Showing posts with label Takdir Kehancuran. Show all posts
Showing posts with label Takdir Kehancuran. Show all posts

Thursday, 20 November 2014

Indonesia Sebentar Lagi Hancur



oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Kalau tak pintar menahan diri dan cerdas berlapang dada, Indonesia sebentar lagi benar-benar hancur. Saya sebenarnya tak suka jika negeri ini hancur berantakan sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai ramalan, baik ramalan Sunda maupun Jawa. Meskipun demikian, ada banyak yang senang dengan berbagai kekisruhan yang terjadi di Indonesia. Mereka sangat senang dengan adanya bencana alam yang terus-menerus terjadi tanpa henti pada berbagai belahan tanah air Indonesia. Mereka tertawa-tawa dengan jungkir-baliknya hukum di Indonesia. Mereka pun bergembira dengan konfllik-konflik politik yang terjadi.

            Mereka yang selalu merasa senang ketika Indonesia mengalami kesulitan bukanlah orang-orang bodoh. Mereka itu pintar-pintar. Saya banyak kenal dengan mereka. Mereka pun bukan para penjahat atau pengacau. Mereka bahkan orang-orang yang mencintai Indonesia. Mereka merasa gembira dengan berbagai kekusutan yang terjadi di Indonesia disebabkan segala yang mereka prediksi berdasarkan ramalan-ramalan satu demi satu terbukti. Mereka malahan ingin segera melihat Indonesia berantakan karena setelah itu Indonesia akan semacam di-restart ulang untuk kemudian menemukan jati dirinya dalam kejayaan dan menjadi sinar bagi dunia.

            Memang kehancuran Indonesia itu sudah diramalkan terjadi dengan diawali ciri-ciri yang tegas dan terbukti, misalnya, bencana gempa bumi, gunung berapi meletus, banjir besar, perempuan hilang rasa malu, laki-laki mulai malas, nyawa tidak ada harganya, para pemimpin sering berkata bohong dan ingkar janji, hukum dijalankan dengan berbelit-belit, banyak anak muda menjadi pemimpin, orang jujur tersisihkan, banyak wabah penyakit, para elit bertengkar yang merembes ke tingkat grass root, dan lain sebagainya. Hal-hal itu sudah diramalkan sejak lama. 

Memang terbukti bukan?

Para pembaca bisa menelusuri berbagai artikel dalam blog ini yang sudah saya tulis sejak lama tentang ramalan-ramalan itu, baik Uga Wangsit Siliwangi, Darmagandul, Joyoboyo, maupun Ronggowarsito.

Sekarang semenjak Pilpres 2014, berbagai kejadian dan kekisruhan politik menguatkan bahwa ramalan tentang hancurnya Indonesia bakal terjadi. Harus diingat bahwa yang hancur adalah Negara Indonesia, bukan bangsa Indonesia. Indonesia sebagai bangsa malahan akan semakin kuat, tetapi sebagai state akan mengalami kerusakan parah. Kita bisa lihat bahwa hasil Pilpres 2014 menghasilkan dua kubu yang relatif seimbang dalam berbagai hal, baik jumlah maupun intelektual. Diakui ataupun tidak, kedua kubu itu terus berseteru dan setiap kubu mengklaim dirinya paling benar apapun alasannya. Seimbangnya kekuatan kedua kubu tersebut menimbulkan rasa percaya diri dari setiap kubu yang ujungnya dikhawatirkan akan memunculkan huru-hara.

Untuk jatuh ke dalam situasi huru-hara mudah saja. Hal itu disebabkan keduanya mengatasnamakan kepentingan rakyat dan membela rakyat. Setiap kubu menuduh kubu lawannya sebagai arogan dan mementingkan kelompoknya serta ingin menunjukkan kekuasaan yang dimilikinya. Apabila situasi ini meruncing semakin tajam, akan membuat negara berjalan tidak mulus. Akan ada pihak yang merasa terzalimi dan teraniaya, kemudian mengerahkan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk memberikan perlawanan.

Huru-hara yang terjadi akan dimulai oleh para elit, bukan oleh rakyat. Para elitlah yang akan memulai pertarungan yang kemudian mengajak serta rakyat untuk berpihak padanya sehingga pertarungan meluas dan memperparah keadaan.

Ramalan tentang huru hara tersebut bisa kita lihat dari Uga Wangsit Siliwangi:

Dalam bahasa Sunda:

Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba. Nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Nu garelut laju rareureuh. Laju kakara arengeuh. Kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. 

            Dalam bahasa Indonesia:

Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara.

            Kapan terjadinya keributan itu?

            Keributan itu akan terjadi setelah para elit yang berkuasa, baik elit ekonomi maupun politik semakin pongah, angkuh, brutal, dan sering membohongi rakyat atau mengelabui perasaan rakyat. Hal itu disebabkan mereka menginginkan dukungan rakyat untuk sependapat atau berpihak padanya.

            Mereka berkelahi disebabkan memperebutkan warisan.

            Apa itu warisan?

            Warisan itu berupa kekuasaan politik dan ekonomi yang berasal dari keserakahan atas penguasaan negara dan sumber daya alam Indonesia.

            Perebutan warisan itu terus berlanjut hingga melibatkan rakyat. Hal itu bisa diperhatikan bahwa kubu-kubu yang sekarang sedang berseteru sama-sama mengatasnamakan rakyat. Bahkan, parahnya ada yang memanas-manasi rakyat sehingga rakyat ikut terlibat secara emosional terhadap pertarungan di tingkat elit. Rakyat yang hanya mendapatkan informasi sepotong-sepotong dan tidak utuh itu pun benar-benar terpengaruhi sehingga betul-betul bergerak atas dasar hasutan pihak-pihak yang berseteru. Pihak-pihak yang menghasut ini saya pastikan bakal masuk neraka jika tidak segera sadar.

            Dalam ramalan tadi rakyat disebut sebagai orang bodoh yang jadi gila ikut berkelahi. Disebut rakyat bodoh karena bergerak atas dasar informasi yang tidak lengkap dari para penghasut. Rakyat menjadi gila karena benar-benar meyakini bahwa informasi samar dan sumir itu merupakan kebenaran dan perlu diperjuangkan. Perhatikan ramalan berikut:

Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

            Huru-hara itu dikendalikan oleh Pemuda Buncit.

            Siapa dia?

            Dia adalah provokator utama. Disebut buncit karena dia punya banyak uang, kekuasaan yang besar, dan serakah tak peduli halal atau haram, tak peduli banyak nyawa melayang asal dia bisa senang.

            Kita bisa lihat bukan saat ini mereka yang sudah punya kekuasaan terus berjuang hingga kekuasaannya semakin besar?

            Kita juga bisa menyaksikan bukan bagaimana mereka menguatkan kekuasaannya dengan berupaya keras mengokohkan kekuasaan teman-temannya?

            Kita juga bisa lihat bahwa aturan-aturan bernegara sepertinya pabeulit dina cacadan, ‘berbelit-belit’ dan berputar-putar dalam berbagai penafsiran yang berbeda-beda, iya kan?

            Prabu Siliwangi sudah mewanti-wanti bahwa hukum bernegara kita itu akan berbelit-belit dan sulit sekali untuk diaplikasikan. Padahal, dia mengatakan itu ribuan tahun yang lalu.

            Jika yang berseteru dan bertempur rebutan warisan itu berhenti, mereka merasakan kelelahan luar biasa. Di samping itu, akan terbuka lebarlah kondisi warisan yang mereka perebutkan itu. Artinya, terbukalah dengan terang bahwa kekuasaan politik, ekonomi, dan sumber daya alam Indonesia itu sudah dikendalikan oleh orang lain, yaitu orang-orang kaya yang punya banyak uang dan kekuasaan. Mereka yang berkelahi itu sebenarnya tidak mendapatkan apa-apa, kecuali sedikit, apalagi rakyat yang biasanya paling menderita.

            Setelah sadar dan terbuka semuanya, atas izin Allah swt, para elit pun merasa malu. Mereka mulai berlepas tangan dan menyusup ke ketiak orang-orang lain, para penguasa baru, untuk mendapatkan perlindungan. Mereka ketakutan disalahkan telah menggadaikan asset bangsa ini kepada para pemilik modal besar, entah asing, entah dalam negeri, sebagaimana prediksi Prabu Silwangi:

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara.

            Tanda-tandanya sudah jelas bukan?

Bukankah sedikit demi sedikit kita menyadari bahwa sudah sangat banyak harta kekayaan Negara Indonesia hanya dimiliki dan dikendalikan segelintir orang, bahkan dinikmati pihak asing, bukan oleh rakyat sebagai pemiliki sah negeri ini?

Pada masa depan akan lebih terbuka lagi semuanya sekaligus siapa saja orang-orang yang telah menggadaikan bangsa ini untuk kepentingan para kapitalis.
        
        Huru-hara ini mudah dipahami penyebabnya, yaitu karena kita menggunakan sistem politik kampungan hina dina yang bernama demokrasi. Sistem politik demokrasi itu sudah terbukti nyata membuat kerusakan di muka Bumi dan menjadi ibu lahirnya berbagai kecurangan dan kerusuhan di antara umat manusia. Demokrasi memang tabiatnya merusakkan banyak hal.
           
          Prabu Siliwangi sudah mengingatkan akibat-akibat dari dilaksanakannya sistem politik kotor yang namanya demokrasi ini. Perhatikan:

            Dalam bahasa Sunda: 

Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Dalam bahasa Indonesia:

Makin lama makin lama, banyak raksasa yang jahat. Mereka menyuruh menyembah lagi berhala. Pergaulan anak muda salah jalan. Kesalahan pergaulan itu diakibatkan oleh salahnya aturan dari pemerintah. Undang-undang dan hukum hanya ada di mulut dan dalam diskusi-diskusi kosong tanpa bisa ditegakkan dengan benar. Hal itu disebabkan para pejabatnya bukan ahlinya, buah padi banyak yang tidak masuk ke dapur rakyat. ........................ Salah sendiri mempercayakan kebun kepada orang yang gemar berdusta, petaninya suka mengumbar janji palsu, orang-orang pintar terlalu banyak, tetapi pinternya keblinger.

            Raksasa yang jahat itu adalah para elit, baik politik maupun ekonomi yang suka menipu, berbohong, ingkar janji, mengumbar fitnah, memanas-manasi situasi, dan serakah.

Berhala yang harus disembah adalah berhala demokrasi. Mereka terus memuja dan menyembah demokrasi. Menurut mereka, sistem demokrasi adalah yang terbaik, padahal terburuk dari yang pernah ada. Plato pun yang filsuf barat mencela demokrasi. Mereka selalu menolak tanpa pengetahuan jika demokrasi disebut buruk. Mereka mengagungkan demokrasi dan menganggap diri cerdas, maju, brilian karena telah menggunakan sistem politik sampah yang disebut demokrasi.

Undang-undang dan hukum sering sekali terdistorsi oleh kekuatan kekuasaan dan uang sehingga sering mengalami penyimpangan. Tak aneh jika banyak penegak hukum yang malah melanggar hukum.

Para pejabat dalam sistem demokrasi kerap didasari pada kepentingan politik atau pragmatis, bukan integritas dan kecakapan. Hal itu disebabkan dalam sistem demokrasi selalu ada kepentingan yang bermain di belakang layar yang harus dilayani oleh penguasa karena kekuasaan yang didapatkan dalam sistem demokrasi selalu harus bermitra dengan pemegang uang banyak dan orang-orang yang punya pengaruh kuat untuk mempengaruhi rakyat agar memilih dirinya. Akibatnya, cita-cita besar untuk mewujudkan kemakmuran rakyat pun terpaksa harus terhambat karena berbagai kepentingan yang melilitnya. Akhirnya, rakyat-rakyat juga yang rugi. Negara juga yang sengsara. Oleh sebab itu, Prabu Siliwangi menyindir:

Salah sendiri mempercayakan kebun kepada orang yang gemar berdusta, petaninya suka mengumbar janji palsu, orang-orang pintar terlalu banyak, tetapi pinternya keblinger.

Sekali lagi, saya tidak suka kalau ramalan huru-hara ini terjadi. Akan tetapi, jika semua pihak tak mampu kembali kepada jati diri yang suci dan murni, yaitu Pancasila, ramalan itu memang inevitable, ‘tak bisa dihindari’.

Silakan berdemokrasi dan nikmati huru-hara.

Saturday, 18 June 2011

Takdir Kehancuran Indonesia

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam tulisan beberapa waktu lalu saya mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara super power baru yang mengimbangi Amerika Serikat. Hal itu didasarkan pada beragam prediksi, baik luar negeri maupun dalam negeri. Saat ini apalagi kaum muda semakin memiliki semangat untuk maju dalam berbagai bidang. Presiden SBY sendiri mengatakan dalam pidatonya kemarin-kemarin saat pertemuan ekonomi dengan para pengusaha muda bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan “percaya diri”. Itu tidaklah salah. Buktinya, coba saja sekarang pembaca ukur kedalaman hati diri sendiri, pasti sedang dalam keadaan bersemangat cinta tanah air dan gemas tidak sabar ingin segera berjaya di muka Bumi. Iya kan? Jangan tahan keinginan itu, biarkan meledak sejadi-jadinya.

Akan tetapi, sebelum masa kejayaan itu benar-benar terjadi secara nyata, Indonesia akan mengalami dahulu kehancuran dan kegagalan luar biasa dalam proses berbangsa dan bernegara. Hal itu disebabkan masa ini adalah masanya kegelapan, kejahatan, fitnah, dusta, dan kerusakan berkuasa di muka Bumi. Indonesia kini berada di dalam ujung kekusutan tersebut. Dalam istilah Jawa disebut kalabendu, ‘waktunya kemarahan’. Waktunya bagi alam untuk memuntahkan kemarahannya akibat dari ketimpangan yang dilakukan manusia sekaligus waktunya bagi orang-orang terpinggirkan untuk mendesakkan keinginannya sekuat-kuatnya menjatuhkan orang-orang licik, jahat, angkuh, sombong, pongah, dan brutal.

Hal tersebut senada dengan yang sering diucapkan oleh mantan Menpora Adhiyaksa Dault yang mengutip pendapat seorang profesor asing bahwa Indonesia adalah negara berkembang yang sedang mengalami penurunan untuk kemudian berubah menjadi negara yang gagal. Demikian pula Amien Rais mengatakan bahwa Indonesia sudah bisa dibilang sebagai negara yang gagal (2008).

Kegagalan dan kehancuran Indonesia tak bisa dihalang-halangi karena sudah seharusnya terjadi. Sebagaimana saya katakan tadi, sekarang ini adalah hampir puncaknya kejahatan kehidupan. Kalau sudah puncak, berarti tak ada jalan lain, kecuali jalan menurun. Jika kita mendaki puncak gunung, setelah puncak, pasti akan menemui jalan turun.

Umar bin Khattab mengatakan bahwa segala sesuatu yang telah sempurna, pasti mengalami kekurangan dan kebusukan. Untuk lebih mudah memahaminya begini Saudara, kita lihat buah di pohon, buah apa saja. Buah itu berawal dari bunga yang kemudian menguncup, lalu menjadi buah yang teramat kecil, dalam bahasa Sunda disebut pentil. Warnanya hijau sangat muda. Buah pentil tersebut membesar, lama-lama warnanya pun berubah hijau rada-rada merah. Semakin tumbuh, semakin matang. Sampailah pada suatu titik puncak kematangan. Warnanya merah matang, menggiurkan, manis rasanya. Akan tetapi, tak ada jalan lain setelah puncak kematangan adalah kebusukan. Lambat laun, buah matang yang merah menggairahkan itu berkurang indahnya, berkurang rasa nikmatnya, mengeriput, busuk dan busuk, lalu jatuh. Setelah kesempurnaan adalah kebusukan.

Hal itu terjadi terhadap hal apa saja dan di mana saja, kecuali terhadap Allah swt. Wanita cantik yang telah mencapai kesempurnaan, pasti akan mengalami pengurangan kecantikannya, akhirnya mati. Begitu kan? Setiap manusia jika sudah sampai titik puncak hidupnya, akan mengalami penurunan, kelemahan, sakit, belum mati, tetapi pasti bakal mati, nggak mati juga, pengen mati, akhirnya tetap mati.

Demikian pula Indonesia tercinta, kita ini berada di ujung kejahatan, hampir berada di puncak kehancuran, tetapi belum hancur, nanti juga bakal hancur. Setelah berada di titik puncak kehancuran, kekacauan, dan kesemrawutan, negeri ini akan gagal total. Akan tetapi, kegagalan itu sekaligus membuka era baru, yaitu era kalasuba, ‘zaman kemuliaan’. Situasi dan kondisinya jauh sekali berbeda daripada sekarang. Setelah kejahatan mencapai puncaknya, kejahatan pun akan berkurang energinya, artinya jalan kebaikanlah yang mulai bersinar.

Tenang, Indonesia memang akan hancur karena masih diselimuti kejahatan. Kejahatan itulah yang akan hancur. Negaralah yang akan hancur, bukan bangsa. Negara Indonesia memang akan hancur, tetapi bangsa Indonesia tetap tegak berdiri. Bagi orang-orang yang memiliki senjata kehidupan berupa tritunggal nan suci, yaitu: sikap benar, lurus, dan jujur, tak perlu risau, tak perlu sedih. Saudara-saudara pasti selamat, pasti bahagia. Saudara-saudaralah yang akan terlebih dahulu menikmati masa kejayaan Indonesia. Allah swt tak pernah menyia-nyiakan orang baik-baik. Allah swt hanya mencoba kita dengan berbagai kegetiran. Orang-orang yang hatinya jahil dan berlindung di balik sistem politik jahatlah yang akan menuai kehancuran. Itu pasti. Lihat saja sudah tahu jahat masih berbohong juga. Sudah tahu punya teman ngaco, masih dibela juga. Itu artinya mereka memiliki hati yang jahil. Mereka kira akan selamat, padahal tidak sama sekali tidak. Mereka pikir kekuasaan dan kekayaannya akan menjamin kejahatan mereka, padahal tidak sama sekali tidak.

Tidak mungkin Indonesia mengalami masa kejayaan dan kemakmuran jika kejahatan masih belum hancur. Sama tidak mungkinnya buah menjadi busuk tanpa melewati masa matang. Kejahatan harus matang dulu, harus berkibar dulu sampai puncaknya merusakkan rakyat, barulah terjadi panen besar-besaran. Sabit-sabit dan golok-golok kebaikan akan menebas buah kejahatan yang sudah sangat matang. Saat selesai sabit-sabit dan golok-golok itu penuh darah karena memenggal kepala-kepala kejahatan, kezaliman pun mati berlumuran dosa. Mulailah era kejayaan, kemakmuran, kemuliaan, dan kebahagiaan. Hanya orang-orang benar, lurus, dan jujur sajalah yang akan berdiri tegak dan kokoh pada masa keagungan. Oleh sebab itu, milikilah senjata kehidupan berupa tritunggal nan suci, yaitu sikap benar, lurus, dan jujur.

Senjata itu ada yang dimiliki langsung sebagai pemberian atau hadiah dari Allah swt. Adapula yang dimiliki setelah proses upaya penempaan diri, riyadhah. Orang yang diberi langsung sikap mulia tersebut adalah orang yang “didekatkan” kepada Allah swt. Adapun orang yang memilikinya melalui proses upaya adalah orang yang “mendekat” kepada Allah swt.

Indonesia hancur karena di samping memang sudah terlalu banyak kejahatan, juga berlaku jahat kepada orang-orang baik yang memberikan peringatan. Orang-orang baik yang memperingatkan bahaya kejahatan itu tidak didengar, malahan sebagian ada yang dimasukkan penjara. Keterlaluan memang. Perilaku menganiayai orang-orang baik itulah juga yang memicu hukuman dari Allah swt kepada bangsa dan negara ini.

Sudah menjadi kebiasaan Allah swt jika ingin menghancurkan negeri-negeri, jika hendak menurunkan azab, jika berketetapan menjatuhkan bencana, terlebih dahulu memberikan peringatan agar kaum dimaksud kembali ke jalan yang benar. Jika kaum itu mematuhi seruan Allah swt, selamatlah. Jika tidak, Allah swt akan menghancurkannya.

“Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberikan peringatan.” ( QS Asy Syu’araa : 208)

“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al Israa : 16)

“Tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS Al Qashash : 59)

Bencana alam sudah lebih dahulu nyata dan akan terus berlanjut sampai puncaknya, kemudian berhenti bebarengan dengan hancurnya kejahatan manusia. Sudahlah kita pasrah saja, tak ada gunanya menolak bencana.

Kata Syekh Abdul Qadir Jaelani, “Kalaulah bencana itu datang, terimalah dengan pasrah, jangan ditolak. Jangan dilawan sekalipun dengan doa. Sebaiknya, mintalah kepada Allah swt kekuatan untuk tetap tegar dan kuat menghadapi bencana. Berperilakulah untuk tetap baik.”

Jangan ditolak karena memang sudah waktunya datang. Itu sudah menjadi ketetapan Illahi. Bencana tak bisa dihalangi, sebagaimana kita tidak bisa menghalangi datangnya malam untuk menggantikan siang.

Ada gambaran kekisruhan yang bakal bahkan mungkin sedang terjadi di Indonesia dalam puncak kejahatan menurut Prabu Siliwangi.

Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara.

Dalam darmagandhul:

Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit, sorenya telah meninggal dunia.

Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat, persis lautan pasang.

Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besar pun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal, sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikit pun.

Menurut R. Ng. Ronggowarsito:

Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati. Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya. Para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu. Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita, dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat. Kejahatan, perampokan, dan pemerkosaan makin menjadi-jadi serta banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.

Alam pun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana Matahari dan Bulan, hujan abu dan gempa Bumi. Angin ribut dan salah musim. Banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram di hati.

Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tatatertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan. Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah dan kesulitan bagi banyak orang.

Para pemimpin mengatakan seolah-olah bahwa semua berjalan dengan baik, padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.

Menurut Jayabaya:

Raja tidak menepati janji. Kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya. Banyak rumah di atas kuda. Orang makan sesamanya. Kayu gelondongan dan besi juga dimakan, katanya enak serasa kue bolu. Malam hari semua tak bisa tidur.

Yang gila dapat berdandan. Yang membangkang semua dapat membangun rumah, gedung-gedung megah.

Orang berdagang barang makin laris, tetapi hartanya makin habis. Banyak orang mati kelaparan di samping makanan. Banyak orang berharta, namun hidupnya sengsara.

Orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil. Yang tidak dapat mencuri dibenci. Yang pintar curang jadi teman. Orang jujur semakin tak berkutik. Orang salah makin pongah. Banyak harta musnah tak jelas larinya. Banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab.

Begitulah sedikit gambaran yang terjadi pada masa-masa kekalutan Indonesia. Sesungguhnya, masih banyak yang bisa ditulis, tetapi akan terlalu panjang. Lain kali mungkin bisa ditulis dalam bahasan yang lain.

Meskipun demikian, kita tidak perlu berkecil hati karena zaman kekalutan dan kejahatan akan segera sirna jika sudah mencapai puncaknya. Indonesia tidak akan pecah seperti Unisoviet atau negeri-negeri Balkan. Indonesia tetap bersatu dan kuat, bahkan lebih tegak dengan catatan kejahatan dan para penjahat harus hancur dulu. Setelah kesulitan, akan tiba kemudahan. Itu pasti, sebagaimana janji Allah swt.

“Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh, setelah kesulitan ada kemudahan.” (QS : Alam Nasyrah 5-6)

Dua kali Allah swt mengatakan hal tersebut dalam satu surat pendek. Itu artinya, pasti pasti pasti pisan sekali. Setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah jalan terjal mendaki ada jalan turun menyenangkan. Setelah kejahatan, ada keadilan dan kemakmuran. Demi Allah swt.

Ingatlah untuk memiliki senjata tritunggal nan suci: benar, lurus, dan jujur. Mari kita songsong zaman kemuliaan bersama-sama.