Showing posts with label Rohingya. Show all posts
Showing posts with label Rohingya. Show all posts

Saturday, 5 October 2019

Demo Damai Berhasil


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Masyarakat dan mahasiswa tidak perlu ingin mengulang “demonstrasi dahsyat 1998”. Cukup satu kali kita menggulingkan pemerintahan dengan cara seperti itu. Memang saat itu kondisinya mengharuskan “siap mati”. Pemerintahan Soeharto sangat represif, rakyat tidak boleh bicara berbeda dengan pemerintah, orang bisa hilang tiba-tiba (oleh sebab itu lahir KontraS), korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) menjamur di mana-mana, kekuasaan politik sentralistik, semua orang dibungkam, tuduhan PKI mudah sekali keluar (siswa kesiangan saja disebut PKI, orang joget depan panggung aja disebut PKI), kekuasaan militer, polisi, lembaga pendidikan sangat dikuasai dan sangat menakutkan rakyat, jarak Si Miskin dan Si Kaya sangat lebar. Ujungnya, krisis moneter yang berubah menjadi krisis ekonomi, kemudian meluas krisis multidimensi. Tak bisa dihindari bahwa darah harus tertumpah dan nyawa harus hilang. Cukup satu kali dan tidak boleh ada lagi. Kalau mau menggulingkan pemerintahan sekarang, gunakan cara-cara yang konstitusional. Itu sah.

            Kalau mau demonstrasi, ya demonstrasi saja. Itu hak dan dilindungi undang-undang, tetapi jangan anarkis, memprovokasi aparat  untuk tawuran. Sampaikan melalui orasi atau aksi teatrikal. Itu bagus. Saya juga dulu begitu kok. Demonstrasi damai dan berhasil. Paling tidak, kalau tidak salah, saya ikut tiga kali demonstrasi dengan isu besar, yaitu soal penghapusan perjudian, penghentian pembantaian muslim Bosnia oleh militer Serbia-Kroasia, dan penyelesaian pembantaian terhadap muslim Rohingya di Provinsi Rakhine, Myanmar. Dua berhasil, soal perjudian dan pembantaian muslim Bosnia. Satu lagi soal Rohingya belum berhasil hingga hari ini. Demonstrasinya damai, tidak ada saling pukul dengan polisi. Tidak ada saling maki atau saling hina. Malah polisi menjaga agar demonstrasi bisa berjalan, lalu lintas tetap tidak terganggu.

            Mungkin masih banyak yang ingat bahwa dulu di Indonesia marak sekali dengan perjudian. Setiap hari dan setiap minggu orang-orang pasang nomor judi, hiburan katanya. Nama perjudiannya “Porkas” yang berasal dari bahasa Inggris “Forecast”, artinya ‘dugaan’ atau ‘ramalan’. Akan tetapi, banyak penentangan dari para ulama, kiyai ustadz, dai, atau mubaligh. Akhirnya, pemerintah mengganti namanya menjadi Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Dalih adanya perjudian itu untuk membiayai kegiatan olah raga di Indonesia, seperti, sepakbola, bulutangkis, atletik, dan catur. Malah, sebagian pejabat ada  yang mengatakan bahwa itu bukan judi, melainkan sumbangan. Kami, mahasiswa, berpendapat kalau judulnya sumbangan, ya jangan pakai embel-embel “berhadiah”. Orang pikirannya bukan mau menyumbang, tetapi ingin mendapatkan hadiah. Itulah judi. Haram.

            Demonstrasinya damai. Orasi di depan aula kampus Universitas Padjadjaran Bandung, lalu ke luar sambil teriak-teriak di Jln. Dipatiukur, Teuku Umar, H. Djuanda, Sangkuriang, Taman Sari, Ganesa, balik lagi ke kampus. Selesai. Yang punya jadwal kuliah, ya pada kuliah lagi. Empat hari sejak demonstrasi itu, pemerintah menjawab akan menghentikannya. Memang berhenti bertahap hingga hari ini tidak ada lagi perjudian yang dilakukan pemerintah dengan dalih apa pun. Kalau masih ada, perjudian itu pasti ilegal dan melanggar hukum.

            Soal pembantaian muslim Bosnia Herzegovina pun demikian. Demonstrasi dilakukan dengan damai. Mahasiswa orasi, shalawat badar, mengaji, dan siap berjihad ke Bosnia. Saya juga berusaha daftar kok untuk jihad bertaruh nyawa ke Bosnia karena memang genosida, “ethnic cleansing”, pembantaian ras, dan pembantaian muslim terjadi dengan sangat mengerikan.

            Akan tetapi, pemerintah Soeharto melarang mahasiswa untuk berjihad ke Bosnia dengan alasan yang lucu, pikaseurieun, “Jangan pergi berjihad karena mereka itu orang-orang bule. Orang Bosnia dan orang Serbia sama-sama bule, nanti tertukar. Kita sulit membedakan mereka. Nanti kita malah membunuh sesama muslim.”

            Memangnya mahasiswa itu bodoh?

            Masa berangkat dari Indonesia ke Bosnia, pas turun dari pesawat, lalu lihat orang bule langsung kita bunuh?

            Kan pastinya juga ada jaringan kerja dari Indonesia dan yang berada di Bosnia, pasti ada koordinator yang mengurus hal itu. Mereka pasti mengatur dan melakukan pembinaan, mana kawan mana lawan.

            Larangan itu membuat mahasiswa mayoritas tidak berangkat meskipun sudah ada yang berangkat juga sih. Meskipun tidak ikut berperang, saya masih ikut berpartisipasi. Saya berusaha daftar untuk mengadopsi anak-anak Bosnia korban perang. Banyak anak yang menjadi yatim piatu karena ayah dan ibunya mati dibantai. Saya berharap dapat mengadopsi anak Bosnia yang perempuan, rambutnya pirang, usianya tujuh belas tahun, cantik, tinggi, dan tubuhnya menarik hati.

            Teman saya bilang, “Kamu  mah bukan mau mengadopsi, tapi cari cewek!”

            “Memang iya, mau saya nikah. Itu juga menolong, sama-sama ibadah!” jawab saya, jujur aja.

            “Menolong kok harus sama yang cantik.”

            “Biarin.”

            Akan tetapi, tidak ada yang bisa saya adopsi. Mungkin yang cantik-cantik mah sudah sama orang lain yang ganteng dan kaya raya. Da aku mah apah atuh. Yang jelas mah bukan takdir.

            Meskipun pemerintah melarang, tetapi membuka pintu hubungan Bosnia-RI lebih dekat. Bahkan, Presiden Bosnia pun datang ke Indonesia, berterima kasih kepada rakyat Indonesia yang telah memberikan banyak dukungan, terutama makanan, pakaian, dan uang. Pemerintah Indonesia pun aktif membantu Bosnia di ruang-ruang internasional. Bahkan, Presiden Soeharto datang langsung ke Bosnia. Akan tetapi, ketika ia ingin ke wilayah-wilayah tempat terjadinya pembantaian, pasukan PBB tidak bisa menjamin keamanannya karena memang perang masih berlangsung. Meskipun demikian, Presiden Soeharto menguatkan rakyat Bosnia dengan membangun masjid di sana, namanya Masjid Istqlal sama dengan nama masjid nasional yang ada di Indonesia. Sampai sekarang masjidnya masih ada dan menjadi pusat aktivitas keislaman di Bosnia.

            Intinya, demonstrasi berjalan damai. Tak ada perkelahian dengan aparat, tak ada yang mati. Semua tenang dan berhasil. Bosnia kembali aman, kehidupan berjalan dengan baik. Sementara itu, para jenderal Serbia yang melakukan pembantaian didakwa sebagai “penjahat perang” dan dihukum dengan hukuman teramat berat. Kabarnya, ada yang dihukum mati. Nggak tahu juga sih, pokoknya dihukum berat.

            Demonstrasi damai ternyata berhasil. Hal itu disebabkan karena masalahnya jelas, mahasiswa mengerti jelas apa yang diperjuangkan, fakta-faktanya tidak bisa didebat, murni moral force, tak ada yang dibayar serupiah pun.

            Memang siapa yang diuntungkan secara ekonomi dengan membela Bosnia dan menghentikan perjudian?

            Itu murni “jihad fi sabilillah”. Bahkan, kita yang mengeluarkan uang untuk ongkos dan memberikan sumbangan.

            Soal tidak kebagian mengadopsi cewek bule cantik, itu mah urusan takdir.

            Ketika demonstrasi aksi membela Rohingya pun demikian, berjalan damai. Sayangnya, hingga hari ini soal Rohingya belum bisa selesai. Pembahasan soal ini mah beda lagi. Banyak peneliti yang melakukan penelitian soal sulit selesainya kasus pembantaian di Rohingya. Entar lagi soal ini mah.

            Demonstrasi itu bisa menggunakan orasi, aksi teatrikal, atau aksi lainnya yang beradab. Jangan memprovokasi aparat dan golongan masyarakat lain untuk tawuran karena jika terjadi beradu fisik, kerugian ditanggung semua.

            Sampurasun.

Saturday, 16 September 2017

Myanmar Mungkin Berdusta

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Beberapa waktu lalu saya menulis bahwa kita semua harus bersabar untuk tidak saling tuduh tentang berbagai kejahatan yang terjadi di Rakhine-Rohingya, Myanmar. Semua harus menunggu hasil dari kerja Tim Pencari Fakta untuk memahami sesungguhnya segala kekusutan yang terjadi. Kita sangat berharap TPF dapat berlaku jujur, adil, dan membuka segalanya dengan terang benderang tanpa berpihak, baik pada Myanmar maupun pada Rohingya. Hal itu disebabkan hanya dengan gambaran yang utuh dan jujurlah semua dapat melakukan analisis secara tepat bagi penyelesaian kekacauan dan kejahatan manusia atas manusia lainnya itu.

            Sayangnya, TPF tidak juga dapat bekerja dengan baik. Saya menduga dengan sangat keras bahwa TPF tidak dapat melakukan investigasi yang baik karena ada ‘keengganan” dari pihak Myanmar sendiri. Myanmar tampak berupaya menghalangi investigasi serta dalam kesempatan yang sama membangun opini dunia dengan penjelasan-penjelasannya sendiri. Sungguh teramat salah Myanmar membela diri dengan opininya sendiri tanpa melibatkan hasil investigasi dari TPF. Apa pun yang dijelaskan Myanmar akan dituding sebagai “kebohongan” karena berisi tentang pembelaan diri tanpa melibatkan pihak independen untuk melakukan cross check atas penjelasan-penjelasannya itu. Myanmar menyalahkan dunia karena berpendapat berdasarkan hoax, tetapi mereka tidak memberikan akses dan kesegeraan kepada TPF untuk melakukan investigasi yang menyeluruh. Sikap seperti itu hanya merugikan Myanmar sendiri karena terkesan tidak ingin diketahui oleh dunia tentang apa sesungguhnya yang terjadi di Rakhine-Rohingya, Myanmar. Myanmar berusaha melawan opini dunia dengan penjelasan-penjelasannya sendiri yang sangat sulit dipercaya. Dalam bahasa Indonesia, perilaku Myanmar itu sama dengan maling teriak maling, maksudnya penjahat menuduh orang lain melakukan kejahatan, padahal dia sendiri yang melakukan kejahatan. Sementara itu, dalam bahasa Indonesia ada lagi pemeo mana ada maling yang mengaku, maksudnya penjahat tidak mungkin mengakui dengan sukarela tentang kejahatan yang dilakukannya. Itulah yang saya llihat dari Myanmar. Mereka telah banyak melakukan kejahatan, terutama militernya, tetapi tidak mau mengakui kejahatan yang mereka lakukan dan menuduh pihak lain yang melakukan kejahatan itu.

            Sikap Myanmar itu sangat berbahaya karena sama sekali tidak menyelesaikan masalah dan hanya memperpanjang masalah. Bahkan, akan sangat merugikan Myanmar sendiri. Lebih jauh lagi, Sikap Myanmar seperti itu bisa mengguncangkan keamanan di kawasan Asean. Hal itu disebabkan perilaku militer Myanmar bisa mengundang kelompok-kelompok perlawanan dari luar Myanmar masuk ke Myanmar. Sebagaimana kita tahu bahwa Menlu RI Retno Marsudi pernah mengatakan bahwa tantangan keamanan ke depan adalah terorisme. Jika gerakan perlawanan dari belahan dunia lain masuk ke Myanmar, termasuk para teroris, Rakhine akan menjadi wilayah yang semakin semrawut dan mempengaruhi keamanan di kawasan Asean. Hal yang harus diperhatikan adalah jika para teroris masuk, mereka akan menjadi pahlawan untuk menghentikan kekerasan militer Myanmar terhadap Rohingya. Situasi akan menjadi lain.

            Myanmar memang harus ditekan dan dipaksa untuk menghentikan berbagai kedustaan yang dibangunnya sendiri. Myanmar harus dibuli karena berupaya membangun opini dunia dengan penjelasan-penjelasan yang sangat lemah.

            Salah satu pernyataan resmi yang dikeluarkan pejabat tinggi Myanmar akhir-akhir ini menunjukkan, paling tidak, saya menduganya adalah suatu “kebohongan”. Sang pejabat tinggi Myanmar itu mengatakan bahwa para penduduk Rohingya mengungsi ke Bangladesh dan negara lain adalah bukan disebabkan oleh kekerasan militer Myanmar, melainkan didorong oleh para pemberontak Arakan yang menyuruh rakyat mengungsi dengan janji akan ada kehidupan lebih baik di negara lain.

            Bagi saya, penjelasan itu teramat aneh karena sangat kecil kemungkinan terjadinya. Jika kita mengingat-ingat perilaku setiap gerakan separatis atau kelompok perlawanan, belum pernah ada kelompok perlawanan di dunia ini yang menyuruh rakyat mengungsi dan mengosongkan wilayahnya. Hal yang sangat masuk akal adalah justru kelompok-kelompok itu mengajak rakyat di wilayahnya untuk bergabung menjadi anggota perlawanan untuk menguatkan pasukan dan menggunakan rakyat sebagai aset bagi upaya perlawanan yang sedang dilakukannya. Isis saja ketika rakyat Suriah mengungsi, menyerukan bahwa rakyat Suriah tidak perlu mengungsi. Mereka tahu benar bahwa dengan rakyat bersamanya, kekuatannya akan semakin lengkap. Dengan demikian, penjelasan petinggi Myanmar itu sangatlah aneh, bahkan tampak bodoh.

            Di samping itu, kenyataan yang terjadi justru adalah kaum Rohingya merupakan kaum yang tidak diinginkan di Myanmar, militer Myanmar melakukan kekerasan terhadap rakyat Rohingya, dan menanam ranjau agar rakyat tidak kembali ke wilayahnya semula. Jadi, sesungguhnya yang terjadi adalah Myanmar sendiri yang mendorong pengungsian besar-besaran dan berharap agar kaum Rohingya berada di wilayah negara lain. Setidak-tidaknya, itulah penjelasan yang dapat diterima akal saya berdasarkan berbagai berita yang beredar akhir-akhir ini. Jadi, bukan pasukan Arakan yang mendorong kaum Rohingya mengungsi, melainkan kekerasan yang diterima akibat perlakuan mililter Myanmar-lah yang menjadi penyebab rakyat pergi.

            Indonesia sudah sangat tepat melakukan pertolongan pertama bagi penanganan kejahatan manusia atas manusia lainnya di Rakhine-Rohingya, tetapi Indonesia dan dunia tidak boleh lupa bahwa Myanmar sedang melakukan agenda sendiri untuk menyelesaikan masalah itu. Indonesia dan dunia tidak boleh lupa bahwa Myanmar sama sekali tidak memiliki kemampuan yang baik dalam menyelesaikan masalah di Rakhine-Rohingya. Hal itu bisa dilihat dari berlarut-larutnya masalah itu dengan penuh kekerasan dan kebencian yang tak juga kunjung berkurang terhadap kaum Rohingya selama puluhan tahun. Kalau dibiarkan, urusan itu akan terus berlanjut ratusan tahun ke depan. Oleh sebab itu, Indonesia dan dunia tidak boleh menunggu saja agenda-agenda yang dijalankan pihak Myanmar, melainkan harus memberikan tekanan yang keras agar Myanmar lebih terbuka serta menerima berbagai masukan, kritikan, dan mengubah pandangannya terhadap kehidupan di Rakhine-Rohingya. Hal yang paling penting dilakukan Myanmar adalah jangan berdusta dan biarkan orang lain melakukan investigasi agar mendapatkan solusi yang menguntungkan bagi Myanmar, Rohingya, Asean, dan dunia.


            Sampurasun

Sunday, 10 September 2017

TPF Rakhine-Rohingya Harus Jujur

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Berita-berita tentang kejahatan kemanusiaan di Rakhine, Myanmar terhadap Rohingya beredar kalang kabut bercampur hoax. Kita harus ingat setiap kejadian yang di dalamnya kaum muslimin terllibat adalah berita paling seksi bagi media massa asing dan dapat menarik keuntungan materi yang sangat besar. Oleh sebab itu, sering sekali berita tentang kaum muslimin ditambah-tambahi, dikurangi, atau direkayasa demi kepentingan ekonomi dan politik. Oleh sebab itu, kerja dari Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk PBB dan diketuai oleh Marzuki Darusman harus jujur, utuh, lengkap, dan menyeluruh. TPF harus mengumpulkan fakta dan tidak boleh berpihak pada salah satu pihak, baik berpihak pada penguasa Myanmar maupun pada kaum muslim Rohingya. TPF harus netral dan tidak boleh terpengaruh oleh emosinya sendiri.

            Agar TPF dapat bekerja optimal dan maksimal, Indonesia dan dunia harus mendorong tim ini bekerja dengan sangat baik dan mendorong pemerintah Myanmar agar memberikan akses yang penuh untuk diselidiki. Dengan gambaran fakta yang jujur dan utuh, akan dapat dilakukan analisis yang tepat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi sehingga semua pihak dapat diuntungkan, baik dunia, kaum Rohingya, maupun pemerintah dan seluruh warga Myanmar.

            Sekarang ini terjadi saling tuduh antara pemerintah Myanmar dan dunia internasional yang semuanya belum tentu benar. Myanmar belum tentu benar dengan pengakuannya, dunia termasuk Indonesia juga belum tentu benar dengan tuduhannya. Di sinilah celah timbulnya hoax-hoax yang akan memperkeruh suasana, apalagi dengan adanya kelompok-kelompok Islam yang berniat pergi ke Myanmar untuk membela dan berperang bagi Rohingya. Situasi bisa menjadi tambah rumit.

            Semua harus membuka diri bagi kerja-kerja TPF agar seluruh dunia melihat fakta yang terjadi dengan lebih utuh. Dengan demikian, penyelesaian terhadap krisis kemanusiaan tersebut bisa diatasi dengan cara yang saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, bukan lebih cepat, lebih baik, bukan pula lanjutkan. Begitu yang ditulis dalam teks Proklamasi RI.

            Berita atau ceritera yang beredar saat ini belum tentu benar karena tampak sekali setiap orang sudah berpihak, baik kepada Myanmar maupun kepada kaum Rohingya sehingga yang membela Myanmar menyalahkan Rohingya dan yang membela Rohingya menyalahkan Myanmar.

            Hal pertama yang harus dilakukan adalah jelas menghentikan kekerasan terhadap siapa pun dan oleh siapa pun. Akan tetapi, penghentian kekerasan saja sama sekali tidak cukup. Diperlukan upaya lanjutan agar situasi lebih kondusif secara permanen, yaitu Myanmar dapat mengelola negaranya dengan lebih baik dan damai serta kaum muslim Rohingya dapat berperan serta secara positif dalam pembangunan di Myanmar sebagai warga negara yang sah. Di samping itu, setiap kejahatan oleh siapa pun terhadap siapa pun harus dimusuhi bersama, baik oleh kaum muslim Rohingya maupun oleh pemerintah Myanmar. Untuk itulah, diperlukan Tim Pencari Fakta yang jujur dan memiliki akses yang luas agar mendapatkan fakta-fakta yang dapat dijadikan dasar untuk menganalisis situasi sehingga krisis kemanusiaan dan “kesusahan” di Myanmar bisa diatasi.


            Sampurasun

Salut untuk Kaum Budha Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kaum Budha Indonesia memberikan contoh yang sangat baik bagi para penganut Budha di seluruh dunia sekaligus contoh hebat bagi penganut agama-agama lain. Kaum Budha Indonesia memberikan kecaman yang sangat keras terhadap militer dan pemerintah Myanmar yang melakukan kekerasan keji terhadap kaum muslim Rohingya. Mereka sadar bahwa kejahatan terhadap manusia adalah bukan ajaran Budha. Mereka insyaf bahwa kaum Budha radikal dapat merusakkan nama baik kesucian ajaran Budha. Mereka paham benar bahwa kaum Budha di Indonesia adalah minoritas sehingga merasa perlu untuk terus hidup rukun dengan mayoritas kaum muslimin jika ingin bertahan hidup dalam damai di Indonesia. Mereka memaki perbuatan keji. Mereka pun mengumpulkan donasi untuk kaum muslimin di Myanmar.

            Perilaku kaum Budha Indonesia itu patut mendapatkan acungan jempol, penghargaan yang sangat tinggi. Mereka tak segan dan tak malu untuk memaki siapa pun yang menggunakan ajaran Budha untuk kekerasan.

            Memang begitulah seharusnya, setiap agama mengendalikan penganut agamanya sendiri untuk tidak melakukan kekerasan atas nama agamanya. Kaum muslimin sudah sejak lama melakukan hal itu. Setiap ada kelompok muslim yang lemah pengetahuan agama Islam, lalu menggunakan Islam sebagai alasan untuk melakukan kejahatan, kaum muslimin yang waras otak dan berpengetahuan agama luas akan melakukan kritik, makian, penentangan, bahkan bersiap untuk memerangi kaum muslimin yang dengan ceroboh menggunakan agama sebagai alat kekerasan. Dari zaman ke zaman perilaku itu sudah ada di lingkungan kaum muslimin. Hal itu memang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri bahwa suatu saat akan ada masa datangnya orang-orang berpikiran pendek untuk melakukan kekerasan dan orang yang paling mulia adalah orang yang memerangi orang-orang berpikiran pendek itu.

            Agama-agama lain pun seharusnya melakukan hal yang sama. Tidak perlu membela  orang-orang yang melakukan kerusakan, kejahatan, kekejian, dan kekerasan meskipun orang itu satu agama dengan kita. Katolik waras harus memerangi Katolik jahat, Protestan baik harus memerangi Protestan buruk, Hindu baik harus memerangi Hindu buruk, Yahudi waras harus memerangi Yahudi brengsek, Konghucu cerdas harus memerangi Konghucu bloon. Begitu seterusnya dengan agama-agama lain. Dengan demikian, tidak perlu terjadi saling hujat di antara penganut agama yang berbeda karena setiap penganut agama akan mengendalikan penganut agama sendiri. Orang Kristen tidak perlu menghujat orang Islam yang melakukan teror. Demikian pula orang Islam tidak perlu memaki dan menelanjangi orang Kristen yang melakukan kejahatan kemanusiaan atas dasar agama. Orang Islam wajib mengendalikan kaum muslimin sendiri. Kaum Kristen wajib mengontrol kaum Kristen sendiri. Dengan demikian, perdamaian di antara manusia bisa terus menguat dan semakin tercipta dengan nyata karena salah satu faktor pemicu kekusutan sudah bisa diatasi, yaitu perbedaan agama.

            Saat ini terjadi saling bela yang buruk berdasarkan agama. Hal itu disebabkan kejahatan pemeluk agama tertentu dibela oleh penganutnya walaupun jelas-jelas salah. Akibatnya, kejahatan itu ditimpakan dan dituduhkan pada kejahatan ajaran agamanya. Hal itu mengakibatkan persengketaan yang keras dan menyita banyak energi.

            Kaum muslimin sudah sangat lama mengontrol dan berupaya keras mengendalikan umatnya yang salah jalan, bahkan memeranginya, hingga membunuhnya. Kini kaum Budha dengan sangat nyata mengecam keras umatnya sendiri yang melakukan kekerasan terhadap kaum muslim Rohingya di Myanmar. Itulah kaum Budha yang cerdas dan patut dihormati oleh semuanya. Saya yakin kaum muslimin yang sehat jiwanya akan mendukung para penganut Budha yang seperti itu sehingga keharmonisan hidup di antara pemeluk umat beragama di Indonesia dapat dijaga. Itulah Pancasila sila ketiga, Persatuan Indonesia.


            Sampurasun

Thursday, 18 June 2015

Komitmen Myanmar terhadap Asean Harus Dipertanyakan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Diskriminasi dan tragedi terhadap Rohingya di Myanmar yang kemudian berimbas pada negara-negara di sekitarnya, termasuk Indonesia jelas merupakan tanggung jawab penuh Negara Myanmar. Negeri itu harus bisa menjelaskan dengan pasti penyebab peristiwa itu dan upaya yang pasti untuk menyelesaikan permasalahan itu.

            Jika memang benar Myanmar merupakan negara yang melegalkan pengusiran, pembunuhan, dan diskriminasi terhadap manusia, baik warganya sendiri maupun yang lainnya, komitmennya terhadap Asean harus benar-benar dipertanyakan.

            Asean itu memiliki kesepakatan Dasasila Bandung. Semua anggotanya harus berusaha keras melaksanakan Dasasila Bandung. Jika ada anggota Asean yang berkhianat terhadap Dasasila Bandung, otomatis dia sama sekalli tidak menghormati kesepakatan yang artinya untuk apa dia berada dalam Asean jika melanggar kesepakatan.

            Paling tidak ada dua sila yang telah dilanggar oleh Myanmar dalam hal kasus Rohingya. Pertama, Sila Pertama yang bunyinya Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Kedua, Sila Kesepuluh yang berbunyi Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional.

            Tragedi yang menimpa pengungsi Rohingya jelas merupakan pelanggaran terhadap kedua sila dari Dasasila Bandung. Pemerintah dan seluruh bangsa Indonesia jelas harus mengingatkan secara tegas dan keras agar Myanmar menghormati Dasasila Bandung yang telah disepakatinya. Jangan biarkan pergaulan di Asean sebagaimana pergaulan di dunia yang lebih luas yang hanya bersandar pada kekuatan militer, materi, dan kekayaan alam. Mereka yang kuat dalam hal-hal itu adalah yang harus dipatuhi, mirip preman pasar. Asean harus bersandar pada nilai-nilai luhur yang telah terkristal dalam Dasasila Bandung. Indonesia harus menjadi contoh untuk itu, yaitu jangan mau ditekan dengan hal-hal bersifat materi, tetapi konsisten berjuang menegakkan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Myanmar adalah contoh nyata negara yang harus dikembalikan pada nilai Dasasila Bandung.


            Bukan hanya harus diingatkan pada Dasasila Bandung, melainkan pula Myanmar harus diingatkan bahwa ajaran Budha adalah penuh kasih sayang dan tidak mengajarkan diskriminasi berdasarkan kesukuan, tempat lahir, maupun agama. Jangan permalukan Budha yang penuh kasih dan hormat dengan perilaku-perilaku yang jauh bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan yang diajarkan Budha.

Monday, 25 May 2015

Pengungsi Rohingya Harus Introspeksi Diri


oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya


Keadaan dan penderitaan pengungsi Rohingya memang sangat memprihatinkan dan mengerikan. Mereka memang berada dalam keadaan paling buruk dalam sejarah hidupnya sehingga harus mondar-mandir di lautan yang kemudian meminta pertolongan pada negara-negara lainnya, terutama di kawasan Asean. Siapa pun yang memiliki hati pasti akan merasa kasihan kepada mereka.


                Akan tetapi, di balik semua itu mereka pun tidak perlu lantas menjual penderitaan dan kesakitan agar mendapatkan pertolongan. Mereka tidak perlu pula terlalu menyalahkan orang yang dianggap menganiaya mereka. Yang pertama kali patut dilakukan adalah melakukan introspeksi terhadap diri mereka masing-masing.


                Bencana dan penderitaan yang mereka alami adalah disebabkan oleh kejadian-kejadian masa lalu. Kita semua memahami bahwa kejadian hari ini merupakan akibat dari masa lalu dan kejadian masa depan ditentukan oleh hari ini. Artinya, mereka harus pula introspeksi diri karena sangat mungkin bahwa bencana atau penderitaan itu diakibatkan oleh ulah mereka sendiri yang mengakibatkan datangnya hukuman dari Allah swt. Bukan hanya pengungsi Rohingya sebenarnya yang harus introspeksi diri. Semua bangsa, komunitas, maupun individu harus selalu introspeksi diri, jangan lantas menyalahkan orang lain atas penderitaan yang kita alami. Memang benar Allah swt sering mencoba kita dengan berbagai kegetiran yang dilakukan oleh orang lain tanpa kita melakukan kesalahan apa pun, tetapi biarlah cobaan itu berlangsung karena Allah swt sendiri yang melakukannya. Yang harus kita perhatikan adalah bisa jadi bahwa bencana, penderitaan, kerugian, kesakitan yang dialami itu diakibatkan oleh perilaku kita sendiri atau oleh kesalahan kita sendiri.


                Sangat mungkin penderitaan itu terjadi karena mereka di tempat asalnya tidak mau membaur, memiliki keinginan politik yang mengganggu orang banyak, melanggar hukum, menganggap diri lebih baik dan mulia, melecehkan orang lain, curang, jahat, dan lain sebagainya. Memang benar Islam adalah agama paling benar, paling mulia, dan paling logis. Akan tetapi, Islam sendiri harus dibawa dalam kehidupan ini dalam rangka rahmatan lil alamin, ‘memberikan rahmat bagi semesta alam’. Di mana pun kaum muslim hidup dan berdiri, harus mencerminkan rahmat bagi lingkungannya, bukan menjadi biang kegaduhan dan sumber pertengkaran. Kita harus selalu dalam keadaan berbuat baik. Kalaupun orang lain melakukan keburukan terhadap diri kita dalam keadaan kita selalu baik, kesalahan ada pada orang lain. Allah swt pasti akan menghukum orang jahat seberat-beratnya. Akan tetapi, jika orang lain melakukan keburukan kepada kita karena kita melakukan keburukan kepada orang lain, wajar kalau Allah swt memberikan peringatan yang keras kepada kita. Allah swt menghendaki kaum muslimin menjadi wakil-Nya di muka Bumi, bukan menjadi pengacau di tempat dia hidup. Allah swt itu Maha Pengasih dan Penyayang, maka kaum muslim harus menunjukkan kasih sayang yang dititipkan Allah swt dalam dirinya itu sehingga lingkungannya akan terterangi dengan lampion-lampion keindahan.


                Saya tidak menuduh pengungsi Rohingya melakukan banyak kejahatan di tempat asalnya sehingga mereka harus bertikai, menderita, kemudian kabur. Akan tetapi, adalah lebih baik jika melakukan introspeksi diri agar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik di mana saja kita hidup. Kalau kita sudah melakukan banyak kebaikan, tetapi orang lain tetap berbuat buruk kepada kita, kita boleh melakukan perlawanan atau menghindar, kemudian menyerahkan segala urusan kepada Allah swt.


                Introspeksi adalah sangat baik, kemudian cari solusi agar terjadi perdamaian dan kehidupan harmonis di muka Bumi ini. Saya sangat yakin kejadian yang menimpa kaum Rohingya ini ada penyebabnya, tidak mungkin tidak ada penyebabnya. Penyebab itulah yang harus segera dipecahkan. Penyebabnya itu bisa berasal dari kaum Rohingya sendiri, bisa pula karena kebencian yang tidak beralasan dari komunitas di luar mereka. Semua itu harus segera diselesaikan dan dicari jalan keluarnya dengan menghasilkan win win solution.
 
                Jadikan Islam sebagai benar-benar rahmat bagi semesta alam di mana pun kita hidup.