Showing posts with label GMBI. Show all posts
Showing posts with label GMBI. Show all posts

Saturday, 18 February 2017

Mahalnya Demokrasi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Orang boleh bangga, KPU boleh gembira, dan para pecinta demokrasi boleh bersorak sorai karena partisipasi pemilih di DKI dalam pemilihan putaran pertama gubernur DKI Jakarta mengalami peningkatan yang cukup besar, yaitu mencapai 78% lebih. Para pengamat boleh mengatakan bahwa pelaksanaan Pilkada di TPS-TPS berlangsung aman dengan partisipasi masyarakat yang meningkat merupakan peningkatan kedewasaan masyarakat dalam berpolitik atau berdemokrasi.

            Akan tetapi, tahukah seberapa besar pengorbanan yang harus terjadi untuk memperoleh angka partisipasi 78% itu?

            Benar-benar sangat mahal!

            Bukan hanya uang yang harus dihambur-hamburkan sejak pembentukan tim sukses sampai dengan selesainya proses Pilkada yang harus dikeluarkan partai, calon gubernur, para pendukung, dan pemerintah, melainkan pula kerusakan pada tataran sosial dan stabilitas keamanan. Uang yang sangat besar jelas menggelontor sangat banyak. Entah berapa seluruhnya. Hal itu menandakan sangat mahalnya proses demokrasi. Di samping itu, kita harus membayar biaya pengorbanan berupa ketegangan dan polarisasi di tengah masyarakat. Tuduhan penghinaan kepada ulama dan penodaan terhadap agama oleh Ahok telah melahirkan hiruk pikuk kekacauan luar biasa. Demonstrasi jutaan manusia yang terbesar sepanjang sejarah manusia sejak Adam as sampai hari ini terjadi di Jakarta, Indonesia. Ada huru-hara dan pelanggaran di sana. Hoax dan fitnah meracuni pikiran masyarakat yang membuat pemerintah cukup letih memeranginya. Perdebatan-perdebatan sengit di tengah masyarakat pun terjadi. Ahok harus menjadi terdakwa di pengadilan yang sangat menyedot perhatian masyarakat. Banyak waktu terbuang hanya untuk memperhatikan hal itu dan memperdebatkannya. Rizieq Shihab harus dilaporkan dengan bertubi-tubi tuduhan oleh banyak orang sehingga menjadi tersangka. Tempat lahir dan tempat tinggal saya, Kota Bandung, yang biasanya sangat aman dan damai harus menjadi tempat konflik antara FPI dan GMBI. Demikian pula juru bicaranya,  Munarman, menjadi tersangka pula dalam kasus dugaan penghinaan kepada pecalang Bali. Di samping itu, Bachtiar Nasir harus bolak-balik diperiksa polisi tentang keuangan yayasan. Firza Husein harus disangka melakukan pelanggaran hukum. Puteri Presiden ke-1 RI Rachmawati bersama Sri Bintang Pamungkas pun diduga akan melakukan makar terhadap negara. Keresahan demi keresahan yang terwujud menjadi keluhan  muncul dari mantan presiden SBY. Pengadilan Ahok terus-terusan diwarnai demonstrasi pro dan kontra. Di kalangan umat Islam terjadi pula polarisasi yang sangat keras, tuduh-menuduh kafir, sesat, dan tentara syetan merajalela. Penggunaan bahasa-bahasa kotor dan tidak terdidik menjamur di media sosial. Keriuhan negatif pun terus berlanjut antara Antasari Azhar Vs SBY. Saya yakin masih sangat banyak hal negatif terjadi dalam perhelatan yang katanya pesta itu.

            Pesta itu seharusnya bergembira. Akan tetapi, pesta demokrasi banyak menjerumuskan orang menjadi tersangka pelanggar hukum. Itu pesta yang sangat aneh.

            Presiden Jokowi boleh mengatakan bahwa wajar jika dalam setiap Pilkada situasi “menghangat”. Kata menghangat itu sebenarnya hanya eufimisme dari kata “memanas”. Jokowi memang benar, tetapi biaya “menghangat” itu sangat mahal, baik secara materi maupun nonmateri

            Hal yang sangat membuat saya khawatir adalah kita menganggap segala sesuatu yang terjadi secara negatif itu adalah hal yang wajar atau lumrah dalam menghadapi masa pemilihan. Padahal, yang namanya hoax, kampanye hitam, fitnah, dan kedustaan adalah hal-hal yang busuk.

            Saya sangat khawatir dengan peringatan dari Allah swt bahwa “syetan telah menyesatkan mereka hingga menganggap perbuatan buruk mereka sebagai perbuatan baik”.

            Bagaimana jika ada orang yang mati tabrakan sepulang menyebarkan fitnah dan kampanye hitam?

            Dia mati dalam keadaan berdosa.

            Bagaimana kalau ada yang mati berkelahi gara-gara hoax?

            Mereka mati dalam keadaan tertipu.

            Bagaimana jika ada yang mati selepas baru saja “memperalat” agama untuk kepentingan jagoannya?

            Dia mati dalam keadaan tersesat dan menyesatkan orang lain.

            Di mana mereka nanti akan berakhir? Surga atau neraka?

            Saya khawatir mereka akan berada di neraka!

            Sungguh, hiruk pikuk, huru-hara, polarisasi, dan ketegangan di masyarakat itulah yang mendorong tingkat partisipasi publik dalam Pilkada DKI. Peningkatan partisipasi itu bukanlah karena “sistem politik demokrasi itu baik”, melainkan disebabkan mereka yang anti-Ahok ingin menjerumuskan Ahok ke penjara, sementara itu mereka yang pro-Ahok ingin Ahok menjadi gubernur lagi serta mereka yang tidak anti-Ahok ingin menunjukkan keyakinannya bahwa negeri ini harus tetap mampu berpikir rasional.

            Tanpa huru-hara, kemelut, dan berbagai ketegangan, saya tidak yakin partisipasi politik masyarakat akan meningkat signifikan. Hal ini bisa dilihat bahwa di daerah-daerah yang sepi huru-hara akibat Pilkada, partisipasi politik masyarakat dalam demokrasi dapat dikatakan “rendah”.

            Kegaduhan yang telah melibatkan puluhan juta manusia di Indonesia ini hanya mampu membuat partisipasi politik mencapai angka 78%, tidak sampai 90%, lebih-lebih 100%.

            Harus kegaduhan sebesar apa untuk mewujudkan partisipasi publik mencapai 100%?


Friday, 20 January 2017

Ingin Penyelesaian Secara Kekeluargaan, Zieq?

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Kalau ingin menyelesaikan masalah secara kekeluargaan tanpa masuk ke wilayah hukum, seharusnya Rizieq menyelesaikan dulu masalah dengan dirinya sendiri. Saya melihat Rizieq itu bermasalah dengan dirinya sendiri. Ia sebenarnya tidak sedang berseteru dengan orang lain, tetapi sibuk dengan dirinya sendiri. Akibatnya, kata-katanya sering tidak lurus, bahkan aneh.

            Coba perhatikan soal logo di uang kertas. Orang-orang lain tidak melihat ada lambang palu arit, tetapi dia bilang itu mirip palu arit. Lalu, mempengaruhi orang lain supaya pendapatnya sama dengan dia. Padahal, secara resmi logo itu bukanlah palu arit. Perhatikan pula bagaimana ia menyalahkan Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan karena ada bentrokan antara FPI dengan Ormas-Ormas kesundaan. Sebetulnya kan yang harus disalahkan adalah dirinya sendiri karena bawa massa banyak-banyak seenaknya tanpa ada izin, akhirnya memprovokasi kelompok lain untuk mengerahkan massa yang juga sangat banyak. Perhatikan pula bagaimana dia menanggapi pidato Megawati Soekarnoputri yang menurutnya mengandung penghinaan terhadap Islam. Padahal, jika dilihat dan didengarkan, tak ada satu pun kalimat dari Megawati yang mengandung penghinaan terhadap Islam. Kalau mau jujur, pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu pun tak mengandung penghinaan terhadap Islam dan ulama, baik secara bahasa Indonesia maupun secara tafsir. Akan tetapi, Rizieq mencoba terus berulang-ulang meyakinkan orang lain, bahkan mendesak aparat untuk membuat Ahok benar-benar disalahkan sebagai penista Al Quran.

            Tentang tafsir QS Al Maidaah : 51, saya sudah menuliskan pendapat saya berdasarkan Tafsir Qur’an per Kata: Dilengkapi Asbabun Nuzul dan Terjemah yang disusun Dr. Ahmad Hatta, M.A..  Tafsir itu pun merujuk pada penafsiran Ibnu Katsir. Di samping itu, saya pun menggunakan Sejarah Hidup Muhammad yang disusun oleh Mohammad Haekal untuk memahami apa sesungguhnya yang terjadi pada saat QS Al Maidaah : 51 itu turun. Kesimpulan yang saya dapatkan adalah QS Al Maaidah : 51 sama sekali tidak berhubungan dalam memilih pemimpin di Indonesia dalam sistem politik demokrasi. Hal itu menunjukkan bahwa QS Al Maaidah : 51 sangat tidak tepat untuk digunakan sebagai alat menarik kaum muslimin dalam memilih pemimpin berdasarkan agamanya. Tulisan saya tentang hal ini dapat Saudara baca pada tulisan yang berjudul Terlalu Sering Ayat Al Quran Digunakan sebagai Alat untuk Berbohong. Masih di blog ini juga. Cari saja.

            Tentang pendapat saya bahwa tidak ada kata-kata Ahok di Kepulauan Seribu yang mengandung unsur penistaan secara bahasa Indonesia. Saya akan segera menuliskannya di blog ini. Saya sesungguhnya menunggu para ahli menjelaskannya di media televisi, tetapi sampai saat ini saya tidak melihatnya. Jadi, saya akan coba menjelaskannya dalam bahasa Indonesia yang saya pahami pada waktu yang lain. Tenang saja. Mudah-mudahan saya ada waktu dan energi untuk menuliskannya. Insyaallah.

            Kembali pada keanehan Rizieq. Setelah banyak orang yang gerah terhadap Rizieq dengan melaporkan berbagai hal yang diduga merupakan pelanggaran hukum, Rizieq tampaknya mulai tertekan.

            Dalam kompas.com Rizieq mengatakan hal yang sangat lucu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, (17/1/2017), “Janganlah kita coba saling lapor karena ini bisa mengantarkan pada konflik horizontal. Mestinya kepolisian menjembatani."

            Lho, kok bisa dia bilang seperti itu?

            Lucu sekali.

            Bukankah dia sendiri yang memulai aksi saling lapor?

            Akan tetapi, dia sendiri yang tidak menginginkan situasi saling lapor terjadi. Aneh sekaligus menggelikan. Dia yang memulai, dia pula yang ingin mengakhiri.

            Mirip lagu dangdut kan?

            Coba ingat-ingat. Ketika dilaporkan oleh Ormas kesundaan terkait penghinaannya atas sampurasun yang dia plesetkan menjadi campur racun, Rizieq bukannya berani menghadapi laporan itu, melainkan melaporkan balik Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, atas penghinaan terhadap Islam.

            Bukankah itu tindakan saling lapor yang dimulai oleh Rizieq sendiri?

            Coba ingat lagi. Ketika dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri atas dugaan penghinaan terhadap Pancasila dan Proklamator Ir. Soekarno, Rizieq bukannya dengan gagah berani menghadapi, melainkan berniat melaporkan balik Soekarnoputri.

            Bukankah itu merupakan niat Rizieq untuk melakukan aksi saling lapor?

            Coba analisa lagi. Ketika Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan mulai serius memeriksa Rizieq untuk menanggapi laporan Sukmawati, Rizieq malah menggunakan gerombolannya untuk beraksi meminta Polri memecat Anton Charliyan dengan alasan adanya keributan antara FPI dan GMBI. Padahal, dia sendiri yang bawa gerombolan banyak-banyak.

            Bukankah itu merupakan tindakan yang termasuk dalam kategori aksi saling lapor yang dilakukan Rizieq?

            Coba duga lagi. Ketika Kapolda Metro Jaya mulai serius pula menanggapi laporan masyarakat atas dugaan pelanggaran yang dilakukan Rizieq, Rizieq malah meminta Kapolda untuk dicopot dengan dugaan melakukan provokasi saat terjadi demonstrasi.

            Bukankah itu merupakan tindakan yang termasuk pula dalam kategori aksi saling lapor yang dilakukan Rizieq?

            Aneh memang ini Rizieq. Ia ingin bebas melaporkan orang lain, tetapi tidak ingin orang lain melaporkan dirinya. Padahal, ia sendiri yang mulai sedikit-sedikit laporan, sedikit-sedikit bikin laporan. Sedikit-sedikit bawa massa, sedikit-sedikit teriak-teriak.

            Ia memang sudah seharusnya merasakan tekanan luar biasa karena wajib mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dilakukannya. Apalagi keinginannya untuk melakukan mediasi dengan pihak-pihak yang melaporkannya menemui jalan yang lumayan sulit, bahkan bisa pula buntu. Paling tidak, PDI-P sudah menyatakan dukungan kepada Polri untuk tidak perlu ragu menangkap Rizieq.

            Meskipun demikian, sesungguhnya ada jalan yang bisa ditempuh Rizieq dengan baik-baik dan berpotensi melepaskannya dari seluruh jeratan hukum. Syaratnya, Rizieq harus bersungguh-sungguh menjalankannya dengan menanggalkan seluruh keangkuhan dirinya.

            Saya sebagai orang Islam memiliki kewajiban untuk “saling menasihati” agar setiap muslim memiliki kebaikan dan kesabaran dalam menjalani hidup ini. Sebenarnya, beberapa tulisan saya merupakan nasihat buat Rizieq. Akan tetapi, mungkin dia masih enggan untuk mengikuti nasihat saya. Terserah dia.

            Sekarang ada lagi nasihat buat kamu, Zieq.

            Kalau benar-benar ingin melepaskan diri dari jeratan hukum, hal pertama yang harus dilakukan Rizieq adalah meminta maaf kepada orang Sunda atas penghinaannya terhadap kata mulia sampurasun. Semua hal yang membuat hidup Rizieq menjadi sangat berat dalam kasus hukum, berawal dari penghinaannya itu sebenarnya. Minta maaflah dengan tulus sampai mata dan seluruh raut muka Rizieq menunjukkan benar-benar ketulusan. Tak perlu malu dan tak perlu sungkan karena orang Sunda yang hidup dengan kesundaannya tidak akan pernah menertawakan atau merendahkan orang-orang yang berbuat baik. Bahkan, mereka akan menjadikan Rizieq sebagai saudara.

            Mau kan hidup penuh dengan rasa persaudaraan?

            Kalau mau hidup dengan perselisihan, ya terserah kamu saja, Zieq.

            Jika permohonan maaf itu telah dilakukan, silaturahmilah dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Minta maaflah atas laporan yang telah dilakukan Rizieq terhadap Dedi Mulyadi karena sesungguhnya Dedi tidak melakukan penghinaan kepada Islam. Kalau ada dari tulisan Dedi yang belum dipahami dengan baik oleh Rizieq, tanyalah kepada Dedi tentang buku Dedi itu, berdiskusilah dengan baik. Hal itu akan menguatkan pemahaman Islam dan keimanan masing-masing. Kemudian, cabut laporan terhadap Dedi ke polisi. Itu sangat terhormat, menumbuhkan persaudaraan, dan menghindarkan konflik-konflik horizontal.

            Saya yakin Dedi Mulyadi akan menerima dengan baik jika Rizieq berniat menghubungkan tali silaturahmi dengan baik. Tidak perlu ragu karena Allah swt sangat meridhoi orang-orang yang menyambungkan tali silaturahmi.

            Apabila Rizieq mampu melakukan hal itu, yakinilah Ormas Sunda pun akan mencabut laporannya atas penghinaan terhadap sampurasun itu. Hal itu pun akan mendorong orang-orang lain di seluruh Indonesia ini yang telah melaporkan Rizieq berpikir ulang untuk terus-menerus menginginkan Rizieq dipenjara. Orang-orang yang menolak Rizieq untuk datang ke daerahnya pun akan mulai membuka diri terhadap kehadiran Rizieq. Orang Indonesia itu pada dasarnya orang-orang baik yang tidak menginginkan huru-hara dan permusuhan. Orang Indonesia itu pada dasarnya orang-orang damai yang terhormat. Mereka akan mudah memaafkan Rizieq dan mencabut apa pun laporan yang bisa menjerat Rizieq ke dalam proses hukum. Yakinilah hal itu. Megawati dan PDI-P pun akan dengan sangat cair untuk berdialog dengan baik jika melihat bahwa Rizieq berusaha dengan tulus memperbaiki hubungannya dengan orang-orang lain. Insyaallah.

            Minta maaf dulu dengan tulus kepada orang Sunda jika ingin terbebas dari segala jeratan hukum karena dari sanalah segalanya dimulai. Akan tetapi, jika itu tidak dilakukan, jangan harap akan terbebas dari jeratan hukum. Orang-orang yang saat ini sedang kesal terhadap Rizieq, akan lebih meningkatkan lagi kekesalannya dan akan bertepuk tangan sambil tertawa gembira jika Rizieq duduk di kursi pesakitan. Bahkan, hal yang lebih parah adalah akan semakin banyak orang yang mencoba mencari-cari kesalahan Rizieq, FPI, dan orang-orang kepercayaan Rizieq untuk kemudian dilaporkan pada pihak kepolisian sebagai pelanggar hukum dan penoda keyakinan. Itu akan membuat hidup semakin sulit.

            Jangan heran dan jangan kaget jika ada orang-orang yang kemudian mendatangi kantor polisi untuk melaporkan Rizieq, FPI, dan orang-orang dekatnya dengan kasus macam-macam yang belum bisa diperkirakan.

            Bukankah Novel sudah mulai khawatir atas tuduhan “kesaksian palsu”?

            Bukankah Munarman sudah mulai terjerat hukum karena dianggap meresahkan kehidupan harmonis di Bali?

            Jangan lagi menggunakan massa untuk menghindar dari segala tanggung jawab hukum karena itu akan menimbulkan konflik horizontal dan meruntuhkan kehormatan diri. Apalagi jika sudah terjadi korban manusia, Allah swt pasti akan meminta pertanggungjawaban atas hal itu kelak dengan sangat berat.

            Daripada harus menghadapkan massa untuk bertarung, lebih baik menyodorkan kedua tangan untuk bersalaman, bersaudara, dan berangkulan dengan damai. Itu lebih baik karena Allah swt sangat mencintai kasih, sayang, cinta, dan perdamaian.

            Begitu Zieq, nasihat dari saya.

            Lakukan sekarang juga dari hal yang paling kecil mulai dari diri sendiri.

Monday, 16 January 2017

Zieq, Kamu Jangan Jadi Pengecut, Zieq

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dikiranya hebat gitu bawa orang bergerombol-gerombol, lalu teriak-teriak?

            Dikiranya jadi jagoan gitu mengerahkan massa sampai bejibun-bejibun banyaknya?

            Dikiranya pemberani gitu mempengaruhi massa sampai mau long march  bareng-bareng?

            Bagi saya, tidak sama sekali!

            Hahahaha … sori and maaf saya ketawa … soalnya, lucu melihatnya.

            Perilaku seperti itu sama sekali tidak hebat, bukan jagoan, dan bukan pemberani. Perilaku seperti itu pertanda seorang pengecut!

            Seorang pemberani tidak akan bawa banyak-banyak massa untuk menemaninya memenuhi panggilan polisi. Lihat itu Ahok. Contoh Ahok. Ketika dilaporkan ke polisi, Ahok segera mendatangi kantor polisi untuk menyampaikan klarifikasi dan siap untuk bekerja sama dengan polisi, padahal polisi belum melakukan pemanggilan kepadanya. Dia tidak bawa massa banyak-banyak, beberapa orang saja yang dianggap penting. Dia itu pemberani. Ketika tiba masanya dipanggil, dengan segera Ahok memenuhinya dengan patuh.

            Bahkan, Ahok bilang, “Saya siap dipenjara jika saya salah dan semua keributan adalah memang gara-gara Ahok!”

            Hebat sekali dia.

            Di samping itu, dia selalu hadir lebih pagi dalam acara persidangannya. Itu tandanya dia berani dan mau bekerja sama dengan aparat hukum.

            Berbeda jauh dengan Rizieq.  Ketika dilaporkan Sukmawati Soekarnoputri, ia menghindar dan mencoba berkelit dengan akan melaporkan balik Sukmawati. Di samping itu, tak ada pernyataan yang menunjukkan dirinya sebagai seorang pemberani dengan menegaskan bahwa dirinya siap masuk penjara jika salah.

            Hal yang lebih lucu adalah jangankan langsung datang ke kantor polisi untuk mengklarifikasi laporan Sukmawati dan menyatakan siap bekerja sama, dipanggil polisi pun Rizieq tidak datang. Alasannya sakit. Baru setelah polisi menyatakan ketegasannya akan menjemput paksa jika dipanggil lagi tidak datang, Rizieq akhirnya datang. Itu pun ditemani sama ribuan orang yang bikin macet jalan yang suka dipakai orang untuk ke Rumah Sakit Al Islam dan Rumah Sakit Ujungberung, padahal siang hari. Kalau malam hari sih wajar ditemani orang karena mungkin takut sama hantu kuntilanak.

            Memenuhi panggilan polisi sih, Rizieq emang iya, tetapi terjadi keributan di sana karena bawa massa banyak-banyak. Hal itu memprovokasi kelompok masyarakat lain yang juga punya massa banyak sehingga datang ke tempat yang sama. Coba kalau dia pemberani dan bukan pengecut yang gemar berlindung di balik massa, tidak akan terjadi keributan. Datang sendiri dong kayak Ahok. Kalau datang sendiri, itu namanya pemberani, hero, dan bukan pengecut. Malu dong sama Ahok.

            Ketika sudah terjadi keributan, Rizieq dan konco-konconya malah nyalahin Kapolda Jawa Barat Anton Charliyan. Aneh. Padahal, dia sendiri yang datang bawa banyak orang yang kemudian memicu masyarakat lain untuk datang. Coba kalau sendirian datang sebagai pemberani, keributan pasti tidak akan ada. Karena pengecut dan lebih nyaman dengan ditemani gerombolan orang, keributan pun pecah. Perlu diingat bahwa kehadiran kelompok lain itu adalah karena terpicu Rizieq yang bawa banyak massa. Kalau Rizieq tidak sering-sering bawa massa banyak, mereka tidak akan datang.

            Rizieq bisa saja berkilah bahwa dirinya tidak mengerahkan massa untuk datang, tetapi para pendukungnya yang ingin datang sendiri membantu dirinya sebagai sesama muslim. Kalau alasannya seperti itu, saya pasti tertawa terbahak-bahak karena tetap saja dengan membiarkan orang datang bergerombol banyak-banyak bikin macet untuk menemaninya sama dengan merupakan tanda kepengecutan. Seorang pemberani pasti akan melarang orang lain datang untuk menemaninya karena dia tidak memerlukannya.

            Saya kasih contoh bagaimana seorang hero yang benar-benar Sang Pemberani Sejati. Dia adalah ayahnya Sukmawati Soekarnoputri. Ketika Ir. Soekarno hendak keluar dari Penjara Sukamiskin, Bandung, karena masa penahanannya berakhir, teman-temannya datang dari Surabaya untuk mengabarkan bahwa para pejuang Surabaya akan segera mengerahkan massa ke Bandung untuk menjemput Soekarno sekaligus melakukan demonstrasi.

            Soekarno sebagai seorang Pemberani Sejati menasihati teman-temannya itu, “Tidak perlulah teman-teman menjemput saya. Biarlah saudara-saudara kita tetap di Surabaya. Saya yang nanti akan datang sendiri ke Surabaya. Baik sekali jika tidak datang menjemput saya karena uang-uang yang digunakan untuk ongkos ke Bandung dapatlah digunakan untuk kepentingan teman-teman, apalagi di dalam zaman sekarang yang dalam zaman kesempitan rezeki ini, kita harus berhemat. Biarlah saudara-saudara yang di Bandung saja yang akan menjemput saya.”

            Begitu seharusnya seorang pemberani dan pecinta umat berbicara dan bertindak. Soekarno pemberani dan tidak memerlukan ribuan orang untuk menjemput dirinya. Di samping itu, ia mencintai rakyatnya yang sedang dalam kesulitan ekonomi. Ia tidak ingin membuang-buang uang orang hanya untuk kepentingan dirinya.

            Coba bayangkan jika ribuan massa dari Surabaya dan Bandung berkumpul di depan Penjara Sukamiskin, Bandung. Di samping  jalanan macet, uang banyak keluar, juga bisa terjadi bentrokan dengan polisi kolonial dan penduduk pribumi yang pro-Belanda. Soekarno tahu itu dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Begitulah seorang pemikir cerdas yang pemberani melakukan pertimbangan.

            Rizieq itu tampak sekali pengecutnya. Ketika dia dilaporkan Ormas Sunda mengenai sampurasun, eh dia bukannya berani menghadapi, malah balik melaporkan Dedi Mulyadi yang katanya menghina Islam lewat bukunya. Padahal, jika  dilihat, laporan Rizieq itu mengada-ada dan hanya merupakan tindakan menghindarkan diri dari kasus penghinaan sampurasun. Apa yang disebut penghinaan Islam menurut Rizieq yang dilakukan Dedi Mulyadi sebetulnya karena Rizieq tidak mengerti tentang Islam itu sendiri yang disampaikan dengan menggunakan bahasa rasa oleh Dedi Mulyadi.

            Ketika Rizieq dilaporkan oleh Sukmawati, bukannya dengan gagah menghadapi, malah balik akan melaporkan balik Sukmawati. Ketika Anton Charliyan mulai memeriksa, Rizieq pun tampak ketakutan karena tidak bisa menjawab banyak pertanyaan polisi. Lalu, memindahkan isu ke arah isi tesisnya yang sama sekali tidak berhubungan dengan kata “pantat” dan hal yang dilaporkan Sukmawati. Isu pun beralih pada keributan antara FPI dengan GMBI yang sebetulnya dipicu oleh kepengecutan Rizieq dengan membawa ribuan massa. Lalu, beralih lagi ke arah posisi Anton Charliyan selaku Pembina GMBI. Isu pun makin jauh ke mana-mana, padahal pemicunya Rizieq sendiri yang pengecut bawa orang-orang banyak untuk menemaninya. Coba kalau dia jantan dan tidak pengecut, tidak perlu bawa banyak-banyak orang, situasi pasti kondusif.

            Kepengecutan dia pun terlihat ketika mencoba mempengaruhi orang banyak dengan meniup-niupkan isu bahwa pada uang yang dicetak BI ada logo mirip palu arit. Logo mirip lambang PKI itu kan cuma kata dia dan orang-orang yang serupa dia. Orang lain tidak melihat seperti itu. Saya juga tidak melihatnya seperti palu arit. Perlu diketahui bahwa saya ini adalah pecinta palu arit. Palu arit adalah hiburan bagi saya ketika saya sedang tidak ada pekerjaan. Oleh sebab itu, saya banyak membeli palu arit. Di gudang rumah saya ada empat palu yang disimpan bareng dengan paku, tang, dan meteran. Adapun arit saya punya dua, disimpan bareng gergaji, linggis, sendok tembok, pahat, dan alat lainnya. Jadi, saya tahu benar bagaimana itu rupa palu dan rupa arit.  Saya tidak melihatnya ada pada gambar uang yang dicetak BI. Rizieq itu pengecut karena tidak mau bertanya langsung pada Direktur BI tentang logo itu. Kalau menurut dia pada gambar uang ada logo mirip palu arit, berani dong tanya sama Direktur BI supaya mendapatkan penjelasan yang benar. Bukan ngomong sana-sini nggak karu-karuan yang menambah-nambah kisruh isu pekerja illegal Cina yang jumlahnya 50 juta tanpa ada mau yang bertanggung jawab tentang data jumlah itu.

            Tanya dong sama Direktur BI baik-baik. Kalau sudah dijelaskan, jangan memaksakan diri untuk ngotot bahwa itu benar-benar lambang palu arit. Rizieq tidak berani bertanya langsung. Dia beraninya ngomong sama gerombolannya tidak karu-karuan. Periksa itu matanya ke rumah sakit. Orang lain tidak melihat palu arit, dia bilang itu palu arit.

            Dasar pengecut!

            Kalau Rizieq benar-benar seorang Mujahid Pemberani Sejati, buktikan bahwa dia bisa menyelesaikan sendiri masalah hukum yang menimpa dirinya tanpa harus ditemani dengan gerombolan manusia yang telah dipengaruhinya.

            Jadilah pemberani dan jangan jadi pengecut!

            Malu dong sama Ahok.