kukuh menjaga kepentingannya dan selalu menyuarakan perdamaian. Ribuan teman dan nol musuh sangat bermanfaat bagi Indonesia untuk tetap berada di tengah, bahkan menjadi contoh bagi dunia bahwa hidup ini tidak melulu soal kuasa-menguasai atau perang-memerangi, melainkan bisa dibina dengan persaudaraan dan persahabatan.

            Sampurasun.

Monday, 13 January 2020

Biasakan Hidup dalam Anarki


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Anarki sendiri memiliki pengertian suatu “kehidupan yang tidak ada pemerintahan”. Orangnya sendiri disebut anarkis.

            Dalam suatu kehidupan yang memiliki sistem pemerintahan, tentu saja kita tidak boleh anarkis. Kita wajib patuh pada pemerintahan di mana saja kita hidup. Jika kita tidak setuju pada sistem pemerintahan di tempat kita hidup, kita bisa pindah ke tempat lain yang memiliki sistem pemerintahan yang kita setujui. Bisa pula kita membentuk sistem pemerintahan sendiri di tempat yang belum ada sistem pemerintahan apa pun. Selama kita hidup di tempat yang sudah ada sistem pemerintahan, harus patuh pada sistem yang ada. Jika berupaya mengganti sistem pemerintahan dengan cara radikal, kita akan dianggap musuh sistem karena akan menimbulkan suasana anarki. Kalaupun mau mengubah, bisa dilakukan dengan cara “gradual”, bertahap, mengalir sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

            Sistem kehidupan yang sampai sekarang tidak memiliki sistem pemerintahan adalah hubungan internasional. Tidak ada suatu sistem tertentu yang dapat memerintah seluruh dunia. Setiap negara tidak pernah bersedia diatur oleh negara lain. Hal itu disebabkan setiap negara memiliki kepentingannya masing-masing dan memiliki ego masing-masing pula. Tak ada satu pun negara yang mau didikte negara lain. Indonesia tidak mau didikte Cina, Amerika Serikat, Eropa, atau negara mana pun. Demikian pula negara lain, tidak ada yang mau didikte Indonesia. Singapura, misalnya, meskipun itu negara kecil dan mudah dikalahkan dengan mengerahkan orang-orang Garut saja untuk menyerang, tidak akan pernah mau patuh pada Indonesia. Hal yang sama pun Indonesia tidak dapat petantang-petenteng terhadap Myanmar yang telah melakukan genosida pada Rohingya di Provinsi Rakhine. Meskipun Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar sedunia, tidak dapat mengatur atau mendikte Myanmar. Kalaupun ada sebuah negara mendikte negara lain, bisa timbul konflik besar dan bencana kemanusiaan.

            Kita harus membiasakan diri dan memahami bahwa pergaulan dunia ini adalah anarki, tidak berpemerintahan. Dengan demikian, hal yang terbaik dilakukan dalam pergaulan internasional adalah membangun kesepahaman dan saling pengertian dengan menggunakan nilai-nilai yang universal berlaku di seluruh dunia. Meskipun demikian, setiap negara harus tetap meningkatkan kekuatan militernya untuk bersiap-siap menghadapi perang yang bisa terjadi kapan saja. Hal itu disebabkan kita tidak pernah tahu bahwa setiap negara akan selamanya saling menghormati. Sangat mungkin mereka sekarang diam, tetapi pada waktu yang lain berulah untuk menguasai kita. Contoh nyata adalah perilaku yang ditampakkan Cina terhadap Indonesia yang mencoba menguasai Laut Natuna Utara. Meskipun banyak terjadi kerja sama yang baik dengan Indonesia, Cina mencoba mendesakkan keinginannya untuk berkuasa. Mereka bertingkah seperti itu karena merasa kekuatan militernya sangat kuat dan mampu meluaskan wilayah sekehendaknya.

            Dalam sistem pergaulan yang anarki ini kita harus paham dan terbiasa bahwa kita wajib tetap menjaga kerja sama yang positif, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dengan terus meningkatkan kekuatan militer karena tak ada satu pun kekuasaan dunia yang dapat mengatur dan mendamaikan seluruh negara di muka Bumi ini.

            Sampurasun.

Wednesday, 26 April 2017

Nasib Kita Berada di Tangan Kita Sendiri

 oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sampai hari ini masih sangat banyak orang yang berkhayal bahwa Indonesia bisa kuat dan hebat jika bersahabat dekat dengan negara lain atau dibantu negara lain. Ada yang menganggap Indonesia akan hebat jika dekat dengan Amerika Serikat. Sebagian orang menganggap Indonesia akan makmur jika dekat dengan Cina. Sebagian lagi berharap Indonesia akan kuat dan mantap jika dekat dengan Arab Saudi. Bahkan, ada yang berharap Indonesia dekat dengan Israel untuk menumbuhkan ekonomi.

            Bagi saya, orang-orang yang berpikiran seperti itu adalah orang-orang yang hampir “putus asa”. Mereka mengandalkan negeri lain yang dianggapnya lebih maju pada berbagai bidang untuk membantu Indonesia menjadi besar dan kuat. Sungguh, teorinya tidak mengatakan seperti itu, bahkan menjelaskan bahwa setiap negara yang berhubungan dengan negara lain adalah untuk memenuhi kebutuhan di dalam negerinya sendiri. Artinya, jika AS bekerja sama dengan Indonesia, bukanlah untuk menyejahterakan Indonesia, melainkan untuk memperoleh keuntungan dari Indonesia. Demikian pula dengan Arab Saudi, Cina, atau yang lainnya. Mereka akan berhubungan dengan Indonesia jika menganggap ada keuntungan yang didapatkan dari Indonesia untuk negerinya sendiri. Mereka tidak akan berhubungan dengan Indonesia jika tidak ada untungnya bagi negara mereka sendiri. Begitu teorinya.

            Presiden-presiden Indonesia selalu melakukan hubungan internasional itu.

            Apa hasilnya bagi Indonesia?

            Apakah Indonesia untung besar atau justru negara-negara lain itu yang untung besar?

            Hal itu harus dihitung dengan teliti dan jujur.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno yang kemudian menjadi presiden pertama Republik Indonesia mengakui dengan jujur dan letih tentang hubungan internasional yang dia bangun dengan negara-negara lain. Awalnya, ia berharap banyak pada negara-negara lain itu, tetapi kenyataan berkata lain. Hal itu menyebabkan ia memiliki kesimpulan sendiri untuk menyadarkan rakyat Indonesia agar bekerja lebih keras lagi.

            “Dalam mencari-cari hubungan dengan lain-lain bangsa kulit berwarna, walau buat sekejap mata pun, kita tidak boleh lupa bahwa akhirnya nasib kita ialah terletak dalam besar kecilnya usaha kita sendiri. Tidak di dalam tangan bangsa lainlah letak hidup dan matinya bangsa kita, tidak di dalam tangan bangsa lainlah terdapat jawaban atas pertanyaan Indonesia luhur atau Indonesia hancur, tetapi di dalam genggaman kita sendiri.

            Selama rakyat Indonesia belum menimbun-nimbunkan kekuatan dan memeras tenaganya sendiri, selama belum percaya pada kekuatan dan kebisaan sendiri, selama belum menyatakan dengan perbuatan sendiri kebenaran sabda, ‘Allah tak akan mengubah keadaan suatu rakyat jikalau rakyat itu tak mengubah keadaannya sendiri,’ maka kita akan tetap hidup dalam perhambaan dan kenistaan, masih jauhlah datangnya hari yang kita akan dapat bertampik sorak, ‘Indonesia Selamat!’”

            Jelas sekali Soekarno yang pernah berkeliling dunia dan mengundang para pemimpin dunia ke Indonesia untuk berperan serta dalam membangun Negara Indonesia yang baru saja merdeka merasakan keletihan luar biasa. Ia mendapatkan kenyataan bahwa sebesar apa pun negara lain, sama sekali tidak dapat dijadikan tempat bergantung untuk kemajuan Indonesia. Maju dan mundurnya Indonesia adalah bergantung kepada rakyatnya sendiri. Rakyatnya lemah dan malas, hancurlah Indonesia. Rakyatnya kuat dan rajin, mulialah Indonesia.

            Hal seperti ini bukan hanya berlaku dalam mengelola negara, melainkan pula dalam mengelola keluarga, bahkan diri sendiri. Kita tidak akan pernah bisa menggantungkan diri secara terus-menerus kepada orang lain. Jika kita ingin maju dan besar, harus berjuang sendiri dan terlepas dari ketergantungan kepada orang lain. Hal itu disebabkan yang namanya manusia itu jika terus-terusan dimintai pertolongan atau bantuan, akan menghindar dan menghilang. Semakin diminta bantuan, semakin kesal dia. Berbeda dengan Allah swt yang justru semakin sering dimintai pertolongan, semakin senang Dia.  Semakin kita tak letih memohon pertolongan kepada Allah swt, semakin sayang Allah swt kepada kita. Allah swt tidak akan meninggalkan kita. Sebaliknya, justru kalau kita tidak pernah meminta pertolongan kepada Allah swt, marahlah Dia. Kita bisa dihukum gara-gara tidak pernah meminta pertolongan Allah swt.

            Beda kan antara manusia dengan Allah swt?

            Jadi, untuk menjadi pribadi yang maju dan sukses serta untuk menjadikan Indonesia sebagai negara besar, kuat, dan jaya kuncinya adalah bekerja keras dengan tangan dan tenaga kita sendiri, tidak menggantungkan hidup pada pihak lain atau negara lain, serta sering-seringlah berdoa meminta pertolongan Allah swt. Hanya itu caranya agar kita bisa selamat dan sukses di dunia maupun di akhirat.


            Sampurasun.