Showing posts with label Kurang Ajar. Show all posts
Showing posts with label Kurang Ajar. Show all posts

Monday, 21 February 2022

Dasar Keturunan Arab Yaman Kurang Ajar

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, malas menulis dan mengomentari orang-orang kurang ajar seperti mereka ini. Saya sebenarnya lebih suka menulis atau mengomentari hal-hal positif dan berpandangan ke depan. Orang lain sudah bikin pesawat ke luar angkasa, bikin teori-teori yang bisa memecahkan masalah manusia di dunia, ini mah ngomongin ecek-ecek yang bolak-balik ke situ-situ lagi, enggak maju-maju. Dari dulu sampai sekarang, mungkin sampai mau mati pun ngomongnya itu lagi itu lagi, enggak ada yang lain.

            Kapan mau maju? Kapan mau mulia? Kapan mau berkuasa di dunia?

            Ngimpi!

            Orang-orang seperti itu selalu mempertahankan kebodohan orang lain agar dirinya dipandang selalu lebih mulia, lebih pintar, dan lebih suci. Padahal, dia menghambat kemajuan dan kecerdasan orang lain. Sekuat tenaga mereka bertahan agar orang lain tetap berada di bawah pengaruhnya karena ingin mendapatkan keuntungan pelayanan, penghormatan, juga materi dari orang lain yang mudah mereka tipu. Bahkan, untuk mempertahankan kondisi itu, tanpa malu dan tanpa adab, mereka berbicara kotor murahan dan sama sekali tidak berpendidikan.

            Coba perhatikan kata-kata keturunan Arab ini, Si Habib Fahmi Alkatiri dalam akun milliknya, Fkadrun Alkatiri @FahmiHerbal. Dia menghina bangsa Indonesia, sebagai pribumi, tuan rumah, padahal dia makan dan hidup di Indonesia. Mungkin dia tukang obat juga karena ada foto obat-obatan di akunnya dan menggunakan kata herbal untuk namanya.


Fahmi Herbal (Foto: Rakyat Priangan)


            Perhatikan kata-kata kotornya.

            “Lo tuan rumah? Kont*l. Muka mesum pengecut. Tanpa kami kalian masih hidup nomaden. Menyembah pohon dan batu.”

            Perhatikan coba, bagaimana kurang ajarnya dia.

“Ganteng kan Gw. Nggak pesek kayak lo. Sesak nafas. Makanya belajar cari bapak yg bener. Masa china vangke berak di kebon jd bapak lo.”

Dia tidak berhenti menghina.

“Tamu? Lo aja tinggal dalam hutan. Gelantungan. Kami yg ajarkan kalian berpakaian. Bercelana. Beragama. Dulu kalian tu Babi.”

Manusia yang kayak begini mau diikutin hanya karena dia keturunan Arab?

“Hai anjing! Ngga ada kami kau masih tinggal dalam goa. Ngerti njing.”

Dia pun mulai nyasar-nyasar memojokkan NU.

“Gw denger uang kas NU ada 14 trilyun di sebuah bank Pemerintah.”

Kata-katanya ini tentu saja  mendapatkan reaksi keras dari masyarakat. Dia dihujat habis, dibuli, dimaki-maki, dan diusir dari Indonesia. Oleh sebab itu, dia segera meminta maaf sambil terus menutup akunnya.

Seperti saya bilang, saya malas menulis tentang manusia-manusia semacam Si Fahmi ini. Dia sudah meminta maaf dan menutup akun, tetapi teman-teman sejenisnya masih banyak yang membelanya dan petantang petenteng terus-terusan bikin muak. Saya harus menulis untuk menyadarkan orang agar tidak tertipu sekaligus menghajar dia dan teman-temannya. Selain itu pun, saya harus menemani para habib yang baik dan merasa kesal terhadap perilaku keturunan Arab semacam itu.

Manusia-manusia brengsek seperti itu memang tidak punya otak. Mereka tidak berpikir apalagi merasa kasihan kepada para habib lain yang baik-baik dan keturunan Arab  lain yang juga hidup normal seperti yang lainnya. Jumlah para habib di Indonesia ini sekitar 1,5 juta orang. Mayoritas mereka baik-baik saja. Mereka yang ahli agama mengajarkan agama; yang bukan ahli agama menekuni profesi mereka masing-masing. Gara-gara mereka, para habib dan keturunan Arab lain yang baik-baik itu jadi kena getahnya. Mereka mendapatkan juga hujatan, bulian, kata-kata pengusiran dari masyarakat, padahal tidak melakukan apa-apa.

Kelakuan tolol seperti Si Fahmi ini mendapatkan reaksi keras dari Habib Kribo Zen Assegaf. Dengan gayanya seperti orang slebor, Habib Zen Assegaf marah-marah. Lihat saja videonya sendiri langsung. Perhatikan kemarahannya.

“Arab-arab seperti ini akan ada sampai nanti 2024. Makan hidup di Indonesia, tetapi berbicara kurang ajar. Biadab. Tidak ada dalam ajaran Islam yang menghinakan manusia. Saya lihat dia itu Dajjal. Menghina cina berarti menghina Tuhan.

            Arab sebelum Muhammad saw itu primitif, bodoh, tidak berkebudayaan. Ada Nabi Muhammad pun susah diajak bener. Indonesia sudah beradab ketika Arab jahiliyah, sudah punya Borobodur, Prambanan.

            Fahmi itu Anjing dia kurang ajar. Dia bukan habib. Bikin kisruh.

            Arab itu sampai sekarang Islamnya itu cuma merk. Karena ada Kabah saja, mereka Islam. Kalau tidak, mereka masih tetap jahiliyah. Lama-lama saya malu jadi keturunan Arab.

Untung saja, orang Indonesia baik-baik. Kalau di Afrika sudah di-‘smack down’. Anda bisa enak di Indonesia. Di Yaman sampai hari ini masih banyak yang tinggal di gunung-gunung.

            Tangkap ni orang.

            Saya minta maaf kepada orang Indonesia atas perilaku Arab yang satu ini.”

            Habib Zen Assegaf yang jelas keturunan Arab saja harus meminta maaf atas perilaku Si Fahmi meskipun sambil marah-marah.

            Ya sudah, kita maafkan Fahmi Alkatiri, tunjukkan bahwa orang Indonesia itu beradab dan pemaaf. Fahmi pun tampaknya tidak terdengar lagi, mudah-mudahan sadar dengan baik. Akan tetapi, Arab-arab kurang ajar yang lain harus segera berhenti. Saya ingatkan bahwa semakin hari semakin banyak orang yang ingin mengusir mereka untuk kembali ke tanah leluhurnya di Arab atau di Yaman. Kalau merasa sebagai orang Indonesia, berbuatlah baik kepada masyarakat sekitar, hidup normal seperti yang lain. Kalau merasa lebih tinggi dan menganggap rendah bangsa Indonesia, saya sarankan segera pergi dari Indonesia dan pulang ke tanah leluhur yang selalu kalian banggakan itu.

            Sungguh, Indonesia sama sekali tidak membutuhkan kalian. Indonesia baik-baik saja tanpa kalian. Malahan, kalian bikin runyam Indonesia. Sebaiknya kalian pulang, tanah leluhur kalian sedang membutuhkan kalian. Yaman sedang kelaparan dan ketakutan karena dihajar, ditembaki, dan dibombardir Arab Saudi. Yaman dan Arab Saudi sedang saling bunuh. Pulanglah ke sana. Tolonglah rakyat di tanah leluhur kalian. Mereka lebih membutuhkan kalian dibandingkan kami, rakyat Indonesia. Dakwahi dan ceramahi mereka dengan pidato kalian yang “paling benar, paling pasti masuk surga” itu.  Kami bosan dan muak pengen muntah dengan ceramah kalian. Kami punya cara sendiri untuk masuk surga. Di dunia saja kami sudah tinggal di surga Indonesia. Insyaallah, kami pun akan masuk surga di akhirat kelak. Kami punya cara sendiri dan bukan cara seperti kalian.

            Yaman dan Arab Saudi lebih membutuhkan kalian. Pergilah.

            Kalau mau hidup di sini, di Indonesia, ikuti dan hormati cara hidup kami.

            Sampurasun.

Sunday, 8 November 2015

Yang Muda Gampang Marah, Yang Tua Kurang Ajar


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Terlalu lama kita meninggalkan jiwa-jiwa dan nilai-nilai beradab yang ditanamkan orang tua kita. Saking terlalu lamanya, kita jadi tidak mampu lagi mengenal, bahkan mempraktikan nilai-nilai yang penuh keberadaban itu. Celakanya, banyak dari kita yang menganggap bahwa orang luar negeri jauh lebih beradab dibandingkan kita. Akibatnya, kita menganggap diri harus selalu mengekor cara-cara hidup mereka yang justru tidak beradab atau tingkat keberadabannya jauh di bawah kita.

Hal kecil yang sudah lama hilang adalah rasa “menghormati” dan rasa “menyayangi”. Orang tua kita dulu menanamkan kalimat-kalimat bertuah dan indah agar hidup harmonis dan saling menghormati-menyayangi. Akan tetapi, kalimat-kalimat itu tergerus hancur hampir berantakan karena kita hidup dengan menggunakan nilai-nilai asing yang sama sekali bukan berasal dari diri kita.

Saya masih ingat bagaimana kedua orangtua saya mengajarkan, “Harus menghormati yang lebih tua dan harus menyayangi yang lebih muda.”

Ini ajaran leluhur Nusantara yang kemudian disempurnakan oleh ajaran Islam. Tentu saja, ketika saya masih kecil, orangtua saya menanamkan kalimat itu agar saya menyayangi dan menjaga adik-adik saya serta menghormati kakak-kakak saya agar keluarga bisa harmonis dan tidak banyak persengketaan. Kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlaku dalam lingkungan keluarga, kemudian terbawa ke lingkungan tetangga, sekolah, dan lainnya. Saat itu begitu mudah untuk menyayangi dan menghormati karena hampir setiap keluarga mengajarkan hal yang sama.

Sayangnya, perkembangan nilai-nilai tersebut terdistorsi oleh keharusan untuk bersikap kritis dengan meminggirkan sopan santun yang menjadi penjaga rasa dan emosi. Keangkuhan menjadi muncul tatkala sikap kritis tersebut mampu mendobrak berbagai kekakuan yang sejak lama terjadi. Seharusnya, ketika mendapatkan kebenaran dan kesempatan untuk mempublikasikan kebenaran itu terbuka lebar, kemudian diterima berbagai pihak, kita menjadi bersyukur telah memberikan sumbangan berupa perubahan yang positif.

Keangkuhan dalam menyampaikan kritik tanpa memperhatikan keberadaban pun diperparah oleh contoh-contoh yang berasal dari luar negeri. Kita dengan mudahnya menganggap orang luar negeri sebagai lebih hebat dengan kebebasan berpendapat yang justru merusakkan hubungan di antara manusia. Tak punya rasa hormat lagi terhadap yang lebih tua, bahkan orangtua sendiri; tak mempedulikan kedudukan atau jabatan orang yang akan kita kritik; menjatuhkan wibawa dan martabat orang lain; terjebak dalam keangkuhan dan kompetisi yang mengerikan; meregangkan hubungan kekerabatan; saudara sedarah tak lagi bertegur sapa, bahkan menjadi lawan sengketa; mudah marah dan emosian.

Saya sangat heran campur sedih ketika ada mahasiswa yang mengajukan audiensi kepada instansi terkait, lalu sebelum beraudiensi memaki-maki dulu Sang Pejabat di jalanan. Padahal, Sang Pejabat tersebut bersedia menerima mereka dengan baik.

Mengapa harus dimulai dengan makian-makian di tengah jalan?

Kan audiensinya belum terjadi?

Kalau ternyata dalam audiensi tidak mendapatkan penjelasan dan tanggapan yang positif dari pihak penguasa, bolehlah makian-makian itu dilontarkan. Akan tetapi, penjelasan belum diberikan, tanggapan belum ada, bahkan akan diterima dengan baik, memaki-maki dengan kata-kata kasar dan tidak senonoh sudah diteriakkan. Aneh.

Itu tandanya sudah tidak ada lagi rasa hormat kepada yang lebih tua. Yang muda gampang marah.

Demikian pula sebaliknya, orang yang lebih tua dan berkuasa tidak lagi menjadi pengayom dan menyayangi yang lebih muda. Mereka terjebak dalam keangkuhan dan kenikmatan dalam menduduki jabatannya. Mereka menganggap bahwa kedudukannya itu merupakan keberhasilan, bukan lagi tanggung jawab. Mereka banyak yang menggunakan usia, wibawa, dan kewenangannya untuk berbuat curang kepada orang banyak dan menipu yang lebih muda. Korupsi tidak berhenti; tidak adil; berleha-leha; tidak memiliki sensitivitas tinggi atas keadaan masyarakat; melakukan kerja sama-kerja sama rahasia yang merugikan negara; membuat polarisasi di tengah masyarakat; mudah menuduh; tidak melindungi; kasar dan keras.

Itu tandanya sudah tidak ada lagi rasa menyayangi kepada yang lebih muda. Yang tua dan berkuasa kurang ajar memang.

Mau aman, tenteram bagaimana kalau sudah begini?

Yang muda emosian, gampang marah, dan mudah memaki. Yang tua nggak mau kalah, curang, dan kasar.

Semuanya jadi semrawut dan kacau balau. Semua urusan dan permasalahan hanya berakhir pada kondisi “kalah” atau “menang”. Kekalahan atau kemenangan itu mempunyai hasil yang sama, yaitu kalau tidak dendam, pasti angkuh.

Cobalah untuk kembali pada keagungan dan keberadaban “para sepuh” kita yang memberikan arah agar kita dapat hidup lebiih harmonis dan mampu menyelesaikan permasalahan dengan bijak dan cerdas dengan hati penuh keikhlasan. Kritikan yang santun dan empati yang tinggi terhadap hidup dan kehidupan ini akan menyelesaikan banyak masalah dengan tuntas dan baik

Orang Sunda bilang, “Laukna beunang, caina herang”, ‘Ikannya dapat, airnya tetap bening’. Jadi, tujuan tercapai, permasalahan bisa diselesaikan, suasana tetap adem, tidak keruh.

Yuk, kita kembali pada ajaran orang tua kita yang teramat beradab. Jangan tertipu dengan cara hidup orang asing yang selintas seperti baik, tetapi sesungguhnya menjerumuskan kita ke dalam situasi yang semrawut.


Demi Ibu Pertiwi.