Showing posts with label NKRI. Show all posts
Showing posts with label NKRI. Show all posts

Saturday, 15 January 2022

Para Perempuan Muda Cantik Pelindung Indonesia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada tulisan yang lalu saya pernah menulis bahwa kedaulatan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dijaga oleh anak-anak muda Indonesia yang sebagian besar perempuan di forum-forum internasional semacam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka mempertahankan NKRI dari fitnah, serangan, dan serbuan negara-negara asing yang ingin membuat Indonesia terjatuh dengan menggunakan berbagai isu, terutama isu-isu hak azasi manusia (Ham) di Papua. Merekalah yang sesungguhnya melindungi para ulama, para kiyai, para ustadz, para pendeta, para biksu, para pedanda, para pemimpin agama dan keyakinan, para pemeluk agama, serta seluruh rakyat Indonesia di forum-forum dunia. Jika mereka gagal berdiplomasi dalam melindungi kedaulatan negara, pasukan dan kekuatan asing bisa masuk ke Indonesia, kemudian merusakkan tanah, tatanan, dan sistem sosial di Indonesia seperti yang terjadi di Timur Tengah. Besar sekali jasa mereka dan sungguh berat tugas mereka. Karya mereka mendunia karena berulang-ulang melakukan serangan mematikan terhadap para presiden, perdana menteri, dan pemimpin negara asing yang ingin mencoba meruntuhkan Indonesia.

            Dalam tulisan kali ini, saya tulis tiga perempuan muda cantik yang dengan cerdas mempertahankan kehormatan NKRI di dunia. Saya sertakan foto dan sumbernya dengan beberapa kalimat serangan mereka pada negara-negara lain yang kerap menganggu Indonesia. Sengaja saya potong dan sedikit ubah kalimat mereka karena terlalu panjang serta agar lebih jelas suara mereka ditujukan bukan hanya untuk satu negara, melainkan ke negara mana pun yang mencoba menyerang Indonesia.

            Sesuai urutan foto, pertama, diplomat muda ini bernama “Silvany Austin Pasaribu” (sumber foto: Kpop Squad Media). Dia mendapat serangan dari Presiden Vanuatu yang mencoba menceramahi Indonesia tentang Ham. Kemudian, Silvany balas menyerang. Seperti saya bilang, saya potong dan saya ubah kalimatnya bukan hanya untuk Vanuatu, melainkan untuk negara mana pun yang mencoba menyerang Indonesia.


Silvany Austin Pasaribu (Foto: KPOP SQUAD MEDIA)


Silvany berbicara seperti ini, “Simpan ceramah kalian untuk kalian sendiri! Presiden Indonesia Jokowi menyerukan untuk mencari solusi yang menguntungkan antarnegara, tetapi negara bodoh seperti kalian justru menentangnya. Di tengah krisis kesehatan dan ekonomi yang harus dihadapi, negara bodoh kalian justru menyerukan memecah belah dengan mendukung separatisme dengan dalih Ham. Indonesia sudah setuju dan menandatangani untuk penghapusan diskriminasi, penyiksaan, dan kekejaman, tetapi negara kalian belum menyetujuinya. Bagaimana mungkin kalian mengajari kami tentang Ham sementara kalian sendiri belum menandatangani penghapusan perilaku yang merendahkan martabat manusia? Kalian harus urus rakyat kalian sendiri! Kalian bukan wakil rakyat Papua dan berhentilah bersikap seperti itu! Papua adalah Indonesia!”

Luar biasa bukan serangan Silvany terhadap pemimpin negara asing?

Kedua, “Nara Masista Rakhmatia” (sumber foto: Okezone News), lagi-lagi dia menyerang banyak negara lain dari kawasan Asia Pasifik yang menuduh Indonesia melanggar Ham.


Nara Masista Rakhmatia (Foto: Okezone News)


 Kalimat Nara Masista seperti ini, “Indonesia berkomitmen untuk menghormati Ham. Pada zaman ini semuanya harus terbuka dan sulit menyembunyikan pelanggaran Ham. Ketika kalian menunjuk-nunjuk kami dengan jari telunjuk, sesungguhnya ada empat jari kalian yang menunjuk pada wajah kalian sendiri!”

Kalimat Nara Masista Rakhmatia sangat lugas dan menohok pada negara lain yang mengusik Indonesia.

Ketiga, “Sindy Nur Fitri” (sumber foto: Kuyou id). Dia dengan keras menyerang negara-negara bodoh itu.


Sindy Nur Fitri (Foto: KUYOU.id)

Kalimat Sindy semacam ini, “Kalian terus-terusan menyerang dan melanggar kedaulatan Indonesia. Kami melawan informasi palsu yang kalian sebarkan! Kalian hanya menyebarkan harapan palsu yang menyulut konflik dan mengorbankan banyak nyawa orang tak berdosa. Kalian hanya berdiam diri ketika KKB membunuh guru, perawat, pekerja kesehatan, pekerja konstruksi, menghancurkan fasilitas kesehatan, dan aparat penegak hukum. Mengapa kalian berdiam diri ketika orang-orang yang mengabdi untuk rakyat Papua dibunuh secara brutal? Kenyataannya, kalian hanya menganjurkan separatisme agar Papua berpisah dari Indonesia. Indonesia adalah negara demokrasi yang menghormati Ham dan hukum!”  

Silvany, Nara, dan Sindy adalah para perempuan cerdas yang melindungi NKRI dari serangan negara lain. Padahal, mereka adalah perempuan yang sering dianggap warga negara kelas dua dan harus selalu dianggap lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kenyataannya, merekalah yang melindungi para lelaki dan perempuan di seluruh Indonesia ini dari kemungkinan adanya invasi atau campur tangan asing terhadap kehidupan di Indonesia. Insyaallah, upaya mereka mendapatkan pahala yang sangat besar dari sisi Allah swt.

Mereka adalah para lulusan program studi Hubungan Internasional universitas terkemuka di Indonesia ini, semoga pada masa depan murid-murid dan atau mahasiswa-mahasiswa saya di Program Studi Hubungan Internasional, Fisip, Unviersitas Al Ghifari, banyak yang sehebat atau bahkan lebih hebat dibandingkan mereka untuk membela Indonesia.

Sampurasun.

Saturday, 1 January 2022

Makin Diserang, NU Makin Kuat

 


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Nahdlatul Ulama (NU) mendapatkan serangan yang begitu sering dan begitu besar. Akan tetapi, semua serangannya sama sekali tidak masuk akal dan lemah. Nilainya hanya sama dengan berisik di telinga. Serangannya hanya dipercaya  oleh orang-orang bodoh yang memang sudah memiliki kebencian sejak lama. Saking banyaknya serangan, kebanyakan kalau saya tulis semuanya. Akan tetapi, paling tidak yang mencuat akhir-akhir ini bisa diingat banyak orang. Disebutnya NU seperti bis yang diisi oleh orang-orang mabok; diotak-atik sejarahnya antara Hasyim Asyari dan Hasan Dipo; Terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU 2021-2026 yang dituding akan menjadi sumber kegaduhan Indonesia.

            Serangan akhir-akhir ini yang semakin keras tidak lepas dari urusan politik Negara Indonesia. NU telah dan sedang menjadi benteng penguat NKRI yang sangat besar peranannya dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Banyak yang menyerang pemerintah dengan memanipulasi agama; jualan sorga dan neraka; tuduhan kafir, murtad, zalim, munafik; pengkultusan terhadap individu; pemecahbelahan umat. Akan tetapi, itu semua mendapatkan batu sandungan yang sangat besar dan kuat, batu penghalangnya itu adalah NU. Mereka yang menyerang pemerintah itu sangat tahu bahwa upaya mereka akan selalu sia-sia karena ada NU yang berdiri untuk mempertahankan negara. Oleh sebab itu, mereka menyerang NU dengan harapan NU terpecah dan lemah dengan berbagai narasi dan informasi yang menyesatkan tak berdalil.

            Meskipun banyak mendapatkan serangan, tampaknya NU menjadi semakin kuat. Itu bagus. Hal ini malah semakin terlihat dengan dikukuhkannya Dr. Muhammad Luthfi bin Yahya atau yang lebih akrab disapa Habib Luthfi menjadi Ketua Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Hal ini tidak lepas dari keinginan Ketua BNPT Boy Rafli Amar bahwa tokoh agama seperti Habib Luthfi dapat meredam ideologi terorisme yang bisa dimunculkan melalui paham-paham keagamaan yang sempit yang berujung pada tindakan kekerasan. Di samping itu, semua orang tahu bahwa warga NU sangat menghormati dan berguru kepada Habib Luthfi. Artinya, secara politik NU akan menjadi peredam pula dari segala aktivitas yang mengarah pada tindakan radikalisme dan terorisme dalam menjaga integrasi bangsa.

            Dengan melihat hal ini NU menjadi semakin kuat karena mendapatkan kepercayaan yang sangat besar, tetapi menjadi bertambah besar pula tugas dan kewajiban NU dalam menstabilkan kehidupan bernegara. Akan menjadi hal yang tidak aneh jika semakin keras pula serangan-serangan yang akan didapatkan NU dari pihak-pihak lain. Itu adalah risiko yang harus ditanggung NU. Akan tetapi, negara akan berada membekingi NU karena NU pun sudah menjadi beking negara.

            Ini adalah perjalanan hidup. Mau tidak mau harus dijalani.

            Bukankah salah satu bukti iman itu harus diwujudkan dalam  kecintaan kepada negara?

            Sampurasun.

Tuesday, 21 September 2021

Hentikan Polemik Soal Jenderal Dudung

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ternyata, polemik pernyataan Panglima Kostrad Letnan Jenderal Dudung Abdurachman tidak berhenti, terus digoreng dan di-blow up yang justru makin tidak karuan, kacau balau, sama sekali tidak mendidik, bahkan menyesatkan. Mereka yang terus adu bacot nggak jelas itu terdiri atas dua pihak, yaitu: para Kadrun dan para buzzer. Maaf saya menggunakan dua istilah itu karena memang kenyataannya merekalah yang seolah-olah merasa diri paling pintar tentang segala hal.

            Jenderal Dudung memang pernah mengatakan bahwa “semua agama benar di mata Tuhan”. Kalimatnya ini menjadi perdebatan. Perdebatan itu sebenarnya akan mengasyikkan jika menggunakan standar-standar pengetahuan yang jelas, baik pengetahuan keagamaan, maupun standar ilmiah. Sayangnya, para Kadrun dan buzzer itu tidak menggunakannya meskipun mereka sama-sama mengatakan dirinya menggunakan akal sehat.

            Para Kadrun menggunakan emosinya, rasa sakit hati, atau kebenciannya sampai-sampai pernyataan Jenderal Dudung dianggap sebagai kebangkitan “neokomunis” atau tanda bangkitnya PKI. Ada juga yang mengatakan bahwa Dudung adalah penjilat istana Jokowi. Sementara itu, para buzzer menggunakan pikirannya saja dengan menganggap bahwa akal pikirannya adalah yang paling benar sehingga menganggap pernyataan Dudung adalah benar untuk konteks kebangsaan dalam rangka menguatkan NKRI. Padahal, kemampuan akal dan pikiran manusia itu terbatas. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan para nabi berikut ajarannya untuk memandu akal agar tetap berada dalam koridor wahyu Illahi.

            Pernyataan Dudung tentang semua agama benar di mata Tuhan memang menjadi persoalan akidah. Untuk menilainya, dalam Islam harus bersandar pada dalil naqli yang berupa panduan tertulis dalam Al Quran dan hadits. Kemudian, ada dalil aqli dengan menggunakan akal secara baik dan seimbang. Jika mau berdiskusi ataupun berdebat dengan menggunakan dalil-dalil itu, akan sangat mudah dipahami dan diselesaikan. Tinggal kitanya mau mengikuti dalil atau mengikuti hawa nafsu. Setelah kebenaran tampak jelas, biarkan Allah swt yang memutuskan tindakan-Nya terhadap persoalan itu. Allah swt bisa memutuskannya dan mempertegas tindakannya di dunia atau di akhirat, terserah Dia sendiri.

            Perdebatan menjadi sangat semrawut karena meluas menjadi isu kebangkitan komunis dan penguatan NKRI. Padahal, sama sekali enggak ada hubungannya dengan pernyataan Jenderal Dudung. Para Kadrun dan para buzzer itu adu pintar hingga menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain.

            Hentikan segera perdebatan yang tidak ada artinya itu hingga meluas ke isu-isu lain yang tidak ada hubungannya. Kalau mau didiskusikan atau diperdebatkan, fokuslah ke kalimat Dudung, lalu analisislah dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dengan dasar yang jelas. Jangan ngecapruk hingga menyesatkan orang lain, kasihan orang lain jadi ikut salah berpikir dan bertindak.

            Bagaimana dengan pendapat saya sendiri?

            Baca saja tulisan saya yang lalu tentang pernyataan itu.

            Sampurasun.

Sunday, 25 April 2021

Nikmat Tuhan Mana Yang Kamu Dustakan?

 


oleh Tom Finaldin

 

Kali kedua saya menulis hal yang mirip ini.

Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa kita bisa makan, bekerja, bermain, bersekolah, bersosialisasi, dan melakukan aktivitas lain secara leluasa karena ada orang-orang yang menjaga kita.

Sesungguhnya, ada banyak orang yang menjaga kita setiap siang dan malam agar kita bisa hidup aman dan menjalani segala keseharian kita. Mereka adalah para prajurit yang selalu “meronda” di darat, di laut, dan di udara. Merekalah yang memastikan agar tidak ada yang mengganggu kedaulatan dan kehidupan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merekalah yang ditugaskan untuk menjamin situasi tetap stabil dan tumbuh ke arah yang lebih baik terlepas dari gangguan kejahatan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Kini satu elemen penjaga laut kita telah paripurna menjalankan tugasnya dan kembali menghadap penciptanya, Allah swt. Sangatlah baik untuk berterima kasih kepada mereka atas upaya menjaga kita dari laut milik Indonesia. Sangatlah mulia untuk mendoakan mereka agar kembali kepada Tuhannya dalam keadaan yang baik dan mulia. Melalui merekalah Allah swt mengirimkan penjagaan-Nya untuk negara dan rakyat Indonesia sehingga kita mendapatkan kenikmatan keamanan yang telah dan insyaallah akan terus kita rasakan.

Nikmat Tuhan mana yang bisa kita dustakan?

Selamat jalan “Nanggala 402”, terima kasih atas pengabdianmu. Allah swt yang paling tahu dirimu dan baktimu.

Para prajurit yang bekerja dalam senyap dan patuh pada keputusan politik pemerintah untuk mengintai, menyusup, bahkan memburu musuh itu meninggalkan kita dan tetap patuh hingga batas waktu yang ditentukan Allah swt tiba.

Sampurasun

Friday, 31 January 2020

Diplomasi Pertahanan Gus Dur-Prabowo


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ketika kita mendengar kata “pertahanan”, biasanya otak kita langsung terhubung dengan militer, prajurit, senjata, peluru, dan perang. Memang dari zaman dulu yang namanya pertahanan selalu berkaitan dengan dunia militer. Bahkan, di Eropa dan Amerika Serikat atau biasanya kita mengistilahkan dengan “barat”, dikenal pemeo bahwa “pertahanan yang terbaik adalah melakukan penyerangan”. Jadi, sebelum dirinya atau negaranya diserang, mereka melakukan penyerangan lebih dulu pada pihak-pihak yang dianggapnya mengancam eksistensi mereka, baik mengancam secara militer, politik, maupun ekonomi. Akan tetapi, sesungguhnya tidak begitu juga. Seiring perkembangan zaman, ada upaya-upaya pertahanan yang tidak selalu harus berkaitan dengan senjata, perang, dan pembunuhan. Upaya diplomasi adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mempertahankan diri.

            Presiden Abdurahman Wahid atau yang kerap dipanggil Gus Dur pernah melakukannya. Pada masa awal menjadi presiden, Gus Dur segera pergi ke berbagai negara untuk bersilaturahmi membangun persahabatan. Perilakunya ini mendapatkan reaksi negatif dari sebagian politisi dan sebagian besar rakyat Indonesia. Mereka menganggap bahwa Gus Dur terlalu sering ke luar negeri dan jarang berada di dalam negeri, padahal kondisi dalam negeri sedang dalam kondisi carut marut karena masa peralihan dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Saking seringnya pergi ke luar negeri, nama Gus Dur diplesetkan menjadi “Gus Tour”, Gus yang sering tour ke sana ke mari.

            Ada peribahasa bahwa “berkah orang bodoh adalah bisa berbicara dan berperilaku seenaknya”, tetapi “kutukan orang cerdas dan bijak adalah sulit berbicara dan berperilaku”. Orang bodoh bisa seenaknya berbicara dan berperilaku karena mereka tidak tahu apa-apa atau pemahamannya dangkal. Adapun orang cerdas dan bijak tidak bisa seenaknya, mereka selalu terbatas bicara dan bertindak, tidak bisa bicara dan berperilaku, kecuali memiliki dasar ilmu dan keyakinan yang benar.

            Kita pikir saja diri kita apakah termasuk penerima berkah sebagai orang bodoh atau terkutuk seperti orang bijak dan cerdas.

            Gus Dur dibuli habis-habisan karena orang tidak mengerti yang dilakukannya. Gus Dur berkunjung ke berbagai negara adalah untuk mempererat persahabatan dan menguatkan posisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat itu kondisi negara sedang lumayan terancam, misalnya, Aceh ingin merdeka dengan dorongan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Maluku juga ingin mendirikan negara sendiri dengan aktifnya Republik Maluku Selatan (RMS), demikian pula Papua dengan gerakan-gerakan separatismenya.

            Salah satu syarat berdirinya sebuah negara adalah adanya pengakuan internasional. Artinya, sebuah wilayah dapat dikatakan merdeka dan memiliki negara sendiri jika negara lain yang berdaulat mengakuinya sebagai sebuah negara. Hal itulah yang dicegah Gus Dur. Dengan kunjungannya ke berbagai negara, diharapkan negara lain tidak akan mengakui sepotong wilayah pun dari bagian NKRI sebagai sebuah negara. Dengan persahabatan dan hubungan yang erat, negara lain akan menghormati Gus Dur dan Negara Indonesia. Upayanya ini berhasil, NKRI utuh, tak ada perpecahan. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengerti sehingga membulinya habis-habisan.

            Sekarang terjadi juga hal yang mirip terhadap Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto. Dia dibuli karena sering keluar negeri dan jarang terlihat di Indonesia. Prabowo itu sesungguhnya sedang melakukan diplomasi pertahanan. Di samping memang diberi tugas untuk memperkuat Alutsista Indonesia, juga membina hubungan baik dengan negara lain agar Indonesia tetap utuh dan negara lain tidak melakukan aksi-aksi yang tidak perlu terhadap Indonesia. Prabowo melakukannya sebagaimana yang Gus Dur lakukan. Sayangnya, banyak orang yang tidak paham sehingga mengejek dan membuli Prabowo.

            Prabowo itu memiliki anggaran paling besar dari APBN dibandingkan kementerian lain. Sekitar 131,7 triliun yang harus dia kelola dan itu tanggung jawab yang besar untuk pertahanan dan keamanan negara. Oleh sebab itu, tak heran Presiden RI Jokowi segera pasang badan untuk membela Prabowo Subianto karena yakin bahwa Prabowo sedang melakukan tugas-tugas kenegaraannya.

            Jangan mudah ngoceh jika belum paham. Jangan bersuara jika hanya mengandalkan pemahaman yang dangkal apalagi berdasarkan hoax.

            Sampurasun.

Wednesday, 15 January 2020

Berhitung di Laut Natuna Utara


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Perilaku maling-maling ikan dari Cina itu memang menyebalkan dan mengesalkan.

            Orang Sunda bilang, “Nyiar-nyiar, ngeleketek, ngajak ngesang.”

            Maksudnya, Cina itu cari-cari perkara, bikin gara-gara, mengajak tinju.

            Perilaku seperti itu tentu saja membuat Indonesia mengerahkan sebagian kekuatannya untuk mengusir para penyamun Cina itu. Mulai Bakamla, TNI AL, sampai dengan TNI AU dikerahkan untuk mengamankan wilayah itu.

            Hal yang harus diperhatikan adalah biaya atau “cost” yang harus dikeluarkan untuk mengamankan wilayah itu. Tentunya, Indonesia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, pasti sangat besar. Untuk satu kali menerbangkan satu pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia saja, biaya yang harus dikeluarkan, saya dengar, Rp450 juta. Sekarang untuk mengamankan Laut Natuna Utara memang bukan Sukhoi, melainkan pesawat tempur buatan Amerika Serikat, F16. Mungkin biayanya tidak sebesar Sukhoi, tetapi bedanya tidak akan jauh. Sukhoi itu kan pesawat yang lebih terbaru dibandingkan F16.

            Kita bisa hitung dengan angka rupiah.

            Apakah biaya untuk mengamankan itu dapat tergantikan oleh hasil tangkapan nelayan Natuna di Laut Natuna Utara?

            Saya sangat ragu. Jangan-jangan biaya pengamanannya ratusan kali lipat dibandingkan hasil tangkapan nelayan Natuna.

            Mungkin tampaknya rugi, tetapi untuk sebuah harga diri dan semangat “NKRI Harga Mati”, itu kecil sekali, tidak ada apa-apanya. Mempertahankan harga diri, kedaulatan, dan kepercayaan internasional atas hak berdaulat Indonesia di Laut Natuna Utara  tidak bisa ditawar-tawar dan tidak bisa dinilai dengan uang. Harga diri dan kepercayaan internasional jauh lebih berharga.

            Meskipun demikian, kita tetap harus berhitung agar biaya pengamanan itu dapat terbiayai atau tergantikan oleh aktivitas nelayan Indonesia di Laut Natuna Utara. Oleh sebab itu, mengajak nelayan-nelayan dari Pulau Jawa dalam jumlah banyak adalah sangat tepat. Dengan banyaknya nelayan Indonesia yang beraktivitas di sana dengan berbagai kelengkapan kapal dan alat-alatnya dapat meningkatkan hasil tangkapan di Laut Natuna Utara.

            Nelayan Natuna harus memahami hal ini. Mereka tidak boleh egois. Hasil tangkapan mereka yang mungkin sedikit itu pasti tidak dapat sebanding dengan biaya pengamanan di kawasan itu. Terlalu besar biaya pengamanan, sedangkan hasil tangkapannya sedikit. Akan tetapi, aspirasi nelayan Natuna pun harus didengarkan oleh pemerintah. Menurut mereka, bukan ingin menghalangi nelayan Pulau Jawa, tetapi mengharapkan pemerintah mengaktifkan dulu atau lebih memanfaatkan nelayan natuna untuk berlayar dengan disertai berbagai fasilitas yang diperlukan. Itu benar. Akan tetapi, itu memerlukan waktu pembinaan yang cukup lama, sementara nelayan Cina terus-terusan mengintip kelengahan Indonesia untuk mencuri lagi ikan di Laut Natuna Utara.

            Hal yang lebih tepat dilakukan adalah undang nelayan Pantura atau dari Pulau Jawa sebanyak-banyaknya sambil melakukan pembinaan dan pelengkapan fasilitas kepada nelayan Natuna. Hal itu bisa dilakukan berbarengan. Ketika nelayan Natuna sudah mulai siap sendiri dan meramaikan sekaligus menjaga Laut Natuna Utara dengan segala aktivitasnya, barulah nelayan-nelayan Pantura dikembalikan ke Pulau Jawa atau diatur ulang aktivitasnya. Dengan demikian, hasil tangkapan dapat lebih banyak untuk membiayai pengamanan dan Laut Natuna Utara pun dapat lebih aman.

            Sampurasun.

Thursday, 12 December 2019

Tiga Paham Khilafah dan Satu Monas


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Masalah khilafah ini tidak pernah berhenti sejak keruntuhannya dulu di Turki dan masih ada orang yang berharap untuk ada lagi meskipun banyak juga yang menganggapnya hanya sebagai masa lalu. Kita tidak bisa melarang orang untuk berharap sekaligus tidak bisa memaksa orang yang sama sekali tidak merasa tertarik. Yang berharap, tetapi tidak kesampaian, paling-paling patah hati. Yang tidak tertarik, bisa tiba-tiba jatuh cinta. Semua kemungkinan itu selalu ada.

            Lumayan menarik “talk show” yang pernah digelar oleh “Kompas TV”. Ternyata, ada dua pemahaman berbeda tentang khilafah, dari NU dan FPI. Bagi Nahdlatul Ulama (NU), Indonesia dalam bingkai NKRI ini sudah merupakan kekhalifahan, khalifahnya adalah presiden. Selesai. Sangat sederhana.

            Berbeda dengan Front Pembela Islam (FPI) yang dengan tegas menyatakan, “Kita berbeda dengan HTI!”

            Dalam pemahaman FPI, khilafah yang didorong FPI ini melingkupi negara-negara Islam di seluruh dunia untuk bersatu menyelesaikan permasalahan-permasalahan umat. Misalnya, mendorong Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk bersama-sama membentuk kerja sama yang lebih rinci menyelesaikan masalah umat Islam di seluruh dunia. Di samping itu, FPI tetap setia pada Pancasila dan NKRI meskipun menggunakan embel-embel syariah.

            Persoalan FPI kan hanya pada sangat diperlukannya tercantum kata Pancasila di dalam AD/ART-nya. Kalau itu tercantum, permasalahan bisa lebih mudah diatasi.

            Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) memang tidak diajak dalam bincang-bincang tersebut, padahal getol menyuarakan khilafah. Oleh sebab itu, kita sulit memahami khilafah yang dimaksud oleh HTI.

             Apakah khilafah periode Khulafaur Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, atau Utsmaniyah?

            Apakah konsep khilafah hasil pemikiran HTI sendiri?

            HTI memang tidak jelas mengusung konsep yang mana dan bagaimana.

            Jika mengikuti pendapat NU dan FPI, bedanya tinggal sedikit lagi. Kalau perbedaannya diselesaikan, selesai sudah. Semua bisa sama-sama bergandeng tangan untuk menghindari fitnah, provokasi, dan membangun umat ke arah yang lebih positif. Biarkan saja terjadi diskursus dan gesekan-gesekan, itu biasa, kalem aja. Meski panas, hasilnya, insyaallah positif.

            Kita mesti bangga dan bersyukur karena memiliki Monumen Nasional (Monas). Monas itu berbentuk alu dan lumpang. Orang Sunda bilang halu dan jubleg untuk melembutkan/menghaluskan beras menjadi tepung. Halu itu berupa tiang yang menjulang tinggi yang di atasnya ada emas 18 karat. Adapun jubleg itu bagian bawahnya yang lebar. Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno cerdas membuat Monas. Monumen itu melambangkan bahwa halu itu adalah pemerintah yang harus membina masyarakat agar menjadi lembut, halus, dan sepaham. Pembinaannya harus teratur, kapan tenang dan kapan keras sesuai dengan kondisi masyarakat. Beras yang tidak bisa diatur biasanya terlempar ke luar jubleg dan menjadi sampah karena sudah kotor. Adapun beras yang masih mau berada dalam jubleg dan ditumbuk, ditutu, ‘dibina” oleh pemerintah, lambat laun akan menjadi halus, sepaham, dan lebih bermanfaat untuk melangkah ke fungsi selanjutnya. Sepintas beras menjadi halus adalah disebabkan oleh terus-menerusnya ditumbuk, itu benar, tetapi sebenarnya kehalusan itu sebagian besar diakibatkan oleh gesekan yang terjadi di antara beras itu sendiri.

            Artinya, gesekan yang sekarang terjadi di masyarakat pada dasarnya positif jika memiliki cita-cita yang positif minimal untuk bangsa dan negara, maksimalnya untuk kehidupan manusia di seluruh dunia. Jika tidak memiliki cita-cita yang positif, gesekan itu tidak bermanfaat sama sekali, bahkan akan terlempar keluar dari jubleg dan berakhir menjadi sampah.

            So, jangan khawatir dengan gesekan di masyarakat. Sepanjang positif dan saling berkorban untuk kebaikan bersama, hasilnya akan positif. Insyaallah.

            Sampurasun.

Sunday, 1 December 2019

Seandainya Indonesia Khilafah Hari Ini


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya ini sebetulnya oke-oke saja mau sistem politik apa pun asal ada “kesepakatan”. Mau kerajaan, presidensial, parlementer, republik, kekaisaran, ataupun kekhalifahan, it’s ok. Akan tetapi, sistem yang pasti saya tolak adalah sistem kerasulan karena kerasulan sudah selesai ditutup oleh Muhammad saw. Tak ada lagi nabi setelah beliau. Sistem yang berlaku sekarang di Indonesia adalah berdasarkan “kesepakatan” para pendiri bangsa waktu itu. Mereka yang tidak mau tunduk pada kesepakatan sudah dikalahkan secara politik dan militer. Jadilah sistem politik kita seperti sekarang ini.

            Kalau mau mengganti sistem politik sekarang, batalkan dulu kesepakatan lama, lalu buat kesepakatan baru. Mari berandai-andai, kita sepakat untuk mengganti sistem politik dengan sistem kekhalifahan pada hari ini atau minggu ini atau bulan ini atau tahun ini.

            Kalau kita sepakat mengganti dengan sistem kekhalifahan, memang siapa orang yang akan menjadi khalifah di Indonesia sebagai pemimpin 267 juta rakyat ini?

            Sehebat apa sih dia?

            Kalau kita tanya ke NU, mungkin jawabannya orang yang paling tepat untuk menjadi khalifah adalah Maruf Amin, Said Aqil Siradj, atau Habib Luthfi. Kalau kita tanya ke Muhammadiyah, mungkin jawabannya adalah Khalifah Haedar Nashir, Syafii Maarif, Amien Rais, atau Din Syamsudin. Kalau kita tanya ke Persis, mungkin jawabannya adalah Aceng Zakaria atau Yusril Ihza Mahendra. Kalau kita tanya ke FPI jawabannya mungkin Rizieq Shihab. Kalau kita tanya ke HTI, mungkin jawabannya Khalifah Ismail Yusanto.

            Akan berbeda pula jika kita tanya ke kelompok-kelompok nasionalis dan ke kelompok nonmuslim. Jawabannya akan sangat beragam dan memunculkan banyak nama.

            Jadi, siapa atuh orang yang pantas menjadi khalifah jika Indonesia menggunakan sistem kekhalifahan saat ini?

            Dengan banyaknya kelompok dan banyaknya aspirasi, kita akan menggunakan sistem pemilihan untuk memunculkan seorang khalifah. Itu artinya kita harus menggunakan cara-cara demokrasi karena pemilihan umum adalah salah satu ciri demokrasi.

            Balik lagi ke pemilihan bukan?

            Kalau tidak mau menggunakan pemilihan, kita akan terjebak pada pertarungan fisik yang bisa menghancurkan segalanya dan jatuh menjadi bangsa yang sangat terbelakang dan sangat miskin. Setiap kelompok menganggap pemimpinnya yang  paling pantas untuk menjadi khalifah.

            Kalau sudah semrawut dan saling bunuh, siapa yang rugi? Siapa yang untung?

            Kita yang rugi. Orang asing yang untung.

            Sampurasun.

Friday, 29 November 2019

Tentang Sukmawati Soekarnoputri


oleh Tom Finaldin


Bandung Putera Sang Surya
Puteri Presiden Pertama RI Ir. Soekarno ini kalimat-kalimatnya kerap membikin heboh rakyat Indonesia. Dulu soal puisinya yang menyabit-sabit soal adzan, kidung, cadar, konde.

            Baru-baru ini pun bikin heboh lagi dengan pertanyaannya di depan mahasiswa, “Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir. Soekarno untuk kemerdekaan?”

            Sebetulnya, penyelesaiannya tinggal dijawab saja.

            Bisa kan menjawabnya?

            Kalau mau diperdebatkan, ya berdebat saja.

            Persoalannya, Sukmawati mengeluarkan ucapan dengan hal-hal yang dianggap sensitif di tengah masyarakat Indonesia. Tidak semua orang memiliki sensitivitas yang sama. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang langsung berpikir, ada yang langsung marah, ada juga yang seperti saya. Saya ini suka kasihan sama Sukmawati, lalu merasa lucu.

            Saya kasihan sama Sukmawati karena tidak memahami Islam dengan baik, tetapi mencoba berbicara dengan menggunakan simbol-simbol Islam. Dengan demikian, kalimatnya bisa terdengar sangat asing dan aneh di telinga masyarakat Indonesia.

            Tampak sekali keterbatasan pemahamannya tentang Islam. Sebaiknya, Sukmawati jangan dulu berbicara dengan simbol-simbol Islam jika tidak mengerti dengan benar. Ngaji dulu deh. Kalaupun mau, sebaiknya Sukmawati memiliki staf yang memahami Islam dengan lebih baik sehingga dapat memberikan masukan kepada dirinya sebelum mengucapkan hal-hal yang terkait Islam.

            Saya juga merasa pengen ketawa, lucu soalnya. Sukmawati memang geram dengan adanya kelompok-kelompok radikal, intoleran, dan mengarah teror dengan maksud mengubah Negara Indonesia menyimpang dari tujuan sebenarnya yang telah diletakkan sebagai fondasi oleh para founding fathers, termasuk ayahnya, Ir. Soekarno. Akan tetapi, lucunya, kegeramannya itu ditunjukkan dengan menyitir simbol-simbol Islam, padahal simbol-simbol itu tidak salah apa pun. Seharusnya, yang “diserang” itu adalah orang-orang atau pihak-pihak yang menggunakan simbol-simbol Islam secara tidak benar untuk melakukan kekacauan berpikir dan kesemrawutan dalam kehidupan bermasyarakat di NKRI.

            Sebaiknya, Sukmawati memang tidak perlu lagi berbicara dengan menggunakan simbol-simbol Islam jika tidak mengerti dengan benar. Hal itu disebabkan banyak masyarakat muslim yang baik, taat, dan tidak bermasalah ikut merasa aneh dan menyayangkan ucapan-ucapan Sukmawati karena mereka pun sangat menghormati simbol-simbol Islam yang diucapkan Sukmawati Soekarnoputri. Di samping itu, tidak semua orang punya pikiran dan kesiapan mental untuk berbicara dalam satu gelombang yang sama dengan Sukmawati.

            Sampurasun.

Friday, 22 November 2019

Jihad Ala SM Kartosuwiryo


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Namanya Sekarmadji Maridjan Kartosoerwirjo. Kalau dalam ejaan bahasa Indonesia sekarang Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Kita singkat saja SM Kartosuwiryo. Dia adalah Presiden Negara Islam Indonesia (NII) yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 di wilayah Garut, Jawa Barat.

            Proklamasi NII ini dipicu oleh situasi politik saat itu di Indonesia pasca-Perjanjian Renville. Kekuasaan NII sudah dilemahkan oleh NKRI dan sekarang tidak memiliki pengaruh politik apa pun. Akan tetapi, saya tidak ingin menulis hal itu. Itu sudah menjadi sejarah, masa lalu.

            Hal yang membuat saya tertarik adalah tulisan SM Kartosuwiryo mengenai pengertian “jihad kecil” dan “jihad besar”. Istilah jihad kecil dan jihad besar sendiri memang berasal dari Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadits.

            Para pendakwah biasanya mengartikan jihad kecil sebagai perang fisik atau pertempuran bersenjata. Adapun jihad besar diartikan sebagai perang melawan diri sendiri atau melawan hawa nafsu. Dilihat dari kata “kecil” dan “besar”. Jihad kecil memang lebih mudah karena musuhnya nyata dan risikonya adalah membunuh atau dibunuh. Jihad besar itu lebih berat karena melawan hawa nafsu sendiri yang tidak nyata dan berasal dari keburukan diri sendiri. Perlu ketangguhan setiap hari untuk menang dalam jihad besar dan itu tidak mudah.

            Kita sendiri merasakan susahnya, bukan?

            Bangun untuk shalat Shubuh saja banyak yang sempoyongan dan gagal karena kembali berakhir di tempat tidur lagi. Untuk disiplin belajar dan bekerja saja, terseok-seok dan banyak alasan yang kemudian berakhir dalam masalah.

            Iya, kan?

            SM Kartosuwiryo memberikan pemahaman yang lebih luas soal ini. Menurutnya, jihad kecil itu selalu menimbulkan hal negatif, seperti, kerusakan, kehancuran, kesakitan, kematian, kemusnahan, keporakporandaan, dan kekalutan negara. Berbeda dengan jihad besar yang mengarah pada hal positif seperti  pembangunan bangsa dengan beragam pembangunan fisik semacam gedung pemerintahan, jalan, jembatan, lembaga pendidikan, tempat ibadat, dan infrastruktur lainnya. Di samping itu, jihad besar memiliki arah pula pada peningkatan sumber daya manusia, pemanfaatan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, serta penguatan terhadap keimanan beragama.

            Berdasarkan pendapat dari SM Kartosuwiryo tersebut, kita, bangsa Indonesia yang saat ini hidup damai, tidak dalam situasi perang, seharusnya memilih untuk melakukan jihad besar dengan cara membangun diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing diri. Tidak perlu melakukan jihad kecil yang arahnya pada pertarungan fisik dan penghilangan nyawa karena hasilnya bakal negatif serta termasuk aksi makar, huru-hara, terorisme yang jelas merusakkan perkembangan hidup rakyat Indonesia, baik materil maupun spiritual.

            Saat ini adalah masanya untuk jihad besar, bukan jihad kecil.

            Sampurasun.

Saturday, 9 November 2019

Semua Bisa Klaim Paling Kaffah


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Semua organisasi, komunitas, kelompok, grup, boleh dan bisa mengklaim diri sebagai manusia-manusia paling kaffah dalam menjalankan ajaran Islam. Semua tidak dilarang menganggap dirinya paling benar, paling menyeluruh dalam menjalankan Islam, paling total, atau setidaknya paling paham tentang “memasuki Islam secara kaffah”.

            Akan tetapi, benarkah klaimnya itu? Benarkah anggapan dirinya itu? Benarkah cara-cara yang dilakukannya itu?

            Kalaulah memang benar, benar menurut versi siapa? Menurut organisasi yang mana?

            Kalau ditanya pada NU, mungkin jawabannya adalah kaffah menurut cara dan versi NU. Kalau ditanya pada Muhammadiyah, jawabannya mungkin menurut cara dan versi Muhammadiyah. Kaffah dalam cara dan versi Persis mungkin berbeda dengan NU dan Muhammadiyah. Demikian pula jika ditanyakan pada organisasi-organisasi yang muncul belakangan ini, seperti, FPI atau HTI yang telah dibubarkan, mereka punya pemahaman dan cara sendiri. Hal yang sama akan terjadi jika ditanyakan pada Isis, Al Qaeda, Ash Shabab, atau Boko Haram, mereka punya pemahaman sendiri juga.

            Kalau pemahaman Islam Kaffah itu sama, kenapa tidak bersatu dalam satu organisasi saja untuk memperjuangkan yang sama?

            Kenyataannya, mereka tetap pada organisasinya masing-masing karena memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukan organisasinya adalah paling tepat dan cocok dengan diri mereka.

            Jadi, Islam Kaffah menurut cara dan versi siapa yang benar?

            Untuk menemukan pandangan Islam Kaffah yang paling benar, ada tiga cara, yaitu pertama, berdebat hingga lelah dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan akal, bukan dengan emosi rendahan. Kedua, menunggu Allah swt memberitakan kebenaran dengan cara-Nya sendiri di dunia ini. Ketiga, membiarkan semuanya sebagaimana adanya, lalu menyerahkannya kepada Allah swt agar diberitahukan kebenaran-Nya di akhirat nanti di pengadilan Illahi, siapa yang benar dan salah, siapa yang masuk surga dan neraka, bergantung nanti setelah kiamat.

            Berhati-hatilah menganggap diri paling benar sambil menunjuk yang lain adalah salah karena pengetahuan itu berkembang, para ahli ilmu terus meneliti, dan bacaan pun bisa bertambah. Bisa jadi apa yang kita anggap benar hari ini, ternyata salah pada hari lainnya.

            Bukankah sudah banyak contohnya?

            Mereka yang dulunya bergabung Isis atau melakukan aksi-aksi melawan negara yang sah, justru berbalik menjadi warga negara yang sangat baik. Bahkan, bekerja sama dengan pemerintah untuk menyadarkan saudara-saudaranya agar melaksanakan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dalam koridor NKRI. Keyakinan bisa berubah.

            Sering-seringlah membaca Surat Al Fatihah karena di sana ada doa “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus (benar)”. Semoga Allah swt mengantarkan kita ke jalan yang lurus itu.

            Bersikaplah bijak. Jangan mengklaim diri paling benar dan pasti masuk surga, kemudian menyalahkan orang lain sebagai calon penghuni neraka. Hal itu akan menyebabkan kita mudah mengafirkan orang lain. Itulah takfiri. Sikap itu akan mengacaukan perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan kaum muslimin.

            Sampurasun.

Thursday, 19 September 2019

Menjaga Anak-Anak Papua

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Papua adalah bagian dari Indonesia. Itu sejarahnya. Negara yang disebut Indonesia adalah seluruh wilayah bekas jajahan Belanda. Papua adalah wilayah bekas jajahan Belanda. Berbeda dengan Timor Timur yang bekas jajahan Portugis. Wilayah ini diperjuangkan untuk tetap bersama Indonesia dalam keadaan setengah hati. Oleh sebab itu, Timor Timur dengan mudah melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Timor Leste. Adapun Papua dipertahankan mati-matian karena memang salah satunya adalah memiliki sejarah yang sama dengan wilayah lain di Indonesia, bekas jajahan Belanda.

            Hal itu menandakan bahwa apa pun kondisinya rakyat Papua dengan rakyat wilayah Indonesia lainnya harus hidup bersama dalam suka dan duka, jatuh dan bangun, maju sejahtera bersama. Di sinilah letaknya kewajiban melaksanakan ajaran Prabu Siliwangi, yaitu silih asih, silih asah, silih asuh, ‘saling mengasihi, saling mencerdaskan, saling melindungi’.

            Terkait kejadian rasis dan memanasnya Papua beberapa waktu lalu, harus menjadi perhatian serius seluruh bangsa ini tanpa kecuali. Baik aparat, pendidik, dan masyarakat harus sama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Upaya itu tidak selalu harus dengan hard power, ‘kekerasan’, tetapi juga dengan soft power, ‘ajakan lembut dan pemahaman’. Salah satu upaya soft power yang dilakukan polisi dari Polsek Arcamanik, Bandung adalah contoh yang baik. Tadi siang mereka datang bersama TNI bersilaturahmi ke kampus Universitas Al Ghifari (Unfari), Jln. A.H. Nasution No. 247, Bandung. Mereka dengan ramah menyapa para mahasiswa, lalu menemui pejabat kampus, termasuk dosen. Kebetulan saya sedang ada jadwal mengajar di sana.





            Mereka datang menanyakan kondisi anak-anak Papua yang kuliah di Unfari. Mereka merasa kehilangan karena beberapa mahasiswa asal Papua yang biasanya akrab dengan mereka dan aktif di masyarakat hilang tiba-tiba sejak kejadian rasisme di Surabaya itu. Kami pun merasa kehilangan karena kejadian di Surabaya itu bertepatan dengan masa libur kuliah. Sejak saat itu banyak yang belum kembali ke kampus meskipun ada juga yang terus menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Dalam diskusi itu, dicapai kata sepakat bahwa kewajiban kita adalah memberikan kesadaran dan dorongan kepada mereka agar membaur dengan masyarakat. Bahkan, kepolisian bersedia memberikan berbagai fasilitas jika mereka hobi futsal atau bermain musik. Adapun saya bersama dengan teman-teman dosen lainnya berkewajiban memberikan pemahaman dari sisi ilmu politik, ilmu pemerintahan, dan ilmu kebijakan publik karena kebetulan dosen yang hadir saat itu berasal dari Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unfari.

            Pihak kepolisian sudah mendeteksi keberadaan mereka. Upaya pendeteksian itu bukan untuk menakut-nakuti atau melakukan penangkapan, melainkan untuk pembinaan dan pembauran agar meminimalisasi sikap rasis dan  membangkitkan rasa persaudaraan dan persatuan.




            Selain hal itu, ada kesamaan pandangan lain antara saya dengan kepolisian, yaitu adanya dugaan pihak-pihak lain yang berupaya menebarkan provokasi kepada saudara-saudara Papua kita untuk memisahkan diri dari saudara-saudara Indonesia lainnya. Hal itu disebabkan saya tahu benar bahwa murid-murid saya itu tidak mungkin memiliki gagasan sendiri semacam itu jika tidak diprovokasi oleh aktor intelektual yang menginginkan adanya kericuhan. Murid-murid saya sebenarnya orang-orang baik dan memiliki kesempatan yang luas di Papua jika mau belajar dengan baik dan tidak mendapatkan provokasi negatif dari pihak lain yang bergerak secara sembunyi-sembunyi.

            Berkaitan dengan hal itu, saya sesungguhnya agak kurang puas jika harus hanya memberikan pemahaman kepada murid-murid saya karena hal itu sudah menjadi kewajiban saya tanpa harus ada diskusi dengan kepolisian pun. Saya akan senang jika berdiskusi bahkan berdebat hingga lelah dengan mereka yang suka memprovokasi situasi secara negatif. Biarkan terbuka berdebat soal politik di Papua terkait hal apa pun tentang keinginan merdeka dan pentingnya bergotong royong untuk maju bersama dalam NKRI. Biarkan orang lain yang menilai baik, buruk, logis, ataupun tidak logis. Biarkan ilmu, data, dan kaidah akademis yang bicara.

            Papua adalah kita. Kita adalah bersaudara.

            Sampurasun.