Showing posts with label Muslim. Show all posts
Showing posts with label Muslim. Show all posts

Monday, 23 June 2025

Muslim dan Kristen Dibiarkan Mati Dibom

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Serangan Iran yang merupakan balasan atas aksi Israel yang secara tiba-tiba sepihak melakukan pemboman di Teheran, Iran, telah merusakkan banyak fasilitas di Israel. Banyak bangunan yang hancur di Israel. Hal itu membuat warga Israel berlarian jika mendapatkan serangan dari bom Iran. Mereka berusaha berjubel berdesakan memasuki “bunker”, ‘ruang bawah tanah perlindungan’, melarikan diri dari kematian akibat kemarahan bom Iran.

            Karena kekuatan Iran sangat besar, kematian dan ketakutan warga Israel menjadi sangat besar pula. Warga selalu bergegas berlindung mencapai bunker, tetapi jumlah bunker yang ada tidak dapat menampung seluruh pencari keselamatan itu. Akibatnya, tidak semua warga dapat berhasil mencapai bunker. Banyak di antara mereka yang terpaksa harus berada di luar. Itulah yang banyak menjadi korban bom Iran.

            Hal yang membuat kesal dan marah adalah ketika berdesakan mencari perlindungan ke dalam bunker, rakyat yahudi zionis Israel mengusir orang-orang Islam dan Kristen dari dalam bunker. Mereka melarang muslim dan Kristen untuk berlindung. Mereka hanya membolehkan Yahudi zionis untuk berlindung. Beberapa video antara muslim dan Kristen dengan kaum zionis memperlihatkan keributan untuk mendapatkan tempat di bunker. Padahal, baik muslim maupun Kristen di sana secara kewarganegaraan adalah warga Negara Israel. Para zionis itu sudah mempertontonkan sikap rasis dan diskriminatif. Memang tidak semua Yahudi seperti itu, hanya zionis yang punya keradikalan seperti itu.


Bunker di Israel (Foto: Riau Mandiri)


            Baik pemerintah zionis maupun rakyat zionis sama-sama tidak mempedulikan soal manusia dan kemanusiaan. Mereka telah terdoktrin bahwa hanya mereka yang boleh hidup di dunia. Ini adalah sikap yang menyalahi moral dan kemanusiaan. Mereka tak peduli rakyatnya sendiri jika berbeda pemahaman dengan mereka. Demokrasi dan kemanusiaan mereka adalah palsu.

            Sulit menciptakan perdamaian yang menjunjung tinggi kemanusiaan dengan orang-orang seperti itu. Mereka tampaknya lebih mendahulukan anjing dibandingkan manusia.

            Ilustrasi bunker di Israel saya dapatkan dari Riau Mandiri.

            Sampurasun.

Wednesday, 18 January 2023

Masjid Raya Al Jabbar Dibangun Menggunakan Dana Non-Muslim

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Selalu saja orang-orang yang iri dan takut terhadap Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat dan Ridwan Kamil ini membuat hasutan dan celoteh bodoh. Tujuan mereka jelas sekali tidak ingin Ridwan Kamil menjadi Presiden Republik Indonesia menggantikan Jokowi. Itu terucap jelas dari mulut mereka karena diupload ke berbagai media sosial. Karena rasa iri dan ketakutan, mereka selalu nyinyir. Rendah sekali hati dan otak mereka itu.

            Entah sadar atau tidak, hasutan mereka ini mulai memecah belah bangsa. Mereka menghasut nonmuslim bahwa Masjid Raya Al Jabbar itu dibangun dengan menggunakan dana yang berasal dari pajak nonmuslim juga dan menurut mereka itu tidak pantas karena nonmuslim tidak akan rela uang pajaknya digunakan untuk tempat ibadat muslim. Postingan-postingan mereka itu tentu saja banyak dikomentari nonmuslim yang tidak memahami pemerintahan. Oleh sebab itu, terbentuk pikiran bahwa Ridwan Kamil tidak adil dan jahat karena menggunakan dana nonmuslim untuk tempat ibadat kaum muslimin. Rakyat kita ini jarang membaca dan jarang berpikir kritis yang akibatnya mudah sekali ditipu.           

            Saya kasih tahu yang sebenarnya. Rakyat itu memiliki kewajiban membayar pajak, tetapi dalam penggunaan pajak itu diserahkan kewenangannya kepada para penyelenggara negara, baik eksekutif maupun legislatif, baik pemerintah maupun para wakil rakyat. Merekalah yang memiliki wewenang untuk menggunakan uang pajak rakyat agar dikembalikan lagi kepada rakyat dalam berbagai bentuk pembangunan.


Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ketika meninjau progres pembangunan Masjid Raya Al Jabbar (Foto: iNews Jabar) 


            Benar sekali bahwa dana untuk pembangunan Masjid Raya Al Jabbar ada yang berasal dari pajak nonmuslim. Itu tidak salah karena pajak muslim dan nonmuslim sudah bercampur di kas negara, tidak bisa lagi dibedakan. Pajak terbesar yang diterima negara sudah pasti berasal dari kaum muslimin dan sedikit dari nonmuslim karena mayoritas di Indonesia adalah pemeluk Islam. Dalam penggunaannya untuk tempat ibadat, sudah pasti ada yang digunakan untuk tempat ibadat kaum muslimin serta tempat ibadat nonmuslim.

            Uang pajak yang berasal dari kaum muslimin pun banyak digunakan untuk pembangunan, pemeliharaan, dan perbaikan tempat ibadat nonmuslim. Hal itu disebabkan penyelenggara negara tidak boleh hanya mementingkan satu golongon, tetapi wajib memperhatikan seluruh golongan yang diakui di Indonesia. Jadi, uang pajak yang mayoritas dari orang Islam itu digunakan untuk seluruh masyarakat.

            Apakah infrastruktur jalan, penerangan, perpustakaan, jembatan, pengamanan, distibusi makanan yang dibiayai oleh mayoritas umat Islam itu hanya untuk dinikmati orang Islam?

            Semua pemeluk agama menikmati bukan?

            Kalau mau dipisahkan berdasarkan agama, tentunya saudara-saudara nonmuslim kita tidak akan punya jalan dan fasilitas memadai karena jumlah pajaknya jauh lebih sedikit. Jadinya, nanti ada jalan untuk umat Islam dan ada jalan untuk  nonmuslim.

            Begitukah cara menggunakan uang pajak?

            Bodoh kalau begitu.

            Termasuk pula dalam pembangunan atau bantuan terhadap tempat ibadat. Uang pajak yang sudah masuk menjadi uang negara itu penggunaannya menjadi hak pemerintah dan wakil rakyat.

            Uang dari seluruh golongan itu ada yang digunakan untuk tempat ibadat kaum muslim  dan ada yang digunakan untuk tempat ibadat nonmuslim. Foto Ridwan Kamil ketika meninjau progres pembangunan Masjid Al Jabbar saya dapatkan dari iNews Jabar. Bangunan-bangunan gereja yang diakui pemerintah di Jawa Barat pun, baik pembangunannya, pemeliharaannya, perbaikannya, atau kegiatan-kegiatan yang ada di dalamnya menggunakan pula uang-uang pajak yang berasal dari umat Islam. Foto Gereja Bethel Protestan yang ada di Jln. Wastukencana, Bandung saya dapatkan dari Detikcom. Adapun foto Gereja Katedral Santo Petrus yang ada di Bandung saya dapatkan dari ANTARA News.


Gereja Bethel Protestan di Bandung (Foto: Detikcom)


Gereja Katedral Santo Petrus di Bandung (Foto: ANTARA News)


           Ada satu contoh menarik yang dilakukan Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas. Dia memberikan bantuan sejumlah satu milyar rupiah pada Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Paroki Katedral Jakarta, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Fotonya saya dapatkan dari Beritasatu com.


Bantuan satu milyar rupiah dari Menteri Agama RI untuk Gereja (Foto: Beritasatu.com)


            Dari mana uang satu milyar yang diberikan Yaqut untuk gereja itu?

            Sudah pasti jelas dari uang pajak mayoritas umat Islam dan minoritas nonmuslim. Jadi, jangan lagi bicara bodoh soal asal uang pembangunan Masjid Raya Al Jabbar yang juga di dalamnya ada uang nonmuslim. Uang itu sudah berada di dalam kas negara dan wajib digunakan untuk kepentingan umat, seluruh golongan yang  ada di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Barat.

            Paham, Bro?

            Jangan bodoh lagi, Bro!

            Sampurasun.

Tuesday, 19 May 2020

Zaman Akhir Vs Zaman Akhir Vs Zaman Akhir


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kisah-kisah zaman akhir ini selalu menarik perhatian orang, terutama orang-orang yang sedang tertindas, terancam, dan kebingungan tentang arah hidupnya. Suatu kaum yang sedang merasa tergeser, tersingkir, atau terhalang oleh kaum yang lain kerap menyandarkan hidupnya pada berbagai ramalan, prediksi, atau berita-berita masa depan.

            Dalam berita-berita itu kerap dikisahkan akan munculnya sosok pahlawan bagi kaumnya yang akan menyelamatkan kaumnya. Biasanya, sosok ini penuh dengan kekuatan, keimanan, dan keagungan. Dialah harapan umat untuk mengenyahkan segala kejahatan, kekejaman, kezaliman agar umatnya dapat sejahtera, berkuasa, dan penuh kemuliaan.

            Kisah ini beredar di antara umat manusia, di antara suku bangsa, dan di antara para pemeluk agama. Di lingkungan umat Islam diyakini adanya kehadiran Imam Mahdi dan Yesus as yang akan mengalahkan Dajal, Sang Raja Dusta, serta membawa kedamaian dan kemakmuran di muka Bumi di samping mengokohkan posisi politik kaum muslimin di dunia.

            Kisah zaman akhir ini bukan hanya dimiliki umat muslim, melainkan pula dimiliki umat Nasrani. Kaum kristiani percaya bahwa akan ada kebangkitan umat Kristen untuk memimpin dunia dan membimbing manusia keluar dari kegelapan. Beberapa sekte malah berani melakukan pembunuhan untuk terciptanya situasi zaman akhir yang sesuai dengan keyakinan mereka.

            Hal yang sama pun diyakini oleh umat Yahudi. Mereka sangat percaya bahwa diri mereka mirip Nabi Daud as yang menang bertarung melawan raksasa Goliath. Arab adalah yang dimaksud orang-orang Yahudi sebagai Goliath. Artinya, Yahudi adalah yang akan menguatkan Israel Raya dan memimpin dunia.

            Sesungguhnya, banyak hal yang bisa saya ungkapkan tentang kisah-kisah zaman akhir itu. Akan tetapi, terlalu panjang untuk ditulis di sini. Jika mau, saya bisa bikin buku berjilid-jilid soal zaman akhir ini dipandang dari tiga agama berbeda.

            Dalam tulisan kali ini saya ingin memberitahukan bahwa kisah-kisah zaman akhir itu dimiliki oleh kaum muslimin, kaum Nasrani, dan kaum Yahudi. Setiap kaum meyakini bahwa kaumnyalah yang akan menjadi pemimpin dunia. Orang Islam yakin bahwa orang Islam yang akan mengendalikan dunia pada masa akhir zaman. Orang Nasrani juga yakin bahwa merekalah yang akan benar-benar menguasai dunia. Demikian pula orang-orang Yahudi sangat kuat keyakinannya terhadap kehadiran Raja Yahudi yang ditunggu-tunggu untuk mengangkat kemuliaan Yahudi dan mengalahkan Goliath Arab.

            Hal yang sangat menarik adalah, baik kaum muslimin, Nasrani, maupun Yahudi sama-sama meyakini bahwa pada akhir zaman mereka akan terlibat perang besar di Yerusalem, tanah Palestina. Perbedaannya, setiap kelompok meyakini bahwa kelompoknyalah yang akan menang, sedangkan kelompok yang lainnya adalah para penjahat yang harus dikalahkan.

            Hal ini pula yang menjelaskan bahwa kekisruhan, kekalutan, kejahatan, kekejian, pembunuhan, ketidakadilan, kesengsaraan, pertengkaran, konflik di Yerusalem, Palestina tidak kunjung usai. Mereka selalu terlibat saling bunuh, saling culik, saling rusak, dan saling serang. Mereka tidak pernah bisa berhenti karena salah satunya adalah keyakinan terhadap kisah-kisah zaman akhir yang  memberitakan bahwa merekalah yang akan menjadi pemenang pertarungan di kawasan itu.

            Orang Islam yakin akan menang, Nasrani juga percaya mereka yang menjadi pemenangnya, Yahudi pun demikian pula sangat yakin akan menguasai dunia.

            Lalu, pertanyaannya sampai kapan kegoncangan dan saling bunuh itu akan berhenti?

            Jawaban orang Islam pastinya jika orang Islam berkuasa. Jawaban Nasrani juga begitu, jika Nasrani memegang kendali. Jawaban Yahudi apalagi, situasi akan terkendali jika Raja Yahudi yang mereka tunggu sudah hadir di muka Bumi.

            Semua saling klaim.

            Lalu, siapa yang paling benar?

            Setiap pemeluk agama akan mengklaim dirinya adalah yang paling benar. Ketika para pemeluk agama itu sedang saling klaim, di tanah Yerusalem, Palestina, terus terjadi pembunuhan-pembunuhan, kekerasan, banjir darah, penggusuran, penganiayaan yang korbannya adalah para pemeluk agama dari setiap pihak yang bertikai.

            Jadi, begitulah keyakinan tentang kisah zaman akhir versi muslim melawan zaman akhir versi Nasrani melawan zaman akhir versi Yahudi.

            Jadi, harus bagaimana atuh?




            Saya sebagai muslim, berharap bahwa kaum muslimin lebih dewasa, lebih rasional, dan lebih bijak dalam menyebarkan rahmat bagi semesta alam.

            Bagaimana caranya?

            Entar dululah. Sedikit-sedikit dulu menerangkannya, bisi pusing.

            BTW, bagi lulusan SMP/MTs yang mau meneruskan sekolah, bisa ke “MA Mawaddi di Kompleks Pondok Pesantren As Saadah, Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung”.

            Bagi lulusan MA/SMK/SMA yang mau meneruskan kuliah ke “Universitas Al-Ghifari”, klik http://pmb.unfari.ac.id , banyak beasiswanya lho.

            Sampurasun

Friday, 27 December 2019

Berkaca dari Hudaibiyyah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Perjanjian Hudaibiyyah dapat dikategorikan sebagai perjanjian internasional, perjanjian antara dua kekuasaan yang berbeda, yaitu antara Madinah yang dikuasai kaum muslimin dengan Mekah yang dikuasai kaum kafir.  Perjanjian itu mirip gencatan senjata untuk tidak saling membunuh, berperang. Kisah Perjanjian Hudaibiyyah sangat panjang, bisa dipelajari dari berbagai buku.

            Saya hanya menyoroti salah satu isi perjanjian tersebut yang menyebutkan bahwa “jika penduduk Mekah ke Madinah tanpa seizin walinya, harus dikembalikan ke Mekah, tetapi jika penduduk Madinah ke Mekah, tidak boleh dikembalikan ke Madinah.”

            Sedari awal, perjanjian ini tampak merugikan kaum muslim, bahkan para sahabat Nabi saw pun banyak yang protes dan kecewa kepada Muhammad saw. Dilihat dari penambahan jumlah orang, jelas kaum muslim mendapatkan kerugian karena jika datang ke Mekah, tidak boleh pulang ke Madinah. Sebaliknya, orang Mekah jika ke Madinah, harus dikembalikan ke Mekah. Kekecewaan kaum muslim terus berlanjut pada tahun-tahun awal pelaksanaan perjanjian itu.

            Beberapa sahabat Nabi saw dengan lugas protes kepada Nabi saw, “Apakah engkau akan membiarkan aku hidup bersama orang-orang kafir itu dengan perilaku mereka yang seperti itu?”

            Ucapan-ucapan semacam itu kerap sampai langsung kepada Nabi saw. Akan tetapi, Muhammad saw tetap mengharuskan mereka untuk kembali ke Mekah. Nabi Muhammad saw adalah orang yang selalu menepati janji dan tidak akan melanggar ucapannya sendiri. Oleh sebab itu, banyak kaum muslim yang pulang ke Mekah dengan tulus ikhlas, tetapi banyak pula yang pulang disertai rasa kesal dan kecewa. Bahkan, tidak sedikit yang pulang, tetapi tidak sampai ke Mekah. Mereka memilih hidup berada di tengah-tengah antara Mekah dan Madinah. Mereka tidak mau hidup bersama orang kafir di Mekah, tetapi mereka pun tidak bisa hidup di Madinah karena Nabi saw pasti mengusirnya.

            Kejadian-kejadian selanjutnya Islam semakin berkembang dan bertahap mencapai kemenangannya. Itulah buah dari konsistennya Nabi saw dalam mematuhi perjanjian internasional. Nabi saw kuat memegang janji hingga orang kafir sendiri yang melanggarnya yang membuat perjanjian itu sendiri batal dan kaum muslim akhirnya bisa menguasai Mekah, Kabah.

            Berkaca dari hal itu, umat Islam Indonesia pun harus mematuhi berbagai perjanjian yang dibuat, baik yang tertulis maupun yang terucap dalam pergaulan internasional. Salah satunya, memegang kuat janji untuk tidak ikut campur atau intervensi urusan negara lain. Itu prinsip yang diajarkan Muhammad saw. Dengan demikian, kita bisa tetap terhormat dan aman dari gangguan negara lain karena kita terlebih dahulu menghormat negara lain, insyaallah.

            Terkait etnis Uighur, Indonesia harus kukuh untuk tidak merecoki Cina. Hal itu disebabkan pertama, etnis Uighur hidup di Xinjiang yang merupakan wilayah Cina. Kedua, tidak ada pembantaian dan penyiksaan, tetapi pengaturan dan pendisiplinan warga Negara Cina, khususnya sebagian kecil dari etnis Uighur. Ketiga, kalaupun terjadi masalah, Indonesia dapat menggunakan diplomasi lunak (nasihat/masukan) sebagai negara sahabat agar situasi lebih kondusif karena masalah yang terjadi di negara-negara sahabat sedikit banyak akan merugikan dirinya sendiri dan mungkin mengganggu kerja sama yang sedang berlangsung untuk kepentingan bangsa Indonesia.

            Sampurasun.

Sunday, 22 December 2019

Tidak Perlu Profesor Tingkat Dunia untuk Meragukan Kasus Uighur


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pada tulisan yang lalu saya menulis bahwa para peneliti atau ilmuwan sejati selalu skeptis (ragu) terhadap informasi atau ilmu baru yang mereka terima. Keraguan itu mendorong mereka untuk mencari tahu lebih jauh hingga pada titik “yakin benar” atau “yakin salah”, ujungnya menerima atau menolak informasi atau ilmu yang baru diketahuinya itu.

            Tidak perlu profesor tingkat dunia untuk meragukan kasus Uighur, orang biasa pun bisa. Coba perhatikan di Cina itu banyak orang Islam dari berbagai etnis, bukan hanya Uighur. Paling tidak, ada sepuluh etnis muslim, yaitu: Bao’an (Bonan), Tatar, Salar, Uzbeks, Kygiz, Dongxiang, Tajik, Uighur, Kazakh, dan Hui. Dari sepuluh etnis itu, hanya satu yang bermasalah, yaitu Uighur.

            Kalau ada yang bertanya, “Mengapa hanya Uighur?”, dia punya potensi untuk menjadi peneliti hebat. Dia ingin tahu karena tidak mengerti dan mencoba mencari tahu. Dari pertanyaan itu, muncul hipotesa (dugaan) bahwa kasus Uighur bukanlah soal Islam atau muslim keseluruhan, melainkan hanya etnis Uighur. Buktinya, etnis muslim yang lain baik-baik saja, hidup normal sebagaimana warga Cina pada umumnya.

            Dari  sana, bisa muncul pertanyaan lain, “Apakah seluruh anggota etnis Uighur bermasalah?”

            Etnis Uighur itu sekitar 10 s.d. 15 juta orang. Banyak sekali. Kalau ternyata hanya dua atau tiga juta orang, berarti yang bermasalah hanya sedikit dibandingkan seluruh muslim yang ada di Cina. Penelitian bisa lebih fokus ke mereka, tidak ke seluruh Uighur, hanya yang bermasalah.

            Mengapa etnis Muslim yang lain baik-baik saja dan Uighur bermasalah? Tidak bisakah hubungan antara pemerintah Cina dengan Uighur sama dengan hubungan antara pemerintah Cina dengan etnis-etnis muslim lain yang baik-baik saja, bahkan saling mendukung? Apa masalahnya?

            Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab agar didapat kepastian. Dari kepastian, kita dapat lebih bijak bersikap dan menemukan cara yang lebih tepat sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah itu.

            Kalau hanya teriak-teriak nggak jelas faktanya, lalu tujuannya agar umat tidak lagi percaya kepada NU, Muhammadiyah, dan MUI, bahkan mendiskreditkan pemerintah dalam hal ini pribadi Jokowi, rendah sekali tujuan itu. Mereka hanya menunggangi dan memanfaatkan kasus Uighur untuk menunjukkan bahwa orang lain rendah dan dirinya lebih tinggi sehingga umat berpaling pada dirinya. Bukan kemuliaan Islam yang mereka cari, melainkan kejatuhan orang lain dan terpenuhi hawa nafsunya. Itu hanya keinginan rendah dari orang-orang rendah.

            Sampurasun.

Thursday, 18 July 2019

Marah Karena Allah swt


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Rasulullah Muhammad saw sering sekali menasihati sahabatnya untuk tidak marah karena ketika kita marah, syetan masuk melalui pintu itu untuk menguasai manusia sehingga manusia tersesat dan dirinya terbakar amarah yang merusakkan dirinya dan lingkungannya. Muhammad saw selalu mengajarkan kesabaran dan kesantunan sekalipun menghadapi hinaan dan cacian yang sangat menyakitkan. Makin sabar, makin hebat orang itu dalam mengendalikan dirinya, makin mulia dirinya.

            Akan tetapi, bolehkah kita marah?

            Boleh, asal marah karena Allah swt, bukan karena mengumbar emosi.

            Tulisan ini tidak hendak membahas apa itu yang disebut marah karena Allah swt. Banyak buku yang membahas itu, baca saja. Banyak pula ulama yang sangat memahami hal itu, dengarkan saja mereka.

            Saya hanya ingin berbagi tentang kisah yang saya dapatkan sejak kecil dari guru ngaji saya. Jika ada yang pernah tahu kisah ini, baik sama maupun beda versi, saya sangat senang mengetahuinya.

            Di dalam suatu perang, Ali bin Abi Thalib ra bertarung dengan penuh semangat. Dalam sebuah duel bersenjatakan pedang, Ali ra berhasil membuat pedang musuhnya terlempar. Musuhnya yang kafir itu pun jatuh terduduk. Ketika Ali hendak menebas lehernya, musuhnya mendongak dan menatap wajah Ali, lalu ia meludahi wajah Ali. Seketika itu Ali berhenti dan pergi meninggalkan musuhnya. Dia tidak jadi menebas leher musuhnya.

            Kenapa?

            Ali bin Abi Thalib ra adalah orang cerdas, berilmu tinggi, dan pandai dalam mengelola hati. Ketika berperang dengan penuh semangat, niat dalam hatinya adalah untuk menegakkan kebenaran, keadilan, serta menjaga hak dan kehormatan yang memang diperintahkan Allah swt. Artinya, ketika melawan musuh-musuhnya, kemarahan dalam hati Ali adalah “marah karena Allah swt”. Akan tetapi, ketika dia diludahi wajahnya oleh musuhnya, segera sadar bahwa “marah karena Allah swt” sudah hilang dalam dirinya. Kemarahan yang ada dan tertinggal di hatinya adalah disebabkan rasa tersinggung dan terhina karena wajahnya diludahi. Dia tahu bahwa marah karena hal itu adalah tidak baik bagi “kesehatan hati dan jiwanya”. Baginya, hal itu adalah buruk. Oleh sebab itu, Ali meninggalkan musuhnya karena dirinya tak ingin marah bahkan membunuh musuh gara-gara disebabkan oleh hawa nafsunya sendiri. Dia ingin hatinya terjaga hanya untuk Allah swt dan bukan bertindak marah atas dorongan hawa nafsu pribadinya.

            Begitulah Ali ra dalam mengelola hatinya.

            Belajar dari mana dia?

            Dari mertuanya, Muhammad saw.

            Kita bisa belajar dari peristiwa itu sehingga sebelum marah, kita bisa cek hati kita.

            Apakah kita marah karena Allah swt atau karena emosi akibat hawa nafsu yang terbakar dan membakar diri?

            Susah? Sulit?

            Benar.

            Akan tetapi, begitulah kaum muslim dituntut untuk pandai mengendalikan diri. Tidak mudah marah hanya karena terhina, apalagi marah hanya karena ikut-ikutan orang lain yang marah dengan niat sama sekali tidak jelas.

Sampurasun

Sunday, 7 July 2019

Islam Tidak Akan Mulia dengan Hanya Bersila dan Teriak-Teriak Takbir


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Gairah ber-Islam tampak sangat tinggi. Semangat keagamaan di kalangan umat Islam sangat meningkat dan membanggakan. Keinginan untuk memuliakan Islam dan kaum muslimin jelas terlihat.

            Meskipun demikian, kemuliaan Islam tidak pernah akan benar-benar terwujud nyata dalam kehidupan dunia ini jika umat Islam hanya terlalu gemar bersila mendengarkan ceramah, berdzikir, bergerombol kesana-kemari, lalu meneriakkan takbir keras-keras. Perilaku itu sesungguhnya bagus, tetapi menjadi tidak produktif jika ilmu yang didapat dari ceramah, dzikir, bersosialisasi sesama muslim itu tidak dipraktikan dengan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi sangat tidak berguna jika meneriakkan takbir terlalu sering dengan suara keras-keras tanpa memahami untuk apa hal itu dilakukan.

            Kita harus bertanya apakah bergerombol dengan teriakan takbir itu untuk kemuliaan Islam atau untuk kepentingan politik tertentu?

            Sungguh, Islam tidak akan mulia hanya dengan bersikap seperti itu.

            Kemuliaan Islam akan tampak jelas terwujud dari sikap dan perilaku umat Islam sehari-hari dengan belajar keras, bekerja keras, dan berprestasi dengan niat lillahi taala sehingga memberikan manfaat bagi hidup dan kehidupan manusia. Umat Islam tahu bahwa Islam mengajarkan untuk selalu belajar, bekerja keras, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Ajaran itu dimaksudkan agar Islam terwujud dengan jelas dalam kehidupan ini sebagai rahmat bagi semesta alam.

            Islam dan kaum muslim akan mulia jika ajaran Islam dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sejak bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan dalam keadaan tidur. Islam dan kaum muslimin akan mulia jika memiliki prestasi dalam berbagai bidang kehidupan sehingga bermanfaat bagi alam semesta. Oleh sebab itu, muliakanlah Islam dan kaum muslimin dengan prestasi diri sesuai bidangnya masing-masing.


Sampurasun.

Friday, 8 September 2017

Sesama Muslim Dilarang Saling Bunuh

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pada dasarnya setiap manusia tidak boleh saling membunuh satu sama lain, baik itu berbeda agama maupun berbeda keyakinan, apalagi jika memiliki agama yang sama. Pembunuhan di antara manusia adalah kejahatan yang sangat besar. Islam sudah melarang pembunuhan di antara sesama manusia jika dilakukan tanpa alasan yang jelas. Kalaupun harus terjadi pembunuhan, alasannya harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan serta tidak perlu dinikmati dan tidak perlu dijadikan kesenangan. Misalnya, pembunuhan terpaksa harus dilakukan untuk membela diri, harga diri, kehormatan, ataupun harta benda dalam situasi tertentu. Bisa pula jika harus melakukan pembunuhan terhadap para penjahat yang sudah dijatuhi vonis mati oleh keputusan hakim.

            Membunuh itu sama sekali tidak menyenangkan. Saya ini sering membunuh binatang. Saya suka menyembelih ayam, bebek, itik, belut, ikan, dan kambing. Dalam melakukan penyembelihan itu, saya sama sekali tidak menikmatinya. Saya selalu dalam keadaan sedih melakukannya karena harus menghilangkan nyawa makhluk hidup. Saya suka berpanjang-panjang memohon maaf kepada binatang-binatang itu dan berdoa berharap Allah swt menyegerakan kematian mereka. Saya melakukan pembunuhan itu karena diperbolehkan oleh Allah swt untuk memakan daging binatang-binatang itu secara wajar dan saya harus mendidik anak-anak saya tentang hal itu. Sungguh, membunuh binatang saja sangat menyesakkan dada, apalagi kalau harus sampai membunuh manusia.

            Allah swt jelas sekali melarang setiap muslim membunuh muslim yang lainnya.

            Kata Allah swt, “Bagi seorang yang beriman, tidak patut membunuh seorang beriman (yang lain), kecuali karena tidak sengaja. Siapa yang membunuh seorang beriman tanpa sengaja (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (Si Terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga Si Terbunuh) membebaskan pembayaran ….” (QS An Nisa 4 : 90)

            Seorang muslim yang tidak sengaja membunuh saudaranya sesama muslim tanpa sengaja diharuskan membayar tebusan kepada keluarga Si Terbunuh dan membebaskan seorang budak dari pebudakan. Jika keluarga Si Terbunuh memaafkannya dan tidak menuntut ganti rugi, tetap saja Si Pelaku harus membebaskan seorang budak dari perbudakan. Begitu kerasnya Islam soal keharusan menjaga nyawa manusia, terutama sesama muslim. Membunuh tanpa sengaja saja urusannya bisa panjang yang artinya berhati-hatilah terhadap nyawa manusia.

            Jika seorang muslim membunuh sesama muslim secara sengaja karena kebencian, provokasi, berita bohong, hoax, keinginan berkuasa, keinginan menjadi kaya, keinginan menguasai harta benda, keinginan untuk mengambil sumber daya alam, atau yang lainnya, kemarahan Allah swt sangat besar kepada dirinya. Secara khusus, Allah swt mengumbar kemarahan-Nya.

            Allah swt berseru, “Siapa yang membunuh seorang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah Neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An Nisa 4 : 93)

            Pembunuhan yang dilakukan terhadap seorang muslim adalah kejahatan yang sangat besar. Sudah sewajarnya jika kaum muslimin pun bersikap sama seperti Allah swt, yaitu melakukan penghukuman kepada para pembunuh kaum muslimin itu. Hukuman yang pantas kepada para pembunuh adalah hukuman yang paling keras yang harus dijatuhkan oleh para hakim. Hak hidup seseorang telah dirampas pembunuh itu. Oleh sebab itu, sangat pantas jika hak hidup Sang Pembunuh itu pun diambil, kecuali keluarga korban memaafkannya.

            Setiap muslim terlarang untuk membunuh sesama muslim. Terlarang pula mengatakan seorang muslim sebagai orang kafir. Haram hukumnya seorang muslim menuding sesama muslim sebagai orang kafir, apalagi jika dasarnya hanya ingin dianggap paling benar dan menginginkan kekuasaan atas diri kaum muslimin yang lainnya.

            Allah swt mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah (carilah keterangan) dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, ‘Kamu bukan orang yang beriman’, (lalu kamu membunuhnya) dengan maksud mencari harta benda duniawi. Padahal, di sisi Allah ada harta yang lebih banyak….” (QS An Nisa 4 : 94)

            Jangan berjihad jika harus membunuh kaum muslimin sendiri. Kalaupun ragu apakah seseorang itu muslim atau tidak, teman atau musuh, telitilah dengan benar sehingga tindakan kita tidak salah. Sama sekali terlarang untuk membunuh seorang muslim yang gemar mengucapkan salam, apalagi jika pembunuhan itu hanya untuk menguasai harta benda atau sumber daya alam milik kaum muslimin lainnya. Sungguh, harta yang dicari para pembunuh kaum muslimin itu sangat sedikit, sedikit sekali. Allah swt memiliki harta yang sangat banyak. Mintalah kepada-Nya dengan baik dan tulus penuh hormat dan jangan mencari harta dengan jalan membunuh manusia, apalagi membunuh kaum muslimin.

            Allah swt tidak pernah tidur dan selalu mengawasi kita. Tak ada semut hitam di batu hitam pada malam gelap yang tidak diketahui oleh Allah swt. Segalanya diperhatikan-Nya. Dia menghitung segalanya dan akan menimpakan apa pun sesuai dengan keinginan-Nya. Allah swt Maha Berbahaya, jangan tantang Dia karena kalian akan dilumatkan-Nya. Demi Allah swt.

            Sampurasun.

Saturday, 26 August 2017

Allah swt Membiarkan Umat Islam Kalah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berapa kali Allah swt membiarkan umat Islam kalah?

            Lebih dari satu kali, bahkan berkali-kali.

            Sering sekali Allah swt memperkuat musuh-musuh Islam dengan kekuasaan yang besar untuk mengalahkan umat Islam. Hal ini terjadi dari zaman ke zaman, sejak dulu sampai hari ini.

            Allah swt sengaja melakukan itu karena umat Islam kerap berjuang dan hidup tidak mengikuti rel yang benar, tidak berjalan pada jalur yang lurus, dan tidak mengikuti arah yang tepat. Allah swt sengaja melakukan itu karena ingin umat Islam kembali pada langkah-langkah yang bersih dan suci terbebas dari keburukan.

            Kaum muslimin pasti mengenal Perang Uhud yang jelas-jelas kalah itu, padahal saat itu ada Nabi Muhammad. Penyebabnya adalah jiwa kaum muslimin terkotori oleh keinginan untuk memperbanyak harta benda dan berlomba mendapatkan keuntungan materi. Kaum muslimin pun harus mengingat Perang Hunain yang babak belur itu. Padahal, Nabi Muhammad ada di sana dan jumlah pasukan kaum muslimin sangat besar berlipat-berlipat dibandingkan kaum kafir, tetapi ternyata pasukan muslim kocar-kacir tidak karu-karuan. Penyebabnya adalah jiwa kaum muslimin terkotori oleh rasa angkuh diri, kesombongan, dan pamer karena kekuatan yang banyak. Kaum muslimin tidak boleh lupa bahwa kekuasaan kekhalifahan yang sangat besar dan luas di seluruh dunia ini harus jatuh. Kejatuhan kekhalifahan itu jika mau jujur bukan disebabkan oleh kekuatan Eropa, melainkan karena banyaknya keburukan yang dilakukan kaum muslimin dalam hal berbangga diri dengan kekuasaan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, kekayaan, konflik-konflik ekonomi dan politik, pengkhianatan, termasuk kesombongan terhadap amal ibadat.

            Allah swt tidak menyukai itu semua karena Allah swt hanya menginginkan kaum muslimin berjuang dan hidup untuk mencari cinta Allah swt dan tidak mencari hal-hal yang lainnya. Perhatikan Perang Badar yang berhasil menang dan kemenangannya tak pernah dilupakan orang sampai hari ini. Padahal, jumlah kaum muslimin hanya sedikit, yaitu 303 orang dengan mayoritas orang lemah. Adapun musuhnya, orang-orang kafir, berjumlah lebih dari 2.000 pasukan terlatih. Penyebab kemenangan itu adalah kaum muslimin berada pada jalur yang benar dan berjuang untuk mendapatkan cinta Allah swt.

            Belajar dari pengalaman-pengalaman berharga itu, kaum muslimin harus introspeksi diri jika setiap perjuangan yang dilakukan pada abad ini kerap dilanda kekalahan demi kekalahan. Penyebabnya adalah bukan musuh lebih kuat, tetapi niat dan hati kaum muslimin boleh jadi tidak lurus kepada Allah swt. Dalam setiap perjuangan kaum muslimin pada abad ini mungkin dikotori oleh keinginan berkuasa, baik secara politik maupun ekonomi. Adapun Islam hanya digunakan sebagai alat untuk memprovokasi orang agar bergerak melakukan agenda-agenda lemah orang-orang yang menginginkan kekuasaan politik dan ekonomi.

            Perhatikan firman Allah swt berikut ini.

            “… Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (nonmuslim dalam) memerangi kamu. Pastilah mereka memerangimu….”  (QS An Nisa 4 : 90)

            Jelas bukan, Allah swt bisa saja memberikan kekuasaan kepada nonmuslim untuk memerangi umat Islam?

            Kaum muslim kalah ataupun menang sangat bergantung pada keinginan Allah swt.

            Allah swt sengaja memperkuat orang-orang lain dan membuat kalah kaum muslim agar kaum muslim kembali kepada Allah swt, membersihkan jiwanya dari keinginan-keinginan rendah dan lemah, menyucikan hatinya agar hatinya tertuju hanya kepada Allah swt. Soal kekuasaan dan kekayaan, Allah swt sendiri yang akan mengaturnya.

            Perilaku Allah swt seperti ini bukan hanya terjadi pada kaum muslimin secara keseluruhan maupun kelompok-kelompok Islam, melainkan sampai ke pribadi-pribadi muslim secara perorangan. Menurut Syekh Abdul Qadir Jaelani, Allah sering sekali membuat seorang muslim terjatuh, miskin, teraniaya, menderita, serta diterpa berbagai kesusahan dan kesulitan yang tidak bisa diatasi oleh dirinya sendiri dan orang lain. Hal itu disebabkan Allah swt menginginkan seorang muslim itu hanya berharap kepada-Nya dan tidak berharap kepada yang lainnya. Allah swt ingin seorang muslim itu hanya meminta pertolongan kepada-Nya dan tidak meminta pertolongan kepada siapa pun. Bahkan, menurut Nabi Muhammad, jika Allah swt sudah mencintai seseorang, Allah swt mencabut kehidupan dunia dari orang itu sehingga dalam hati orang itu tidak ada hal yang lain, kecuali Allah swt. Jadilah, orang itu hidup hangat dalam pelukan dan perlindungan Allah swt. Seluruh kehidupannya menjadi baik, seluruh kebutuhannya dipenuhi Allah swt, baik dia memintanya ataupun tidak, bagai bayi yang selalu disusui ibunya dengan penuh kasih sayang, baik dia menangis ataupun tidak.

            Sungguh, Allah swt menginginkan kaum muslimin berada pada jalur yang suci dan bersih dari keinginan-keinginan rendah dan sementara. Dengan kesucian dan kelurusan sikap, kemenangan pun bisa diraih. Bukan hanya kemenangan bagi kaum muslimin, melainkan kemenangan bagi seluruh kehidupan manusia yang menginginkan keagungan, kesejahteraan, perdamaian, keadilan, dan kerharmonisan. Itulah yang dinamakan rahmatan lil alamin. Insyaallah.


            Sampurasun

Sikap Muslim terhadap Nonmuslim

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Indonesia adalah negara besar dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Sebagai negeri muslim, setiap muslim di Indonesia harus belajar terus setiap hari menjadi muslim yang baik dan menebarkan kasih sayang terhadap seluruh manusia sambil tetap memegang teguh jati diri sebagai muslim. Benar kita harus mematuhi Pancasila, tetapi kita adalah muslim yang harus menegaskan kemusliman kita di hadapan siapa pun.

            Islam tidak berada di bawah Pancasila. Pancasila hanyalah sebuah cahaya dari Allah swt yang dianugerahkan untuk menjadi tali yang mengikat keharmonisan hidup seluruh manusia di Indonesia.

            Di dalam kenyataannya, perbedaan agama dan keyakinan kerap dapat memicu dan dijadikan alat untuk membuat kehidupan tidak tertib dan tidak harmonis. Oleh sebab itu, Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan itu hendaknya dijadikan alat untuk memperkuat persaudaraan sebangsa dan setanah air. Meskipun demikian, kita tetap memiliki perbedaan yang wajib diwaspadai agar tidak memicu kerusakan dan tidak mengoyakkan harga diri umat Islam.

            Sebagai umat Islam, kita harus merasa beruntung menjadi kelompok terbesar di Indonesia, sedangkan umat-umat yang beragama dan berkeyakinan lain hanyalah minoritas. Akan tetapi, sebagai kelompok terbesar menuntut tanggung jawab yang besar pula dalam menjaga keseimbangan hidup di Indonesia ini. Sebagai muslim, kita harus hidup berdampingan dengan damai dan penuh cinta kasih dengan umat-umat lain sepanjang umat-umat lain itu tidak melakukan permusuhan, menebarkan kebencian, dan melakukan tantangan kepada umat Islam. Jika nonmuslim mulai berulah melakukan permusuhan, sudah kewajiban setiap muslim menjaga harga diri umat Islam dan ajaran Islam.

            Beruntung sekali nonmuslim di Indonesia ini tidak diberi kekuatan dan kemampuan untuk memerangi umat Islam di Indonesia sehingga para nonmuslim yang memiliki kebencian kepada Islam dan umat Islam hanya bisa jengkel dan berbicara kasar yang bisa saja digugat untuk dimasukkan dalam penjara. Tampaknya, Allah swt sengaja menciptakan suasana nonmuslim seperti itu agar keharmonisan dan kedamaian di Indonesia bisa dikendalikan dengan baik dan terus lebih baik lagi. Indonesia harmonis dan damai bukan berarti tidak ada masalah, melainkan jika ada masalah segera diselesaikan dengan baik, bisa melalui jalur hukum, bisa pula melalui jalur kekeluargaan.

            Bagi Allah swt mudah saja memberikan kaum nonmuslim kekuatan dan kemampuan untuk memerangi umat Islam di Indonesia ini sebagaimana yang terjadi di negara-negara lain. Akan tetapi, tidak begitu keinginan Allah swt. Allah swt tampaknya sampai saya menulis tulisan ini tidak memberikan kekuatan yang cukup bagi mereka yang membenci Islam dan membenci kaum muslimin untuk memerangi umat Islam. Allah swt masih sangat percaya bahwa mayoritas umat Islam dapat menjaga kestabilan hidup di Indonesia. Allah swt juga percaya kepada para nonmuslim yang ingin hidup damai dengan umat Islam di Indonesia ini.

            Perhatikan firman Allah swt berikut ini.

            “… Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (nonmuslim dalam) memerangi kamu. Pastilah mereka memerangimu….”  (QS An Nisa 4 : 90)

            Jelas bukan?

            Sebagaimana yang saya terangkan tadi bahwa Allah swt mudah saja memberikan kekuatan kepada para pembenci Islam untuk memerangi Islam.

            Bukankah hal ini terjadi di negara-negara lain, tetapi tidak di Indonesia?

            Pada beberapa negara lain, Allah swt memberikan kekuasaan yang besar kepada para pembenci Islam untuk memerangi umat Islam sehingga umat Islam sering terhimpit dan tersudutkan. Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak terjadi di Indonesia. Hal itu disebabkan di Indonesia ini terlalu banyak umat Islam yang waras otak dan bening hati untuk melaksanakan ajaran Islam dengan penuh kedamaian. Di samping itu, di Indonesia ini mayoritas nonmuslim tidak ingin bermusuhan dengan kaum muslimin. Meskipun demikian, umat Islam tetap harus waspada agar para pembenci Islam tidak sampai merusakkan Islam dan kaum muslimin.

            Kata Allah swt, “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (nonmuslim dalam) memerangi kamu. Pastilah mereka memerangimu. Akan tetapi, jika mereka membiarkan kamu dan tidak memerangimu serta menawarkan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (QS An Nisa 4 : 90)

            Allah swt menghendaki bahwa apabila para nonmuslim membiarkan umat Islam menjalankan ajaran Islam, tidak melakukan permusuhan, dan menawarkan hidup damai, haram hukumnya bagi umat Islam menyakiti dan melukai nonmuslim, baik fisiknya maupun jiwanya. Dalam kenyataannya, dalam susunan pergaulan hidup sesama bangsa Indonesia, kaum nonmuslim sudah menawarkan perdamaian dengan kesetujuannya terhadap Pancasila. Nonmuslim menyerah pada Pancasila, umat Islam Indonesia pun setuju pada Pancasila. Jadi, jika ada nonmuslim dan muslim yang merusakkan Pancasila, sama dengan menghancurkan perdamaian. Hal itu harus dimusuhi bersama-sama oleh seluruh bangsa Indonesia yang waras otak, bening hati, dan sehat jiwanya. Hal itu disebabkan Allah swt lebih menyukai mereka yang memegang teguh perdamaian dengan penuh cinta kasih dibandingkan dengan mereka yang gemar mengobarkan permusuhan dan huru-hara.

            Umat Islam harus menjaga perdamaian dengan nonmuslim sepanjang nonmuslim tidak melakukan permusuhan. Akan tetapi, jika nonmuslim mencari-cari masalah atau membuat huru-hara, kaum muslimin harus segera mengambil sikap, bisa dengan cara menawan atau membunuh mereka. Hal yang harus diingat cara memeranginya tidak boleh dengan cara-cara kampungan yang anarkis. Gunakan hukum yang berlaku di Indonesia agar sistem ini berjalan dengan baik, adil, dan beradab.

            Jika umat Islam melaksanakan QS An Nisa 4 : 90 tadi, secara otomatis telah melaksanakan Pancasila, terutama sila ketiga persatuan Indonesia dan sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal itu disebabkan menjaga hubungan baik dengan nonmuslim sama dengan menguatkan persatuan serta menjaga harga diri untuk tidak dirusakkan oleh orang lain adalah perilaku yang adil dan beradab.


            Sampurasun.