oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Tentara Nasional Indonesia (TNI)
adalah pasukan resmi pertama yang akan masuk ke Gaza, Palestina dalam misi
perdamaian dan pemulihan kondisi wilayah. Kalau saya bilang pasukan pertama,
berarti siapa pun, akun apa pun, berita dari mana pun yang kemarin-kemarin
sering mengisahkan tentara dari negara lain masuk ke Gaza untuk menolong rakyat
Palestina dan mengalahkan Israel adalah bohong. Mereka memang suka berbohong
dan sangat senang mendengarkan ceritera bohong.
TNI memang pasukan yang diterima Israel untuk berada di
Gaza, bahkan telah mulai disiapkan tempatnya di Rafah dan Khan Younis.
Sebelumnya, memang pasukan Turki dan Qatar bersedia memasuki Gaza, tetapi
ditolak Israel. Adapun Indonesia diterima Israel mungkin karena melihat
pengalaman Indonesia dalam menjaga perdamaian di Kongo dan Libanon. Di samping
itu, pidato Presiden RI Prabowo pun berulang-ulang mengatakan bahwa Negara
Palestina harus berdiri dan Israel pun harus dijamin keamanannya. Pidato itu
menegaskan bahwa Indonesia benar-benar memperjuangkan berdirinya dua negara
merdeka di kawasan itu. Israel merasakan bahwa Indonesia lebih adil bersikap
dan terjamin tidak akan melakukan kekerasan terhadap Israel dibandingkan Turki
dan Qatar.
Indonesia melihat adanya celah untuk melaksanakan politik
bebas dan aktif di wilayah paling berbahaya di muka Bumi itu. Oleh sebab itu, segera
menyiapkan TNI untuk ambil bagian mengamankan daerah saling bunuh setiap hari
itu. Tinggal menunggu perintah dari Prabowo, TNI segera bergerak dan tidak akan
menunggu waktu lama lagi.
![]() |
| Pasukan perdamaian Indonesia (Foto: detikNews - detikcom) |
Meskipun ada celah untuk berperan aktif secara positif di
Gaza, celah itu tidak mudah, tetapi sempit, tajam, dan berbahaya. Prabowo harus
memastikan bahwa sebelum TNI berangkat ke Gaza, pasukan Israel harus sudah
pergi dari wilayah itu. Demikian pula pasukan “Harakat al Muqawama al Islamiyya” (Hamas), harus bisa bekerja sama
dengan Indonesia agar tercipta situasi yang jauh lebih baik di Gaza. TNI berada
di Gaza tidak untuk berperang dengan Israel, apalagi berperang atau
mengintimidasi Hamas. Pasukan TNI yang berada di sana adalah zeni yang bergerak
dalam perbaikan konstruksi dan perlindungan rakyat serta medis. Senjata yang
dipergunakan TNI hanyalah untuk membela diri dan memastikan tugasnya berjalan lancar,
bukan untuk menghancurkan musuh.
TNI yang ditugaskan di Gaza adalah untuk menciptakan
suasana positif dan bukan untuk bertempur. Oleh sebab itu, Israel harus pergi
dan Hamas harus menahan diri. Jika mereka tidak mau menghormati pasukan
Indonesia, Prabowo jangan sekali-sekali mengirimkan seorang prajurit TNI-pun ke
Gaza. Anak-anak muda Indonesia yang dikirim ke Gaza bukan untuk mati, melainkan
untuk menciptakan kehidupan.
Kalau Israel
dan Hamas tidak mau diatur, biarkan saja mereka berperang saling bunuh dan
hidup dalam keadaan tidak aman seterusnya, selama belum bosan. Itu artinya
mereka tidak mau berdamai, tetapi ingin terus berkonflik, ingin saling
membuktikan diri siapa yang terhebat di antara mereka. Israel merasa jumawa
karena di belakang mereka ada Amerika Serikat (AS), sedangkan Hamas merasa kuat
karena di belakang mereka ada Iran.
Kalau
mereka tidak mau saling menahan diri, untuk apa kita berada di sana?
Kita bisa apa?
Kalau situasi berlarut-larut tanpa ada penyelesaian,
rakyat Gaza yang akan sangat menderita dan tidak punya masa depan. Rakyat
hanyalah sejumlah angka yang selalu dihitung kesusahannya, padahal ada jalan
damai yang bisa dicoba dijalankan.
Prabowo tak harus mengirimkan tentara Indonesia untuk
mati, tetapi untuk menciptakan suasana yang lebih hidup dan harmonis.
Foto pasukan perdamaian Indonesia saya dapatkan dari
detikNews – detikcom.

No comments:
Post a Comment