Showing posts with label NIkel. Show all posts
Showing posts with label NIkel. Show all posts

Saturday, 15 July 2023

Antek Asing & Antek Aseng Sebenarnya


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Dalam musim kampanye atau bersaing politik, kita suka mendengar  tuduhan-tuduhan dengan kalimat “antek asing” atau “antek aseng”. Kedua istilah itu menunjukkan bahwa pihak yang dituduh adalah orang-orang yang merupakan kaki tangan negara asing dan negara Cina untuk menguasi Indonesia, merampok Indonesia, serta merugikan rakyat Indonesia. Pihak yang dituduh diisukan sebagai penjahat negara yang berkhianat terhadap Negara Indonesia.

            Sekarang, mari kita lihat fakta atau kenyataan yang sebenarnya. Pemerintah Indonesia sudah menegaskan dengan sangat kuat bahwa tidak ingin lagi menjual bahan tambang mentah ke luar negeri karena harganya murah dan keuntungannya sedikit. Pemerintah menginginkan Indonesia menjual barang setengah jadi atau bahkan barang yang sudah jadi. Artinya, negara mana pun yang ingin mendapatkan barang mentah dari Indonesia harus membuat pabrik pengolahan barang setengah jadi atau barang jadinya di Indonesia. Tidak boleh membeli bahan mentah, lalu diproduksi di negaranya. Dengan demikian, Indonesia mendapatkan banyak keuntungan, baik dari pajak, penyerapan tenaga kerja, maupun alih teknologi sehingga pada masa depan kita mampu berdiri sendiri dengan kemampuan sendiri untuk keuntungan yang lebih banyak. Contohnya, nikel yang merupakan bahan mentah baterai sudah dilarang dijual dan wajib diproduksi di dalam negeri.

Cina adalah negara yang ikut untung karena patuh pada keputusan pemerintah Indonesia dengan mendirikan pabrik di Indonesia untuk mengolah nikel. Berbeda dengan negara-negara Eropa yang marah kepada Indonesia, tetap menginginkan bahan mentah dari Indonesia, dan tidak mau mendirikan pabrik di Indonesia. Bahkan, mereka menggugat Indonesia untuk berperang pada sidang pengadilan internasional. Dengan demikian, pada ujung pemerintahannya, Jokowi tetap harus bertarung dengan 27 negara Eropa Barat, termasuk Amerika Serikat di dalamnya untuk mempertahankan kekayaan alam berupa bahan tambang agar lebih dinikmati oleh bangsa dan rakyat Indonesia.

Siapa pun yang merecoki dan menganggu pemerintah Indonesia dan Jokowi dalam bertarung mempertahankan sumber daya alam dan hak rakyat Indonesia adalah antek-antek asing. Langsung ataupun tidak langsung, mereka telah menguntungkan pihak barat serta merugikan bangsa dan Negara Indonesia dalam hal perebutan sumber daya ini.

Paham ya?

Setelah mempertahankan nikel dari asing, pemerintah Indonesia maju lagi melarang bauksit untuk dijual mentahnya ke luar negeri. Bauksit adalah bahan mentah untuk dijadikan alumunium. Kali ini negara yang dirugikan akibat kebijakan pemerintahan Jokowi untuk mempertahankan bauksit ada di dalam negeri Indonesia adalah Cina. Para ahli mengatakan bahwa Cina kemungkinan akan marah dan melakukan protes kepada Indonesia. Akan tetapi, tampaknya Jokowi tetap kukuh untuk menetapkan keinginannya agar bauksit diproduksi di Indonesia, dikerjakan rakyat Indonesia, mendapatkan keuntungan dari situ, serta rakyat Indonesia mendapatkan pula keuntungan dari alih teknologi untuk meningkatkan ilmu dan keterampilannya dalam mengolah bauksit.

Siapa pun yang merecoki dan menganggu kerja-kerja pemerintah dalam membela sumber daya alamnya agar tidak dikuasai Cina adalah antek-antek aseng. Merekalah sesungguhnya antek-antek aseng itu.

Sekarang paham kan siapa sesungguhnya antek-antek asing dan aseng itu?

Mereka menuduh orang yang bekerja memperjuangkan sumber daya Indonesia sebagai antek asing dan antek asing karena paham bahwa rakyat Indonesia itu mudah ditipu, apalagi dengan bahasa-bahasa agama, seperti, kafir, dzalim, thagut, sorga, dan neraka. Sudah, kita tidak perlu bodoh lagi ditipu orang-orang itu. Merekalah sebenar-benarnya antek asing dan antek aseng yang hendak menguasai Indonesia untuk mereka kuasai dan sama sekali tidak menguntungkan rakyat Indonesia.

Sampurasun.

Tuesday, 27 December 2022

Orang Indonesia Jangan Bodoh Kayak Orang Timur Tengah

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tidak semua orang Timur Tengah bodoh, tetapi kebanyakan mereka bodoh. Ada memang yang cerdas, ada yang shaleh, dan ada juga yang bijaksana, tetapi mayoritas mereka sangat bodoh. Orang-orang bodoh yang saya maksud adalah mereka yang membuat dan membiarkan negara tempatnya hidup hancur berantakan. Saya bilang mayoritas bodoh karena memang wilayah tempat mereka hidup hancur-hancuran, jauh dari kemanusiaan. Lihat saja Irak, Suriah, Afghanistan, Libya, dan yang lainnya. Mereka berantakan. Padahal, agamanya sama; bahasanya sama mirip, Arab; daratannya sama. Kalau mayoritas mereka cerdas, pasti orang-orang bodoh dapat mereka kendalikan dan sisihkan. Justru, orang-orang baik terpinggirkan dan orang-orang bodoh merajalela. Beberapa orang baik dan shaleh itu datang ke Indonesia.

            Dalam ceramahnya, mereka kerap menyerukan, “Jaga negeri kalian, Indonesia!”

            Mereka sangat paham dan merasakan penderitaan luar biasa akibat negara tempat tinggalnya menjadi lebur dalam sengketa dan runtuh gara-gara konflik. Oleh sebab itu, mereka tidak rela jika saudara seimannya di Indonesia mengalami hal yang serupa.

            Orang-orang bodoh itu menyangka sedang memperjuangkan kebenaran, memperjuangkan agamanya, tetapi sesungguhnya sedang merusakkan diri mereka sendiri. Mereka tidak sadar sebenarnya mereka telah diadu domba oleh berbagai kepentingan politik dan ekonomi yang sama sekali tidak memikirkan nasib manusia dan agamanya.

            Dari hampir semua penelitian yang dilakukan mahasiswa saya dan berbagai jurnal yang meneliti tentang Timur Tengah, selalu saja saya menemukan benang merah hal ihwal konflik itu. Benang merah itu adalah konflik akibat rebutan minyak bumi. Apa pun isunya, intinya tetap soal minyak bumi. Mau isunya menegakkan demokrasi, Ham, menegakkan khilafah, sunni lawan syiah, atau yang lainnya, intinya tetap saja rebutan ingin menguasai minyak bumi. Para politisi dan pengusaha serakah dari seluruh dunia memangsa wilayah Timur Tengah dengan cara mengadu domba orang-orang melalui berbagai isu seperti yang tadi saya sebutkan: demokrasi, Ham, menegakkan khilafah, sunni lawan syiah, atau yang lainnya. Hasilnya, karena terlalu banyak orang bodoh, mereka pun berkelahi karena ditipu politisi dan pengusaha serakah kapitalis yang sama sekali tidak memikirkan nasib rakyat dan agama.

            Kini zaman telah bergeser dan pada masa depan kebutuhan terhadap minyak bumi akan berkurang, tergantikan oleh baterai, listrik. Nanti akan banyak mobil, motor, dan mesin-mesin lain yang energinya berasal dari baterai bukan lagi minyak bumi. Bahan mentah penting baterai itu ada di Indonesia, yaitu nikel dan lithium. Sekarang lithium mulai ditemukan di Sidoarjo bekas lumpur Lapindo itu. Artinya, dalam beberapa tahun mendatang seluruh dunia membutuhkan nikel dan lithium untuk menjadi sumber energi. Mereka akan mati-matian untuk mendapatkan itu dari Indonesia. Hal itu sekarang saja sudah bisa dilihat bagaimana Uni Eropa menyerang Indonesia, 27 negara mengeroyok Indonesia melalui jalur politik dan diplomasi untuk menguasai nikel Indonesia.

            Apabila di Indonesia terlalu banyak orang bodoh, nasibnya akan sama, bahkan mungkin lebih mengerikan dibandingkan wilayah-wilayah di Timur Tengah yang rusak parah itu hingga kini. Rakyat Indonesia akan diadu domba para politisi dan pengusaha kapitalis serakah dengan menggunakan isu agama yang murahan itu. Saling mengafirkan, merasa paling benar sendiri, menganggap mereka sudah terdaftar sebagai penduduk surga di catatan Malaikat Ridwan sebagai panjaga surga, bahkan berani menghalalkan darah sesama muslim sendiri. Mereka tidak sadar bahwa sedang diadu domba agar lemah sehingga sumber alam berupa nikel, lithium, atau mineral lainnya dapat dikuasai oleh orang-orang licik.

            Dugaan atas tanda-tanda ke arah adu domba itu sudah tampak. Coba kita ingat kasus pengurangan volume adzan yang diimbaukan oleh Menteri Agama RI Gus Yaqut. Hal itu menimbulkan protes keras dengan kalimat-kalimat kasar, seperti, kafir, dzalim, murtad, dan thagut. Protes dengan makian kasar yang menyerang pribadi Gus Yaqut itu dilakukan oleh orang Islam sendiri. Padahal, kalau merasa sesama muslim dan sama-sama ingin berbuat kebaikan untuk kemuliaan Islam, dapat dilakukan dengan cara yang baik, sebagaimana yang diajarkan Allah swt, yaitu tabayun sembari silaturahmi. Minta penjelasan yang baik dan bertemu dengan baik pula. Kalau harus diskusi atau berdebat, lakukanlah hingga didapat kesepakatan dan kesamaan pemahaman yang baik hingga situasi tetap baik. Coba saat itu ketika Gus Yaqut dihina disamakan dengan anjing, GP Ansor bersama Banser yang mencapai tujuh juta itu marah, lalu melakukan pembalasan fisik, konflik berdarah pasti tak terhindarkan, kematian akan banyak mewarnai pemberitaan. Terjadilah adu domba itu dengan lebih nyata. Sementara itu, para politisi jahat dan pengusaha serakah tertawa-tawa karena umat Islam mulai sangat lemah yang pada gilirannya nikel, lithium, dan berbagai sumber daya alam lainnya akan sangat mudah dikeruk dari rakyat Indonesia. Hal ini akan menjadi mirip kejadian di Timur Tengah. Beruntung GP Ansor dan Banser dapat dikendalikan, kemarahan mereka dapat diredam. Kalau tidak, kita semua bisa rusak parah.


Protes Pengurangan Volume Adzan (Foto: Makasar Terkini - Terkini.id)


            Foto hinaan kepada Gus Yaqut saya dapatkan dari Makasar Terkini – Terkini id.

            Orang Indonesia jangan bodoh seperti orang-orang Timur Tengah. Kalau kita tidak cerdas melihat dan menganalisa situasi, kita akan mengalami nasib yang mengerikan, diadu domba, dan kita tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kerugian dan kerusakan parah. Jika ada masalah, kita punya jalan keluar yang biasa disebut dengan cara “kekeluargaan”, itu kearifan lokal yang harus dijaga. Jangan seperti orang-orang sono, perpustakaan berubah menjadi gudang senjata untuk membunuh saudaranya sendiri.

            Bagaimana akan ada generasi muda cerdas jika perpustakaan sudah menjadi gudang senjata?

            Indonesia harus cerdas dan bijaksana hingga menjadi sinar kebaikan bagi dunia.

            Bukankah banyak yang bercita-cita bahwa umat Islam Indonesia akan menjadi pemimpin dunia?

            Lakukanlah dengan cara cerdas dan bijaksana. Cara-cara seperti orang Timur Tengah akan menghancurkan harapan dan cita-cita karena sudah terbukti menimbulkan kerusakan bagi manusia.

            Sampurasun

Friday, 16 December 2022

Presiden Jokowi Memang Gila: Barat Ditantang, Rakyat Dipaksa, Cina Untung Besar

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya melihat Presiden RI yang gila itu ada dua, yaitu Presiden Soekarno dan Presiden Jokowi.

Soekarno dengan lantang pernah mengatakan, “Amerika kita seterika! Inggris kita linggis!”

Itu teriakannya sesuai dengan kondisi dunia saat itu. Bahkan, Soekarno menyatakan keluar dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) karena organisasi itu sudah dikendalikan para kapitalis penjajah yang merugikan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kini Jokowi pun mengatakan hal yang mirip. Dia menantang Barat dengan akan melawan setiap upaya barat yang ingin mengeruk kekayaan alam Indonesia secara tidak adil.

“Dulu kita dijajah dengan cara tanam paksa, kerja paksa, sekarang ada lagi ekspor paksa! Mereka seperti penjajah VOC dulu!” kurang lebih seperti itu kekasaran Jokowi pada Eropa Barat.


Jokowi (Foto: detikFinance-Detikcom)


Dia memang menantang barat. Meskipun pihak barat sudah mengalahkannya dalam sidang panel World Trade Organization (WTO) dan Indonesia diwajibkan untuk menjual lagi nikel dengan harga murah, Jokowi tidak peduli. Dia tetap kukuh dalam pendiriannya, tidak akan mematuhi keputusan sidang itu, apa pun risikonya.

Bahkan, pidato yang saya tonton tadi malam dalam pertemuan Uni Eropa-Asean, dia berkata keras di depan para pemimpin Eropa, “Tidak boleh ada satu negara pun yang mendikte negara lainnya. Jangan pernah ada anggapan bahwa pikiran atau cara dirinya yang paling benar, sedangkan orang lain salah.”

Pendek kata, Jokowi benar-benar “on fire” jika soal kedaulatan dan harga diri bangsa. Dia ingin yang untung besar adalah Indonesia, sedangkan yang lain harus cukup ikut untung menempel kepada Indonesia. Negara lain yang harus bergantung pada Indonesia, bukan sebaliknya, Indonesia bergantung pada negara lain.

Kepada rakyatnya sendiri, Jokowi memaksa untuk ikut permainan dunia. Dia memaksa rakyat untuk makin keras belajar dan makin keras bekerja. Hal itu disebabkan jika rakyat kurang pengetahuan dan kurang keterampilan, akan terlindas zaman, dan tertinggal jauh di belakang. Salah satu cara yang dia lakukan adalah memasukkan investor dan perusahaan-perusahaan asing untuk beroperasi di Indonesia. Hal itu dilakukannya agar rakyat ikut dalam permainan itu sehingga mampu memiliki penghasilan lebih layak dan memiliki pengetahuan karena ada program alih teknologi. Dia seolah-olah ingin mengatakan bahwa kita ini sedang tidak biasa-biasa saja dan harus melakukan sesuatu yang tidak biasa juga, harus lebih luar biasa.

Hal ini mengingatkan kita pada pernyataan Soekarno bahwa rakyat Indonesia benar-benar akan menjadi kuli di tanah air sendiri. Hal Itu disebabkan rakyat yang dianugerahi sumber daya alam besar ini tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkannya.


Jokowi (Foto: Lokadata.ID)


Dengan banyaknya beragam perusahaan dan produk, rakyat yang bisa menikmati pembangunan adalah mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang perusahan dan produk tersebut. Rakyat yang diam-diam saja atau berleha-leha, tidak akan dapat menikmati keuntungan karena tidak tahu apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Rakyat dipaksa untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan lebih dari biasanya.

Kengototan Jokowi agar bijih nikel tetap berada di Indonesia dan diolah di Indonesia, segera disambut Cina. Tanpa perlu basa-basi dan terlalu banyak syarat, Cina mematuhi kehendak Jokowi. Cina tunduk pada Jokowi. Cina segera memindahkan smelter (peleburan) dan pabrik-pabriknya dari Cina ke Indonesia, termasuk para ahli dan pekerja terampilnya. Sementara itu, negara lain masih banyak mikir, banyak berhitung, bahkan melawan Jokowi. Hal itulah yang menyebabkan Cina mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari proses pengolahan nikel di Indonesia. Bahkan, dengar-dengar sih industri nikel Cina yang ada di Indonesia sudah mencapai atau bahkan melebihi 50%.

Indonesia sendiri jelas memiliki keuntungan dari pajak, bea cukai, pembangunan, terbukanya lapangan kerja bagi rakyat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta alih teknologi. Sekarang memang masih sangat teramat banyak tenaga kerja Cina yang ada di dalam industri nikel Indonesia. Hal itu disebabkan memang Cina yang memiliki teknologinya dan memahami cara kerjanya. Sementara itu, rakyat Indonesia belum mampu mengoperasikannya. Akan tetapi, dengan adanya alih teknologi, Cina sepakat untuk memberikan pengetahuan tentang industri nikel kepada rakyat Indonesia. Dengan demikian, pada masa depan, rakyat dan para pengusaha Indonesia mampu mandiri mengolah nikel milik bangsa sendiri tanpa harus bergantung pada Cina.

 Jokowi memang gila. Dia keras pada barat, memaksa rakyatnya untuk bekerja, dan sudah menjadi konsekwensi bahwa Cina mendapatkan untung besar karena kesediaannya mengambil kesempatan yang ada di Indonesia sesuai dengan keinginan Indonesia.

Gambar Jokowi dalam aura marah saya dapatkan dari detikfinance-Detikcom. Adapun gambar Jokowi membawa pentungan, saya dapatkan dari Lokadata id.

Sampurasun.

Tuesday, 6 December 2022

Mereka Bilang “Perang Salib”, So Mari Kita Mulai Teror Mereka!

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya tidak mengerti mengapa mereka menggunakan istilah “crussade”,  ‘perang salib’?

            Ketika Presiden Republik Indonesia (RI) Jokowi diwawancarai media internasional, wartawan asing mengatakan bahwa upaya Jokowi mempertahankan bijih nikel Indonesia agar tidak dibeli mentahnya oleh Eropa dan Amerika Serikat adalah “perang salib Jokowi”. Indonesia bertahan bahwa bijih nikel tidak boleh dijual mentah, kecuali sudah menjadi barang setengah jadi ataupun barang jadi yang diproduksi di Indonesia. Akibatnya, Indonesia diserang Eropa melalui gugatan sidang panel World Trade Organization (WTO). Indonesia pun kalah dikeroyok negara-negara Eropa. Akan tetapi, Jokowi bukannya menyerah, melainkan tambah marah. Dia mengajukan sidang banding dan tetap melarang ekspor bijih nikel. Bahkan, dia makin marah dengan menegaskan untuk tidak akan lagi mengekspor nikel, bauksit, batu bara, dan timah ke luar negeri. Jokowi ingin semua diproduksi di Indonesia agar bisa membuka lapangan kerja bagi rakyat, tumbuh wilayah perekonomian baru, menarik pajak, dan alih teknologi sehingga pada masa depan rakyat Indonesia mampu mandiri dan memproduksi sendiri. Perlawanan Jokowi melawan Eropa itulah yang disebut media asing sebagai perang salib.

            Istilah perang salib itu mengingatkan kita pada penghancuran kekuasaan Inggris, khususnya Raja Richard oleh Sultan Salahudin Al Ayubi di Yerusalem, Palestina. Dalam keadaan terdesak, para bangsawan Inggris mempropagandakan ke seluruh dunia bahwa perang itu adalah perang salib antara Kristen melawan Islam. Mereka berharap seluruh dunia Kristen mendukung dan membantu mereka dalam menghancurkan pasukan muslim. Padahal, itu bukanlah perang agama, melainkan para bangsawan Inggris sudah kehabisan tanah di negaranya, kemudian mencari wilayah baru untuk para bangsawan yang tidak kebagian tanah, tempatnya di Yerusalem, Palestina. Tidak ada sebetulnya perang agama, itu hanya manipulasi Inggris untuk mendapatkan dukungan dari dunia Kristen agar memerangi Sultan Salahudin Al Ayubi yang kebetulan mayoritas muslim.  Mereka ingin menguasai tanah baru. Pasukan Sultan Salahudin sendiri tidak semuanya muslim, bahkan salah seorang jenderalnya beragama Kristen Katolik yang bernama Isa.

            Sayangnya, kaum muslim pun ikut-ikutan pada propaganda Inggris itu. Kaum muslim mengubah istilah perang salib dengan istilah “perang sabil”. Hal itu seolah-olah menguatkan hoax bahwa telah terjadi perang antara Kristen dan Islam. Padahal, tidak ada perang agama itu, cuma rebutan tanah untuk dikuasai. Akhirnya, perang itu dimenangkan Salahudin Al Ayubi.

            Apakah wartawan dan media asing menggunakan istilah perang salib yang sedang dilancarkan Jokowi itu untuk memanipulasi bahwa itu adalah perang antara Kristen Eropa melawan muslim Indonesia?

            Saya tidak tahu. Mestinya, jangan menggunakan istilah perang salib kalau memang tidak berniat buruk. Seharusnya, seluruh dunia bekerja sama dan saling berbagi dengan baik dengan tidak melakukan kecurangan, tanpa kelicikan. Akan tetapi, kalau memang niatnya curang, licik, dan jahat ingin merampok kekayaan Indonesia, mari kita mulai aksi teror terhadap Eropa.

            Apa itu teror?

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teror artinya adalah “usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan”. Jadi, mari kita bikin usaha agar orang-orang Eropa itu merasa takut dan ngeri bahwa bangsa Indonesia yang ramah ini bisa berubah menjadi kejam jika hak miliknya dirampok dengan cara yang jelas tidak sah.

            Presiden Jokowi sendiri sudah sejak awal melakukan teror. Ketika kalah dalam sidang WTO, Indonesia diwajibkan untuk kembali membuka ekspor nikel ke luar negeri, khususnya Eropa. Jokowi segera saja meneror Eropa dengan tegas untuk tidak akan pernah menjual lagi bijih nikel ke luar negeri. Bahkan, bahan tambang yang lainnya pun akan dihentikan. Keputusan sidang WTO tidak digubris Jokowi. Dia malahan naik banding. Itu sudah merupakan teror menakutkan bagi Eropa. Eropa bisa sangat kekurangan energi, kerusakan industri, dan kehilangan pendapatan.

            Lebih jauh dari itu, dengan bersuara lantang, Jokowi berpidato di dalam dan di luar negeri; menjawab pertanyaan wartawan di dalam dan di luar negeri menantang Eropa.

            Kurang lebih seperti ini, tantangan Jokowi untuk Eropa, “Kita sudah tidak mau lagi dijajah. Ratusan tahun sumber daya alam Indonesia dikeruk dengan menguntungkan pihak asing. Pada zaman penjajahan, kita dijajah dengan tanam paksa, kerja paksa. Sekarang, ada penjajahan baru, yaitu ekspor paksa! Kita dipaksa untuk menggali bahan tambang kita, lalu dijual ke luar negeri dengan harga murah. Kita tidak mau lagi seperti itu! Kita tidak takut terhadap negara mana pun.”

            Memang terbukti sih. Ketika bijih nikel mentah dijual ke luar negeri, Indonesia hanya mendapatkan sekitar 46 triliun. Akan tetapi, setelah diproses di dalam negeri dan menjadi baja stainless steel, Indonesia mendapatkan keuntungan belasan kali lipat, yaitu sejumlah 456 triliun. Itu baru baja, apalagi jika sudah dijadikan baterai untuk mobil dan motor listrik. Keuntungannya bisa puluhan kali lipat. Akan ada banyak uang yang masuk ke kas Negara Indonesia untuk membangun rakyat.

            Prabowo pun tampaknya mendukung penuh upaya Jokowi. Sebagai menteri pertahanan, dia menyiapkan persenjataan baru di darat, laut, dan udara dengan tujuan menyebarkan rasa ketakutan dan kengerian kepada siapa pun yang mencoba berpikir untuk berlaku curang dan merampok kekayaan alam Indonesia. Itu sudah merupakan upaya teror.

            Demikian pula dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang segera memastikan diri membangun pangkalan militer yang berbatasan darat dengan Timor Leste dan berbatasan laut dengan Australia. Itu adalah pesan teror yang menakutkan siapa pun dari pihak barat yang berniat mengganggu Indonesia.

            Kita sebagai rakyat pun harus melakukan teror pula dengan cara menyatakan bersiap sedia untuk membela negara beserta kekayaan alamnya dari keserakahan pihak asing. Kita harus menyampaikan kesan yang jelas bahwa rakyat yang ramah ini bisa berperilaku kejam dan menakutkan.  Coba asah itu berbagai senjata dari setiap suku yang ada di Indonesia, pertajam itu alat-alat perang, dengan mengupload pada berbagai media sosial dengan disertai ancaman kepada siapa pun yang berniat buruk pada Indonesia.

            Saya pun mencoba mencari-cari senjata orang Sunda untuk dijadikan upaya teror dan akan diupload di internet. Akan tetapi, susah juga ternyata. Orang Sunda itu tidak punya alat perang tradisional. Memang, satu-satunya suku yang tidak memiliki perisai untuk perang adalah Suku Sunda. Orang Sunda itu hanya punya golok dan cangkul, tetapi itu pun lebih ke alat kerja. Kalaupun ada yang disebut senjata, paling kujang, tetapi lebih ke arah alat perhiasan. Meskipun begitu, alat kerja dan perhiasan itu bisa menjadi senjata mematikan jika dipakai berperang. Suku-suku lain pasti punya alat-alat perang yang lebih beragam dan menakutkan untuk dipakai sebagai ancaman bagi siapa pun yang akan mengganggu negara.


Asahan, Golok, dan Cangkul


Kujang (Foto: ibelievemydreams WordPress com)

            Foto kujang saya dapatkan dari ibelievemydreams WordPress com. Saya tidak pernah mendengar ada orang yang mati karena ditusuk kujang. Itu hanya perhiasan yang bisa digunakan senjata jika situasi darurat terjadi.

            Bagi jendera-jenderal Amerika Serikat, rakyat Indonesia adalah sangat menakutkan karena jika tentara Indonesia berperang, rakyat Indonesia akan dengan sukarela bertempur bersama TNI. Hal ini hanya ada pada rakyat Indonesia, tidak pada rakyat negara lain.

            Akan tetapi, tentu saja kita tidak boleh membenci siapa pun. Tidak boleh membenci orang Eropa, barat, maupun timur. Kita tidak boleh membenci manusia. Hal yang kita benci dan perlu kita teror adalah keserakahan, kelicikan, kecurangan, kejahatan, dan penjajahan. Selama siapa pun orang asing yang berada di dalam Negara Indonesia melakukan kebaikan, kita tetap harus ramah dan hormat. Misalnya, mereka ada yang menjadi turis, mahasiswa, dosen, pekerja, pelaku seni dan budaya, peneliti, pengusaha, ataupun perwakilan negara asing, kita tetap harus berperilaku baik, penuh hormat, dan ramah. Jika mereka mulai jahat, itu perkara lain lagi.

            Ingat kata Mbah K.H. Hasyim Asyari bahwa membela negara adalah bagian dari menjalankan agama.

            Sampurasun.

Thursday, 24 November 2022

Barat Ingin Orang Bodoh Jadi Presiden Indonesia

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Teori-teori realis klasik menjelaskan bahwa manusia itu memiliki kecenderungan kuat untuk menguasai manusia lainnya. Itulah yang menyebabkan adanya banyak konflik dan perang di muka Bumi ini. Salah satu yang menjadi penyebab manusia ingin menguasai manusia lainnya adalah ingin menguasai sumber daya alam yang ada di wilayah manusia lainnya. Tampaknya, hari ini niat, kecenderungan, kebiasaan, dan perilaku orang-orang Barat, khususnya Eropa masih ngotot ingin menguasai sumber daya alam Indonesia.

            Foto penambangan nikel di Indonesia saya dapatkan dari Tagar id.


Penambangan Nikel di Indonesia (Foto: Tagar.id)


            Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara sumber nikel sangat besar di dunia ini. Selama beberapa tahun, mungkin puluhan tahun, Indonesia telah menjual nikel mentah ke luar negeri untuk bahan baja. Keuntungan Indonesia sangatlah kecil dari penjualan nikel mentah ini, hanya untuk beberapa keluarga dan beberapa eksportir. Melihat hal itu, Presiden RI Jokowi sudah tidak mau lagi menjual nikel mentah seperti pada masa lalu. Oleh sebab itu, Jokowi mengeluarkan perintah untuk melarang penjualan nikel mentah ke luar negeri. Jokowi hanya ingin menjualnya jika nikel itu sudah menjadi barang setengah jadi atau bahkan barang jadi. Artinya, negara mana pun yang ingin nikel Indonesia harus membangun pabrik di Indonesia. Jokowi ingin ada nilai tambah untuk Indonesia. Dengan adanya pabrik, Indonesia bisa membuka lapangan kerja bagi rakyat, menarik pajak, dan alih teknologi.

            Kebijakan Jokowi itu tentu saja membuat Eropa marah karena mereka sangat tergantung pada nikel Indonesia. Oleh sebab itu, mereka menggugat Indonesia dalam sidang WTO. Indonesia dipandang mereka telah berbuat tidak adil bagi mereka. Barat tidak mau mengikuti kehendak Jokowi. Akan tetapi, Jokowi tetap bandel dan kukuh pada pendiriannya. Hal itu telah terbukti, ketika Indonesia melarang ekspor nikel mentah ke luar negeri, pendapatan Indonesia dari nikel itu bertambah puluhan kali lipat dibandingkan masa lalu. Hal itulah yang telah membantu kuatnya ekonomi Indonesia hingga menurut IMF saat ini Indonesia adalah negara ranking tujuh dengan ekonomi terkuat di dunia. Jokowi melawan Eropa dengan memerintahkan untuk menghadirkan pengacara terbaik kelas dunia untuk membela Indonesia.

            Sidang pertama telah berjalan dan Indonesia dinyatakah kalah. Mudah bagi kita memahaminya, sidang itu berasal dari gugatan Eropa dan yang berada di sidang panel itu orang-orang Eropa juga. Wajar Indonesia jika dikalahkan. Akan tetapi, Indonesia tidak mudah menyerah, mengajukan naik banding atas keputusan sidang itu. Indonesia tetap melarang penjualan nikel mentah karena untungnya sudah jelas. Di samping itu, logikanya juga mudah dipahami bahwa nikel itu berasal dari Indonesia, milik rakyat Indonesia, ada di perut Bumi Indonesia, itu adalah hak bangsa Indonesia mau digunakan apa dan mau dijual atau tidak. Nikel itu terserah kita sebagai pemiliknya mau diapapun juga.

            Mudah kan berpikirnya?

            Punya kita ya gimana kita sebagai pemiliknya.

            Dari kebijakan Jokowi itu, tentu saja merugikan pihak Barat dan pihak di dalam negeri yang diuntungkan dari hasil kerja sama dengan Barat yang menguntungkan Barat itu. Jokowi ingin rakyat Indonesia yang untung, bukan orang lain. Seperti kata saya tadi, Barat boleh mendapatkan untung dari  nikel Indonesia, tetapi harus bikin pabrik dan mengolahnya di Indonesia. Bukannya mengambil mentahnya, dibawa ke negeri mereka sehingga mereka yang untung besar, sedangkan rakyat Indonesia tetap berada sebagai buruh mereka.

            Tak heran jika Jokowi banyak dibenci karena telah merugikan mereka, baik pihak Eropa maupun orang Indonesia yang berkomplot dengan Eropa. Tak heran pula jika mereka ingin menjatuhkan Jokowi dan berharap presiden Indonesia selepas Jokowi adalah orang bodoh yang dapat mereka kendalikan sehingga menguntungkan mereka, bukan menguntungkan rakyat Indonesia.

            Kalau menurut saya, sudah seharusnya seluruh dunia berbagi dengan cara saling menguntungkan. Akan tetapi, hormati pemilik sah kekayaan alam, lalu bekerja sama dengan cara yang baik tanpa harus bersikap serakah.

            Sampurasun

Tuesday, 19 October 2021

Bersiap Perang Sekali Lagi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita sudah tahu bahwa para penjajah datang berduyun-duyun ke Indonesia adalah untuk mendapatkan sumber daya alam Indonesia. Kekayaan Indonesia berikut sumber daya manusia Indonesia dieksploitasi untuk kemakmuran negeri para penjajah. Seiring dengan perjalanan waktu para pahlawan tersadar untuk melakukan perlawanan yang akhirnya Indonesia bisa merdeka pada 9 Ramadhan 1364 H yang kita kenal 17 Agustus 1945.

            Kita sekarang sudah merdeka. Secara fisik para penjajah sudah kalah dan pulang ke negerinya masing-masing. Kita bisa membangun sendiri. Akan tetapi, para penjajah tidak pernah berhenti untuk menjajah. Mereka memanfaatkan kebodohan Indonesia dalam hal teknologi dan diplomasi politik. Mereka masih mengeruk kekayaan alam Indonesia dengan menggunakan teknologi yang tinggi dan para pejabat korup. Sumber daya alam kita dikeruk sementara kita hanya mendapatkan uang recehan dan tidak membuat rakyat kenyang perutnya.

            Melihat kenyataan seperti itu, Indonesia terus membangun SDM melalui pendidikan dan mematangkan sikap politik sehingga secara bertahap bisa melepaskan diri dari keterbelakangan dan menguasai sendiri kekayaan alamnya. Orang-orang yang rajin belajar dan bekerja keras mulai menunjukkan dirinya untuk memanfaatkan sumber daya alam Indonesia untuk Indonesia sendiri dan bukan untuk negeri asing. Para pemalas, tetap berada di pinggir dan tersisihkan.

            Beberapa tahun belakangan ini Indonesia sudah menunjukkan nyalinya untuk mengambil bagian lebih besar dari perusahaan-perusahaan asing yang sejak dulu beroperasi di Indonesia. Tidak mudah memang untuk mengambilnya, tetapi perlu keberanian dan perjuangan yang melelahkan. Kini hasilnya mulai terlihat. Indonesia sudah meletakkan dasar yang kuat untuk mengambil hak yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

            Sebut saja PT Freeport yang dimiliki Amerika Serikat (AS) yang menambang emas di Papua, telah diambil sahamnya oleh Indonesia dalam jumlah yang sangat besar, 51%. Dulu, sebelum era Jokowi hanya 9,36% Indonesia mendapatkan bagian dari Freeport, kini 51%. Artinya, pendapatan Negara Indonesia bertambah untuk kepentingan rakyatnya. Di samping itu, Indonesia melarang perusahaan AS itu untuk membawa hasil tambang emas itu langsung ke AS, tetapi harus diolah dulu menjadi bahan setengah jadi di Indonesia. Dulu memang bahan mentahnya langsung dibawa ke AS, sekarang tidak boleh lagi.

PT Freeport diwajibkan untuk membangun smelter di Indonesia. Smelter itu pabrik pembuat barang setengah jadi. Kalau bingung tentang barang setengah jadi, begini contohnya, kapas adalah bahan mentah, bahan setengah jadinya adalah benang atau kain, bahan jadinya adalah pakaian jadi. Hasil tambang mentah dari Papua itu kini bahan mentahnya harus diproduksi di Indonesia, tidak boleh di AS. Setelah itu, baru boleh dibawa ke luar negeri untuk diproduksi di sana. Indonesia mungkin sadar diri baru mampu bikin barang setengah jadi. Kita harus semakin rajin belajar dan bekerja keras untuk mampu membuat barang jadinya. Harapannya, tentu saja disandarkan kepada para generasi muda yang sadar dan rajin, bukan kepada generasi muda pemalas yang hobinya meneriakan hoax dan ujaran kebencian.

Keberanian Indonesia itu tentu saja menunjukkan bahwa kemampuan diplomasi kita sudah semakin menguat, posisi politik Indonesia di dunia sudah semakin diperhitungkan, serta kekuatan TNI mulai bisa diandalkan untuk mengamankan kebijakan dan kemauan dari pemerintah Indonesia untuk semakin mampu mengambil haknya lebih besar lagi. Pengambilalihan ini tentu saja merugikan AS karena membuat smelter mereka berkurang produksinya yang artinya mengurangi pendapatan mereka. Oleh sebab itu, tidak aneh jika mereka marah dan menggugat Indonesia ke sidang internasional, pemerintah Indonesia ternyata tidak takut dan menghadapinya dengan tegar. Terjadi banyak debat dan persengketaan.

Hasilnya, kini AS mengalah dan harus tunduk pada keinginan Indonesia. Mereka kini mematuhi keinginan Jokowi untuk membangun smelter di Indonesia.  Pada Selasa, 12 Oktober 2021, Jokowi meresmikan pembangunan smelter terbesar di dunia, di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Dalam proses membangunnya saja membutuhkan tenaga kerja 40 ribu orang. Artinya, terbuka lapangan pekerjaan. Honor mereka akan dibelikan beras, makanan, pakaian, alat rumah tangga, bayar sekolah anak, membantu orang tua, jajan goreng pisang, kupat tahu, dsb. yang akan membuat transaksi ekonomi semakin bergerak meningkat. Belum lagi jika smelter itu sudah beroperasi, bisa ratusan ribu tenaga ahli yang bekerja, peningkatan ekonomi pun sudah pasti terjadi. Mereka yang bisa bekerja tentu saja yang memiliki kecerdasan dan keahlian dalam bidang itu. Makanya, sekolah dan tingkatkan keterampilan dengan benar.

Amerika Serikat sudah bisa diajak bekerja sama, Indonesia mulai percaya diri dengan sudah banyaknya anak-anak muda lulusan pertambangan yang siap berpartisipasi. Kini Indonesia kembali dihadapkan pada arogansi Unieropa yang ingin tetap mengeruk bahan mentah nikel dari Indonesia sebagai materi dasar untuk pembuatan baja dan baterai listrik. Sementara itu, pemerintah Indonesia sudah tidak ingin lagi mengekspor bahan mentah karena hasilnya sedikit. Indonesia ingin meningkatkan hasil pertambangan dari barang setengah jadi. Oleh sebab itu, Jokowi menegaskan siapa pun yang menginginkan nikel dari Indonesia harus membangun smelter di Indonesia. Tentu saja, keinginan Indonesia ini mendapatkan reaksi keras dari Unieropa karena mereka akan mengalami pengurangan pendapatan. Ini soal uang yang artinya soal perut. Unieropa akan menggugat Indonesia dalam sidang WTO di tingkat internasional, tetapi Jokowi tidak gentar dan akan mengerahkan pengacara mahal tingkat dunia untuk melawan Unieropa.

Secara akal manusia biasa saja keinginan Unieropa itu tidak masuk akal dan memang harus dilawan. Toh nikelnya milik kita, mau diapain juga terserah kita, mau dibuat hingga sampai barang jadi pun bagaimana kita saja, kan punya kita.

Mengapa Unieropa harus ribut, padahal itu kan bukan barang milik mereka?

Mereka memang arogan dan berupaya agar Indonesia tidak makin kaya. Negara yang harus kaya, ya mereka saja. Mereka masih bermental penjajah. Hal itu seperti yang dikatakan Luhut Binsar Pandjaitan bahwa tidak ada satu negara pun di dunia ini yang menginginkan Indonesia bangkit menjadi negara maju. Mereka ingin tetap menjadikan Indonesia sebagai tukang kuli gali tambang dan yang mendapatkan untung besar adalah mereka.

Mereka akan menggunakan berbagai cara untuk melemahkan Indonesia, salah satu cara yang tampak adalah menggugat Indonesia dalam sidang WTO secara internasional. Indonesia akan menghadapinya. Hal yang tidak tampak adalah sangat mungkin mereka akan membiayai para buzzerRp, partaiRp, OrmasRp, dan oknum aktivis BemRp untuk membuat nyinyiran, keraguan, dan huru-hara di Indonesia. Hal ini pun terjadi pada saat pengambilalihan saham PT Freeport. Orang-orang Indonesia bayaran mereka menyebarkan penipuan dan kebodohan bahwa Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk mengelola tambang emas.

Tidak mampu apanya?

Anak-anak muda lulusan pertambangan sudah banyak yang pintar kok. Mereka siap berpartisipasi. Kalau kata mereka Indonesia bodoh, ya mereka saja yang bodoh, jangan ngajak-ngajak orang lain ikut bodoh.

Seperti saya bilang, ini soal uang yang juga soal perut. Unieropa akan kehilangan penghasilan karena smelter-smelter mereka akan kekurangan bahan mentah dari Indonesia. Sementara itu, Indonesia ingin mengalihkan pendapatan itu untuk Indonesia sendiri. Bukan tidak mungkin mereka akan mengerahkan militernya untuk mengancam Indonesia seperti masa penjajahan dulu. Meskipun skenario perang itu sangat jauh dari terjadinya karena zaman sekarang adalah zaman pertarungan diplomasi, politik, ekonomi, dan cyber, Indonesia harus tetap waspada dan bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk soal ini. Kita harus bersiap-siap dan melakukan apa pun untuk mendapatkan hak kita. Jangan takut karena kita adalah keturunan pemenang perang.

Mudah-mudahan perang tidak terjadi, bahkan perang dalam sidang hukum internasional pun tidak perlu terjadi. Kita berharap bahwa Unieropa dapat bersikap seperti Amerika Serikat yang bersedia dan mampu bekerja sama dengan keinginan pemerintah Negara Indonesia.

Sampurasun.