Showing posts with label Toleransi. Show all posts
Showing posts with label Toleransi. Show all posts

Thursday, 5 September 2024

Imam Besar Istiqlal dan Pemimpin Gereja Katolik Dunia Saling Cium

 


 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang surya

Seharusnya, tidak ada yang gerah atau kepanasan dengan peristiwa saling cium antara Imam Besar Istiqlal Prof. Dr. Nasaruddin Umar dengan Pemimpin Gereja Katolik Dunia sekaligus Kepala Negara Vatikan Paus Fransiskus. Itu adalah momen luar biasa yang menunjukkan persahabatan, perdamaian, dan persaudaraan. Tak perlu lagi ada rasa saling curiga atas dasar agama. Semua harus bekerja sama untuk kepentingan semua manusia di muka Bumi.

            Imam Besar Istiqlal mencium kepala Paus dua kali. Paus Fransiskus membalas mencium tangan Prof. Dr. Nasaruddin Umar dua kali pula.




            
Sejarah manusia sudah berulang-ulang berdarah-darah dan menimbulkan banyak kerusakan serta kehilangan nyawa atas dasar perbedaan agama yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Setiap hari kita harus memperbaiki diri, kehidupan, serta hubungan di antara sesama manusia. Pada dasarnya kita semua berasal dari Zat Yang Satu, Allah swt. Perbedaan agama dan keyakinan adalah kenyataan yang harus kita terima. Soal siapa yang paling benar dan paling berhak mendapatkan surga, itu urusannya nanti di akhirat. Semua orang berhak meyakini kebenaran agamanya masing-masing, tak perlu memaksakan keyakinan kepada orang lain. Selama kita hidup di dunia ini dalam mempertahankan hubungan baik di antara manusia adalah toleransi, berbuat baik, dan memberikan manfaat kepada banyak orang sesuai kapasitas diri masing-masing. Soal praktik ritual, biarlah pemeluk agama masing-masing melakukannya karena pada dasarnya setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing.

            Selama kita hidup di dunia adalah teramat mulia kita menjaga kehidupan yang damai, harmonis, dan menyenangkan.

            Kedua foto itu saya dapatkan dari detik com.

            Sampurasun.

Wednesday, 21 August 2019


Berdebat Apa Agama Terbaik

oleh Tom Finaldin



Bandung, Tom Finaldin
Setiap pemeluk agama apa pun akan menganggap agamanya adalah terbaik dan menganggap agama lainnya lebih lemah dibandingkan agama yang dianutnya. Buktinya, mereka tetap berada dalam agamanya masing-masing dan bangga dengan agamanya. Jika ada pemeluk agama lain yang berbeda dengan dirinya menunjukkan kelemahan agama yang dianutnya, mereka akan tersinggung. Mereka mencoba mengerahkan ilmunya untuk menunjukkan kehebatan agamanya. Kalau tidak bisa, mereka akan menghina agama pemeluk agama lain yang dianggap menghinanya. Bahkan, bisa berujung kekerasan fisik. Di Amerika Serikat panitia perlombaan menggambar Nabi Muhammad saw ditembaki orang. Di Perancis dan Italia ada teror bom dengan alasan di negeri itu banyak yang menghina Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Di India apalagi ada masjid besar yang diruntuhkan massa karena dianggap tanah itu merupakan kelahiran dewa tertentu. Masih banyak kasus yang lain.  Itu kenyataannya. Tidak bisa dibantah.

            Dengan pemahaman seperti itu, di Indonesia ada larangan untuk menghina agama lain. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga ketenteraman dan menumbuhkan kerukunan.

            Apabila ada yang ingin menunjukkan bahwa agamanya yang terbaik di hadapan agama lainnya, boleh saja. Akan tetapi, jangan di tempat umum. Berdebatlah di ruangan tertutup, misalnya, di kelas, aula, ruang rapat, dan tidak boleh menggunakan pengeras suara ke luar ruangan. Setiap pemuka agama sepakat untuk berdebat secara keilmuan dan sama-sama berjanji untuk tidak saling sakit hati, tidak beralih ke pertarungan fisik, dan tidak saling menuntut secara hukum. Berdebatlah secara akademis. Semua perdebatan hanya ada di dalam ruangan. Begitu ke luar dari pintu ruangan, perdebatan harus berakhir, semua harus kembali rukun.

            Jangan berdebat di ruang umum, jangan di media sosial karena perdebatan akan berujung saling hina, saling maki, jauh dari ilmu pengetahuan, yang ada hanya kata-kata kotor murahan dan tidak berpendidikan. Lebih jauh lagi bisa menimbulkan kasus hukum karena perdebatan menjadi tidak terkendali dan tidak ilmiah.

            Boleh berdebat, tetapi harus tertata, teratur, ilmiah. Jangan takut berdebat. Justru melalui perdebatan, kita bisa belajar banyak.

            Untuk apa takut berdebat jika kita memang yakin agama kita adalah yang terbaik?

            Berdebatlah dengan baik karena tidak ada toleransi dalam agama. Toleransi bukanlah dalam hal agama, melainkan dalam hal hubungan antarumat beragama, hubungan sesama manusia, interaksi masyarakat.

            Itu pun jika ingin berdebat. Kalaupun tidak ingin berdebat, ya nggak apa-apa juga. Saya hanya mengingatkan bagi mereka yang ingin berdebat, gunakan ruangan tertutup, terbatas, dan tidak perlu menggunakan pengeras suara. Jangan di ruang umum atau fasilitas yang bisa diakses siapa saja.

            Sampurasun.

Saturday, 30 July 2016

Rusuh di Tanjung Balai Tanda Kurang Kontrol Diri

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Huru-hara atau kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara itu sungguh memalukan bagi bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai dan budaya yang luhur. Ketinggian budaya dan nilai itu sesungguhnya sudah sejak berabad lalu diajarkan para leluhur Indonesia. Kerusuhan yang tidak perlu merupakan pertanda bahwa masih banyak orang Indonesia yang tidak menghargai wasiat leluhurnya untuk selalu hidup damai, aman, dan harmonis.

            Sesungguhnya, ada banyak hal yang tidak matching dengan nilai-nilai toleransi dari kasus tersebut. Kita memang tidak mengetahui secara detail kerusuhan tersebut. Pengetahuan kita hanya berdasarkan berita yang beredar di sana-sini. Berdasarkan berita-berita tersebut, ada beberapa hal yang mereka lewatkan dalam menyelesaikan permasalahan.

            Pertama, Meliana seorang keturunan Cina yang tinggal dekat sekali dengan masjid merasa terganggu oleh volume suara adzan. Dia minta dikecilkan pada Nazir yang berada di masjid tersebut. Menurut Nazir, Meliana sudah berulang kali meminta hal tersebut. Permintaan Meliana tersebut menimbulkan cekcok mulut di antara mereka. Entah apa yang mereka katakan dalam cekcok tersebut sehingga semakin memanas dan meluas.

            Saya melihat Meliana sama sekali kurang bijak dalam meminta pengurus masjid untuk mengecilkan volume. Hal itu disebabkan bahwa adzan itu hanya sebentar, tidak sampai setengah jam. Mungkin lima menit juga tidak. Seharusnya, dia bersabar karena hanya sebentar dan di sana ada banyak mayoritas muslim dan pribumi asli. Sementara itu, dia bukan muslim dan keturunan Cina. Dengan demikian, Meliana kurang bijak dalam bersikap. Dia seolah-olah bersikap “menantang”. Bersikap sabar adalah sudah seharusnya yang dia lakukan sesuai dengan pepatah di mana Bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Artinya, setiap pendatang dan bukan warga pribumi asili wajib hukumnya menghormati adat, budaya, dan agama mayoritas di tempat dia tinggal.

            Kedua, kesalahan Meliana adalah meminta secara langsung pada pengurus masjid untuk mengecilkan volume adzan. Seharusnya, dia berbicara dulu kepada RT, RW, atau tokoh masyarakat setempat agar ada orang yang menjembatani keinginannya sehingga pembicaraan bisa berlangsung lebih tenang dan mudah dipahami. Sekali lagi, dia seharusnya sadar bahwa dirinya bukan muslim dan keturunan Cina. Hal itu merupakan kenyataan yang mudah sekali menimbulkan resistensi. Jika dia berbicara melalui pengurus daerah setempat, mungkin kejadiannya tidak seperti itu. Dia bisa meminta pada pejabat setempat agar berbicara pada pengurus masjid supaya volume adzan bisa dikecilkan karena, misalnya, dia sedang sakit atau ada keluarganya yang sedang sakit dan perlu istirahat lebih banyak sesuai anjuran dokter. Akan tetapi, permintaan itu harus hanya ketika ada yang sakit, tidak selamanya. Hal itu disebabkan adzan itu diperlukan setiap hari dalam volume tinggi agar dapat lebih jauh menjangkau kaum muslimin untuk segera melakukan shalat.

            Ketiga, bisa jadi memang volume adzan di masjid itu terlalu keras dan tinggi sehingga benar-benar mengganggu. Volume adzan yang terlalu tinggi melalui pengeras suara memang kerap mengganggu dan menyakitkan gendang telinga siapa pun. Jadi, bukannya lantunan indah adzan yang terdengar, melainkan teriakan muadzin yang membuat telinga bising bukan main. Jika memang terlalu tinggi dan berlebihan, bukan hanya mengganggu, melainkan pula merusakkan sound system sekaligus pengeras suaranya. Suara yang keluar dari pengeras suara itu menjadi pecah dan tidak terdengar dengan indah. Ini adalah kesalahan dari pengurus masjid kalau seperti itu.

            Saya juga pernah merasa terganggu oleh volume masjid yang terlalu keras dan keterlaluan. Hal yang saya alami memang bukan adzan, melainkan muhasabah dari sebuah masjid dengan suara yang terlalu keras dan dilaksanakan hampir setiap malam sekitar pukul 01.30 s.d. 03.00 dini hari. Acara itu pun dilakukan mereka sambil menangis. Jadi, suara yang keluar dari speaker pecah, terlalu tinggi, dilaksanakan ketika orang-orang sedang tidur, kata-kata yang keluar dari pengeras suara itu pun sangat tidak jelas karena sambil menangis.

            Untuk mengatasi hal itu, beberapa warga yang merasa terganggu seperti saya, berbicara kepada RT, RW, dan tokoh masyarakat setempat. Mereka pun mendatangi masjid tersebut yang memang selalu penuh dengan jamaah. Hasilnya, sangat baik. Mereka tetap bermuhasabah tanpa menggunakan pengeras suara lagi. Orang-orang yang sedang tidur pun tidak terganggu. Jadi, acara terus berjalan dan warga yang tidak ikutan acara tetap bisa tenang istirahat. Hal yang sangat penting adalah tidak ada huru-hara yang terjadi. Semua orang tetap bisa saling menghormati dan menghargai.

            Keempat, cekcok mulut antara Nazir dan Meliana bisa jadi melebar ke mana-mana, malah mungkin menjurus ke persoalan Sara yang sudah tidak ada hubungannya lagi dengan volume sound system. Kita memang tidak tahu apa yang dikatakan mereka. Akan tetapi, seharusnya jika ada yang telah melakukan penghinaan soal Sara, jangan dibalas lagi. Segera laporkan pada polisi karena Indonesia memiliki undang-undang tentang itu. Kalau Meliana yang mulai menghina soal Sara, Nazir lebih baik diam, lalu laporkan pada polisi. Demikian pula sebaliknya, kalau Nazir yang mulai berulah, Meliana tidak perlu banyak tingkah. Segera laporkan pada polisi. Pihak kepolisian pun harus bertindak secepat mungkin dan tidak boleh menanggapi laporan semacam itu dengan “santai” karena bisa memicu huru-hara. Sepertinya, baik Nazir maupun Meliana kurang kontrol terhadap hal itu sehingga cekcok meluas menjadi huru-hara yang membuat Kapolri turun tangan.

            Kelima, kaum muslimin sebagai mayoritas seharusnya sudah jangan mau lagi diadu domba oleh celotehan-celotehan di Medsos. Seharusnya, kaum muslimin bisa lebih tenang dan menenangkan saudara-saudaranya. Protes boleh, demonstrasi boleh, tetapi kalau sudah terjadi pengrusakan, penjarahan, dan pembakaran, itu berlebihan. Kalaulah celotehan di Medsos itu adalah benar, segera lapor polisi dan dorong polisi untuk bertindak cepat agar situasi yang mungkin akan menjadi tidak terkendali bisa lebih dini dicegah. Kalau polisi dipandang tidak adil dan tidak bekerja cepat, yang harus disalahkan adalah polisi karena itu adalah kelalaian mereka, bukan mencari jalan lain dengan melakukan hal-hal yang tidak perlu.

            Hal yang sangat berbahaya adalah seperti yang sudah sering saya tulis bahwa banyak celotehan di Medsos yang memang bertujuan membuat huru-hara dan kerusuhan untuk menciptakan berita bahwa kaum muslimin Indonesia adalah intoleran. Mereka sengaja melakukannya. Mereka sepertinya jumlahnya banyak, tetapi sebenarnya hanya segelintir orang. Mereka membuat banyak akun di Medsos dengan nama yang berbeda-beda, padahal cuma itu-itu saja. Sering pula mereka membuat postingan yang seolah-olah sedang berdebat antara muslim dan nonmuslim, padahal perdebatan itu cuma “ngarang”. Dia yang menghina Islam, dia juga yang membela Islam sambil menghina agama lain agar orang lain ikut terpancing. Kalau sudah orang lain ikut terpancing, dia mundur dan membiarkan orang lain yang terpancing itu berdebat. Dia senang bukan main, kemudian membuat lagi “perdebatan” untuk memancing pertengkaran pada tempat lain. Mereka sering melakukan hal itu.

            Adik laki-laki saya pernah mencoba menghina Islam “habis-habisan” sehingga menjadi anggota grup atau forum mereka di Medsos. Adik saya mencoba mencari tahu untuk apa mereka melakukan hal itu yang pasti bisa memicu huru-hara. Ternyata, para pembuat provokasi di Medsos itu hanya mencari “uang”. Adik saya berceritera bahwa ada di antara para provokator itu yang mulai “letih” dengan harus memposting berbagai hujatan bernuansa Sara. Beberapa di antara mereka mulai capek karena harus terus-menerus melakukan hal itu. Entah kenapa. Akan tetapi, ketika Adik saya menanyakan apa yang mereka dapatkan dari kelakuannya itu, ternyata mereka mengaku mendapatkan uang. Ternyata ada pihak yang membayar mereka. Bayarannya adalah Rp750.000,- (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) per bulan. Eh … itu tiga tahun yang lalu. Entah sekarang mereka dibayar berapa setiap bulan. Mungkin honor mereka tambah naik. Yang adik saya tidak tahu adalah siapa yang membayar mereka dan mengapa mereka seolah-olah “tidak bisa berhenti” meskipun sudah mulai capek bikin fitnah di Medsos.

            Jangan mudah terprovokasi Medsos karena bisa jadi kalian sedang dipermainkan. Kalau kita punya masalah yang bisa menjurus ke pertikaian Sara, lapor polisi. Biarkan polisi bekerja karena salah satu pekerjaan mereka adalah untuk mengurus hal-hal seperti itu. Daripada kita sendiri yang harus bikin “perhitungan” terhadap mereka, lebih baik polisi yang menanganinya.

            Dengan mencoba memahami rusuh di Tanjung Balai, kita bisa lebih bijak dan arif jika menemukan masalah yang sama pada masa-masa selanjutnya di tempat-tempat lain. Libatkan tokoh masyarakat dan aparat hukum untuk mengatasinya agar tidak meluas menjadi huru-hara yang memalukan bangsa Indonesia.   


Gangguan Gaib

Kalau Meliana merasa terganggu, sakit, marah, dan kesal ketika mendengar suara adzan, harus disembuhkan dengan menggunakan metode ruqyah. Hal itu disebabkan memang ada banyak orang yang merasa gelisah ketika mendengar adzan. Hal yang pertama mereka rasakan adalah telinga yang terasa sakit, lalu kesal di dada, yang kemudian menjadi kemarahan. Itu tandanya ada gangguan gaib dalam diri mereka. Tubuh mereka menjadi inang jin kafir. Jin-jin itu hidup di dalam tubuh mereka, makan di dalam tubuh mereka, berak dan kencing di tubuh mereka pula, dan benar-benar menguasai hidup mereka. Orang-orang yang terkena gangguan ini banyak dan terdiri atas berbagai agama, termasuk Islam.

            Saya pernah punya teman perempuan yang selalu sakit telinga jika mendengar adzan dan mendengar orang yang sedang mengaji. Dia ingin sembuh. Oleh sebab itu, kalau bertemu dengan saya, dia selalu berusaha duduk lebih dekat pada saya dan ingin saya berceritera tentang “orang-orang baik”, misalnya, sahabat Nabi Muhammad saw, para syekh, para wali, dan orang-orang soleh lainnya. Dia merasa senang dan tenang kalau saya sedang berceritera. Dia sering Curhat selalu sakit gendang telinga jika mendengar adzan dan mendengar orang mengaji. Saya bukan ahlinya, tetapi saya coba sedikit-sedikit membiasakan dia untuk mengucapkan dzikir-dzikir yang mudah sekali-sekali. Sayang sekali, dia keburu ditangkap polisi karena melakukan pemerasan pada pejabat Depag dan sampai sekarang belum pernah ketemu lagi. Kacau.


            Mungkin Meliana juga mengalami hal yang sama, terkena gangguan gaib. Kalau benar begitu, dia harus disembuhkan dan tidak ada cara lain untuk mengobatinya, kecuali ruqyah syar’i.  Kasihan dia.

Tuesday, 26 July 2016

Pembebasan WNI Bukti Persaudaraan dan Toleransi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Penculikan WNI oleh penjahat yang menanamakan dirinya Abu Sayyaf yang kemudian para korbannya diselamatkan oleh pemerintah Indonesia dan elemen masyarakat lainnya merupakan bukti yang tidak bisa terbantahkan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi ukhuwah wathaniyah, ‘persaudaraan sebangsa dan setanah air’. Hal itu pun merupakan perwujudan toleransi yang sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia sejak ratusan ribu tahun lalu. Dengan demikian, sangat bodoh dan tolol orang-orang yang suka saling hina atas dasar agama, suku, dan kelompok. Agama yang satu menghina agama yang lain, suku yang satu menghina suku lain, kelompok yang satu menghina kelompok lainnya. Saling hina dan saling maki dengan bahasa-bahasa kotor itu merupakan kebodohan dan ketololan yang tiada tara.

            Orang Indonesia “terlarang” untuk saling ejek tentang hal-hal itu. Allah swt sudah jelas melarang umat Islam untuk menghina agama lain. Apabila ada umat Islam yang menghina suatu agama di mana saja, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, seharusnya penganut agama yang dihina oleh seorang muslim mengingatkannya tentang larangan bagi umat Islam untuk menghina agama orang lain. Biar dia malu sendiri. Apabila tidak berhenti juga menghina agama lain, seharusnya segera dilaporkan pada polisi karena kita memiliki undang-undang yang mengatur hal itu. Jangan melakukan perlawanan dengan membalas hinaannya karena itu tidak produktif dan menunjukkan bahwa kalian sama bodoh dan tololnya. Demikian pula sebaliknya, apabila ada nonmuslim menghina agama Islam, sebaiknya ingatkan dia bahwa sebagai bangsa Indonesia diharuskan untuk hidup rukun, saling menghormati, dan saling menghargai. Kalau ada persoalan hukum semisal pendirian rumah ibadat, jangan menjadi bahan untuk pertengkaran. Seharusnya, selesaikan saja dengan menggunakan hukum positif yang ada. Apabila nonmuslim tidak mau berhenti dari menghina Islam, seharusnya segera dilaporkan pada polisi agar tidak ada lagi yang melakukan hal itu. Dengan demikian, kita menjadi terlatih untuk hanya menggunakan bahasa-bahasa yang santun dan penuh dengan perdamaian. Jangan lantas dibalas lagi dengan hinaan yang sama karena hal itu menunjukkan bahwa kalian sama-sama bego.

            Saya beberapa kali mengingatkan orang Islam dalam berbagai media sosial agar tidak melakukan penghinaan kepada agama lain. Pernah pula saya mengingatkan nonmuslim agar berhenti melakukan penghinaan itu. Saya ingatkan bahwa setiap Hari Raya Idul Qurban setiap nonmuslim mendapatkan pula hak menikmati daging Qurban dan mereka tetap hidup terlindungi dalam masyarakat yang mayoritas Islam.

            Pembebasan WNI oleh pemerintah dan eleman masyarakat lainnya menunjukkan bahwa perbedaan agama itu bukanlah dasar untuk bertindak. Penganut agama apa pun yang diculik, sepanjang warga negara Indonesia, wajib dan akan diselamatkan. Para korban penculikan yang nonmuslim pun tetap ditolong tanpa membeda-bedakan perlakuan terhadap yang muslim. Pihak yang menolong korban penculikan adalah aparat yang mayoritas muslim. Para polisi, tentara, pemerintah, dan elemen masyarakat yang membantu pun 90% beragama Islam. Mereka yang ikut terlibat dalam upaya itu sama sekali tidak melebih-lebihkan seorang muslim dibandingkan nonmuslim. Semuanya sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dan elemen-elemen bangsa Indonesia sudah sangat arif dan bijak dalam hal bertoleransi dan memperkuat rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air.

            Adalah hal yang teramat bodoh dan tolol jika masih ada orang-orang yang mempertengkarkan perbedaan agama di Indonesia ini. Kalau di luar negeri, terutama di Barat kebodohan dan ketololan itu merupakan kebiasaan. Sampai hari ini mereka masih melakukan kebodohan dan ketololan itu. Mereka masih terjebak dalam rasisme dan sentimen keagamaan yang menyebabkan banyak kemarahan, terorisme, dan pembunuhan individual. Rasisme sebenarnya sudah diminimalisasi oleh Muhammad saw 1.400 tahun yang lalu dan Alhamdulillah negeri-negeri muslim sudah terbebas dari rasisme. Bahkan, di Indonesia tidak pernah ada rasisme. Di negeri-negeri barat mereka masih sangat terbelakang mengenai persoalan rasisme dan perbedaan agama itu. Mereka masih menganggap sekelompok manusia lebih tinggi dibandingkan lainnya dan sekelompok manusia lebih berhak untuk hidup lebih tinggi dan makmur di negaranya dibandingkan sekelompok warga lainnya. Apalagi free speech, ‘kebebasan berbicara’, yang mereka anut sama sekali tidak dibatasi. Artinya, mereka sangat bebas berbicara apa saja termasuk melakukan penghinaan dan ejekan pada orang lain.

            Indonesia jauh lebih mulia dan lebih luhur daripada itu. Kita tidak perlu ikut-ikutan dengan kebodohan dan ketololan mereka. Kita adalah kita. Kita mulia karena kita sendiri. Kitalah yang harus memberi contoh pada dunia bahwa hidup itu adalah untuk saling berbagi dan tidak perlu menyingkirkan orang lain hanya karena orang lain berbeda dengan kita. Kita tidak boleh bebas berbicara semau-mau kita. Kebebasan berbicara di negara kita harus dibatasi hanya untuk hal-hal positif, untuk perbaikan kehidupan pada masa-masa selanjutnya, serta tidak untuk bersenang-senang menghina dan mengejek orang lain.


            Sebagai negeri yang mayoritas beragama Islam, kita harus membumikan ajaran Allah swt bahwa kemuliaan dan ketinggian derajat manusia itu bukan disebabkan warna kulit, keturunan, daerah tempat tinggal, atau jumlah harta benda, melainkan karena ketakwaannya kepada Allah swt. Semakin takwa orang itu semakin mulialah dia. Seorang yang takwa akan dengan sendirinya meningkat derajatnya di muka Bumi ini, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah swt. Insyaallah. 

Monday, 27 June 2016

Toleransi Kebablasan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Toleransi sangat diperlukan dalam mewujudkan kehidupan harmonis, kerja sama, dan perdamaian. Akan tetapi, toleransi akan menjadi hal yang membahayakan jika dilaksanakan tidak tepat sasaran atau kebablasan.

            Indonesia telah melakukan toleransi kebablasan pada pemerintah Filipina. Dalam mengatasi berbagai kasus penculikan WNI oleh kelompok-kelompok penjahat di Filipina, Indonesia “dipaksa” untuk mengerti kondisi yang terjadi di Filipina. Tampaknya, Indonesia pun dengan sangat “terpaksa” merendahkan dirinya untuk mengerti situasi di Filipina.

            Dalam kasus penculikan pertama dan kedua pada empat bulan terakhir ini, Indonesia “dipaksa” harus memahami bahwa Filipina memiliki undang-undang yang melarang pasukan asing berada di wilayahnya  dan “dipaksa” bersabar karena di Filipina sedang terjadi pemilihan presiden. Karena memang toleransi sudah merupakan budaya yang harus dijaga, Indonesia pun dengan sabar bersikap memahami situasi tersebut. Akan tetapi, sesungguhnya sikap tersebut dapat dikategorikan sebagai “toleransi kebablasan”. Dalam kasus penculikan yang ketiga pun sama saja. Indonesia dipaksa untuk toleran. Akan tetapi, bahasanya menjadi beda, yaitu “kita harus memahami karena pemerintahan Filipina masih baru terbentuk”.

            Sebetulnya, Indonesia tidak berurusan dan tidak ada hubungannya dengan undang-undang Filipina, situasi politik di Filipina, maupun baru-tidaknya pemerintah Filipina.

            Memangnya motor atau mobil yang jika masih baru harus pelan-pelan dulu, jangan ngebut?

            Tidak bisa begitu!

            Kalau sebuah pemerintahan mau serius bekerja, dari sejak terbentuk harus segera ngebut, gerak cepat. Pemanasannya sudah harus sejak lama dilakukan sebelum pemerintahan itu dibentuk.

            Bagi Indonesia, sama sekali tidak penting itu namanya UU, politik, dan struktur pemerintah Filipina. Kepentingan Indonesia adalah keselamatan WNI, bisnis, dan kedaulatan Indonesia di mana saja. Tak ada untung dan tak ada ruginya bagi Indonesia atas apa pun yang terjadi di Filipina. Jadi, jangan terlalu bertoleransi terhadap kepentingan orang lain.

            Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah bagus dengan mendesak terus-menerus pada pemerintah Filipina atas berbagai peristiwa penculikan yang terjadi. Akan tetapi, tampaknya, Indonesia pun “mati kutu” ketika desakan itu tidak ditanggapi secara lebih serius oleh pemerintah Filipina. Artinya, Indonesia tampak kehilangan langkah ketika tidak ada tanggapan memadai dan menyerah pada situasi tersebut. Kembali lagi Indonesia dipaksa harus “toleran” terhadap situasi di Filipina. Apalagi ada alasan bahwa pemerintah Filipina masih baru terbentuk.

            Tak ada urusannya Indonesia dengan baru-tidaknya pemerintah Filipina. Mata kita seharusnya tertutup terhadap kepentingan negara lain dalam hal hubungan internasional, mau itu hubungan politik, ekonomi, maupun keamanan dan ketertiban. Akan tetapi, sebaliknya, mata kita harus terbuka lebar-lebar untuk kepentingan dalam negeri karena begitulah seharusnya. Rakyat dan kedaulatan negara harus berada di atas segalanya. Begitulah bunyinya.

            Meskipun demikian, tampaknya pemerintah Indonesia pun membuat desakan yang lebih keras, yaitu larangan untuk melakukan pelayaran ke Filipina. Hal itu lumayan bagus karena Filipina akan menderita kerugian atas larangan pelayaran tersebut. Dengan demikian, diharapkan Filipina berpikir keras agar hubungan bisnis yang menggunakan jalur laut tersebut dapat berlanjut menguntungkan dengan cara menghentikan aksi-aksi kriminal Abu Sayyaf. Larangan untuk itu harus benar-benar dilaksanakan dengan tegas agar benar-benar bisa memecahkan masalah. Jika masih ada hal lain yang dapat membuat Filipina lebih terdesak, lakukanlah secepatnya agar situasinya lebih cepat terkendali.

            Jika perlu, desak Filipina untuk mengizinkan Indonesia membuat pangkalan TNI di wilayah yang tidak mereka kuasai. Hal itu akan menguntungkan bagi Filipina dan Indonesia, yaitu keamanan lebih terjaga serta Indonesia memiliki pangkalan militer tambahan dalam mengontrol wilayah laut Indonesia sendiri dari arah perairan Filipina. Soal dananya kan itu mah teknis bisa dibicarakan bersama dengan Filipina.

            Sangat tak salah jika rakyat Indonesia mem-bully Filipina untuk mendesak mereka agar lebih serius bekerja dan bertindak, bukan hanya untuk pembebasan WNI, melainkan pula untuk kedaulatan dan keamanan wilayah Filipina sendiri.

            Bagaimana bisa membangun dengan baik kalau di negaranya banyak sekali penyamun?

            Desakan dan dorongan yang bisa membuat Filipina makin tersudut harus gencar dilakukan agar mereka mampu berpikir lebih benar dan lebih cepat. Kalau sekarang Indonesia bersikap “maklum” atas masih barunya pemerintah Filipina, nanti Indonesia dipaksa lagi “maklum” dan harus “toleran” dengan alasan lain meskipun pemerintah Filipina sudah tidak baru lagi.

            Toleransi itu tidak boleh “kebablasan” karena bisa merugikan diri sendiri.

            Orang Sunda bilang, “Ulah tamplok batokkeun!”


            Maksudnya, jangan terlalu memberi atau terlalu menghargai atau terlalu toleran terhadap orang lain, sementara kita sendiri dirugikan.      

Tuesday, 15 March 2016

Tak Ada Toleransi dalam Ilmu Pengetahuan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Toleransi sama sekali tidak diperbolehkan dalam dunia pengetahuan. Haram hukumnya. Kalau toleransi ada dalam dunia ilmu pengetahuan, sama saja dengan menghambat ilmu pengetahuan dan membodohi manusia. Dalam pengetahuan itu sama sekali tak ada toleransi. Dalam dunia pengetahuan hanya ada benar dan salah. Sama sekali tidak mempedulikan perasaan orang lain, harga diri sebuah suku, ras, atau kehormatan sebuah agama. Pengetahuan hanya berbicara tentang salah dan benar. Kalau ada yang tersinggung dengan pengetahuan, itu risiko sendiri karena berpegang pada keyakinan yang salah.

            Di dalam dunia pengetahuan, kondisi “bodoh” itu adalah wajar karena merupakan suatu kondisi seseorang atau sekelompok orang yang belum mengetahui “hal yang sebenarnya” atau memang lemah dalam bidang yang tidak dikuasainya. Saya tidak akan tersinggung jika disebut “bodoh” soal otomotif karena memang tidak tahu apa-apa. Di samping itu, dalam lingkungan pengetahuan melakukan “kesalahan” itu “boleh” karena dengan melakukan hal yang salah, kita akan mengetahui “kebenaran”. Yang sangat diharamkan dalam pengetahuan adalah “berbohong” karena dengan berbohong, semuanya akan jadi rusak dan kacau. Oleh sebab itu, siapa pun yang mengajarkan untuk melakukan kebohongan adalah salah besar. Jika ada “orang berilmu” atau “aliran keyakinan” atau “agama” atau “kelompok” yang mengajarkan “kebohongan”, itu adalah para pengikut Iblis Laknatullah. Ingat, Dajjal itu bermakna “Raja Bohong”. Siapa pun yang menganggap benar perilaku “bohong”, adalah pengikutnya Dajjal.

            Dunia sudah mengalami hal-hal besar dalam ilmu pengetahuan, termasuk perjuangannya dalam mempertahankan kebenaran. Semua pasti tahu ketika Gereja Katolik berpendapat bahwa “Bumi adalah datar dan di akhir Bumi adalah neraka”, semua orang di Barat setuju dengan hal itu. Apalagi dikuatkan dengan pendapat filsuf Barat kenamaan, seperti, Plato dan Aristoteles.

            Siapa yang berani menyangkal pendapat itu ketika gereja memiliki pengaruh sangat kuat dan dua filsuf barat besar mendukungnya?

            Tidak ada!

            Akan tetapi, kebenaran tetap berjalan, terus maju, dan bertahan hingga menang. Galileo Galilei berpendapat berbeda dengan gereja dan dua filsuf itu. Menurutnya, Bumi adalah bulat. Demikian pula Copernicus mengatakan hal yang sama. Keduanya berkata berdasarkan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas data dan fakta yang mereka miliki. Akibatnya, gereja dan para pendukungnya marah hingga menghukum Galileo Galilei sampai matinya.

            Kini kita tahu siapa yang benar, bukan?

            Gereja Katolik salah, Plato salah, Aristoteles salah. Galileo Galilei dan Copernicus yang benar.

            Begitulah ilmu pengetahuan, tak ada toleransi dengan agama, keyakinan, dan kehormatan. Kalau benar, ya benar. Salah ya salah. Itu saja.

            Yang menang siapa?

            Yang menang adalah pengetahuan yang benar.

            Di Indonesia ini banyak sekali yang mendukung hasil penelitian K.H. Fahmi Basya soal Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman as. Banyak pula yang tidak menyetujuinya. Sesungguhnya, persoalan itu bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. Siapa yang memiliki data dan fakta yang lebih akurat dan daya analisis yang lebih tinggi, itulah yang harus diikuti.

            Tak perlu dipermasalahkan soal toleransi dengan umat Budha. Toleransi itu hanya ada dalam sikap, perilaku, dan pergaulan berbangsa dan bertanah air. Toleransi itu adalah membiarkan orang lain untuk melakukan ibadat sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Akan tetapi, tidak ada toleransi dengan ilmu pengetahuan. Umat Budha harus patuh pada ilmu pengetahuan. Siapa pun juga di muka Bumi ini harus patuh pada ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan itulah manusia berkembang dari zaman ke zaman.

            Lihat, bagaimana sekarang Gereja Katolik sudah sangat patuh kepada ilmu pengetahuan. Mereka pun mengubah keyakinannya dari yang asalnya berpendapat bahwa Bumi itu datar, menjadi Bumi itu adalah bulat.

            Jangan berlindung di balik toleransi untuk mempertahankan kebodohan!

            Jangan menggunakan toleransi sebagai alat untuk memburukkan orang lain!

            Tak ada toleransi dalam pengetahuan. Yang ada hanya benar dan salah!

            Prof. J.G. de Casparis jelas salah dengan mengatakan bahwa Borobudur dibangun pada abad 8 dan merupakan peninggalan kebesaran umat Budha. Jika dia melakukan kesalahan, itu adalah hal yang diperbolehkan dalam ilmu pengetahuan untuk mendapatkan hal yang lebih benar. Yang namanya pengetahuan itu sifatnya harus “terbuka” untuk diuji dan bisa diteliti ulang kebenarannya. Kalau tidak diboleh diuji, itu namanya bukan pengetahuan, melainkan doktrin atau “dongeng sebelum beol”.

            That is the law!

            Begitulah hukumnya.

            Akan tetapi, jika penelitiannya itu merupakan “pesanan” untuk kepentingan kelompok tertentu, baik pengusaha ataupun penguasa, berarti J.G. de Casparis jelas “pembohong”. Kebohongan itu tidak perlu diikuti dan kita semua harus menyadari bahwa bangsa Indonesia telah dibohongi sejak lama.

            Banyak sekali hasil penelitian yang isinya adalah kebohongan dan memang dilakukan dengan maksud untuk “berbohong”. Saya sering melihatnya. Hal yang lebih memprihatinkan adalah kita bangsa Indonesia kurang periksa terhadap hasil penelitian itu, lalu mempercayainya sebagai sebuah kebenaran.

            Insyaallah, lain kali akan saya tulis berbagai hasil penelitian yang banyak bohongnya, tetapi malah diajarkan pada berbagai perguruan tinggi sebagai sebuah kebenaran. Adapula ilmu pengetahuan yang sudah tidak perlu lagi diajarkan, masih juga diajarkan.

            Akan tetapi, bolehlah satu saja kebohongan yang entah dipercaya oleh siapa saya coba tulis di sini sedikit. Soal perahu Nabi Nuh as, misalnya, penelitian itu kentara sekali “dustanya” dan kelihatan sekali kalang kabutnya. Katanya, Nuh as adalah berasal dari wilayah Mesopotamia karena di sana ada beberapa sungai dan mata air serta bekas-bekas bencana banjir. Para peneliti pendusta itu mengatakan bahwa tidak ditemukan logam di sana. Mereka pun menyimpulkan bahwa Nuh as hidup pada “zaman batu”. 

Anehnya, reruntuhan perahu itu kemudian ditemukan di pegunungan di wilayah Turki. Kabarnya, perahu itu terdampar di sana setelah terapung-apung di lautan lepas. Mereka menemukan tiang kapal yang pada tiang itu terdapat plat besi untuk mengikat ke tubuh kapal. Lalu, di dalamnya ada gambar orang yang menggunakan ikat kepala dengan tulisan “Noah”. Orang itu sedang memaku ke sebuah papan.

Bisa lihat nggak, bagaimana bohongnya mereka?

Kelihatan tidak kalang kabutnya data kedustaan mereka?

Perhatikan ini.

Awalnya, mereka mengatakan “tidak ditemukan logam”. Kesimpulannya adalah “zaman batu”. Akan tetapi, begonya, ketika reruntuhannya ditemukan, ada “plat besi” dan gambar orang sedang “memaku”.

Bukankah plat besi dan paku itu adalah logam?

Bagaimana mungkin dikatakan zaman batu, tetapi ada plat besi dan paku?

Lucu, kan?

Itu mah bukan hasil penelitian, melainkan cuma “dongeng sebelum beol”!

Terus, lucunya lagi, di sana ada plat kayu yang bertuliskan Muhammad, Aisyah, Ali bin Abi Thalib, serta Hasan dan Husen. Ceriteranya, ketika Nuh as cemas dalam perahu, berdoa dan memuji-muji orang-orang mulia itu.

Kalau nama Nabi Muhammad saw, okelah karena beliau adalah Rasulullah yang paling tinggi derajatnya.

Akan tetapi, kalau Aisyah, Ali, dan Hasan-Husen, apa maksudnya?

Nah, mulai di sini saya curiga. Tujuan mereka meneliti dan menyebarkannya melalui berbagai media ke seluruh dunia adalah cuma ingin mendapatkan hal yang  ecek-ecek. Tujuannya cuma bisnis. Mereka hanya cari makan lewat sektor pariwisata.

Perhatikan plat kayu yang ada nama-nama itu. Mereka ingin menarik umat Islam dari golongan sunni dan syiah untuk piknik ke tempat yang mereka sebut “reruntuhan perahu Nabi Nuh as”.

Memang begitu kan kenyataannya?

Sekarang situs itu dibuka untuk umum sebagai tempat pariwisata yang lebih besar. Lalu, di Belanda dibuat replikanya yang di dalamnya dilengkapi dengan restoran.

Apa yang saya tulis di sini baru sedikit. Sangat sedikit tentang keanehan itu. Saya belum menulis hal yang tidak masuk akal lainnya. Misalnya, berapa banyak binatang yang dimuat dalam perahu, berapa lama berada di lautan lepas, bagaimana pemeliharaannya, berapa jarak antara kandang yang satu dengan lainnya, bagaimana sanitasinya, berapa banyak manusia yang ada dalam perahu, bagaimana sosok seorang rasul terhadap binatang, bekas kapal, dan lain sebagainya.

Tak ada toleransi dalam ilmu pengetahuan!

Setiap pengetahuan bersifat terbuka untuk diuji!

Jangan berbohong!

Jangan percaya hanya karena “orang bule” yang melakukan penelitian.


Oh ya, saya punya pengalaman lucu tentang orang bule saat  seminar internasional tentang kompetensi guru. Kirain orang itu pintar, tetapi saat memberikan materi, dia menggunakan bahan dari buku yang buku itu saya sendiri editornya. Judul bukunya kalau nggak Penelitian TIndakan Kelas, pasti yang Lesson Study, saya lupa-lupa ingat soalnya kejadiannya udah lama, sekitar tiga atau empat tahun lalu.  Entarlah, saya ceritain lengkapnya. Pokoknya lucu.