Showing posts with label Amerika. Show all posts
Showing posts with label Amerika. Show all posts

Friday, 16 July 2010

Waspadalah

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Bangsa ini harus selalu waspada karena terlalu cantik, terlalu seksi, menggiurkan, mengundang banyak orang untuk memilikinya. Pihak-pihak yang sejak dulu menunggu waktu yang tepat, akan bergerak cepat untuk menguasainya. Lihat saja setiap ada pergolakan politik di negeri ini, selalu dibarengi kekerasan fisik dan aksi pemisahan diri. Saat baru merdeka saja, sudah terjadi pemberontakan-pemberontakan di daerah. Di balik pemberontakan itu, ada pihak-pihak asing bermain, tujuannya adalah membuat bangsa ini menjadi sapi perahan mereka. Saat peralihan dari Orla ke Orba pun demikian, ada beberapa daerah yang ingin memisahkan diri dan tentunya kekerasan berdarah. Apalagi pada awal masa reformasi, separatisme menunjukkan aktivitasnya yang mencolok dan tentunya berdarah juga. Beruntung kita selalu bersatu hati untuk tidak membiarkan bagian-bagian dari Indonesia terlepas meskipun harus rela berpisah dengan Timor Timur. Urusan Timor Timur itu tidak terlalu masalah karena berbeda sejarah dengan kita. Mereka bersatu dengan Indonesia karena Amerika bisiki Orde Baru untuk mengurus Timtim yang kacau balau ditinggalkan Portugis. Namun anehnya, Amerika juga yang getol melancarkan fitnah kepada Indonesia agar melepaskan Timtim. Amerika memang pengacau.

Kewaspadaan ini harus lebih ditingkatkan jika kita benar-benar akan membuang demokrasi dalam tong sampah. Soalnya, isu yang dikembangkan Barat di dunia saat ini adalah demokrasi yang tujuannya agar mudah menguasai negara-negara lain. Dengan meninggalkan demokrasi, berarti salah satu alat mereka untuk menguasai Indonesia tak ada lagi. Mereka pasti rugi. Karena rugi, pasti akan mendorong aksi-aksi aneh misterius dan tentunya jahat-jahat seperti yang sudah-sudah. Negeri ini harus selalu siap sedia melindungi dirinya sendiri. Untuk itulah, diperlukan kesadaran dan kebersamaan semua pihak yang ingin Indonesia Merdeka Jaya Makmur Sentosa.

Sunday, 11 July 2010

Pemimpin Pelacur

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Dengan ditinggalkannya Pancasila, bahkan dilukainya, mata kita tertutup oleh kabut semu. Semua orang berlomba meniru gaya hidup orang lain, gaya hidup kapitalistis. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum bahwa di negeri ini banyak pemimpin yang telah berbuat cabul dengan negeri-negeri kapitalis. Sudah banyak instansi, baik swasta maupun negeri yang mendapat “sokongan” dana dari pihak asing kapitalis.

Orang biasanya berpendapat ambil saja uangnya atau bantuannya, itu kan menguntungkan kita. Saya tegaskan sekali lagi, dalam dunia kapitalis berlaku no free lunch, ‘tak ada makan siang gratis’, semua yang dilakukannya harus ada timbal balik yang lebih tinggi. Kita jangan menyamakan kata ‘bantuan’ dari asing dengan bantuan dari dalam negeri sendiri. Kalau kita membantu tetangga atau kerabat yang sedang kesulitan, biasanya memang dengan rela atas dasar kasih sayang. Berbeda dengan bantuan yang diberikan negara lain. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih manis dari Indonesia, tidak tulus.

Kucuran-kucuran dana dari pihak asing itu memang juga lezat rasanya, tetapi penuh dengan racun. Kita bisa diperbudak selama-lamanya. Dengan demikian, kita sudah tidak lagi bisa menggunakan akal dan pikiran kita dengan jernih. Semuanya sudah terkooptasi oleh perilaku-perilaku yang dipengaruhi kepentingan kapitalis. Jadilah kita pelacur-pelacur dunia.

Soal pelacuran pemimpin-pemimpin negeri sudah disebutkan dalam Injil pasal Wahyu (17: 1-6).

Lalu datanglah seorang dari tujuh malaikat yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku, “Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas Pelacur Besar yang duduk di tempat yang banyak airnya. Dengan dia raja-raja di Bumi telah berbuat cabul dan penghuni-penghuni Bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya. Perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata, dan mutiara. Di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya. Pada dahinya tertulis suatu nama rahasia, suatu rahasia ‘Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian di Bumi’. Aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus.”

Inijl pasal Wahyu (17: 15-18) meneruskan keterangannya.

Lalu ia berkata kepadaku, “Semua air yang telah kaulihat di mana pelacur itu duduk adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa… dan perempuan yang telah kaulihat itu adalah kota/negeri besar yang memerintah atas raja-raja di Bumi.”

Menurut Pendeta Mark Hitchcock dalam bukunya Bible Prophecy, Pelacur Besar atau perempuan sundal diidentikkan dengan New York City (USA), Gereja Katolik Roma, dan Vatikan.

Maksud dari duduk di tempat yang banyak airnya adalah gambaran geografi Amerika yang terletak di daerah yang banyak airnya di antara Samudera Pasifik dan Atlantik.

Arti dari raja-raja di Bumi telah berbuat cabul dengannya adalah menunjukkan sudah sangat banyak presiden atau pemimpin negara yang melakukan dusta dan rekayasa merusakkan hidup manusia dengan cara berkolusi, berlacur dengan Amerika Serikat.

Babel adalah adalah nama sandi untuk Roma, New York (USA), dan Yerusalem.

Darah orang-orang kudus adalah orang-orang tak berdosa yang beriman dan telah menjadi korban pembunuhan yang dilakukan pihak Amerika. Amerika pun tampaknya mabuk kepayang dengan hasil gemilang pembantaiannya itu.

Darah saksi-saksi Yesus adalah orang-orang beriman yang mencintai, menghormati Isa as dan telah pula menjadi korban pembantaian Amerika Serikat (Wisnu Sasongko: 2003).

Bagaimana dengan Indonesia, sudah berapa banyak pemimpin dan pejabat yang melacurkan diri dengan Amerika?

Pancasila Sumber Kekuatan Kita

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Negeri-negeri kapitalis bukanlah teladan bagi kita. Kita sebaiknya hanya mengambil hal-hal yang dianggap sangat perlu untuk melengkapi yang sudah ada dalam diri kita sendiri. Untuk membiayai kehidupan yang demokratis kapitalistis, tentunya diperlukan kerja keras dan taktik jitu agar dapat “melancong” ke negeri orang untuk melakukan serangkaian aksi menggunakan berbagai alasan dengan maksud mencuri harta-harta orang lain. Kita negeri yang masih cukup santun sama sekali tak ada niatan “melancong” itu. Artinya, kehidupan yang demokratis kapitalistis bukanlah jiwa kita.

Amerika berbeda dengan kita. Nilai-nilai yang dianut mereka berdasarkan kebencian pada otokrasi yang zalim dan keinginan untuk bebas sebebas yang mereka kehendaki. Kita tidak mungkin seperti mereka. Sampai hari ini kita meyakini bahwa yang namanya kebebasan itu adalah hal yang teramat mustahil mampu menjadikan keseimbangan hidup. Hidup harus disertai aturan, norma, nilai kemanusiaan yang tinggi. Batasan-batasan serupa itu sudah ada sejak zaman nenek moyang kita dan terus ada hingga hari ini dalam dada setiap insan Indonesia. Kita memiliki nurani yang kerap dijadikan standar dalam bertindak dan dengan itulah kita mencoba mengukur baik, buruk, indah, jelek, dan sebagainya. Apabila kita mencoba melakukan hal-hal tertentu yang tidak sesuai dengan jiwa, bisa jadi memang terlaksana. Akan tetapi, di dalam nurani terdalam, kita akan menilai hal tersebut adalah sebuah kekeliruan.

Indonesia dari Sabang sampai Merauke sudah dibekali nilai-nilai tersebut sejak lahir. Kemudian, dalam perkembangan sejarah bangsa, nilai-nilai itu mendapat pengaruh dari ajaran Hindu yang diteruskan dengan ajaran Budha sehingga menjadi lebih kaya dan lebih lengkap. Selanjutnya, nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang itu mendapat lagi penyempurnaan dari ajaran Islam. Dengan demikian, semakin kaya, semakin lengkap, semakin luhur, semakin logislah nilai-nilai yang kita anut. Akan tetapi, sayang seribu sayang, sejarah membuktikan bahwa kerakusan bangsa penjajah menghancurkan perkembangan itu sampai ke dasar-dasar kegelapan hingga kita tak tahu lagi bagaimana harus melangkah dengan jelas serta menjadikan kita bermental budak dan rendah.

Beruntung Allah swt memberikan semangat kepada para pemuda kita untuk bergerak secara sadar membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Untuk mendirikan sebuah negara merdeka dan berdaulat, diperlukan dasar yang jelas. Bangsa Indonesia yang majemuk ini dari dulu sudah memiliki dasar hidup masing-masing. Setiap suku, setiap kelompok, setiap elemen yang tersebar di seluruh Nusantara memiliki keyakinan bahwa dasar hidup mereka adalah yang terbaik, the best. Apabila diserahkan kepada masing-masing kelompok, bakal dipastikan kita tidak akan pernah memiliki kata sepakat karena setiap kelompok memiliki dasar hidup yang berbeda-beda. Mereka telah membuktikan bahwa dasar-dasar hidup itu membuat mereka mampu bertahan dalam segala kondisi. Oleh sebab itu, diperlukan dasar yang dapat mengakomodasi kepentingan seluruhnya, diterima semua pihak, dan menjadi perekat persatuan bangsa.

Dengan kemurahan-Nya, Allah swt menganugerahkan cahaya dari diri-Nya untuk merekatkan bangsa yang majemuk ini melalui pendiri Negara Indonesia.

“Malam sebelum 1 Juni (1945: Pen.), Saudara-saudara, saya menekukkan lutut ke hadirat Allah subhanahu wataala di Kebun Pegangsaan Timur 56, memohon petunjuk daripada Tuhan. Pada saat itu dengan segenap kerendahan budi, saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa: Ya Allah, Ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku apa yang besok pagi akan kukatakan sebab Engkau Ya Tuhanku mengerti apa yang ditanyakan kepadaku oleh Ketua Dokuritzu Zunbi Tjosakai itu bukan barang yang remeh, yaitu dasar daripada Indonesia Merdeka. Dasar daripada satu negara yang telah diperjuangkan oleh seluruh rakyat Indonesia berpuluh-puluh tahun dengan segenap penderitaannya, yang penderitaan-penderitaan itu sendiri telah aku melihatnya. Dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang menjadi salah satu unsur daripada Amanat Penderitaan Rakyat.

Aku, Ya Tuhan, telah Engkau beri kesempatan melihat penderitaan rakyat untuk mendatangkan Negara Indonesia yang Merdeka itu. Aku melihat pemimpin-pemimpin ribuan, puluhan ribu meringkuk di dalam penjara. Aku melihat rakyat menderita. Aku melihat orang-orang mengorbankan ia punya harta benda untuk tercapainya cita-cita ini. Aku melihat orang-orang didrel mati. Aku melihat orang naik tiang penggantungan.

Bahkan, aku pernah menerima surat sebagai berikut, ‘Bung Karno, besok aku akan meninggalkan dunia ini. Lanjutkanlah perjuangan kita ini.’

Ya Tuhan, Ya Allah, Ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku sebab besok pagi aku harus memberi jawaban atas pertanyaan yang maha penting ini.

Saudara-saudara, sesudah aku mengucapkan doa kepada Tuhan ini, saya merasa mendapat petunjuk. Saya merasa mendapat ilham yang berkata: Galilah apa yang hendak engkau jawabkan itu dari Bumi Indonesia sendiri. Galilah di dalam kalbunya rakyat Indonesia dan engkau akan mendapat apa yang harus dijadikan dasar daripada Negara Merdeka yang akan datang. Maka malam itu aku menggali, menggali di dalam ingatanku, menggali di dalam ciptaku, menggali di dalam Bumi Indonesia ini agar supaya sebagai hasil penggalian itu dapat dipakainya sebagai dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang akan datang…." (Pidato Bung Karno, 1 Juni 1964 pada peringatan 19 tahun lahirnya Pancasila).

Atas anugerah Allah swt dan penggalian dari dalam Bumi Indonesia, lahirlah Pancasila pada 1 Juni 1945 sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Dasar itu diucapkan Soekarno dalam pidatonya pada tanggal tersebut.

Pancasila telah menjadi alat perekat, pemersatu seluruh kepentingan yang ada di dalam Negara Indonesia. Tak satu pun kelompok yang dikecilkan peranannya oleh Pancasila, apalagi diserang. Pancasila telah mengakomodasi seluruhnya. Ia telah menjadi dasar sekaligus tujuan hidup dalam berbangsa dan bertanah air.

Sesungguhnya, di dalam Pancasila-lah letaknya sumber kekuatan kita. Benar, hakikatnya sumber kekuatan itu dari Allah swt. Akan tetapi, dalam menjalankan proses berbangsa dan bernegara Allah swt telah memberikan Pancasila sebagai kekuatan kita. Di sanalah sebenarnya potensi terbesar kejayaan negeri ini.

Dengan Pancasila, kita akan menjadi bangsa yang terkuat, terhormat, dan berbudi luhur di atas muka Bumi ini. Pancasila merupakan produk yang lebih tinggi dibandingkan kapitalis dan komunis. Tekanan dalam ajaran kapitalis maupun komunis adalah pada nilai pemenuhan terhadap benda, materi, duniawi, sedangkan tekanan dalam Pancasila adalah nilai spiritual yang menjadikan manusia dapat mengendalikan potensi benda, materi, dan duniawi demi kepentingan bersama, untuk menjadi pelengkap dalam menyeimbangkan kehidupan.

Seandainya kita menyadari, niscaya kita tidak hidup sial seperti ini. Kesialan kita disebabkan oleh perilaku kita sendiri yang membuat Pancasila menjadi sial. Allah swt tentunya murka dengan perilaku kita yang jauh dari anugerah yang diberikan-Nya itu.

Saturday, 10 July 2010

Yakin pada Diri Sendiri

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Penjajahan memang telah merusakkan banyak hal, termasuk kondisi kejiwaan rakyat Indonesia. Sejak zaman itu, kita ditanami pemikiran bahwa kita adalah kaum terbelakang, lemah, dan bangkrut. Itu semua hanya tipuan dengan maksud agar mereka mampu mengatur kita dengan sebebas-bebasnya.

Sejarah mengatakan bahwa sebenarnya jauh sebelum penjajah datang, negeri kita adalah negeri yang makmur, kuat, terpelajar, dan tertib. Hal itu disebabkan kita telah memiliki nilai-nilai luhur, norma-norma yang kuat, moralitas yang terjaga, dan perasaan spiritual yang tinggi. Akan tetapi, saat itu kita terkotak-kotak dalam kerajaan-kerajaan kecil-kecil sehingga dengan mudah kaum penjajah menguasainya.

Kita sampai kini dibuat lupa, dibikin tak sadar dengan tipuan bahwa bangsa ini kelas rendahan. Akibatnya, kita benar-benar tak sadar bahwa jika tak ada penjajahan, bangsa ini akan menjadi bangsa terkuat di muka Bumi dengan kekayaan alam dan sumber daya manusianya. Kita lupa bahwa kita sebenarnya bisa lebih hebat dalam bidang teknologi, budaya, militer, ekonomi, dan bidang-bidang lainnya. Coba pelajari lagi sejarah bagaimana terbukanya kita dengan ilmu pengetahuan dan agama sehingga tak sedikit para raja yang mengundang berbagai ahli untuk mengajar di negerinya dan tak sedikit para pemuda yang pergi berlayar ke negeri seberang untuk belajar. Masihkah kita ingat lagu yang mengisahkan bahwa nenek moyang kita adalah pelaut yang gagah berani mengarungi samudera dan menerjang badai itu sudah biasa?

Setelah bersatu, kita melawan dan merdeka. Sayangnya, setelah merdeka kita tidak kembali kepada kekuatan kita, melainkan mengadopsi pikiran orang lain yang sama sekali tidak cocok dengan jiwa kita. Soekarno tampaknya menyadari hal itu. Ia ingin sistem pemerintahan yang sesuai dengan jiwa bangsa, tetapi disayangkan pula membawa-bawa komunis yang sebenarnya hasil pemikiran orang luar.

Meskipun demikian, kita semua memahami bahwa pada awal kemerdekaan semua mata dunia memandang sosok Amerika dengan demokrasinya adalah contoh yang menggiurkan untuk diteladani. Padahal, hal itu sudah jelas dilarang oleh Allah swt. Banyak sekali ayat Al Quran yang melarang kita untuk melihat kehidupan ini sebagai ukuran, pun tidak perlu melihat perhiasan dan kemewahan duniawi yang diberikan Allah swt kepada orang lain karena semuanya itu adalah ujian, cobaan. Allah hendak mencoba manusia dengan kemewahan dan kesusahan.

“Janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS Thaha : 131)

Amerika dengan segala sejarah, tindak-tanduk, dan kemewahannya bukanlah teladan bagi kita. Kita memiliki sejarah, kebiasaan, dan kemewahan sendiri. Jika kita bertanya kepada nurani yang paling dalam, maukah kita seperti mereka? Saat ini mereka bergelimang dengan kemaksiatan, penuh tipu daya, menjajah, tak ada rasa hormat kepada orangtua, individualistis, semua orang bebas semau-maunya, pemenuhan seks bagaikan pemenuhan dahaga air minum di mana saja, menghalang-halangi negara lain untuk maju, berkolusi dengan penguasa negara lemah untuk merampok hartanya, melakukan penyerangan kepada para aktivis, menyebar fitnah dan dusta, melakukan pembantaian di mana-mana, serta seabrek kejahatan lainnya. Kahlil Gibran, seorang penyair kenamaan mengaku tidak betah di Amerika karena orang-orang Amerika terlalu berisik, sibuk, grasa-grusu, cepat marah, dan gemar membunuh. Padahal, Gibran bukan beragama Islam. Ia lebih suka kembali ke kampung halamannya di Libanon. Maukah kita seperti Amerika? Jawabannya pasti tidak. Kalau tidak demikian, jawabannya adalah kita ingin kaya seperti mereka, tetapi hidup dalam ketenangan dan penuh cinta kasih.

Sungguh, untuk hidup kaya, bahkan lebih kaya dari mereka adalah hal yang sangat mungkin bagi bangsa Indonesia. Mereka sebetulnya tidak kaya-kaya amat, masih banyak warga miskin yang berkeliaran dan hidup dalam penderitaan. Mereka hanya pandai menutupinya dengan menunjukkan kehebatannya pada dunia. Dari dulu mereka memang pandai dalam hal kampanye dan propaganda meskipun penuh lumpur dusta. Kita bisa lebih kaya, lebih makmur, serta penuh cinta kasih dan harmonis. Kuncinya adalah yakin pada diri sendiri.

Kunci itulah yang disebutkan Allah swt dalam ayat di atas, karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. Kita tak bisa membantah sejak ribuan tahun lalu, nilai-nilai dan norma-norma asli Indonesia tak pernah hilang meskipun zaman selalu berubah, selalu ada. Itulah kekal. Masalahnya, kita tak menyadari bahwa itu adalah karunia. Bahkan, kita menyebutnya sebagai produk “terbelakang”, padahal jauh lebih maju karena mengedepankan keseimbangan antara lahir dan batin. Itulah yang disebut Allah swt lebih baik.

Indonesia, seperti halnya negara berkembang lainnya sesungguhnya mempunyai apa yang oleh Thorstein Veblen diistilahkan sebagai the advantage of backwardness atau keuntungan-keuntungan keterbelakangan. Artinya, sebagai negara muda yang ada di belakang negara-negara yang lebih maju dan berada di depan, Indonesia dapat belajar dari pengalaman yang baik dan buruk dari bangsa-bangsa lain (Amien Rais: 1986).

Benar kita harus belajar dari bangsa lain dan harus mengambil manfaat darinya jika dirasa perlu. Akan tetapi, kita mestinya mempelajari dahulu riwayat diri kita, kemudian mengambil dari luar hal-hal yang benar-benar diperlukan. Tidak perlu mengadopsi banyak-banyak, toh kita tidak mengalami revolusi industri, revolusi konservatif, maupun revolusi komunis.


Zamrud Khatulistiwa
Kedua kata itu dulu sering kita dengar untuk menggambarkan betapa kayanya Indonesia dengan sumber alamnya. Sesungguhnya, bukan hanya kekayaan alam yang diberikan Allah swt kepada Indonesia. Tuhan telah menciptakan manusia-manusia Indonesia yang baik-baik dan santun-santun. Rasanya aneh jika ada orang Indonesia yang dilahirkan untuk berbuat kerusakan di muka Bumi. Kalaupun terjadi kejahatan yang dilakukan, sudah pasti karena lingkungan yang diciptakan akibat penjajahan dan pergaulan dengan budaya luar.

Kita dilahirkan oleh ibu kita dengan baik, maksud baik, dan dilekati oleh norma dan nilai-nilai yang luhur. Seluruh suku yang ada di Indonesia memiliki kebiasaan dan adat khusus yang mendorong anggotanya untuk selalu berbuat kebaikan, baik kepada sesama manusia maupun kepada alam sekitar. Kalaupun orang-orang Papua disebut terbelakang dan kanibal, itu keliru. Coba pelajari bagaimana mereka berupaya mempertahankan kehidupan yang seimbang dengan alam, Jika ada perilaku yang dianggap menyimpang, misalnya, seorang pemuda akan dianggap dewasa jika sudah mampu menguliti kepala orang, yang dikuliti bukan kepala ibunya, ayahnya, adiknya, melainkan kepala musuhnya yang berbeda suku. Hal itu wajar karena dalam keadaan permusuhan. Toh, pasukan Amerika pun lebih kejam dengan membombardir perumahan warga sipil yang di dalamnya ada orang-orang lemah, bayi, anak-anak, dan perempuan.

Saya sama sekali tidak yakin jika orang Batak diajari oleh norma-norma Batak untuk melakukan kekerasan di tanah perantauan. Kalaupun di tanah perantauan mereka keras-keras, itu bukan karena sukunya, melainkan tantangan hidup di perantauan yang membuat mereka begitu.

Bangsa ini memiliki masyarakat yang santun-santun. Sekitar tahun 70-an, banyak orang asing yang datang ke Indonesia mengakui bahwa kita ramah-ramah.

Selain dari ramah dan memiliki nilai-nilai luhur, kita pun memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Untuk menggali potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia, nenek moyang kita sudah memiliki cara-cara sendiri. Itu sudah terbukti efektif berhasil. Sejarah sudah mencatatnya. Di samping itu, kita pun memiliki cara-cara sendiri dalam melangsungkan pemerintahan. Kalaulah di negara-negara kulit putih dulu kekuasaan raja dan gereja dianggap lalim dan menyakitkan, di negeri ini tidak ada kejadian itu, aman-aman saja. Kekerasan dan kecurangan baru terjadi setelah datangnya penjajahan dan setelah bergaul dengan orang-orang yang berbeda budaya dengan kita.

Kita sudah bisa melihat bahwa Allah swt menganugerahkan dua potensi kepada kita, yaitu: nilai-nilai luhur dan sumber daya alam. Jika mampu menyelenggarakan sistem pemerintahan dengan cara mengambil nilai-nilai dan norma-norma yang sudah berakar kuat di masyarakat, kita akan menjadi bangsa mandiri, kuat, dan memiliki harga diri tinggi. Kita tidak akan merasa menjadi orang terbelakang, kita berbeda dengan siapa pun. Dengan kekuatan itulah kita akan membangun sebagaimana nenek moyang kita ketika berada dalam masa keemasan dan kejayaan.

Orang Sunda biarkan menjadi Sunda sejati. Orang Jawa lepaskan dengan kejawaannya. Orang Sumatera, Aceh, Irian, Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT, dan lain-lainnya harus didorong untuk kembali dan hidup dengan jati dirinya sendiri. Kita semua dari dulu sudah punya cara masing-masing untuk bertahan dan berkembang.

Tuhan sudah menciptakan kita berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal. Nilai dan norma yang dilekatkan sejak dalam kandungan itu dimaksudkan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, baik sesama manusia maupun alam. Kalaulah para elit politik kita memaksakan sesuatu yang berasal dari luar, itu sama saja dengan tirani kehidupan. Nilai-nilai luar yang didesakkan kepada bangsa ini adalah sebentuk penjajahan lain. Hal itu sama dengan menyuruh binatang berkaki empat untuk mati-matian berjalan berdiri dengan dua kaki secara terus-menerus dan makan dengan menggunakan kedua kaki lainnya agar mirip simpanse dengan pertimbangan bahwa simpanse lebih baik. Itu adalah kejahatan hidup.

Jika kita tidak segera berubah, kembali pada diri sendiri, dan selamanya menganggap bahwa bangsa lain lebih hebat, bersiaplah untuk mengucapkan selamat jalan Indonesia semoga arwahmu tenang di alam sana dan berdoalah semoga anak cucu kita masih membaca sejarah bahwa dulu pernah ada negara yang bernama Indonesia.

Wednesday, 7 July 2010

Demokrasi Sama Dengan Melepaskan Rakyat ke Pangkuan Dajjal dan Iblis

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Rakyat Indonesia itu seharusnya dituntun, dibimbing, didorong, disantuni, diarahkan, diayomi, dikasihi, dan dicintai dengan hati yang tulus. Bisa kita lihat persentase komposisi penduduk Indonesia, banyak yang terpelajar atau yang tidak, banyak yang baik atau tidak? Dalam hal pendidikan, rakyat Indonesia ini belum bisa dikatakan rakyat yang telah mengecap pendidikan yang layak. Artinya, jumlah mereka yang terpelajar atau lulus perguruan tinggi jauh lebih kecil dibandingkan yang lainnya. Demikian pula dalam hal agama, moral, atau spiritual, rakyat Indonesia ini harus dibimbing agar menjadi orang baik-baik. Harus diakui bahwa orang baik-baik di dunia ini jumlahnya sedikit, termasuk pula di Indonesia.

Dengan melepaskan rakyat untuk memilih segala sesuatu sesuai keinginannya sendiri sama saja dengan menyerahkannya ke pangkuan Dajjal dan Iblis. Dengan wawasan keilmuan yang terbatas, baik materiil maupun spiritual, bisa dibayangkan betapa mudahnya syetan menggelincirkan mereka.

Sepertinya hebat itu demokrasi, menghargai manusia sebagai individu yang bebas dan berkuasa menentukan hidupnya sendiri. Di balik tabir indah itu adalah terbukanya pintu syetan dalam menyesatkan manusia.

Saat setiap jiwa, setiap kelompok masyarakat diberikan kesempatan untuk mendirikan partai sesuai cita rasanya sendiri. Saat itu pula syetan dari jenis jin dan manusia berbondong-bondong mempengaruhi otak dan hati manusia agar bersegera mengikuti proses itu. Dengan pikiran-pikiran yang elok, penuh semangat, dan memesonakan, mereka mendorong manusia untuk berlomba-lomba mendapatkan kekuasaan.

Seluruh partai pasti intinya adalah Indonesia Jaya. Namun, apa yang terjadi? Kenyataan menunjukkan sebaliknya.

Alasan setiap partai jika menjawab Indonesia belum juga bangkit adalah karena belum mendapat kekuasaan. Kalau partainya berkuasa, pasti akan makmur. Begitu katanya, tetapi jika telah mendapatkan kursi, lalu masih juga Indonesia melarat, mereka berkilah lagi dengan alasan kursinya kurang banyak. Apabila kursinya sudah banyak dan sangat menguasai, mereka beralasan lagi bahwa ini adalah kesulitan warisan pemerintahan sebelumnya. Pendeknya, ada ribuan alasan yang pasti semuanya logis-logis untuk berkilah.

Dengan terbukanya kesempatan mendirikan partai, terbuka pula kesempatan bagi pihak-pihak yang menginginkan keburukan bagi negeri ini. Kita tidak bisa mendeteksi dan mencegah apabila ada kekuatan asing, baik itu kapitalis maupun komunis untuk mendirikan partai lewat jaringannya di Indonesia. Mereka masih menginginkan Indonesia yang rasanya nikmat dan lezat. Demikian pula pihak-pihak yang bermasalah di Indonesia. Mereka berharap dapat memperoleh bagian kekuasaan agar masalahnya dapat diredam sesembunyi mungkin dengan mengalihkan perhatian rakyat pada hal-hal yang lainnya. Selain itu, mereka pun ingin menambah lagi kenikmatan duniawi yang telah diperolehnya.

Di samping mendirikan partai, pihak-pihak asing itu bisa berkolaborasi dengan partai-partai yang sudah mapan. Harapannya tentu saja jika partai yang disponsorinya itu menang, bisa ikut juga menggali-gali kekayaan alam Indonesia sebagai balas jasa yang telah diberikannya.

Menarik untuk diperhatikan, pada awal masa reformasi ada pihak dan orang-orang yang mengaku dengan jujur dan terus terang disponsori Amerika. Ada lagi yang mengaku didanai oleh sebuah lembaga independen yang juga masih dari Amerika. Kita boleh curiga bahwa pihak kapitalis memiliki kepanjangan tangan di Indonesia agar aturan-aturan atau legislasi yang dibuat di Indonesia bisa menguntungkan Amerika.

Adapun orang-orang yang tidak terikat dengan pihak kapitalis dan komunis, sudah dipastikan akan mempersiapkan dirinya untuk berlelah-lelah berdebat, bertengkar, adu mulut, bahkan punya pasukan adu jotos untuk menjadikan partainya sebagai partai yang terbaik. Tentunya, dengan merendahkan partai lain.