Showing posts with label Fahmi Basya. Show all posts
Showing posts with label Fahmi Basya. Show all posts

Wednesday, 3 May 2017

Soekarno Meragukan Isra Miraj

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Sekarang bertambah lagi pengetahuan kita tentang orang yang tidak meyakini Isra Miraj dengan segala dongengnya itu. Dalam tulisan yang lalu-lalu berjudul Bukan Al Aqsha Yang Itu, Melainkan The Real Al Aqsha, saya menuliskan bahwa para akademisi masa lalu pun sudah meragukan Isra Miraj dan kisah Masjid Al Aqsha di Palestina. Kemudian, kita tahu bahwa Prof. Fahmi Basya melakukan penelitian tentang Borobodur yang mengakibatkan kehancuran dongeng-dongeng tentang Isra Miraj dan Masjid Al Aqsha. Saya sendiri pun mengalami pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan sampai hari ini ketika saya ditugasi melakukan peliputan di Candi Borobudur sekitar 1998.

            Para akademisi masa lalu memberikan kesimpulan bahwa pengagungan terhadap Masjid Al Aqsha di Palestina adalah disebabkan oleh berkembangnya genre sastra Al Fadhail yang mengisahkan sejarah kota-kota. Kisah-kisah itu diminati banyak orang dan dianggap sebagai kebenaran sehingga mengakibatkan naiknya derajat Al Aqsha dan Yerusalem melebihi keterangan dari Al Quran sendiri. Hal itu pun diduga adanya kesengajaan dari Dinasti Umayah untuk memperkokoh posisi politiknya. Jalur yang digunakan para akademisi masa lalu itu adalah melalui ilmu politik dan ilmu pemerintahan.

            Adapun Fahmi Basya memaparkan pembuktian bahwa Candi Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaeman as adalah menggunakan jalur lain. Jalur yang digunakan Fahmi Basya adalah melalui ilmu Matematika Islam. Hasil penelitian ini tentu saja menghancurkan dongeng-dongeng tentang Isra Miraj dan Masjid Al Aqsha karena dalam penelitiannya, Fahmi Basya mengatakan bahwa Candi Borobudur-lah yang dimaksudkan Allah swt sebagai Masjid Al Aqsha (Masjid Terjauh). Semua yang menentangnya hanya menggunakan bahasa emosional dan tidak menggunakan pengetahuan yang memadai, apalagi melakukan penelitian ulang untuk membantah Fahmi Basya.

            Presiden ke-1 RI Soekarno meragukan kisah-kisah Isra Miraj yang selama ini beredar luas. Soekarno menginginkan penjelasan yang bisa diterima oleh akal dan tidak bisa hanya diterima oleh rasa “percaya” saja. Jalur yang ingin dilalui Soekarno adalah menggunakan ilmu psikologi dan parapsikologi.

            Saya sendiri karena mengalami pengalaman spiritual luar biasa di Candi Borobudur, sulit sekali menjelaskannya dengan kalimat-kalimat yang baik sampai hari ini. Akan tetapi, pelajaran yang saya dapatkan dari Borobudur adalah relief-relief di Candi Borobudur itu merupakan pengajaran shalat khusyuk dan pengajaran peningkatan kualitas hidup setahap demi setahap untuk menjadi insan kamil, ‘insan paripurna’. Di samping itu, sebagai wartawan, saat itu, dalam setiap perjalanan saya ke mana pun, kerap menemukan hal-hal yang menguatkan keyakinan bahwa memang benarlah Borobudur itu adalah bangunan Islami. Hal yang lebih menguatkan lagi adalah adanya data-data sejarah yang tak bisa dibantah, misalnya, Isra Miraj terjadi pada 620 M, sedangkan pada tahun itu di area Al Aqsha belum ada masjid dan masih dijaga ketat oleh pasukan Romawi. Pasukan Romawi yang gemar mabuk-mabukan dan berpesta itu baru pergi dari sana setelah dikalahkan oleh Umar bin Khattab ra pada 636 M. Kemudian, di tempat itu dibangun Masjid Umar pada 638 M. Masjid itu diperlebar dan diperluas pada dinasti-dinasti berikutnya. Namanya pun diganti menjadi Masjid Al Aqsha.

            Ada hal yang menarik antara Fahmi Basya dengan Soekarno. Fahmi Basya mengakui ketika dirinya dipenjara di Sukamiskin Bandung, kamar tahanannya bersebelahan dengan kamar tempat Soekarno ditahan dulu. Ia mengakui bermimpi bertemu Soekarno dan diperintahkan untuk “menggali Borobudur”. Ia pun melakukan penelitian di Borobudur dan hasilnya seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Candi Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaeman as. Di samping itu, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Candi Borobudur-lah yang sebenarnya dimaksud Allah swt sebagai Masjidil Aqsha. Tentu saja hasil penelitiannya menghancurkan dongeng-dongeng Isra Miraj dan dongeng tentang Masjid Al Aqsha di Palestina.

            Ternyata … eh … ternyata Soekarno pun memang meragukan kisah-kisah Isra Miraj yang selama ini berkembang luas di seluruh dunia. Ia mengatakan keraguannya itu ketika dibuang di Endeh, Flores kepada tokoh Persatuan Islam A. Hasan di Bandung melalui suratnya.

SOEKARNO.Foto: baeksoo11.blogspot.co.id
            “ Di dalam daftar buku, saya baca, Tuan ada sedia Djawahirul Bukhari. Kalau Tuan tiada berkeberatan, saya minta buku itu, di situ banyak pengetahuan pula yang saya bisa ambil. Kalau Tuan tak keberatan pula, saya minta Keterangan Hadits Miraj sebab saya mau bandingkan dengan saya punya pendapat sendiri dan dengan pendapat Essad Bey yang di dalam salah satu bukunya mengasih gambaran tentang kejadian ini. Menurut keyakinan saya, tak cukuplah orang yang menafsirkan miraj dengan ‘percaya’ saja, yakni dengan mengecualikan akal. Padahal, keterangan yang rasionalistis di sini ada. Siapa kenal sedikit ilmu psikologi dan parapsikologi, ia bisa mengasih keterangan yang rasionalistis itu.

            Kenapa sesuatu hal harus digaib-gaibkan kalau akal sedia menerangkannya?”

            Soekarno telah wafat. Ia mungkin belum mendapatkan jawaban yang benar tentang Isra Miraj. Meskipun demikian, ia telah menjadi salah seorang pemimpin besar yang memperkuat keyakinan bahwa bukanlah Masjid Al Aqsha di Palestina itu yang dimaksud Allah swt, Borobudur-lah sesungguhnya yang dimaksud Allah swt seperti yang ia perintahkan dalam mimpi Fahmi Basya untuk menggali Borobudur.

            Jadi, masihkah kita percaya dengan dongeng sebelum bobo bahwa Nabi Muhammad saw pergi terbang menggunakan cewek berbadan kuda bersayap itu?

            Dulu poster cewek kuda bersayap itu ada di mana-mana. Di gedung pemerintahan, di perkantoran, di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren, di rumah-rumah pejabat, orang kaya, kiyai, guru agama, sampai ada di rumah-rumah orang miskin. Pokoknya, poster cewek terbang berbadan kuda yang ada sayapnya adalah poster paling populer saat itu. Akan tetapi, sekarang hilang tiba-tiba, entah kenapa.

            Di mana poster-poster itu saat ini?

            Kenapa tidak pada dipasang lagi?

            Malu, ya?

            Harus malu atuh karena itu cuma dongeng dan sama sekali bukan kenyataan.

            Sampurasun.

Tuesday, 15 March 2016

Tak Ada Toleransi dalam Ilmu Pengetahuan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Toleransi sama sekali tidak diperbolehkan dalam dunia pengetahuan. Haram hukumnya. Kalau toleransi ada dalam dunia ilmu pengetahuan, sama saja dengan menghambat ilmu pengetahuan dan membodohi manusia. Dalam pengetahuan itu sama sekali tak ada toleransi. Dalam dunia pengetahuan hanya ada benar dan salah. Sama sekali tidak mempedulikan perasaan orang lain, harga diri sebuah suku, ras, atau kehormatan sebuah agama. Pengetahuan hanya berbicara tentang salah dan benar. Kalau ada yang tersinggung dengan pengetahuan, itu risiko sendiri karena berpegang pada keyakinan yang salah.

            Di dalam dunia pengetahuan, kondisi “bodoh” itu adalah wajar karena merupakan suatu kondisi seseorang atau sekelompok orang yang belum mengetahui “hal yang sebenarnya” atau memang lemah dalam bidang yang tidak dikuasainya. Saya tidak akan tersinggung jika disebut “bodoh” soal otomotif karena memang tidak tahu apa-apa. Di samping itu, dalam lingkungan pengetahuan melakukan “kesalahan” itu “boleh” karena dengan melakukan hal yang salah, kita akan mengetahui “kebenaran”. Yang sangat diharamkan dalam pengetahuan adalah “berbohong” karena dengan berbohong, semuanya akan jadi rusak dan kacau. Oleh sebab itu, siapa pun yang mengajarkan untuk melakukan kebohongan adalah salah besar. Jika ada “orang berilmu” atau “aliran keyakinan” atau “agama” atau “kelompok” yang mengajarkan “kebohongan”, itu adalah para pengikut Iblis Laknatullah. Ingat, Dajjal itu bermakna “Raja Bohong”. Siapa pun yang menganggap benar perilaku “bohong”, adalah pengikutnya Dajjal.

            Dunia sudah mengalami hal-hal besar dalam ilmu pengetahuan, termasuk perjuangannya dalam mempertahankan kebenaran. Semua pasti tahu ketika Gereja Katolik berpendapat bahwa “Bumi adalah datar dan di akhir Bumi adalah neraka”, semua orang di Barat setuju dengan hal itu. Apalagi dikuatkan dengan pendapat filsuf Barat kenamaan, seperti, Plato dan Aristoteles.

            Siapa yang berani menyangkal pendapat itu ketika gereja memiliki pengaruh sangat kuat dan dua filsuf barat besar mendukungnya?

            Tidak ada!

            Akan tetapi, kebenaran tetap berjalan, terus maju, dan bertahan hingga menang. Galileo Galilei berpendapat berbeda dengan gereja dan dua filsuf itu. Menurutnya, Bumi adalah bulat. Demikian pula Copernicus mengatakan hal yang sama. Keduanya berkata berdasarkan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas data dan fakta yang mereka miliki. Akibatnya, gereja dan para pendukungnya marah hingga menghukum Galileo Galilei sampai matinya.

            Kini kita tahu siapa yang benar, bukan?

            Gereja Katolik salah, Plato salah, Aristoteles salah. Galileo Galilei dan Copernicus yang benar.

            Begitulah ilmu pengetahuan, tak ada toleransi dengan agama, keyakinan, dan kehormatan. Kalau benar, ya benar. Salah ya salah. Itu saja.

            Yang menang siapa?

            Yang menang adalah pengetahuan yang benar.

            Di Indonesia ini banyak sekali yang mendukung hasil penelitian K.H. Fahmi Basya soal Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman as. Banyak pula yang tidak menyetujuinya. Sesungguhnya, persoalan itu bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. Siapa yang memiliki data dan fakta yang lebih akurat dan daya analisis yang lebih tinggi, itulah yang harus diikuti.

            Tak perlu dipermasalahkan soal toleransi dengan umat Budha. Toleransi itu hanya ada dalam sikap, perilaku, dan pergaulan berbangsa dan bertanah air. Toleransi itu adalah membiarkan orang lain untuk melakukan ibadat sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Akan tetapi, tidak ada toleransi dengan ilmu pengetahuan. Umat Budha harus patuh pada ilmu pengetahuan. Siapa pun juga di muka Bumi ini harus patuh pada ilmu pengetahuan karena dengan ilmu pengetahuan itulah manusia berkembang dari zaman ke zaman.

            Lihat, bagaimana sekarang Gereja Katolik sudah sangat patuh kepada ilmu pengetahuan. Mereka pun mengubah keyakinannya dari yang asalnya berpendapat bahwa Bumi itu datar, menjadi Bumi itu adalah bulat.

            Jangan berlindung di balik toleransi untuk mempertahankan kebodohan!

            Jangan menggunakan toleransi sebagai alat untuk memburukkan orang lain!

            Tak ada toleransi dalam pengetahuan. Yang ada hanya benar dan salah!

            Prof. J.G. de Casparis jelas salah dengan mengatakan bahwa Borobudur dibangun pada abad 8 dan merupakan peninggalan kebesaran umat Budha. Jika dia melakukan kesalahan, itu adalah hal yang diperbolehkan dalam ilmu pengetahuan untuk mendapatkan hal yang lebih benar. Yang namanya pengetahuan itu sifatnya harus “terbuka” untuk diuji dan bisa diteliti ulang kebenarannya. Kalau tidak diboleh diuji, itu namanya bukan pengetahuan, melainkan doktrin atau “dongeng sebelum beol”.

            That is the law!

            Begitulah hukumnya.

            Akan tetapi, jika penelitiannya itu merupakan “pesanan” untuk kepentingan kelompok tertentu, baik pengusaha ataupun penguasa, berarti J.G. de Casparis jelas “pembohong”. Kebohongan itu tidak perlu diikuti dan kita semua harus menyadari bahwa bangsa Indonesia telah dibohongi sejak lama.

            Banyak sekali hasil penelitian yang isinya adalah kebohongan dan memang dilakukan dengan maksud untuk “berbohong”. Saya sering melihatnya. Hal yang lebih memprihatinkan adalah kita bangsa Indonesia kurang periksa terhadap hasil penelitian itu, lalu mempercayainya sebagai sebuah kebenaran.

            Insyaallah, lain kali akan saya tulis berbagai hasil penelitian yang banyak bohongnya, tetapi malah diajarkan pada berbagai perguruan tinggi sebagai sebuah kebenaran. Adapula ilmu pengetahuan yang sudah tidak perlu lagi diajarkan, masih juga diajarkan.

            Akan tetapi, bolehlah satu saja kebohongan yang entah dipercaya oleh siapa saya coba tulis di sini sedikit. Soal perahu Nabi Nuh as, misalnya, penelitian itu kentara sekali “dustanya” dan kelihatan sekali kalang kabutnya. Katanya, Nuh as adalah berasal dari wilayah Mesopotamia karena di sana ada beberapa sungai dan mata air serta bekas-bekas bencana banjir. Para peneliti pendusta itu mengatakan bahwa tidak ditemukan logam di sana. Mereka pun menyimpulkan bahwa Nuh as hidup pada “zaman batu”. 

Anehnya, reruntuhan perahu itu kemudian ditemukan di pegunungan di wilayah Turki. Kabarnya, perahu itu terdampar di sana setelah terapung-apung di lautan lepas. Mereka menemukan tiang kapal yang pada tiang itu terdapat plat besi untuk mengikat ke tubuh kapal. Lalu, di dalamnya ada gambar orang yang menggunakan ikat kepala dengan tulisan “Noah”. Orang itu sedang memaku ke sebuah papan.

Bisa lihat nggak, bagaimana bohongnya mereka?

Kelihatan tidak kalang kabutnya data kedustaan mereka?

Perhatikan ini.

Awalnya, mereka mengatakan “tidak ditemukan logam”. Kesimpulannya adalah “zaman batu”. Akan tetapi, begonya, ketika reruntuhannya ditemukan, ada “plat besi” dan gambar orang sedang “memaku”.

Bukankah plat besi dan paku itu adalah logam?

Bagaimana mungkin dikatakan zaman batu, tetapi ada plat besi dan paku?

Lucu, kan?

Itu mah bukan hasil penelitian, melainkan cuma “dongeng sebelum beol”!

Terus, lucunya lagi, di sana ada plat kayu yang bertuliskan Muhammad, Aisyah, Ali bin Abi Thalib, serta Hasan dan Husen. Ceriteranya, ketika Nuh as cemas dalam perahu, berdoa dan memuji-muji orang-orang mulia itu.

Kalau nama Nabi Muhammad saw, okelah karena beliau adalah Rasulullah yang paling tinggi derajatnya.

Akan tetapi, kalau Aisyah, Ali, dan Hasan-Husen, apa maksudnya?

Nah, mulai di sini saya curiga. Tujuan mereka meneliti dan menyebarkannya melalui berbagai media ke seluruh dunia adalah cuma ingin mendapatkan hal yang  ecek-ecek. Tujuannya cuma bisnis. Mereka hanya cari makan lewat sektor pariwisata.

Perhatikan plat kayu yang ada nama-nama itu. Mereka ingin menarik umat Islam dari golongan sunni dan syiah untuk piknik ke tempat yang mereka sebut “reruntuhan perahu Nabi Nuh as”.

Memang begitu kan kenyataannya?

Sekarang situs itu dibuka untuk umum sebagai tempat pariwisata yang lebih besar. Lalu, di Belanda dibuat replikanya yang di dalamnya dilengkapi dengan restoran.

Apa yang saya tulis di sini baru sedikit. Sangat sedikit tentang keanehan itu. Saya belum menulis hal yang tidak masuk akal lainnya. Misalnya, berapa banyak binatang yang dimuat dalam perahu, berapa lama berada di lautan lepas, bagaimana pemeliharaannya, berapa jarak antara kandang yang satu dengan lainnya, bagaimana sanitasinya, berapa banyak manusia yang ada dalam perahu, bagaimana sosok seorang rasul terhadap binatang, bekas kapal, dan lain sebagainya.

Tak ada toleransi dalam ilmu pengetahuan!

Setiap pengetahuan bersifat terbuka untuk diuji!

Jangan berbohong!

Jangan percaya hanya karena “orang bule” yang melakukan penelitian.


Oh ya, saya punya pengalaman lucu tentang orang bule saat  seminar internasional tentang kompetensi guru. Kirain orang itu pintar, tetapi saat memberikan materi, dia menggunakan bahan dari buku yang buku itu saya sendiri editornya. Judul bukunya kalau nggak Penelitian TIndakan Kelas, pasti yang Lesson Study, saya lupa-lupa ingat soalnya kejadiannya udah lama, sekitar tiga atau empat tahun lalu.  Entarlah, saya ceritain lengkapnya. Pokoknya lucu.

Sunday, 31 January 2016

Antara Nabi Muhammad saw dan Borobudur

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Mana yang lebih dulu, kelahiran Nabi Muhammad saw atau pembangunan Borobudur?

Hayo tebak!

Jangan, jangan ditebak, sudah ada kok catatan sejarahnya.

Nabi Muhammad saw lahir di Mekah pada Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah dalam keadaan yatim. Kelahiran Nabi Muhammad saw bertepatan dengan 20 April 571 Masehi.

Catat itu, 571 Masehi!

Sekarang mari kita periksa pembangunan Borobudur.

J.G. de Casparis dalam disertasinya pada 1950 mengatakan bahwa Borobudur diperkirakan didirikan oleh Raja Samaratungga dari wangsa Sayilendra sekitar tahun sangkala rasa sagara kstidhara atau tahun Caka 746 (824 Masehi) dan baru dapat diselesaikan oleh puterinya yang bernama Dyah Ayu Pramodhawardhani pada sekitar tahun 847 Masehi.

Catat itu, kira-kira 824 Masehi!

Kira-kira!

Jadi, jelas bahwa Nabi Muhammad saw lahir lebih dulu dibandingkan pembangunan Candi Borobudur versi J.G. de Casparis. Selisih tahunnya adalah 253 tahun. Nabi Muhammad saw lahir dulu, lalu 253 tahun kemudian Borobudur dibangun.

Jelas ya!

Masuk akalkah?

Tentu saja tidak masuk akal.

Mengapa?

Borobudur itu bangunan megah ajaib yang dibangun dengan teknologi tinggi yang orang-orang hebat saat ini pun tidak mampu menerangkannya dengan jelas bagaimana Borobudur itu dibangun. Di dalamnya pun dipenuhi keajaiban seni, budaya, sejarah, matematika, fisika, astrologi, dan berbagai pengetahuan menakjubkan lainnya. Adapun bangunan-bangunan pada zaman Nabi Muhammad saw sampai sekarang tidak ada yang seajaib itu. Biasa-biasa saja. Malahan pada zaman Nabi Muhammad saw, bangunan-bangunan di dunia ini sangat kumuh dan buruk dibandingkan bangunan-bangunan yang ada saat ini. Berbeda jauh dengan Borobudur yang dipenuhi nilai-nilai artistik yang mengagumkan dan memesonakan.

Seluruh bangunan apa pun itu namanya yang dibangun sejak 0 Masehi sangat mudah dipelajari dan dipahami, bahkan dibuat ulang. Malahan, ada yang diperindah karena memang tampak buruk. Mestinya kan ada bangunan-bangunan lain yang seajaib Borobudur pada berbagai belahan dunia lain pada 800-an Masehi itu.

Akan tetapi, buktinya kan tidak ada. Kalaupun ada bangunan bagus, ya bangunan biasa saja, hanya dikenal sebagai bangunan megah dan besar, tetapi tidak ajaib dan tidak banyak memuat ilmu pengetahuan, baik fisik maupun spiritual, malahan seperti kata saya tadi, kesannya kumuh. Mudah sekali ditiru.

Mari kita lihat buktinya di seluruh dunia ini. Kehidupan agama adalah kehidupan sakral yang sangat dihormati di dunia ini. Artinya, bangunan keagamaan haruslah menjadi bangunan yang terhebat dalam masanya dan dalam kehidupan umatnya.

Kuil dan Sinagog Eliahu Hanabi yang dibangun 720 SM di Suriah saja bentuknya sangat kumuh. Tidak ada istimewanya. Buruh kuli-kuli bangunan di Indonesia saat ini pun bisa membuat bangunan seperti itu. Begitu pula sinagog-sinagog tua yang dibangun pada 5 Masehi lebih mirip rumah-rumah orang melarat tempat berkumpul orang-orang Yahudi. Malahan, ada sinagog kuno yang mirip sekali dengan paviliun rumah orang Indonesia saat ini, kumuhnya bukan main, temboknya juga tidak rata, kembung dan acak-acakan.

Yesus as kata orang-orang Kristen diperkirakan lahir pada awal musim gugur tahun 2 SM. Akan tetapi, gereja-gereja dibangun ratusan tahun setelah Yesus as tidak ada. Tidak ada catatan Yesus as membangun gereja ketika masih ada. Gereja tua Santa Maria in Transvere (Roma, Italia) dibangun pada 221 Masehi. Bangunannya biasa saja, tidak ajaib. Gereja Gua Santo Petrus yang didirikan pada abad 3 di Antonika, Turki malahan hanya berupa gua, bangunan yang sudah ada karena alam yang membuatnya. Gereja Makam Suci, Golgota, Yerusalem, yang dibangun 325 M, juga biasa saja, tidak berteknologi tinggi.

Demikian pula masjid tempat ibadat umat Islam. Masjid pertama dan masjid kedua yang dibangun oleh tangan Nabi Muhammad saw, yaitu Masjid Quba dan Masjid Nabawi juga bangunan biasa, malahan teramat kumuh. Masjid itu dibangun dengan bahan bangunan alakadarnya, tidak ada teknologi yang mencengangkan di masjid-masjid itu. Kalau tidak diperbaiki dan disempurnakan, masjid-masjid itu bisa hancur lebur. Sekarang masjid-masjid itu tentu saja menjadi bangunan yang sangat megah dan teramat indah karena terus-menerus dibangun dan diperindah tanpa henti.

Kita bisa melihat bukan bahwa bangunan-bangunan bersejarah kuno yang didirikan mulai 0 Masehi sangat minim teknologi dan mudah ditiru?

Artinya, manusia-manusia sekarang dapat memperhitungkan bagaimana cara pembuatannya dan sangat mampu membuat lagi bangunan serupa, bahkan lebih indah. Tidak perlu arsitek jenius untuk meniru bangunan-bangunan itu, orang sekelas mandor bangunan di Indonesia zaman sekarang juga bisa.

Akan tetapi, mengapa bangunan Candi Borobudur tidak bisa diperhitungkan dan tidak bisa diperkirakan bagaimana cara membuatnya?

Tidak diketahui pula teknologi apa yang digunakan untuk membangunnya. Semuanya serba misterius. Itulah sebabnya disebut ajaib.

Bukankah hal yang aneh sekaligus menggelikan ketika manusia bisa memahami dan membuat kembali bangunan-bangunan yang dibangun pada abad 1, 2, 3, 5, dan 6, tetapi tidak mampu memahami bangunan pada abad ke-8?

Seharusnya, logika mengatakan jika manusia mampu memahami bangunan pada abad 1, akan lebih mudah memahami bangunan yang didirikan abad 8.

Begitu kan?

Hal itu disebabkan para arsitek dunia akan menuliskan berbagai pengetahuannya dari zaman ke zaman sehingga mudah dipahami dan pasti diajarkan pada berbagai perguruan tinggi teknik. Namun, anehnya manusia mampu mengerti bangunan abad 1, tetapi tidak mengerti bangunan abad 8. Ini pasti ada yang salah.

Jadi, jelas ada yang salah.

Apa yang salah?

Yang salah adalah perhitungan dan penelitian yang dilakukan J.G. de Casparis. Karena perhitungan tahun pembangunan Borobudur salah, semua data yang ada dalam desertasinya pun menjadi salah. Tidak mungkin Borobudur dibangun pada abad 8. Kalau benar, pasti manusia sekarang memiliki teknologi itu dan mampu membuat detail-detailnya dengan lebih sempurna. Kenyataannya adalah sebaliknya, boro-boro bisa membangun dengan lebih sempurna, mengerti saja tidak.

Dengan demikian, sangat kuatlah hasil penelitian yang dilakukan K.H. Fahmi Basya bahwa Borobobudur itu adalah peninggalan Nabi Sulaiman as. Seluruh catatan kemegahan dan notasi teknologinya hancur lebur hilang dilanda banjir besar sebagai hukuman dari Allah swt atas dosa-dosa yang dilakukan bangsa Indonesia pada masa lalu.

Kalaulah ada orang yang menyanggah hasil penelitian K.H. Fahmi Basya, sesungguhnya mereka itu cuma kaget, terbiasa punya otak dan jiwa sebagai manusia terjajah, tidak siap menerima ilmu pengetahuan baru, dan sebagian ada yang iri atau khawatir terbongkar rencana tipu dayanya. Hal itu disebabkan banyak sekali sejarah Indonesia ini yang diputarbalikan untuk kepentingan orang-orang tertentu, malahan untuk kepentingan orang-orang asing dalam menyebarluaskan hegemoni dan dominasi mereka.

Saya suka geli menyaksikan orang-orang seperti itu. Bukan hanya hasil penelitian K.H. Fahmi Basya yang mereka bantah, melainkan pula penelitian-penelitian lainnya. Akan tetapi, ada kesamaan dalam diri mereka itu, yaitu hanya bisa membantah, mengganggu, tidak mampu melakukan alasan akademis, serta minim data dan miskin argumentasi. Coba lihat saja penelitian K.H. Fahmi Basya yang komprehensif dibantah dengan artikel murahan yang isinya hanya beberapa paragraf atau pertanyaan-pertanyaan rendahan. Ini biasa. Harusnya, bikin lagi penelitian yang komprehensif yang mampu mematahkan hasil penelitian K.H. Fahmi Basya, sebagaimana penelitian K.H. Fahmi Basya yang mampu menghajar hasil penelitian yang ada dalam desertasi J.G. de Casparis.

Biasalah, orang-orang kurang pengetahuan ini suka tidak mau menerima kebenaran dan membuat ulah-ulah yang murahan. Kalaupun mereka punya modal, mereka biasanya bikin buku untuk membantah. Akan tetapi, buku itu selalu tipis dan miskin argumentasi, kebanyakan isinya emosional bukan akademis. Saya sering lihat buku-buku itu.

Peneliti aslinya selalu menyusun buku yang tebal-tebal karena sangat ingin meyakinkan pembaca tentang kebenaran penelitiannya. Mereka menulis berbagai hal dengan mengambil data dari berbagai sisi dan mengkomparasinya dengan berbagai pengetahuan serta mengujinya sendiri sehingga mendapatkan kebenaran yang lebih nyata. Berbeda dengan yang membantahnya, mereka hanya menulis kebingungan dirinya bersama fitnah-fitnah dan data-data kosong yang diharapkan dapat mempengaruhi pembaca untuk tidak mendapatkan pengetahuan baru yang ditulis penulis aslinya. Di toko-toko buku besar sering saya lihat hal itu. Misalnya, buku-buku tentang Imam Mahdi yang tebal-tebal dan penuh data dibantah oleh buku-buku tipis murahan yang isinya hanya tuduhan rendah dan fitnah tak berdasar. Demikian pula, buku-buku yang tebal tentang Atlantis dibantah oleh buku tipis yang kurang dari 50 halaman yang isinya cuma kemarahan dan ajakan untuk tidak mempercayai bahwa Atlantis terletak di dataran Sunda, Indonesia. Buku-buku seperti itu banyak, tetapi memang sangat tipis dan miskin informasi.





Friday, 29 May 2015

Pendapat Borobudur Dibangun oleh Wangsa Syailendra Harus Digugurkan


oleh Tom Finaldin
 
Bandung, Putera Sang Surya


Ilmu pengetahuan itu harus terbuka untuk diuji. Begitulah aturannya, demikianlah hukumnya. Jika ilmu pengetahuan tidak boleh atau tidak bisa diuji, namanya bukan lagi ilmu pengetahuan, melainkan doktrin yang harus diyakini tanpa diperbolehkan dipertanyakan.


                Ilmu pengetahuan harus terbuka untuk diuji karena harus bermanfaat bagi manusia yang selalu berkembang. Dengan demikian, ilmu pengetahuan akan mendorong manusia untuk dapat hidup lebih bermanfaat dan penuh arti. Adapun doktrin hanya membuat manusia berat untuk melangkah dan menghalangi kehidupan manusia untuk berkembang ke tingkat selanjutnya.


                Pendapat bahwa Borobudur dibangun oleh Wangsa Syailendra merupakan hasil penelitian J.G. de Casparis dalam rangka meraih gelar doktor. Hasil penelitian itu adalah ilmu pengetahuan yang diyakini kebenarannya sepanjang tidak ditemukan bukti baru yang menggugurkan pendapatnya. Apabila ditemukan bukti baru yang lebih baik, lebih ilmiah, dan lebih pasti, pendapat J.G. de Casparis itu wajib gugur, kemudian diganti oleh hasil penelitian terbaru yang menggunakan metode lebih canggih, alat lebih canggih, dan analisis lebih akurat. Begitulah aturannya dalam dunia akademisi. Apabila pendapat J.G. de Casparis itu dianggap final dan tidak boleh ada yang mengganggu-gugat, jatuhlah hasil penelitiannya hanya senilai doktrin penuh dongeng kedustaan. Hasil penelitiannya sudah bukan lagi ilmu pengetahuan, nilainya menjadi sebatas dongeng yang dipaksakan.


                Pada masa ini memang telah ditemukan bukti baru dengan hasil penelitian yang lebih akurat dan pasti oleh K.H. Fahmi Basya. Hasil penelitian terbaru menyatakan bahwa Borobudur itu adalah peninggalan Nabi Sulaiman dalam rangka hubungannya dengan Ratu Balqis. Penelitian itu harus diterima dan menjadi ilmu pengetahuan mutakhir, kecuali ada penelitian lain lagi yang lebih terbaru. Dengan demikian, pendapat J.G. de Casparis harus gugur demi ilmu pengetahuan.


                Apabila kita tidak mau menerima pengetahuan yang lebih terbaru, berarti kita mempertahankan kebodohan dan ketololan yang pada masa depan akan menjadi bahan tertawaan anak cucu kita. Kebenaran ilmu pengetahuan tidak bisa ditahan. Ia akan terus melaju menggilas orang-orang yang menentangnya.


                Mari kita lihat contoh bagaimana orang-orang yang apabila terus-terusan bertahan pada pengetahuan lama, pada masa depannya ditertawakan orang banyak. Saya punya dua contoh nyata tentang hal ini. Contoh ini bahkan diajarkan di seluruh perguruan tinggi, biasanya dalam mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar.


                Dulu sekali orang-orang sangat percaya bahwa yang namanya “pelangi” adalah jalan yang menghubungkan kehidupan langit dengan kehidupan dunia sekarang ini. Jalan itu digunakan oleh para “bidadari” untuk turun dan naik antara Bumi dan langit dalam menyelesaikan urusannya di Bumi ini. Para bidadari itu ada yang mandi, memberikan berkah, menyuburkan tanaman, dan lain sebagainya. 


                Pada masa lalu sesuai dengan kondisi Iptek saat itu manusia percaya bahwa “pelangi” itu adalah jalannya para “bidadari”. Hal itu menjadi pengetahuan yang diyakini kebenarannya dan tak ada yang membantahnya. Akan tetapi, karena sifat manusia yang selalu ingin tahu, sesuai perkembangan zaman, manusia mempertanyakan lebih jauh mengenai pelangi  dan bidadari itu. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia melakukan banyak penelitian sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan baru yang lebih akurat, lebih bisa dipercaya, dan lebih masuk akal. Hasil penemuan terbaru yang diakui sampai saat ini menyatakan bahwa pelangi adalah bias dari sinar matahari yang masuk ke dalam butiran air di langit sehingga menimbulkan spektrum warna tertentu. Warna-warna itu menjadi lebih beraneka ragam ketika sinar matahari meninggalkan butiran-butiran air itu sehingga kita bisa melihatnya sebagaimana pelangi yang biasa terlihat. 


                Pengetahuan tentang pelangi yang terbaru tersebut jelas secara otomatis menggugurkan ilmu pengetahuan yang sebelumnya. Artinya, ilmu pengetahuan tentang bidadari itu diuji dengan pengetahuan baru dan hasilnya bidadari yang mondar-mandir pada pelangi itu tidak ada. Begitulah yang namanya ilmu pengetahuan harus terbuka untuk diuji. Apabila dia tahan uji, pengetahuan itu tetap diterima karena pengetahuan yang baru tidak membuktikan bahwa pengetahuan yang diujinya itu salah.


                Apabila masih ada saat ini yang mempertahankan ilmu pengetahuan bahwa pelangi itu adalah jalan bagi para bidadari, pasti jadi tertawaan orang banyak serta jelas dianggap kampungan dan bodoh sekali. Bukan soal percaya pada pelangi dan bidadari yang membuatnya menjadi orang bodoh dan tertawaan orang lain, melainkan kedunguannya mempertahankan ilmu pengetahuan lama yang sudah gugur oleh pengetahuan yang baru.


                Contoh lainnya adalah kita tahu bahwa dulu gereja berpandangan bahwa Bumi berbentuk datar seperti tikar dan di ujungnya adalah neraka. Demikian pula Aristoteles berpendapat bahwa Bumi adalah pusat dari tatasurya. Pendapat gereja dan Aristoteles itu diterima sebagai pengetahuan yang sahih dan benar sehingga dunia percaya pada pendapat tersebut. Tak ada yang menolaknya karena belum ada penelitian lain yang menggugurkan pendapat mereka dengan disertai bukti yang kuat. 


Siapa yang akan membantah ketika gereja sangat kuat dan Aristoteles adalah ilmuwan yang sangat dihormati?


Akan tetapi, kebenaran ilmu pengetahuan itu terus berkembang dan menunjukkan jati dirinya. Galileo Galilei memiliki bukti yang lebih akurat bahwa Bumi tidaklah datar sebagaimana pendapat gereja. Di samping itu, ia pun menyatakan bahwa Bumi bukanlah pusat dari sistem tatasurya sebagaimana pendapat Aristoteles. Menurutnya, Bumi adalah bulat dan Matahari merupakan sumber pusat dari sistem tatasurya. Apalagi pendapatnya itu dikuatkan oleh pengalaman Copernicus yang berlayar mengelilingi dunia.


Pendapat yang benar itu tentu saja mendapatkan penentangan dari “orang-orang yang tidak siap” menerima ilmu pengetahuan baru. Akibatnya, pengetahuan yang baru dan lebih benar itu ditolak, dilecehkan, dianggap mengganggu keimanan, dan mengguncangkan keyakinan yang sudah mapan saat itu. Kebodohan dan kedunguan orang-orang itu mengakibatkan keburukan yang lebih serius, yaitu menghukum Galileo Galilei dengan hukuman pengucilan di rumahnya sendiri sampai meninggal. Hal yang lebih memalukan adalah tetap mempertahankan kedunguannya sampai kedunguannya itu benar-benar terhina dan tersingkir. Toh, kita sekarang meyakini bahwa yang namanya Bumi itu bulat dan Matahari merupakan pusat dari tatasurya.


Jika saat ini ada orang-orang yang mempertahankan pendapat lama bahwa Bumi adalah datar di ujungnya ada neraka dan merupakan pusat dari tatasurya, mereka akan menjadi bahan tertawaan. Bahkan, sangat disarankan untuk masuk dalam grup sirkus bersama para simpanse.


Nah, demikian pula dengan Borobudur. Hasil penelitian yang mutakhir dengan bukti-bukti lebih akurat menyatakan bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman as dalam hubungannya dengan Ratu Balqis. Hasil penelitian itu menggunakan alat-alat dan hasil analisis yang lebih tinggi dibandingkan dugaan-dugaan J.G. de Casparis. Artinya, pendapat J.G. de Casparis harus gugur diganti oleh pendapat K.H. Fahmi Basya. Bukan hanya pendapat J.G. de Casparis yang harus gugur, melainkan pula pendapat para ahli tafsir yang mengatakan bahwa kisah Nabi Sulaiman as, Ratu Balqis, dan bendungan yang hancur itu terjadi di seputar Yaman. Para ahli tafsir itu juga kan mengemukakan ilmu pengetahuan berdasarkan kelengkapan yang dimiliki mereka saat itu. Ketika pengetahuan mereka diuji dengan pengetahuan yang baru, kemudian terkalahkan, sudah menjadi keharusan pendapat para ahli tafsir itu mendapat perbaikan. Itu namanya ilmu pengetahuan.


Kalau pendapat ahli tafsir itu tidak boleh diuji, sama saja dengan merendahkan ajaran Islam sebagai ajaran logis dan ilmiah. Orang-orang yang bertahan pada pendapat lama sama saja dengan menyudutkan Islam menjadi agama penuh doktrin dan dogmatis yang harus diyakini tanpa proses berpikir. Orang-orang seperti ini akan tergusur dan terhina jika terus tenggelam dalam kebodohannya, pada masa depan akan jadi tertawaan anak-cucunya sendiri.


Orang-orang dungu yang tidak siap dengan pengetahuan baru kata Soekarno sama dengan “kukuk beluk” dan sederajat dengan orang-orang dungu yang mempertahankan bahwa pelangi itu merupakan jalan milik bidadari serta Bumi itu datar di ujungnya adalah neraka dan merupakan pusat dari sistem tatasurya.


Bukalah pikiran kita. Jika kita mendapatkan ilmu pengetahuan baru, uji dengan cara yang ilmiah dengan metode-metode ilmiah. Jangan lantas terkaget-kaget, lalu menolak dengan penuh kedunguan sembari melecehkan kebenaran dengan kata-kata yang tidak ilmiah dan alasan-alasan mirip para perempuan yang sedang bertengkar.


Islam itu penuh dengan ilmu pengetahuan. Dirinya sendiri selalu menantang untuk diuji kapan pun dan oleh siapa pun. Demikian pula, orang Islam harus penuh dengan kesiapan menerima ilmu pengetahuan baru dan siap untuk diuji sekaligus menguji ilmu pengetahuan agar lebih bermanfaat bagi kehidupan orang banyak sehingga dirinya tercatat sebagai orang mulia yang bermanfaat bagi umat manusia, bukannya menghalangi umat manusia mendapatkan pencerahan dan kebaikan.