Showing posts with label Masyarakat. Show all posts
Showing posts with label Masyarakat. Show all posts

Friday, 25 March 2022

Ketenagakerjaan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berkaitan dengan tenaga kerja, baik sebelum, selama, dan sesudah bekerja. Hal-hal yang berkaitan dengan masa sebelum kerja, misalnya, pelamaran, pelatihan, pemagangan, dan pengumuman lowongan kerja. Hal-hal yang berkaitan dengan masa selama kerja, misalnya, jam kerja, upah, jaminan sosial, jaminan kesehatan, jaminan perlindungan kerja, keselamatan kerja, dan pengawasan kerja. Hal-hal yang terkait dengan masa setelah kerja, misalnya, pensiun, pesangon, dan jaminan hari tua.

            Dengan demikian, dalam hal ketenagakerjaan dibahas pula mengenai kesempatan kerja, tenaga kerja, dan angkatan kerja. Hal tersebut mendorong penelitian yang lebih jauh, yaitu mengenai jumlah penduduk, usia kerja, dan bukan usia kerja. Kelompok usia kerja di Indonesia adalah antara 15 s.d. 65 tahun. Hal itu memberikan pengertian bahwa kelompok bukan usia kerja adalah antara 0 s.d. 14 tahun.

            Kesempatan kerja pun sering menjadi perbincangan di masyarakat karena terkait lapangan kerja yang dapat diisi oleh penduduk usia kerja. Pemerintah negara mana pun wajib untuk menyediakan lapangan kerja bagi penduduknya sehingga meminimalisasi pengangguran, kemiskinan, dan kriminalitas. Di samping itu, masyarakat pun wajib memiliki kemampuan dan keterampilan untuk dapat memasuki dunia kerja yang penuh dengan persaingan.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Hastyorini, Irim Rismi; Novasari, Yunita; Sari, Kartika; Jawangga, Yan Hanif (editor), Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI Semester I: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, PT Penerbit Intan Pariwara

S., Alam, 2016, Ekonomi untuk SMA dan MA Kelas XI Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Monday, 1 February 2021

Masyarakat Selalu Berkembang

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masyarakat selalu berkembang dan berubah. Tak ada yang bisa menahan perubahan masyarakat tersebut. Hal itu disebabkan hal-hal sebagai berikut.

            Pertama, tidak ada masyarakat yang tidak berkembang. Perkembangan selalu terjadi, baik cepat maupun lambat.

            Kedua, perubahan yang terjadi pada satu lembaga masyarakat akan diikuti oleh perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat yang lainnya. Hal itu merupakan suatu kenyataan yang terjadi karena berada dalam satu mata rantai yang sama.

            Ketiga, perubahan cepat biasanya mengakibatkan disorganisasi karena berada dalam proses penyesuaian. Setelah disorganisasi, terjadi reorganisasi untuk menampung serta memantapkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai baru.

            Keempat, perubahan tidak terbatas pada bidang yang sifatnya kebendaan atau material, tetapi terjadi pula dalam bidang spiritual. Hal tersebut disebabkan adanya kaitan timbal balik yang kuat di antara keduanya.

            Demikian penjelasan tentang perubahan yang selalu terjadi di masyarakat.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Thursday, 13 August 2020

Mempertahankan Nilai Lama dalam Arus Perubahan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perubahan adalah suatu keniscayaan karena pada dasarnya dunia selalu berkembang. Hal itu pun mempengaruhi kehidupan masyarakat. Ada yang mengikuti arus perubahan dan hidup sesuai dengan perubahan tersebut, termasuk perubahan nilai-nilai. Ada pula masyarakat yang cenderung mempertahankan nilai-nilai lama dan mempertahankannya sehingga perubahan tidak mengubah keseluruhan nilai yang terdapat di masyarakat.

            Kecenderungan untuk mempertahankan nilai-nilai lama tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya:

            Pertama, adanya unsur-unsur yang berfungsi sangat penting di tengah masyarakat. Misalnya, sistem kekerabatan dan soliditas kesukuan pada suku tertentu. Meskipun perubahan cenderung menawarkan persaingan hidup yang keras dan individualistis, masyarakat tetap mempertahankan nilai-nilai kekerabatan sehingga menghalangi efek negatif dari individualistis.

            Kedua, adanya unsur-unsur yang sudah sangat kuat tertanam sejak kecil. Contohnya, orang Indonesia makan pokoknya adalah nasi. Makanan pokok sesungguhnya dapat berubah menjadi mie, gandum, jagung, roti, dan sebagainya. Akan tetapi, orang Indonesia tetap memilih nasi sebagai makanan pokok dengan sayur dan lauknya yang lebih lezat dibandingkan dengan makanan yang berasal dari negara lain.

            Ketiga, adanya unsur-unsur yang hadir dalam kehidupan beragama. Agama adalah nilai yang sangat kuat dalam diri seseorang yang sudah meyakininya. Dia akan sangat sulit meninggalkan tatacara ibadat, ritual, ajaran, dan tradisi keagamaannya. Apabila tidak melaksanakan hal-hal itu, seseorang akan merasa sangat bersalah. Contohnya, di Indonesia yang mayoritas Islam kerap mengadakan berbagai hajatan syukuran atas kenikmatan yang diperolehnya. Bahkan, untuk mengenang orang yang sudah wafat pun, kerap berkumpul berdoa dan makan bersama. Hal-hal itu mengikat banyak orang untuk melaksanakannya. Jika tidak, orang bisa merasa sangat bersalah atau merasa diri kurang dalam hidupnya.

            Keempat, terdapat unsur ideologi dan falsafah hidup bangsa yang sangat diyakini dan dijaga agar perubahan-perubahan yang terjadi di dunia tidak membuat keyakinan terhadap bangsanya rusak yang pada gilirannya akan mengubah hidup masyarakat dengan nilai-nilai asing yang tidak dikenalnya dengan baik. Misalnya, Indonesia memiliki falsafah hidup Pancasila. Dengan falsafah itulah masyarakat menyaring segala perubahan sehingga nilai-nilai baru harus menyesuaikan dirinya dengan nilai-nilai Pancasila.

            Demikian faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat tetap bertahan pada nilai-nilainya sendiri dalam menghadapi berbagai perubahan di dunia.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

 

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Friday, 7 August 2020

Penyebab Perubahan Sosial

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perubahan yang terjadi pada masyarakat disebabkan banyak hal, baik yang bersifat lahir maupun batin. Hal-hal yang bersifat lahir biasanya berbentuk materi semisal alat komunikasi dan kendaraan. Hal-hal yang berbentuk batin semisal tumbuhnya kesadaran dan pemikiran baru.

            Berikut alasan-alasan terjadinya perubahan.

            Pertama, masyarakat menghadapi masalah-masalah baru. Masyarakat selau menghadapi masalah-masalah baru sesuai dengan tuntutan zamannya yang membutuhkan pemikiran dan alat baru untuk memecahkannya. Misalnya, ketika kendaraan motor semakin banyak, terjadi masalah kemacetan; ketika terjadi pandemi Covid-19, terjadi kematian, kesakitan, dan penularan. Hal-hal seperti itu mendorong masyarakat untuk berubah dengan menggunakan segala kemampuannya, baik yang bersifat lahir maupun batin.

            Kedua, tingkat ketergantungan pada hubungan antarwarga pewaris kebudayaan. Banyak tradisi dan agama yang mempertahankan kebiasaan-kebiasaan mereka. Akan tetapi, kebiasaan-kebiasaan itu kerap berbenturan dengan kondisi zamannya. Oleh sebab itu, di antara warga selalu ada pihak-pihak atau kekuatan yang memiliki pemikiran baru untuk melakukan perubahan.

            Ketiga, perubahan lingkungan. Lingkungan sangat mendorong perubahan masyarakat. Misalnya, munculnya  kota-kota kecil yang berada di wilayah yang dulunya pedesaan membuat masyarakat berubah banyak. Lingkungan yang kemudian banyak diisi oleh orang-orang berpendidikan akan meningkatkan perilaku dan pola pikir masyarakat.

            Secara umum faktor-faktor yang mendorong masyarakat untuk berubah adalah:

            Pertama, rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada. Ketidakpuasan atas situasi yang sedang berjalan mendorong masyarakat untuk berubah. Misalnya, masyarakat yang terkekang dengan tradisi melakukan perlawanan untuk hidup lebih bebas.

            Kedua, timbulnya keinginan untuk mengadakan perbaikan. Situasi yang buruk dan lemah mendorong masyarakat untuk memperbaiki keadaan. Misalnya, kemiskinan mendorong masyarakat untuk lebih berpendidikan dan meningkatkan keterampilan dirinya.

            Ketiga, kesadaran adanya kekurangan dalam budaya sendiri sehingga berusaha mengadakan perbaikan. Contohnya, masyarakat Indonesia yang dimanjakan alam yang tropis membuat diri malas dan banyak istirahat. Kemalasan itu menyebabkan kelemahan berpikir dan kurangnya daya saing ekonomi. Hal itu mendorong perubahan untuk lebih tinggi tingkat pendidikan dan lebih bekerja keras jika ingin cerdas dan mendapatkan kekayaan yang banyak.

            Keempat, adanya usaha untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Contohnya, adanya wabah penyakit Covid-19 mendorong masyarakat untuk menjaga kesehatan, menggunakan masker, banyak di rumah, dan bekerja ke luar rumah jika sangat penting.

            Kelima, banyaknya kesulitan yang dihadapi yang memungkinkan manusia untuk dapat mengatasinya. Berbagai kesulitan hidup membuat manusia berubah agar dapat mengatasinya dengan baik. Misalnya, kesulitan ekonomi membuat manusia berpikir melakukan beragam cara untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

            Keenam, sikap terbuka dari masyarakat terhadap hal-hal baru, baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Keterbukaan masyarakat terhadap gagasan baru yang tumbuh dalam lingkungannya akan membuat perubahan bagi masyarakat itu sendiri. Misalnya, adanya gagasan untuk bekerja bakti secara rutin akan membuat lingkungan yang kumuh berubah menjadi bersih dan sehat. Keterbukaan terhadap pengaruh dari luar dirinya pun akan membuat masyarakat berubah. Misalnya, kehadiran para dokter dengan ilmu medis modern membuat masyarakat perlahan-lahan meninggalkan praktik-praktik perdukunan.

            Ketujuh, tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup. Kebutuhan masyarakat yang semakin banyak mendorong untuk bekerja lebih keras lagi. Misalnya, sekarang dengan adanya smartphone, kendaraan baru, dan laptop membuat masyarakat bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang agar dapat membeli barang-barang tersebut.

            Kedelapan, sistem pendidikan yang memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dengan berkembangnya sistem pendidikan, manusia mendapatkan pengetahuan dan pengakuan baru melebihi kondisi rata-rata masyarakat yang tidak berpendidikan. Hal itu membuat masa depan dan kehidupan orang-orang yang berpendidikan lebih baik.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

 

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial