Showing posts with label Ibnu Sina. Show all posts
Showing posts with label Ibnu Sina. Show all posts

Saturday, 28 March 2020

Jangan Parno, Bawang Merah Aja


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Untuk memberikan keterangan yang bisa dipertanggungjawabkan tentang Covid-19/virus corona, sebetulnya pemerintah sudah membuat situs resmi dari tingkat pusat hingga daerah agar masyarakat tidak terjebak dan tertipu oleh status-status Medsos abal-abal yang banyak mengandung hoax. Di samping itu, masyarakat pun dapat mengikuti berita dari “media-media mainstream” yang jelas perusahaannya dan menggunakan prinsip-prinsip serta etika jurnalistik, bukan dari akun-akun Medsos yang ngaku-ngaku media serta gemar mengedit foto dan judul berita sehingga menyesatkan orang.

            Sayangnya, banyak sekali orang yang justru lebih suka percaya pada sebaran postingan dari akun-akun pribadi yang tidak resmi, mungkin karena lebih seru dan heboh. Padahal, di Hp-nya ada “link” yang menuju situs-situs resmi. Akibatnya, orang-orang jadi panik dan ketakutan berlebihan. Bahayanya, jika dibiarkan, akan menjadi paranoid dan itu sudah menjadi penyakit mental. Seolah-olah dirinya selalu merasa terancam akan mati dibunuh, dianiaya, disakiti oleh sesuatu yang sebetulnya tidak seperti dalam kenyataannya. Penyembuhannya harus di rumah sakit jiwa kalau sudah seperti ini.

            Hal yang diharapkan dari “social distancing” atau pembatasan interaksi manusia ini adalah sikap waspada dan kehati-hatian yang tinggi ketika beraktivitas. Tidak perlu ke luar rumah jika tidak penting-penting amat. Jangan di luar rumah terlalu lama, jaga kebersihan, tetap hidup sehat, konsumsi makanan sehat, lindungi diri dan orang lain dari penyakit, tetap beribadat dengan baik. Dengan demikian, kita dapat memutus mata rantai penyebaran virus. Itu yang diharapkan, bukan kepanikan, ketakutan berlebihan, bahkan paranoid.

            Ada kisah seorang wali atau aulia atau orang mulia kadang pula disebut orang saleh yang berdiskusi dengan wabah penyakit. Sang Wabah menyatakan bahwa dirinya diutus Allah swt untuk membunuh seribu orang di suatu wilayah. Akan tetapi, dalam kenyataannya 50.000 orang yang mati.

            Sang Wali bertanya, “Bukankah engkau diutus untuk membunuh seribu orang, tetapi kenapa yang mati 50.000 orang?”

            Sang Wabah menjawab, “Aku memang membunuh seribu orang, yang 49.000 orang lagi mati karena panik.”

            Hal ini mirip seperti yang dikatakan Ibnu Sina, orang barat  menyebutnya Avicena, Bapak Ilmu Kedokteran Dunia. Kalau tidak salah, dia pernah mengatakan bahwa kepanikan bisa mempercepat kematian, ketenangan mempermudah kesembuhan, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan. Koreksi jika saya salah mengisahkan.

            Hal ini pun seperti yang sering saya dengar waktu masih kecil. Jalan menuju rumah orangtua saya itu  lurus berhadapan dengan kamar mati Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Di sampingnya ada Masjid Asy Syifa. Sekarang kamar mati dan masjid itu sudah pindah posisi karena pembangunan RSHS. Jalan itu hanya dipisahkan oleh Jln. Sukajadi dan sebuah taman yang kadang disebut Lapang Kawat karena banyak kawat, kadang pula disebut Lapang Abo karena ada Mang Abo yang sering nangkring di situ. Di pinggir lapang ada sekolah kedokteran gigi, di belakangnya ada sekolahan ahli gizi. Pokoknya, di sana itu banyak ahli kesehatan. Mereka banyak yang kost dekat rumah saya. Oleh sebab itu, mereka sering ngobrol dengan ayah saya. Saya kerap menguping obrolan mereka.

            Dari obrolan mereka, saya dengar bahwa 60% pasien RSHS, baik yang rawat inap maupun rawat jalan, sebenarnya tidak sakit. Mereka hanya “merasa sakit”. Perasaan saja. Pasien yang benar-benar sakit hanya 40%. Dari hal itu, kita bisa belajar bahwa rasa panik itu memang bisa membuat sakit yang sebetulnya tidak perlu sakit.

            Dalam situasi seperti ini yang bisa membuat orang panik, cobalah tenangkan diri. Banyak metode untuk menenangkan diri, bisa shalat, dzikir, memikirkan hal-hal positif, kontemplasi, meditasi, dan lain sebagainya.

            Kalau mau mencoba cara seperti saya, silahkan saja. Sebagai seorang muslim, tentu saja saya melakukan peribadatan sebagaimana seorang muslim. Di samping itu, gunakan bawang merah. Ini berawal dari percobaan menarik, lalu menghubungkan beberapa kejadian terkait bawang merah. Saya membaca sebuah tulisan tentang khasiat bawang merah yang merupakan magnet bagi berbagai virus. Dalam tulisan itu yang penulisnya mengaku seorang dokter pernah memeriksa bawang yang telah dikupas dan disimpan di dalam rumah. Ternyata, setelah diteliti di dalam bawang itu banyak virus yang telah menghitam dan mati. Penghuni rumah tidak pernah terserang penyakit flu/influenza. Oleh sebab itu, dia menyarankan jangan menyimpan bawang merah yang telah dikupas karena menyedot virus. Buang saja, kecuali untuk segera dimasak. Lebih dari satu hari sudah bisa dipenuhi virus.

            Saya tiba-tiba teringat nenek saya yang sering merangkai bawang merah dan bawang putih yang telah dikupas, lalu digabungkan/dijahit seperti tasbih dengan cabe merah yang telah dibelah pula sehingga kelihatan isinya. Dia menyebutnya “panglay” atau “pangle”. Lalu, disimpan di pinggir kasur tempat tidur. Dulu saya menganggapnya takhayul, mengada-ada karena itu katanya untuk mengusir hantu atau roh jahat.

            Ketika saya baru punya anak satu, masih bayi, lalu membeli rumah di daerah Jln. Caringin, Bandung, mertua saya pun melakukan hal yang sama, merangkai bawang merah, bawang putih, dan cabe, bahkan ditambah jarum-jarum kecil. Katanya untuk mengusir hantu atau energi negatif dari rumah. Kali ini saya benar-benar ngeyel, saya buang panglay itu, lalu saya membeli kentongan yang berbentuk cabe merah, besar sekali.

            Saya bilang sama istri saya, “Kalau ada hantu atau roh jahat, pukul saja sama kentongan ini. Kentongan cabe ini mah keras dan besar, cabe yang itu mah kecil, mudah busuk lagi.”

            Istri saya diam saja. Tidak marah dan tidak juga setuju. Biasa saja.

            Akan tetapi, saat ini ketika Covid-19 mewabah, kemudian membaca tulisan tentang khasiat bawang merah, saya ingat sama nenek dan mertua saya. Mungkin yang dimaksud mereka hantu dan roh jahat itu adalah virus penyakit, salah satunya penyakit flu yang dijelaskan dokter peneliti tadi. Apalagi setelah ada imbauan dari Ketua Forum Ulama Sufi Dunia Habib Luthfi bin Yahya yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden bahwa untuk menghindari virus corona adalah dengan cara memakan tiga siung bawang merah yang telah dikupas, lalu membaca shalawat sebanyak 1.616 kali. Saya makin penasaran dengan khasiat bawang merah itu. Menurut Habib Luthfi, virus corona takut sama bawang merah.

            Ketika istri saya, anak pertama, dan anak kedua batuk-batuk ditambah sedikit flu serta tidak sembuh-sembuh padahal sudah berobat, saya khawatir berat. Pada masa ini, masa “social distancing”, untuk mencegah penyebaran virus corona, saya memang rada cemas. Saya pun membeli obat brochifar ke toko obat, tetapi hari ke-5 tidak juga berkurang batuknya, bahkan malam-malam hingga subuh terus saja mereka batuk-batuk.

            Saya mulai mencoba khasiat bawang merah itu berdasarkan pengalaman nenek saya, mertua, tulisan tentang bawang merah, dan anjuran Habib Luthfi bin Yahya. Saya kupas tiga siung bawang merah dan mengunyahnya, lalu membaca shalawat. Memang ada rasa hangat ke pangkal hidung, sedikit manis, tetapi ke sananya “pahang” atau serasa “pengar”. Membaca shalawat ketika baru mengunyah bawang merah memang menimbulkan rasa hangat yang khas di mulut dan hidung. Besoknya, pukul 04.00 Wib, subuh, saya kupas lagi tiga siung bawang merah, lalu digabungkan pakai tusuk sate hingga berbentuk seperti sate, lalu disimpan di ruang tengah. Bagusnya sih di setiap kamar ada. Saya mempunyai empat kamar tidur, biar nanti saja pemilik kamarnya masing-masing yang bikin sate bawang itu. Saya hanya mencobanya satu saja di ruang tengah.

Sate Bawang Merah Mentah


            Setelah sate bawang merah mentah itu disimpan di ruang tengah, saya bilang sama anak saya yang ketiga,  bungsu, “Mari kita hitung berapa kali mereka batuk hari ini.”

            Memang yang tidak batuk dan flu hanya saya dan anak bungsu saya.

            Eh, ajaib. Setelah dipasang bawang merah, tak terdengar ada batuk. Sebelumnya, kalau subuh hari, batuknya keras dan sering. Sekarang tidak terdengar. Mereka mulai batuk lagi empat jam kemudian, itu pun tidak sering. Lalu, siang batuk lagi. Malam batuk lagi. Besoknya, makin berkurang batuknya, hanya satu atau dua kali. Makin hari, makin tidak terdengar. Hari ini pun ketika saya mengetik tulisan ini, tak ada batuk yang parah. Mereka tambah sehat, aktivitasnya makin baik.

            Saya tidak tahu apakah mereka sembuh karena memang sudah berobat seminggu yang lalu, ditambah brochifar yang saya beli, atau memang karena ditambah dengan bawang merah yang menyedot berbagai virus. Hal yang jelas adalah mereka sembuh, saya dan anak yang bungsu tidak sedikit pun tertular batuk dan flu. Di samping itu, saya semakin tenang karena semua sehat.

            Meskipun demikian, jika ada yang mencoba seperti saya ini, menggunakan bawang merah, jangan menantang virus. Tetap saja di rumah, jangan ke luar jika tidak terpaksa, banyak ibadat, makan makanan sehat, cukup istirahat, dan usahakan berpikir positif. Percobaan terhadap bawang merah ini, sungguh membuat saya tidak panik, tidak takut berlebihan, tetapi tetap waspada dan selalu berhati-hati di mana saja.

            Sampurasun.

Friday, 28 April 2017

“Teori Kapur Barus” Prof. Dr. Hamka Terbukti?

oleh Dr. H. Gunawan Undang, Drs., M.Si.



Bandung, Putera Sang Surya
Tulisan ini adalah untuk memperkuat Rangkuman Taushiyah Ustadz Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia.

            Penelusuran sejarah masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 sebelumnya sudah dikemukakan Prof. Dr. Hamka. Ajaran Islam pada saat itu langsung didakwahkan oleh khulafaur rasyiddin dengan misi utama dakwah, bukan perdagangan. Pendapat tersebut berbeda dengan pakar lainnya, yaitu bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang Gujarat (abad ke-13). Pendapat kedua tersebut sengaja disimpangkan oleh kolonial Belanda.

            Adalah rangkuman taushiyah Ustd. Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia yang tersebar di media sosial yang mendorong penulis ikut “nimbrung” memposting tulisan ini.

            Berdasarkan penelusuran bukti-bukti sejarah seperti yang ada di perpustakaan Spanyol dan Inggris, menurut Dr. Haikal Hassan, Sayidina Ali bin Abi Thalib as, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (tanah Sunda), Indonesia pada 625 M; Ja’far bin Abi Thalib berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia sekitar 626 M; Ubay bin Kaab berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah sekitar 626 M; Abdullah bin Mas’ud berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah sekitar 626 M; Abdurrahman  bin Muadz bin Jabal dan putera-puteranya, Mahmud dan Ismail berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sekitar 625 M; Akasyah bin Muhsin Al Usdi berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan, dan sebelum Rasulullah wafat, ia kembali ke Madinah sekitar 623 M; Salman Al Farisi berdakwah ke Perlak, Aceh Timur dan kembali ke Madinah sekitar 626 M.


Teori “Kapur Barus” Hamka
Pendapat mendiang Prof. Dr. Hamka bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia pada era khulafaur rasyiddin (abad ke-7 M) pada awalnya banyak ditentang sejarawan, Menurut Hamka, salah satu bukti Islam sudah masuk ke Nusantara pada abad ke-7 adalah kapur barus yang hanya ada di Indonesia (Asia Tenggara) dan pada saat itu, barang komoditas yang amat mahal di dunia tersebut sudah dipergunakan di Jazirah Arab untuk wewangian, campuran minuman, bahan obat-obatan, bahan pewangi pengurusan jenazah, dll.. Bahkan, sumber tertua menyebutkan bahwa catatan seorang pedagang Cina yang menelusuri Jalur Sutera pada awal abad ke-4, catatan seorang dokter Yunani di Mesopotamia yang bernama Actius (502-578 M) dan catatan dinasti Liang (502-577 M) sudah mengenal kapur barus tersebut. Jika catatan Ptolomaeus (seorang filsuf Alexandria pada abad pertama masehi) benar, yang disebutnya “kapur” adalah kapur (barus) yang berasal dari Barus, kemungkinan besar bahan yang sangat berharga tersebut sudah digunakan sejak SM.

            Atas dugaan tersebut, mungkinkah mumi jenazah Firaun pun di Mesir sudah menggunakan kapur barus?

            Saat sekarang pendapat Hamka yang menjelaskan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M tersebut semakin menguat setelah ditemukannya bukti lain bahwa salah seorang sahabat Rasulullah saw, yakni Abdurrahman bin Muadz bin Jabal dan putera-puteranya, Mahmud dan Ismail, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sekitar 625 M.

            Dinamakan “Barus” karena daerah tersebut adalah daerah endemik pohon kapur (drybalanops aromatic) sebagai bahan baku kapur barus. Selain di Sumatera Utara, pohon yang sangat langka di dunia tersebut tumbuh di Borneo.


Islam dan Kapur Barus
“Sungguh orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (QS 76 : 5)

            Apakah air kafur yang dimaksud Al Quran tersebut adalah suatu mata air di surga yang airnya putih, baunya wangi, dan sedap sekali rasanya?

            Ataukah pohon Barus termasuk tanaman surga yang ada di Bumi seperti halnya pohon Tin dan pohon Gaharu?

            Jika benar, pantaslah jika minuman dengan wewangian campuran dari pohon barus menjadi sajian yang sangat istimewa di Cina dan Jazirah Arab pada masanya, sebagaimana digambarkan dalam Al Quran tersebut.

            Wallaahualam


Bidang Kesehatan
Di bidang kesehatan, ilmuwan muslim, yakni Ibnu Sina (980-1037 M) sudah menggunakan kapur barus sebagai obat dan wewangian. Bahkan, Ibnu Sina sudah menjelaskan teknik penyulingannya.


“Menjadi Kapur di Dalam Barus”
Memasuki abad ke-16, Barus yang semula sebagai pusat perdagangan dunia dengan komoditas utama barus, mengakhiri masa emasnya. Pujangga Hamzah Fansuri dalam beberapa bait syairnya menggambarkan:

Hamzah Fansuri di dalam Makkah
Mencari Tuhan di Bayt al Kabah
Dari Barus ke Qudus terlalu payah
Akhirnya dapat di dalam rumah
….
Hamzah Syahr Nawi terlalu hapus
Seperti kayu sekalian hangus
Asalnya laut tiada berharus
Menjadi kapur di dalam Barus
….

            Semoga Islam jaya, jaya deui.

            Wallaahualam bishshawab

Salam Asia Afrika
Salam Bandung Lautan Api
Salam “Halo-Halo Bandung”
Mari Bung (kejayaan Islam) Rebut Kembali

Allahu Akbar …!