Showing posts with label Habib Luthfi bin Yahya. Show all posts
Showing posts with label Habib Luthfi bin Yahya. Show all posts

Wednesday, 3 May 2023

Jangan Lagi Panggil Habib Jika Tak Layak

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang yang mengartikan habib. Ada yang mengartikan secara bahasa, secara makna, secara sosial, secara rasa, dan lain sebagainya.

            Kali ini saya tulis dua arti yang disampaikan dua habib, lalu kita bisa bersandar pada pendapat keduanya. Pertama, Habib Luthfi bin Yahya. Kedua, Quraish Shihab. Mereka berdua berasal dari Ba Alawi. Sekalian juga tulisan ini untuk membantah mereka yang menyangka atau menuduh saya adalah pembenci para habib. Tuisan saya ini bersandar pada habib. Tidak benar saya membenci habib. Saya itu membenci perilaku yang salah. Perilakunya yang saya benci, orangnya mah tidak.

            Menurut Habib Luthfi, kata habib bermakna “kekasih”. Gelar habib bisa diberikan kepada orang yang dicintai atau dikasihi.

            Menurut Quraish Shihab, habib artinya “orang yang dicintai karena mencintai”. Oleh sebab itu, Quraish Shihab selalu tidak mau disebut habib karena merasa belum bisa “mencintai umat”. Ini soal rasa.

            Akan tetapi, ketika didesak puterinya, Najwa Shihab yang reporter itu, Quraish Shihab memperbolehkan Najwa dan saudaranya, termasuk istrinya untuk memanggilnya habib karena Quraish Shihab merasa bisa mencintai istri dan anak-anaknya, tetapi tidak bersedia dipanggil habib oleh orang lain dengan alasan belum mampu mencintai umat. Padahal, cintanya kepada umat luar biasa besar dengan karya besarnya tafsir Al Misbah.

            Kita lihat dari pendapat keduanya. Ada kata “kekasih, cinta, dan mencintai”. Saya tidak menggunakan pendapat sekelompok orang yang sering mengartikan habib adalah “keturunan Nabi Muhammad saw”.   

Orang yang dicintai itu harus sudah terbukti mencintai terlebih dahulu. Artinya, seseorang yang layak disebut habib itu harus sudah terbukti dahulu mencintai umat. Cinta itu harus dibuktikan, bukan hanya di omongan, teriakan kasar, ataupun paksaan. Seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan harus membuktikan dahulu cintanya sehingga perempuan itu balik mencintainya. Misalnya, Si Pria selalu menanyakan kabarnya, berupaya memenuhi kebutuhannya, membantunya, memecahkan kesulitannya, melindunginya, berkorban untuknya, membimbingnya untuk lebih baik, dan selalu ada untuknya jika diperlukan. Begitu pula sebaliknya. Itu contoh bukti cinta.

            Jika mengikuti pendapat Habib Luthfi dan Quraish Shihab, orang yang layak disebut habib itu adalah orang yang sudah terbukti cintanya kepada umat sehingga layak untuk dicintai. Menurut Habib Zen bin Smith, para habib itu seharusnya melayani umat, mengayomi, melindungi, memberikan contoh yang baik; kalau ada orang membungkuk kepadanya, habib harus lebih membungkuk kepada orang itu.

            Contoh menarik adalah disampaikan oleh Ustadz Suparman yang melihat langsung banyak orang nonmuslim, khususnya Kristen yang hanya memandang wajah Habib Luthfi saja sudah menangis. Orang Islam lebih banyak lagi yang merasa teduh memandang Habib Luthfi. Kalau saya sendiri sih, selalu bersemangat kalau melihat Habib Luthfi. Itu soal rasa. Hal itu disebabkan Habib Luthfi sudah menunjukkan rasa cintanya bukan hanya kepada umat Islam melainkan pula umat nonmuslim yang merasa terlindungi dan terjamin ketenangannya sebagai warga Negara Indonesia minoritas.

            Wajar kalau mereka disebut habib karena orang sudah merasa mendapatkan cintanya. Demikian pula dengan Habib Jindan, Habib Husein Baagil, dan habib-habib lain yang selalu positif berdakwah dan berperilaku.

            Sangatlah aneh jika ada orang-orang dari keturunan mana pun yang teriak-teriak memaksa agar dirinya dihormati dan dimuliakan, padahal tidak ada bukti cinta apa pun dari mereka kepada umat. Bahkan, mereka memaksa orang lain untuk mencintainya tanpa mereka harus mencintai orang lain. Mereka kerap melakukan promosi mendapatkan “syafaat Nabi saw” kalau orang mencintai mereka. Jika orang tidak memuliakan mereka, tidak akan mendapatkan syafaat Nabi saw.

Begitu kan iklan promo mereka berulang-ulang?

Sekarang sudah banyak orang yang sangat kesal dengan promo tak berdasar itu, apalagi setelah ada penelitian dari Kiyai Imad bahwa mereka yang sering teriak nasab nasab itu diragukan nasabnya tersambung ke Nabi Muhammad saw. Syafaat Nabi saw itu akan turun kepada orang yang bertakwa, menjalankan Islam dengan benar, dan memberikan banyak manfaat bagi manusia seluruhnya. Itulah rahmatan lil alamin.

Jadi, jika mengikuti pendapat Habib Luthfi dan Quraish Shihab, sangatlah layak menyebut habib kepada orang yang sudah terbukti cintanya kepada umat. Sama sekali tidak layak memanggil habib kepada orang yang tidak mencintai umat, bahkan membuat umat berhati keras, berkepala batu, dan penuh kebencian.

Sampurasun.

Saturday, 1 January 2022

Makin Diserang, NU Makin Kuat

 


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Nahdlatul Ulama (NU) mendapatkan serangan yang begitu sering dan begitu besar. Akan tetapi, semua serangannya sama sekali tidak masuk akal dan lemah. Nilainya hanya sama dengan berisik di telinga. Serangannya hanya dipercaya  oleh orang-orang bodoh yang memang sudah memiliki kebencian sejak lama. Saking banyaknya serangan, kebanyakan kalau saya tulis semuanya. Akan tetapi, paling tidak yang mencuat akhir-akhir ini bisa diingat banyak orang. Disebutnya NU seperti bis yang diisi oleh orang-orang mabok; diotak-atik sejarahnya antara Hasyim Asyari dan Hasan Dipo; Terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU 2021-2026 yang dituding akan menjadi sumber kegaduhan Indonesia.

            Serangan akhir-akhir ini yang semakin keras tidak lepas dari urusan politik Negara Indonesia. NU telah dan sedang menjadi benteng penguat NKRI yang sangat besar peranannya dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Banyak yang menyerang pemerintah dengan memanipulasi agama; jualan sorga dan neraka; tuduhan kafir, murtad, zalim, munafik; pengkultusan terhadap individu; pemecahbelahan umat. Akan tetapi, itu semua mendapatkan batu sandungan yang sangat besar dan kuat, batu penghalangnya itu adalah NU. Mereka yang menyerang pemerintah itu sangat tahu bahwa upaya mereka akan selalu sia-sia karena ada NU yang berdiri untuk mempertahankan negara. Oleh sebab itu, mereka menyerang NU dengan harapan NU terpecah dan lemah dengan berbagai narasi dan informasi yang menyesatkan tak berdalil.

            Meskipun banyak mendapatkan serangan, tampaknya NU menjadi semakin kuat. Itu bagus. Hal ini malah semakin terlihat dengan dikukuhkannya Dr. Muhammad Luthfi bin Yahya atau yang lebih akrab disapa Habib Luthfi menjadi Ketua Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Hal ini tidak lepas dari keinginan Ketua BNPT Boy Rafli Amar bahwa tokoh agama seperti Habib Luthfi dapat meredam ideologi terorisme yang bisa dimunculkan melalui paham-paham keagamaan yang sempit yang berujung pada tindakan kekerasan. Di samping itu, semua orang tahu bahwa warga NU sangat menghormati dan berguru kepada Habib Luthfi. Artinya, secara politik NU akan menjadi peredam pula dari segala aktivitas yang mengarah pada tindakan radikalisme dan terorisme dalam menjaga integrasi bangsa.

            Dengan melihat hal ini NU menjadi semakin kuat karena mendapatkan kepercayaan yang sangat besar, tetapi menjadi bertambah besar pula tugas dan kewajiban NU dalam menstabilkan kehidupan bernegara. Akan menjadi hal yang tidak aneh jika semakin keras pula serangan-serangan yang akan didapatkan NU dari pihak-pihak lain. Itu adalah risiko yang harus ditanggung NU. Akan tetapi, negara akan berada membekingi NU karena NU pun sudah menjadi beking negara.

            Ini adalah perjalanan hidup. Mau tidak mau harus dijalani.

            Bukankah salah satu bukti iman itu harus diwujudkan dalam  kecintaan kepada negara?

            Sampurasun.

Wednesday, 15 December 2021

Makin Sengit Tarung Antarhabib

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Seperti yang sudah saya duga sejak kemarin-kemarin bahwa pertarungan antarhabib ini tidak berhenti dan makin seru. Benar saja, akhir-akhir ini makin keras. Bahkan, bukan hanya para habib yang berseteru, melainkan pula melibatkan teman-temannya atau sahabat-sahabatnya.

            Bagi saya, semakin seru semakin sengit adalah semakin bagus. Ini menjadi pelajaran nyata dari Allah swt bahwa sesungguhnya mereka juga sama seperti orang-orang bukan habib, bukan keturunan Nabi Muhammad saw. Mereka bisa berbeda pendapat, beda pilihan, bertengkar, punya keinginan terhadap duniawi, harus belajar, dan lain sebagainya yang semuanya sama dengan kita-kita ini. Di samping itu, semakin heboh pertarungannya semakin baik asal bertarung dalam ilmu pengetahuan, jangan bertarung adu fisik. Siapa pun yang memulai adu fisik atau perkelahian, dia adalah orang kampungan, purba, kuno, kolot, dan tidak berpendidikan. Kalaupun dia habib, tetapi jika memulai atau memancing adu jotos, bagi saya dia adalah orang yang kampungan dan brengsek. Jika pertarungannya sebatas debat atau dalam kajian ilmu, saya pun akan mendapatkan banyak pengetahuan baru. Akan tetapi, jika mulai adu fisik, saya hanya akan melihat “adu ayam jago” dan itu hanya akan mempermalukan Nabi Muhammad saw. Saya tidak rela kesucian, keagungan, dan keluhuran akhlak Rasulullah saw dicederai oleh mereka yang mengaku-aku sebagai keturunannya.

            Saya harus memberi istilah kepada para habib yang sedang bertarung itu. Dulu saya membagi dua istilah, yaitu habib pendukung Prabowo dan habib pendukung Jokowi. Sekarang istilah itu sudah tidak tepat karena Prabowo sudah menjadi pendukung setia Jokowi.  Saya mencoba membedakan keduanya saat ini dengan istilah habib grup 212 dan habib grup pro-Jokowi. Sebut saja habib 212 dan habib Projo. Kedua istilah ini masih belum tepat juga sebetulnya karena habib Projo ini kerap memberikan kritikan keras kepada pemerintahan Jokowi jika ada hal yang menurut mereka perlu diluruskan.  Akan tetapi, dalam tulisan ini saya harus membedakan keduanya karena mereka memang berbeda.

            Dulu istilah habib ini seolah-olah dimonopoli oleh grup 212 dengan teriakan-teriakannya serta menyebarkan keharusan atau kewajiban untuk menghormati dan patuh kepada mereka tanpa syarat. Sementara itu, habib Projo lebih tenang dalam melawan habib 212. Quraish Shihab melawan dengan perilakunya yang enggan menggunakan gelar habib karena merasa malu kepada Nabi Muhammad saw dan juga tampak menjadi beban bagi dia karena dengan gelar habib harus berperilaku sama dengan Nabi Muhammad saw. Terlalu mulia baginya Nabi Muhammad saw. Alwi Shihab melawan dengan lebih keras, tetapi tetap dengan bahasa yang lembut dengan mengatakan bahwa sekarang ini ada yang memanfaatkan gelar-gelar habib untuk kepentingan dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan Islam atau umat Islam.

            Kondisi ini membuat Habib Kribo Zen Assegaf marah besar. Dia memang sangat keras dan berani. Tak tanggung-tanggung, dia bisa sangat mudah memberikan cap kepada para habib yang tidak disukainya dengan sebutan “Habib Sakit Jiwa, Habib Gila, Habib Iblis, Habib Keturunan Campur Syetan”. Dia sangat tidak menyukai para habib yang membuat kerusakan pada Indonesia dan menyesatkan pikiran umat, apalagi jika para habib itu hidup mewah dan menuntut umat untuk menjadikannya sebagai manusia yang paling mulia. Bagi dia, habib itu tidak ada apa-apanya. Semua manusia memiliki hak yang sama menjadi orang mulia di hadapan Allah swt, bergantung pada perilaku dan ketakwaannya. Dia sendiri, sebagai habib keturunan Nabi Muhammad saw, merasa malu kepada rakyat Indonesia karena ada orang-orang yang mengaku habib keturunan Arab, tetapi membuat kerusakkan di Indonesia.

            Kehadiran Habib Kribo dengan segala serangannya yang sangat keras memukul itu membuat para habib 212 dan teman-temannya kalang kabut. Mereka mencoba menyerang balik Habib Kribo. Pertarungan pun makin sengit. Saling serang di media sosial mereka masing-masing dan itu  bisa dilihat oleh semua orang. Hal itu sudah menjadi konsumsi publik. Mereka punya lingkaran persahabatan masing-masing dan sahabat-sahabatnya itu membantu para habib itu. Habib Kribo  bersahabat dengan Gus Nuril. Kalau disebut Gus Nuril, lingkarannya itu nyambung ke Gus Baha, Gus Mus, dan terkait kepada Habib Luthfi bin Yahya. Lebih jauh lagi, ya ke Kiyai Hasyim Asyari. Adapula Habib Husein Baagil yang satu pikiran dengan Habib Kribo untuk selalu menjaga NKRI dan menghormati para penyelenggara negara sepanjang berada di jalan yang benar.

            Sungguh makin sengit pertarungan mereka. Bahkan, kini semakin memanas karena Habib Kribo dilaporkan oleh Aldo, masih dari kalangan habib 212, ke kepolisian karena dianggap telah mencemarkan nama baik dirinya. Akan tetapi, para pendukung Habib Kribo selalu memberikan semangat untuk tidak takut pada laporan itu. Bahkan, pendukungnya menyatakan bahwa pelaporan itu akan berbalik kepada Aldo sebagai pelapornya dan bisa justru menjerumuskan Aldo ke penjara.

Pelaporan kepada polisi ini bagi saya, sungguh memalukan umat Islam dan sekaligus sangat lucu.

            Mengapa memalukan?

            Mengapa sangat lucu?

            Insyaallah, dalam tulisan berikutnya saya akan jelaskan pendapat saya. Kalau dijelaskan dalam tulisan ini, akan terlalu panjang. Bisi cape macana.

            Sampurasun.

Friday, 3 December 2021

Pertarungan Antarhabib

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Istilah “habib” ini semakin populer sejak pemilihan presiden pada 2019 lalu. Banyak pendukung Prabowo yang mengaku habib mengumpulkan dan mempengaruhi massa untuk memilih Prabowo. Suara keras para habib ini mendorong para habib lain yang berada di sisi Jokowi. Mereka mendukung Jokowi dan mempengaruhi massa untuk mendukung dan membela Jokowi. Baik para habib pendukung Prabowo maupun pendukung Jokowi sama-sama berdoa untuk kemenangan jagoannya masing-masing agar menjadi presiden.

            Hasilnya, kenyataannya, dukungan dan doa para habib pendukung Jokowi adalah yang dikabulkan Allah swt. Buktinya, Jokowi yang menjadi presiden, adapun Prabowo dihormati Jokowi dengan menjadikannya sebagai menteri pertahanan. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah.

            Hal ini menunjukkan bahwa di antara para habib terjadi perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, perbedaan piikiran, dan perbedaan pilihan. Jadi, masyarakat yang tidak merasa sebagai habib, jangan takut dan tidak perlu merasa berdosa jika berbeda pandangan atau pendapat dengan para habib. Toh, di antara mereka sendiri berbeda, tidak satu suara. Bisa kita ingat habib pendukung Prabowo saat itu ada Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith; habib pendukung Jokowi ada Quraish Shihab, Alwi Shihab, dan Habib Luthfi bin Yahya. Itu kenyataannya, mereka berbeda posisi. Jadi, tenang saja. Biasa saja, berbeda pendapat itu normal. Hal yang salah itu adalah melakukan kebohongan, fitnah, ujaran kebencian, dan provokasi yang membahayakan nyawa.

            Perbedaan pendapat dan pikiran di antara para habib ini sekarang semakin mengeras dan mengarah pada pertarungan. Hal ini dapat dilihat setelah bebasnya Bahar bin Smith dari penjara Gunung Sindur. Saya sangat berharap bahwa Bahar bin Smith bisa berubah sikap dan cara lebih baik lagi sehingga bisa menjadi penerang umatnya. Sayangnya, beberapa saat setelah keluar dari penjara Bahar bin Smith berceramah sangat kasar dengan mengancam dan menantang para habib, para kiyai, dan para ulama yang membiarkan Rizieq Shihab masuk penjara. Dia akan mendatangi mereka karena menganggap mereka adalah pengkhianat. Ancaman dan tantangan ini tentu saja dijawab dengan tantangan lagi oleh Habib Kribo Zen Assegaf. Dia memang berambut kribo. Habib ini memiliki jiwa petarung. Habib Kribo ini merasa sangat malu bahwa para habib derajatnya diturunkan oleh perilaku Bahar sehingga banyak rakyat Indonesia yang melakukan penghinaan kepada para habib. Dia mengatakan tidak takut Bahar dan akan melawan Bahar. Dia pun merasa sangat malu karena baik dirinya maupun Bahar adalah pendatang yang telah diterima dengan baik sebagai keturunan Arab oleh bangsa Indonesia untuk hidup dengan baik di Indonesia. Jadi, menurutnya sangat buruk jika membuat kekacauan di Indonesia.

            Sungguh, mereka mulai bertarung. Jika ini diteruskan dan semakin meruncing, akan ada habib-habib lain yang ikut masuk dalam pertarungan ini.

            Bagus tidak situasi seperti ini?

            Bagi sebagian orang mungkin perseteruan ini jelek, tetapi bagi sebagian lain mungkin bagus.

            Bagi saya pribadi, pertarungan itu bagus jika sebatas pertarungan pemahaman, pikiran, dan pendapat. Biarkan para habib itu mengeluarkan ilmunya masing-masing dan kita sebagai masyarakat bisa menilainya, mana yang berdasarkan Al Quran dan hadits-hadits shahih serta mana yang hanya mengandalkan pikiran dan emosinya sendiri. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari perdebatan itu sekaligus menentukan sikap. Akan tetapi, pertarungan akan berubah menjadi malapetaka jika sudah menjadi pertarungan fisik, kampungan itu namanya.

            Hal yang harus diperhatikan adalah hindari ucapan dan perilaku yang melanggar hukum, baik hukum pidana maupun perdata. Tak perlu lagi ada yang masuk penjara atau ada yang mati gara-gara perbedaan pemahaman dan pilihan.

            Sampurasun.

Saturday, 28 March 2020

Jangan Parno, Bawang Merah Aja


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Untuk memberikan keterangan yang bisa dipertanggungjawabkan tentang Covid-19/virus corona, sebetulnya pemerintah sudah membuat situs resmi dari tingkat pusat hingga daerah agar masyarakat tidak terjebak dan tertipu oleh status-status Medsos abal-abal yang banyak mengandung hoax. Di samping itu, masyarakat pun dapat mengikuti berita dari “media-media mainstream” yang jelas perusahaannya dan menggunakan prinsip-prinsip serta etika jurnalistik, bukan dari akun-akun Medsos yang ngaku-ngaku media serta gemar mengedit foto dan judul berita sehingga menyesatkan orang.

            Sayangnya, banyak sekali orang yang justru lebih suka percaya pada sebaran postingan dari akun-akun pribadi yang tidak resmi, mungkin karena lebih seru dan heboh. Padahal, di Hp-nya ada “link” yang menuju situs-situs resmi. Akibatnya, orang-orang jadi panik dan ketakutan berlebihan. Bahayanya, jika dibiarkan, akan menjadi paranoid dan itu sudah menjadi penyakit mental. Seolah-olah dirinya selalu merasa terancam akan mati dibunuh, dianiaya, disakiti oleh sesuatu yang sebetulnya tidak seperti dalam kenyataannya. Penyembuhannya harus di rumah sakit jiwa kalau sudah seperti ini.

            Hal yang diharapkan dari “social distancing” atau pembatasan interaksi manusia ini adalah sikap waspada dan kehati-hatian yang tinggi ketika beraktivitas. Tidak perlu ke luar rumah jika tidak penting-penting amat. Jangan di luar rumah terlalu lama, jaga kebersihan, tetap hidup sehat, konsumsi makanan sehat, lindungi diri dan orang lain dari penyakit, tetap beribadat dengan baik. Dengan demikian, kita dapat memutus mata rantai penyebaran virus. Itu yang diharapkan, bukan kepanikan, ketakutan berlebihan, bahkan paranoid.

            Ada kisah seorang wali atau aulia atau orang mulia kadang pula disebut orang saleh yang berdiskusi dengan wabah penyakit. Sang Wabah menyatakan bahwa dirinya diutus Allah swt untuk membunuh seribu orang di suatu wilayah. Akan tetapi, dalam kenyataannya 50.000 orang yang mati.

            Sang Wali bertanya, “Bukankah engkau diutus untuk membunuh seribu orang, tetapi kenapa yang mati 50.000 orang?”

            Sang Wabah menjawab, “Aku memang membunuh seribu orang, yang 49.000 orang lagi mati karena panik.”

            Hal ini mirip seperti yang dikatakan Ibnu Sina, orang barat  menyebutnya Avicena, Bapak Ilmu Kedokteran Dunia. Kalau tidak salah, dia pernah mengatakan bahwa kepanikan bisa mempercepat kematian, ketenangan mempermudah kesembuhan, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan. Koreksi jika saya salah mengisahkan.

            Hal ini pun seperti yang sering saya dengar waktu masih kecil. Jalan menuju rumah orangtua saya itu  lurus berhadapan dengan kamar mati Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Di sampingnya ada Masjid Asy Syifa. Sekarang kamar mati dan masjid itu sudah pindah posisi karena pembangunan RSHS. Jalan itu hanya dipisahkan oleh Jln. Sukajadi dan sebuah taman yang kadang disebut Lapang Kawat karena banyak kawat, kadang pula disebut Lapang Abo karena ada Mang Abo yang sering nangkring di situ. Di pinggir lapang ada sekolah kedokteran gigi, di belakangnya ada sekolahan ahli gizi. Pokoknya, di sana itu banyak ahli kesehatan. Mereka banyak yang kost dekat rumah saya. Oleh sebab itu, mereka sering ngobrol dengan ayah saya. Saya kerap menguping obrolan mereka.

            Dari obrolan mereka, saya dengar bahwa 60% pasien RSHS, baik yang rawat inap maupun rawat jalan, sebenarnya tidak sakit. Mereka hanya “merasa sakit”. Perasaan saja. Pasien yang benar-benar sakit hanya 40%. Dari hal itu, kita bisa belajar bahwa rasa panik itu memang bisa membuat sakit yang sebetulnya tidak perlu sakit.

            Dalam situasi seperti ini yang bisa membuat orang panik, cobalah tenangkan diri. Banyak metode untuk menenangkan diri, bisa shalat, dzikir, memikirkan hal-hal positif, kontemplasi, meditasi, dan lain sebagainya.

            Kalau mau mencoba cara seperti saya, silahkan saja. Sebagai seorang muslim, tentu saja saya melakukan peribadatan sebagaimana seorang muslim. Di samping itu, gunakan bawang merah. Ini berawal dari percobaan menarik, lalu menghubungkan beberapa kejadian terkait bawang merah. Saya membaca sebuah tulisan tentang khasiat bawang merah yang merupakan magnet bagi berbagai virus. Dalam tulisan itu yang penulisnya mengaku seorang dokter pernah memeriksa bawang yang telah dikupas dan disimpan di dalam rumah. Ternyata, setelah diteliti di dalam bawang itu banyak virus yang telah menghitam dan mati. Penghuni rumah tidak pernah terserang penyakit flu/influenza. Oleh sebab itu, dia menyarankan jangan menyimpan bawang merah yang telah dikupas karena menyedot virus. Buang saja, kecuali untuk segera dimasak. Lebih dari satu hari sudah bisa dipenuhi virus.

            Saya tiba-tiba teringat nenek saya yang sering merangkai bawang merah dan bawang putih yang telah dikupas, lalu digabungkan/dijahit seperti tasbih dengan cabe merah yang telah dibelah pula sehingga kelihatan isinya. Dia menyebutnya “panglay” atau “pangle”. Lalu, disimpan di pinggir kasur tempat tidur. Dulu saya menganggapnya takhayul, mengada-ada karena itu katanya untuk mengusir hantu atau roh jahat.

            Ketika saya baru punya anak satu, masih bayi, lalu membeli rumah di daerah Jln. Caringin, Bandung, mertua saya pun melakukan hal yang sama, merangkai bawang merah, bawang putih, dan cabe, bahkan ditambah jarum-jarum kecil. Katanya untuk mengusir hantu atau energi negatif dari rumah. Kali ini saya benar-benar ngeyel, saya buang panglay itu, lalu saya membeli kentongan yang berbentuk cabe merah, besar sekali.

            Saya bilang sama istri saya, “Kalau ada hantu atau roh jahat, pukul saja sama kentongan ini. Kentongan cabe ini mah keras dan besar, cabe yang itu mah kecil, mudah busuk lagi.”

            Istri saya diam saja. Tidak marah dan tidak juga setuju. Biasa saja.

            Akan tetapi, saat ini ketika Covid-19 mewabah, kemudian membaca tulisan tentang khasiat bawang merah, saya ingat sama nenek dan mertua saya. Mungkin yang dimaksud mereka hantu dan roh jahat itu adalah virus penyakit, salah satunya penyakit flu yang dijelaskan dokter peneliti tadi. Apalagi setelah ada imbauan dari Ketua Forum Ulama Sufi Dunia Habib Luthfi bin Yahya yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden bahwa untuk menghindari virus corona adalah dengan cara memakan tiga siung bawang merah yang telah dikupas, lalu membaca shalawat sebanyak 1.616 kali. Saya makin penasaran dengan khasiat bawang merah itu. Menurut Habib Luthfi, virus corona takut sama bawang merah.

            Ketika istri saya, anak pertama, dan anak kedua batuk-batuk ditambah sedikit flu serta tidak sembuh-sembuh padahal sudah berobat, saya khawatir berat. Pada masa ini, masa “social distancing”, untuk mencegah penyebaran virus corona, saya memang rada cemas. Saya pun membeli obat brochifar ke toko obat, tetapi hari ke-5 tidak juga berkurang batuknya, bahkan malam-malam hingga subuh terus saja mereka batuk-batuk.

            Saya mulai mencoba khasiat bawang merah itu berdasarkan pengalaman nenek saya, mertua, tulisan tentang bawang merah, dan anjuran Habib Luthfi bin Yahya. Saya kupas tiga siung bawang merah dan mengunyahnya, lalu membaca shalawat. Memang ada rasa hangat ke pangkal hidung, sedikit manis, tetapi ke sananya “pahang” atau serasa “pengar”. Membaca shalawat ketika baru mengunyah bawang merah memang menimbulkan rasa hangat yang khas di mulut dan hidung. Besoknya, pukul 04.00 Wib, subuh, saya kupas lagi tiga siung bawang merah, lalu digabungkan pakai tusuk sate hingga berbentuk seperti sate, lalu disimpan di ruang tengah. Bagusnya sih di setiap kamar ada. Saya mempunyai empat kamar tidur, biar nanti saja pemilik kamarnya masing-masing yang bikin sate bawang itu. Saya hanya mencobanya satu saja di ruang tengah.

Sate Bawang Merah Mentah


            Setelah sate bawang merah mentah itu disimpan di ruang tengah, saya bilang sama anak saya yang ketiga,  bungsu, “Mari kita hitung berapa kali mereka batuk hari ini.”

            Memang yang tidak batuk dan flu hanya saya dan anak bungsu saya.

            Eh, ajaib. Setelah dipasang bawang merah, tak terdengar ada batuk. Sebelumnya, kalau subuh hari, batuknya keras dan sering. Sekarang tidak terdengar. Mereka mulai batuk lagi empat jam kemudian, itu pun tidak sering. Lalu, siang batuk lagi. Malam batuk lagi. Besoknya, makin berkurang batuknya, hanya satu atau dua kali. Makin hari, makin tidak terdengar. Hari ini pun ketika saya mengetik tulisan ini, tak ada batuk yang parah. Mereka tambah sehat, aktivitasnya makin baik.

            Saya tidak tahu apakah mereka sembuh karena memang sudah berobat seminggu yang lalu, ditambah brochifar yang saya beli, atau memang karena ditambah dengan bawang merah yang menyedot berbagai virus. Hal yang jelas adalah mereka sembuh, saya dan anak yang bungsu tidak sedikit pun tertular batuk dan flu. Di samping itu, saya semakin tenang karena semua sehat.

            Meskipun demikian, jika ada yang mencoba seperti saya ini, menggunakan bawang merah, jangan menantang virus. Tetap saja di rumah, jangan ke luar jika tidak terpaksa, banyak ibadat, makan makanan sehat, cukup istirahat, dan usahakan berpikir positif. Percobaan terhadap bawang merah ini, sungguh membuat saya tidak panik, tidak takut berlebihan, tetapi tetap waspada dan selalu berhati-hati di mana saja.

            Sampurasun.

Friday, 13 December 2019

Habib Luthfi Tokoh Penyeimbang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Nama Habib Luthfi bin Yahya mulai lebih dikenal luas seiring dengan dinamika politik di Indonesia, terutama sepanjang kampanye Pemilihan Presiden Indonesia April 2019. Sebelumnya memang sudah terkenal di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Akan tetapi, namanya terus dikenal lebih luas hingga hari ini.

            Jasanya dalam dinamika politik Indonesia akhir-akhir ini adalah menyeimbangkan kesadaran politik masyarakat ke rel yang sebenarnya. Ketika banyak orang yang diakui atau mengakui dirinya sebagai “habib” dalam pengertian “keturunan Nabi Muhammad saw” dengan lantang menegaskan adalah pendukung pasangan Prabowo-Sandi (02), Habib Luthfi tampil dengan ketenangannya.

            Dalam berbagai pernyataannya Habib Luthfi lebih banyak menyuarakan nasihat-nasihatnya dan ketegasannya tentang perlunya menjaga kerukunan, ketertiban, dan kedamaian di Indonesia. Bahkan, dia sempat meminta aparat keamanan untuk tegas terhadap orang-orang yang melakukan huru-hara di Indonesia.

            Pada akhir menjelang hari-H pemilihan presiden, Habib Luthfi hadir pada beberapa stasiun televisi bersama dengan Jokowi. Keakraban Habib Luthfi dengan Jokowi tentu saja ditafsirkan langsung oleh masyarakat bahwa Habib Luthfi bin Yahya adalah pendukung pasangan Jokowi-Maruf Amin (01). Hal itu pun membuat masyarakat pendukung Jokowi-Maruf Amin lebih tenang untuk memastikan pilihannya kepada pasangan 01. Mereka tidak merasa kebingungan lagi karena sempat beberapa hari, bahkan beberapa minggu seolah-olah seluruh habib adalah pendukung 02. Karena orang yang bergelar habib banyak dihormati masyarakat, kemungkinan masyarakat berpikir untuk memilih 02 lebih besar. Tampilnya Habib Luthfi bin Yahya bersama Jokowi, menguatkan kesadaran masyarakat bahwa “tidak seluruh habib” memilih Prabowo-Sandi (02). Para habib pun ternyata memiliki pendapat, pemikiran, dan keinginan yang berbeda.

            Fenomena tersebut menyeimbangkan kesadaran masyarakat bahwa memilih pemimpin atau presiden tetaplah berdasarkan latar belakang, pengalaman, daya tarik personal, program kerja, visi-misi, dan lain sebagainya. Masyarakat semakin sadar bahwa memilih presiden itu bukan atas dasar dukungan orang-orang yang mengaku atau diakui sebagai habib. Buktinya, para habib pun berbeda pilihan. Artinya, masyarakat pun boleh berbeda pilihan sebagaimana para habib yang juga ternyata boleh berbeda pilihan.

            Sebetulnya, banyak habib lain yang juga satu sikap dengan Habib Luthfi bin Yahya, tetapi saya melihatnya Habib Luthfi lebih banyak tampil pada berbagai media, terutama di media sosial. Hal itu tak lepas dari kerja-kerja para pendukungnya yang kerap memposting Habib Luthfi di akun-akun Medsos mereka.

            Sekarang Habib Luthfi bin Yahya menjadi anggota Wantimpres. Artinya, Habib Luthfi memiliki alat yang lebih kuat untuk memberikan banyak masukan, kritikan, sekaligus nasihat kepada Presiden Jokowi. Nasihat-nasihatnya bisa disampaikannya sendiri secara langsung, bisa pula bareng-bareng anggota Wantimpres lainnya. Nasihat-nasihatnya bisa disampaikan kapan saja, baik diminta atau tidak diminta oleh Presiden. Nasihat-nasihatnya, insyaallah berharga. Meskipun demikian, nasihat itu ya nasihat, bukan perintah untuk Presiden. Artinya, Presiden bisa menggunakan nasihat-nasihat dari Wantimpres ataupun tidak menggunakannya karena Presiden pun memiliki pertimbangan sendiri. Akan tetapi, bagaimana pun Habib Luthfi bin Yahya adalah salah seorang terbaik di Indonesia bersama dengan delapan orang lainnya yang dipercaya untuk memberikan nasihat kepada Presiden Jokowi secara resmi.

            Sampurasun.