Showing posts with label Dajjal. Show all posts
Showing posts with label Dajjal. Show all posts

Wednesday, 12 February 2020

Apa Kabar Dajjal?


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera sang Surya
Dajjal adalah tokoh yang dipercaya datang pada akhir zaman menjelang kiamat. Dia datang dengan membawa kemunafikan, kedustaan, kejahatan, kemunkaran, kekejian, dan berbagai kerusakan di muka Bumi.

            Sudahlah, saya nggak mau serius ngomongin Dajjal. Saya hanya pengen ketawa saja kalau ada yang ngomongin Dajjal tanpa dasar dan tanpa sumber yang jelas. Banyak sekali yang berbicara atau menulis tentang Dajjal dengan bertentangan dan ngawur. Saya tulis beberapa yang ngawur itu.

            Beberapa waktu lalu, saat terjadi gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, pada grup-grup WhatsApp (WA) beredar postingan bahwa gempa di Palu adalah disebabkan “Jokowi sedang membangunkan Dajjal”. Maklum, saat itu lagi ramai-ramainya menjelang Pemilihan Presiden Republik Indonesia. Jokowi adalah calon presiden yang kini sudah terpilih kembali menjadi presiden.

            Luar biasa sekali Jokowi kenal dengan Dajjal, tokoh dunia yang katanya disebut-sebut para nabi, bahkan bisa membangunkannya. Selain itu, berarti Dajjal adalah orang Palu. Dia tidur di Indonesia. Luar biasa. Sayangnya, banyak orang yang percaya, bahkan postingan itu di-share, ‘disebarluaskan’ ke grup-grup WA lainnya. Luar biasa.

            Dua bulan sejak gempa di Palu, Indonesia, terjadi gempa di Iran. Lalu, banyak tulisan di Medsos bahwa gempa di Iran itu terjadi disebabkan Dajjal sedang berupaya bangun dari tidur panjangnya untuk membuat kerusakan di Bumi. Luar biasa.

            Jadi, Dajjal itu orang Palu, Indonesia, atau orang Iran?

            Lagian dia itu tidur melulu. Setiap bangun, gempa. Setiap menguap, timbul angin topan. Ngaco.

            Subuh hari ini, saya mendapat pertanyaan dari seorang ibu jamaah pengajian tertentu, “Kang, benarkah Raja Arab sudah membangun sebuah tempat untuk kedatangan Dajjal?”

            “Kata siapa?” saya balik bertanya.

            “Kata Ustadz itu,” dia lalu memberitahukan lokasi rumah ustadz yang dimaksudkannya.

            “Bohong!” tegas saya.

            “Iya yah, kan Dajjal itu jahat, tapi kenapa Raja Arab membuatkan tempat untuk kedatangannya?” Si Ibu itu bingung.

            “Ibu bertanya nggak sama ustadz itu tentang alasan Raja Arab membangun tempat untuk Dajjal?”

            “Bertanya.”

            “Apa jawabannya?”

            “Ustadz itu bilang, ‘yaa, begitulah’,” jawab Si Ibu.

            Luar biasa. Kisah itu luar biasa.

            Saya tegaskan, ustadz itu berdusta karena hanya berceritera tanpa menjelaskan sumber kisahnya.  Dia pun tidak menerangkan alasan Raja Arab membuat tempat untuk kedatangan Dajjal. Di samping itu, belum lama ini saya baru pulang umroh dan tidak mendapatkan informasi atau melihat ada tempat itu di Arab. Kalau memang ada, mungkin para pembimbing umroh atau haji akan mengajak para jamaahnya ke tempat itu. Bahkan, mungkin para wartawan dari seluruh dunia sudah menyiarkan berita luar biasa itu ke seluruh dunia.

            Mengapa hanya Sang Ustadz yang tahu, sedangkan orang lain tidak tahu?

            Dia tahu dari mana?

            Luar biasa, Ustadz.

            Sampurasun.

Wednesday, 7 July 2010

Demokrasi Sama Dengan Melepaskan Rakyat ke Pangkuan Dajjal dan Iblis

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Rakyat Indonesia itu seharusnya dituntun, dibimbing, didorong, disantuni, diarahkan, diayomi, dikasihi, dan dicintai dengan hati yang tulus. Bisa kita lihat persentase komposisi penduduk Indonesia, banyak yang terpelajar atau yang tidak, banyak yang baik atau tidak? Dalam hal pendidikan, rakyat Indonesia ini belum bisa dikatakan rakyat yang telah mengecap pendidikan yang layak. Artinya, jumlah mereka yang terpelajar atau lulus perguruan tinggi jauh lebih kecil dibandingkan yang lainnya. Demikian pula dalam hal agama, moral, atau spiritual, rakyat Indonesia ini harus dibimbing agar menjadi orang baik-baik. Harus diakui bahwa orang baik-baik di dunia ini jumlahnya sedikit, termasuk pula di Indonesia.

Dengan melepaskan rakyat untuk memilih segala sesuatu sesuai keinginannya sendiri sama saja dengan menyerahkannya ke pangkuan Dajjal dan Iblis. Dengan wawasan keilmuan yang terbatas, baik materiil maupun spiritual, bisa dibayangkan betapa mudahnya syetan menggelincirkan mereka.

Sepertinya hebat itu demokrasi, menghargai manusia sebagai individu yang bebas dan berkuasa menentukan hidupnya sendiri. Di balik tabir indah itu adalah terbukanya pintu syetan dalam menyesatkan manusia.

Saat setiap jiwa, setiap kelompok masyarakat diberikan kesempatan untuk mendirikan partai sesuai cita rasanya sendiri. Saat itu pula syetan dari jenis jin dan manusia berbondong-bondong mempengaruhi otak dan hati manusia agar bersegera mengikuti proses itu. Dengan pikiran-pikiran yang elok, penuh semangat, dan memesonakan, mereka mendorong manusia untuk berlomba-lomba mendapatkan kekuasaan.

Seluruh partai pasti intinya adalah Indonesia Jaya. Namun, apa yang terjadi? Kenyataan menunjukkan sebaliknya.

Alasan setiap partai jika menjawab Indonesia belum juga bangkit adalah karena belum mendapat kekuasaan. Kalau partainya berkuasa, pasti akan makmur. Begitu katanya, tetapi jika telah mendapatkan kursi, lalu masih juga Indonesia melarat, mereka berkilah lagi dengan alasan kursinya kurang banyak. Apabila kursinya sudah banyak dan sangat menguasai, mereka beralasan lagi bahwa ini adalah kesulitan warisan pemerintahan sebelumnya. Pendeknya, ada ribuan alasan yang pasti semuanya logis-logis untuk berkilah.

Dengan terbukanya kesempatan mendirikan partai, terbuka pula kesempatan bagi pihak-pihak yang menginginkan keburukan bagi negeri ini. Kita tidak bisa mendeteksi dan mencegah apabila ada kekuatan asing, baik itu kapitalis maupun komunis untuk mendirikan partai lewat jaringannya di Indonesia. Mereka masih menginginkan Indonesia yang rasanya nikmat dan lezat. Demikian pula pihak-pihak yang bermasalah di Indonesia. Mereka berharap dapat memperoleh bagian kekuasaan agar masalahnya dapat diredam sesembunyi mungkin dengan mengalihkan perhatian rakyat pada hal-hal yang lainnya. Selain itu, mereka pun ingin menambah lagi kenikmatan duniawi yang telah diperolehnya.

Di samping mendirikan partai, pihak-pihak asing itu bisa berkolaborasi dengan partai-partai yang sudah mapan. Harapannya tentu saja jika partai yang disponsorinya itu menang, bisa ikut juga menggali-gali kekayaan alam Indonesia sebagai balas jasa yang telah diberikannya.

Menarik untuk diperhatikan, pada awal masa reformasi ada pihak dan orang-orang yang mengaku dengan jujur dan terus terang disponsori Amerika. Ada lagi yang mengaku didanai oleh sebuah lembaga independen yang juga masih dari Amerika. Kita boleh curiga bahwa pihak kapitalis memiliki kepanjangan tangan di Indonesia agar aturan-aturan atau legislasi yang dibuat di Indonesia bisa menguntungkan Amerika.

Adapun orang-orang yang tidak terikat dengan pihak kapitalis dan komunis, sudah dipastikan akan mempersiapkan dirinya untuk berlelah-lelah berdebat, bertengkar, adu mulut, bahkan punya pasukan adu jotos untuk menjadikan partainya sebagai partai yang terbaik. Tentunya, dengan merendahkan partai lain.

Friday, 2 July 2010

Suara Rakyat Suara Tuhan: Slogan Bodoh

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Adalah hal yang teramat lucu ketika banyak orang mengatakan bahwa suara rakyat suara Tuhan. Dari mana kalimat itu berasal? Siapa yang mula-mula mengatakannya?

Vox populi vox dei, ‘suara rakyat suara Tuhan’, itu omongannya para pendukung dan pejuang demokrasi zaman dulu. Kalimat itu merupakan perlawanan terhadap keyakinan umum di daerah sono yang jauhnya ribuan kilometer dari Indonesia. Saat itu di Eropa raja diyakini dan mengatakan dirinya adalah wakil Tuhan di Bumi dalam mengatur pemerintahan, sedangkan kaum penghulu agama adalah wakil Tuhan untuk urusan spiritual. Raja, bangsawan, dan kaum agama itulah yang menguasai negara, mengatur masyarakat. Kata-kata dan perintahnya diyakini sebagai kata-kata Tuhan. Dalam praktik penyelenggaraan negara, rakyat dan lapisan pengusaha semakin lama semakin terkekang dan menderita karena orang-orang papan atas itu sajalah yang makmur. Semakin tipis pula kepercayaan bahwa kata-kata mereka merupakan kata-kata Tuhan karena Tuhan tidak seperti itu. Oleh sebab itu, terjadilah perlawanan. Di samping bergerak secara massal, mereka pun meneriakkan slogan suara rakyat suara Tuhan. Kata-kata itu menjadi lawan dari suara raja dan suara pemimpin agama adalah suara Tuhan.

Slogan itu sama sekali bukan dari langit yang berupa wahyu, melainkan dari emosi akibat berkurangnya keyakinan masyarakat terhadap keyakinannya yang dulu. Hal itu agak mudah dipahami karena memang di sana terjadi pergolakan sosial dan politik. Sangatlah aneh dan lucu jika ada orang Indonesia yang berteriak-teriak seperti itu. Di Indonesia tidak ada kejadian-kejadian itu yang mengharuskan keluarnya slogan tersebut. Pergolakannya tidak seperti yang terjadi di tanah orang. Jangan ngikut-ngikut yang nggak ada juntrungannya atuh.

Baik di negeri-negeri Eropa maupun di Indonesia atau di seluruh alam raya ini, kalimat itu tidak masuk di akal. Kapan, di mana, bagaimana caranya Tuhan berbicara kepada rakyat? Pernahkah Tuhan berbicara kepada rakyat satu per satu atau secara massal sehingga bisa dipastikan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan?

Tuhan memang selalu berbicara kepada manusia, tetapi tidak seperti itu. Kalau mau berbicara, Tuhan selalu pilih-pilih orang, tidak sembarangan. Kalau sudah berbicara dengan orang “terpilih” itu, Tuhan mewajibkannya untuk disampaikan kepada orang banyak, kepada rakyat. Orang terpilih itu adalah para nabi dan rasul. Setelah kenabian dan kerasulan berakhir, Tuhan masih berbicara juga kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, tetapi bukan lagi wahyu, melainkan bisa melalui mimpi, pengalaman spiritual, bisikan gaib, atau hal-hal lainnya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Tak banyak yang diajak komunikasi oleh Tuhan, hanya orang-orang tertentu yang dikehendaki-Nya.

Nah, dengan demikian, suara nabi adalah suara Tuhan. Rakyat banyak tidak pernah ada yang diajak bicara oleh Tuhan, apalagi secara massal. Rakyat itu kan ada yang baik-baik, saleh, rajin ibadat, ada pula yang suka melacur, korupsi, mabuk-mabukan, judi, maling, suka fitnah, dan melakukan hal-hal buruk. Sangat aneh jika rakyat yang heterogen tingkat ketakwaannya itu diajak bicara oleh Tuhan soal politik dengan kalimat yang sama bunyinya, gulingkan kekuasaan. Tak masuk akal dan ilmu.

Akan tetapi, karena Tuhan adalah Mahamisteri dan Mahagaib, kita harus hati-hati. Iblis dan anak buahnya sering pula melakukan hal yang sama. Mereka memberikan mimpi, pengalaman spiritual, bisikan gaib dengan mengaku-aku sebagai Tuhan atau dari Tuhan. Kalau tertipu dan kita sering menyaksikannya, orang itu biasanya jadi mengaku nabi, Imam Mahdi, Yesus, atau istilah lain sebagai “orang terpilih”. Nah, itu juga harus diyakini bahwa suara dia suara anjing syetan.

Kita orang Indonesia sudah seharusnya menghentikan kalimat suara rakyat suara Tuhan, apalagi jika beragama Islam. Itu cuma slogan perlawanan orang-orang yang sedang dilanda emosi di belahan dunia sana.

Wajar pula jika kalimat itu digebyarkan di Perancis yang disebut-sebut sebagai negeri peletak awal demokrasi modern. Dulu Perancis dikuasai oleh pemerintahan otokrasi. Raja adalah wakil Tuhan. Bentengnya adalah para bangsawan dan penghulu agama (bukan Islam). Raja, bangsawan, dan pemimpin agama itu disebut masyarakat feodal.

Dalam perkembangan sejarahnya, timbul golongan masyarakat baru, yaitu golongan pengusaha. Mereka punya banyak perusahaan, industri, dan karyawan. Agar perusahaannya lebih untung, mereka harus memiliki kekuasaan dalam pemerintahan. Mereka memang yang paling tahu aturan-aturan dan undang-undang yang bisa menguntungkan usahanya, bukan raja, bangsawan, ataupun pendeta.

Para pengusaha merasa tidak bebas, tertekan oleh pemerintahan feodal. Hanya golongan pemerintah yang untung. Mereka tidak bisa mengembangkan usahanya ke tingkat maksimal. Akhirnya, mereka sepakat untuk merebut kekuasaan. Akan tetapi, mereka tak memiliki kekuatan untuk menjatuhkan pemerintahan.

Setelah berpikir, mereka pun memutuskan untuk menggunakan rakyat jelata sebagai senjatanya. Rakyat pun dipengaruhi, ditipu, dikaburkan pemikirannya, diajak bergerak. Mereka membohongi rakyat agar mau bergerak untuk mewujudkan liberte, fraternite, egalite (kebebasan, persamaan, persaudaraan). Rakyat pun bergerak karena memang pemerintahan feodal itu benar-benar menyengsarakan. Kaum pengusaha berhasil membuat rakyat menjadi alat perangnya.

Revolusi pun berhasil, menang. Raja hancur, bangsawan minggir, para pendeta tersungkur. Para pengusaha menang. Selanjutnya, dibentuklah sistem pemerintahan demokrasi. Setiap orang bisa memilih, bisa menjatuhkan menteri, bisa rapat berkumpul seperti rapat para raja, dan rakyat ikut bersuara dalam pemerintahan. Akan tetapi, pada saat yang sama pula rakyat dengan mudah di-PHK, ditindas, diberi upah kecil, dibeli paksa tempat tinggalnya, hasil produksi rumahannya ditolak oleh pengusaha, dipersulit dengan bunga pinjaman mencekik, tak jelas apa yang bisa dimakan esok hari. Hal itu disebabkan rakyat yang telah digunakan berperang itu tidak memiliki bagian dalam menentukan aturan-aturan perusahaan. Mereka yang duduk di parlemen adalah orang-orang yang dekat dengan para pengusaha atau pengusahanya itu sendiri. Tentunya, pasti aturan-aturan yang dibuat adalah untuk kepentingan pengusaha, bukan untuk rakyat. Rakyat tetap menderita. Jadilah negeri itu kapitalistis.

Semboyan yang dulu digunakan adalah hanya teriakan kosong sebagai penyemangat. Setelah para pengusaha itu mendapatkan kekuasaan, semboyan itu ditinggalkannya, cuma tercatat dalam sejarah.

Dajjal memang pandai. Ia pada abad 16 tinggal di Perancis. Ia pula yang merancang semboyan indah yang menjalar ke seluruh dunia itu bersama pengikutnya, Pendeta Meyer Rothschild. Tujuannya tak lain adalah untuk membuat berbagai kerusuhan di muka Bumi dan mencuri sumber-sumber daya alam di berbagai negara untuk menyiapkan jalan bagi kemenangannya menyesatkan anak-anak Adam. Itulah yang ditulis oleh Muhammad Isa Dawud (1996). Memang, kenyataannya sejak saat itu banyak terjadi pertumpahan darah di muka Bumi ini.

Tuesday, 15 June 2010

Kerja Sama Syetan Jin dan Syetan Manusia

oleh Tom Finaldin



Bandung, Putera Sang Surya

Sesungguhnya, Allah swt menciptakan jin dan manusia untuk tujuan tertentu, tujuan mulia, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzaariyaat : 56)

Dari dulu sampai sekarang, tujuan itu tak pernah berubah dan tak akan berubah. Oleh sebab itulah, Allah swt mengutus para nabi dan penerusnya untuk selalu mengingatkan manusia terhadap tujuan penciptaannya.

Akan tetapi, karena sumpah paregreg Iblis yang akan menyesatkan manusia dan jin tentunya, banyak jin dan manusia yang lupa atau sengaja meninggalkan tujuan penciptaannya sendiri. Di antara mereka ada yang benar-benar menjadi syetan; kaki tangan syetan, baik sadar ataupun tidak; bisa pula hanya tergoda untuk sesaat atau selamanya.

Dalam beberapa tulisan sudah saya wanti-wanti agar jangan menganggap enteng syetan. Syetan yang jenisnya manusia sudah jelas sama dengan kita, bahkan dalam beberapa hal mungkin memiliki keunggulan, misalnya, sekolahnya lebih tinggi, uangnya lebih banyak, relasinya jauh lebih luas, kedudukannya lebih terhormat, memiliki angkatan bersenjata yang hebat, karya-karyanya begitu populer, namanya sering disebut-sebut, serta berbagai kelebihan lainnya. Akan tetapi, adapula yang berasal dari golongan ekonomi menengah dan lemah. Hal itu memang disebabkan mereka manusia yang memiliki kesempatan yang sama dengan manusia lain. Bedanya, mereka sudah bergelar syetan. Meskipun demikian, kita tidak bisa menunjuk hidungnya dengan memvonis bahwa mereka syetan karena mereka menyembunyikan identitasnya dan membaur dengan manusia lainnya dalam berbagai lapangan kehidupan.

Bagi orang-orang yang mata batinnya awas disertai pemahaman yang cukup, akan dapat mengetahui mana syetan dan mana bukan. Kuncinya adalah pada ucapan dan perilaku yang cenderung mengajak pada hal-hal yang merusakkan hidup manusia. Kalaupun sempat tergoda, bahkan terjerumus jauh, orang beriman tanpa malu-malu akan segera meninggalkannya dan kembali memohon petunjuk Allah swt. Bagi orang-orang ini, syetan adalah jelas musuh yang nyata terlihat, bukan musuh yang gaib, tidak kelihatan.

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di Bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan karena sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah : 168)

Sekali lagi, syetan adalah musuh yang nyata, bukan musuh yang gaib. Artinya, jelas tampak karena wujud fisiknya manusia, bukan jin.

Bagi orang-orang yang kurang pengetahuan, pasti sulit mendeteksi syetan dalam wujud manusia karena penuh dengan tipu daya. Syetan-syetan itu bisa hadir dengan ceramah-ceramah dan kegiatan-kegiatan kemanusiaan, program-program pembangunan, pendidikan, hukum, agama, bahkan mengobarkan jihad yang selintas berpihak pada kebenaran. Padahal, sesungguhnya teramat menyesatkan. Mereka memang sangat pandai. Wajar karena telah terlatih sejak Adam a.s. diciptakan.

Tentang syetan itu pandai, perhatikan firman Allah swt berikut.

“Hai Manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah sekali-kali syetan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS Faathir : 5)

Dalam ayat tersebut, Allah swt memberikan keterangan bahwa syetan itu pandai, namun kepandaiannya itu digunakan untuk menipu. Alat yang digunakannya adalah kehidupan dunia yang pasti tak jauh di seputar harta, tahta, wanita, dan anak-anak.

Syetan yang jenisnya jin memang sulit untuk dilihat karena berbeda materi dengan kita. Cara kerjanya banyak dibicarakan dalam ceramah-ceramah umum maupun buku-buku agama. Saya tidak ingin terlalu banyak membicarakan hal ini karena sudah sangat sering kita dengar sehari-hari tentang godaan-godaan gaib ini.

Hal yang ingin saya tekankan adalah jangan anggap enteng syetan meskipun dari golongan jin. Para ahli spiritual di Indonesia boleh ditanya. Mereka sudah sangat sering melihat jin-jin berikut kerajaan-kerajaannya yang terdiri atas istana-istana megah lengkap dengan pengawal bersenjata. Jika ada kerajaan, pasti ada penyelenggara kerajaan yang terdiri atas raja, wakil, para menteri atau kepengurusan lainnya. Itu artinya, jin memiliki kemampuan mengorganisasikan diri, membentuk struktur pemerintahan, dan mempengaruhi massa.

Jangan pula dilupakan bahwa mereka memiliki kemampuan teknologi yang tinggi. Ketika Nabi Sulaiman a.s. meminta agar singgasana Ratu Balqis dipindahkan ke istananya, Ifrit dari golongan jin menyanggupinya.

“Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, ‘Aku akan datang kepadamu dengan singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya, aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (QS An Naml : 39)

Ini bukan dongeng sebelum bobo, ada jin dari botol yang memindahkan istana untuk tuannya meskipun dongeng itu bisa jadi terinspirasi ayat di atas. Ifrit adalah makhluk halus, sedangkan singgasana Ratu Balqis adalah benda kasar, materi fisiknya kasar. Akan tetapi, ia dapat membawanya dengan kecepatan tinggi. Teknologi apa yang digunakannya? Pasti teknologi tingkat tinggi.

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku)…..” (QS Saba : 13)

Ayat di atas menunjukkan betapa jin memiliki kepandaian membuat bangunan-bangunan dan peralatan lainnya yang hebat-hebat. Artinya, jin memiliki kepandaian seperti manusia juga, bahkan mungkin lebih hebat. Mereka toh makhluk yang diciptakan lebih dahulu dibandingkan manusia dan memiliki jatah umur lebih panjang.

Dengan mengetahui bahwa syetan, baik jin atau manusia memiliki kemampuan luar biasa, kita benar-benar harus paham bahwa kita selalu dikepung lahir maupun batin, pikiran maupun perbuatan. Oleh sebab itu, Allah swt tak henti-hentinya mengingatkan manusia untuk selalu berlindung kepada-Nya dari godaan syetan yang terkutuk. Dengan kemurahan-Nya, Allah swt akan menunjuki kita jalan yang diridhoi-Nya dan menjauhkan kita dari godaan syetan-syetan itu.

Hal yang membuat kita lebih sulit adalah terjadinya kerja sama antara Raja Syetan Jin dan Raja Syetan Manusia. Mereka memiliki kepentingan yang sama, yaitu menjadikan manusia sebagai pengikutnya. Setidak-tidaknya, ada keterangan dari Muhammad Isa Dawud (1996) tentang hal ini. Pada abad ke-8 Masehi, Dajjal, Raja Syetan Manusia, berlayar menuju Pantai Florida. Di tengah laut, tepatnya di Segitiga Bermuda ia dikejutkan dengan adanya sebuah istana. Di istana itu ternyata Iblis Azazil telah menunggunya selama jutaan tahun. Setelah keduanya bertemu, terjadilah kesepakatan atau perjanjian bahwa mereka adalah satu. Iblis sebagai raja yang tersembunyi dan Dajjal sebagai raja yang terlihat.

Perlu diketahui bahwa maksud dari tersembunyi dan terlihat adalah merujuk pada bentuk fisik, bukan dalam penampilan di muka umum karena dalam kenyataannya, Dajjal pun selalu bersembunyi karena punya sifat pengecut. Itulah isyarat dari Allah swt dalam surat An Naas tentang syetan yang biasa bersembunyi.

Setelah perjanjian itu, Dajjal melanglangbuana, mempelajari ilmu pengetahuan, mencari kekayaan, melakukan kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang menyebabkan berkobarnya perang-perang dan pertikaian di muka Bumi. Iblis menghasut manusia lewat bisikan-bisikan gaib, Dajjal menggembar-gemborkan pemikiran-pemikiran sosial, politik, budaya, agama, ekonomi, dan sebagainya. Sampai abad 20, memasuki abad 21, Dajjal mengasah kemampuannya dan terus melaksanakan berbagai rencana jahatnya.

Perlu diketahui bahwa Dajjal adalah seperti Iblis, yaitu termasuk kelompok yang ditangguhkan kematiannya. Ia hidup berabad-abad serta menyaksikan dan mempelajari setiap zaman.

“Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.’
Allah berfirman, ‘Sesungguhnya, kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’.” (QS Al Arraf : 14-15).

Dalam ayat di atas terdapat kata mereka yang diberi tangguh. Mereka artinya tidak satu orang, tetapi banyak. Salah seorang yang ditangguhkan atau ditunda kematiannya atau sangat dipanjangkan umurnya adalah Dajjal.

Tindak-tanduk Dajjal hasilnya sudah tampak di muka Bumi, yaitu berbagai ketimpangan yang terjadi. Meskipun demikian, ia tetap tersembunyi dengan kerja rapi tak mudah dilihat. Tak heran jika dalam catatan sejarah kehidupan manusia, banyak hal misterius yang tak terpecahkan.

Seorang Jenderal Amerika, William Gay Karl, mengaku bahwa sejak Revolusi Perancis tahun 1789 M sampai sekarang (13 Oktober 1958: Pen.), masih ada kekuatan misterius yang menggerakkan berbagai revolusi dan menggunakan orang-orang berpengaruh, seperti, Mirabeau, Lafayette, dan Duke Dourlian. Sejumlah orang masih mewakili kekuatan misterius gerakan-gerakan ini. Walaupun nama-nama mereka berbeda, mereka tidak keluar dari tangan-tangan kekuasaan misterius yang mewujudkan gerakan-gerakan itu. Mereka diperalat untuk menimbulkan pemberontakan-pemberontakan. Ketika mereka melaksanakan kepentingan itu, mereka dibersihkan dari kekuatan-kekuatan yang dibelanya. Kekuatan-kekuatan misterius itu melemparkan tuduhan dan memikulkan dosa yang sebenarnya adalah tanggungan mereka. Beginilah orang-orang itu mati karena noda dan dosa mereka, padahal kekuatan-kekuatan misterius itu tetap ada di belakang komplotan-komplotan internasional yang berlepas diri dari setiap prasangka (Muhammad Isa Dawud: 1996).

Dunia pun sampai kini masih dibuat bingung tentang peristiwa pembunuhan Presiden John F. Kennedy plus kematian keturunannya; pembunuhan Presiden Abraham Lincoln; pembunuhan Malcolm X; pembantaian terhadap orang Yahudi oleh Hitler, apakah benar ataukah kisah rekaan?; Segitiga Bermuda; UFO; Neil Armstrong; Teori Evolusi; pembunuhan terhadap para pembesar negara serta penghilangan tokoh-tokoh dan aktivis; terorisme; peledakan bom di tempat-tempat yang bukan seharusnya; tragedi penabrakan gedung WTC; invasi AS ke Irak; masalah Palestina; G-30-S; Medio Mei 1998, Peristiwa Poso; Bom Bali; Bom JW Marriot; pemboman di Kedubes Australia; virus flu burung; hasil-hasil Pemilu. Di samping itu, saya yakin bahwa masih banyak peristiwa misterius, baik di tingkat internasional, maupun di tingkat negara masing-masing.

Dari seluruh rangkaian peristiwa menghebohkan itu, baik di tingkat internasional maupun di dalam negeri sendiri, kita akan merasakan sesuatu yang aneh, semacam invisible hand atau menurut Cherep Spiridovich, Gubernur dari Skandinavia yang telah dibunuh secara misterius, The Hiden Hand. Tangan-tangan itu kekuatannya menjurus ke satu arah, satu maksud, dan berasal dari satu arah juga. Siapa pun pelakunya, negara mana pun yang menjadi bintangnya, selalu ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa tak ada yang namanya skenario global, baik itu pejabat sipil, militer, akademisi, aktivis, ataupun rakyat biasa, hanya ada dua kemungkinan bagi orang itu, yaitu: dia orang bodoh dan tolol atau dia itu anak buah syetan, baik sadar ataupun tidak. Kalau bodoh dan tolol, lumayanlah, dia bisa belajar lagi agama dari awal yang mengajarkan bahwa syetan sudah bertekad memerangi manusia tak terbatas oleh batas-batas negara. Di mana pun ada manusia, di sana ia melancarkan aksinya, baik menyesatkan secara individual maupun sosial. Kalau tidak bodoh dan tolol, berarti orang itu sudah benar-benar kesetanan.

Begitulah sampai hari ini, kedua Raja Kesesatan itu bekerja tak henti-hentinya. Anak buahnya makin banyak, baik dari jenis jin maupun manusia, seiring dengan semakin bingung dan sesaknya kehidupan di dunia ini karena terlalu jauh dari tuntunan Illahi.

Seseorang pernah bertanya kepada saya perihal syetan dari jenis manusia. Orang itu sangat terhormat dan kemungkinan akan mendapatkan gelar profesor dalam waktu tak lama lagi. Dari pertanyaannya, tersirat ia khawatir bahwa dirinya termasuk manusia yang menjadi syetan karena dengan jujur dan tulus menyadari bahwa sepanjang hidupnya sudah banyak pelanggaran yang dilakukan. Pelanggaran dalam arti individu, misalnya, soal ibadat, zakat, perempuan, alkohol, gemar sanjungan, dan hal-hal semacam itu.

Saya menjawabnya, “Bapak mungkin pernah atau bahkan sering berperilaku syetan, seperti juga saya, tetapi bukan syetan itu sendiri.”

Ia merenung, namun ada sedikit kegembiraan karena dikatakan bukan syetan.

Saya meneruskan penjelasan, “Syetan manusia itu punya raja, yaitu Dajjal. Ia punya organisasi yang jumlahnya banyak, punya jaringan yang luas, anggotanya ratusan juta, kerjanya terstruktur dan terencana. Jika menjadi anggotanya secara sadar dan tahu bahwa organisasi itu adalah bermaksud mengumbar nafsu-nafsu duniawi dan mengajak pada kesesatan, jadilah kita syetan.”

Ia tampak masih bingung.

Saya berusaha menambahkan, “Orang-orang seperti kita ini hanya mungkin bisa menjadi manusia yang sedang tergoda syetan untuk sesaat atau selamanya. Paling jauh, menjadi kaki tangan syetan secara tak sadar karena dunia ini sudah sedemikian dipenuhi kemaksiatan, kita tak tahu lagi untuk keuntungan siapa kita berkiprah, berkarya, dan berbuat positif. Kita hanya mendapatkan sejumlah materi untuk mempertahankan dan membuat sedikit nyaman hidup kita bersama keluarga.”

Penjelasan itu membuat orang itu semakin mengerti dan saya yakin ia akan terus berupaya mencari penjelasan lain untuk menambah wawasan dan pengetahuannya.

Sungguh, kita hidup saat syetan berjaya menguasai sektor-sektor kehidupan manusia ini. Dengan luwesnya, mereka memoles kesesatan seperti sebuah kebaikan.

Dalam kondisi seperti ini, sudah sepatutnya kita banyak memohon perlindungan kepada Allah swt. Kita tak tahu siapa saja yang berada di sekeliling kita. Kita tak yakin apakah lingkungan tempat kita bekerja, belajar, dan beraktivitas benar-benar bersih dari pengawasan Dajjal? Atau justru merupakan salah satu kepanjangan tangan syetan?

Semoga Allah swt melindungi kita setiap hari. Hanya Allah swt yang memiliki wewenang untuk menyelamatkan manusia atau justru menyesatkannya. Saya berlindung kepada Allah swt dari segala jenis syetan yang terhina, terusir, terkutuk, dan terlaknat.