Showing posts with label Super Power. Show all posts
Showing posts with label Super Power. Show all posts

Sunday, 23 October 2011

Indonesia Negara Super Power ke Berapa?


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Akhir-akhir ini marak beredar ramalan-ramalan yang mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara super power. Ramalan-ramalan itu berasal dari para ahli ekonomi, militer, politik, serta spiritual. Seluruhnya mengatakan bahwa Indonesia benar-benar akan menjadi negara yang sangat diperhitungkan di dunia. Tak ada pertentangan tentang hal tersebut. Hal yang masih menjadi pertanyaan adalah Indonesia berada di urutan ke berapa dalam percaturan politik dunia?
            Dari berbagai ahli tersebut, terdapat berbagai pendapat. Ada yang mengatakan Indonesia akan berada di urutan kelima, ketujuh, atau kesembilan. Bahkan, Malaysia agak mengingkarinya dengan mengatakan Indonesia memang akan menjadi negara maju, tetapi bukan super power. Mereka semua punya alasan dan perhitungan masing-masing berdasarkan disiplin ilmunya yang rata-rata masuk akal, kecuali Malaysia yang dicampuri rasa iri dan dengki. Akan tetapi, bagi saya, Indonesia tidak akan menjadi nomor 2, 3, 5, 7, atau 9. Indonesia akan menjadi setara dengan Amerika Serikat, berimbang. Indonesia dan Amerika Serikat akan menjadi partner, kawan bersaing, sekaligus musuh yang sama kuatnya. Indonesia akan bertahan dari perampokan yang dilakukan kapitalis, sementara AS akan berputar-putar terus mencari pintu untuk ingin ikut kebagian harta kekayaan alam Indonesia. Itulah yang saya sebut akan menjadi musuh sekaligus partner dalam percaturan hubungan internasional. Indonesia tak pernah memiliki niat untuk menguasai negeri lain, berbeda dengan AS yang selalu melelahkan dirinya untuk menguasai orang lain.
            Orang-orang ahli dalam berbagai bidang yang mengatakan Indonesia akan menjadi nomor 5, 7, atau 9, semuanya didasarkan pada perhitungan dunia yang bisa diraba dan dikalkulasikan. Akan tetapi, mereka semua tampaknya lupa bahwa ada yang tidak bisa dihitung  dengan ilmu-ilmu mereka. Segala hal yang tidak bisa diprediksikan itu saat ini benar-benar mempengaruhi kehidupan dunia, misalnya, bencana alam, perang, huru-hara, terorisme, dan tindakan kriminalitas yang sporadis. Hal-hal itulah yang nanti akan mengecoh perhitungan-perhitungan mereka. Mereka lupa bahwa Allah swt memiliki skenario sendiri yang masih dirahasiakan-Nya. Mereka pun sangat tidak memahami bahwa Allah swt akan meneguhkan kedudukan para hamba-Nya yang berperilaku benar untuk berkuasa di muka Bumi ini.
            Contoh yang teramat nyata terjadi di dunia ini adalah munculnya Amerika Serikat menjadi negara super power utama. Tahukah pembaca sekalian mengapa Amerika Serikat menjadi negara super power? Mungkin ada yang menyangka bahwa mereka itu hebat, pekerja keras, dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Dalam kenyataannya, itu cuma sangkaan belaka. Tidak seperti itu kejadiannya. AS menjadi super power lebih diakibatkan oleh kondisi negara-negara di luar dirinya. Saat itu negeri-negeri Eropa sedang luluh lantak akibat pertikaian di antara mereka sendiri dan Benua Asia sedang mengalami kerusakan hebat akibat dari penjajahan yang dilakukan orang-orang kapitalis berkulit putih plus Jepang. Jadi, saat Eropa rusak dan Asia menggelepar, AS selamat tidak ikut campur pertikaian di kalangan Eropa dan tidak sedang menderita akibat penjajahan. Seandainya Eropa tidak bertikai dan Asia tidak dirusakkan penjajahan, AS tidak akan menjadi negara super power. AS hanya  akan menjadi negara barat yang cukup maju, tetapi berada jauh di bawah Asia. Adapun Eropa akan tetap berada dalam nasibnya seperti namanya sendiri Eropa yang diucapkan mereka sendiri yureup yang dalam bahasa Arab aurab yang artinya buruh, karyawan, pekerja, atau pegawai yang bekerja pada majikan-majikan bangsa Arab dan Asia.
            Melihat contoh kenyataan yang terjadi pada AS, Indonesia sangat berpeluang menjadi negara adidaya yang muncul akibat hal-hal yang tidak bisa diprediksi berbagai ilmu pengetahuan konvensional. Indonesia memuncak karena keinginan Allah swt sendiri yang mengirimkan “orang kepercayaan-Nya” untuk menggubah sejarah, sistem, dan tindak-tanduk sesat elit dan masyarakatnya, kemudian dikembalikan pada nilai-nilai luhurnya sendiri. Kita lihat saja nanti.
Bersikaplah yang baik sampai saat itu tiba karena Allah swt akan memilih orang-orang terbaik untuk memenuhi Bumi ini dengan kebaikan setelah sebelumnya Bumi ini dipenuhi kemaksiatan yang bernama demokrasi. Bijaklah dalam mengambil langkah agar Anda menjadi orang yang beruntung, baik sekarang di dunia ini maupun nanti di alam akhirat.




Saturday, 18 June 2011

Takdir Kehancuran Indonesia

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam tulisan beberapa waktu lalu saya mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara super power baru yang mengimbangi Amerika Serikat. Hal itu didasarkan pada beragam prediksi, baik luar negeri maupun dalam negeri. Saat ini apalagi kaum muda semakin memiliki semangat untuk maju dalam berbagai bidang. Presiden SBY sendiri mengatakan dalam pidatonya kemarin-kemarin saat pertemuan ekonomi dengan para pengusaha muda bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan “percaya diri”. Itu tidaklah salah. Buktinya, coba saja sekarang pembaca ukur kedalaman hati diri sendiri, pasti sedang dalam keadaan bersemangat cinta tanah air dan gemas tidak sabar ingin segera berjaya di muka Bumi. Iya kan? Jangan tahan keinginan itu, biarkan meledak sejadi-jadinya.

Akan tetapi, sebelum masa kejayaan itu benar-benar terjadi secara nyata, Indonesia akan mengalami dahulu kehancuran dan kegagalan luar biasa dalam proses berbangsa dan bernegara. Hal itu disebabkan masa ini adalah masanya kegelapan, kejahatan, fitnah, dusta, dan kerusakan berkuasa di muka Bumi. Indonesia kini berada di dalam ujung kekusutan tersebut. Dalam istilah Jawa disebut kalabendu, ‘waktunya kemarahan’. Waktunya bagi alam untuk memuntahkan kemarahannya akibat dari ketimpangan yang dilakukan manusia sekaligus waktunya bagi orang-orang terpinggirkan untuk mendesakkan keinginannya sekuat-kuatnya menjatuhkan orang-orang licik, jahat, angkuh, sombong, pongah, dan brutal.

Hal tersebut senada dengan yang sering diucapkan oleh mantan Menpora Adhiyaksa Dault yang mengutip pendapat seorang profesor asing bahwa Indonesia adalah negara berkembang yang sedang mengalami penurunan untuk kemudian berubah menjadi negara yang gagal. Demikian pula Amien Rais mengatakan bahwa Indonesia sudah bisa dibilang sebagai negara yang gagal (2008).

Kegagalan dan kehancuran Indonesia tak bisa dihalang-halangi karena sudah seharusnya terjadi. Sebagaimana saya katakan tadi, sekarang ini adalah hampir puncaknya kejahatan kehidupan. Kalau sudah puncak, berarti tak ada jalan lain, kecuali jalan menurun. Jika kita mendaki puncak gunung, setelah puncak, pasti akan menemui jalan turun.

Umar bin Khattab mengatakan bahwa segala sesuatu yang telah sempurna, pasti mengalami kekurangan dan kebusukan. Untuk lebih mudah memahaminya begini Saudara, kita lihat buah di pohon, buah apa saja. Buah itu berawal dari bunga yang kemudian menguncup, lalu menjadi buah yang teramat kecil, dalam bahasa Sunda disebut pentil. Warnanya hijau sangat muda. Buah pentil tersebut membesar, lama-lama warnanya pun berubah hijau rada-rada merah. Semakin tumbuh, semakin matang. Sampailah pada suatu titik puncak kematangan. Warnanya merah matang, menggiurkan, manis rasanya. Akan tetapi, tak ada jalan lain setelah puncak kematangan adalah kebusukan. Lambat laun, buah matang yang merah menggairahkan itu berkurang indahnya, berkurang rasa nikmatnya, mengeriput, busuk dan busuk, lalu jatuh. Setelah kesempurnaan adalah kebusukan.

Hal itu terjadi terhadap hal apa saja dan di mana saja, kecuali terhadap Allah swt. Wanita cantik yang telah mencapai kesempurnaan, pasti akan mengalami pengurangan kecantikannya, akhirnya mati. Begitu kan? Setiap manusia jika sudah sampai titik puncak hidupnya, akan mengalami penurunan, kelemahan, sakit, belum mati, tetapi pasti bakal mati, nggak mati juga, pengen mati, akhirnya tetap mati.

Demikian pula Indonesia tercinta, kita ini berada di ujung kejahatan, hampir berada di puncak kehancuran, tetapi belum hancur, nanti juga bakal hancur. Setelah berada di titik puncak kehancuran, kekacauan, dan kesemrawutan, negeri ini akan gagal total. Akan tetapi, kegagalan itu sekaligus membuka era baru, yaitu era kalasuba, ‘zaman kemuliaan’. Situasi dan kondisinya jauh sekali berbeda daripada sekarang. Setelah kejahatan mencapai puncaknya, kejahatan pun akan berkurang energinya, artinya jalan kebaikanlah yang mulai bersinar.

Tenang, Indonesia memang akan hancur karena masih diselimuti kejahatan. Kejahatan itulah yang akan hancur. Negaralah yang akan hancur, bukan bangsa. Negara Indonesia memang akan hancur, tetapi bangsa Indonesia tetap tegak berdiri. Bagi orang-orang yang memiliki senjata kehidupan berupa tritunggal nan suci, yaitu: sikap benar, lurus, dan jujur, tak perlu risau, tak perlu sedih. Saudara-saudara pasti selamat, pasti bahagia. Saudara-saudaralah yang akan terlebih dahulu menikmati masa kejayaan Indonesia. Allah swt tak pernah menyia-nyiakan orang baik-baik. Allah swt hanya mencoba kita dengan berbagai kegetiran. Orang-orang yang hatinya jahil dan berlindung di balik sistem politik jahatlah yang akan menuai kehancuran. Itu pasti. Lihat saja sudah tahu jahat masih berbohong juga. Sudah tahu punya teman ngaco, masih dibela juga. Itu artinya mereka memiliki hati yang jahil. Mereka kira akan selamat, padahal tidak sama sekali tidak. Mereka pikir kekuasaan dan kekayaannya akan menjamin kejahatan mereka, padahal tidak sama sekali tidak.

Tidak mungkin Indonesia mengalami masa kejayaan dan kemakmuran jika kejahatan masih belum hancur. Sama tidak mungkinnya buah menjadi busuk tanpa melewati masa matang. Kejahatan harus matang dulu, harus berkibar dulu sampai puncaknya merusakkan rakyat, barulah terjadi panen besar-besaran. Sabit-sabit dan golok-golok kebaikan akan menebas buah kejahatan yang sudah sangat matang. Saat selesai sabit-sabit dan golok-golok itu penuh darah karena memenggal kepala-kepala kejahatan, kezaliman pun mati berlumuran dosa. Mulailah era kejayaan, kemakmuran, kemuliaan, dan kebahagiaan. Hanya orang-orang benar, lurus, dan jujur sajalah yang akan berdiri tegak dan kokoh pada masa keagungan. Oleh sebab itu, milikilah senjata kehidupan berupa tritunggal nan suci, yaitu sikap benar, lurus, dan jujur.

Senjata itu ada yang dimiliki langsung sebagai pemberian atau hadiah dari Allah swt. Adapula yang dimiliki setelah proses upaya penempaan diri, riyadhah. Orang yang diberi langsung sikap mulia tersebut adalah orang yang “didekatkan” kepada Allah swt. Adapun orang yang memilikinya melalui proses upaya adalah orang yang “mendekat” kepada Allah swt.

Indonesia hancur karena di samping memang sudah terlalu banyak kejahatan, juga berlaku jahat kepada orang-orang baik yang memberikan peringatan. Orang-orang baik yang memperingatkan bahaya kejahatan itu tidak didengar, malahan sebagian ada yang dimasukkan penjara. Keterlaluan memang. Perilaku menganiayai orang-orang baik itulah juga yang memicu hukuman dari Allah swt kepada bangsa dan negara ini.

Sudah menjadi kebiasaan Allah swt jika ingin menghancurkan negeri-negeri, jika hendak menurunkan azab, jika berketetapan menjatuhkan bencana, terlebih dahulu memberikan peringatan agar kaum dimaksud kembali ke jalan yang benar. Jika kaum itu mematuhi seruan Allah swt, selamatlah. Jika tidak, Allah swt akan menghancurkannya.

“Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberikan peringatan.” ( QS Asy Syu’araa : 208)

“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al Israa : 16)

“Tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS Al Qashash : 59)

Bencana alam sudah lebih dahulu nyata dan akan terus berlanjut sampai puncaknya, kemudian berhenti bebarengan dengan hancurnya kejahatan manusia. Sudahlah kita pasrah saja, tak ada gunanya menolak bencana.

Kata Syekh Abdul Qadir Jaelani, “Kalaulah bencana itu datang, terimalah dengan pasrah, jangan ditolak. Jangan dilawan sekalipun dengan doa. Sebaiknya, mintalah kepada Allah swt kekuatan untuk tetap tegar dan kuat menghadapi bencana. Berperilakulah untuk tetap baik.”

Jangan ditolak karena memang sudah waktunya datang. Itu sudah menjadi ketetapan Illahi. Bencana tak bisa dihalangi, sebagaimana kita tidak bisa menghalangi datangnya malam untuk menggantikan siang.

Ada gambaran kekisruhan yang bakal bahkan mungkin sedang terjadi di Indonesia dalam puncak kejahatan menurut Prabu Siliwangi.

Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara.

Dalam darmagandhul:

Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit, sorenya telah meninggal dunia.

Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat, persis lautan pasang.

Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besar pun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal, sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikit pun.

Menurut R. Ng. Ronggowarsito:

Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati. Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya. Para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu. Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita, dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat. Kejahatan, perampokan, dan pemerkosaan makin menjadi-jadi serta banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.

Alam pun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana Matahari dan Bulan, hujan abu dan gempa Bumi. Angin ribut dan salah musim. Banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram di hati.

Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tatatertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan. Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah dan kesulitan bagi banyak orang.

Para pemimpin mengatakan seolah-olah bahwa semua berjalan dengan baik, padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.

Menurut Jayabaya:

Raja tidak menepati janji. Kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya. Banyak rumah di atas kuda. Orang makan sesamanya. Kayu gelondongan dan besi juga dimakan, katanya enak serasa kue bolu. Malam hari semua tak bisa tidur.

Yang gila dapat berdandan. Yang membangkang semua dapat membangun rumah, gedung-gedung megah.

Orang berdagang barang makin laris, tetapi hartanya makin habis. Banyak orang mati kelaparan di samping makanan. Banyak orang berharta, namun hidupnya sengsara.

Orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil. Yang tidak dapat mencuri dibenci. Yang pintar curang jadi teman. Orang jujur semakin tak berkutik. Orang salah makin pongah. Banyak harta musnah tak jelas larinya. Banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab.

Begitulah sedikit gambaran yang terjadi pada masa-masa kekalutan Indonesia. Sesungguhnya, masih banyak yang bisa ditulis, tetapi akan terlalu panjang. Lain kali mungkin bisa ditulis dalam bahasan yang lain.

Meskipun demikian, kita tidak perlu berkecil hati karena zaman kekalutan dan kejahatan akan segera sirna jika sudah mencapai puncaknya. Indonesia tidak akan pecah seperti Unisoviet atau negeri-negeri Balkan. Indonesia tetap bersatu dan kuat, bahkan lebih tegak dengan catatan kejahatan dan para penjahat harus hancur dulu. Setelah kesulitan, akan tiba kemudahan. Itu pasti, sebagaimana janji Allah swt.

“Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh, setelah kesulitan ada kemudahan.” (QS : Alam Nasyrah 5-6)

Dua kali Allah swt mengatakan hal tersebut dalam satu surat pendek. Itu artinya, pasti pasti pasti pisan sekali. Setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah jalan terjal mendaki ada jalan turun menyenangkan. Setelah kejahatan, ada keadilan dan kemakmuran. Demi Allah swt.

Ingatlah untuk memiliki senjata tritunggal nan suci: benar, lurus, dan jujur. Mari kita songsong zaman kemuliaan bersama-sama.



Sunday, 22 May 2011

Sandera Menyandera Menuju Indonesia Super Power

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Setelah semakin hari semakin nyata kehidupan demokrasi di Indonesia sangat merusakkan kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus mencerabuti setiap pribadi dari nilai-nilai luhurnya, banyak pengamat di berbagai media yang menyatakan bahwa saat ini banyak orang yang menyandera demokrasi untuk kepentingan politiknya sendiri atau banyak orang yang memperalat demokrasi untuk kepentingan sempitnya.

Sepertinya, pendapat atau pandangan itu benar, tetapi sebenarnya yang terjadi adalah kebalikannya, yaitu demokrasi telah menyandera orang-orang Indonesia sehingga berperilaku buruk. Orang-orang Indonesia itu pada dasarnya telah dilahirkan dengan maksud baik, dilekati nilai-nilai luhur teramat baik sejak dalam kandungan, dan punya cita-cita hidup menjadi orang baik-baik. Tidak ada satu suku pun di Indonesia ini yang memiliki nilai-nilai untuk menjerumuskan orang menjadi tidak baik. Seluruh suku di Indonesia ini memiliki nilai yang relatif sama dalam menjalani hidup, yaitu menahan hawa nafsu agar tidak tergoda kehidupan duniawi sehingga dapat hidup bahagia dan memperoleh karunia Tuhan. Saya sangat yakin 100% bahwa nilai-nilai seluruh suku di Indonesia ini lebih mementingkan ruhani dibandingkan materi. Akan tetapi, berawal dari kehadiran VOC yang memperkenalkan cara-cara hidup materialistis, nilai-nilai hidup kita bergeser dan jatuh dalam jurang kegelapan. Hal tersebut terus berlangsung sampai hari ini sehingga kita benar-benar tidak tahu lagi siapa diri kita sendiri dan selalu yakin bahwa hidup kita harus mencontoh cara hidup bangsa-bangsa lain, terutama barat. Padahal, orang-orang barat itu dipenuhi nafsu-nafsu keduniawian yang berlebihan. Zaman penjajahan fisik adalah bukti yang teramat nyata. Setelah zaman penjajahan itu berhenti karena semua wilayah jajahan di seluruh muka Bumi ini melawan, mereka tetap terus berupaya menjajah dengan cara-cara nonfisik sampai hari ini. Itu menunjukkan kepastian bahwa ada yang salah dalam isi kepala mereka. Di negeri ini saya yakin tak pernah ada seorang pun yang berniat melakukan penjajahan terhadap bangsa lain. Meskipun kelak Allah swt memberikan karunia besar kepada Indonesia dalam bidang militer dan berbagai bidang kehidupan lainnya, terutama ekonomi, tak akan ada niat untuk melancong, lalu merampok harta-harta negara orang. Indonesia memang akan menjadi negara teramat kuat, super power, tetapi tetap santun. Itu pasti terjadi. Insyaallah.

Tidak percaya bahwa Indonesia akan menjadi negara super power? Orang-orang bermental terjajah yang masih percaya pada demokrasi pasti mengatakan tidak mungkin atau mustahil. Wajar, mereka itu kan hidupnya bersandar pada pengetahuan yang mereka miliki dari bangku kuliah dan menjadikan pengetahuannya itu satu-satunya dasar untuk berpikir dan bertindak. Mereka tidak memiliki pengetahuan lain sehingga tidak memiliki kepercayaan pada diri sendiri bahwa kita, bangsa Indonesia, sebenarnya bisa memiliki struktur dan sistem politik baru yang berbeda daripada yang sudah dipelajari selama ini di muka Bumi ini. Kita sesungguhnya memiliki potensi luar biasa jika mau berkaca, bahkan menyelami diri sendiri.

Perhatikan ucapan Michael Gorbachev, mantan pemimpin Unisoviet, dalam sebuah acara talk show yang pernah disiarkan Metro TV, “Amerika Serikat adalah negara super power yang akan bertahan lama. Pada masa depan akan hadir kekuatan super power baru sehingga dunia akan kembali pada dua kutub. Kekuatan baru itu berasal dari Asia Tenggara. Kami bersama-sama pemimpin Eropa lainnya membentuk Unieropa adalah bertujuan untuk berada di tengah, di antara keduanya.”

Gorbachev itu bukan tukang ojek, para pemimpin Eropa pun bukan tukang becak. Mereka orang-orang terbaik di benuanya. Mereka sudah punya prediksi adanya kekuatan super power baru dari Asia Tenggara. Keyakinan yang kuat terhadap prediksi tersebut menggerakan Eropa membentuk Unieropa.

Dari pernyataan Gorbachev tersebut, kita bisa mengira-ngira negara mana yang akan menjadi super power. Di lingkungan Asia Tenggara, Indonesia adalah negara yang paling memungkinkan untuk menjadi adidaya.

Perhatikan lagi prediksi Nostradamus, peramal Yahudi yang pernah meramalkan ada dua karang besar yang dihancurkan oleh bola api dari langit. Ramalannya itu terbukti dengan nyata, yaitu hancurnya Menara Kembar WTC di AS yang sangat menghebohkan itu.

Nostradamus mengatakan, “Akan terpilih seorang pemimpin dari Timur. Kehadiran pemimpin baru itu akan menimbulkan penderitaan, kemelaratan, dan kemiskinan di daratan Eropa.”

Coba kita kira-kira lagi, negara mana di bagian timur dunia ini yang berpotensi besar menjadi negara super power? Negara Indonesia adalah negara yang sangat berpeluang untuk itu. Apalagi jika Indonesia berani melepaskan diri dari ketergantungan pada pihak kapitalis sejak hari ini, negeri-negeri asing kapitalis yang sampai kini ikut menikmati kekayaan alam Indonesia bisa tiba-tiba bergoncang, kemudian berangsur-angsur kekurangan harta.

Seluruh rakyat Indonesia pasti senang jika negerinya bisa kuat, makmur, dan berwibawa. Mereka yang tidak senang dipersilakan mengantri untuk mendapatkan karcis supaya bisa masuk rumah sakit jiwa yang terdekat.

Untuk bisa menjadi negara besar, kuat, dan makmur tersebut, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu membunuh demokrasi dengan segala bentuknya. Hal itu disebabkan demokrasi merupakan perusak utama nilai-nilai luhur bangsa dan kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Indonesia. Untuk lebih jelasnya mengenai keborokan demokrasi, silakan baca artikel-artikel di blog ini, banyak sekali kok. Selama kita menggunakan sistem politik demokrasi yang hina itu, selama itu pula kita akan tersesat dan terseok-seok dalam kebingungan.

Contoh nyata yang baru-baru ini terjadi adalah kongres PSSI. Dengan menggunakan demokrasi, semuanya berantakan, kacau balau. Hal itu bisa dimengerti karena banyaknya kepentingan yang terkait di sana. Semuanya memang mengatasnamakan demi sepak bola Indonesia, tetapi di dalamnya dipenuhi kepentingan lain. Kalau memang tak ada kepentingan pragmatis, mengapa harus babak belur? Kalau pemilihan-pemilihan lain kan sudah biasa semuanya berbunyi demi rakyat, tetapi masyarakat melihatnya sebagian besar bukan untuk itu, melainkan untuk kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, atau keluarganya.

Saudara-saudara sekalian, sejatinya, jika kita berupaya menghentikan demokrasi ataupun tetap memperjuangkan tegaknya demokrasi, sama sekali tidak akan mengubah takdir bahwa demokrasi itu pasti musnah. Upaya kita menghancurkan atau menegakkan demokrasi hanyalah menjadi ukuran atau alat untuk memisahkan orang-orang yang akan dipercaya Allah swt untuk memimpin negeri ini kelak dengan mereka yang akan menderita kerugian dan menanggung malu akibat kesombongannya. Hanya mereka yang mencintai negeri ini dengan setulus hatinyalah yang akan berada di depan menjadi masinis gerbong Indonesia masa depan. Cinta akan menjadi panglima, bukan lagi hukum, politik, atau ekonomi.

Perhatikan prediksi Jayabaya ratusan tahun silam berikut ini mengenai masa depan Indonesia.

Banyak hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian, Raja Kara Murka Kutila musnah. Kemudian kelak akan datang Tunjung Putih Semune Pudak Kasungsang. Lahir di Bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di Bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan Gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.

Setelah anomali iklim, bencana alam, bencana kemanusiaan, bencana politik, bencana ekonomi, dan bencana-bencana lainnya sempurna menghancurkan negeri ini, maka Raja Kara Murka Kutila pun musnah. Raja Kara Murka itu artinya para pemimpin yang saling jegal, saling menjatuhkan. Kutila itu artinya demokrasi atau reformasi. Maksudnya adalah zaman atau era para pemimpin saling jegal sebagai ciri khas demokrasi yang menyuarakan reformasi itu akan musnah, hilang, hancur. Kemudian, tampil pemimpin baru yang memiliki sifat nasionalis-religius, sebagaimana yang disampaikan Jayabaya tadi, berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa, ‘punya dua istana, yaitu satu di Mekah dan satu lagi di Indonesia’. Maksudnya, pemimpin yang taat menjalankan ajaran Islam serta sangat mencintai rakyat dan tanah airnya. Pemimpin ini akrab di telinga masyarakat Indonesia dengan sebutan Ratu Adil.

Setelah demokrasi hancur, yang harus dilakukan adalah kembali pada cita-cita murni dari Proklamasi RI, Preambul UUD 1945, Pancasila, Sumpah Pemuda, dan Bhineka Tunggal Ika titik. Itulah yang akan menjadi dasar pemikiran terbentuknya sistem politik baru yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia, bukan lagi meniru-niru cara hidup orang lain.

Perhatikan bagaimana keadaan masa depan Indonesia menurut Prabu Siliwangi ratusan tahun silam.

Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui, tapi engké lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat. Urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa jaya, jaya deui sabab ngadeg Ratu Adil. Ratu Adil nu sajati.

Artinya:

Dengarkan semuanya! Zaman bakalan ganti lagi, tetapi nanti setelah Gunung Gede meletus yang disusul meletusnya tujuh gunung. Gempar lagi seluruh dunia. Orang Sunda dipanggil-panggil. Orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Senegara bersatu lagi. Nusa jaya, jaya lagi sebab berdiri Ratu Adil. Ratu Adil yang sejati.

Prabu Siliwangi mengatakan hal itu ratusan tahun silam, tetapi sekarang benar-benar terjadi yang ditandai dengan adanya berita gunung meletus. Hal itu menandakan bahwa beliau sudah mengetahui bakal banyak bencana menimpa Indonesia. Kemudian, setelah itu, nusantara akan hidup berada dalam kejayaan dan tetap bersatu.

Ada dua pendapat mengenai Gunung Gede, yaitu bisa berarti gunung yang bernama Gede yang akan meletus sebagai pertanda perubahan zaman atau gunung yang berukuran besar karena gede dalam bahasa Sunda berarti besar. Kalau Gunung Gede yang akan meletus, berarti kita harus siap-siap mendapati bencana yang lebih besar daripada yang sudah-sudah karena ditambah lagi tujuh gunung yang akan meletus mengikutinya. Hal itu disebabkan Prabu Siliwangi mengatakannya dengan pasti, sedangkan Gunung Merapi yang sudah meletus menakutkan saja tidak disingung-singgung. Akan tetapi, kalau yang dimaksud gunung gede adalah gunung berukuran besar, berarti gunung itu adalah Gunung Merapi dan sudah meletus. Kita tinggal menunggu momen-momen penting perubahan zaman, bukan hanya Indonesia melainkan pula dunia secara keseluruhan.

Kondisi masa depan Indonesia dalam prediksi Jayabaya malah lebih lengkap, sebagaimana berikut.

Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh Ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan, senyumnya manis sekali.

Benar-benar raharja waktu itu tidak ada yang menghalang-halangi. Rakyat yang dikenakan pajak seribu dikurangi oleh Sang Prabu tinggal seratus dinar.

Sebelumnya, ada pertanda bintang pari panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur, lamanya tujuh malam, hilangnya menjelang pagi sekali bersama munculnya Batara Surya bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-larut.

Itulah tanda putera Batara Indra sudah tampak datang di Bumi untuk membantu orang Jawa.

Ini pendapatku, tetapi kelak akan muncul lagi, sudah menjadi kehendak Illahi, kembalinya wahyu nurbuat, nusantara kembali seperti zaman dahulu, seperti waktu kejayaan Majapahit, negeri yang mandiri secara pribadi.

Kemakmuran melimpah ruah, langgeng, tertib tenteram selamanya, hilanglah kedurjanaan, murah sandang pangan, pemimpin yang penuh tanggung jawab dan kasih sayang kepada rakyatnya, selalu tidak kekurangan uang, ibaratnya tanah satu hektar pajaknya satu rupiah.

Kelak, tanah yang sangat luas pajaknya hanya satu real, tidak ada tambahan pajak lainnya. Tunggulah saja hampir tiba saatnya kemuliaan untuk nusantara.

Tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.

Kembali ke soal penyanderaan dalam demokrasi. Demokrasi adalah cara-cara hidup orang lain, orang sono, yang jauhnya ribuan mil dari kita. Nilai-nilai yang mereka anut berbeda jauh dengan nilai-nilai luhur di Indonesia. Dengan digunakannya demokrasi, nilai-nilai hidup kita pun bergeser mengarah hidup seperti mereka yang dipenuhi kecurangan, konflik, korup, dusta, aniaya, grasa-grusu, gemar bertengkar, mudah membunuh, dan lain sebagainya. Itu artinya, demokrasilah yang menyandera orang-orang Indonesia sehingga berperilaku tidak terpuji, tidak patut. Tidak benar bahwa orang-orang Indonesia menyandera demokrasi.

Orang-orang yang akan memimpin Indonesia nanti adalah orang-orang berhati baik dan berperilaku benar. Keluhuran, kecerdasan, kejujuran, dan kemuliaan Prabu Siliwangi akan kembali hidup dalam jiwa-jiwa para pemimpin masa depan, masa Indonesia memegang kunci percaturan dalam pergaulan dunia.

Renungkan pernyataan Prabu Siliwangi ratusan tahun silam berikut ini.

Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi.

Dalam bahasa Indonesia:

Seluruh keturunan kalian akan aku kunjungi, tetapi hanya pada waktu yang diperlukan. Aku akan datang lagi menolong yang membutuhkan pertolongan, membantu yang kesusahan, tetapi hanya kepada mereka yang baik tingkah lakunya. Jika aku datang, tidak akan terlihat. Kalau aku berbicara, tidak akan terdengar. Memang aku akan datang. Akan tetapi, hanya kepada mereka yang baik hatinya, mereka yang memahami terhadap satu tujuan, mereka yang mengerti pada keharuman sejati, mereka yang memiliki empati tinggi dan tertata rapi pikirannya, serta yang baik tingkah lakunya. Kalau aku datang, tidak akan berupa dan tidak akan bersuara, tetapi memberi ciri dengan wewangian.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Prabu Siliwangi akan berkeliling mengunjungi keturunan Sunda di mana pun berada, tetapi hanya mengunjungi orang-orang Sunda yang kriterianya ditentukannya sendiri, sebagaimana tertulis di atas. Ia akan datang tanpa rupa dan tanpa suara, tetapi akan memberi ciri dengan wewangian. Ia akan datang kepada mereka yang memiliki ilmu pengetahuan, berhati bersih, berjiwa baik, dan berperilaku benar. Itu bisa berarti yang akan datang dan terus mengalir adalah ilmunya, jiwanya, semangatnya, cita-citanya, perilakunya, serta ketajaman pikiran dan kemampuan manajemen pemerintahannya. Sang Prabu akan datang berkeliling kepada orang-orang yang memiliki gelombang energi yang sama dengannya. Kesamaan energi itu bisa ada pada orang-orang yang kriterianya sesuai seperti yang disebutkan Sang Prabu sendiri.

Pernyataan Prabu Siliwangi di atas tidak hanya berlaku kepada orang-orang Sunda, tetapi juga kepada seluruh orang Indonesia. Siapa pun yang yang memiliki ilmu pengetahuan, berhati bersih, berjiwa baik, berempati tinggi dan tertata pikirannya, serta berperilaku benar akan mampu menjadi pemimpin Indonesia yang menjadi anutan seluruh rakyat sekaligus menjadikan Indonesia sebagai contoh keagungan bagi negara-negara lain.

Para pemimpin Indonesia yang memiliki kriteria demikian akan dapat membawa Indonesia sebagaimana zaman keemasan kejayaan Kerajaan Pajajaran, seperti yang diakui oleh sejarahwan Portugis yang bernama Tome Pires, “The Kingdom of Sunda is justly governed. They are true men."

Artinya, Kerajaan Sunda diperintah dengan adil. Mereka adalah orang-orang jujur.

Jika ingin berperan serta membangun bangsa dalam zaman keemasan, mulailah sejak saat ini menghindari demokrasi. Jangan takut. Takdir kejayaan bersama orang-orang yang benar. Kemuliaan masa depan adalah milik Indonesia.

Ingat, Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, Ir. Soekarno, berkata, ”Ubah saja yang perlu diubah. Jangan tedeng aling-aling!”

Ia pun menegaskan, “Dengan lebih teguh keyakinan bahwa nasib kita ada di dalam genggaman kita sendiri ..., dengan menolak tiap-tiap politik opportunisme dan tiap-tiap politik possibilisme, yakni tiap-tiap politik yang menghitung-hitung ini tidak bisa dan itu tidak bisa, maka kita bersama Mahatma Gandhi yang berkata, ‘Siapa mau mencari mutiara, haruslah berani selam ke dalam laut yang sedalam-dalamnya. Siapa yang dengan kecil hati berdiri di pinggir saja dan takut terjun ke dalam air, ia tak akan dapat sesuatu apa!’ Siapa yang menangkap dan kadang-kadang luput tangkapannya adalah lebih utama daripada siapa yang tidak menangkap sama sekali karena takut jika luput tangkapannya!”

Bagi umat Islam yang jumlahnya terbesar berada di republik ini harus segera mempertebal keimanan dan memperbanyak amal saleh. Keimanan dan amal saleh adalah dua hal mutlak yang akan dijadikan ukuran utama bagi Allah swt untuk memilih para leader di Indonesia dan seluruh muka Bumi ini, sebagaimana janji-Nya sendiri. Bukan rakyat lagi yang memilih, melainkan Allah swt secara langsung, sebagaimana Allah swt telah memilih orang-orang terbaik untuk menjadi para nabi dan rasul pada masa lalu.

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di Bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Akan tetapi, mereka yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS : An Nuur : 55)