Showing posts with label Ustadz. Show all posts
Showing posts with label Ustadz. Show all posts

Wednesday, 12 February 2020

Apa Kabar Dajjal?


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera sang Surya
Dajjal adalah tokoh yang dipercaya datang pada akhir zaman menjelang kiamat. Dia datang dengan membawa kemunafikan, kedustaan, kejahatan, kemunkaran, kekejian, dan berbagai kerusakan di muka Bumi.

            Sudahlah, saya nggak mau serius ngomongin Dajjal. Saya hanya pengen ketawa saja kalau ada yang ngomongin Dajjal tanpa dasar dan tanpa sumber yang jelas. Banyak sekali yang berbicara atau menulis tentang Dajjal dengan bertentangan dan ngawur. Saya tulis beberapa yang ngawur itu.

            Beberapa waktu lalu, saat terjadi gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, pada grup-grup WhatsApp (WA) beredar postingan bahwa gempa di Palu adalah disebabkan “Jokowi sedang membangunkan Dajjal”. Maklum, saat itu lagi ramai-ramainya menjelang Pemilihan Presiden Republik Indonesia. Jokowi adalah calon presiden yang kini sudah terpilih kembali menjadi presiden.

            Luar biasa sekali Jokowi kenal dengan Dajjal, tokoh dunia yang katanya disebut-sebut para nabi, bahkan bisa membangunkannya. Selain itu, berarti Dajjal adalah orang Palu. Dia tidur di Indonesia. Luar biasa. Sayangnya, banyak orang yang percaya, bahkan postingan itu di-share, ‘disebarluaskan’ ke grup-grup WA lainnya. Luar biasa.

            Dua bulan sejak gempa di Palu, Indonesia, terjadi gempa di Iran. Lalu, banyak tulisan di Medsos bahwa gempa di Iran itu terjadi disebabkan Dajjal sedang berupaya bangun dari tidur panjangnya untuk membuat kerusakan di Bumi. Luar biasa.

            Jadi, Dajjal itu orang Palu, Indonesia, atau orang Iran?

            Lagian dia itu tidur melulu. Setiap bangun, gempa. Setiap menguap, timbul angin topan. Ngaco.

            Subuh hari ini, saya mendapat pertanyaan dari seorang ibu jamaah pengajian tertentu, “Kang, benarkah Raja Arab sudah membangun sebuah tempat untuk kedatangan Dajjal?”

            “Kata siapa?” saya balik bertanya.

            “Kata Ustadz itu,” dia lalu memberitahukan lokasi rumah ustadz yang dimaksudkannya.

            “Bohong!” tegas saya.

            “Iya yah, kan Dajjal itu jahat, tapi kenapa Raja Arab membuatkan tempat untuk kedatangannya?” Si Ibu itu bingung.

            “Ibu bertanya nggak sama ustadz itu tentang alasan Raja Arab membangun tempat untuk Dajjal?”

            “Bertanya.”

            “Apa jawabannya?”

            “Ustadz itu bilang, ‘yaa, begitulah’,” jawab Si Ibu.

            Luar biasa. Kisah itu luar biasa.

            Saya tegaskan, ustadz itu berdusta karena hanya berceritera tanpa menjelaskan sumber kisahnya.  Dia pun tidak menerangkan alasan Raja Arab membuat tempat untuk kedatangan Dajjal. Di samping itu, belum lama ini saya baru pulang umroh dan tidak mendapatkan informasi atau melihat ada tempat itu di Arab. Kalau memang ada, mungkin para pembimbing umroh atau haji akan mengajak para jamaahnya ke tempat itu. Bahkan, mungkin para wartawan dari seluruh dunia sudah menyiarkan berita luar biasa itu ke seluruh dunia.

            Mengapa hanya Sang Ustadz yang tahu, sedangkan orang lain tidak tahu?

            Dia tahu dari mana?

            Luar biasa, Ustadz.

            Sampurasun.

Friday, 17 February 2017

Pentingnya Sertifikasi Khatib

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ketika wacana sertifikasi khatib digulirkan Menteri Agama RI, segera terjadi pro dan kontra di tengah masyarakat. Di kalangan umat Islam, sepanjang yang saya dengar, baik secara sengaja maupun tidak, sesungguhnya mendukung penuh adanya sertifikasi tersebut, terutama dari ibu-ibu pengajian.

            Ocehan dari ibu-ibu yang membuat saya tertegun adalah kata-kata seperti ini, “Masa untuk jadi guru saja harus S1, kok ustadz nggak ada standarnya.”

            Kalimat itu sangat sederhana, tetapi memukul dada penuh makna. Mereka menginginkan ustadz, penceramah, atau ahli agama yang benar-benar bisa diyakini kompetensinya. Mereka sudah sering bertemu dengan ustadz-ustadz yang “berlebihan” ketika berceramah sehingga membingungkan. Tak jarang ibu-ibu itu setelah pengajian, harus bertanya lagi pada suami mereka tentang isi ceramah yang membingungkan. Bahkan, isi pengajian yang membingungkan bisa memicu perdebatan antara suami dan istri. Akan menjadi sangat berbahaya jika suaminya sudah melarang istrinya mengikuti pengajian ustadz tertentu karena kerap membingungkan.

            “Pah, kalau saya pindah tempat mengajinya gimana?”

            “Bagus, Mah. Pindah saja.”

            “Tapi, kata Pak Ustadz, berdosa kalau pindah ngajinya. Bisa masuk neraka.”

            “Siapa bilang? Ngaco tuh, Ustadz. Sudah, pindah saja!”

            “Takut, Pah. Takut masuk neraka.”

            “Tidak, tidak akan masuk neraka!”

            “Takut, Pah.”

            “Kamu ini mau patuh sama ustadz atau mau patuh sama suami?”

            “….”

            “Tidak patuh kepada suami itu jelas berdosa, masuk neraka!”

            Bagaimana kalau sudah begitu?

            Percakapan antara suami dan istri seperti itu sering terjadi di tengah masyarakat. Kita tidak perlu mengelak dan menutupi kenyataan bahwa hal-hal seperti itu kerap terjadi.


            Di kalangan bapak-bapak juga sama. Banyak dari mereka yang kemudian berkomentar miring atas khutbah-khutbah yang “berlebihan” dari para khatib. Sementara itu, khatib yang membingungkan itu adalah teman pengurus DKM. Jadi, mereka berulang-ulang mendengarkan khutbah yang membuat mereka kebingungan.

            Pendek kata, masyarakat muslim membutuhkan para khatib, ustadz, dan penceramah yang kompetensinya bisa dipertanggungjawabkan.

            Mereka yang tidak setuju dengan adanya sertifikasi, mohon maaf, kelihatannya adalah sebagian dari mereka yang suka berceramah, para khatib, atau para ustadz yang mungkin harus melengkapi dirinya dengan berbagai hal untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Mereka enggan untuk mengurus hal-hal tersebut. Bisa pula mereka tidak menginginkan hal tersebut karena belum jelas benar hal-hal yang dapat dijadikan standar untuk mendapatkan sertifikat agar bisa disebut ahli agama yang berkompeten. Bisa juga mereka tidak menginginkan hal tersebut karena menganggap bahwa masyarakat tidak memerlukannya dan sudah merasa cukup dengan para penceramah yang biasa ada. Bisa pula keengganan mereka disebabkan hal-hal lain yang belum kita ketahui.


Bukan Sertifikasi Ulama
Kalaupun sertifikasi itu jadi ada atau diterbitkan, jangan menggunakan kata “ulama”. Jujur saja, ukuran ulama itu sama sekali tidak diketahui manusia. Seseorang yang disebut ulama adalah “orang yang takut kepada Allah swt”.

            Sekarang, bagaimana caranya mengukur bahwa seseorang itu takut kepada Allah swt atau tidak?

            Tak ada yang bisa mengukurnya, bahkan seorang ulama pun tidak bisa mengukur dirinya sendiri sebagai orang yang takut kepada Allah swt. Hal itu disebabkan jika seseorang takut kepada Allah swt, semakin dia takut, semakin merasa dirinya kotor karena ketakutan dirinya telah memperlihatkan berbagai dosa yang telah diperbuatnya. Oleh sebab itu, semakin enggan dia disebut ulama karena sangat memahami berbagai kelemahan dirinya. Semakin takut kepada Allah swt, semakin merasa tidak pantas dirinya disebut ulama. Jadi, satu-satunya yang bisa mengukurnya adalah Allah swt sendiri.

            Sebaiknya, gunakan saja istilah, seperti, sertifikasi ustadz, khatib, mubaligh, atau penceramah. Hal itu disebabkan istilah-istilah itu dapat diukur oleh manusia. Adapun “ulama” hanya Allah swt yang tahu. Bisa saja ulama itu adalah seseorang yang tidak kita kenal sebagai penceramah, tetapi mampu berbicara yang mencerahkan mengajak pada kebenaran dan dirinya sendiri melaksanakan segala ketentuan Islam dengan rela hati, lentur, baik, dan disiplin. Sangat mungkin bahwa ulama itu sama sekali tidak kentara oleh kita karena menggunakan pakaian yang biasa saja serta tidak pernah menggunakan pakaian seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, ataupun Sentot Alibasyah. Sangat mungkin seorang ulama itu ternyata orang yang kerap dipandang rendah oleh manusia lainnya, tetapi dalam pandangan Allah swt merupakan orang yang sangat penting dan terkenal bagai “selebritis” di kalangan penduduk langit serta sering diperbincangkan oleh para malaikat.


Belajar dari Guru
Dulu juga guru mengalami goncangan hebat ketika muncul kententuan bahwa guru harus berpendidikan minimal S1. Banyak sekali keluhan, banyak hambatan, sebagian guru membiarkan arus melewati dirinya tanpa melakukan banyak hal karena merasa sebentar lagi pensiun, sebagian lagi kesana-kemari berletih-letih untuk melengkapi berbagai hal yang ditentukan, serta banyak lagi kisah yang berada dibalik sertifikasi untuk para guru itu.

            Meskipun ada goncangan dan tidak sedikit hambatan, toh kebijakan tetap diteruskan dan tidak berhenti. Meskipun tidak saklek-saklekan, akhirnya tetap saja wajib dilaksanakan. Hasilnya, saat ini sudah banyak guru yang berpendidikan S1, S2, bahkan S3. Itu artinya, diri guru sendiri mengalami peningkatan yang berpengaruh secara positif bagi peningkatan kualitas peserta didik. Memang belum berhasil sesempurna yang diharapkan secara ideal, tetapi sudah lebih baik dibandingkan masa lalu. Dengan meningkatnya pendidikan guru, sudah pasti meningkatkan pula kualitas peserta didiknya.

            Tak berlebihan jika Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) diklaim sebagai satu-satunya organisasi yang anggotanya berpendidikan minimal S1 dalam berbagai bidang ilmu. Organisasi lain tidak seperti PGRI. Bahkan, anggota partai politik atau Ormas pun banyak yang belum selesai SMA, padahal usianya sudah lewat. Memang guru sejak dulu sudah selalu melangkah lebih depan. Perhatikan saja ketika tahun 1945, angka buta huruf di Indonesia mencapai 96%. Akan tetapi, tidak ada seorang pun anggota PGRI yang buta huruf. Tentara, polisi, bahkan jenderal berbintang pun masih belum bisa baca tulis. Adapun guru, tak seorang pun yang buta huruf. Sekarang hanya PGRI yang seluruh anggotanya wajib S1 dalam rupa-rupa ilmu. Yang lain masih ketinggalan.

            Iya toh?

            Sekarang banyak orang berlomba menjadi guru, padahal zaman dulu guru itu pegawai yang digaji pemerintah paling rendah, paling sengsara, saya merasakan benar beas bear, ‘beras pera’ berwarna kuning kucel yang harus dimakan karena tidak ada lagi uang untuk beli makanan. Saya memang anak guru. Kegetiran dan kemiskinan sebagai anak guru saya derita “terlalu lama”. Meskipun demikian, saya tetap menikmatinya.

            Mau bagaimana lagi?

            Hal yang paling menyedihkan dan mengesalkan adalah ketika ada tukang becak menghitung hasil kerjanya sehari sambil bilang, “Ya, lumayanlah hari ini dapat untung sebulan gaji guru.”

            Bayangkan coba bagaimana getirnya kehidupan guru saat itu. Gaji guru satu bulan dihitung sama dengan penghasilan tukang becak satu hari.

            Sekarang situasinya sudah lumayan terbalik, banyak guru yang hidup berkecukupan, apalagi dengan adanya tunjangan sertifikasi dan tunjangan daerah yang dapat digunakan, baik untuk menambah kemakmuran secara ekonomi, maupun melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

            Berkaca dari pengalaman para guru, tampaknya hal yang sama terjadi kepada para ustadz atau ahli agama. Hidupnya banyak yang susah, pemahaman agamanya juga belum distandarisasi pemerintah.

            Ada ustadz yang bilang, “Yah, hidup saya mah seperti ini. Beda dengan anggota DPR yang banyak uangnya. Saya ini baru punya uang kalau ada orang yang mati. Keluarganya suka mengundang saya untuk berdoa. Makanya, saya suka menunggu-nunggu siapa lagi orang yang bakal mati. Semakin banyak yang mati, semakin banyak uang saya.”

            Dia memang berbicara sambil guyon. Akan tetapi, guyonan itu memang merupakan keresahan dirinya sendiri juga. Kenyataannya juga memang seperti itu.

            Sangatlah baik apabila para khatib, ustadz, mubaligh, penceramah, dan lainnya diperlakukan sebagaimana layaknya guru karena sebetulnya mereka juga guru. Berikan dorongan untuk meningkatkan kemampuan dirinya melalui program sertifikasi sehingga mereka pun memiliki standar yang baik. Ustadz yang memiliki kompetensi bagus akan meningkatkan kualitas hidup para jamaahnya. Dengan demikian, sertifikasi bagi para dai diperlukan bagi peningkatan kualitas para dai sekaligus para jamaah. Di samping itu, para penceramah harus dilengkapi pula dengan pemahaman dasar-dasar wawasan kebangsaan yang cukup sehingga mereka bisa mengembangkannya di dalam tugas-tugas hidup mereka. Akan tetapi, bukan hanya sertifikasi atau standarisasi yang diperlukan, melainkan pula adanya tunjangan untuk mereka. Bagi para ustadz yang sudah tersertifikasi, hendaknya diberikan tunjangan materi, baik untuk hidup mereka maupun untuk pendidikan mereka selanjutnya. Dengan demikian, mereka pun akan merasa dihormati, diperlakukan layak, dan dikasihi oleh pemerintah. Terjadilah hubungan mutualisme antara pemerintah dan para ustadz.

            Selama ini para penceramah jika tidak memiliki profesi lain, sangat bergantung hidup pada pihak-pihak yang mengundang mereka. Jika tidak ada undangan, mereka pun gigit jari. Bisa pula bergantung pada murid-murid mereka. Jika murid-muridnya berkurang, mereka pun mulai kebingungan.

            Apabila ada tunjangan sertifikasi, baik dari pusat maupun dari daerah, mereka tidak akan banyak berpikir untuk memberikan bimbingan bagi masyarakat karena jika tidak dibayar pun, hatinya tetap tenang. Sekarang kan masih kurang tenang mereka. Kadang dibayar sedikit, sangat sedikit, kadang pula banyak, setengah banyak, kadang cuma dikasih nasi kotak dan kue bolu.

            Ini bukan soal ikhlas dan tidak ikhlas. Ini soal kita harus saling berbagi, saling menghormati, saling membimbing, dan saling mendorong untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat. Tidak ada ceritera tidak ikhlas jika ada ustadz yang mungkin menolak untuk berceramah jika tidak dibayar. Seorang ahli agama itu harus dibayar karena dia telah memberikan ilmu, meluangkan waktu, dan meninggalkan berbagai keperluannya untuk berceramah.

            Allah swt pun mengajarkan itu kepada kita semua. Coba perhatikan petugas zakat itu memiliki hak untuk mendapatkan bagian dari zakat yang dikumpulkannya. Hal itu dimaksudkan agar amal baik mereka tetap bersih dan perilaku baiknya diterima oleh Allah swt. Berbeda kalau petugas zakat tidak mendapatkan haknya. Dia akan ngedumel karena mengumpulkan uang dan membagikannya, sementara dirinya sendiri hanya mendapatkan keletihan. Akibatnya, perilaku baiknya akan rusak oleh rasa kesal dan kekecewaannya. Amal ibadatnya tidak akan pernah sampai kepada Allah swt.

            Hal yang sama pun bisa terjadi kepada para ustadz. Mereka diminta membimbing masyarakat, tetapi hidup mereka tidak terjamin baik. Kalaupun mereka terpaksa memberikan bimbingan, hatinya sudah rusak karena ada perasaan kesal. Amal baiknya pun akan menjadi sia-sia. Ceramah yang tidak disertai keikhlasan hati tidak akan berpengaruh besar kepada para jamaahnya. Berbeda jika hidup mereka terperhatikan, rasa senang disertai rasa tanggung jawab melaksanakan kewajiban akan selalu mengiringi mereka ketika memberikan bimbingan kepada masyarakat.

            Sertifikasi itu penting untuk meningkatkan kualitas diri, tetapi harus disertai penghargaan yang layak dari pemerintah kepada para dai yang berada dekat dengan masyarakat. Besar-kecilnya tunjangan untuk para mubaligh, ya bergantung pada kebijakan pemerintah sesuai dengan kemampuan pemerintah sendiri.

            Tunjangan itu penting untuk membuat para ustadz independen dan hanya berbicara atau berbuat sesuai dengan kitab suci. Dengan demikian, mereka semakin kuat untuk menolak pihak-pihak tertentu yang berupaya “memperalat” para ustadz untuk kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi yang sama sekali tidak berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup umat Islam.


            Salam

Sunday, 24 July 2016

Filipina Kurang Ustadz

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dengan mencermati percakapan via telepon antara juru bicara Abu Sayyaf dengan wartawan MetroTv yang ditayangkan MetroTv, kita bisa melihat kekacauan berpikir dan kesemrawutan cara bicara dari juru bicara tersebut. Hal itu memperlihatkan mereka tidak memiliki landasan berpikir yang jelas untuk bertindak dengan baik secara masuk akal.

            Hal yang sungguh sangat membingungkan adalah mereka mengakui melakukan penculikan dan penahanan terhadap warga Negara Indonesia (WNI) dan menegaskan meminta uang tebusan. Apabila permintaan mereka tidak dipenuhi, mereka akan memenggal kepala para sandera. Hal itu dikatakan dengan lancar tanpa keraguan, tanpa ada rasa sama sekali, baik rasa marah, sedih, atau kesal. Dari nadanya seperti sedang ngobrol masalah yang biasa saja.

            Anehnya, ketika wartawan MetroTV memberikan kesempatan kepadanya untuk mengatakan sesuatu kepada pemerintah Indonesia, Si Jubir mengatakan bahwa Indonesia adalah saudara bagi mereka. Kita sama-sama muslim dan menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah swt.

            Bukankah kalimat-kalimat itu penuh kerancuan dan sama sekali keluar dari pikiran yang kurang pengetahuan?

            Dia mengatakan akan memenggal para sandera dari Indonesia jika tuntutan tidak dipenuhi, tetapi dalam saat yang sama juga menganggap Indonesia sebagai saudara sesama muslim. Dalam pandangan Islam, hal itu sama sekali tidak bisa dipahami. Hal itu disebabkan bahwa darah seorang muslim adalah haram bagi muslim lainnya. Artinya, seorang muslim tidak boleh membunuh muslim lainnya tanpa ada hukum yang jelas, misalnya, penerapan qishas. Di samping itu, sangat tidak masuk akal jika mengakui sebagai saudara, tetapi mengancam akan memenggal saudaranya itu.

            Hal itu menunjukkan bahwa mereka kurang pengetahuan mengenai Islam. Entah siapa yang mengajari mereka tentang Islam dan apa saja yang diajarkan kepada mereka. Jelas mereka kurang guru Islam, kurang ustadz, kurang kiyai, kurang dosen Islam, kurang akademisi Islam. Pemahaman mereka sangat lemah dan kacau tentang Islam. Dari percakapan yang hanya sebentar itu saja bisa terlihat jelas kesemrawutan cara berpikir mereka.

            Pemerintah Filipina harus bekerja sama dengan Indonesia dalam mengajari kaum muslimin di Filipina tentang pemahaman Islam yang benar dan cara-cara melaksanakannya dengan benar. Mereka mungkin hanya “tercelup” dua kalimat syahadat tanpa memahami hal lainnya, terikat sebagai orang Islam, diajari soal kejayaan kekhalifahan yang membuat mereka rindu kemenangan, kewajiban jihad untuk mendapatkan kekuasaan, ditambah ramalan-ramalan mengenai Al Mahdi yang membuat mereka terus terbina semangatnya, serta janji syahid masuk surga untuk mereka. Jika hanya itu yang diajarkan kepada mereka, tak heran mereka hidup seperti itu karena di dalam alam pikirannya dunia ini adalah medan perang untuk mendapatkan kekuasaan yang mereka pikir kekuasaan Islam yang diridhoi Allah swt. Padahal, Islam adalah ajaran untuk membuat kehidupan ini penuh rahmat dan kasih sayang. Islam mengajarkan setiap umatnya untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik dan tercerahkan oleh cahaya Illahi. Perang dan kekerasan hanya wajib dilakukan kepada mereka yang mengganggu upaya perwujudan kehidupan yang penuh rahmat, kasih sayang, dan damai. Filipina jelas kurang orang-orang Islam yang bijak. Mereka membutuhkan banyak guru agar mampu menjadi orang-orang Islam yang baik.

            Saya jadi teringat sebuah tulisan di sebuah majalah yang isinya tentang pengalaman seorang Indonesia yang berada di Afrika. Ia berada tiga bulan di Afrika dan disebut sebagai “orang suci” oleh orang-orang Islam Afrika. Hal itu disebabkan hanya karena dia melaksanakan shalat lima waktu dalam satu hari satu malam, sementara kaum muslim Afrika hanya shalat satu kali atau tiga kali. Shalat lima kali dalam sehari semalam adalah sesuatu yang luar biasa dalam pandangan kaum muslim Afrika. Hal itu menunjukkan bahwa banyak orang Islam pada berbagai belahan dunia yang belum memahami ajaran Islam dengan baik, minimal hal-hal yang sederhana. Di Indonesia memang juga masih sangat banyak orang Islam yang shalatnya hanya satu kali dalam seminggu atau bahkan hanya satu kali dalam satu tahun. Akan tetapi, orang-orang Indonesia yang melakukan hal itu bukan berarti tidak tahu bahwa seharusnya lima kali dalam sehari semalam. Mereka tahu, tetapi belum mau. Berbeda dengan di Afrika yang tidak tahu bahwa shalat itu harus lima kali dalam sehari semalam. Mereka shalat seenaknya, yang penting percaya kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw.

            Kenyataan itu menunjukkan bahwa kaum muslim harus belajar Islam dengan baik dan mengajari saudara-saudaranya untuk melaksanakan Islam secara baik dan benar. Kalau di Indonesia, kita tidak perlu khawatir karena di sini banyak sekali ustadz dan ahli Islam yang rupa-rupa warnanya, macam-macam karakternya, bervariasi bidang ilmunya. Hal itu menyebabkan orang Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan banyak ilmu pengetahuan. Meskipun di antara para ahli Islam itu terkadang terdapat perbedaan, tetapi perbedaan-perbedaan itu justru menambah wawasan kaum muslim Indonesia untuk melaksanakan Islam dengan lebih baik dan mampu memilih serta memilah sesuai dengan kemampuan dan keyakinannya masing-masing. Indonesia lebih beruntung daripada mereka. Oleh sebab itu, kita harus banyak berbagi pengetahuan dengan mereka agar pengetahuan mereka bertambah dan pengetahuan kita pun semakin terasah.


            Sedikit-sedikit bisa kita pahami mengapa orang-orang itu melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, tetapi perbuatan buruk itu dianggapnya merupakan langkah yang sesuai dengan ajaran Islam. Hal itu disebabkan mereka kurang memahami Islam dengan baik karena tidak ada ustadz atau para ahli yang membimbing mereka untuk menjadi lebih bijak. Tak heran mereka mudah sekali dipengaruhi oleh para perusak kemanusiaan yang mengajarkan Islam secara salah dan dengan materi sebagian-sebagian yang dimanipulasi oleh berbagai kepentingan politik dan ekonomi yang sangat rendah. Mereka kurang ustadz, kurang pengetahuan sehingga salah dalam bertindak.