Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Saturday, 7 February 2026

Prabowonomics

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Di dunia ini hanya ada dua sistem ekonomi terkuat yang dipakai, yaitu kapitalis-liberalis dan komunis-sosialis atau kadang disebut juga ekonomi komando. Keduanya sama-sama bertujuan untuk memberikan kesejahteraan manusia, terutama para pendukungnya.

Secara sangat sederhana, sistem ekonomi liberal menyerahkan kehidupan ekonomi pada pasar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Harga-harga ditentukan oleh pasar dan setiap orang boleh bersaing semaksimal yang dia harapkan. Pemerintah tidak boleh banyak mencampuri kehidupan ekonomi. Semakin sedikit peran pemerintah, sangat bagus untuk ekonomi liberal.

Berbeda dengan sistem ekonomi komunis-sosialis atau komando. Dalam sistem ini, pasar sangat dikuasai pemerintah. Kehidupan ekonomi sangat dikontrol oleh pemerintah agar terjadi keadilan bagi seluruh manusia. Persaingan tidak dibebaskan semaunya. Semakin besar peran pemerintah, semakin baik ekonomi dalam sistem komunis.

Seperti itu kira-kira perbedaannya. Memang tidak tepat benar karena untuk mengerti kedua sistem ekonomi itu minimalnya harus belajar selama satu semester. Itu pun baru kulitnya. Akan tetapi, seperti itulah pemahaman sederhananya.

Sebetulnya, ada lagi sistem lain yang sering dibicarakan, yaitu sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi Pancasila. Akan tetapi, kedua sistem ini baru ada dalam slogan, jargon, keinginan, atau harapan. Belum ada yang menulisnya mulai grand theory hingga teori operasional yang bisa dijalankan. Kadang malah hanya ada dalam teriakan-teriakan saat kampanye pemilihan tanpa ada isinya. Teriakan itu hanya untuk mempengaruhi orang tanpa kejelasan selanjutnya.

Memang ada beberapa orang yang mencoba menerangkannya lewat penelitian, tetapi belum teruji dalam praktiknya. Misalnya, Wakil Presiden RI Maruf Amin menulis disertasinya tentang ekonomi berlandaskan syariah Islam, tetapi tidak disebutkan juga sebagai sistem ekonomi Islam. Bahkan, karyanya lebih dikenal sebagai tulisan “Ekonomi Arus Baru”.

            Baru-baru ini mengemuka sebuah pemikiran ekonomi yang disebut dengan istilah “Prabowonomics”. Sederhananya, sistem ekonomi ala Prabowo. Ini sebetulnya hasilnya sudah bisa dirasakan rakyat. Pada saat luar negeri hari ini sedang krisis karena perang dan kenaikan dollar. Indonesia rasanya biasa-biasa saja, tidak tampak ada kekusutan berarti. Kalau seperti ada kerumitan, itu hanya ada di Medsos.

            Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya pada “World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026” yang digelar pada Kamis, 22 Januari 2026, di Davos, Swiss. Isi pidato ini yang kemudian disebut sebagai Prabowonomics.


Prabowonomics (Foto: KOMPAS.com)


            Kalau diperhatikan, Prabowonomics merupakan pemikiran yang ada di tengah antara kapitalis dan komunis, lebih memperkenalkan sistem ekonomi Pancasila yang berlandaskan gotong royong. Dalam pidato itu diperkenalkan beberapa hal yang telah dilakukannya dan akan terus dipertahankan keberlanjutannya.

            Pertama, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didasari atas kasih sayang kepada rakyat supaya otaknya cerdas dan mewujudkan gotong royong. Hasil dari para pembayar pajak dan perusahaan negara diberikan kepada para siswa di Indonesia secara gratis. Program ini pun sudah menggerakan ekonomi rakyat karena bahan-bahannya juga berasal dari hasil bumi yang dikerjakan rakyat ditambah membuka lapangan kerja baru. Di samping itu, Prabowo mengklaim telah bisa mengalahkan perusahaan makanan terkenal Amerika Serikat Mc Donald yang dalam puluhan tahun menghasilkan 68 juta porsi, sedangkan MBG dalam satu tahun sudah bisa menghasilkan 120 juta porsi makanan.

            Kedua, hilirisasi. Pogram ini mengupayakan bahwa hasil bumi Indonesia mulai bahan mentah hingga barang jadi harus diproduksi di Indonesia. Program ini dimulai nikel yang akan berkembang ke bauksit, timah, batu bara, dan lain sebagainya. Program ini akan membuat Indonesia sangat banyak sekali uang dibandingkan dengan menjual hanya bahan mentah ke luar negeri. Di samping itu, terjadi transfer teknologi yang pada masa depan anak-anak muda Indonesia menjadi ahlinya dan berpotensi menjadi pemilik perusahaan-perusahaan besar. Hal ini harus dilakukan dengan sikap tegas terhadap pihak asing. Artinya, asing boleh berbisnis di Indonesia, tetapi bagian terbesar adalah milik dan untuk Indonesia.

            Ketiga, swasembada pangan. Pada masa depan Indonesia akan sanggup memberi makan rakyatnya sendiri tanpa harus membeli dari luar negeri. Kita memang sudah sanggup memproduksi beras sendiri, tidak lagi membeli dari luar negeri. Itu awal yang bagus untuk ke depannya tidak perlu lagi membeli sapi, jagung, kedelai, dan bahan makanan lainnya dari luar negeri. Hal itu pun akan sangat menghemat keuangan negara, bahkan memperluas pasar ekspor produk Indonesia ke luar negeri.

            Keempat, pertumbuhan ekonomi. Ekonomi yang tumbuh itu cirinya adalah negara lebih banyak ekspor dibandingkan impor, lebih banyak menjual barang ke luar negeri dibandingkan membeli barang dari luar negeri.  Ini sudah terjadi secara perlahan. Tandanya adalah ketika dollar naik, pengaruhnya sangat kecil, bahkan untuk beberapa kalangan tidak terpengaruh sama sekali. Berbeda ketika krisis 1998 dengan kenaikan dollar sedikit saja negara krisis dan goncang sehingga Presiden Soeharto jatuh. Itu karena Indonesia terlalu banyak beli barang dari luar negeri sehingga ketika dollar naik, kita tidak punya uang. Sekarang tidak lagi karena Indonesia sudah lebih banyak ekspor barang dengan hasil yang sangat banyak melebihi impor. Selain itu, untuk mewujudkannya harus ada kejelasan tentang kestabilan politik yang tidak gaduh dan kepastian hukum untuk menghentikan korupsi, pemerasan, premanisme, dan kerumitan perizinan.

            Begitu yang saya perhatikan dari pidato Prabowo di hadapan para pemimpin dunia di Davos, Swiss. Saya bisa saja kurang memperhatikan lebih teliti tentang Prabowonomics. Jika ada di antara para pembaca yang mau menambahkan atau mengoreksi tulisan ini, saya akan sangat menghormatinya.

            Foto Prabowo saat pidato di Davos, Swiss saya dapatkan dari KOMPAS com.

            Sampurasun.

Monday, 19 December 2022

Penyebab Cina Tampak Lebih Kaya Dibandingkan Pribumi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang pribumi yang membenci orang keturunan Cina di Indonesia. Alasannya, ada yang masuk akal, tidak masuk akal, bahkan mengada-ada cenderung fitnah. Dosa lho fitnah itu.

            Misalnya, membenci Cina karena kaya raya. Itu tidak masuk akal.

            Orang lain kaya, kok kita yang membenci?

            Orang-orang pembenci orang kaya yang saya tahu sejak kecil hanyalah orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Soalnya, saya pun pernah hampir menjadi korbannya. Lebih tepatnya bukan saya sih, melainkan uwak saya, kakak ayah saya. Saat itu PKI sangat kuat di Indonesia dan sangat membenci orang kaya. Uwak saya pun sudah masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ketika ayah saya bertanya kepada orang-orang PKI itu tentang alasan kenapa ingin membunuh uwak saya, mereka bilang karena uwak saya kaya raya. Memang benar uwak saya itu adalah orang kaya di lingkungannya. Dulu sewaktu saya kecil, di lingkungannya itu selalu uwak saya yang paling pertama memiliki barang-barang baru, elektronik baru, pakaian baru, perabotan rumah baru, dll. Malahan, kalau ada tetangga yang menikah, rumah uwak saya itu sering dipinjam untuk resepsi pernikahan. Yang kaya itu uwak saya, bukan ayah saya, apalagi saya.

            Memang uwak saya itu adalah sekretaris Wybert, semacam permen pelega tenggorokan. Mirip Hexos, tetapi dikemas dalam wadah mirip Pagoda Pastiles, cuma lebih besar dan tebal. Sekarang perusahaan dan produk itu sudah tidak ada lagi. Dulu sih iya sangat terkenal dan laku sekali.

            Alasan ingin membunuh uwak saya karena kekayaannya adalah hal yang tidak masuk akal. Beruntung, PKI keburu runtuh dan malah dipermalukan. Jadi, pembenci orang kaya itu sama pikirannya dengan orang-orang PKI. Mungkin juga mereka sekarang adalah murid PKI. Orang PKI memang punya pandangan hidup itu harus sama rasa sama rata. Semua mungkin harus sengsara seperti mereka.

            Setelah dibubarkan, orang PKI yang dulu mengancam uwak saya hidupnya memprihatinkan. Mereka tetap miskin dan dijauhi oleh masyarakat. Ketika Pemilu, ayah saya merasa kasihan kepada mereka karena mereka tidak diberikan haknya untuk memilih oleh panitia pemungutan suara yang masih tetangga juga. Mereka antri dari pagi hingga sore dan selesai pemungutan suara, sama sekali tidak diperbolehkan memilih. Dengan senyum kuning kecut menahan rasa malu dan kecewa mereka pulang tanpa memilih. Sebetulnya sih, mereka harusnya diberikan hak untuk memilih karena mereka sudah dihukum, mengakui kesalahannya, berupaya menebus perilakunya dengan mendekati masyarakat, tetapi mau bagaimana lagi. Panitia tidak memberikan haknya dan panitia itu adalah tetangga ayah saya juga. Ayah saya meskipun ingin membela, tidak bisa juga ngapa-ngapain, ya sudah, begitu kejadiannya, begitu ceriteranya. Sanksi sosial itu sangat berat.    

            Sangat tidak masuk akal membenci orang karena kekayaannya. Bahkan, ingin membunuh, lebih tidak masuk akal lagi. Demikian pula membenci orang Cina karena lebih kaya, sama sekali tidak masuk akal.

            Sebetulnya, sudah sangat banyak tulisan, artikel, atau penelitian yang memaparkan soal penyebab orang-orang Cina di Indonesia tampak lebih kaya dan berhasil secara ekonomi. Saya jadi harus mengingat lagi tulisan-tulisan itu.

            Pada zaman dulu sebelum zaman para wali, di wilayah Cina itu terjadi pergolakan politik, konflik berdarah, pertempuran antarsuku, pembunuhan, pembantaian, dan perang-perang besar. Banyak dari mereka yang menyelamatkan diri dari kekejaman itu ke seluruh dunia. Ada yang ke Eropa, Amerika, Asia, termasuk ke wilayah yang sekarang bernama Indonesia. Ada yang ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, dsb. Oleh sebab itu, keturunan Cina selalu ada di mana-mana, di seluruh dunia, dan menjadi warga negara tempatnya tinggal

            Di Indonesia sebagian beruntung, diterima masyarakat dan bisa mengolah tanah di wilayah yang baru pemberian masyarakat dan penguasa saat itu. Sebagian lagi, hidup terjepit, terhimpit, menderita, dan sangat miskin puluhan, bahkan ratusan tahun. Tak ada jalan lain bagi mereka untuk bertahan hidup, kecuali berdagang.

            Memang apalagi yang bisa mereka lakukan?

            Mereka tidak bisa menjadi tentara, polisi, ataupun aparat negara. Mereka berbisnis kecil-kecilan dan sangat patuh pada penguasa.  Ketika zaman penjajahan, mereka tidak bermasalah dengan penjajah. Mayoritas memilih untuk tetap berdagang sehingga tidak ikut terseret konflik antara penjajah dengan rakyat. Sebagian, memilih pro penjajah. Sebagian, ikut menjadi pejuang kemerdekaan.

            Para pedagang Cina ini makin lama makin kuat karena memberikan layanan dagang bagi penjajah sekaligus juga bagi rakyat. Mereka fokus pada usaha dagang. Pada masa kemerdekaan pun mereka tetap berdagang hingga usahanya terus membesar. Kesempatan untuk menjadi tentara, polisi, ataupun pegawai negeri tetap sangat kecil untuk mereka. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan berdagang.

            Berbeda dengan pribumi, keturunan Arab, India, atau Pakistan. Mereka lebih tenang karena bisa menjadi pegawai negeri, tentara, polisi, dan mendapat banyak kenyamanan karena kesamaan warna kulit, ras, ataupun agama. Dengan demikian, mereka tidak perlu terlalu bekerja keras bertahan hidup. Orang Cina sangat terpinggirkan dan kesulitan untuk berkembang. Dalam posisi terjepit itu, mereka fokus berdagang.

            Dari penjelasan singkat ini, kita harus bisa memahami bahwa orang Cina itu dulunya sangat terpuruk dan menderita. Dalam kondisi itu, mereka terdorong untuk memikirkan cara bertahan hidup dan berkembang. Sebagian berhasil dan menjadi kaya raya, bahkan menguasai sektor ekonomi yang besar di Indonesia ini. Sebagian lagi gagal dan hidup seperti orang kebanyakan, malahan sangat miskin hingga disebut Cimi (Cina miskin).

            Kesusahan hidup memang bisa mendorong orang berpikir dan bekerja lebih keras. Akan tetapi, bisa juga mendorong orang untuk berbuat jahat dan membunuh dirinya sendiri karena tidak mau berpikir, stress, atau mendapatkan ajaran sesat. Tinggal memilih saja.

            Panjang sebetulnya kalau membicarakan hal ini. Saya belum menuliskan apa yang terjadi saat pembantaian Cina pada pertengahan Mei 1998 di Indonesia ini. Itu ada ceritera tersendiri yang didorong situasi politik dan kecemburuan ekonomi.

            Ada sedikit kisah tentang Cina ini juga. Ketika saya masih SD, ada anak muda Cina yang sangat miskin, kumal, kusut, dan kurang makan. Dia dikasih makanan oleh pengurus masjid. Dia memelas minta modal untuk berdagang. Lalu, pengurus masjid pun memberinya uang. Dia pun berdagang sayuran dengan menggunakan pikulan. Dia menanggung  pikulan sayurannya berkeliling.

            Apa yang terjadi?

            Dia dibuli, dihina, diejek, dan diusir masyarakat. Sering dikata-katain bahwa sayurnya dicuci pakai air selokan, sayuran dagangannya adalah sayur bekas, daging yang dijualnya adalah daging babi, dan sejumlah cacian lainnya.  Dia sering sekali menangis karena memang jadi tidak laku dijual barang dagangannya. Sering sekali dia mengadu ke pengurus masjid yang memodalinya itu. Dia pun sering didoakan oleh orang-orang masjid.

            Ketika saya SMP, saya dengar dia sudah punya pabrik kerupuk. Dia berhasil sukses. So, perjuangannya tidak mengkhianati hasil.

            Ada pelajaran yang bermanfaat dari tulisan ini?

            Sampurasun.

Sunday, 28 August 2022

Jualan Agama

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ini sudah memasuki tahun politik, sudah mulai lagi banyak orang yang menggunakan agama untuk tujuan politik dan ekonomi. Politik dan ekonomi adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Kekuatan politik akan menghasilkan kekuatan ekonomi. Demikian pula kekuatan ekonomi membentuk kekuatan politik.

            Kita mungkin masih ingat ketika terjadi keriuhan kampanye Pilkada DKI dan Pilpres yang lalu. Sangat banyak beredar istilah keagamaan yang digunakan dalam politik, misalnya, “Partai Neraka, Partai Surga, Pemimpin Kafir, Pemimpin Zhalim, Pemimpin Calon Penghuni Surga, ulama kita, ulama kalian, ulama mereka, ulama su” yang diarahkan pada saingan politiknya. Lebih celaka lagi, umat terbelah dan menimbulkan kekisruhan, konflik, persekusi, dan pertengkaran. Padahal, itu terjadi di antara umat Islam sendiri. Itu adalah sebagian kecil yang terjadi. Kalau mau lebih detil, saya bisa menulisnya lebih panjang.

            Bagi saya, mereka yang melakukan hal itu adalah penghina dan penista agama yang sesungguhnya. Mereka menjatuhkan martabat Islam yang saya peluk menjadi barang dagangan murahan. Oleh sebab itu, saya dan orang-orang lain seperti saya merasa kesal dan marah. Kita harus mengembalikan pemahaman Islam pada rel yang benar, yaitu berdasarkan Al Quran dan Hadits Nabi saw. Siapa pun orangnya kalau berbicara tentang Islam, dasarnya harus yang dua itu. Kalau terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, kita bisa memilih mana pendapat yang benar menurut kita, tidak perlu ada pertengkaran.  

            Masih ingat nama Buni Yani?

            Dia adalah orang pertama yang menghebohkan dan dianggap memotong kata-kata Ahok di Kepulauan Seribu sehingga menimbulkan kegaduhan dan membuat Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama masuk penjara. Buni Yani sendiri masuk penjara atas perilakunya.

            Pada akhirnya, Buni Yani mengatakan, "Jual agama itu paling gampang, maklum rakyatnya masih bego2 gampang ditipu."

            Saya menafsirkan kata-katanya itu adalah bahwa menggunakan agama untuk kepentingan politik di Indonesia adalah paling mudah karena rakyat Indonesia masih bego dan bodoh sehingga gampang ditipu. Bodoh soal politik dan bodoh soal agama. Itu kata-kata Buni Yani lho, bukan kata saya. Kalau marah, marahlah sama dia, bukan sama saya.

            Apa yang dikatakan Buni Yani sesungguhnya sudah mirip dengan yang dikatakan seorang pemikir muslim Ibnu Rusyd, yaitu, Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah sesuatu yang batil dengan agama.”

            Gambar Ibnu Rusyd saya dapatkan dari yahyasukardi on Twitter.

            Kita sudah menyaksikan bagaimana agama yang digunakan untuk politik ternyata merusakkan umat. Suriah, Libya, dan Irak adalah contoh ekstrim yang rusak akibat penggunaan agama untuk kepentingan politik. Demikian pula agama digunakan untuk kepentingan ekonomi, misalnya, mengumpulkan dana umat dengan alasan keagamaan dan sosial, tetapi kenyataannya digunakan untuk membiayai tiga istrinya dan hidup bermewah-mewah. Bahkan, dana milik ahli waris korban kecelakaan diduga digunakannya pula secara menyeleweng.

            Berhati-hatilah dengan para penjual agama itu dan kalau mampu, lawanlah agar martabat Islam dikembalikan pada tempat yang mulia sebagaimana seharusnya, yaitu menjadi rahmatan lil alamin yang menyenangkan, menyamankan, dan menyelamatkan seluruh alam semesta.

            Sampurasun.

Saturday, 27 August 2022

Para Perokok Diperhatikan Menteri Keuangan RI

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Para perokok biasanya kalau dikritik soal kebiasaan merokoknya, tak jarang bilang bahwa perokok adalah penyumbang besar bagi pendapatan negara. Bahkan, ada yang bilang sebagai penyumbang terbesar bagi keuangan negara. Kalau soal terbesar, saya tidak tahu. Akan tetapi, sumbangan para perokok itu memang sangat besar bagi keuangan negara.

            Hal ini diakui sendiri oleh Menteri Keuangan terbaik se-dunia Sri Mulyani. Memang pendapatan Negara Indonesia dari rokok itu sangat besar. Akan tetapi, negara pun harus mengeluarkan uang yang juga sangat besar ketika para perokok itu sakit. Negara harus mengeluarkan biaya kesehatan, mulai obat-obatan, alat medis, teknologi tinggi, dan rumah sakit berkualitas untuk menyembuhkan orang yang sakit akibat dari kebiasaan merokok.

            Hal yang belum kita tahu adalah apakah pendapatan negara dari rokok itu lebih besar atau lebih kecil dibandingkan biaya kesehatan yang harus dikeluarkan negara ketika para perokok itu sakit. Kalau pendapatan dari rokok lebih besar daripada pengeluaran untuk kesehatannya, merokok adalah kegiatan yang sangat menguntungkan perekonomian negara. Akan tetapi, sebaliknya, jika pengeluaran negara lebih besar untuk mengobati penyakit akibat rokok dibandingkan pendapatan dari rokok, merokok adalah kegiatan yang sangat merugikan ekonomi negara.

            Hitungan itu belum disampaikan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani. Kita belum tahu. Jadi, kita belum paham apakah merokok itu menguntungkan atau merugikan ekonomi negara.

            Buat para perokok, agar negara tidak mengeluarkan uang untuk menyembuhkan penyakit akibat rokok, sebaiknya cari atau bikin secara kreatif rokok yang tidak menimbulkan penyakit.

            Rokok apa itu?

            Nggak tahu da belum pernah ada.

Mari kita cari tahu atau kita bikin baru meskipun kita belum tahu rokok apa itu.

            Jadi, … ya sudahlah.

            Ngopi, Lur!

            Ngopinya sambil ngerokok jangan ya?

            Hmmm ….

            Sampurasun

Sunday, 24 April 2022

Dunia Beruntung Allah swt Jadikan Indonesia Presidensi G20

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketika Indonesia dipercaya untuk menjadi pemimpin presidensi G20, dalam periode ini terjadi bencana kerusakan karena perang luar biasa antara Rusia Vs Ukraina yang dibantu oleh Amerika Serikat (AS) dan “North Atlantic Treaty Organization” (Nato) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Perang ini terjadi sangat besar karena melibatkan dua kekuatan besar dunia secara militer dan ekonomi, yaitu AS dan Rusia. Kerusakan akibat perang ini sudah langsung berpengaruh pada dunia, baik secara politik maupun secara ekonomi, pengaruhnya bisa dirasakan dunia saat ini. Kegoncangan ekonomi dan kegalauan politik sudah bisa terasa. Ini jauh berbeda dengan perang-perang semisal Israel Vs Palestina atau di Timur Tengah yang kerusakannya hanya berpengaruh besar di wilayah konflik dan tidak begitu terasa di luar wilayah itu. Kalaupun ada pengaruhnya, tidak terlalu besar, bahkan banyak orang tidak tahu terjadi konflik di wilayah itu karena tidak merasakannya.

            G20 itu adalah kumpulan dari 19 negara maju dan menuju maju ditambah 1 Unieropa. Kumpulan negara ini mirip kumpulan orang-orang borju di dalam lingkungan hidup manusia sehari-hari. Saat ini Indonesia dipercaya mereka untuk memimpin kelompok ini. Kalau saya sih melihatnya, Indonesia bukan hanya dipercaya manusia untuk memimpin G20 ini, melainkan juga sudah menjadi rencana Allah swt dalam menyeimbangkan kekuatan-kekuatan dunia yang sekarang sedang bertempur. Indonesia sedang diuji untuk naik kelas menenangkan dunia dengan adil setelah berhasil mengendalikan dirinya sendiri dan mengatasi politik yang sedikit gaduh oleh para bajingan bodoh cacing cau.

            Perang Rusia Vs Ukraina membuat dunia menjadi tegang dan terpolarisasi semakin tajam antara pro-Barat AS dan pro-Timur Rusia. Tak kurang dari AS dan sekutunya mengancam memboikot G20 apabila Presiden Rusia Vladimir Putin hadir di Bali, Indonesia, dalam pertemuan G20. Bahkan, jangankan Presiden Putin, sekedar untuk bertemu dengan delegasi dari Rusia saja, mereka tidak mau. Mereka memilih “walk out”, meninggalkan pertemuan karena Rusia ada di sana. Lebih jauh lagi, AS dan sekutunya menekan Indonesia untuk memberikan sanksi kepada Rusia dan mencoret Rusia dari keanggotaan G20.

            Inilah ujian dan kepercayaan yang diberikan kepada Indonesia oleh Allah swt. Indonesia adalah negara nonblok yang memiliki politik luar negeri “bebas dan aktif”. Indonesia bebas tidak bergantung, tidak ditekan, dan tidak memihak pihak mana pun, baik barat maupun timur, baik AS maupun Rusia. Di samping itu, Indonesia aktif mewujudkan perdamaian dunia. Inilah yang saya sebut dunia beruntung ketika Perang Rusia Vs Ukraina terjadi, Indonesia sedang memimpin G20. Hal itu disebabkan Indonesia tidak memihak AS dan tidak memihak Rusia. Indonesia hanya memihak dirinya sendiri dan menolak menjadi anak buah atau kepanjangan negara lain. Dengan demikian, kelompok G20 dapat tetap dipaksa untuk fokus pada pemulihan ekonomi dunia pascapandemi dan tidak berbelok  menjadi ajang perdebatan dan perseteruan militer dan politik akibat perang Rusia Vs Ukraina.

            Saya tidak bisa membayangkan jika saat ini bukan Indonesia yang memimpin G20, melainkan negara lain yang pro-AS, misalnya Inggris. G20 bisa menjadi ajang atau kelompok negara yang berisi makian, hinaan dan rencana mengalahkan Rusia dengan beragam sanksi ekonomi, politik, militer, budaya, lingkungan, dan lain sebagainya yang bisa menyengsarakan rakyat Rusia dan mengganggu kehidupan dunia pada umumnya. Sebaliknya, jika saat ini yang menjadi pemimpin presidensi G20 adalah negara yang pro-Rusia, misalnya Cina, G20 bisa menjadi pertemuan yang isinya konflik dan pamer kekuatan militer dan politik untuk menunjukkan perlawanan terhadap pihak barat, AS dan sekutunya.

            Baik negara yang pro-AS maupun pro-Rusia jika memimpin presidensi G20 akan membuat dunia berat sebelah, timpang, dan polarisasi semakin tajam. Beginilah Allah swt menjalankan skenarionya dalam kehidupan ini, menempatkan Indonesia sebagai pemimpin sehingga polarisasi di dunia masih bisa dikendalikan dan tidak semakin tajam. Indonesia menghormati keduanya, baik barat maupun timur. Indonesia hanya berpegang pada dirinya sendiri dan mengharapkan perang segera berhenti untuk kemudian tercipta perdamaian sehingga G20 dapat lebih fokus untuk memulihkan ekonomi dunia.

            Bagi rakyat Indonesia. Kalian jangan selalu ribut, jangan selalu mudah ditipu, dibodoh-bodohin orang, jangan percaya sama bajingan bodoh. Jika ingin mendapatkan surga di dunia dan di akhirat, tetaplah berbuat baik, tetap belajar, tetap berpikir, dan tetap berperilaku untuk bermanfaat bagi orang lain dan dunia. Alllah swt sedang menempatkan Indonesia pada posisi terhormat sebagai penyeimbang dunia, maka jadilah manusia-manusia terhormat yang memberikan jalan keluar bagi dunia, bukan menjadi makhluk-makhluk dengan kerusakan cara berpikir dan cacat moral.

            Indonesia sedang diuji untuk menyeimbangkan dunia.

            Bukankah manusia yang termulia itu adalah “ummatan wasathan”, umat pertengahan yang menjadi saksi atas perilaku manusia lainnya di dunia ini?

            Pikir dengan akal dan raih pemahamannya dengan iman.

            Piraku teu ngarti.

            Sampurasun.

Friday, 25 March 2022

Ketenagakerjaan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berkaitan dengan tenaga kerja, baik sebelum, selama, dan sesudah bekerja. Hal-hal yang berkaitan dengan masa sebelum kerja, misalnya, pelamaran, pelatihan, pemagangan, dan pengumuman lowongan kerja. Hal-hal yang berkaitan dengan masa selama kerja, misalnya, jam kerja, upah, jaminan sosial, jaminan kesehatan, jaminan perlindungan kerja, keselamatan kerja, dan pengawasan kerja. Hal-hal yang terkait dengan masa setelah kerja, misalnya, pensiun, pesangon, dan jaminan hari tua.

            Dengan demikian, dalam hal ketenagakerjaan dibahas pula mengenai kesempatan kerja, tenaga kerja, dan angkatan kerja. Hal tersebut mendorong penelitian yang lebih jauh, yaitu mengenai jumlah penduduk, usia kerja, dan bukan usia kerja. Kelompok usia kerja di Indonesia adalah antara 15 s.d. 65 tahun. Hal itu memberikan pengertian bahwa kelompok bukan usia kerja adalah antara 0 s.d. 14 tahun.

            Kesempatan kerja pun sering menjadi perbincangan di masyarakat karena terkait lapangan kerja yang dapat diisi oleh penduduk usia kerja. Pemerintah negara mana pun wajib untuk menyediakan lapangan kerja bagi penduduknya sehingga meminimalisasi pengangguran, kemiskinan, dan kriminalitas. Di samping itu, masyarakat pun wajib memiliki kemampuan dan keterampilan untuk dapat memasuki dunia kerja yang penuh dengan persaingan.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Hastyorini, Irim Rismi; Novasari, Yunita; Sari, Kartika; Jawangga, Yan Hanif (editor), Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Semester I: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2016, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Friday, 6 August 2021

Jangan Banyak Demo, Jaga Keberhasilan Saat ini

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pada dasarnya demonstrasi menyampaikan pendapat itu boleh, tetapi kita harus ingat bahwa kita masih berada dalam bayang-bayang pandemi Covid-19. Artinya, kegiatan demonstrasi itu bisa menyebabkan penularan virus. Kalaulah kita berani dan tidak peduli terserang Covid-19, tetapi masyarakat lain ada yang tidak berani dan sangat peduli terhadap kesehatannya. Jadi, kegiatan demo bisa mengganggu kesehatan masyarakat lainnya. Nanti saja kalau mau ramai-ramai ke jalan, jika situasi Covid-19, sudah benar-benar terkendali.

            Kita pun harus ingat bahwa masyarakat masih menderita, pemerintah masih pusing akibat Covid-19 ini, demonstrasi malah bisa memunculkan antipati dan ketidaksukaan masyarakat terhadap pihak-pihak yang memunculkan demonstrasi. Sebaiknya, dalam situasi seperti ini, cari kegiatan yang membantu rakyat dan pemerintah. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Beberapa Ormas dan BEM, termasuk BEM UI yang pernah menjuluki Jokowi “The King of Lip Service”, ‘Raja Janji di Bibir Saja’, sekarang menyatakan siap mendukung pemerintah dalam menanggulangi Covid-19.

            Hal yang lebih baik adalah menjaga situasi yang telah membaik, khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Di wilayah ini kasus Covid-19 sudah turun dan terus menurun, mudah-mudahan semakin terkendali. Kita bisa lihat bahwa ada banyak kelonggaran, tidak seperti ketika PPKM Level 4 diberlakukan. Kalau di wilayah provinsi lain, mungkin masih ketat karena kasus Covid-19 masih tinggi.

            Di samping itu, Indonesia sekarang mengalami peningkatan ekonomi yang tinggi sekitar 7,7%. Ini mungkin masih bersifat nasional dan belum menyentuh ke masyarakat kecil. Untuk sampai ke masyarakat, harus banyak kegiatan pembangunan dan transaksi ekonomi di tengah masyarakat, tidak dengan cara membagi-bagikan uang. Masyarakat harus mampu memanfaatkan kesempatan ini dengan berbagai akitivitas positif yang bisa menghasilkan uang.

            Jaga situasi agar Covid-19 semakin tertanggulangi dan manfaatkan berbagai kelonggaran untuk melakukan banyak hal positif agar kita semua dapat merasakan manfaatnya. Jangan banyak demo untuk saat ini, biarkan tenang dulu. Sibukkan diri dengan hal berrmanfaat. Kalau perlu demonstrasi, nanti saja kalau situasi sudah lebih kondusif.

            Sampurasun.




Tuesday, 18 May 2021

Tak Ada Perang Agama

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau mau dilihat lebih detail, sesungguhnya perang-perang yang disebut-sebut “Perang Agama”, sesungguhnya hanyalah perebutan politik dan ekonomi atau karena tindakan kriminal suatu kaum. Agama dibawa-bawa hanya untuk menutupi keinginan atau kepentingan yang sebenarnya dan untuk mengelabui dunia agar mendapatkan simpati internasional.

            Hal yang lebih celaka adalah umat Islam pun banyak yang menyebarkan pula propaganda di luar Islam untuk mengatakan bahwa banyak perang yang disebut perang agama.

            Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang dicuplik oleh T.D. Sudjana dalam artikelnya pada sebuah prosiding yang berjudul Tokoh Siliwangi dalam Pandangan Tradisi Keraton Cirebon (1991). Ia mencuplik bahwa ketika bangsawan Inggris berkuasa di Yerusalem, mereka melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap kafilah-kafilah saudagar kaum muslim. Oleh sebab itu, “Sultan Salahudin Al Ayubi” marah bukan main, lalu melakukan penyerangan. Kekuatan Inggris pun melemah di Yerusalem. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan simpati dari dunia internasional, pasukan Inggris menyebarkan fitnah bahwa pasukan Salahudin adalah pasukan syetan sehingga pertempuran itu disebut mereka sebagai crusade, ‘Perang Salib’ untuk menimbulkan kesan perang antara agama Kristen dan agama Islam. Umat Islam pun banyak yang mengistilahkan perang itu sebagai “Perang Sabil”. Padahal, perang itu bukanlah perang antaragama, melainkan perang yang terjadi akibat kerakusan dan ketololan pasukan Inggris yang melakukan gangguan terhadap rombongan saudagar Islam.

            Bagi Salahudin, itu bukanlah perang agama, melainkan perang untuk membela kebenaran, kehormatan, dan keadilan yang dilakukan oleh pasukan muslim. Banyak pula sesungguhnya anggota pasukan Salahudin yang tidak beragama Islam. Salah seorang panglima Sultan Salahudin adalah beragama Kristen, namanya Isa. Ia dihadiahi Sultan Salahudin seorang puteri bangsawan Inggris yang dirampas karena Inggris kalah perang.

            Kebencian dan propaganda agama untuk menyudutkan Islam itu tidak berhasil karena Sultan Salahudin Al Ayubi berhasil merebut Yerusalem dan membuat pasukan Inggris kalah total.

            Hal yang memperjelas bahwa perang itu bukan perang agama adalah beberapa waktu setelahnya ketika kepentingan politik dan ekonomi Inggris mulai diganggu Musolini dan Hitler, saat Perang Dunia II, Inggris mendekati Islam yang dulu disebutnya syetan itu, kemudian menggunakan semangat Islam untuk mengalahkan Musolini dan Hitler. Inggris berupaya keras untuk mendapatkan dukungan kaum muslimin di Timur Tengah agar sama-sama membenci Musolini dan Hitler. Tak tanggung-tanggung, tank-tank baja pasukan Inggris ditulisi nama SALADIN untuk mengingatkan kaum muslimin terhadap keberanian dan kepahlawanan Sultan Salahudin Al Ayubi. Di samping itu, Inggris tahu betul bahwa nama Saladin adalah lambang moralitas dan sikap mulia hidup muslim yang terpancar dari sosok Sultan Salahudin Al Ayubi. Dengan menggunakan nama SALADIN, Inggris pun berharap bahwa bangsanya dapat dipahatkan dalam sejarah dunia sebagai bangsa yang memiliki “nama baik” sebagaimana aura nama SALADIN dalam sejarah kaum muslimin.

            Begitulah, agama hanya dibawa-bawa untuk mengaburkan tujuan yang sebenarnya, yaitu kepentingan politik dan ekonomi.

            Pada akhir-akhir ini, 2021, Zionis Israel pun menyebarkan propaganda bahwa konflik yang terjadi dengan Palestina adalah sebagai perang agama antara Yahudi dan Islam yang sudah terjadi ratusan tahun lalu. Hal itu dilakukan hanya untuk menutupi tujuan mereka yang sebenarnya, yaitu merampok, mengusir, membunuh, dan menjajah bangsa Palestina. Padahal, di Palestina itu banyak pula yang beragama Kristen, Yahudi, atau kepercayaan lainnya. Demikian pula di Israel, banyak pula yang beragama Kristen dan Islam. Di samping itu, mereka pun rajin mendekati bangsa-bangsa muslim untuk membuka hubungan diplomatik, termasuk terhadap Indonesia melalui tangan Amerika Serikat.

            Orang-orang Zionis Israel itu mulai ada di Palestina sejak 1948, bukan ratusan tahun lalu. Di tanah itu rencananya akan dibuat dua negara merdeka, yaitu Israel dan Palestina untuk hidup berdampingan. Akan tetapi, Zionis melakukan banyak aksi premanisme, terorisme, dan kriminalisme terhadap Palestina hingga hari ini. Mereka itu orang-orang yang trauma dan ketakutan karena dari zaman ke zaman hidup dalam banyak masalah. Di Mesir Firaun memperbudak mereka, Nabi Muhammad saw mengusir mereka dari Madinah karena banyak membuat gangguan terhadap kaum muslimin, ditolak untuk mendapatkan Palestina pada zaman Kesultanan Utsmaniyah, di Jerman mereka dibantai Hitler, dan berbagai masalah lainnya. Oleh sebab itu, mereka berupaya tetap melakukan kejahatan terhadap bangsa Palestina karena tidak mau kembali menjadi bangsa yang tersisihkan dan dipermalukan seperti zaman-zaman yang lalu.

            Jadi, bukan perang agama yang terjadi, melainkan kepentingan politik dan ekonomi. Umat Islam tidak perlu ikut-ikutan menyebarkan propaganda mereka dengan sama-sama menyebutnya sebagai perang agama karena bisa menambah runyam situasi dan terjebak pada rencana mereka.

            Sebagaimana tadi saya katakan bahwa kalau mau diperhatikan lebih detail, perang agama itu tidak ada. Bahkan, perang-perang yang dilakukan Nabi Muhammad saw pun bukan perang agama, melainkan urusan politik dan ekonomi. Dulu saya sering berdiskusi dengan guru ngaji saya, Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin itu diusir, diburu, dianiaya, dibunuh, dan difitnah bukan karena ritual keagamaan seperti shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdoa, dan lain sebagainya, melainkan karena urusan kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Orang-orang kafir melakukan kejahatan kepada Nabi dan kaum muslimin karena merasa terganggu politik dan ekonominya. Kalau semakin banyak kaum muslimin dan mereka harus patuh kepada Nabi saw, kewenangan mengatur Mekah ada di tangan Nabi saw, diatur oleh Nabi saw. Mereka tidak mau itu terjadi karena kekuasaan mereka harus beralih pula kepada Nabi Muhammad saw. Demikian pula bisnis mereka, seperti,   penyediaan air, makanan, dan perdagangan bagi para peziarah yang datang ke Mekah yang menghasilkan keuntungan ekonomi luar biasa, harus pula menggunakan cara-cara yang dilakukan Sang Nabi. Belum lagi soal perempuan yang bisa mereka “gunakan” kapan saja, Nabi saw melarangnya dengan membatasinya melalui pernikahan dalam jumlah yang juga terbatas, tidak seenaknya. Hal itu semua sangat mengganggu kesenangan kaum kafir. Oleh sebab itu, mereka berusaha keras memusnahkan Nabi saw dan kaum muslimin. Akibatnya, Nabi saw melawan dan kaum kafir pun kalah total.

            Jadi, bukan karena shalat, puasa, haji, atau ritual keagamaan lainnya umat Islam diperangi, melainkan karena kepentingan politik dan ekonomi. Agama hanya dibawa-bawa untuk membungkus dan menyamarkan tujuan sebenarnya, yaitu lima hal: kekuasaan, uang, benda, tempat tinggal, dan seks. Tidak ada tujuan lain, kecuali lima hal itu. Kalau ada tujuan lain, kasih tahu saya.

            Sampurasun.

Wednesday, 14 April 2021

Kegunaan Ilmu Ekonomi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Setiap orang sangat perlu ilmu ekonomi karena setiap orang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Terdapat empat kegunaan utama dari mempelajari ilmu ekonomi.

            Pertama, adalah memahami konsep fundamental dalam ilmu ekonomi, yaitu biaya oportunitas, marjinalitas, dan pasar yang efisien. Biaya oportunitas adalah alternatif terbaik yang kita korbankan ketika mengambil suatu keputusan. Marjinalitas adalah proses menganalisis biaya atau manfaat tambahan timbul dari suatu pilihan. Adapun pasar efisien adalah suatu pasar  yang tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh laba lagi karena setiap orang berupaya mencari peluang laba yang sama sehingga tak ada lagi peluang untuk mendapatkan laba yang berbeda.

            Kedua, dengan memahami ilmu ekonomi, kita dapat memahami kehidupan masyarakat dengan lebih baik. Kita dapat menemukan berbagai jawaban atas berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat. Misalnya, kita dapat menemukan jawaban mengapa orang membangun dulu pasar dibandingkan gedung sekolah, mengapa orang membeli atau menjual ini itu, mengapa orang harus sekolah dan membangun jalan. Pertanyaan-pertanyaan itu dapat terjawab jika kita belajar ilmu ekonomi.

            Ketiga, dengan memahami ilmu ekonomi, kita dapat memahami permasalahan-permasalahan global dengan lebih baik. Kita dapat dengan mudah menemukan bahwa persoalan perang-perang yang terjadi di dunia ini mayoritas disebabkan kebutuhan ekonomi, kebutuhan minyak, makanan, dan tempat tinggal. Hanya sedikit permasalahan dunia yang menimbulkan perang dengan alasan perbedaan keyakinan dan ideologi.

            Keempat, dengan memahami ilmu ekonomi, kita dapat menjadi warga negara yang cerdas dan terhormat. Misalnya, ketika menjadi pemilih dalam Pemilu yang sifatnya politis, kita akan memilih orang atau pihak yang benar-benar memahami ilmu ekonomi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi di tengah masyarakat.

            Demikian gambaran sekilas mengenai kegunaan ilmu ekonomi di tengah masyarakat.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Novasari, Yunita; Jawangga, Yan Hanif; Setiadi, Inung Oni; Hastyorini, Irim Rismi (editor); Ekonomi untuk SMA/MA Kelas X Semester I: Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2013, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Thursday, 11 March 2021

Cabang-Cabang Ilmu Ekonomi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Menurut Alam S. (2013), ilmu ekonomi memiliki delapan cabang, yaitu:

            Pertama, Ilmu Ekonomi Moneter. Ilmu ini membahas tentang uang, perbankan, dan lembaga-lembaga keuangan. Di samping itu, membahas pula hal-hal yang terkait uang, baik langsung maupun tidak, seperti, inflasi, jumlah uang beredar, dan tingkat suku bunga.

            Kedua, Ilmu Ekonomi Publik. Ilmu ini membahas tentang kebijakan pemerintah dalam perekonomian, misalnya, APBD, APBN, hutang pemerintah, pajak, dan retribusi.

            Ketiga, Ilmu Ekonomi Industri. Ilmu ini membahas interaksi berbagai perusahaan dalam suatu industri, baik berupa persaingan usaha atau kerja sama. Ilmu ini termasuk dalam lingkup ekonomi mikro.

            Keempat, Ilmu Ekonomi Internasional. Ilmu ini membahas kegiatan ekonomi antarbangsa atau antarnegara, misalnya, perdagangan, investasi, dan neraca pembayaran.

            Kelima, Ilmu Ekonomi Regional. Ilmu ini membahas perekonomian antarwilayah dan perkembangan wilayah.

            Keenam, Ilmu Ekonomi Sumber Daya Alam (SDA). Ilmu ini membahas optimalisasi alokasi sumber daya alam.

            Ketujuh, Ilmu Ekonomi Sumber Daya Manusia (SDM). Ilmu ini membahas berbagai hal terkait dengan tenaga kerja, semisal, pengangguran, upah, dan pendidikan tenaga kerja.

            Kedelapan, Ilmu Ekonomi Syariah. Ilmu ini bertujuan menerapkan perekonomian Islam dengan bahasan, seperti, prinsip bagi hasil, zakat, dan penghapusan riba.

            Demikian penjelasan kedelapan cabang ilmu ekonomi.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Novasari, Yunita; Jawangga, Yan Hanif; Setiadi, Inung Oni; Hastyorini, Irim Rismi (editor); Ekonomi untuk SMA/MA Kelas X Semester I: Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2013, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wednesday, 3 March 2021

Pengangguran, Rendahnya Kehidupan, dan Banyaknya Penduduk


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak hal yang membuat permasalahan pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang. Tingginya angka pengangguran, rendahnya kehidupan, dan tingginya angka pertumbuhan penduduk merupakan tiga hal yang sangat mengganggu pembangunan ekonomi di negara berkembang.

 

Tingginya Tingkat Pengangguran (High Rates of Unemployment)

Angka pengangguran yang sangat tinggi menyulitkan pembangunan ekonomi. Tingginya angka pengangguran disebabkan oleh angka angkatan kerja yang sangat tinggi, sedangkan kesempatan kerja rendah. Kurangnya lapangan kerja disebabkan oleh rendahnya tingkat penanaman modal, terutama di sektor industri dan jasa modern.

 

Rendahnya Tingkat Kehidupan (Low Level of Living)

Rendahnya tingkat kehidupan dapat dilihat dari kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti, makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan pendidikan. Banyak negara berkembang yang hidup dalam kondisi kekurangan gizi, miskin, kesehatannya buruk, dan pendidikannya rendah, bahkan masih banyak yang buta aksara.

 

Tingginya Pertambahan Penduduk (High Rates of Population Growth)

Biasanya, jumlah penduduk di negara berkembang lebih banyak diibandingkan dengan negara maju. Tingginya tingkat pertambahan penduduk membuat sulit negara untuk menyediakan makanan, pendidikan, lapangan kerja, kesehatan, dan perumahan. Terlalu cepatnya pertambahan penduduk yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi dan sektor lainnya akan sangat menghambat pembangunan.

            Demikan tiga masalah yang dapat menghambat pembangunan ekonomi di Negara-negara berkembang.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Hastyorini, Irim Rismi; Novasari, Yunita; Sari, Kartika; Jawangga, Yan Hanif (editor), Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Semester I: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2016, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Tuesday, 2 March 2021

Tiga Kelompok Dasar Ilmu Ekonomi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Di dalam ilmu ekonomi, terdapat tiga kelompok dasar, yaitu: ekonomi deskriptif, teori ekonomi, dan ekonomi terapan.

Ekonomi deskriptif (descriptive economics) adalah kelompok dasar dari ilmu ekonomi yang mengumpulkan informasi-informasi faktual dan masalah-masalah ekonomi yang ada di masyarakat. Hasil-hasil penelitian dikumpulkan  menjadi data dan pengetahuan empiris yang terjadi. Misalnya, tentang angkatan kerja, organisasi buruh, serta berbagai ihwal mengenai ekonomi.

Teori ekonomi (economic theory). Hal ini merupakan usaha untuk menggenalisir data-data kemudian menafsirkannya. Teori ini merupakan hasil dari berbagai penelitian, pendataan, dan pengukuran yang kemudian dijadikan konsep dan sebuah pemikiran mengenai ekonomi.

Teori ekonomi terbagi dua, yaitu ekonomi makro dan ekonomi mikro. Ekonomi makro adalah ilmu ekonomi yang mempelajari ekonomi secara luas, seperti, pendapatan nasional, tingkat pengangguran, pertumbuhan ekonomi, serta peristiwa ekonomi dan kebijakan ekonomi. Adapun ekonomi mikro mempelajari ekonomi yang sifatnyat terbatas, seperti, ekonomi individu, rumah tangga, dan perusahaan.

Ekonomi terapan (applied economics). Ekonomi ini merupakan ilmu ekonomi yang menjelaskan fakta-fakta yang dikumpulkan dari ekonomi deskriptif. Ekonomi terapan lebih praktis dan nyata, berbeda dengan ekonomi murni yang sifatnya abstrak. Di samping itu, ekonomi terapan merupakan ilmu ekonomi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah ekonomi secara praktis serta merupakan arena kebijakan pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah berdasarkan bukti empiris.

            Demikian penjelasan singkat mengenai tiga kelompok dasar ilmu ekonomi.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Novasari, Yunita; Jawangga, Yan Hanif; Setiadi, Inung Oni; Hastyorini, Irim Rismi (editor); Ekonomi untuk SMA/MA Kelas X Semester I: Peminatan Ilmu-ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2013, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas X Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Tuesday, 23 February 2021

Kerentanan pada Internasional serta Tidak Sempurnanya Pasar dan Informasi

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak masalah pembangunan ekonomi di negara berkembang. Ketergantungan yang besar dan kerentanan dalam hubungan internasional (dominance, dependence, and vulnerability in international relation) serta pasar dan informasi yang tidak sempurna merupakan masalah tersendiri bagi pembangunan ekonomi di negara berkembang.

            Kondisi perekonomian di dalam negeri negara berkembang sangat dipengaruhi oleh perekonomian negara lain, terutama negara-negara maju. Lemahnya permintaan di dalam negeri membuat negara sangat bergantung pada pasar ekspor, tetapi yang diekspor umumnya barang-barang primer. Demikian pula pada dunia industri, negara berkembang sangat bergantung pada negara maju. Industri hulu atau industri bahan dasar ada di negara maju, sedangkan industri hilirnya berada di negara berkembang. Hal itu mengakibatkan negara berkembang sangat bergantung pada impor bahan dasar dari negara maju.

            Di samping itu, masalah pembangunan ekonomi di negara berkembang pun disebabkan oleh keberadaan pasar dan informasi yang kurang lengkap. Struktur pasar barang dan jasa sering tidak lengkap sehingga terjadi monopoli, monopsoni, dan penguasaan pasar oleh hanya segelintir pengusaha dan penguasa. Hal-hal ini kerap menyebabkan kerugian di pihak konsumen.

            Masih banyak masalah lain yang menghambat pembangunan ekonomi di negara berkembang.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Hastyorini, Irim Rismi; Novasari, Yunita; Sari, Kartika; Jawangga, Yan Hanif (editor), Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Semester I: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2016, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta