Showing posts with label G-30-S. Show all posts
Showing posts with label G-30-S. Show all posts

Wednesday, 29 September 2021

Nobar G-30-S PKI Boleh, Nggak Juga Boleh

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Soal nonton bareng (Nobar) film G-30-S PKI selalu menjadi polemik setiap September. Akan tetapi, semakin ke sini semakin berkurang keributan soal itu. Baguslah.

            Bagi yang mau nonton, boleh. Tidak nonton pun tidak apa-apa. Itu cuma film. Lagian bukan film dokumenter. Saya pertama kali nonton ketika film itu masih dalam minggu perdana tayang pada berbagai bioskop di Indonesia. Saat itu saya masih SMP, nonton bareng teman-teman di bioskop yang ada di Pasar Kosambi, Bandung. Durasinya empat jam tanpa dipotong iklan. Di bioskop kan nggak pake iklan, kita bayar tiket.

            Tahun-tahun selanjutnya, film itu diputar di televisi setiap September. Setiap stasiun televisi seolah-olah diwajibkan untuk memutar film tersebut. Sekarang tidak diwajbkan lagi.

            Entah kenapa saat ini, mendekati masa-masa Pemilu, terutama saat pemilihan presiden, penghentian atau tidak diminatinya lagi film itu dikait-kaitkan dengan kebangkitan PKI. Itu kan cuma film. Bagi saya, cukup satu kali nonton film itu di bioskop. Bosen terus-terusan mah.

            Masalah itu kemudian melebar dengan adanya usulan untuk mencabut ketetapan MPRS tentang larangan mengajarkan ajaran marxisme, leninisme, dan atau Frederich Engels karena mengandung ajaran komunisme. Hal itu pun disebut-sebut sebagai kebangkitan PKI. Kemudian, diisukan PKI akan kembali menguasai Indonesia.

            Dari mana keyakinan kebangkitan PKI itu berasal?

Aneh.

            Hal yang saya ketahui adalah justru pada saat Presiden Soeharto masih berkuasa Menteri Pendidikan Wardiman Djojonegoro sempat berbicara kepada Soeharto agar film G-30-S PKI itu ditinjau ulang. Hal itu saya pahami untuk meluruskan sejarah dan membuat film itu sesuai dengan perkembangan film dalam zaman teknologi ini.

            Setelah Soeharto lengser atau lungsur, diganti Presiden Habibie. Menurut Usman Hamid, aktivis Amnesty International, Jenderal Angkatan Darat Menteri Penerangan RI Yunus Yosfiah dan Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono menghentikan kewajiban untuk memutar film itu di setiap stasiun televisi. Artinya, boleh diputar, boleh tidak. Boleh nonton, boleh tidak.

            Yunus Yosfiah dan Juwono Sudarsono bukan PKI. Mereka menteri pada masa Habibie. Mereka bagian dari pemerintah. Yunus Yosfiah adalah jenderal angkatan darat, Juwono Sudarsono adalah profesor yang dijadikan rujukan banyak orang, termasuk oleh Gus Dur.

            Usulan pencabutan ketetapan MPRS tentang larangan mengajarkan komunisme itu berasal dari Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur). Dia mengkhawatirkan ketetapan itu menimbulkan ketidakadilan terhadap masyarakat yang dituduh PKI.

            Gus Dur bukan PKI. Dia keturunan kiyai. Dia sendiri kiyai.

            Tak ada hubungannya soal penghentian pemutaran film dan minat untuk menonton film G-30-S PKI dengan PKI. Hal itu disebabkan PKI sudah dibubarkan, tak ada lagi. Kalau ada, segera laporkan, pasti diberangus.

            Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang sering menghembuskan isu adanya kebangkitan PKI sendiri tidak pernah menangkap satu orang pun PKI. Padahal, ketika dia berkuasa memiliki kewenangan, alat, dan prajurit yang sangat patuh kepada dirinya.

            Kalau memang PKI ada, kenapa tidak dia tangkap?

            Itu artinya kebangkitan PKI itu hanya isu yang makin lama makin basi.

            PKI sudah tidak ada. Kalau ada, cegah, laporkan, tangkap, dan berangus.

            Sampurasun.

Saturday, 23 July 2016

Indonesia Selalu Diganggu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Tom Finaldin

Sejak lama sebenarnya Indonesia selalu diganggu perkembangan dan pertumbuhannya. Penjajahan adalah jelas gangguan yang sangat merusakkan berbagai sendi kehidupan di Indonesia yang sedang mengalami perkembangan. Ketika hendak merdeka pun gangguan itu keras sekali yang membuat Indonesia keteteran, tetapi untung selamat. Pada awal merdeka pun gangguan itu sangat jelas dengan adanya gagasan RIS. Gagasan negara federal itu terlihat sekali dari ingin dilemahkannya kekuatan Indonesia sehingga pihak-pihak asing dan mereka yang tidak ingin melihat Indonesia menjadi besar masih dapat menggerogoti Indonesia dalam sistem federalisme. Untungnya, hal itu tidak lama terjadi dan Indonesia kembali menjadi NKRI.

            Pada masa kepemimpinan Ir. Soekarno terjadi banyak pemberontakan di daerah berikut G-30-S. Kisruh-kisruh yang terjadi memang sebagian besar adalah masalah di antara warga bangsa sendiri, tetapi ada pihak-pihak asing yang mencoba menumpangi permasalahan di dalam negeri. Dengan ditembak jatuhnya pesawat pembom B 26 yang dikendalikan personil CIA Alan Pope oleh Mayor Dewanto sudah jelas menunjukkan kapitalisme bermain api dalam mengganggu Indonesia. Terjadinya aksi idiotik G-30-S juga tidak lepas dari permainan kotor pihak asing dalam mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi Indonesia. Hal itu disebabkan G-30-S adalah pertarungan kapitalis vs komunis tingkat dunia yang merembes ke Indonesia.

            Pada masa Soeharto pun demikian pula banyak pihak luar yang menambah kisruh suasana. Memang pada masa Soeharto yang sangat represif itu memunculkan banyak perlawanan di daerah, bahkan di wilayah-wilayah perkotaan dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi bawah tanah yang melakukan perlawanan diam-diam. Aceh terus bergolak. Papua juga ingin merdeka. Timor-Timur tak kunjung tenang. Masalah-masalah yang terjadi sebenarnya masalah di antara sesama bangsa, tetapi pihak luar ikut membesar-besarkannya melalui pers dan mungkin juga melalui bantuan-bantuan finansial dan nonfinansial. Hal itu jelas sangat mengganggu pertumbuhan Indonesia.

            Pada masa Habibie juga demikian, Timor-Timur begitu keras permasalahannya sehingga terpaksa harus berpisah dari Indonesia. Berpisahnya Timor Timur pun tidak lepas dari adanya laporan-laporan dan berita-berita kecurangan pada saat dilakukan referendum oleh pihak-pihak asing. Untung saja, Indonesia tidak merasa rugi dengan lepasnya Timor Timur yang kemudian menjadi Timor Leste. Bahkan, beberapa pihak merasa beruntung dengan berpisahnya Timor Timur dari Indonesia karena wilayah itu hanya menjadi beban bagi Indonesia tanpa bisa diharapkan memberikan sumbangan yang positif bagi pembangunan Indonesia secara keseluruhan.

            Pada masa Abdurahman Wahid terjadi huru hara di Ambon, Poso. Ketenangan dan ketenteraman Poso diganggu oleh konflik yang melibatkan dua agama yang sebenarnya berawal dari keinginan berpisahnya Maluku Selatan dari Indonesia dan mendirikan negara sendiri, yaitu Republik Maluku Selatan (RMS). Banyak negara lain yang mendukung berdirinya negara RMS, tetapi mereka terpaksa harus menanggung malu karena kalah. Bahkan, Amerika Serikat buka suara bahwa kejadian di Poso sangat mengganggu Amerika Serikat. Lucu sekali pernyataan AS itu karena dikeluarkan ketika kaum muslimin, aparat pemerintah, dan para pendukung NKRI telah berada di atas angin mengalahkan para perusuh.

            Ketika Megawati menjadi presiden, Aceh semakin bergolak sehingga memaksa pemerintah menggerakkan TNI untuk mengamankan Aceh. Akan tetapi, hal yang sangat lucu adalah adanya larangan atau ketidaksetujuan negara-negara lain ketika TNI akan menggunakan pesawat tempurnya untuk menggempur GAM. Hal itu menunjukkan bahwa ada kekuatan asing yang berupaya melestarikan ketidakamanan di Provinsi Aceh.

            Pada masa Susilo Bambang Yudhoyono tidak banyak terjadi gangguan keamanan, kecuali yang sudah berlangsung sejak lama seperti OPM. Paling-paling, gangguan dari negara sebelah Malaysia terhadap kedaulatan Indonesia yang membuat kesal dan geram berbagai elemen bangsa karena pemerintah tidak tampak bersikap tegas. Hal yang menjadi gangguan adalah justru ada banyak sumber daya alam yang diduga dikuasai oleh pihak asing yang hasilnya juga mengalir ke luar negeri. Oleh sebab itu, pada masa pemerintahan SBY ini sempat dikecam sebagai tahun “kebohongan” dan menjadikan Indonesia sebagai “negara gagal”. Meskipun demikian, para pendukung pemerintahan SBY tidak menganggapnya sebagai kegagalan. Akan tetapi, semua merasakan adanya gangguan pihak asing, termasuk adanya dugaan terjadi praktik jual beli legislasi antara legislator dengan pihak luar negeri yang membuat sumber daya alam Indonesia dikuasai pihak asing.

            Indonesia dalam kepemimpinan Jokowi pun mendapat gangguan. Bedanya, situasi di dalam negeri lebih terkendali dan mudah ditangani. Teror di Jl. Thamrin, Jakarta, diselesaikan dalam waktu cepat, gerakan OPM lebih dibatasi, Grup Santoso semakin terdesak, kerusuhan Tolikara padam dengan sangat cepat. Untuk membuat situasi di dalam negeri Indonesia carut marut, saat ini semakin susah karena rakyat sudah lebih kuat bersatu dan bersaudara dibandingkan sebelum-sebelumnya. Oleh sebab itu, gangguan justru datang dari luar Negara Indonesia dengan adanya penculikan WNI oleh kelompok-kelompok yang biasa disebut kelompok Abu Sayyaf. Kalau pencurian ikan di perairan Indonesia, itu hanyalah tindakan kriminal murahan yang tidak bertujuan mengganggu, melainkan hanya ingin mencuri, maling.

            Indonesia tampaknya tidak dibiarkan untuk hidup tenang dan tenteram. Mereka tidak ingin melihat Indonesia besar dan aman tenteram. Apalagi ketika di belahan dunia lain terjadi berbagai kesemrawutan dan gonjang-ganjing, baik politik maupun ekonomi, mereka tidak ingin Indonesia berada dalam keadaan tenang-tenang saja. Indonesia harus punya masalah. Hal itu pun bisa diperhatikan dari pernyataan Badrodin Haiti ketika masih menjabat Kapolri bahwa Isis berniat mengganggu ketenteraman Indonesia. Meskipun Indonesia tidak bisa tertarik untuk hidup babak belur seperti negara lain, paling tidak Indonesia tidak boleh tenteram dan aman secara mulus. Harus selalu ada masalah.

            Ketika huru-hara di dalam negeri sulit diciptakan, gangguan terhadap Indonesia pun dilakukan di luar wilayah Indonesia, yaitu dengan melakukan penculikan terhadap ABK yang sedang berlayar dan berbisnis. Ketika kekuatan kelompok Santoso benar-benar hampir habis, diciptakanlah kesulitan baru bagi Indonesia di wilayah laut yang sama sekali bukan merupakan kewenangan Indonesia, baik di wilayah laut Filipina maupun di Malaysia.

            Membicarakan hal seperti ini memang seperti “mengarang indah” karena memasuki area “konspirasi” yang melibatkan “The Hiden Hand” yang selalu berada di belakang layar dan sulit dideteksi ketika menciptakan berbagai kesemrawutan dan keributan. Kita boleh menduga bahwa kasus-kasus penculikan WNI ini bukan sekedar “pemerasan” atau kriminal biasa, melainkan adanya suatu upaya untuk menciptakan Indonesia selalu berada dalam masalah. Bisa kita perhatikan bahwa WNI diculik oleh kelompok yang tidak bisa dikalahkan oleh militer Filipina di wilayah yang tidak dikuasai pemerintah Filipina. Sementara itu, Filipina memiliki undang-undang yang tidak memperbolehkan pasukan asing masuk ke negaranya. Hal itu mempersulit pemerintah Indonesia secara sempurna dalam menyelamatkan WNI. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Filipina tampak tidak serius menjalin kerja sama untuk menyelesaikan masalah itu yang ditandai sulit hadirnya mereka untuk membicarakan masalah keamanan yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Banyak juga yang menduga bahwa Filipina mendapat bisikan dari pihak kapitalis terkait sikapnya tersebut yang mempersulit Indonesia karena Filipina memang negara yang memiliki kecenderungan berkiblat ke arah Barat.

            Ketika penculikan WNI bisa diatasi, pemerintah Indonesia pun segera melakukan pelarangan untuk berlayar ke perairan Filipina. Akan tetapi, ternyata masih ada perusahaan yang melanggar larangan itu. Akibatnya, ABK mereka diculik juga. Menurut saya, perusahaan yang melanggar moratorium pelayaran itu harus diperiksa juga karena memicu masalah yang sebetulnya tidak perlu terjadi lagi. Bisa jadi mereka pun merupakan bagian dalam memberikan gangguan bagi Indonesia. Sudah tahu dilarang, masih berlayar juga. Kalu tidak bego, mereka berarti benar-benar sedang membuat gangguan terhadap Indonesia. Kalau itu benar terjadi, perusahaan itu harus ditindak tegas, dicabut izinnya, dan pemiliknya atau pemimpinnya ditangkap.

            Hal yang mencurigakan lainnya adalah adanya pernyataan dari Beny Mamoto mantan Ketua Tim Pembebasan Sandera 2006. Ia menyatakan bahwa ada intel militer Filipina yang bermain dalam penyanderaan itu. Bahkan, pembebasan sandera yang selalu di dekat rumah salah satu gubernur di Filipina pun patut diperhatikan dan dipertanyakan. Di samping itu, Beny Mamoto pun berharap bahwa Presiden Filipina yang baru dapat mengangkat panglima militer yang kredibel dan tegas karena ada kemungkinan oknum militer Filipina pun ikut terlibat dalam beberapa kasus penculikan.

            Seperti yang saya bilang bahwa membicarakan masalah ini seperti “mengarang indah” karena menyambung-nyambungkan peristiwa dan menghubung-hubungkannya, lalu mencari pemahaman dari hal-hal itu.

            Kita semua harus paham dan sadar bahwa sejak dulu banyak sekali pihak yang tidak menginginkan Indonesia menjadi besar dan memiliki kekuatan lebih besar dalam menentukan percaturan dunia. Hal ini pun bisa dilihat dari banyaknya berita bohong di internet yang berbahasa asing yang menggambarkan bahwa Indonesia adalah negara yang intoleran, pelanggar Ham, dan lain sebagainya. Tampaknya, banyak orang yang sangat khawatir Indonesia bisa lebih kuat dalam berperan menentukan arah sejarah dunia sekaligus banyak orang yang iri dan tidak ingin percaya bahwa Indonesia sebagai negara dari dunia ketiga yang mayoritas muslim mampu hidup dengan tenang dan tenteram penuh kedamaian dalam keadaan makmur. Mereka akan terus mengganggu sebagaimana syetan yang selalu mengganggu membuyarkan konsentrasi ketika kita melakukan shalat. Mereka akan terus mengganggu.


            Kita tidak bisa menghentikan mereka karena begitulah tugas hidup mereka, mengganggu manusia supaya tidak hidup dalam keadaan tenang. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah melindungi diri dari setiap gangguan itu sehingga para pengganggu itu putus asa sebagaimana putus asanya Iblis Laknatullah untuk menggoda orang-orang beriman setelah sempurnanya ajaran Islam. Iblis dan anak buahnya hanya mampu menjerumuskan manusia dalam hal-hal kecil, seperti, perceraian, perjudian, pelacuran, dan lain sebagainya. Akan tetapi, mereka sudah berputus asa dalam persoalan-persoalan besar semisal “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perkara ketauhidan sudah mutlak tak tergoyahkan. Demikian pula para pengganggu Indonesia yang sudah mulai berputus asa dalam perkara-perkara besar, seperti, disintegrasi, konflik antaragama, dan penentangan terhadap ideologi Pancasila. Mereka sudah sangat kesulitan membuat kerusakan dalam hal-hal besar seperti itu. Mereka hanya mampu mengganggu Indonesia melalui perilaku-perilaku jahat kecil-kecil yang cenderung kriminal murahan yang nilainya tak lebih dan tak kurang seperti pencuri kecil yang mengutil di supermarket.

Sunday, 4 October 2015

Jangan Perlihatkan Kebodohan Kita Soal Komunisme


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Ada banyak orang yang masih dendam dan tersudut akibat huru-hara politik masa lalu, terutama yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Banyak mantan dan keturunan anggota atau simpatisan PKI yang merasa diperlakukan tidak adil dan biadab. Akan tetapi, banyak pula yang merasa dirugikan dan teraniaya oleh perilaku PKI. Jadi, kalau setiap pihak mau minta keadilan, sejarah harus kembali dibuka sejujur-jujurnya, seteliti-telitinya, dan ditulis dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah yang bernilai akademis. Jangan hanya klaim sana-klaim sini. Semuanya harus terbuka dan terang benderang.

            Baik dibuka atau ditutup, sejarah kekacauan politik yang mengakibatkan peristiwa penghinaan terhadap kemanusiaan itu merupakan wujud dari kebodohan kita sebagai bangsa. Dari dulu sampai sekarang masih teramat banyak orang bodoh di antara kita dan mungkin kita sendiri selalu memelihara kebodohan itu dengan senang hati dan berbangga diri.

            Apa kebodohan kita itu?

            Kebodohan kita adalah kita selalu menganggap diri lebih lemah, terbelakang, dan merasa diri lebih bodoh dibandingkan negara luar.

            Adanya pemikiran komunis dan pemikiran liberal adalah contoh teramat nyata bagaimana tololnya kita dengan mengganggap orang yang berada di luar diri kita lebih hebat dibandingkan kita. Baik, komunis maupun liberal-kapitalis adalah perilaku dan pemikiran yang berasal dari luar Indonesia, bukan milik bangsa Indonesia. Kita hanya tidak percaya diri menggunakan pikiran dan perilaku kita sendiri dalam berbangsa dan bernegara.

            Kebodohan dan ketololan kita itu harus dibayar mahal dengan banyaknya jatuh korban dan kehancuran sosial-ekonomi-kemanusiaan. Jadi, jangan ulangi lagi kebodohan dan ketololan serupa itu atau bahkan memperlihatkannya kembali dengan mengungkit-ungkit rasa sakit hati yang sepihak tanpa mempertimbangkan bahwa orang lain juga banyak yang yang merasa sakit hati karena perbuatan dan perilaku kita.

            Bagaimana tidak bodoh dan tololnya kita dengan percaya pada pemikiran komunis dan kapitalis. Kedua pemikiran dan perilaku itu adalah berawal dan berujung pada perebutan uang, materi, benda, dan kedudukan. Semua yang mereka perebutkan itu adalah hal-hal yang teramat rendah dalam pandangan budaya asli bangsa Indonesia. Budaya original Indonesia sangatlah mengagungkan ketuhanan dan kemanusiaan dari zaman ke zaman serta menempatkan uang, materi, seks, kedudukan, dan kekuasaan berada di pinggir-pinggir kehidupan. Kita menjadi jatuh dan tidak beradab karena ngikut-ngikut bangsa lain yang gemar rebutan uang recehan. Kita ingin hidup sama brengseknya dengan mereka dengan menjadikan uang, materi, seks, kedudukan, dan kekuasaan adalah hal-hal yang utama dalam hidup, sedangkan ketuhanan dan kemanusiaan dipinggirkan. Masyaallah.

            Soekarno adalah orang yang sangat yakin dan bangga dengan nilai-nilai bangsanya. Oleh sebab itu, ketika dunia dikuasai pikiran-pikiran yang rendah semacam komunis dan liberal-kapitalis, Soekarno berupaya keras menarik orang-orang Indonesia yang berpikiran komunis dan kapitalis untuk berada bersama satu jalan untuk kepentingan Indonesia. Akan tetapi, sayang, upayanya itu gagal karena memang komunis dan kapitalis adalah paham yang tercipta untuk saling bertentangan. Kalaupun mereka sempat akur, sesungguhnya jauh di dalam lubuk hati yang terdalam, mereka masih memendam permusuhan hingga kini.

            Komunis itu lahir karena keserakahan orang-orang kapitalis. Mereka terus-menerus berebut hal-hal lahiriah yang justru akan menimbulkan banyak persengketaan di muka Bumi.

            Soekarno sesungguhnya telah berpayah-payah menerangkan bahwa komunis tidak perlu memusuhi agama Islam karena sesungguhnya yang membuat komunis menjadi antiagama dan anti-Tuhan adalah para pendeta gereja yang korup, bukan ulama Islam dan kaum muslimin. Ketika para buruh komunis merasa teraniaya oleh para pengusaha kapitalis, pendeta dan gereja adalah pihak yang paling diharapkan para buruh untuk menegakkan keadilan dan mencurahkan kasih sayang. Akan tetapi, gereja-gereja itu para pendetanya sudah disuap oleh para pengusaha untuk membela kepentingan kapitalis. Pendeta-pendeta korup itu pun kemudian menuduh komunis sebagai tidak beragama dan hidup hanya menyandarkan pada pikiran, bukan keimanan. Akibatnya, para buruh itu pun putus asa. Mereka tidak mendapatkan pertolongan gereja untuk membela kesusahan yang dideritanya. Akhirnya, mereka pun menegaskan diri bahwa “Tuhan tidak ada” dan “agama adalah candu”.

            Dari sejarah itu, Soekarno berupaya keras meyakinkan bahwa Islam adalah bukan agama para pendeta korup itu. Islam dengan komunis memiliki semangat yang sama dalam memerangi ketidakadilan, keserakahan, dan kemungkaran. Akan tetapi, orang-orang komunis memang “bebal dan bandel”. Mereka tidak mendengar apa yang dinasihatkan Soekarno. Mereka tetap memusuhi Islam sampai hari ini. Itu tandanya mereka adalah orang-orang bodoh.

            Soekarno pun berletih-letih meyakinkan orang-orang Islam agar tidak memusuhi komunis karena sesungguhnya komunis bisa berteman dengan Islam dalam memerangi ketidakadilan, keserakahan, dan kejahatan kapitalis. Akan tetapi, orang-orang Islam terlalu mempercayai omongan para pendeta korup yang memfitnah komunis. Orang-orang Islam pun kemudian anti terhadap komunisme. Sikap antikomunis dari orang-orang Islam pun diperparah oleh kenyataan yang memang menunjukkan bahwa orang-orang komunis terus memusuhi Islam, baik dengan kata-kata, perangai, perilaku, maupun penyerangan keji.

            Permusuhan dan rasa saling curiga ini sudah sangat sulit diperbaiki sehingga Soekarno mengatakan, “Sudah sempurnalah perselisihan faham.”

            Inilah yang saya maksudkan dengan “kebodohan yang tidak perlu diperlihatkan”. Orang-orang komunis bodoh karena menyamakan Islam dengan gereja yang dipenuhi pendeta korup itu. Kemudian, melakukan penghinaan dan penyerangan keji. Orang-orang Islam pun bodoh karena menyandarkan pendapat pada pendapat pendeta-pendeta korup pembela kapitalis itu. Kemudian, memunculkan semangat antikomunis.

            Seandainya PKI mau berpikir lebih matang, akan terlihat jelas bahwa Islam adalah partner yang sangat tepat dalam memerangi ketidakadilan. Seandainya kaum muslimin dapat lebih mempelajari hal-ihwal kemunculan dan penderitaan komunisme, akan tampak nyata bahwa PKI adalah pihak yang dapat digunakan untuk memerangi keserakahan dan kezaliman orang-orang kafir. Akan tetapi, apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur dan bubur itu basi yang tidak bisa lagi dibumbui dengan kacang, kecap, daging, dan kerupuk.

            Karena komunisme yang tidak mau juga mengerti bahwa Islam berbeda dengan keyakinan pendeta-pendeta korup itu, permusuhan pun semakin sengit. Hal itu membuat kaum muslimin Indonesia gusar dan kesal bukan main. Oleh sebab itu, ketika terjadi G-30-S, kemarahan kaum muslimin benar-benar sampai puncaknya. Mereka bersama penguasa saat itu memuntahkan amarahnya karena penghinaan orang-orang ateis terhadap Allah swt, Muhammad saw, dan Islam serta penyerangan-penyerangan kejinya. Tak ayal, terjadi pembantaian dan penyingkiran terhadap orang-orang komunis. Itu adalah sejarah yang tak bisa dibantah.

            Bisa kita lihat bukan bagaimana bodohnya kita saat itu?

            PKI begitu percaya terhadap komunisme yang datang dari luar Indonesia. Kaum muslim Indonesia pun sangat percaya terhadap pendapat pendeta-pendeta korup yang disuap kapitalis asing. Pendek kata, pemikiran-pemikiran rendah dunia di luar Indonesia yang merembes ke dalam bangsa Indonesia telah menjadikan kita semrawut dan kacau-balau.

            Tidak bisa kita lihatkah bahwa mempercayai pikiran dan perilaku orang asing telah mengundang malapetaka yang teramat dahsyat?

            Sampai kapan kita akan terus percaya dan berbangga diri dengan pikiran dan perilaku asing?

            Bodoh kok dipelihara!

            Pikiran dan perilaku luar itu telah membuat kita kehilangan arah. Kita adalah korban dari kesalahan kita sendiri. Mereka yang PKI adalah saudara kita sendiri. Mereka yang muslim adalah saudara kita juga. Kita adalah saudara sebangsa dan setanah air. Kita bermusuhan karena pikiran-pikiran asing dan hasutan-hasutan asing. Kita adalah sama-sama korban tragedi kemanusiaan akibat terlalu percaya omongan orang-orang asing dan menganggap diri lebih rendah dan bodoh. Akibatnya, kita benar-benar bodoh.

            Kecerdasan kita terletak pada keyakinan kita terhadap Pancasila. Dengan memahami Pancasila, kita akan benar-benar didorong untuk cerdas otak, cerdas hati, dan cerdas berperilaku.

            Hentikan meneruskan permusuhan dan meminta keadilan atas peristiwa itu karena kita hanya akan menampakkan diri sebagaimana orang-orang bodoh yang mempertahankan kebodohan. Sejarah yang terjadi memang keji dan menyakitkan, tetapi itu terjadi karena kesalahan kita dalam berpikir, berkata-kata, bersikap, berperilaku, dan melakukan pemihakan.


            Semoga pada masa depan, kita benar-benar menjadi manusia-manusia yang Pancasilais. Amin.