Showing posts with label Perubahan Sosial. Show all posts
Showing posts with label Perubahan Sosial. Show all posts

Monday, 1 February 2021

Masyarakat Selalu Berkembang

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masyarakat selalu berkembang dan berubah. Tak ada yang bisa menahan perubahan masyarakat tersebut. Hal itu disebabkan hal-hal sebagai berikut.

            Pertama, tidak ada masyarakat yang tidak berkembang. Perkembangan selalu terjadi, baik cepat maupun lambat.

            Kedua, perubahan yang terjadi pada satu lembaga masyarakat akan diikuti oleh perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat yang lainnya. Hal itu merupakan suatu kenyataan yang terjadi karena berada dalam satu mata rantai yang sama.

            Ketiga, perubahan cepat biasanya mengakibatkan disorganisasi karena berada dalam proses penyesuaian. Setelah disorganisasi, terjadi reorganisasi untuk menampung serta memantapkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai baru.

            Keempat, perubahan tidak terbatas pada bidang yang sifatnya kebendaan atau material, tetapi terjadi pula dalam bidang spiritual. Hal tersebut disebabkan adanya kaitan timbal balik yang kuat di antara keduanya.

            Demikian penjelasan tentang perubahan yang selalu terjadi di masyarakat.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Tuesday, 15 September 2020

Perubahan Sosial Menurut Teori Perkembangan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Menurut teori ini, perubahan dan perkembangan masyarakat dapat diarahkan ke titik tertentu. Masyarakat primitif, tradisional, dapat berkembang ke arah masyarakat yang maju, industri.

            Perubahan masyarakat dapat dibagi ke dalam teori evolusi dan teori revolusi. Perubahan lambat dan perubahan cepat. Menurut Auguste Comte, seorang sarjana Perancis, pergerakan masyarakat melalui tiga tahap, yaitu:

            Pertama, tahap teologis (theological stage), pada tahap ini masyarakat diarahkan oleh nilai-nilai supernatural.

            Kedua, tahap metafisik (methaphysical stage). Pada tahap ini terjadi peralihan dari kepercayaan terhadap unsur supernatural  menuju prinsip abstrak sebagai perkembangan budaya. Manusia mulai mengandalkan hati dan pikirannya untuk berkembang.

            Ketiga, tahap positifis atau alamiah (positive stage).  Pada tahap ini masyarakat diarahkan oleh kenyataan yang didukung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Pada fase ini manusia menyandarkan dirinya pada data-data, fakta-fakta, dan berbagai analisis ilmiah.

            Adapun Herbert Spencer, seorang sosiolog dari Inggris, berpendapat bahwa orang-orang yang cakap, cerdas, terampil sajalah yang dapat menjadi pemenang dalam kehidupan. Orang-orang yang lemah, malas, dan bodoh akan tersisih.

            Tahapan perkembangan dalam pandangan Herbert Spencer adalah masyarakat sederhana, masyarakat komplek, masyarakat lebih komplek, dan peradaban.

            Emile Durkheim menjelaskan bahwa masyarakat berkembang dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik. Solidaritas mekanik adalah solidaritas yang hidup pada masyarakat tradisional yang hanya bekerja tanpa aturan yang jelas. Adapun solidaritas organik hidup pada masyarakat modern yang telah mengenal pembagian kerja.

            Adapun dalam pandangan teori revolusi Karl Marx, masyarakat berubah secara linear, tetapi secara revolusioner dari masyarakat feodal menuju masyarakat kapitalis.

            Inti dari teori perkembangan adalah masyarakat berubah dan berkembang ke arah tertentu.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

 

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Friday, 21 August 2020

Karakteristik Perubahan Sosial

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Berdasarkan berbagai kajian, perubahan sosial memiliki karakteristik tertentu. Berikut beberapa karakteristik tersebut.

            Pertama, masyarakat selalu berkembang. Tidak ada masyarakat yang berhenti berkembang. Perubahan atau perkembangan tersebut bisa terjadi dengan cepat atau lambat. Hal yang jelas perubahan tidak bisa ditahan. Kalaupun ada orang-orang yang tidak mengikuti perubahan dalam arti anti terhadap perubahan, akan menjadi pihak yang “ketinggalan zaman”.

            Kedua, perubahan yang terjadi pada suatu lembaga kemasyarakatan akan mendorong pula perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga lainnya. Hal itu disebabkan lembaga yang satu dengan lembaga-lembaga lainnya terhubung bagai mata rantai. Contohnya, pada masa orde baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto, presiden Indonesia itu sangat kuat, bisa berkali-kali dipilih, dan masyarakat sulit untuk melakukan kritik atau protes terhadap pemerintah. Oleh sebab itu, pemerintah tertutup kepada masyarakat. Ketika berganti ke masa reformasi, presiden tidak boleh berkali-kali, paling lama hanya dua periode, kekuasaan presiden dibatasi oleh undang-undang, tidak boleh sekehendak dirinya sendiri, masyarakat boleh mengkritik dan protes. Oleh sebab itu, pemerintah menjadi harus terbuka. Setiap bagian atau departemen dalam pemerintah Indonesia harus terbuka kepada masyarakat. Demikian pula, lembaga penegak hukum ditambah dengan kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

            Ketiga, perubahan sosial bisa terjadi dengan lambat atau cepat. Perubahan yang cepat biasanya mengakibatkan disorganisasi (keterbelahan atau kekacauan organisasi atau kerusakan kesatuan) untuk sementara karena harus ada penyesuaian terhadap perubahan tersebut. Akan tetapi, pada waktunya akan terjadi reorganisasi (pengaturan kembali organisasi atau kesatuan) yang meliputi pemantapan kaidah, nilai, dan sikap yang baru akibat adanya perubahan.

            Keempat, perubahan tidak dapat dibatasi pada hanya benda atau spiritual karena keduanya mempunyai kaitan yang kuat. Misalnya, pada zaman dahulu orang mempelajari agama hanya dari ceramah para pemimpin agama, tetapi sekarang orang bisa mempelajarinya lewat buku atau internet. Dengan demikian, pengetahuan akan menyebar lebih cepat dibandingkan dengan hanya mendengarkan ceramah.

            Kelima, meskipun perubahan sosial tidak dapat dibendung dan tidak dapat ditahan, setiap orang harus waspada agar tidak menjadi korban perubahan yang negatif. Justru kitalah yang harus menjadi penentu dalam perubahan.

            Sampurasun.

 

 

Sumber Pustaka

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

 

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Friday, 7 August 2020

Penyebab Perubahan Sosial

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Perubahan yang terjadi pada masyarakat disebabkan banyak hal, baik yang bersifat lahir maupun batin. Hal-hal yang bersifat lahir biasanya berbentuk materi semisal alat komunikasi dan kendaraan. Hal-hal yang berbentuk batin semisal tumbuhnya kesadaran dan pemikiran baru.

            Berikut alasan-alasan terjadinya perubahan.

            Pertama, masyarakat menghadapi masalah-masalah baru. Masyarakat selau menghadapi masalah-masalah baru sesuai dengan tuntutan zamannya yang membutuhkan pemikiran dan alat baru untuk memecahkannya. Misalnya, ketika kendaraan motor semakin banyak, terjadi masalah kemacetan; ketika terjadi pandemi Covid-19, terjadi kematian, kesakitan, dan penularan. Hal-hal seperti itu mendorong masyarakat untuk berubah dengan menggunakan segala kemampuannya, baik yang bersifat lahir maupun batin.

            Kedua, tingkat ketergantungan pada hubungan antarwarga pewaris kebudayaan. Banyak tradisi dan agama yang mempertahankan kebiasaan-kebiasaan mereka. Akan tetapi, kebiasaan-kebiasaan itu kerap berbenturan dengan kondisi zamannya. Oleh sebab itu, di antara warga selalu ada pihak-pihak atau kekuatan yang memiliki pemikiran baru untuk melakukan perubahan.

            Ketiga, perubahan lingkungan. Lingkungan sangat mendorong perubahan masyarakat. Misalnya, munculnya  kota-kota kecil yang berada di wilayah yang dulunya pedesaan membuat masyarakat berubah banyak. Lingkungan yang kemudian banyak diisi oleh orang-orang berpendidikan akan meningkatkan perilaku dan pola pikir masyarakat.

            Secara umum faktor-faktor yang mendorong masyarakat untuk berubah adalah:

            Pertama, rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada. Ketidakpuasan atas situasi yang sedang berjalan mendorong masyarakat untuk berubah. Misalnya, masyarakat yang terkekang dengan tradisi melakukan perlawanan untuk hidup lebih bebas.

            Kedua, timbulnya keinginan untuk mengadakan perbaikan. Situasi yang buruk dan lemah mendorong masyarakat untuk memperbaiki keadaan. Misalnya, kemiskinan mendorong masyarakat untuk lebih berpendidikan dan meningkatkan keterampilan dirinya.

            Ketiga, kesadaran adanya kekurangan dalam budaya sendiri sehingga berusaha mengadakan perbaikan. Contohnya, masyarakat Indonesia yang dimanjakan alam yang tropis membuat diri malas dan banyak istirahat. Kemalasan itu menyebabkan kelemahan berpikir dan kurangnya daya saing ekonomi. Hal itu mendorong perubahan untuk lebih tinggi tingkat pendidikan dan lebih bekerja keras jika ingin cerdas dan mendapatkan kekayaan yang banyak.

            Keempat, adanya usaha untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Contohnya, adanya wabah penyakit Covid-19 mendorong masyarakat untuk menjaga kesehatan, menggunakan masker, banyak di rumah, dan bekerja ke luar rumah jika sangat penting.

            Kelima, banyaknya kesulitan yang dihadapi yang memungkinkan manusia untuk dapat mengatasinya. Berbagai kesulitan hidup membuat manusia berubah agar dapat mengatasinya dengan baik. Misalnya, kesulitan ekonomi membuat manusia berpikir melakukan beragam cara untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

            Keenam, sikap terbuka dari masyarakat terhadap hal-hal baru, baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Keterbukaan masyarakat terhadap gagasan baru yang tumbuh dalam lingkungannya akan membuat perubahan bagi masyarakat itu sendiri. Misalnya, adanya gagasan untuk bekerja bakti secara rutin akan membuat lingkungan yang kumuh berubah menjadi bersih dan sehat. Keterbukaan terhadap pengaruh dari luar dirinya pun akan membuat masyarakat berubah. Misalnya, kehadiran para dokter dengan ilmu medis modern membuat masyarakat perlahan-lahan meninggalkan praktik-praktik perdukunan.

            Ketujuh, tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup. Kebutuhan masyarakat yang semakin banyak mendorong untuk bekerja lebih keras lagi. Misalnya, sekarang dengan adanya smartphone, kendaraan baru, dan laptop membuat masyarakat bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang agar dapat membeli barang-barang tersebut.

            Kedelapan, sistem pendidikan yang memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dengan berkembangnya sistem pendidikan, manusia mendapatkan pengetahuan dan pengakuan baru melebihi kondisi rata-rata masyarakat yang tidak berpendidikan. Hal itu membuat masa depan dan kehidupan orang-orang yang berpendidikan lebih baik.

            Sampurasun.

 

Sumber Pustaka:

Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

 

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial

Thursday, 30 July 2020

Hakikat Perubahan Sosial


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Pada dasarnya manusia selalu berubah. Ia selalu ingin mengetahui dan menikmati hal yang baru. Manusia selalu tidak puas dan menginginkan hal yang baru dan lebih baik. Manusia adalah makhluk yang selalu ingin berubah, aktif, kreatif, inovatif, agresif, selalu berkembang, dan responsif terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat.

            Perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat meliputi perubahan norma sosial, pola sosial, interaksi sosial, pola perilaku, organisasi sosial, lembaga kemasyarakatan, lapisan masyarakat, serta susunan kekuasaan dan wewenang.

            Berikut pandangan beberapa tokoh mengenai perubahan sosial.

            Selo Soemardjan menyatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap, dan perilaku di antara kelompok masyarakat. Contohnya, dengan keterbukaan informasi dan meningkatnya pendidikan, cara-cara hidup dan kepercayaan tradisional bergeser lebih terbuka dan dapat dipahami dengan akal. Dulu orang sangat percaya bahwa Tuhan mereka adalah pohon besar dan pohon kuno. Mereka menghormatinya, merawatnya, bahkan menyembah dan memberikan sesajen pada pohon itu. Sekarang perilaku itu sudah disingkirkan karena terjadi banyak perubahan keyakinan pada masyarakat.

            Kingsley Davis mengungkapkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Contohnya pada zaman dulu yang namanya organisasi kemasyarakatan, perusahaan, pertanian, dan pengelolaan negara diserahkan dan dikuasakan pada keluarga tertentu yang dipandang lebih hebat dibandingkan masyarakat lainnya. Pada masa ini kekuasaan dan kewenangan mengatur masyarakat atau bisnis diserahkan dan dikelola oleh orang-orang yang berpendidikan dan berpengalaman di bidangnya masing-masing.

            George Ritzer mengatakan bahwa perubahan sosial mengacu pada variasi-variasi hubungan antarindividu, kelompok, organisasi, kultur, dan masyarakat pada waktu tertentu. Hal ini bisa dilihat ketika Indonesia masih dijajah Belanda, rakyat percaya bahwa dirinya bodoh, lemah, rapuh, dan selalu harus ikut pada kemauan penjajah. Akan tetapi, ketika timbul kelompok perlawanan, gerakan perjuangan, dan mendapatkan kemerdekaan, terjadi perubahan keyakinan dan sikap dari rakyat Indonesia. Rakyat menjadi merasa bahwa dirinya berhak sama derajat dengan bangsa-bangsa penjajah. Mereka tidak mau lagi hidup dalam tekananan penjajah asing.

            John Lewis Gillin dan  John Philip Gillin  berpendapat bahwa perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun karena difusi atau penemuan-penemuan baru. Hal ini bisa dilihat bahwa jika seseorang atau sekelompok orang berpindah dari suatu wilayah ke wilayah lain, terdapat kecenderungan untuk mengikuti cara-cara hidup di wilayah yang ditempatinya.

             Samuel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi ini bisa terjadi karena faktor intern maupun ekstern. Maksudnya perubahan itu bisa terjadi karena keinginan masyarakatnya sendiri, bisa pula karena ada dorongan kuat dari luar masyarakatnya. Misalnya, masyarakat ingin hidupnya lebih baik, lalu meningkatkan pendidikannya melalui jalur sekolah. Contoh lain, masyarakat dipaksa oleh pihak luar untuk menggunakan pengobatan modern jika sakit dan meninggalkan kepercayaan pada praktik perdukunan.

            Robert Maciver menjelaskan bahwa perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan sosial (social relationship) atau perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial. Maksudnya, hubungan sosial yang sudah terjadi sebagaimana biasanya secara mapan mengalami proses perubahan sehingga berbagai hubungan tersebut berubah. Bisa menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk.

            William F. Ogburn menyatakan bahwa perubahan sosial menekankan pada kondisi teknologis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial, seperti, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat berpengaruh terhadap pola berpikir masyarakat. Kita bisa melihat bahwa dengan adanya pesawat terbang, orang bisa ke mana-mana ke seluruh dunia dan lebih jelas mengamati perbedaan kehidupan manusia pada wilayah yang berbeda. Hal itu membuat masyarakat lebih banyak mendapatkan pengetahuan baru, sikap baru, pengalaman baru sehingga tidak mudah ditipu dengan dongeng-dongeng palsu tentang kehidupan orang di lain tempat. Di samping itu, dengan perkembangan teknologi, kehidupan bisnis berkembang lebih cepat sehingga orang-orang bisa hidup lebih baik dan lebih kaya.

            Demikian penjelasan tentang hakikat kehidupan sosial secara singkat.

            Sampurasun


Sumber Pustaka
Maryati, Kun; Suryawati, Juju, 2013, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII Kurikulum 2013: Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, Penerbit Erlangga: Jakarta

Wijayanti, Fitria; Kusumantoro, Sri Muhammad; Irawan, Hanif, Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII: Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial