Showing posts with label VOB. Show all posts
Showing posts with label VOB. Show all posts

Sunday, 29 October 2023

Hijab Mereka Mengguncangkan Dunia

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pertama, Megawati Hangestri pemain voli asal Indonesia yang bermain untuk Red Sparks di Korea Selatan sudah dua kali mendapat anugerah “Most Valuable Player” (MVP) atau mudahnya adalah pemain terbaik dalam pertandingan. Dia sangat dikenal di Korea, bahkan kalau dia main dan disiarkan di televisi, apotek-apotek di Korea tutup karena ingin melihatnya. Dia dikagumi berbagai stasiun televisi Korea. Fotonya saya dapat dari sport TEMPO co.


Megawati Hangestri (Foto: sport - TEMPO co)
   

         Kedua, Putri Ariani adalah peraih “Golden Buzzer” di Amerika Serikat dalam ajang AGT. Meskipun tidak menjadi juara dalam AGT, dia sekarang memiliki penggemar dari seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Arab, dan tentu saja Indonesia. Dia sangat dikenal di kalangan penikmat musik karena mampu menyanyi dengan suara jernih, bernada tinggi, dan penuh dengan penjiwaan sehingga bisa membuat orang menangis. Foto Putri saya dapatkan dari Suara com.


Putri Ariani (Foto: Suara com)

            Marsya (vokalis, gitar), Widi (bass), dan Sitti (drum) adalah para pemain band “Voice of Baceprot” (VOB) dengan genre rock metal. Mereka mampu menciptakan lagu dengan syair-syair menohok “on point”, jelas, keras, tanpa basa basi, dan langsung pada maknanya. Mereka digemari para penikmat musik cadas sehingga diundang di jantung musik rock metal, Wacken, Jerman. Foto mereka saya dapatkan dari Parapuan co.


Voice of Baceprot (Foto: Parapuan co)


            Mereka tetap berhijab dan berdakwah dengan hijabnya di bidangnya masing-masing. Mereka tetap shalat, tahajud, puasa, dan bershalawat. Mereka menunjukkan pada dunia bahwa hijab tidak menghalangi mereka untuk aktif dan berkarya. Mereka mengubur dugaan-dugaan yang keliru bahwa hijab akan mengganggu aktivitas atlet, menghalangi kreativitas, membuat terbelakang, dan berpikiran radikal berkecenderungan teror.

            Dulu-dulu banyak pertandingan olah raga yang melarang perempuan berhijab untuk ikut main, sekarang tidak lagi karena ada orang-orang seperti mereka. Dulu dunia banyak yang menganggap bahwa hijab membuat perempuan terbelakang, terpinggirkan, dan radikal. Kini tidak lagi dengan adanya mereka.

            VOB malah membuat lagu yang sangat terkenal di dunia berjudul PMS (Perempuan Merdeka Seutuhnya) yang syairnya campuran antara bahasa Inggris dan Indonesia. Mereka menentang orang-orang yang gemar mengharamkan ini itu tanpa dalil yang jelas, melawan orang-orang sok suci yang seolah-olah surga adalah diciptakan untuk orang-orang itu, mereka membenci perang, mereka muak dengan ceramah-ceramah yang hanya meninggikan kaum laki-laki, mereka memerangi dakwah-dakwah yang mengendalikan hidup orang lain untuk ditipu dan mengambil harta orang lain dengan menggunakan agama. Mereka hanya ingin hidup dalam dunia yang damai dan penuh warna.

            Perempuan-perempuan hebat itu telah mengenalkan hijab pada dunia sehingga dunia lebih menenerima hijab sebagai bagian dari kehidupan normal dan dapat bekerja sama untuk menjadikan dunia sebagai tempat hidup lebih baik, lebih menyenangkan, lebih harmonis sebelum alam akhirat nanti.

            Sampurasun.

Saturday, 31 December 2022

VOB: Gadis-Gadis Pemberontak Garut Guncangkan Dunia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

“Voice of Baceprot”, Garut pride. Saya mulai memperhatikan mereka kurang lebih sejak setahun lalu. Tanpa sengaja saya mengklik tayangan Youtube seorang reaktor musik asal Inggris yang mereaksi VOB bermain musik rock metal dengan judul lagu “School Revolution”. Awalnya, saya hanya menyangka anak-anak VOB itu seperti saya juga ketika seumuran mereka, bermain musik, senang-senang, sekedar hobi atau pengen eksis. Akan tetapi, di tengah-tengah lagu, permainan mereka luar biasa. Mereka masih sangat culun, unyu-unyu, tampak berusia sekitar SMP, padahal antara kelas 1 atau 2 SMA. Makin didengarkan, makin mengasyikan. Mereka memang pemain musik profesional.

            Bahkan, reaktor Inggris itu sampai bilang, “Orang Indonesia, kalian beri makan apa anak-anak ini?”

            Itu karena memang VOB bermain sangat bagus, cepat, menghentak, dan penuh energi. Bahkan, lebih monstrous dibandingkan pemain-pemain band metal cadas aslinya dari Barat. Maksudnya, permainannya melebihi para monster musik keras.


Foto: Akurat.co


            Saya jadi penasaran siapa sih anak-anak itu. Jujur, saya justru mengetahui mereka dari ulasan-ulasan para pengamat musik Eropa dan Amerika. Mereka ternyata sangat mengenal anak-anak itu dibandingkan orang Indonesia sendiri. Orang-orang Barat menelusuri kehidupan personal VOB sejak kecil hingga kini sukses mengguncangkan Eropa dan dunia.

            Band musik keras ini bermula dari para siswa bermasalah di sebuah madrasah tsanawiyah di Singajaya, Garut, Jawa Barat, Indonesia yang sering bikin keributan, melawan guru, protes karena diperlakukan tidak adil, serta kerap mendapatkan bulian, baik dari guru maupun dari teman-teman sekolahnya. Karena sering bikin masalah dan dianggap tidak akan memiliki masa depan cerah, mereka keluar masuk dibina oleh guru bimbingan konseling (BK).


Guru BK Abah Ezra bersama VOB (Foto: IRC 13)


            Beruntung, guru BK mereka yang dikenal dengan nama Abah Ezra memahami mereka dan berupaya keras menyalurkan mereka ke bidang-bidang kegiatan yang sesuai dengan mereka. Awalnya, mereka diikutkan dalam kegiatan teater, tetapi seluruhnya gagal. Akhirnya, Abah Ezra menyalurkannya ke bidang musik. Awalnya, mereka berjumlah tujuh orang, tetapi menyusut menjadi tiga orang. Mereka adalah Firdda Marsya Kurnia sebagai pemain gitaris melodi dan vokalis, Widi Rahmawati sebagai pemain bass, dan Euis Siti Aisyah sebagai drummer.

            Foto VOB ketika mereka bertiga bersama guru BK Abah Ezra saya dapatkan dari IRC 13. Adapun foto yang lainnya saya dapatkan dari Akurat co, CNN Indonesia, Liputan6 com, Pinterest, dan Suara com.

            Lagu pertama yang saya dengar adalah School Revolution. Lagu ini berupa pemberontakan mereka terhadap sistem pendidikan di sekolah yang tidak adil, menutup pendapat siswa, dan mengunci kreativitas siswa. Mereka menginginkan sekolah itu harus mengakomodasi berbagai kreativitas siswa sesuai gairah para siswa. Mereka pun sudah terlalu pusing dengan ceramah-ceramah soal moral, tetapi praktiknya tidak sesuai dengan yang diceramahkan.

            Setelah mulai main musik keras dari panggung ke panggung, mereka mendapatkan banyak bulian, cacian, nyinyiran, bahkan makian haram dari kelompok-kelompok masyarakat yang suka mengharam-haramkan musik. Untuk melawan nyinyiran dan tudingan itu, mereka pun membuat lagu berjudul “God Allow Me (Please) to Play Music”. Mereka tidak percaya lagi pada para penceramah yang suka menuding dan mengasari mereka dengan ceramahnya. Lagu mereka menunjukkan ketidakpercayaan mereka itu. Oleh sebab itu, mereka meminta izin langsung kepada Allah swt melalui lagu itu, “Tuhan, Tolong Izinkan Aku Bermain Musik”.

            Dalam lagu ini mereka menjelaskan, “Kami bukanlah kriminal, kami bukanlah penjahat, kami bukanlah koruptor, kami bukanlah musuh, kami hanya ingin bermain musik untuk menyuarakan apa yang ada dalam jiwa kami. Tuhan, izinkanlah kami bermain musik.”

            Banyak penikmat musik dari seluruh dunia menangis mendengar lagu ini, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka membayangkan betapa beratnya VOB yang masih kecil-kecil itu menghadapi serangan dari para pembencinya.  Bahkan, hingga ke serangan fisik lho. Oleh sebab itu, ketika VOB diundang untuk tur ke seluruh Eropa, para pendukungnya dari seluruh dunia bergembira.

            Banyak dari mereka yang berteriak, “Tuhan telah mengizinkan kalian bermain musik!”


Foto: CNN Indonesia


            Memang mereka telah berhasil tampil di panggung terbesar No. 1 untuk para pemusik metal seluruh dunia di Wacken, Jerman. Hal yang mengagetkan adalah ketika menyanyikan lagu “What’s The Holy (Nobel) Today”, mereka mampu menggerakkan penonton dari seluruh dunia untuk berteriak “stop war, we hate war!”, ‘hentikan perang, kami benci perang!” Luar biasa mereka.


Foto: Pinterest


            Meskipun mereka adalah pemain musik keras, metal, cadas, mereka tetap mengaji, shalat, tahajud, puasa. Bahkan, mereka berdakwah di hadapan para penonton Kota Rennes, Perancis. Karena mereka muslimat Indonesa berhijab, sering mendapatkan pertanyaan soal agamanya dan hijabnya. Mereka tampaknya kesal, sedikit marah, tetapi berusaha menjelaskan.


Foto: Suara.com


            Di atas panggung Perancis yang disiarkan ke seluruh dunia sebelum menyanyikan lagu PMS (Perempuan Merdeka Seutuhnya) yang mereka ciptakan sendiri, Marsya dengan suara lantang mengajari penduduk Eropa, “I tell you now, I tell you now! Hijab is a sign of peace, love, and beauty.”

            Hijab adalah ciri atau tanda perdamaian, cinta, dan keindahan. Begitu yang dikatakan Marsya. Penjelasannya itu mendapatkan tepuk tangan dari seluruh penonton Renne, Perancis.

            Lagu yang paling menghebohkan di panggung Perancis itu adalah berjudul “Killing in The Name” yang di-cover dari band “Rage Against The Machine” (RATM) yang dibawakan oleh Tom Moralle. Penyanyi aslinya sendiri Tom Moralle bahkan menjadi penggemar VOB. Dalam lagu itu tampak sekali kemarahan dan keberanian VOB, mereka bertiga, untuk menolak sesuatu yang tidak masuk akal bagi mereka. Ada bait-bait lirik yang dinyanyikan bersama penonton.

            Kalau saya tidak salah dengar Marsya berulang-ulang mengucapkan “I won’t do what you tell me”, ‘aku tidak akan melakukan apa yang kamu perintahkan kepadaku”,  maaf kalau saya salah dengar, baca saja lirik aslinya,.

            Teriakan mereka yang paling keras bergemuruh di atas panggung adalah ketika meneriakkan, “M*ther F%ckeeer …!”

            Teriakan itu adalah teriakan sangat kasar, bahkan bagi orang Barat sendiri. Orang bule pun berusaha untuk tidak mengucapkan kalimat itu karena dianggap kalimat kurang ajar. Oleh sebab itu, publik Eropa menjuluki VOB adalah band metal berhijab asal Indonesia yang “fearless”, ‘tak punya rasa takut’. Akan tetapi, Marsya VOB, meneriakkannya dengan sangat lantang yang disambut gemuruh para penonton bule.

            Kurang lebih dalam bahasa Indonesia seperti ini artinya, “Persetan! Kalian Bajingaaan …!”


Foto: Liputan6.com


            Banyak sebetulnya yang bisa dan ingin saya tulis tentang ketiga gadis Garut ini. Sungguh, mereka adalah anak-anak yang bersemangat dan berani menyuarakan keinginannya dengan tetap tidak melepaskan kewajibannya dalam beragama, bahkan berdakwah dalam lagu-lagu yang diciptakannya. Cuma, ya itu tadi, bahasanya “on point”, dalam bahasa Sunda “togmol, teu didingding kelir”, ‘tajam langsung ke intinya’. Lain kali, saya ulas lagu-lagu yang diciptakan mereka. Para Baladceprot dapat menginformasikan berbagai hal tentang VOB kepada saya sehingga saya mendapatkan banyak pengetahuan tentang VOB dan bisa menulis lebih banyak tentang mereka.

            Baladceprot itu komunitas penggemar VOB yang anggotanya sekarang sudah berada di seluruh dunia, bukan hanya orang Indonesia, melainkan pula orang-orang bule dan orang asing lainnya.

            Hayu ah.

            #VOBVoiceofBaceprot

            #StopWarWeHateWar

            #Baladceprot

            Sampurasun

Sunday, 13 November 2022

Eh, Ada Blackpink di Arab Saudi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah menggelar festival Halloween, kini Arab Saudi menggelar konser musik dengan mendatangkan pemusik papan atas wanita-wanita muda seksi K-Pop Blackpink. Grup ini main di Mrsool Park, Riyadh, pada 20 Januari 2023.


Blackpink (Foto: Tribunnews.com)


            Ada tiga pilihan untuk menyikapi hal ini. Nonton, demo menolak konser dan menurunkan pemerintah, serta tidak nonton.

            Kalau mau nonton konser, harga tiket termurah adalah sekitar Rp1 juta dan yang termahal Rp6,2 juta. Siapkan saja uang segitu dengan ongkos dan jajan di sana.

            Kalau mau demo menolak konser dan menurunkan pemerintah Kerajaan Arab Saudi, insyaallah kepala copot dari badan. Dipenggal tuh leher di lapangan. Beneran, tidak akan ditolerir perilaku itu di Arab Saudi.

            Coba saja teriak di sana, “Bubarkan konser Blackpink! Dasar rezim zalim! Konser neraka! Turunkan Pangeran Muhammad bin Salman!”

            Kalian bakal habis di sana, nggak pulang lagi ke rumah hidup-hidup. Paling sudah jadi mayat.

            Kalau tidak nonton, ya nggak perlu pusing. Jangan pikirin saja, biasa saja, aktif dengan kegiatan harian.

            Kalau saya, tidak akan nonton. Pertama, tidak punya uang untuk hal itu. Mendingan dipakai umroh uangnya. Kedua, nanaonan, ‘ngapain’ juga nonton. Ketiga, saya bukan penggemar Blackpink.

Orang seperti saya ini penggemar Rhoma Irama, Lesti Kejora, Via Vallen, Chakra Khan, Alfy Rev, Alip Ba Ta, Lyodra, Tiara Andini, dan Tantri Kotak. Kalau grupnya, saya suka anak-anak Garut, Singajaya, Voice of Baceprot (VOB) yang terdiri atas Marsha (vokalis dan melodi), Widy (Bassis), dan Siti (Drummer).

Samarukna saya tara nyanyi kitu?

Begitu ya. Mau nonton, demo, atau tidak nonton, terserah. Semua punya risiko masing-masing, baik di dunia maupun di akhirat.

Oh ya, foto Blackpink saya dapatkan dari Tribunnews Com. Sengaja pilih foto itu, tidak terlalu seksi. Kalau yang seksi pisan, bahaya.

Saya cuma sedikit bingung sama Arab Saudi karena konser Blackpink boleh digelar, tetapi pengajian maulid Nabi Muhammad saw dilarang.

Kata Tukul, “Sakarepmu.”

Sampurasun.