Showing posts with label Filipina. Show all posts
Showing posts with label Filipina. Show all posts

Saturday, 11 September 2021

Indonesia Bikin Pusing Dunia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia saat ini sedang membuat bingung, bikin pusing dunia. Belum ada penjelasan sampai saat ini apa yang menyebabkan kasus Covid-19 di Indonesia lebih cepat turun dibandingkan negara-negara lainnya. Hal ini bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Akan tetapi, belum ada yang bisa menjelaskannya. Pemerintah RI sendiri belum bisa memberikan penjelasan. Sepertinya pemerintah sendiri bingung, pusing.

            Indonesia telah mengagetkan dunia. Menteri Kesehatan Italia sampai kaget bahwa Indonesia telah memvaksin 69 juta orang, sementara negaranya sendiri masih belum bisa, padahal jumlah rakyatnya hanya 57 juta jiwa. Indonesia jauh lebih banyak, 257 juta jiwa. Politisi Malaysia juga kaget Indonesia melampaui keberhasilan Malaysia dalam menurunkan kasus Covid-19. Demikian pula Filipina jauh lebih tertinggal dibandingkan Indonesia dalam menurunkan kasus Covid-19 dan meningkatkan ekonomi. Negara-negara lain pun kebingungan terhadap hal ini.

            Karena tidak ada penjelasan yang jelas soal keberhasilan Indonesia, bahkan pemerintah RI sendiri belum bisa menjelaskannya, orang-orang mencoba menganalisisnya masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia bisa berhasil karena menggunakan caranya sendiri, tidak menggunakan lockdown, tetapi PSBB dan PPKM. Itu juga bisa dipahami karena lockdown itu menghabiskan banyak uang dan membuat orang menjadi stres. Lockdown bisa berhasil jika negaranya kaya raya dan penduduknya sedikit seperti Singapura yang kaya dan penduduknya hanya 5 juta jiwa. Sementara negara lain banyak yang gagal, bahkan ekonominya makin jatuh.

            Ada juga yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia itu bermental baja karena telah teruji mampu melewati berbagai masalah yang rumit sekalipun. Itu juga bisa dipahami karena rakyat Indonesia itu memang keturunan para pemenang perang. Indonesia tidak pernah kalah perang. Berbeda dengan Taliban misalnya, mereka pernah menang, pernah kalah. Demikian juga negara-negara lain. Indonesia tidak pernah kalah.

            Karena belum ada penjelasan yang lebih akurat, boleh dong saya juga ikutan menganalisis keberhasilan Indonesia. Orang banyak mengandalkan vaksin. Malaysia dan Amerika Serikat sudah memvaksin rakyatnya 50%, tetapi kasus Covid-19 masih sangat tinggi. Di AS masih seratus ribuan kasus Covid-19 per hari. Sementara itu, Indonesia baru 14% dari seluruh rakyatnya yang divaksin, tetapi kasusnya cepat turun. Kalau soal PSBB dan PPKM, jujur saja banyak orang Indonesia yang tidak melaksanakannya dengan baik. Mereka masih berkerumun, tidak taat Prokes, dan liar. Meskipun demikian, PSBB dan PPKM dapat mengendalikan aktivitas masyarakat di luar rumah meskipun tidak seratus persen sempurna. Lockdown jelas tidak dilaksanakan dan saran-saran dari WHO pun tidak dilaksanakan utuh oleh Indonesia. Indonesia memilih caranya sendiri.

            Dengan caranya sendiri inilah Indonesia bisa berhasil. Indonesia tidak melaksanakan lockdown karena tidak terlalu kaya dan membuat orang stres. Dengan demikian, tidak terjatuh seperti Filipina yang menggunakan lockdown, tetapi kasus Covid-19 tetap tinggi dan ekonominya pun meluncur jatuh. Indonesia pun tidak seperti Malaysia yang juga menggunakan lockdown, vaksinasi 50%, tetapi kasus Covid-19 masih tinggi dan peningkatan ekonominya pun masih lebih cepat Indonesia.

            Dengan PSBB dan PPKM memang kegiatan masyarakat dibatasi, tetapi tidak sepenuhnya, masih ada waktu-waktu yang dapat digunakan untuk beraktivitas. Jadi, meskipun dibatasi dan sempat mengalami penurunan ekonomi, masyarakat masih bisa bersosialisasi dan beraktivitas yang membuat mental spiritualnya masih seimbang. Inilah yang membuat imun atau kondisi kesehatan masyarakat bisa terjaga. Coba kalau pake lockdown, biayanya tinggi bisa membuat negara bangkrut, dan masyarakat jadi stres karena harus diam di rumah terus.

Kalau lockdown memang makanan diberi, tetapi makanan apa?

Paling juga makanan untuk sekedar bertahan hidup, bukan seperti makanan di tempat hajatan nikahan atau sunatan. Orang bisa stres karena makanan seperti itu dan tidak boleh ke luar rumah. Akibatnya, imun menurun, kesehatan menurun, mudah sakit, dan mudah terserang Covid-19.

Karena Indonesia menggunakan PSBB, PPKM, tetap melaksanakan vaksinasi, dan bukan lockdown, kesehatan fisik dan rohani masyarakat pun bisa lebih terjaga dibandingkan negara-negara lainnya. Ekonomi pun tetap berjalan meskipun tidak seperti ketika tidak ada pandemi. Mungkin seperti itu yang bisa saya jelaskan. Entah orang lain bisa menjelaskan apa. Hal yang pasti adalah Indonesia sedang mendapatkan pujian dunia dan diteliti. Bahkan, Filipina dan Malaysia bertekad menggunakan cara Indonesia dalam menangani Covid-19 sambil tetap mempertahankan ekonominya.

Meskpun demikian, kita tak boleh berbangga diri dan lengah terhadap situasi. Kita tetap harus waspada dan menjalankan Prokes dengan baik. Tetap juga bekerja sama antara pemerintah dan masyarakat dengan kearifan lokal gotong royong sehingga berbagai keberhasilan adalah hasil dari kerja bersama.

Sampurasun.

Sunday, 24 July 2016

Filipina Kurang Ustadz

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dengan mencermati percakapan via telepon antara juru bicara Abu Sayyaf dengan wartawan MetroTv yang ditayangkan MetroTv, kita bisa melihat kekacauan berpikir dan kesemrawutan cara bicara dari juru bicara tersebut. Hal itu memperlihatkan mereka tidak memiliki landasan berpikir yang jelas untuk bertindak dengan baik secara masuk akal.

            Hal yang sungguh sangat membingungkan adalah mereka mengakui melakukan penculikan dan penahanan terhadap warga Negara Indonesia (WNI) dan menegaskan meminta uang tebusan. Apabila permintaan mereka tidak dipenuhi, mereka akan memenggal kepala para sandera. Hal itu dikatakan dengan lancar tanpa keraguan, tanpa ada rasa sama sekali, baik rasa marah, sedih, atau kesal. Dari nadanya seperti sedang ngobrol masalah yang biasa saja.

            Anehnya, ketika wartawan MetroTV memberikan kesempatan kepadanya untuk mengatakan sesuatu kepada pemerintah Indonesia, Si Jubir mengatakan bahwa Indonesia adalah saudara bagi mereka. Kita sama-sama muslim dan menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah swt.

            Bukankah kalimat-kalimat itu penuh kerancuan dan sama sekali keluar dari pikiran yang kurang pengetahuan?

            Dia mengatakan akan memenggal para sandera dari Indonesia jika tuntutan tidak dipenuhi, tetapi dalam saat yang sama juga menganggap Indonesia sebagai saudara sesama muslim. Dalam pandangan Islam, hal itu sama sekali tidak bisa dipahami. Hal itu disebabkan bahwa darah seorang muslim adalah haram bagi muslim lainnya. Artinya, seorang muslim tidak boleh membunuh muslim lainnya tanpa ada hukum yang jelas, misalnya, penerapan qishas. Di samping itu, sangat tidak masuk akal jika mengakui sebagai saudara, tetapi mengancam akan memenggal saudaranya itu.

            Hal itu menunjukkan bahwa mereka kurang pengetahuan mengenai Islam. Entah siapa yang mengajari mereka tentang Islam dan apa saja yang diajarkan kepada mereka. Jelas mereka kurang guru Islam, kurang ustadz, kurang kiyai, kurang dosen Islam, kurang akademisi Islam. Pemahaman mereka sangat lemah dan kacau tentang Islam. Dari percakapan yang hanya sebentar itu saja bisa terlihat jelas kesemrawutan cara berpikir mereka.

            Pemerintah Filipina harus bekerja sama dengan Indonesia dalam mengajari kaum muslimin di Filipina tentang pemahaman Islam yang benar dan cara-cara melaksanakannya dengan benar. Mereka mungkin hanya “tercelup” dua kalimat syahadat tanpa memahami hal lainnya, terikat sebagai orang Islam, diajari soal kejayaan kekhalifahan yang membuat mereka rindu kemenangan, kewajiban jihad untuk mendapatkan kekuasaan, ditambah ramalan-ramalan mengenai Al Mahdi yang membuat mereka terus terbina semangatnya, serta janji syahid masuk surga untuk mereka. Jika hanya itu yang diajarkan kepada mereka, tak heran mereka hidup seperti itu karena di dalam alam pikirannya dunia ini adalah medan perang untuk mendapatkan kekuasaan yang mereka pikir kekuasaan Islam yang diridhoi Allah swt. Padahal, Islam adalah ajaran untuk membuat kehidupan ini penuh rahmat dan kasih sayang. Islam mengajarkan setiap umatnya untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik dan tercerahkan oleh cahaya Illahi. Perang dan kekerasan hanya wajib dilakukan kepada mereka yang mengganggu upaya perwujudan kehidupan yang penuh rahmat, kasih sayang, dan damai. Filipina jelas kurang orang-orang Islam yang bijak. Mereka membutuhkan banyak guru agar mampu menjadi orang-orang Islam yang baik.

            Saya jadi teringat sebuah tulisan di sebuah majalah yang isinya tentang pengalaman seorang Indonesia yang berada di Afrika. Ia berada tiga bulan di Afrika dan disebut sebagai “orang suci” oleh orang-orang Islam Afrika. Hal itu disebabkan hanya karena dia melaksanakan shalat lima waktu dalam satu hari satu malam, sementara kaum muslim Afrika hanya shalat satu kali atau tiga kali. Shalat lima kali dalam sehari semalam adalah sesuatu yang luar biasa dalam pandangan kaum muslim Afrika. Hal itu menunjukkan bahwa banyak orang Islam pada berbagai belahan dunia yang belum memahami ajaran Islam dengan baik, minimal hal-hal yang sederhana. Di Indonesia memang juga masih sangat banyak orang Islam yang shalatnya hanya satu kali dalam seminggu atau bahkan hanya satu kali dalam satu tahun. Akan tetapi, orang-orang Indonesia yang melakukan hal itu bukan berarti tidak tahu bahwa seharusnya lima kali dalam sehari semalam. Mereka tahu, tetapi belum mau. Berbeda dengan di Afrika yang tidak tahu bahwa shalat itu harus lima kali dalam sehari semalam. Mereka shalat seenaknya, yang penting percaya kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw.

            Kenyataan itu menunjukkan bahwa kaum muslim harus belajar Islam dengan baik dan mengajari saudara-saudaranya untuk melaksanakan Islam secara baik dan benar. Kalau di Indonesia, kita tidak perlu khawatir karena di sini banyak sekali ustadz dan ahli Islam yang rupa-rupa warnanya, macam-macam karakternya, bervariasi bidang ilmunya. Hal itu menyebabkan orang Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan banyak ilmu pengetahuan. Meskipun di antara para ahli Islam itu terkadang terdapat perbedaan, tetapi perbedaan-perbedaan itu justru menambah wawasan kaum muslim Indonesia untuk melaksanakan Islam dengan lebih baik dan mampu memilih serta memilah sesuai dengan kemampuan dan keyakinannya masing-masing. Indonesia lebih beruntung daripada mereka. Oleh sebab itu, kita harus banyak berbagi pengetahuan dengan mereka agar pengetahuan mereka bertambah dan pengetahuan kita pun semakin terasah.


            Sedikit-sedikit bisa kita pahami mengapa orang-orang itu melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, tetapi perbuatan buruk itu dianggapnya merupakan langkah yang sesuai dengan ajaran Islam. Hal itu disebabkan mereka kurang memahami Islam dengan baik karena tidak ada ustadz atau para ahli yang membimbing mereka untuk menjadi lebih bijak. Tak heran mereka mudah sekali dipengaruhi oleh para perusak kemanusiaan yang mengajarkan Islam secara salah dan dengan materi sebagian-sebagian yang dimanipulasi oleh berbagai kepentingan politik dan ekonomi yang sangat rendah. Mereka kurang ustadz, kurang pengetahuan sehingga salah dalam bertindak.

Saturday, 23 July 2016

Indonesia Selalu Diganggu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Tom Finaldin

Sejak lama sebenarnya Indonesia selalu diganggu perkembangan dan pertumbuhannya. Penjajahan adalah jelas gangguan yang sangat merusakkan berbagai sendi kehidupan di Indonesia yang sedang mengalami perkembangan. Ketika hendak merdeka pun gangguan itu keras sekali yang membuat Indonesia keteteran, tetapi untung selamat. Pada awal merdeka pun gangguan itu sangat jelas dengan adanya gagasan RIS. Gagasan negara federal itu terlihat sekali dari ingin dilemahkannya kekuatan Indonesia sehingga pihak-pihak asing dan mereka yang tidak ingin melihat Indonesia menjadi besar masih dapat menggerogoti Indonesia dalam sistem federalisme. Untungnya, hal itu tidak lama terjadi dan Indonesia kembali menjadi NKRI.

            Pada masa kepemimpinan Ir. Soekarno terjadi banyak pemberontakan di daerah berikut G-30-S. Kisruh-kisruh yang terjadi memang sebagian besar adalah masalah di antara warga bangsa sendiri, tetapi ada pihak-pihak asing yang mencoba menumpangi permasalahan di dalam negeri. Dengan ditembak jatuhnya pesawat pembom B 26 yang dikendalikan personil CIA Alan Pope oleh Mayor Dewanto sudah jelas menunjukkan kapitalisme bermain api dalam mengganggu Indonesia. Terjadinya aksi idiotik G-30-S juga tidak lepas dari permainan kotor pihak asing dalam mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi Indonesia. Hal itu disebabkan G-30-S adalah pertarungan kapitalis vs komunis tingkat dunia yang merembes ke Indonesia.

            Pada masa Soeharto pun demikian pula banyak pihak luar yang menambah kisruh suasana. Memang pada masa Soeharto yang sangat represif itu memunculkan banyak perlawanan di daerah, bahkan di wilayah-wilayah perkotaan dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi bawah tanah yang melakukan perlawanan diam-diam. Aceh terus bergolak. Papua juga ingin merdeka. Timor-Timur tak kunjung tenang. Masalah-masalah yang terjadi sebenarnya masalah di antara sesama bangsa, tetapi pihak luar ikut membesar-besarkannya melalui pers dan mungkin juga melalui bantuan-bantuan finansial dan nonfinansial. Hal itu jelas sangat mengganggu pertumbuhan Indonesia.

            Pada masa Habibie juga demikian, Timor-Timur begitu keras permasalahannya sehingga terpaksa harus berpisah dari Indonesia. Berpisahnya Timor Timur pun tidak lepas dari adanya laporan-laporan dan berita-berita kecurangan pada saat dilakukan referendum oleh pihak-pihak asing. Untung saja, Indonesia tidak merasa rugi dengan lepasnya Timor Timur yang kemudian menjadi Timor Leste. Bahkan, beberapa pihak merasa beruntung dengan berpisahnya Timor Timur dari Indonesia karena wilayah itu hanya menjadi beban bagi Indonesia tanpa bisa diharapkan memberikan sumbangan yang positif bagi pembangunan Indonesia secara keseluruhan.

            Pada masa Abdurahman Wahid terjadi huru hara di Ambon, Poso. Ketenangan dan ketenteraman Poso diganggu oleh konflik yang melibatkan dua agama yang sebenarnya berawal dari keinginan berpisahnya Maluku Selatan dari Indonesia dan mendirikan negara sendiri, yaitu Republik Maluku Selatan (RMS). Banyak negara lain yang mendukung berdirinya negara RMS, tetapi mereka terpaksa harus menanggung malu karena kalah. Bahkan, Amerika Serikat buka suara bahwa kejadian di Poso sangat mengganggu Amerika Serikat. Lucu sekali pernyataan AS itu karena dikeluarkan ketika kaum muslimin, aparat pemerintah, dan para pendukung NKRI telah berada di atas angin mengalahkan para perusuh.

            Ketika Megawati menjadi presiden, Aceh semakin bergolak sehingga memaksa pemerintah menggerakkan TNI untuk mengamankan Aceh. Akan tetapi, hal yang sangat lucu adalah adanya larangan atau ketidaksetujuan negara-negara lain ketika TNI akan menggunakan pesawat tempurnya untuk menggempur GAM. Hal itu menunjukkan bahwa ada kekuatan asing yang berupaya melestarikan ketidakamanan di Provinsi Aceh.

            Pada masa Susilo Bambang Yudhoyono tidak banyak terjadi gangguan keamanan, kecuali yang sudah berlangsung sejak lama seperti OPM. Paling-paling, gangguan dari negara sebelah Malaysia terhadap kedaulatan Indonesia yang membuat kesal dan geram berbagai elemen bangsa karena pemerintah tidak tampak bersikap tegas. Hal yang menjadi gangguan adalah justru ada banyak sumber daya alam yang diduga dikuasai oleh pihak asing yang hasilnya juga mengalir ke luar negeri. Oleh sebab itu, pada masa pemerintahan SBY ini sempat dikecam sebagai tahun “kebohongan” dan menjadikan Indonesia sebagai “negara gagal”. Meskipun demikian, para pendukung pemerintahan SBY tidak menganggapnya sebagai kegagalan. Akan tetapi, semua merasakan adanya gangguan pihak asing, termasuk adanya dugaan terjadi praktik jual beli legislasi antara legislator dengan pihak luar negeri yang membuat sumber daya alam Indonesia dikuasai pihak asing.

            Indonesia dalam kepemimpinan Jokowi pun mendapat gangguan. Bedanya, situasi di dalam negeri lebih terkendali dan mudah ditangani. Teror di Jl. Thamrin, Jakarta, diselesaikan dalam waktu cepat, gerakan OPM lebih dibatasi, Grup Santoso semakin terdesak, kerusuhan Tolikara padam dengan sangat cepat. Untuk membuat situasi di dalam negeri Indonesia carut marut, saat ini semakin susah karena rakyat sudah lebih kuat bersatu dan bersaudara dibandingkan sebelum-sebelumnya. Oleh sebab itu, gangguan justru datang dari luar Negara Indonesia dengan adanya penculikan WNI oleh kelompok-kelompok yang biasa disebut kelompok Abu Sayyaf. Kalau pencurian ikan di perairan Indonesia, itu hanyalah tindakan kriminal murahan yang tidak bertujuan mengganggu, melainkan hanya ingin mencuri, maling.

            Indonesia tampaknya tidak dibiarkan untuk hidup tenang dan tenteram. Mereka tidak ingin melihat Indonesia besar dan aman tenteram. Apalagi ketika di belahan dunia lain terjadi berbagai kesemrawutan dan gonjang-ganjing, baik politik maupun ekonomi, mereka tidak ingin Indonesia berada dalam keadaan tenang-tenang saja. Indonesia harus punya masalah. Hal itu pun bisa diperhatikan dari pernyataan Badrodin Haiti ketika masih menjabat Kapolri bahwa Isis berniat mengganggu ketenteraman Indonesia. Meskipun Indonesia tidak bisa tertarik untuk hidup babak belur seperti negara lain, paling tidak Indonesia tidak boleh tenteram dan aman secara mulus. Harus selalu ada masalah.

            Ketika huru-hara di dalam negeri sulit diciptakan, gangguan terhadap Indonesia pun dilakukan di luar wilayah Indonesia, yaitu dengan melakukan penculikan terhadap ABK yang sedang berlayar dan berbisnis. Ketika kekuatan kelompok Santoso benar-benar hampir habis, diciptakanlah kesulitan baru bagi Indonesia di wilayah laut yang sama sekali bukan merupakan kewenangan Indonesia, baik di wilayah laut Filipina maupun di Malaysia.

            Membicarakan hal seperti ini memang seperti “mengarang indah” karena memasuki area “konspirasi” yang melibatkan “The Hiden Hand” yang selalu berada di belakang layar dan sulit dideteksi ketika menciptakan berbagai kesemrawutan dan keributan. Kita boleh menduga bahwa kasus-kasus penculikan WNI ini bukan sekedar “pemerasan” atau kriminal biasa, melainkan adanya suatu upaya untuk menciptakan Indonesia selalu berada dalam masalah. Bisa kita perhatikan bahwa WNI diculik oleh kelompok yang tidak bisa dikalahkan oleh militer Filipina di wilayah yang tidak dikuasai pemerintah Filipina. Sementara itu, Filipina memiliki undang-undang yang tidak memperbolehkan pasukan asing masuk ke negaranya. Hal itu mempersulit pemerintah Indonesia secara sempurna dalam menyelamatkan WNI. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Filipina tampak tidak serius menjalin kerja sama untuk menyelesaikan masalah itu yang ditandai sulit hadirnya mereka untuk membicarakan masalah keamanan yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Banyak juga yang menduga bahwa Filipina mendapat bisikan dari pihak kapitalis terkait sikapnya tersebut yang mempersulit Indonesia karena Filipina memang negara yang memiliki kecenderungan berkiblat ke arah Barat.

            Ketika penculikan WNI bisa diatasi, pemerintah Indonesia pun segera melakukan pelarangan untuk berlayar ke perairan Filipina. Akan tetapi, ternyata masih ada perusahaan yang melanggar larangan itu. Akibatnya, ABK mereka diculik juga. Menurut saya, perusahaan yang melanggar moratorium pelayaran itu harus diperiksa juga karena memicu masalah yang sebetulnya tidak perlu terjadi lagi. Bisa jadi mereka pun merupakan bagian dalam memberikan gangguan bagi Indonesia. Sudah tahu dilarang, masih berlayar juga. Kalu tidak bego, mereka berarti benar-benar sedang membuat gangguan terhadap Indonesia. Kalau itu benar terjadi, perusahaan itu harus ditindak tegas, dicabut izinnya, dan pemiliknya atau pemimpinnya ditangkap.

            Hal yang mencurigakan lainnya adalah adanya pernyataan dari Beny Mamoto mantan Ketua Tim Pembebasan Sandera 2006. Ia menyatakan bahwa ada intel militer Filipina yang bermain dalam penyanderaan itu. Bahkan, pembebasan sandera yang selalu di dekat rumah salah satu gubernur di Filipina pun patut diperhatikan dan dipertanyakan. Di samping itu, Beny Mamoto pun berharap bahwa Presiden Filipina yang baru dapat mengangkat panglima militer yang kredibel dan tegas karena ada kemungkinan oknum militer Filipina pun ikut terlibat dalam beberapa kasus penculikan.

            Seperti yang saya bilang bahwa membicarakan masalah ini seperti “mengarang indah” karena menyambung-nyambungkan peristiwa dan menghubung-hubungkannya, lalu mencari pemahaman dari hal-hal itu.

            Kita semua harus paham dan sadar bahwa sejak dulu banyak sekali pihak yang tidak menginginkan Indonesia menjadi besar dan memiliki kekuatan lebih besar dalam menentukan percaturan dunia. Hal ini pun bisa dilihat dari banyaknya berita bohong di internet yang berbahasa asing yang menggambarkan bahwa Indonesia adalah negara yang intoleran, pelanggar Ham, dan lain sebagainya. Tampaknya, banyak orang yang sangat khawatir Indonesia bisa lebih kuat dalam berperan menentukan arah sejarah dunia sekaligus banyak orang yang iri dan tidak ingin percaya bahwa Indonesia sebagai negara dari dunia ketiga yang mayoritas muslim mampu hidup dengan tenang dan tenteram penuh kedamaian dalam keadaan makmur. Mereka akan terus mengganggu sebagaimana syetan yang selalu mengganggu membuyarkan konsentrasi ketika kita melakukan shalat. Mereka akan terus mengganggu.


            Kita tidak bisa menghentikan mereka karena begitulah tugas hidup mereka, mengganggu manusia supaya tidak hidup dalam keadaan tenang. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah melindungi diri dari setiap gangguan itu sehingga para pengganggu itu putus asa sebagaimana putus asanya Iblis Laknatullah untuk menggoda orang-orang beriman setelah sempurnanya ajaran Islam. Iblis dan anak buahnya hanya mampu menjerumuskan manusia dalam hal-hal kecil, seperti, perceraian, perjudian, pelacuran, dan lain sebagainya. Akan tetapi, mereka sudah berputus asa dalam persoalan-persoalan besar semisal “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perkara ketauhidan sudah mutlak tak tergoyahkan. Demikian pula para pengganggu Indonesia yang sudah mulai berputus asa dalam perkara-perkara besar, seperti, disintegrasi, konflik antaragama, dan penentangan terhadap ideologi Pancasila. Mereka sudah sangat kesulitan membuat kerusakan dalam hal-hal besar seperti itu. Mereka hanya mampu mengganggu Indonesia melalui perilaku-perilaku jahat kecil-kecil yang cenderung kriminal murahan yang nilainya tak lebih dan tak kurang seperti pencuri kecil yang mengutil di supermarket.

Monday, 27 June 2016

Toleransi Kebablasan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Toleransi sangat diperlukan dalam mewujudkan kehidupan harmonis, kerja sama, dan perdamaian. Akan tetapi, toleransi akan menjadi hal yang membahayakan jika dilaksanakan tidak tepat sasaran atau kebablasan.

            Indonesia telah melakukan toleransi kebablasan pada pemerintah Filipina. Dalam mengatasi berbagai kasus penculikan WNI oleh kelompok-kelompok penjahat di Filipina, Indonesia “dipaksa” untuk mengerti kondisi yang terjadi di Filipina. Tampaknya, Indonesia pun dengan sangat “terpaksa” merendahkan dirinya untuk mengerti situasi di Filipina.

            Dalam kasus penculikan pertama dan kedua pada empat bulan terakhir ini, Indonesia “dipaksa” harus memahami bahwa Filipina memiliki undang-undang yang melarang pasukan asing berada di wilayahnya  dan “dipaksa” bersabar karena di Filipina sedang terjadi pemilihan presiden. Karena memang toleransi sudah merupakan budaya yang harus dijaga, Indonesia pun dengan sabar bersikap memahami situasi tersebut. Akan tetapi, sesungguhnya sikap tersebut dapat dikategorikan sebagai “toleransi kebablasan”. Dalam kasus penculikan yang ketiga pun sama saja. Indonesia dipaksa untuk toleran. Akan tetapi, bahasanya menjadi beda, yaitu “kita harus memahami karena pemerintahan Filipina masih baru terbentuk”.

            Sebetulnya, Indonesia tidak berurusan dan tidak ada hubungannya dengan undang-undang Filipina, situasi politik di Filipina, maupun baru-tidaknya pemerintah Filipina.

            Memangnya motor atau mobil yang jika masih baru harus pelan-pelan dulu, jangan ngebut?

            Tidak bisa begitu!

            Kalau sebuah pemerintahan mau serius bekerja, dari sejak terbentuk harus segera ngebut, gerak cepat. Pemanasannya sudah harus sejak lama dilakukan sebelum pemerintahan itu dibentuk.

            Bagi Indonesia, sama sekali tidak penting itu namanya UU, politik, dan struktur pemerintah Filipina. Kepentingan Indonesia adalah keselamatan WNI, bisnis, dan kedaulatan Indonesia di mana saja. Tak ada untung dan tak ada ruginya bagi Indonesia atas apa pun yang terjadi di Filipina. Jadi, jangan terlalu bertoleransi terhadap kepentingan orang lain.

            Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah bagus dengan mendesak terus-menerus pada pemerintah Filipina atas berbagai peristiwa penculikan yang terjadi. Akan tetapi, tampaknya, Indonesia pun “mati kutu” ketika desakan itu tidak ditanggapi secara lebih serius oleh pemerintah Filipina. Artinya, Indonesia tampak kehilangan langkah ketika tidak ada tanggapan memadai dan menyerah pada situasi tersebut. Kembali lagi Indonesia dipaksa harus “toleran” terhadap situasi di Filipina. Apalagi ada alasan bahwa pemerintah Filipina masih baru terbentuk.

            Tak ada urusannya Indonesia dengan baru-tidaknya pemerintah Filipina. Mata kita seharusnya tertutup terhadap kepentingan negara lain dalam hal hubungan internasional, mau itu hubungan politik, ekonomi, maupun keamanan dan ketertiban. Akan tetapi, sebaliknya, mata kita harus terbuka lebar-lebar untuk kepentingan dalam negeri karena begitulah seharusnya. Rakyat dan kedaulatan negara harus berada di atas segalanya. Begitulah bunyinya.

            Meskipun demikian, tampaknya pemerintah Indonesia pun membuat desakan yang lebih keras, yaitu larangan untuk melakukan pelayaran ke Filipina. Hal itu lumayan bagus karena Filipina akan menderita kerugian atas larangan pelayaran tersebut. Dengan demikian, diharapkan Filipina berpikir keras agar hubungan bisnis yang menggunakan jalur laut tersebut dapat berlanjut menguntungkan dengan cara menghentikan aksi-aksi kriminal Abu Sayyaf. Larangan untuk itu harus benar-benar dilaksanakan dengan tegas agar benar-benar bisa memecahkan masalah. Jika masih ada hal lain yang dapat membuat Filipina lebih terdesak, lakukanlah secepatnya agar situasinya lebih cepat terkendali.

            Jika perlu, desak Filipina untuk mengizinkan Indonesia membuat pangkalan TNI di wilayah yang tidak mereka kuasai. Hal itu akan menguntungkan bagi Filipina dan Indonesia, yaitu keamanan lebih terjaga serta Indonesia memiliki pangkalan militer tambahan dalam mengontrol wilayah laut Indonesia sendiri dari arah perairan Filipina. Soal dananya kan itu mah teknis bisa dibicarakan bersama dengan Filipina.

            Sangat tak salah jika rakyat Indonesia mem-bully Filipina untuk mendesak mereka agar lebih serius bekerja dan bertindak, bukan hanya untuk pembebasan WNI, melainkan pula untuk kedaulatan dan keamanan wilayah Filipina sendiri.

            Bagaimana bisa membangun dengan baik kalau di negaranya banyak sekali penyamun?

            Desakan dan dorongan yang bisa membuat Filipina makin tersudut harus gencar dilakukan agar mereka mampu berpikir lebih benar dan lebih cepat. Kalau sekarang Indonesia bersikap “maklum” atas masih barunya pemerintah Filipina, nanti Indonesia dipaksa lagi “maklum” dan harus “toleran” dengan alasan lain meskipun pemerintah Filipina sudah tidak baru lagi.

            Toleransi itu tidak boleh “kebablasan” karena bisa merugikan diri sendiri.

            Orang Sunda bilang, “Ulah tamplok batokkeun!”


            Maksudnya, jangan terlalu memberi atau terlalu menghargai atau terlalu toleran terhadap orang lain, sementara kita sendiri dirugikan.      

Friday, 24 June 2016

Koalisi Antipenculikan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sudah kali ketiga warga Negara Indonesia diculik oleh kelompok-kelompok bersenjata di Filipina yang diklaim dan mengklaim diri sebagai kelompok Abu Sayyaf. Penculikan yang sudah terjadi berulang-ulang hingga tiga kali tersebut menunjukkan bahwa betapa lemahnya pengamanan dan kekuatan militer Filipina.

            Dalam mengatasi aksi penculikan ini sudah sangat tepat jika pemerintah Indonesia menghentikan pelayaran ke Filipina untuk tujuan apa pun, apalagi melalui jalur rawan penculikan. Memang ada kerugian yang harus ditanggung dengan penghentian pelayaran tersebut, yaitu kegiatan bisnis terganggu, bahkan berhenti. Akan tetapi, daripada menjadi korban penculikan terus-menerus, sebaiknya memang wajib dihentikan. Pelayaran ke Filipina yang tadinya mengharapkan “untung” dari bisnis jadi  “buntung” dengan adanya kasus penculikan. Bukannya untung yang didapat, melainkan buntung yang diderita.

            Untuk apa mengejar keuntungan, tetapi hasilnya menjadi buntung?

            Tadinya ingin mendapatkan hasil besar dari bisnis, malah menderita kerugian karena harus membayar tebusan dan biaya pembebasan sandera.

            Untuk mencegah kejadian itu terulang di tempat yang sama dan oleh kelompok yang sama atau kelompok lainnya, ada baiknya menggalang persatuan dengan negara-negara yang pernah dirugikan atau sedang dirugikan oleh ulah kelompok-kelompok penjahat bersenjata tersebut. Artinya, Filipina dan Indonesia dapat menggalang kekuatan bersama dengan negara-negara yang warganya pernah disandera atau sedang disandera.

            Filipina harus menyadari bahwa militer mereka teramat lemah dalam menjaga wilayah yang diklaim sebagai miliknya. Apabila memang tidak memiliki kemampuan untuk mengamankan dan menguasai wilayahnya sendiri, sebaiknya serahkan saja kepada Abu Sayyaf untuk mendirikan negara sendiri. Dengan demikian, urusan apa pun, baik positif maupun negatif, setiap negara langsung berurusan dengan Abu Sayyaf, tidak perlu lagi melalui pemerintah Filipina.

            Apabila masih menginginkan kekuasaan atas wilayah yang dikuasai oleh kelompok-kelompok bersenjata, sebaiknya Filipina bekerja sama dengan negara lain dalam hal menghentikan atau mencegah kelompok Abu Sayyaf untuk melakukan aksi-aksi penculikan dan aksi teror lainnya. Filipina bisa bekerja sama dengan Indonesia, Malaysia, dan Kanada dalam menguasai wilayah yang menjadi basis kekuatan Abu Sayyaf. Tidak perlu malu untuk mengakui kelemahan diri dan mengajak negara lain untuk bekerja sama. Kerja sama militer di wilayah itu memang sangat diperlukan jika belum mampu menguasai sendiri. Koalisi antipenculikan di Filipina sangatlah baik dibentuk sampai dengan Filipina benar-benar mampu menguasai sendiri.

            Khusus bagi Indonesia, jangan terlalu memikirkan kepentingan Filipina karena yang harus dipikirkan adalah kepentingan Indonesia sendiri. Sangat tidak salah jika Indonesia mendesak Filipina agar membuka diri sehingga TNI bisa masuk atau membangun koalisi militer sementara di wilayah rawan penculikan. Soal UU Filipina yang tidak membolehkan pasukan asing di wilayahnya, itu urusan mereka sendiri. Urusan kita adalah mengamankan keselamatan WNI dan bisnis Indonesia di mana saja berada. Desak-mendesak atas dasar kepentingan dalam negeri atau kepentingan nasional merupakan hal yang lumrah dalam hubungan internasional. Hal itu disebabkan memang teorinya juga seperti itu bahwa setiap negara yang terlibat dalam interaksi internasional akan memperjuangkan kepentingan nasionalnya masing-masing. Justru sangat aneh jika ada negara yang menghentikan perjuangan nasionalnya karena negara lain sedang memperjuangkan kepentingan nasionalnya sendiri. Mereka berjuang, kita pun seharusnya berjuang untuk kepentingan kita sendiri.

            Koalisi antipenculikan yang terdiri atas beberapa negara sangat diperlukan di wilayah yang rawan kejahatan. Koalisi ini harus bekerja untuk membebaskan para sandera yang sedang disandera serta mengamankan wilayah tersebut secara kontinyu. Bahkan, meskipun kasus penculikan sudah diselesaikan, misalnya, koalisi ini harus tetap berada di tempat rawan untuk mencegah aksi-aksi lanjutan dari kelompok-kelompok penjahat. Indonesia dan negara-negara lain dapat mendesak Filipina agar memperbolehkan wilayah yang masih belum dapat dikuasainya untuk membangun pangkalan militer sementara. Pangkalan militer ini sangat berguna untuk mengamankan wilayah Filipina sendiri dan mempercepat gerak militer untuk mengantisipasi berbagai ancaman dari kelompok-kelompok kejahatan. Pangkalan militer ini benar-benar sangat bermanfaat dan harus ada sampai Filipina memiliki kemampuan yang cukup untuk menguasainya sendiri.

            Indonesia bisa membuat pangkalan militer di sana sehingga dapat mengamankan kepentingan bisnisnya yang memanfaatkan jalur pelayaran di sana. Akan tetapi, untuk dapat meyakinkan dunia bahwa Indonesia dengan TNI yang dimilikinya dapat membantu Filipina untuk mengamankan wilayah itu, harus secepatnya menyelesaikan kasus pengejaran terhadap kelompok Santoso. Dunia tidak akan mempercayai Indonesia jika kelompok Santoso belum bisa ditangkap.

            Bagaimana mau membantu mengamankan wilayah orang lain jika wilayah sendiri saja masih belum dapat dikuasai dengan benar-benar?


            Koalisi antipenculikan bisa dibangun dan digagas oleh Indonesia dengan berani dan bangga jika di dalam negeri sendiri urusan-urusan yang mirip dengan kelompok Abu Sayyaf sudah dapat teratasi.

Saturday, 16 April 2016

Mari Kita Bully Filipina!

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Bukannya selesai soal penculikan warga Negara Indonesia di Filipina ini, malah makin ruwet. Bukannya dibebaskan WNI korban-korban penculikan itu, malahan makin bertambah jumlahnya. Asalnya sepuluh, sekarang ditambah lagi empat, jadi 14. Sekarang Indonesia tambah kerjaan harus membebaskan sandera penculikan dengan jumlah yang bertambah. Kacau.

            Lama-lama kalau tidak ada penyelesaian, para penculik itu menganggap Indonesia sebagai ATM mereka. Ketika mereka nggak punya uang, pergi ke perairan, lalu cari orang Indonesia, langsung gesek, tunggu beberapa saat, cair deh.

            Indonesia sudah sangat beradab dengan menghormati konstitusi Filipina yang melarang TNI atau pasukan asing masuk ke wilayah mereka, tetapi ternyata mereka tidak bisa menyelesaikan sendiri dengan baik, malahan semakin ngaco. Filipina itu negara sok hebat, padahal lemah sekali. Jangankan untuk membebaskan sandera, untuk menjaga wilayahnya sendiri saja, tidak bisa.

            Bagaimana bisa para penjahat dan perampok itu bisa leluasa bergerak kesana-kemari di wilayah yang katanya Negara Filipina?

            Itu menandakan kekuatan militer mereka teramat lemah, cuma sehebat Hansip di pos Siskamling di RW-RW di Indonesia. Anehnya, sudah tahu lemah, sok kuat lagi dengan menolak TNI untuk masuk membebaskan WNI.

            Kita bisa lihat bagaimana lemahnya kekuatan mereka untuk menjaga wilayah mereka sendiri. Kita juga bisa lihat bagaimana tentara mereka “dikerjai” Abu Sayyaf yang digebrak bom sedikit saja langsung pada juntai. Kita juga bisa lihat bagaimana para sandera dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia      tidak juga tertangani dengan baik. Sudah tahu punya tentara lemah, tetapi bergaya sok jago.

            Lemahnya Fililipina dan sok jagonya mereka membuat Indonesia cukup rumit. Indonesia harus melakukan hubungan dengan dua pihak, yaitu Negara Filipina dan kelompok Abu Sayyaf. Mestinya, kan cukup hanya berkoordinasi dengan pemerintah yang sah, kemudian dilakukan penanganan yang lebih serius.

Seharusnya, Filipina membuka diri agar pasukan asing bisa masuk. Kalau tidak boleh masuk, Filipina harus membuktikan diri memiliki kemampuan yang cukup. Akan tetapi, kenyataannya boro-boro memiliki kemampuan yang cukup, siap saja tidak.

Indonesia dan negara-negara lain yang warganya disandera di Filipina harus bersama-sama mendesak Filipina untuk membuka diri dari pasukan asing. Kemudian, bekerja sama membebaskan para sandera.

Kalau Filipina tidak mau juga membuka diri, sebaiknya dorong mereka untuk membiarkan Abu Sayyaf memiliki negara sendiri di wilayah itu. Dengan demikian, Abu Sayyaf tidak lagi menjadi teroris, tetapi menjadi negara resmi yang baru. Dengan terciptanya negara resmi, akan terjadi pula hubungan internasional sebagaimana yang dilakukan negara-negara lainnya. Di samping itu, negara baru itu akan melakukan pula hubungan diplomatik dengan negara-negara lainnya. Hubungan yang terjadi, baik itu bersifat positif maupun negatif, hanya akan berhubungan dengan negara baru ciptaan Abu Sayyaf, tidak lagi melalui Filipina.

Untuk apa Filipina mempertahankan diri dengan terus mengklaim wilayah-wilayah yang sama sekali tidak dikuasainya?

Bagi saja wilayah itu dengan Abu Sayyaf secara resmi, toh tentara Filipina ternyata tidak bisa mengimbangi kehebatan kelompoknya Abu Sayyaf!

Sekarang ini kan semua negara menjadi rumit karena harus melalui proses “izin” dari Filipina untuk melakukan operasi militer penyelamatan. Sementara itu, Filipina sendiri cuma punya tentara sekualitas para peronda malam di kampung-kampung Indonesia.

Kalau Abu Sayyaf memiliki negara sendiri, lalu masih melakukan kejahatan, urusan bisa langsung berhadapan dengan negara baru itu. Mau perang atau bisnis, langsung dengan Abu Sayyaf. Sekarang ini justru masalahnya ada pada Negara Filipina sendiri. Bagi banyak negara, terutama Indonesia, Filipina hanya menjadi “penghalang” untuk operasi militer penyelamatan. Kata orang Sunda, Filipina itu ngagokan, ngagokin, cuma jadi hambatan. Ku batur  ulah, ari manehna euweuh kabecus, ‘sama orang lain tidak boleh, tetapi dirinya sendiri tidak becus’.

Indonesia harus mendorong negara-negara lain yang warganya sama-sama disandera untuk mendesak Filipina membuka diri bagi militer asing. Kemudian, bekerja sama membebaskan para sandera itu. Kalau Filipina tidak mau juga, ingatkan bahwa mereka itu adalah negara yang lemah dan menyedihkan, daripada harus menjaga wilayah yang besar tanpa kemampuan yang cukup, biarkan Abu Sayyaf punya negara resmi sendiri. Jadi, urusan apapun langsung dengan kelompok itu.

Kalau sudah menjadi negara baru yang resmi, mudah-mudahan mereka tidak merampok lagi dan menculik lagi karena urusannya bisa menjadi perang total yang banyak ruginya. Sekarang ini mereka merampok karena mereka sedang berjuang. Perampokan dan penculikan yang mereka lakukan dianggapnya sebagai bagian dari perjuangan mereka.

Indonesia juga begitu kan dulu?

Para pejuang Indonesia itu terkadang jadi perampok, jadi penculik juga.

Memangnya mobil pertama Presiden Soekarno itu dari mana?

Mobil itu hasil maling yang dilakukan oleh seorang pejuang. Dia mencuri mobil milik orang Jepang, lalu mobil itu diberikan kepada Soekarno. Mobil itu lalu digunakan Soekarno untuk berjuang. Sekarang mobil itu disimpan di kantor DHN 45, Jakarta.

Pejuang Indonesia pun melakukan penculikan. Mereka menculik serdadu Belanda untuk ditukarkan dengan para pejuang yang ditawan oleh pihak Belanda. Satu prajurit Belanda ditukar dengan empat puluh pejuang Indonesia.

Jadi, kalau nggak bisa menangani sendiri dan memang sudah terbukti tidak mampu, Filipina harus didesak membuka diri agar militer asing bisa masuk. Kalau tidak mau buka diri, sarankan mereka untuk membagi wiilayah dengan Abu Sayyaf agar tidak lagi terjadi teror, tetapi akan terjadi hubungan equal antara Filipina dengan negara baru milik Abu Sayyaf.

Kalau itu nggak mau, ini nggak mau juga bagaimana?

Kalau begitu, Filipina adalah negara terbloon di dunia. Pemerintah Indonesia harus melarang warganya untuk berbisnis dengan Filipina dan negara lain jika harus melalui jalur-jalur yang tidak aman. Cari jalur lain meskipun harus dengan mengeluarkan biaya yang tinggi dan waktu lebih lama.

Daripada terjadi penculikan lagi yang nyusahin semua orang, mendingan keluar tambahan biaya dan waktu.

Kalau tambah biaya dan tambah waktu, semuanya akan jadi tambah mahal. Banyak sekali yang dirugikan, terutama Filipina sendiri.

Soal para sandera itu bagaimana?

Sementara ini, mari kita bully habis-habisan pada berbagai Medsos negara lemah sok jago yang bernama Filipina itu!

Thursday, 12 March 2015

Rasis Pemabuk Kocak



oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Saya tak mengira akan ketemu dan berdebat dengan orang asing yang teramat menggelikan. Awalnya, saya pikir dia pandai, bule toh? Akan tetapi, ternyata bodohnya minta ampun.

            Perdebatan ini berawal dari komentar saya terhadap video di Youtube yang berjudul 20 PROBLEM WITH THE Prophet Mohammed, ’20 MASALAH DALAM DIRI Nabi Muhammad’. Video ini diunggah oleh seseorang yang menggunakan nama God’sReal101.

            Dalam video itu disebutkan kedua puluh masalah dalam diri Nabi Muhammad saw sebagai berikut.

1. Muhammad adalah manusia yang sangat ideal
2. Muhammad (51) menikahi gadis favoritnya, Aisyah ketika berusia  6 tahun
3. Muhammad (53) memperkosa Aisyah ketika usia 9 tahun
4. Muhammad menyuruh membunuh semua anjing karena anak anjing
5. Muhammad dibantu dalam memenggal kepala 600 – 900 tahanan dalam satu hari
6. Muhammad dan penghinaan terhadap dirinya dan Islam harus dihukum mati
7. Muhammad telah membunuh perempuan yang menghinanya
8. Muhammad memerintahkan orang murtad untuk dibunuh
9. Muhammad mengutuk bibi dan pamannya untuk masuk neraka
10. Muhammad telah mendapatkan kemenangan melalui teror
11.  Muhammad membunuh wanita yang berzinah menggunakan batu setelah perempuan itu melahirkan anaknya.
12. Muhammad mendapat bagian 20% dari seluruh harta hasil rampokkannya
13. Muhammad telah berbicara dengan Iblis
14. Muhammad mengendarai Buraq (setengah keledai bersayap) ke surga dan kembali lagi bertemu dengan Musa
15. Muhammad memimpin 27 pertempuran dan memerintahkan 47 perang lainnya
16. Muhammad memiliki lebih dari 50 budak seks dan istri
17. Muhammad tidak pernah punya anak laki-laki
18. Muhammad membolehkan dirinya memiliki istri tanpa batas
19. Muhammad telah diperintahkan Allah untuk menikahi istri anak angkatnya
20. Muhammad adalah nabi palsu dan Injil Suci telah mengingatkan nabi palsu seperti orang ini.
       
             Bagi yang ingin melihat perdebatan aslinya dalam bahasa Inggris silakan lihat di  

            Berikut komentar saya dan percakapan yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
           
            Video ini penuh kebohongan. Datanya diambil dari sumber-sumber yang tidak bisa dipercaya. Datanya juga diterjemahkan dengan cara yang sangat buruk.

            Pembuat video ini penuh kebencian, kemarahan, dan permusuhan. Tolol jika kalian percaya tentang ajaran Islam dari bukan orang Islam. Sama tololnya dengan orang yang percaya tentang kesehatan dari pemulung barang bekas.

            Tanya ahlinya. Jika kalian ingin tahu tentang Islam, tanya orang Islam yang ahli tentang Islam. Kalian akan tahu kebenaran Islam. Jangan percaya kepada orang yang suka menebarkan kebohongan, fitnah, dan kebencian. Mereka akan menipumu.

            Tak lama kemudian, ada yang mengomentari komentar saya. Dia menggunakan nama Officious Bystander dari Edinburgh, Inggris.

Officious Bystander:
            Jadi kita sepakat ya bahwa Muhammad itu orang sakit jiwa yang mendengar suara di dalam kepalanya, pedofilia, pembunuh, dan penjual perang?

            Bagus, Cowok Damai.

Tom Finaldin:
            Ceritera Muhammad saw yang kamu dapatkan penuh kebohongan dan penuh penipuan. Katakan kepadaku dari mana kalian mendapatkan ceritera-ceritera palsu itu!

Officious Bystander:
            Maafkan aku. Aku tidak mengerti apa maksud dari tulisan kamu.

Tom Finaldin:
            Kamu berbohong atau pura-pura tidak mengerti.

Officious Bystander:
            Aku bertanya kepadamu sebagai klarifikasi atas apa yang kamu tulis. Kamu malah mengatakan aku pembohong?

Tom Finaldin:
            Dari mana kamu mendapatkan ceritera-ceritera tentang Muhammad saw yang menjijikkan seperti itu?

*******

            Tiba-tiba Si Justin Antitheist menjawab dengan tegas. Mungkin dia masih penasaran sama saya karena pernah saya kalahkan dalam debat.

*******

Justin Antitheist:
            Hadits

Tom Finaldin:
            Hadits palsu

Officious Bystander:
            Jadi, kalau begitu, anak perempuan Allah yang mana yang menjadi favorit kamu?

            Al Lat sepertinya terdengar bagus seperti Beibs.

Tom Finaldin:
            Kamu sedang mabuk Narkoba?

Officious Bystander:
            Permisi? Aku pikir kamu mengklaim diri sebagai muslim? Apakah kamu menyangkal bahwa Muhammad menyatakan bahwa Al Lat, Al Uzza, dan Mannat adalah anak-anak Allah? Anak-anak dari “Dewa Bulan”—Itulah sebabnya mengapa selalu ada gambar bulan sabit di bendera-bendera kalian.

            Ha ha ha ha ha! Aku lebih tahu tentang agama kamu daripada kamu sendiri.

Tom Finaldin:
            Wua ha ha ha ha …..

            Itu sangat lucu …. Ha ha ha ha …..

            Kamu mendapatkan ceritera itu dari seorang pemabuk. Kamu juga mendengarkan ceritera itu sambil mabuk. Kalian hanyalah sekumpulan para pemabuk.

            Wua ha ha ha ha ha ha …..

Officious Bystander:
            Bagus, aku senang kamu pikir ini lucu. Aku ragu yang lain berpikir ini lucu. Akan tetapi, ini sangat bagus untuk memberikan kamu kesenangan dalam kehidupan kamu yang menyedihkan.

            Kamu jelas sekali tidak tahu apa-apa tentang Al Quran atau kamu hanya melakukan penyangkalan diri.

Tom Finaldin:
            Kamu bilang kehidupanku menyedihkan?

            Kamu dukun? Bagaimana kamu bisa tahu aku sedang sedih atau bahagia?

Officious Bystander:
            Itu ada di dalam Al Quran dan hadits-hadits kamu. Kenapa kamu tidak baca itu? Kamu malah menghina orang lain.

Tom Finaldin:
            Kamu jangan membuat aku tertawa lagi.

            Al Quran?

            Apa nama surah-nya, ayat berapa?

            Hadits?

            Siapa saja yang meriwayatkan hadits itu? Bagaimana isinya secara lengkap?

Officious Bystander:
            Pergi sana dan cari sendiri Bajingan Pemalas!

Tom Finaldin:
            Kamu ingin tahu kenapa aku tertawa?

            Ceritera itu tidak ada di dalam Al Quran maupun hadits. Seperti yang aku bilang, itu hanyalah ceritera para pemabuk.

Officious Bystander:
            Orang-orang Eropa tidak tertarik pada Al Quran, tetapi pengaruh dari orang sakit jiwa ada juga pengikutnya.

            Kami sangat memahami sejarah Islam dan kelemahan buku yang disebut kalian “Kitab Suci”. Kamu, dalam kata lain, dibutakan oleh keimanan dan tidak pernah menanyakan segala yang diajarkan kepada kamu.

            Secara rasional, orang-orang Eropa yang berpendidikan tidak menemukan pemenggalan kepala nonmuslim atas nama Al Quran yang sangat lucu itu. Juga tidak menemukan ancaman dari orang Islam terhadap hidup kami yang kami izinkan memasuki Eropa untuk mengambil keuntungan dari kedermawanan kami yang juga sangat ditertawakan.

            Kamu mendapatkannya dan mendapatkan tertawa kecil yang baik untuk dirimu sendiri. Ada pepatah Inggris, “Siapa yang tertawa terakhir, akan tertawa paling keras”. Kamu harus menghadapi itu.

Tom Finaldin:
            Aku dengar menurut statistik 20.000 orang Amerika Serikat masuk Islam setiap tahun. Kemudian, jutaan orang Eropa sudah masuk Islam.

Benarkah Itu? Hebat mereka.

            Kamu juga kurang informasi. Kami selalu berdiskusi dengan para imam dan teman-teman tentang ayat-ayat Al Quran, hadits, dan tarikh. Bahkan, kadang-kadang para imam mendapatkan banyak hal baru dari murid-muridnya dan itu menyenangkan.

            Mempercayai sesuatu tanpa proses berpikir, kami sebut taqlid. Hal itu terlarang dalam Islam.Kami tidak boleh mempercayai sesuatu tanpa berpikir. Kami harus selalu menggunakan pikiran. Kenyataannya, Muhammad saw mendorong kami untuk selalu berpikir.

            Muhammad saw berkata, “Berpikir sebentar untuk kebaikan pahalanya sama dengan shalat 70 tahun.”

            Kamu berbicara tentang pemenggalan kepala. Hukuman apa pun tidak akan pernah bisa diimplementasikan tanpa persetujuan legislatif dan eksekutif, benar kan?

            Kamu angkuh dan arogan. Kamu bilang Islam ada di Eropa karena kebaikan dan kedermawanan kalian. Bukan, bukan itu. Islam ada di Eropa karena orang-orang Eropa menginginkan cahaya dalam hidup mereka. Mereka melihat cahaya itu dalam Islam. Kemudian, mereka memasuki cahaya itu.

            Tentang pepatah Inggris itu, kalian sudah terlalu lama menertawakan Islam dan kaum muslimin, sekarang saatnya kami yang tertawa.

Officious Bystander:
            Arogan? Bukan aku yang menertawakan postingan orang lain dengan cara yang merendahkan.

            Lain kali kamu harus berbicara sama imam-imam kamu tentang dewi-dewi yang menjadi puteri-puteri Allah. Aku yakin akan menyenangkan.

            Kamu benar, “Muhammad berkata”, bukan Allah, Iblis, atau orang lain. Itu hanya kata-kata yang dibuat-buat oleh orang sakit jiwa yang licik, pikiran penuh tenaga kegilaan, perampok uang, dan penjual perang.

            Jadi, apakah kamu melakukan pemenggalan kepala? Aku senang karena kamu mengakui telah menjadi binatang barbar. Orang mungkin akan menyangka bahwa apa yang dilakukan orang-orang Eropa untuk kamu dengan segala peradabannya telah memberikan pengaruh yang besar, tetapi jelas tidak.

            Orang-orang Eropa memiliki cahaya dalam hidup mereka. Kristen adalah agama yang damai yang tujuh ratus tahun lebih tua daripada penyusunan Al Quran omong kosong.

            Kami adalah orang-orang sekuler yang memiliki Renaisance dan Enlightement tidak mengatakan apapun atas kontribusi besar yang diberikan para filsuf Eropa pada kemanusiaan. Setelah memberikan semua itu, sangat sulit untuk melihat kebiadaban barbar, agama sadis seperti Islam, tidak seperti kami yang telah memberikan kontribusi positif bagi kebudayaan yang canggih.

            Agama kotor kamu menodai Eropa hanyalah karena terjadinya imigrasi massal, tak ada alasan lain.

            Akhirnya, aku mengatakan yang sebenarnya bahwa budaya tinggi Eropa telah memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan manusia. Katakan padaku apa yang telah dilakukan Filipina atau orang Filipina selain dari membunuh para wisatawan di Bali?

Tom Finaldin:
            Kalian selalu berbicara menggunakan fakta-fakta palsu dan kebencian. Itulah yang menyebabkan kalian sangat lemah.

            Jika kamu benar-benar orang Kristen, kalian harus lebih banyak belajar.

            Yesus digambarkan sebagai orang yang penuh kasih sayang, berbicara lembut dan sopan, membawa perdamaian.

            Akan tetapi, kalian? Kalian sangat kasar dan penuh kebencian.

            Kalian mempermalukan Yesus.

            Aku adalah orang yang sangat menghormati Yesus.

            Kalian tetap angkuh dan arogan memuji diri sendiri menganggap sudah memberikan sumbangan berharga pada dunia.

            Kalian tahu apa yang kalian lakukan pada masa Renaisance dan Enlightement itu?

            Itu adalah masa kegelapan dan kesengsaraan bagi kami. Pada saat yang sama kalian dengan angkuh mendatangi negeri kami. Kalian memulai penjajahan. Belanda, Inggris, Portugis, Amerika, Jerman, dan Jepang datang berturut-turut merampok harta dan menghancurkan kebudayaan kami. Kami menderita lebih dari 350 tahun karena kekejaman yang kalian lakukan.

            Beruntung, kami berhasil membunuh dan mengusir kalian.

            Kalian tahu teriakan kami ketika membunuh dan mengusir kalian?

            ALLAHU AKBAR! MERDEKA ATAU MATI! ALLAHU AKBAR!

            Kami menang. Itu fakta! Sekarang kami adalah keturunan pemenang perang.

            JANGAN PERNAH BERPIKIR UNTUK DATANG LAGI KARENA KAMI AKAN MEMBUNUH KALIAN LAGI!

            Kerusakan yang telah kalian lakukan sangat parah. Sampai hari ini kami terus bekerja memperbaiki kerusakan-kerusakan yang telah kalian perbuat. Kami tidak akan pernah melupakan kejahatan yang kalian lakukan. Kami mewariskan kisah kejahatan kalian secara turun-temurun.

            Pembangunan apa?

            Itu bukan pembangunan, tetapi perampokan terhadap alam yang didasarkan pada kerakusan dan kecintaan berlebihan terhadap uang. Fakta hari ini adalah kerusakan alam, penipisan lapisan ozon, ketidakseimbangan alam, dan global warming adalah diakibatkan oleh pembangunan yang kalian lakukan berdasarkan ketamakan.

            Sekarang kami sedang mencoba membangun berdasarkan budaya kami sendiri. Kami dan alam adalah sama-sama ciptaan Allah swt, jadi tidak boleh saling menghancurkan.

            Tragedi yang terjadi di Bali adalah terorisme. Kami sudah mengatasinya. Hukuman mati bagi para teroris.

Officious Bystander:
            Kamu tidak penting banget memelihara perasaan benci.

            Sebagaimana bencana alam, Filipina sering menderita karena angin topan dan tsunami. Itu hanya karena posisinya secara geografi. Itu tidak ada hubungannya dengan industrialisasi.

            Kalian sama sekali secara fakta tidak menendang keluar satu orang pun dari negara kalian. Jangan tenggelamkan dirimu dalam khayalan.

            Siapa yang peduli ketika sekelompok kecil orang Filipina kerdil berteriak-teriak tentang Allah saat orang-orang Eropa menjajah mereka? Apa yang kamu lakukan saat itu? Menggigit kaki mereka? Kalian mudah dikuasai oleh orang yang lebih kuat, lebih tinggi, dan lebih pintar. Di dalam hatimu mengakui bahwa hal itu benar, itu menjadi ingatan yang memberatkan bagi pundakmu.

            Ketika orang-orang Eropa datang pertama kali di tanah Filipina, kami harus menunjukkan diri sebagai para dewa dan ahli alam kalian. Perempuan kalian hanya ingin dihisapi oleh orang-orang tampan, orang kuat Eropa—pria sejati. Mereka semua sebelumnya sudah diketahui sebagai orang-orang kerdil dan Arab kotor.

            Kalian dengan mudah dihancurkan oleh kekuatan Eropa dan bersyukur, kami sedang dalam proses mendidik kalian. Sayangnya, orang-orang Arab datang lebih dulu dan menyebarkan agama yang kotor.

            Saat ini kalian tampaknya hanya mengekspor perempuan-perempuan cantik untuk dinikahi (meninggalkan perempuan yang jelek untuk kamu) para perawat dan para pembantu rumah tangga.

Tom Finaldin:
            Kamu itu dari tadi sebenarnya ngomongin apa sih?

            Islam, orang Islam, Eropa, Filipina, Indonesia, atau Bali?

            Masalahnya ada di mana sih?

Masalahnya adalah terjemahan bahasa yang buruk atau kamu memang Rasis Pemabuk?

            Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti, sungguh.

Officious Bystander:
            Ini sungguh sangat sederhana. Orang Islam Filipina kerdil adalah dididik dengan buruk yang dieksploitasi oleh orang-orang Eropa.

            Setelah semua itu, apalagi yang bagus tersisa buat kamu?

Tom Finaldin:
            Apa?

            Berapa gelas alkohol yang sudah kamu minum?

            Kamu sedang mabuk Narkoba?

Officious Bystander:
            Tidak, itu adalah sesuatu yang bagus untuk kamu, sama sekali tidak.

Tom Finaldin:
            Kalian hanyalah segerombolan pecandu Narkoba.

Officious Bystander:
            Miskin secara rutin.

Tom Finaldin:
            Ha ha ha ha ha ha ……

Officious Bystander:
            Ada yang salah di kepala kamu.

Tom Finaldin:
            Wua ha ha ha ha ha ……

*******

            Dia tidak meneruskan lagi percakapan. Saya juga berharap tidak perlu diteruskan lagi karena rasanya rugi ngobrol sama pemabuk Narkoba kayak dia. Saya kira bakal akademis, ilmiah, eh … ternyata kacau. Saya sudah berapi-api menunjukkan sejarah perjuangan Indonesia, eh … dia ngomongin Filipina dengan sejarahnya yang nggak jelas begitu. *******