Showing posts with label Megawati. Show all posts
Showing posts with label Megawati. Show all posts

Tuesday, 20 June 2023

Soal Mimpi SBY


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya tidak pernah tahu apakah mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini benar-benar bermimpi atau hanya mengarang ceritera bahwa dia bermimpi. Hal yang jelas adalah saya menyukai mimpinya dibandingkan mimpi yang diceriterakan orang-orang tentang pertemuannya dengan Nabi Muhammad saw. Ceritera bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw itu membosankan karena saya melihat orang yang berceritera itu kebanyakan hanya bertujuan agar orang-orang lain memuliakannya, menganggapnya hebat, dan memandangnya suci, lalu mendapatkan keuntungan ekonomi dari kepercayaan orang lain itu.

            Taroh kata, kita anggap saja memang SBY beneran bermimpi. Dalam mimpinya, dia dijemput Presiden RI Jokowi, lalu barengan menjemput Megawati. Kemudian, bersama-sama ke Stasiun Gambir untuk naik kereta dalam gerbong yang sama. Tiket untuk naik kereta itu telah dibelikan oleh Presiden ke-8 RI. Kalau begitu, SBY sudah tahu dong dalam mimpi siapa presiden ke-8 itu. Sayangnya, dia tidak mengatakan siapa orang itu. Akan tetapi, dari ceritera mimpinya itu, kita bisa menduga bahwa presiden ke-8 itu adalah orang yang disetujui Jokowi dan Megawati. Mereka bertiga menggunakan kereta api Gajayana. SBY pulang menuju Pacitan, Jokowi pulang ke Solo, dan Megawati berziarah ke makam ayahnya, Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno di Blitar.

            Mimpi SBY mendapatkan respon dari Presiden Jokowi. Jokowi mengatakan bahwa itu mimpi yang bagus. Menurutnya, para mantan presiden dan presiden yang sedang berkuasa jika bareng-bareng bekerja sama untuk membangun bangsa dan Negara Indonesia, adalah mimpi kita semua. Para presiden bahu-membahu secara positif demi kemajuan Indonesia adalah keinginan rakyat Indonesia yang waras fisik dan waras pikir. Orang yang tidak waras pasti tidak suka dengan persatuan dan persaudaraan dari semua presiden Indonesia.

            Dalam bahasa rakyat Indonesia, mimpi sering disebut “bunga tidur” yang artinya hanya asesoris proses tidur dan tidak terlalu berarti banyak. Mimpi hanya kegiatan selewat dan kerap tidak dipedulikan. Akan tetapi, ada juga orang yang memiliki keyakinan bahwa mimpi itu bisa pula menjadi petunjuk dari Tuhan untuk menggambarkan sesuatu yang akan terjadi atau peringatan agar kita melakukan sesuatu berdasarkan mimpi itu.  Dalam bahasa Inggris, mimpi itu adalah “dream”. Kata itu bisa berarti pula cita-cita, harapan, atau keinginan. “My dream come true”, ‘mimpi menjadi kenyataan’, keinginanku menjadi kenyataan.

            Dari sana kita bisa menganalisa bahwa SBY memang mendapatkan petunjuk dari Tuhan untuk bareng-bareng dengan Jokowi dan Megawati bersama membangun bangsa dan negara. Bisa juga merupakan keinginan dari SBY sendiri untuk bersinergi dengan kekuatan Jokowi dan Megawati melalu anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), untuk ikut berperan serta dalam memimpin negeri dengan posisi strategis di tingkat pusat.

            Apapun itu, merupakan sesuatu yang bagus untuk bergotong royong, berjamaah bergerak membangun bangsa secara positif mencapai cita-cita nasional bangsa Indonesia sesuai dengan alinea keempat yang tertera dalam Pembukaan UUD 1945.

            Saling memahami dan bersaudara adalah jauh lebih baik dibandingkan saling menjatuhkan dan saling memfitnah.

            Sampurasun.

Sunday, 12 September 2021

Megawati Sakit Keras

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa hari ini muncul kabar entah dari siapa awalnya yang mengatakan bahwa pucuk pemimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam keadaan kritis sakit keras hingga dilarikan ke rumah sakit. Tentu saja hal ini menjadi viral. Saya sih biasa-biasa saja menanggapinya, malahan ingin ketawa, soalnya ini pasti hoax. Berbeda dengan pengurus dan anggota militan PDIP, ada yang marah dan ada yang sedih menanggapinya. Saya sih menduga mereka marah dan menangis bukan karena berita hoax itu, toh Megawati ternyata baik-baik saja. Kalaupun beneran sakit, itu hal biasa, manusiawi.

            Hal yang membuat mereka marah dan sedih itu pasti komentar-komentar penuh dosa yang dialamatkan kepada Megawati, seperti, “Mak Lampir semoga cepat mati. Nenek tua yang penuh kedzoliman. Mak Banteng pendosa yang mengkriminalisasi ulama”. Masih banyak kalimat kasar dalam mengomentari hoax itu. Entah mereka pada belajar agama di mana bisa keluar caci maki seperti itu. Kata-kata itu jelas membuat marah militan muda PDIP. Untungnya, kemarahan mereka masih bisa diredam para pengurus PDIP yang lebih dewasa. Kalau tidak, malah diprovokasi, mereka bisa menguber orang-orang kasar itu. Akibatnya, bisa diduga, di samping akan ada kekerasan, juga pasti terlibat urusan hukum.

            Bagi saya sih, lucu.

            Untuk apa bikin hoax Megawati sakit kritis?

            Apa untungnya?

            Kalau memang sakit atau bahkan meninggal, apa untungnya buat mereka?

            PDIP kan masih punya Puan Maharani dan keturunan Soekarno lainnya. Sakit, sehat, mati, itu kan hal biasa.

            Hal yang jelas, mereka itu bikin dosa. Bikin hoax itu dosa, apalagi sampai mempengaruhi orang untuk caci maki hingga lebih berdosa. Lebih jauh lagi jika sampai terjadi kekerasan, dosanya bisa berlipat-lipat ganda.

            Ada komentar sangat lucu yang bikin saya tertawa … ha, ha, ha …. “Berita ini telah membuktikan bahwa rakyat sangat muak kepada nenek-nenek itu”. Seperti saya bilang, orang yang berkomentar seperti itu entah belajar agama di mana dan belajar politik sama siapa.

            Saya jadi teringat Gus Dur (alm) yang kalau ada orang teriak-teriak mengatasnamakan rakyat, suka bilang, “Rakyat yang mana? Alamatnya di mana?”

            Kalau hitung-hitungan data, jelas bahwa PDIP itu pemenang Pemilu Legislatif. Artinya, jumlah rakyat yang memilih PDIP adalah paling banyak dibandingkan dengan yang lainnya. Jadi, rakyat yang menyukai Megawati adalah yang terbanyak di Indonesia ini.

            Mudah kan membandingkan jumlah rakyat yang ngefans dan yang muak terhadap Megawati?

            Ada lagi yang lebih lucu. Ada orang berjanggut, berpakaian gamis, mirip Abu Jahal di film-film itu yang menyeret-nyeret Jokowi. Menurutnya, Jokowi harus mengklarifikasi berita Megawati sakit keras. Kalau itu benar, harus diumumkan. Kalau hoax, katakan saja hoax.

            Beneran lucu ini mah.

            Buat apa Presiden ngurusin masalah hoax remeh temeh itu?

            Masih banyak pekerjaan lain yang lebih penting untuk dilakukan Presiden.   

            Orang semacam ini nggak pernah bisa “move on” dari Jokowi. Kasihan juga sih.

            Seperti biasa, Jokowi tidak akan merespon, cuek. Eh, sebetulnya, Jokowi nggak cuek-cuek amat sih. Kelihatannya aja Si Kurus Kerempeng itu cuek. Padahal, dia memperhatikan juga, cuma nunggu waktu yang tepat aja buat kasih pelajaran. Kalau waktunya sudah tepat, dia langsung nempeleng orang dan tidak bisa bangun lagi. Tempelengannya keras sekali. Bukan satu dua orang terjungkal. Sekali tempeleng,  ribuan, bahkan jutaan orang terkapar. Lihat saja, sekali tempeleng, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sempoyongan, bubar. Sudah banyak yang dia tempeleng. Padahal, Jokowi menempeleng sambil planga-plongo lho. Coba kalau tidak sambil planga-plongo, lebih parah lagi akibatnya, akan lebih banyak orang masuk penjara.

            Sudahlah, berhenti bikin dusta, memprovokasi orang untuk marah-marah, nyinyir, dan bikin dosa. Kalau merasa sebagai ahli agama, doronglah orang supaya menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarganya, tetangganya, sekitarnya, nusa, dan bangsa. Mudah-mudahan bisa menjadi pribadi penuh cinta sehingga mudah sekali menurunkan cinta Allah swt untuk dirinya dan untuk orang lain.

            Sampurasun.

Saturday, 21 August 2021

Adu Anak di Pilpres 2024

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita bisa lihat banyak upaya yang dilakukan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam mengkader dan memperkenalkan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menjadi presiden di Indonesia. Mulai baliho hingga survey dipublikasikan untuk hal itu. Kendaraan politiknya, tentu saja Partai Demokrat.

            Demikian pula dengan Megawati Soekarnoputri yang mendukung penuh anaknya, Puan Maharani untuk menjadi presiden Indonesia pada masa depan selepas Jokowi. Baliho-baliho kepak sayap Puan sudah bertebaran di Pulau Jawa. Di samping itu, muncul pula dari mereka kritikan kepada Jokowi yang diviralkan di media untuk menyaingi kritikan partai oposan.

            Ketika Keluarga SBY dan keluarga Megawati berencana secara serius mempertarungkan anak-anaknya untuk tampil di pemilihan presiden, tiba-tiba muncul mengejutkan baliho anak kedua Jokowi, Kaesang Pangarep, dengan tulisan besar “Saya Siap untuk RI 1”.

            Apakah Jokowi memang mempersiapkan anaknya juga untuk bertarung pada pemilihan presiden Indonesia?

Foto: Merdeka.com

            Hal ini dijelaskan oleh putera pertama Jokowi, Gibran Rakabuming Raka yang kini menjabat sebagai Walikota Solo. Dengan datar dia menjelaskan bahwa kelakuan adiknya itu tidak ada hubungannya dengan politik. Menurutnya, Kaesang cuma sedang promosi roti. RI 1 itu singkatan dari nama perusahaannya, “Roti Indonesia Satu”.

            Gibran menjelaskan bahwa dia tidak bercanda, memang adiknya sedang berdagang roti.

            Begitulah yang terjadi saat ini.

            Saat nanti, siapa yang tahu kalau anak-anak Jokowi ikutan nyalonin diri jadi presiden.

            Sekarang mah dagang roti yang pasti mah. Urusan nanti jadi calon presiden atau tidak, itu mah nanti.


Foto: Suara.com

Para pembenci dan anti-Jokowi nggak perlu stres dan merasa terancam, beli roti saja dulu sekarang mah, terus dimakan. Lebih enak cara makannya jika rotinya dicubit, lalu dicelupkan ke bubur kacang ijo, dan  … nyam …nyam … nyam ….  

            Sampurasun.

Sunday, 8 August 2021

Jokowi Vs PDIP

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Akhir-akhir ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sangat rajin mengkritik keras Presiden Jokowi. Pada dasarnya mengkritik itu boleh, bahkan harus, tetapi ada etikanya, ada tempatnya. Jokowi itu berasal dari PDIP dan dicalonkan menjadi presiden atas dukungan PDIP, artinya mereka itu memiliki hubungan yang khusus dan sangat erat seharusnya. Kalau PDIP ingin mengkritik, sampaikanlah dengan baik di tempat tertutup dan di lingkungan yang lebih pribadi karena sesama keluarga sendiri dalam partai dan politik, tidak perlu di tempat terbuka, apalagi di media massa dan media sosial. Berbeda dengan PKS yang menyatakan dirinya oposisi dan berada di luar pemerintahan. Wajar jika PKS mengkritik keras di media massa dan media sosial karena memang mereka oposan. Paling-paling, saling hantam dengan para pendukung Jokowi.

            Beberapa pengamat menilai bahwa perilaku aneh beberapa tokoh PDIP itu diakibatkan kekecewaan Megawati Soekarnoputeri dan anaknya, Puan Maharani yang kini menjabat sebagai Ketua DPR RI itu. Mereka kecewa karena Jokowi lebih mempercayai menteri dari partai lain untuk memimpin penanganan Covid-19, bukan dari PDIP. Jokowi lebih memilih percaya kepada Luhut Binsar Pandjaitan dan Airlangga Hartarto yang berasal dari Partai Golkar karena telah melihat kerja-kerja keras keduanya. Kekecewaan Megawati dan Puan pun ditambah oleh Jokowi dan anaknya, Gibran yang kini menjabat sebagai Walikota Solo, lebih dekat dan akrab dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang memiliki popularitas dan elektabilitas tinggi untuk menjadi Presiden RI setelah Jokowi. Padahal, PDIP sedang menjual dan memasarkan Puan Maharani untuk menjadi Presiden RI pengganti Jokowi pada 2024. Sayangnya, Puan memiliki tingkat kepercayaan yang sangat rendah dari masyarakat untuk menjadi presiden. Hal-hal seperti itulah yang dianggap menjadi pemicu Puan sangat keras dalam mengkritik Jokowi di ruang-ruang publik.

            PDIP tahu bahwa Jokowi memiliki pendukung yang sangat banyak dan kuat, jumlah pemilihnya ada sekitar 85,6 juta orang. Jika Jokowi dan Gibran mendukung Ganjar Pranowo, para pengikut Jokowi yang sering disebut “Jokower” akan memberikan dukungan kepada Ganjar, bukan kepada Puan. Oleh sebab itu, Puan bersikap keras di ruang publik adalah tampak seperti untuk mencari dukungan dari orang-orang yang “anti-Jokowi”. PDIP berusaha untuk mendapatkan dukungan dari para pembenci Jokowi agar mendukung Puan untuk menjadi presiden.

            Pertanyaannya, maukah para anti-Jokowi menjadi para pendukung Puan?

            Berhasilkah PDIP menarik simpati dari para pembenci Jokowi?

            Hal yang jelas adalah PDIP telah mendapatkan perlawanan dari Jokower. Para Jokower dengan senang hati bertarung melawan PDIP. Mereka mengingatkan bahwa suara PDIP itu menjadi besar karena ada Jokowi di sana dan mereka menjelaskan bahwa memilih Jokowi bukan karena PDIP, tetapi karena rekam jejak keberhasilan Jokowi menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI, dan kepercayaan mereka semakin tinggi selama Jokowi menjadi presiden.

            Sesungguhnya, pemilihan presiden itu masih lama. Hal yang harus dikerjakan sekarang adalah bahu-membahu, bergotong royong untuk mengatasi pandemi dan meningkatkan ekonomi rakyat. Ingat tidak perlu sejak sekarang sudah mabuk kekuasaan dan bikin ricuh karena situasi sedang rumit dan dirasakan oleh umat manusia sedunia, terutama Indonesia.

            Sampurasun.

Thursday, 5 August 2021

Prank Menasional

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Prank itu artinya lucu-lucuan, senda gurau, kelakar, bercandaan, tetapi ada juga arti lain, yaitu menipu dan mengibuli. Di dunia ini, termasuk di Indonesia istilah prank memang sering digunakan untuk hal-hal yang lucu, main-main, misalnya, prank pocong, prank manusia semak-semak, atau prank polisi-polisian. Meskipun main-main, di dalamnya memang mengandung penipuan, tidak sebenarnya.

            Tak heran jika sekarang-sekarang ini istilah prank dialamatkan pada orang yang berbohong dan menipu. Ada banyak prank yang terjadi di Indonesia ini sejak zaman Soekarno sampai dengan hari ini yang sifatnya nasional, diketahui oleh masyarakat senegara. Kalau ditulis semua, bisa puluhan, bahkan mungkin ratusan prank yang terjadi dan berskala nasional.

            Prank yang terjadi akhir-akhir ini dan diketahui masyarakat luas adalah prank keluarga Akidi Tio yang akan menyumbang 2 triliun untuk masyarakat Sumatera Selatan yang terdampak Covid-19. Akan tetapi, sampai hari ini uang 2 T itu tidak jelas pencairannya. Masyarakat menunggu dan tidak ada buktinya. Itu telah disebut prank.

            Ketika penyerahan secara simbolis bantuan 2 T itu, banyak orang yang kaget dan mendukung niat dari keluarga Akidi Tio. Dia memastikan niatnya itu di hadapan Kapolda Sumsel, Gubernur Sumsel, aparat kesehatan, dan diviralkan oleh Humas Polda Sumsel. Mereka yang hadir pada acara itu orang-orang penting. Tak heran banyak orang bergembira, termasuk saya karena ada orang baik yang ingin membantu orang-orang yang sedang kesusahan disaksikan pejabat penting. Akan tetapi, akhirnya dia harus berurusan dengan kepolisian karena tidak ada buktinya.

Hal itu pun membuat saya harus menghapus tulisan saya dari blog dan FB saya tentang kebaikan keluarga itu. Hal itu disebabkan tidak sesuai dengan kenyataan dan bisa menyesatkan.

Kepolisian sudah lebih sigap untuk lebih memastikan nasib keluarga Akidi Tio. Salah satunya karena mereka pun harus membersihkan nama baik kepolisian yang digunakan sebagai media untuk menerima bantuan dari keluarga Akidi Tio. Itu tindakan yang sangat bagus, tidak merasa malu untuk bersikap bahwa mereka pun merasa ditipu.

Prank yang juga menasional adalah prank Ratna Sarumpaet yang mengaku digebukin sekelompok pemuda sampai wajahnya bengkak-bengkak. Padahal tipu. Wajah bengkaknya itu adalah akibat dari proses operasi plastik. Banyak yang tertipu. Anggota DPR sekelas Fadli Zon ikut tertipu dan menyebarkan berita itu ke masyarakat luas. Demikian pula banyak petinggi lain yang dulu pendukung Capres Prabowo tertipu. Ratna Sarumpaet pun harus dipenjara untuk mempertanggungjawabkan prank-nya itu.

Prabowo yang sekarang telah menjadi Menhan pun sempat menjadi korban prank ketika masih menjadi Capres. Dia diberi informasi prank bahwa dirinya telah menang unggul menjadi presiden mengalahkan Jokowi. Dia sempat sujud. Padahal, tipu.

Presiden Soekarno pun pernah kena prank pada 1950. Saat itu ada orang yang mengaku sebagai Raja dan Ratu dari Suku Anak Dalam yang bisa merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Ternyata, Raja yang bernama Idrus itu adalah tukang becak dan Ratu yang bernama Markonah adalah pekerja seks komersial. Media-media memberitakannya. Mereka pun ditangkap.

Pada zaman Presiden Soeharto pun ada prank yang mendapat perhatian masyarakat. Saat itu sekitar 1970-an ada seorang perempuan hamil bernama Cut Zahara  Fona. Dia mengaku bahwa janin yang ada di dalam perutnya bisa bicara dan pandai mengaji. Wakil Presiden Adam Malik pun mendengarkan suara itu dari perutnya. Bahkan, ulama besar sekelas Buya Hamka ikut berkomentar tentang hal itu. Akan tetapi, setelah diteliti, ternyata di kain perempuan itu ada tape recorder yang menghasilkan suara mengaji. Saat itu tape recorder masih barang mewah.

Pada zaman Presiden Megawati juga ada prank. Saat itu Menteri Agama adalah Said Agil Al Munawar. Mereka mempercayai ada seorang ustadz yang mendapat bisikan bahwa di sekitar batu tulis di Bogor ada harta karun Prabu Siliwangi. Harta itu bisa membayar hutang-hutang negara. Setelah dilakukan penggalian ternyata zonk. Tak ada harta karun itu.

Pada zaman Presiden SBY, sekitar 2007, ada seorang yang bernama Joko Suprapto yang mengaku bisa mengubah air menjadi bahan bakar. Dimulailah proyek “Blue Energy” atau “Banyu Geni”. SBY sangat tertarik. Akan tetapi, akhirnya Joko mengaku bahwa dirinya berbohong dan meminta maaf.

Masih banyak prank lain yang berskala nasional. Akan tetapi, akan terlalu banyak jika ditulis di sini. Kita ambil hikmahnya saja. Kita harus mengakui bahwa kita adalah manusia yang lemah. Sehebat apa pun kita, sepintar apa pun kita, setinggi apa pun jabatan dan kehormatan kita, pada akhirnya kita harus sadar bahwa kita ini rentan dan ringkih. Jika Allah swt tidak melindungi dan memberikan petunjuk, kita akan hidup dalam ketertipuan.

Allah swt Maha Pelindung. Dia Sang Maha Pemberi Petunjuk.

Sampurasun.

Thursday, 16 April 2020

Harunya Cinta

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sangatlah menyenangkan dan mengharukan melihat masyarakat memberikan bunga, minuman dan makanan sehat, semangat, sikap ramah, bahkan mengelu-elukan para dokter dan perawat yang menangani virus corona. Masyarakat menunggu mereka keluar dari rumahnya atau pulang dari tempat tugasnya hanya untuk memberikan segala hal yang dapat menumbuhkan semangat para dokter dan perawat itu. Masyarakat pun menerima dengan hati gembira para tenaga medis yang dikarantina untuk memastikan kesehatannya. Bahkan, bukan hanya dokter dan perawat yang diberikan apresiasi atau penghargaan, melainkan pula sopir ambulans, cleaning service, dan penggali kubur.

            Itulah masyarakat yang tercerahkan, cerdas otaknya, cerdas hatinya, dan cerdas pula tindakannya. Mereka punya banyak cinta di dalam hatinya. Masyarakat seperti inilah yang bertindak sebagaimana yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bahwa dalam menangani korban Covid-19 haruslah “ilmu yang dijadikan panduan untuk bertindak”.

            Ilmu yang harus dijadikan standar bukan hoax atau provokasi dari informasi-informasi Medsos yang kalang kabut dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hoax dan provokasi Medsos hanya membuat kita bodoh dan berhati kasar, jauh dari cinta.

            Hal seperti ini pernah saya alami ketika masih menjadi Asisten Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) membantu Prof. Mohamad Surya (Alm.). Sering tiba-tiba ada yang mengajak salaman ketika saya makan di restoran, padahal tidak kenal; sering pula ada yang memberikan madu, keripik, sayuran, membelikan kopi, membayarin saya makan, menghadiahi makanan ringan atau cemilan, tiba-tiba memberikan senyuman dengan hormat, dan lain sebagainya. Perasaan yang ada dalam diri saya sangat tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tetapi yang jelas ada cinta dan rasa hormat di sana.



            Meskipun saya tidak mengenal mereka, saya langsung tahu bahwa mereka itu adalah guru atau keluarga guru. Padahal, saya tidak berjasa apa pun terhadap mereka. Saya hanya asisten atau pembantu. Mereka berterima kasih atas perjuangan Prof. Surya yang telah bersusah payah mencairkan dana sertifikasi bagi para guru dan dosen di seluruh Indonesia. Prof. Surya itu berjuang melewati empat presiden, yaitu sejak Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati, dan baru berhasil cair di era Susilo Bambang Yudhoyono.

            Dana sertifikasi itu berlanjut hingga hari  ini. Sementara itu, Prof. Surya sendiri tidak kebagian dana sertifikasi itu. Saya apalagi tidak kebagian karena saya saat itu bukan guru dan bukan dosen. Baru setelah berhenti bekerja di gedung dewan perwakilan rakyat itu, saya ikut mengajar sebagai guru ataupun dosen.

            Sungguh, rasa terima kasih dan penghormatan masyarakat itu menimbulkan rasa haru dan semangat yang luar biasa. Saya sendiri menjadi seperti keluarga mereka. Saya kira mungkin mirip-mirip perasaan yang ada di dalam diri para dokter, perawat, sopir ambulans, penggali kubur, dan mereka yang menangani pasien virus corona dengan perasaan yang ada dalam diri saya saat itu. Saat ini mereka membutuhkan semangat, dorongan, dan  dukungan masyarakat, bukan fitnah, hoax, penolakan, atau informasi-informasi menyesatkan yang menyudutkan mereka.

            Kita semua membutuhkan cinta, rasa hormat, dan kebersamaan. Oleh sebab itu, mereka yang kasar, tidak memiliki rasa hormat, dan pemecah belah adalah musuh dan sampah masyarakat.

            Hal yang juga membanggakan adalah mahasiswa-mahasiswa saya di Universitas Al-Ghifari pun melakukan banyak aksi positif, misalnya, memberikan pelayanan cek kesehatan gratis, menyosialisasikan perlindungan diri dari virus corona, dan menampung sumbangan dana dari masyarakat untuk digunakan membantu para petugas kesehatan. Saya sering melihat status-status mereka di berbagai media sosial. Itu jauh lebih baik daripada menyebarkan berita yang tidak karu-karuan.

            Yuk, mari saling menghormati, mencintai, saling peduli, dan saling mengingatkan agar kita menjadi harmonis dan terlindungi dari segala macam keburukan. Semua masalah bisa diselesaikan baik-baik jika kita memilih dengan cara yang baik. Sebaliknya, kita bisa menyelesaikan dengan cara yang buruk jika kita ingin menggunakan cara yang buruk. Jika memilih baik-baik, kita akan baik-baik saja. Jika memilih buruk, ada penjara yang menunggu.

            Yuk, berbuat baik dengan disiplin menuntut ilmu di Universitas Al-Ghifari. Klik http://pmb.unfari.ac.id











            Sampurasun  

Friday, 20 January 2017

Ingin Penyelesaian Secara Kekeluargaan, Zieq?

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Kalau ingin menyelesaikan masalah secara kekeluargaan tanpa masuk ke wilayah hukum, seharusnya Rizieq menyelesaikan dulu masalah dengan dirinya sendiri. Saya melihat Rizieq itu bermasalah dengan dirinya sendiri. Ia sebenarnya tidak sedang berseteru dengan orang lain, tetapi sibuk dengan dirinya sendiri. Akibatnya, kata-katanya sering tidak lurus, bahkan aneh.

            Coba perhatikan soal logo di uang kertas. Orang-orang lain tidak melihat ada lambang palu arit, tetapi dia bilang itu mirip palu arit. Lalu, mempengaruhi orang lain supaya pendapatnya sama dengan dia. Padahal, secara resmi logo itu bukanlah palu arit. Perhatikan pula bagaimana ia menyalahkan Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan karena ada bentrokan antara FPI dengan Ormas-Ormas kesundaan. Sebetulnya kan yang harus disalahkan adalah dirinya sendiri karena bawa massa banyak-banyak seenaknya tanpa ada izin, akhirnya memprovokasi kelompok lain untuk mengerahkan massa yang juga sangat banyak. Perhatikan pula bagaimana dia menanggapi pidato Megawati Soekarnoputri yang menurutnya mengandung penghinaan terhadap Islam. Padahal, jika dilihat dan didengarkan, tak ada satu pun kalimat dari Megawati yang mengandung penghinaan terhadap Islam. Kalau mau jujur, pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu pun tak mengandung penghinaan terhadap Islam dan ulama, baik secara bahasa Indonesia maupun secara tafsir. Akan tetapi, Rizieq mencoba terus berulang-ulang meyakinkan orang lain, bahkan mendesak aparat untuk membuat Ahok benar-benar disalahkan sebagai penista Al Quran.

            Tentang tafsir QS Al Maidaah : 51, saya sudah menuliskan pendapat saya berdasarkan Tafsir Qur’an per Kata: Dilengkapi Asbabun Nuzul dan Terjemah yang disusun Dr. Ahmad Hatta, M.A..  Tafsir itu pun merujuk pada penafsiran Ibnu Katsir. Di samping itu, saya pun menggunakan Sejarah Hidup Muhammad yang disusun oleh Mohammad Haekal untuk memahami apa sesungguhnya yang terjadi pada saat QS Al Maidaah : 51 itu turun. Kesimpulan yang saya dapatkan adalah QS Al Maaidah : 51 sama sekali tidak berhubungan dalam memilih pemimpin di Indonesia dalam sistem politik demokrasi. Hal itu menunjukkan bahwa QS Al Maaidah : 51 sangat tidak tepat untuk digunakan sebagai alat menarik kaum muslimin dalam memilih pemimpin berdasarkan agamanya. Tulisan saya tentang hal ini dapat Saudara baca pada tulisan yang berjudul Terlalu Sering Ayat Al Quran Digunakan sebagai Alat untuk Berbohong. Masih di blog ini juga. Cari saja.

            Tentang pendapat saya bahwa tidak ada kata-kata Ahok di Kepulauan Seribu yang mengandung unsur penistaan secara bahasa Indonesia. Saya akan segera menuliskannya di blog ini. Saya sesungguhnya menunggu para ahli menjelaskannya di media televisi, tetapi sampai saat ini saya tidak melihatnya. Jadi, saya akan coba menjelaskannya dalam bahasa Indonesia yang saya pahami pada waktu yang lain. Tenang saja. Mudah-mudahan saya ada waktu dan energi untuk menuliskannya. Insyaallah.

            Kembali pada keanehan Rizieq. Setelah banyak orang yang gerah terhadap Rizieq dengan melaporkan berbagai hal yang diduga merupakan pelanggaran hukum, Rizieq tampaknya mulai tertekan.

            Dalam kompas.com Rizieq mengatakan hal yang sangat lucu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, (17/1/2017), “Janganlah kita coba saling lapor karena ini bisa mengantarkan pada konflik horizontal. Mestinya kepolisian menjembatani."

            Lho, kok bisa dia bilang seperti itu?

            Lucu sekali.

            Bukankah dia sendiri yang memulai aksi saling lapor?

            Akan tetapi, dia sendiri yang tidak menginginkan situasi saling lapor terjadi. Aneh sekaligus menggelikan. Dia yang memulai, dia pula yang ingin mengakhiri.

            Mirip lagu dangdut kan?

            Coba ingat-ingat. Ketika dilaporkan oleh Ormas kesundaan terkait penghinaannya atas sampurasun yang dia plesetkan menjadi campur racun, Rizieq bukannya berani menghadapi laporan itu, melainkan melaporkan balik Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, atas penghinaan terhadap Islam.

            Bukankah itu tindakan saling lapor yang dimulai oleh Rizieq sendiri?

            Coba ingat lagi. Ketika dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri atas dugaan penghinaan terhadap Pancasila dan Proklamator Ir. Soekarno, Rizieq bukannya dengan gagah berani menghadapi, melainkan berniat melaporkan balik Soekarnoputri.

            Bukankah itu merupakan niat Rizieq untuk melakukan aksi saling lapor?

            Coba analisa lagi. Ketika Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan mulai serius memeriksa Rizieq untuk menanggapi laporan Sukmawati, Rizieq malah menggunakan gerombolannya untuk beraksi meminta Polri memecat Anton Charliyan dengan alasan adanya keributan antara FPI dan GMBI. Padahal, dia sendiri yang bawa gerombolan banyak-banyak.

            Bukankah itu merupakan tindakan yang termasuk dalam kategori aksi saling lapor yang dilakukan Rizieq?

            Coba duga lagi. Ketika Kapolda Metro Jaya mulai serius pula menanggapi laporan masyarakat atas dugaan pelanggaran yang dilakukan Rizieq, Rizieq malah meminta Kapolda untuk dicopot dengan dugaan melakukan provokasi saat terjadi demonstrasi.

            Bukankah itu merupakan tindakan yang termasuk pula dalam kategori aksi saling lapor yang dilakukan Rizieq?

            Aneh memang ini Rizieq. Ia ingin bebas melaporkan orang lain, tetapi tidak ingin orang lain melaporkan dirinya. Padahal, ia sendiri yang mulai sedikit-sedikit laporan, sedikit-sedikit bikin laporan. Sedikit-sedikit bawa massa, sedikit-sedikit teriak-teriak.

            Ia memang sudah seharusnya merasakan tekanan luar biasa karena wajib mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dilakukannya. Apalagi keinginannya untuk melakukan mediasi dengan pihak-pihak yang melaporkannya menemui jalan yang lumayan sulit, bahkan bisa pula buntu. Paling tidak, PDI-P sudah menyatakan dukungan kepada Polri untuk tidak perlu ragu menangkap Rizieq.

            Meskipun demikian, sesungguhnya ada jalan yang bisa ditempuh Rizieq dengan baik-baik dan berpotensi melepaskannya dari seluruh jeratan hukum. Syaratnya, Rizieq harus bersungguh-sungguh menjalankannya dengan menanggalkan seluruh keangkuhan dirinya.

            Saya sebagai orang Islam memiliki kewajiban untuk “saling menasihati” agar setiap muslim memiliki kebaikan dan kesabaran dalam menjalani hidup ini. Sebenarnya, beberapa tulisan saya merupakan nasihat buat Rizieq. Akan tetapi, mungkin dia masih enggan untuk mengikuti nasihat saya. Terserah dia.

            Sekarang ada lagi nasihat buat kamu, Zieq.

            Kalau benar-benar ingin melepaskan diri dari jeratan hukum, hal pertama yang harus dilakukan Rizieq adalah meminta maaf kepada orang Sunda atas penghinaannya terhadap kata mulia sampurasun. Semua hal yang membuat hidup Rizieq menjadi sangat berat dalam kasus hukum, berawal dari penghinaannya itu sebenarnya. Minta maaflah dengan tulus sampai mata dan seluruh raut muka Rizieq menunjukkan benar-benar ketulusan. Tak perlu malu dan tak perlu sungkan karena orang Sunda yang hidup dengan kesundaannya tidak akan pernah menertawakan atau merendahkan orang-orang yang berbuat baik. Bahkan, mereka akan menjadikan Rizieq sebagai saudara.

            Mau kan hidup penuh dengan rasa persaudaraan?

            Kalau mau hidup dengan perselisihan, ya terserah kamu saja, Zieq.

            Jika permohonan maaf itu telah dilakukan, silaturahmilah dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Minta maaflah atas laporan yang telah dilakukan Rizieq terhadap Dedi Mulyadi karena sesungguhnya Dedi tidak melakukan penghinaan kepada Islam. Kalau ada dari tulisan Dedi yang belum dipahami dengan baik oleh Rizieq, tanyalah kepada Dedi tentang buku Dedi itu, berdiskusilah dengan baik. Hal itu akan menguatkan pemahaman Islam dan keimanan masing-masing. Kemudian, cabut laporan terhadap Dedi ke polisi. Itu sangat terhormat, menumbuhkan persaudaraan, dan menghindarkan konflik-konflik horizontal.

            Saya yakin Dedi Mulyadi akan menerima dengan baik jika Rizieq berniat menghubungkan tali silaturahmi dengan baik. Tidak perlu ragu karena Allah swt sangat meridhoi orang-orang yang menyambungkan tali silaturahmi.

            Apabila Rizieq mampu melakukan hal itu, yakinilah Ormas Sunda pun akan mencabut laporannya atas penghinaan terhadap sampurasun itu. Hal itu pun akan mendorong orang-orang lain di seluruh Indonesia ini yang telah melaporkan Rizieq berpikir ulang untuk terus-menerus menginginkan Rizieq dipenjara. Orang-orang yang menolak Rizieq untuk datang ke daerahnya pun akan mulai membuka diri terhadap kehadiran Rizieq. Orang Indonesia itu pada dasarnya orang-orang baik yang tidak menginginkan huru-hara dan permusuhan. Orang Indonesia itu pada dasarnya orang-orang damai yang terhormat. Mereka akan mudah memaafkan Rizieq dan mencabut apa pun laporan yang bisa menjerat Rizieq ke dalam proses hukum. Yakinilah hal itu. Megawati dan PDI-P pun akan dengan sangat cair untuk berdialog dengan baik jika melihat bahwa Rizieq berusaha dengan tulus memperbaiki hubungannya dengan orang-orang lain. Insyaallah.

            Minta maaf dulu dengan tulus kepada orang Sunda jika ingin terbebas dari segala jeratan hukum karena dari sanalah segalanya dimulai. Akan tetapi, jika itu tidak dilakukan, jangan harap akan terbebas dari jeratan hukum. Orang-orang yang saat ini sedang kesal terhadap Rizieq, akan lebih meningkatkan lagi kekesalannya dan akan bertepuk tangan sambil tertawa gembira jika Rizieq duduk di kursi pesakitan. Bahkan, hal yang lebih parah adalah akan semakin banyak orang yang mencoba mencari-cari kesalahan Rizieq, FPI, dan orang-orang kepercayaan Rizieq untuk kemudian dilaporkan pada pihak kepolisian sebagai pelanggar hukum dan penoda keyakinan. Itu akan membuat hidup semakin sulit.

            Jangan heran dan jangan kaget jika ada orang-orang yang kemudian mendatangi kantor polisi untuk melaporkan Rizieq, FPI, dan orang-orang dekatnya dengan kasus macam-macam yang belum bisa diperkirakan.

            Bukankah Novel sudah mulai khawatir atas tuduhan “kesaksian palsu”?

            Bukankah Munarman sudah mulai terjerat hukum karena dianggap meresahkan kehidupan harmonis di Bali?

            Jangan lagi menggunakan massa untuk menghindar dari segala tanggung jawab hukum karena itu akan menimbulkan konflik horizontal dan meruntuhkan kehormatan diri. Apalagi jika sudah terjadi korban manusia, Allah swt pasti akan meminta pertanggungjawaban atas hal itu kelak dengan sangat berat.

            Daripada harus menghadapkan massa untuk bertarung, lebih baik menyodorkan kedua tangan untuk bersalaman, bersaudara, dan berangkulan dengan damai. Itu lebih baik karena Allah swt sangat mencintai kasih, sayang, cinta, dan perdamaian.

            Begitu Zieq, nasihat dari saya.

            Lakukan sekarang juga dari hal yang paling kecil mulai dari diri sendiri.

Saturday, 23 July 2016

Indonesia Selalu Diganggu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Tom Finaldin

Sejak lama sebenarnya Indonesia selalu diganggu perkembangan dan pertumbuhannya. Penjajahan adalah jelas gangguan yang sangat merusakkan berbagai sendi kehidupan di Indonesia yang sedang mengalami perkembangan. Ketika hendak merdeka pun gangguan itu keras sekali yang membuat Indonesia keteteran, tetapi untung selamat. Pada awal merdeka pun gangguan itu sangat jelas dengan adanya gagasan RIS. Gagasan negara federal itu terlihat sekali dari ingin dilemahkannya kekuatan Indonesia sehingga pihak-pihak asing dan mereka yang tidak ingin melihat Indonesia menjadi besar masih dapat menggerogoti Indonesia dalam sistem federalisme. Untungnya, hal itu tidak lama terjadi dan Indonesia kembali menjadi NKRI.

            Pada masa kepemimpinan Ir. Soekarno terjadi banyak pemberontakan di daerah berikut G-30-S. Kisruh-kisruh yang terjadi memang sebagian besar adalah masalah di antara warga bangsa sendiri, tetapi ada pihak-pihak asing yang mencoba menumpangi permasalahan di dalam negeri. Dengan ditembak jatuhnya pesawat pembom B 26 yang dikendalikan personil CIA Alan Pope oleh Mayor Dewanto sudah jelas menunjukkan kapitalisme bermain api dalam mengganggu Indonesia. Terjadinya aksi idiotik G-30-S juga tidak lepas dari permainan kotor pihak asing dalam mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi Indonesia. Hal itu disebabkan G-30-S adalah pertarungan kapitalis vs komunis tingkat dunia yang merembes ke Indonesia.

            Pada masa Soeharto pun demikian pula banyak pihak luar yang menambah kisruh suasana. Memang pada masa Soeharto yang sangat represif itu memunculkan banyak perlawanan di daerah, bahkan di wilayah-wilayah perkotaan dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi bawah tanah yang melakukan perlawanan diam-diam. Aceh terus bergolak. Papua juga ingin merdeka. Timor-Timur tak kunjung tenang. Masalah-masalah yang terjadi sebenarnya masalah di antara sesama bangsa, tetapi pihak luar ikut membesar-besarkannya melalui pers dan mungkin juga melalui bantuan-bantuan finansial dan nonfinansial. Hal itu jelas sangat mengganggu pertumbuhan Indonesia.

            Pada masa Habibie juga demikian, Timor-Timur begitu keras permasalahannya sehingga terpaksa harus berpisah dari Indonesia. Berpisahnya Timor Timur pun tidak lepas dari adanya laporan-laporan dan berita-berita kecurangan pada saat dilakukan referendum oleh pihak-pihak asing. Untung saja, Indonesia tidak merasa rugi dengan lepasnya Timor Timur yang kemudian menjadi Timor Leste. Bahkan, beberapa pihak merasa beruntung dengan berpisahnya Timor Timur dari Indonesia karena wilayah itu hanya menjadi beban bagi Indonesia tanpa bisa diharapkan memberikan sumbangan yang positif bagi pembangunan Indonesia secara keseluruhan.

            Pada masa Abdurahman Wahid terjadi huru hara di Ambon, Poso. Ketenangan dan ketenteraman Poso diganggu oleh konflik yang melibatkan dua agama yang sebenarnya berawal dari keinginan berpisahnya Maluku Selatan dari Indonesia dan mendirikan negara sendiri, yaitu Republik Maluku Selatan (RMS). Banyak negara lain yang mendukung berdirinya negara RMS, tetapi mereka terpaksa harus menanggung malu karena kalah. Bahkan, Amerika Serikat buka suara bahwa kejadian di Poso sangat mengganggu Amerika Serikat. Lucu sekali pernyataan AS itu karena dikeluarkan ketika kaum muslimin, aparat pemerintah, dan para pendukung NKRI telah berada di atas angin mengalahkan para perusuh.

            Ketika Megawati menjadi presiden, Aceh semakin bergolak sehingga memaksa pemerintah menggerakkan TNI untuk mengamankan Aceh. Akan tetapi, hal yang sangat lucu adalah adanya larangan atau ketidaksetujuan negara-negara lain ketika TNI akan menggunakan pesawat tempurnya untuk menggempur GAM. Hal itu menunjukkan bahwa ada kekuatan asing yang berupaya melestarikan ketidakamanan di Provinsi Aceh.

            Pada masa Susilo Bambang Yudhoyono tidak banyak terjadi gangguan keamanan, kecuali yang sudah berlangsung sejak lama seperti OPM. Paling-paling, gangguan dari negara sebelah Malaysia terhadap kedaulatan Indonesia yang membuat kesal dan geram berbagai elemen bangsa karena pemerintah tidak tampak bersikap tegas. Hal yang menjadi gangguan adalah justru ada banyak sumber daya alam yang diduga dikuasai oleh pihak asing yang hasilnya juga mengalir ke luar negeri. Oleh sebab itu, pada masa pemerintahan SBY ini sempat dikecam sebagai tahun “kebohongan” dan menjadikan Indonesia sebagai “negara gagal”. Meskipun demikian, para pendukung pemerintahan SBY tidak menganggapnya sebagai kegagalan. Akan tetapi, semua merasakan adanya gangguan pihak asing, termasuk adanya dugaan terjadi praktik jual beli legislasi antara legislator dengan pihak luar negeri yang membuat sumber daya alam Indonesia dikuasai pihak asing.

            Indonesia dalam kepemimpinan Jokowi pun mendapat gangguan. Bedanya, situasi di dalam negeri lebih terkendali dan mudah ditangani. Teror di Jl. Thamrin, Jakarta, diselesaikan dalam waktu cepat, gerakan OPM lebih dibatasi, Grup Santoso semakin terdesak, kerusuhan Tolikara padam dengan sangat cepat. Untuk membuat situasi di dalam negeri Indonesia carut marut, saat ini semakin susah karena rakyat sudah lebih kuat bersatu dan bersaudara dibandingkan sebelum-sebelumnya. Oleh sebab itu, gangguan justru datang dari luar Negara Indonesia dengan adanya penculikan WNI oleh kelompok-kelompok yang biasa disebut kelompok Abu Sayyaf. Kalau pencurian ikan di perairan Indonesia, itu hanyalah tindakan kriminal murahan yang tidak bertujuan mengganggu, melainkan hanya ingin mencuri, maling.

            Indonesia tampaknya tidak dibiarkan untuk hidup tenang dan tenteram. Mereka tidak ingin melihat Indonesia besar dan aman tenteram. Apalagi ketika di belahan dunia lain terjadi berbagai kesemrawutan dan gonjang-ganjing, baik politik maupun ekonomi, mereka tidak ingin Indonesia berada dalam keadaan tenang-tenang saja. Indonesia harus punya masalah. Hal itu pun bisa diperhatikan dari pernyataan Badrodin Haiti ketika masih menjabat Kapolri bahwa Isis berniat mengganggu ketenteraman Indonesia. Meskipun Indonesia tidak bisa tertarik untuk hidup babak belur seperti negara lain, paling tidak Indonesia tidak boleh tenteram dan aman secara mulus. Harus selalu ada masalah.

            Ketika huru-hara di dalam negeri sulit diciptakan, gangguan terhadap Indonesia pun dilakukan di luar wilayah Indonesia, yaitu dengan melakukan penculikan terhadap ABK yang sedang berlayar dan berbisnis. Ketika kekuatan kelompok Santoso benar-benar hampir habis, diciptakanlah kesulitan baru bagi Indonesia di wilayah laut yang sama sekali bukan merupakan kewenangan Indonesia, baik di wilayah laut Filipina maupun di Malaysia.

            Membicarakan hal seperti ini memang seperti “mengarang indah” karena memasuki area “konspirasi” yang melibatkan “The Hiden Hand” yang selalu berada di belakang layar dan sulit dideteksi ketika menciptakan berbagai kesemrawutan dan keributan. Kita boleh menduga bahwa kasus-kasus penculikan WNI ini bukan sekedar “pemerasan” atau kriminal biasa, melainkan adanya suatu upaya untuk menciptakan Indonesia selalu berada dalam masalah. Bisa kita perhatikan bahwa WNI diculik oleh kelompok yang tidak bisa dikalahkan oleh militer Filipina di wilayah yang tidak dikuasai pemerintah Filipina. Sementara itu, Filipina memiliki undang-undang yang tidak memperbolehkan pasukan asing masuk ke negaranya. Hal itu mempersulit pemerintah Indonesia secara sempurna dalam menyelamatkan WNI. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Filipina tampak tidak serius menjalin kerja sama untuk menyelesaikan masalah itu yang ditandai sulit hadirnya mereka untuk membicarakan masalah keamanan yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Banyak juga yang menduga bahwa Filipina mendapat bisikan dari pihak kapitalis terkait sikapnya tersebut yang mempersulit Indonesia karena Filipina memang negara yang memiliki kecenderungan berkiblat ke arah Barat.

            Ketika penculikan WNI bisa diatasi, pemerintah Indonesia pun segera melakukan pelarangan untuk berlayar ke perairan Filipina. Akan tetapi, ternyata masih ada perusahaan yang melanggar larangan itu. Akibatnya, ABK mereka diculik juga. Menurut saya, perusahaan yang melanggar moratorium pelayaran itu harus diperiksa juga karena memicu masalah yang sebetulnya tidak perlu terjadi lagi. Bisa jadi mereka pun merupakan bagian dalam memberikan gangguan bagi Indonesia. Sudah tahu dilarang, masih berlayar juga. Kalu tidak bego, mereka berarti benar-benar sedang membuat gangguan terhadap Indonesia. Kalau itu benar terjadi, perusahaan itu harus ditindak tegas, dicabut izinnya, dan pemiliknya atau pemimpinnya ditangkap.

            Hal yang mencurigakan lainnya adalah adanya pernyataan dari Beny Mamoto mantan Ketua Tim Pembebasan Sandera 2006. Ia menyatakan bahwa ada intel militer Filipina yang bermain dalam penyanderaan itu. Bahkan, pembebasan sandera yang selalu di dekat rumah salah satu gubernur di Filipina pun patut diperhatikan dan dipertanyakan. Di samping itu, Beny Mamoto pun berharap bahwa Presiden Filipina yang baru dapat mengangkat panglima militer yang kredibel dan tegas karena ada kemungkinan oknum militer Filipina pun ikut terlibat dalam beberapa kasus penculikan.

            Seperti yang saya bilang bahwa membicarakan masalah ini seperti “mengarang indah” karena menyambung-nyambungkan peristiwa dan menghubung-hubungkannya, lalu mencari pemahaman dari hal-hal itu.

            Kita semua harus paham dan sadar bahwa sejak dulu banyak sekali pihak yang tidak menginginkan Indonesia menjadi besar dan memiliki kekuatan lebih besar dalam menentukan percaturan dunia. Hal ini pun bisa dilihat dari banyaknya berita bohong di internet yang berbahasa asing yang menggambarkan bahwa Indonesia adalah negara yang intoleran, pelanggar Ham, dan lain sebagainya. Tampaknya, banyak orang yang sangat khawatir Indonesia bisa lebih kuat dalam berperan menentukan arah sejarah dunia sekaligus banyak orang yang iri dan tidak ingin percaya bahwa Indonesia sebagai negara dari dunia ketiga yang mayoritas muslim mampu hidup dengan tenang dan tenteram penuh kedamaian dalam keadaan makmur. Mereka akan terus mengganggu sebagaimana syetan yang selalu mengganggu membuyarkan konsentrasi ketika kita melakukan shalat. Mereka akan terus mengganggu.


            Kita tidak bisa menghentikan mereka karena begitulah tugas hidup mereka, mengganggu manusia supaya tidak hidup dalam keadaan tenang. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah melindungi diri dari setiap gangguan itu sehingga para pengganggu itu putus asa sebagaimana putus asanya Iblis Laknatullah untuk menggoda orang-orang beriman setelah sempurnanya ajaran Islam. Iblis dan anak buahnya hanya mampu menjerumuskan manusia dalam hal-hal kecil, seperti, perceraian, perjudian, pelacuran, dan lain sebagainya. Akan tetapi, mereka sudah berputus asa dalam persoalan-persoalan besar semisal “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perkara ketauhidan sudah mutlak tak tergoyahkan. Demikian pula para pengganggu Indonesia yang sudah mulai berputus asa dalam perkara-perkara besar, seperti, disintegrasi, konflik antaragama, dan penentangan terhadap ideologi Pancasila. Mereka sudah sangat kesulitan membuat kerusakan dalam hal-hal besar seperti itu. Mereka hanya mampu mengganggu Indonesia melalui perilaku-perilaku jahat kecil-kecil yang cenderung kriminal murahan yang nilainya tak lebih dan tak kurang seperti pencuri kecil yang mengutil di supermarket.