Showing posts with label Timur Tengah. Show all posts
Showing posts with label Timur Tengah. Show all posts

Tuesday, 27 December 2022

Orang Indonesia Jangan Bodoh Kayak Orang Timur Tengah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tidak semua orang Timur Tengah bodoh, tetapi kebanyakan mereka bodoh. Ada memang yang cerdas, ada yang shaleh, dan ada juga yang bijaksana, tetapi mayoritas mereka sangat bodoh. Orang-orang bodoh yang saya maksud adalah mereka yang membuat dan membiarkan negara tempatnya hidup hancur berantakan. Saya bilang mayoritas bodoh karena memang wilayah tempat mereka hidup hancur-hancuran, jauh dari kemanusiaan. Lihat saja Irak, Suriah, Afghanistan, Libya, dan yang lainnya. Mereka berantakan. Padahal, agamanya sama; bahasanya sama mirip, Arab; daratannya sama. Kalau mayoritas mereka cerdas, pasti orang-orang bodoh dapat mereka kendalikan dan sisihkan. Justru, orang-orang baik terpinggirkan dan orang-orang bodoh merajalela. Beberapa orang baik dan shaleh itu datang ke Indonesia.

            Dalam ceramahnya, mereka kerap menyerukan, “Jaga negeri kalian, Indonesia!”

            Mereka sangat paham dan merasakan penderitaan luar biasa akibat negara tempat tinggalnya menjadi lebur dalam sengketa dan runtuh gara-gara konflik. Oleh sebab itu, mereka tidak rela jika saudara seimannya di Indonesia mengalami hal yang serupa.

            Orang-orang bodoh itu menyangka sedang memperjuangkan kebenaran, memperjuangkan agamanya, tetapi sesungguhnya sedang merusakkan diri mereka sendiri. Mereka tidak sadar sebenarnya mereka telah diadu domba oleh berbagai kepentingan politik dan ekonomi yang sama sekali tidak memikirkan nasib manusia dan agamanya.

            Dari hampir semua penelitian yang dilakukan mahasiswa saya dan berbagai jurnal yang meneliti tentang Timur Tengah, selalu saja saya menemukan benang merah hal ihwal konflik itu. Benang merah itu adalah konflik akibat rebutan minyak bumi. Apa pun isunya, intinya tetap soal minyak bumi. Mau isunya menegakkan demokrasi, Ham, menegakkan khilafah, sunni lawan syiah, atau yang lainnya, intinya tetap saja rebutan ingin menguasai minyak bumi. Para politisi dan pengusaha serakah dari seluruh dunia memangsa wilayah Timur Tengah dengan cara mengadu domba orang-orang melalui berbagai isu seperti yang tadi saya sebutkan: demokrasi, Ham, menegakkan khilafah, sunni lawan syiah, atau yang lainnya. Hasilnya, karena terlalu banyak orang bodoh, mereka pun berkelahi karena ditipu politisi dan pengusaha serakah kapitalis yang sama sekali tidak memikirkan nasib rakyat dan agama.

            Kini zaman telah bergeser dan pada masa depan kebutuhan terhadap minyak bumi akan berkurang, tergantikan oleh baterai, listrik. Nanti akan banyak mobil, motor, dan mesin-mesin lain yang energinya berasal dari baterai bukan lagi minyak bumi. Bahan mentah penting baterai itu ada di Indonesia, yaitu nikel dan lithium. Sekarang lithium mulai ditemukan di Sidoarjo bekas lumpur Lapindo itu. Artinya, dalam beberapa tahun mendatang seluruh dunia membutuhkan nikel dan lithium untuk menjadi sumber energi. Mereka akan mati-matian untuk mendapatkan itu dari Indonesia. Hal itu sekarang saja sudah bisa dilihat bagaimana Uni Eropa menyerang Indonesia, 27 negara mengeroyok Indonesia melalui jalur politik dan diplomasi untuk menguasai nikel Indonesia.

            Apabila di Indonesia terlalu banyak orang bodoh, nasibnya akan sama, bahkan mungkin lebih mengerikan dibandingkan wilayah-wilayah di Timur Tengah yang rusak parah itu hingga kini. Rakyat Indonesia akan diadu domba para politisi dan pengusaha kapitalis serakah dengan menggunakan isu agama yang murahan itu. Saling mengafirkan, merasa paling benar sendiri, menganggap mereka sudah terdaftar sebagai penduduk surga di catatan Malaikat Ridwan sebagai panjaga surga, bahkan berani menghalalkan darah sesama muslim sendiri. Mereka tidak sadar bahwa sedang diadu domba agar lemah sehingga sumber alam berupa nikel, lithium, atau mineral lainnya dapat dikuasai oleh orang-orang licik.

            Dugaan atas tanda-tanda ke arah adu domba itu sudah tampak. Coba kita ingat kasus pengurangan volume adzan yang diimbaukan oleh Menteri Agama RI Gus Yaqut. Hal itu menimbulkan protes keras dengan kalimat-kalimat kasar, seperti, kafir, dzalim, murtad, dan thagut. Protes dengan makian kasar yang menyerang pribadi Gus Yaqut itu dilakukan oleh orang Islam sendiri. Padahal, kalau merasa sesama muslim dan sama-sama ingin berbuat kebaikan untuk kemuliaan Islam, dapat dilakukan dengan cara yang baik, sebagaimana yang diajarkan Allah swt, yaitu tabayun sembari silaturahmi. Minta penjelasan yang baik dan bertemu dengan baik pula. Kalau harus diskusi atau berdebat, lakukanlah hingga didapat kesepakatan dan kesamaan pemahaman yang baik hingga situasi tetap baik. Coba saat itu ketika Gus Yaqut dihina disamakan dengan anjing, GP Ansor bersama Banser yang mencapai tujuh juta itu marah, lalu melakukan pembalasan fisik, konflik berdarah pasti tak terhindarkan, kematian akan banyak mewarnai pemberitaan. Terjadilah adu domba itu dengan lebih nyata. Sementara itu, para politisi jahat dan pengusaha serakah tertawa-tawa karena umat Islam mulai sangat lemah yang pada gilirannya nikel, lithium, dan berbagai sumber daya alam lainnya akan sangat mudah dikeruk dari rakyat Indonesia. Hal ini akan menjadi mirip kejadian di Timur Tengah. Beruntung GP Ansor dan Banser dapat dikendalikan, kemarahan mereka dapat diredam. Kalau tidak, kita semua bisa rusak parah.


Protes Pengurangan Volume Adzan (Foto: Makasar Terkini - Terkini.id)


            Foto hinaan kepada Gus Yaqut saya dapatkan dari Makasar Terkini – Terkini id.

            Orang Indonesia jangan bodoh seperti orang-orang Timur Tengah. Kalau kita tidak cerdas melihat dan menganalisa situasi, kita akan mengalami nasib yang mengerikan, diadu domba, dan kita tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kerugian dan kerusakan parah. Jika ada masalah, kita punya jalan keluar yang biasa disebut dengan cara “kekeluargaan”, itu kearifan lokal yang harus dijaga. Jangan seperti orang-orang sono, perpustakaan berubah menjadi gudang senjata untuk membunuh saudaranya sendiri.

            Bagaimana akan ada generasi muda cerdas jika perpustakaan sudah menjadi gudang senjata?

            Indonesia harus cerdas dan bijaksana hingga menjadi sinar kebaikan bagi dunia.

            Bukankah banyak yang bercita-cita bahwa umat Islam Indonesia akan menjadi pemimpin dunia?

            Lakukanlah dengan cara cerdas dan bijaksana. Cara-cara seperti orang Timur Tengah akan menghancurkan harapan dan cita-cita karena sudah terbukti menimbulkan kerusakan bagi manusia.

            Sampurasun

Monday, 24 April 2017

Kaum Nasionalis Wajib Menerima Kaum Islam

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ini adalah peringatan bagi kaum nasionalis!

            Dari dulu hingga sekarang kaum nasionalis memiliki banyak kecurigaan terhadap kaum Islam. Kaum nasionalis mencurigai kaum Islam akan menyeret Indonesia ke arah politik Arab dan Timur Tengah. Kaum nasionalis sering menganggap berbeda tujuan dengan kaum Islam karena kaum Islam lebih mencintai ke-universal-an dibandingkan mencintai tanah airnya sendiri. Kaum Islam dipandang lebih menyukai dan menganggungkan segala hal yang berbau Arab dan Timur Tengah, baik dari segi pemikiran, perilaku, maupun politik. Kaum nasionalis sangat tidak menyukai kaum Islam yang dipandang akan membuat Indonesia sebagai wilayah bagian dari kekuatan Arab dan Timur Tengah. Kecurigaan ini terus terjadi sejak dahulu hingga saat ini. Bedanya, sekarang kaum nasionalis “lebih pandai” menutupi kecurigaannya kepada kaum Islam untuk menghindari konflik. Meskipun demikian, kecurigaan itu tidak pernah berhenti.

            Saya pernah diundang untuk mendengarkan pidato kampanye calon kepala daerah di ruangan tertutup. Pasangan calon eksekutif tersebut berasal dari kelompok nasionalis, sedangkan saingannya berasal dari kelompok Islam.

            Sang Calon Wakil berkata dalam pidatonya, “Kita benar-benar sedang berhadapan dengan orang-orang yang berbeda dengan kita.”

            Dia membedakan antara kelompok nasionalis dengan kelompok Islam. Kelompok Islam dianggap memiliki tujuan yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kelompok nasionalis meskipun dirinya sendiri beragama Islam.

            Untuk orang-orang nasionalis semacam ini, hendaknya mengingat nasihat keras dari Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno.

            “Adakah keberatan kaum nasionalis buat bekerja sama dengan kaum Islam oleh karena Islam itu melebihi kebangsaan dan melebihi batas negeri yang sifatnya ialah supernasional superteritorial?

            Adakah internationaliteit Islam merupakan suatu rintangan buat geraknya nasionalisme, buat geraknya kebangsaan?

            Banyak nasionalis di antara kita yang lupa bahwa pergerakan nasionalisme dan Islamisme di Indonesia ini—ya, di seluruh Asia—adalah sama asalnya, dua-duanya berasal dari nafsu melawan barat sehingga sebenarnya bukan lawan, melainkan kawanlah adanya.

            Betapa luhurnyalah sikap nasionalis Prof. T.I. Vaswani, seorang yang bukan Islam, menulis, ‘Jikalau Islam menderita sakit, maka ruh kemerdekaan timur tentulah sakit juga sebab makin sangatnya negeri-negeri muslim kehilangan kemerdekaan, makin sangat pula imperialisme Eropa mencekek ruh Asia. Tetapi, saya percaya pada Asia sediakala. Saya percaya bahwa ruhnya masih akan menang. Islam adalah internasional dan jikalau Islam merdeka, maka nasionalisme kita itu diperkuat oleh segenap kekuatan itikad internasional itu.’

            Bukan itu saja. Banyak nasionalis kita yang lupa bahwa orang Islam di mana pun adanya, di seluruh “Darul Islam”, menurut agamanya, wajib bekerja untuk keselamatan orang negeri yang ditempatinya. Nasionalis-nasionalis itu lupa bahwa orang Islam yang sungguh-sungguh menjalankan keislamannya, baik orang Arab maupun orang India, baik orang Mesir maupun orang mana pun, jikalau berdiam di Indonesia, wajib pula bekerja untuk keselamatan Indonesia itu.

            ‘Di mana orang Islam bertempat, bagaimanapun jauhnya dari negeri tempat kelahirannya, di dalam negeri yang baru itu, ia menjadi satu bahagian dari rakyat Islam. Di mana orang Islam bertempat, di situlah ia harus mencintai dan bekerja untuk keperluan negeri itu dan rakyatnya.’

            Inilah nasionalisme Islam! Sempit budi dan sempit pikiranlah nasionalis yang memusuhi Islamisme serupa ini. Sempit budi dan sempit pikiranlah ia oleh karena ia memusuhi suatu azas yang walaupun internasional dan interrasial, mewajibkan segenap pemeluknya yang ada di Indonesia, bangsa apa pun mereka, mencintai dan bekerja untuk keperluan Indonesia dan rakyat Indonesia juga adanya.”

            Kaum nasionalis harus menghentikan kecurigaan yang berlebihan kepada kaum Islam karena sangat banyak kaum Islam yang mencintai Indonesia dengan batas-batas teritorialnya. Bahkan, kaum Islam yang mencintai kedaulatan Indonesia jumlahnya adalah mayoritas dibandingkan dengan mereka yang selalu “menyeret-nyeret” Indonesia untuk menjadi salah satu bagian dari Arab dan Timur Tengah. Memang ada beberapa gelintir orang Islam yang kerap berkehendak mengekor Arab dan Timur Tengah, tetapi tidak perlu membuat kaum nasionalis Indonesia menggeneralisasi bahwa setiap gerakan kaum Islam adalah seperti beberapa gelintir orang itu. Kaum Islam yang mayoritas adalah jauh lebih berharga dibandingkan sekelompok kecil orang yang kerap melakukan aksi-aksi aneh itu.

            Kaum nasionalis harus bergandengan tangan dengan kaum Islam untuk menghadapi nafsu-nafsu barat. Memang penjajahan sudah berhenti di Indonesia. Akan tetapi, harus diingat bahwa penjajahan yang berhenti adalah penjajahan fisik. Penjajahan dalam bentuk yang lebih samar malah terjadi semakin hebat, misalnya, penjajahan dalam hal ekonomi, politik, hukum, budaya, teknologi, pendidikan, dan berbagai pemikiran-pemikiran barat yang dipaksakan masuk ke dalam jiwa dan otak rakyat Indonesia.

            Jangan pula dilupakan bahwa dalam tubuh kaum nasionalis pun tidak semuanya mencintai Indonesia. Beberapa di antara mereka malah menjadi kaki tangan barat untuk “mengganggu” Indonesia agar situasi berada dalam kebingungan dan kekacauan.

            Penjajahan masih berlangsung dalam bentuk yang “halus”. Kaum nasionalis yang setia pada tanah air harus bersatu dengan kaum muslim yang peduli pada keadilan kemanusiaan untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional Indonesia, yaitu mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang makmur lahir dan makmur batin. Persatuan antara kaum nasionalis dan kaum Islam pun akan mampu membangun benteng dan perlawanan teramat dahsyat terhadap nafsu-nafsu barat yang pada dasarnya memiliki sifat saling serang-menyerang dan gemar menguasai orang lain.

            Apabila kaum nasionalis masih memandang “buruk” kaum Islam, kata Soekarno, mereka adalah nasionalis yang “sempit budi dan sempit pikiran”. Kalimat “sempit budi dan sempit pikiran” itu bahasa Soekarno yang kasar pada masa lalu. Pada masa sekarang ini “sempit budi dan sempit pikiran” adalah sama dengan “bloon”.


            Sampurasun

Sunday, 10 April 2016

Salah Sejarah, Salah Langkah, Salah Arah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Kaburnya sejarah dan gelapnya riwayat kita mengakibatkan kita salah langkah dan salah arah. Akibatnya, kita tidak pernah selalu benar menyelesaikan berbagai permasalahan di negeri ini. Kalau kata Ir. Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, kita berpikiran selalu lemah, merasa diri kecil, memandang diri paling terbelakang adalah buntutnya tekanan selama berabad-abad. Tekanan itu berasal dari penjajahan yang benar-benar merusakkan tatanan kehidupan, budaya, ekonomi, sosial, politik, dan sejarah bangsa.

            Kita terlalu sering melihat dengan terpesona kehidupan orang-orang barat dengan segala kehidupannya. Hal itu mengakibatkan kita mulai percaya bahwa kita harus mencontoh mereka dalam menyelesaikan permasalahan kita. Hasilnya, kita menjadi hidup sama semrawutnya dengan mereka, sama gundahnya, sama kacaunya, dan sama-sama kehilangan pegangan. Hal tersebut diakibatkan kita lupa atau memang dilupakan terhadap kebesaran diri sendiri yang penuh keagungan dan kemuliaan. Sejarah hidup kita menjadi kacau-balau atau sengaja dikacau-balaukan.

            Dalam mengatasi korupsi, misalnya, banyak orang yang dengan bangga terhadap penanganan yang dilakukan orang-orang barat, padahal korupsi itu sendiri berasal dari barat. Selesai dari membangga-banggakan barat, diteruskan dengan membangga-banggakan Negara Cina dengan mengulang-ulang pernyataan para pemimpinnya yang dikampanyekan tegas telah menyiapkan peti mati bagi dirinya sendiri jika terlibat korupsi. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Ketika terjadi kebocoran data dari Panama Papers, Cina yang dibangga-banggakan orang itu malah menutup akses ke situs Panama Papers. Bahkan, memblokir berita-berita dari Amerika Serikat.

            Kenapa mereka menutup akses ke situs-situs itu?

            Hal itu menunjukkan bahwa mereka ingin menutupi kebusukan mereka. Mereka takut banyak ketahuan perilaku curangnya.

            Kalau tidak merasa bersalah, mengapa harus ditutup?

            Seharusnya, biasa saja. Kalau data itu salah dan tidak benar, sebaiknya tertawakan saja, jangan kebakaran jenggot lalu menutup akses.

            Mengapa sih kita selalu membangga-banggakan orang lain?

            Mengapa sih kita tidak berusaha keras mempelajari sejarah kebaikan diri kita sendiri dan membuatnya sebagai dasar untuk memperbaiki diri setelah banyak kerusakan yang ditimbulkan akibat penjajahan?

            Kita dirusakkan oleh penjajahan, tetapi memperbaiki diri dengan berkaca pada negeri-negeri penjajah. Aneh.

            Seharusnya, untuk mengatasi korupsi, kita belajar dari leluhur kita sendiri yang bersih dari korupsi. Jangan percaya bahwa leluhur kita juga korup karena tidak ada data, fakta, dan bukti bahwa leluhur kita korup. Mau dipaksa-paksain juga data dan fakta itu sampai hari ini tidak pernah ada yang meyakinkan, semuanya cuma dugaan yang diakibatkan mental-mental terjajah yang menganggap diri kita selalu salah dan terbelakang. Kan sudah saya bilangin bahwa korupsi itu timbul setelah terjadi interaksi negatif dengan bangsa penjajah.

            Belajar dan gali dari kearifan lokal bangsa sendiri. Itu lebih baik. Kalau masih becermin pada orang lain, kita tidak akan pernah selesai karena bangsa lain yang kita tiru pun memiliki masalah yang lebih berat dibandingkan kita. Kita menjadi salah langkah dan salah arah.

            Dalam banyak hal sebenarnya kita sudah tampak lebih baik dibandingkan negara lain dalam memecahkan masalah. Akan tetapi, aneh sekali kita tidak pernah melakukan pujian atau respek terhadap diri sendiri, kita masih berpenyakit dengan menganggap bahwa orang lain selalu lebih bagus. Aneh sekali.

            Kita ambil contoh mengenai persoalan lesbian, gay, biseks, dan transgender (LGBT) serta terorisme.  Mari kita bandingkan antara pandangan kita dengan pandangan orang lain. Di Barat LGBT itu diterima dengan baik, bahkan disahkan dalam undang-undang mereka atas dasar Ham. Di Timur Tengah LGBT dianggap mirip kejahatan serius, bahkan Isis menghukum mereka dengan cara yang sangat sadis. Di Indonesia LGBT dianggap penyakit yang harus disembuhkan sehingga harus direhabilitasi agar dapat hidup secara normal, lalu penyebarannya dicegah agar tidak menular.

            Pandangan mana yang lebih baik antara Barat, Timur Tengah, dan Indonesia?

            Soal terorisme. Di Barat terorisme adalah kejahatan yang harus dihancurkan dan dipropagandakan sebagai perwujudan dari ajaran Islam yang harus disingkirkan dan dibasmi. Di Timur Tengah terorisme adalah pemberontakan yang menjadi lawan pemerintah yang sah sehingga dianggap sebuah gerakan besar yang akan menghancurkan kemapanan. Di Indonesia terorisme dianggap sebagai penyimpangan dari keyakinan yang benar sehingga harus disadarkan agar kembali pada masyarakat secara normal dan hidup dengan lebih baik. Di samping itu, pemerintah pun berupaya memperbaikinya dengan peningkatan kesejahteraan agar tidak melakukan lagi aktivitas-aktivitas menyimpang. Oleh sebab itu, di Indonesia dikenal istilah “kembali pada pangkuan Ibu Pertiwi”. Maksudnya, mereka yang telah salah arah kembali pada arah yang benar dalam kebersamaan dengan rakyat Indonesia lainnya.

            Pandangan mana yang lebih baik antara Barat, Timur Tengah, dan Indonesia?

            Sadari bahwa pandangan kita itu berasal dari nilai-nilai yang telah dilekatkan Allah swt sejak lama, sejak nenek moyang kita, dan itu adalah kebaikan, keluhuran, kemuliaan, serta anugerah yang sangat besar.

            Berhenti mengagungkan bangsa lain. Belajar dari diri sendiri agar tak salah langkah dan tak salah arah. Gali kemuliaan kebenaran sejarah kita sendiri, berangkatlah dari sana untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada.

            Insyaallah, Allah swt akan memberikan petunjuk yang benar jika kita berupaya melangkah dengan benar sesuai dengan nilai-nilai yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita.

Sunday, 22 November 2015

Keganjilan Isis

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sampai hari ini sesungguhnya belum ada yang benar-benar jelas, akurat, clear, komprehensif, dan nyata mengenai Isis yang kabarnya ingin membentuk negara Islam di Irak dan Suriah. Semua orang hanya menduga, mengira-ngira, dan mempercayai berita-berita yang beredar entah dari mana. Tak ada satu orang pun di muka Bumi ini yang mampu menjelaskan mengenai Isis secara kuat tanpa terlihat kelemahan dari berita atau deskripsi yang disampaikannya, kecuali pemimpinnya sendiri, tetapi tidak pernah menerangkan secara utuh. Hal ihwal Isis ini sampai sekarang masih kabur sepekat kabut puncak gunung pada pagi hari.

Dari awal kemunculannya saja sudah mengagetkan. Kok bisa hadir dengan pengikut yang sangat banyak bermilitansi tinggi, membawa senjata-senjata modern dan mahir menggunakannya, serta memiliki dana yang teramat mengejutkan.

Media-media Barat mencoba menjelaskan mengenai hal itu. Berita-beritanya masuk juga ke Indonesia. Mereka menjelaskan bahwa Isis merupakan pecahan dari Al Qaeda dan memiliki banyak uang hasil dari penjualan minyak di pasar gelap. Uang banyak itulah yang digunakannya untuk membeli senjata, menjalankan operasinya, dan memberikan uang saku, upah, atau honor bagi para pengikutnya dengan jumlah yang sangat menggiurkan.

Jika itu benar, dunia akan sangat mudah mengatasi Isis. Tidak perlu kirim pesawat tempur untuk mengebom Isis yang entah kena entah tidak. Tidak usah kirim pasukan bersenjata lengkap yang bisa saja terbunuh sewaktu-waktu sehingga keluarganya menjadi sedih. Potong saja “pasar gelap” itu. Kan pastinya yang beli minyak dari Isis kalau tidak pengusaha swasta bermodal besar yang bergerak di bidang minyak, ya negara-negara butuh minyak. Kan mudah dideteksinya oleh negara-negara besar yang katanya polisi dunia dan pemuja Ham itu. Hentikan saja jual beli antara Isis dengan konsumennya. Dengan demikian, Isis akan kehabisan dana untuk menjalankan berbagai programnya. Masa tidak bisa. Kan jadi aneh jika ingin menumpas Isis, tetapi aliran bisnis Isis dibiarkan lancar, meriah, penuh sukacita, dan gegap gempita. Menjadi sesuatu yang semakin aneh berteriak-teriak seperti  perempuan kecopetan di pasar mempropagandakan Isis sebagai teroris kejam dan mempertontonkan show upaya memerangi Isis. Padahal, upaya mempengaruhi dunia dengan berbagai propaganda itu memerlukan biaya yang sangat tinggi dan harus dilakukan secara terus-menerus.

            Ada lagi yang memberitakan bahwa Isis memiliki banyak dana dan mobil-mobil mahal yang bagus-bagus adalah hasil dari merampok bank dan showroom. Orang bisa percaya saja berita itu, tetapi saya merasa heran.

            Bank mana saja yang dirampok Isis? Di negara mana?

            Showroom mobil mana yang dirampok Isis? Di negara mana?

            Dunia tidak pernah mendengar ada bank yang dirampok dalam jumlah yang sangat besar dengan kerugian fantastis. Kalaupun ada negara yang bank-banknya dirampok Isis, niscaya negara itu akan jatuh dalam krisis ekonomi yang mengkhawatirkan karena Isis pasti menghabisi uangnya dan membunuhi siapa saja yang ada di sana, bahkan akan menjadi teror besar-besaran dalam sebuah negara. Kan nggak ada perampokan itu. Kalau ada, pasti jadi berita internasional juga.

            Begitu juga nggak pernah kedengaran ada showroom mobil yang habis ludes mobil jualannya digondol Isis. Kalau ada, pasti jadi sensasi dunia.

            Jangan mudah percaya dengan berita sepotong-sepotong yang tidak komplit dan cenderung membodohkan. Agak pintar dikit untuk mempercayai berita kan nggak apa-apa. Bagus malahan.

            Jadi, dari mana Isis sebenarnya dapat uang?

            Berita-berita yang berseliweran mengenai Isis pun, baik di televisi maupun di Youtube banyak yang aneh, kontradiktif, bohong, bahkan lucu. Saya bilang lucu karena kelihatan banget bohongnya, hanya video rekayasa. Yang bikin video sih keinginannya serius, tetapi karena tidak cerdas, kelihatan sekali begonya. Pada banyak acara televisi dan tayangan Youtube Isis diperlihatkan kejam, sadis, mudah menganiaya, dan gemar membunuh. Akan tetapi, pada stasiun televisi yang sama dan tayangan-tayangan Youtube lainnya diberitakan pula bahwa Isis membiarkan orang-orang Syiah untuk berpuasa dan melakukan ibadat sebagaimana keyakinannya masing-masing, malahan orang-orang Syiah itu berada dalam perlindungan Isis karena berada dalam wilayah yang dikuasai Isis. Kan kontradiktif dengan berita bahwa Isis membunuhi siapa saja yang tidak sesuai dengan keyakinan Isis. Bahkan, ketika pengungsi Suriah berlarian ke Eropa, Isis menyerukan untuk tidak perlu mengungsi atau berlarian. Hal itu menunjukkan bahwa Isis tidak akan membunuh atau melukai siapa pun yang tidak memusuhi Isis.

            Berita mengenai penyanderaan di Hotel Mako, Mali pun nggak lurus. Saat awal diberitakan para penyandera itu berasal dari kelompok Al Qaeda. Memang kemudian, Al Qaeda pun mengakui. Akan tetapi, tiba-tiba diberitakan lagi bahwa para penyandera itu berasal dari kelompok lain yang saya lupa namanya karena kelompok itu nggak beken-beken amat. Hal yang lucu dan aneh adalah berita ketika penyanderaan itu diatasi oleh pihak keamanan, pembawa berita atau reporternya mengatakan dengan jelas bahwa aksi penyanderaan itu dilakukan oleh Al Qaeda, tetapi pada saat yang sama diperlihatkan pula bahwa di hotel itu ditemukan bendera Isis yang sedang dibeberkan oleh polisi di depan kamera. Aneh bersaudara dengan lucu.

Jadi, siapa yang melakukan penyanderaan itu? Al Qaeda, kelompok lain, atau Isis?

Mungkinkah mereka bertiga melakukannya barengan?

Tidak mungkin karena penyanderanya juga hanya dua orang. Mungkin kelompok yang nggak beken itu ikut-ikutan ngaku karena pengen beken. Jadi, tinggal dua kelompok, yaitu Al Qaeda dan Isis.

Mungkinkah Al Qaeda dan Isis kerja sama?

Itu juga tidak mungkin, Bro.

Kenapa?

Al Qaeda itu punya tujuan yang berbeda dengan Isis. Di samping itu, banyak aksi Isis yang justru dikecam dan dianggap tidak Islami oleh Al Qaeda.

Jadi, memang berita yang beredar di dunia ini banyak yang dikendalikan oleh orang-orang yang punya banyak kepentingan dan tidak terlalu pintar berbohong, tetapi nggak mau jujur. Oleh sebab itu, kita jangan mudah terpengaruh. Kita harus bisa menganalisis sendiri ketika mendapatkan sebuah informasi. Jangan mudah diperdaya orang, agar kita tidak menjadi kambing congek yang mudah sekali ditarik-tarik kesana-kemari oleh para pendusta.

Para pendusta dan pembohong itu adalah anak buah Dajjal, baik sadar ataupun tidak. Kan Dajjal itu punya makna “Raja Dusta”. Raja Pendusta itu pasti punya anak buah pendusta dan pembohong. Makanya, jangan berbohong dan jangan berdusta kalau tidak ingin menjadi anak buah Dajjal. Kalau memang mau jadi anak buahnya, ya terserah.


Analisis Dalam Negeri

Dari seluruh keterangan mengenai Isis yang sempat saya perhatikan, baik yang beredar di luar negeri maupun dalam negeri, saya lebih menyukai yang berasal dari dalam negeri. Bukan soal dalam dan luar negeri atau soal nasionalisme yang menyebabkan saya lebih percaya pada analisa dari dalam negeri Indonesia, melainkan karena lebih jelas, lebih mudah dimengerti, dan lebih bisa dipercaya meskipun tidak yakin 100%.

Ada dua orang yang menjelaskan mengenai Isis, yaitu Salim Said, pengamat militer dan dunia, serta Mahfud Siddiq, anggota DPR RI Komisi I. Merekalah yang membuat saya sedikit agak bisa mengerti mengenai Isis.

Salim Said memberikan penjelasan dalam keadaan dirinya pun sebenarnya menunggu orang lain yang lebih paham mengenai Isis. Dia memberikan penjelasan berdasarkan pengamatannya dan pengalamannya dalam menganalisa berbagai hubungan yang terjadi di dunia internasional. Kalau saya tidak salah mendengar, Salim Said menjelaskan bahwa mereka yang berkepentingan di Suriah adalah dunia Barat karena ada minyak di sana. Barat menginginkan lebih bisa menguasai Suriah tanpa kendali Bashar al Asaad. Demikian pula Arab Saudi memiliki kepentingan pula terhadap jatuhnya Bashar al Asaad sebagai Presiden Suriah karena persoalan minyak juga dan perilaku Bashar al Asaad yang dianggap keras kepala. Jadi, Salim Said menduga keras bahwa Isis sebenarnya dibiayai Barat yang dimotori Amerika Serikat serta disokong pula oleh Arab Saudi. Oleh sebab itu, tak heran Isis memiliki dukungan dana yang begitu kuat dan besar.

Penjelasan Salim Said tersebut dapat kita anggap sebagai kebenaran sementara karena memang Amerika Serikat ketika melihat Isis dan pemberontak Suriah sudah mendesak Bashar al Asaad yang mulai terpojok, Obama segera merancang pemerintahan baru untuk Suriah. Di samping itu, sempat diberitakan pula protes dan kemarahan pilot-pilot pesawat tempur Amerika Serikat yang mendapat larangan dari atasannya untuk menembak Isis. Akan tetapi, tampaknya rencana Obama itu tidak berjalan normal karena Rusia mulai terlibat membantu Bashar al Asaad dalam memerangi Isis dan pemberontak Suriah. Hal itu menyebabkan militer Suriah yang hampir jatuh kembali mendapat kekuatan baru.

Soal Arab Saudi, kita bisa melihatnya dari keengganannya untuk memerangi Isis. Ada negara-negara yang mengajaknya untuk memerangi Isis, tetapi Arab Saudi menolaknya. Arab Saudi lebih memilih untuk memerangi pemberontak Syiah Houthi di Yaman.

Mahfud Siddiq, anggota DPR RI Komisi I, mengakui memiliki tim atau relasi yang mempelajari Isis di Suriah. Kalau saya tidak salah dengar, dia menjelaskan bahwa Isis terbentuk karena kesalahan kebijakan dari intelijen Amerika Serikat, Inggris, dan Israel di Timur Tengah. Orang-orang yang kecewa terhadap keadaan di Timur Tengah pun segera membentuk Isis.

Mahfud Siddiq pun mengingatkan pemerintah Indonesia agar tidak terlalu over acting dalam menanggapi persoalan Isis. Dia sangat tidak ingin pemerintah Indonesia “menari di atas gendang orang lain”. Artinya, Indonesia tidak perlu ikut-ikutan sibuk mengenai hal tersebut. Hal itu disebabkan jika Indonesia ikut sibuk, yang untung adalah negara-negara Barat dan Indonesia tidak mendapatkan apa pun. Mahfud melihat memang ada upaya dari berbagai negara yang berkepentingan terhadap keberadaan Isis untuk memperluas konflik ke negara-negara lainnya, termasuk ke Indonesia. Dia tidak ingin Indonesia terseret-seret ke dalam agenda mereka yang hanya menguntungkan mereka. Kita hanya dibuat sibuk saja tanpa mendapatkan manfaat apa pun.

Penjelasan dari Mahfud Siddiq dapat sedikit menerangi kita soal Isis. Hal itu disebabkan memang negara-negara Barat memiliki banyak kepentingan di Timur Tengah, baik secara ekonomi maupun politik. Kepentingan-kepentingan itu jadi berkolaborasi dengan orang-orang kecewa yang membentuk Isis untuk keluar dari kondisi yang mengecewakannya. Negara-negara besar yang berkepentingan dalam hal ekonomi dan politik di Timur Tengah bersinergi dengan kepentingan Isis yang juga menginginkan kekuasaan politik dan ekonomi serta menjatuhkan pemerintahan Bashar al Asaad yang kejam dan jahat terhadap rakyatnya. Di samping itu, mereka pun meyakini bahwa agar Irak dan Suriah keluar dari berbagai kesulitannya, harus didirikan negara Islam sesuai yang mereka yakini.

So, saya jadi teringat penjelasan dari Proklamator RI, Ir. Soekarno, bahwa sesungguhnya yang namanya fascism dan komunisme  hanyalah alat belaka yang nilainya sama dengan meriam waja. Itu hanyalah alat belaka untuk dijadikan dagangan dalam menguasai ekonomi dan politik. Maksudnya, dunia pada saat itu menjelek-jelekkan dan mempropagandakan bahaya fasis dan komunis. Soekarno berpendapat bahwa mereka yang berteriak-teriak mempropagandakan fasis dan komunis berbahaya sesungguhnya hanya ingin menguasai ekonomi dan politik di dunia. Saat ini alat atau dagangan itu bukan lagi fasis dan komunis, melainkan terorisme. Jadi, propaganda soal terorisme hanyalah kedok untuk menutupi maksud yang sebenarnya, yaitu tetap sama: ekonomi dan politik.


Apa pun yang mereka propagandakan, kampanyekan, teriakan selalu berujung pada hal yang sama yang dalam bahasa sekarang adalah UUD: Ujung-Ujungnya Duit.