Showing posts with label Damai. Show all posts
Showing posts with label Damai. Show all posts

Tuesday, 28 June 2022

Cemas Keselamatan Jokowi

 


oleh: Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa hari ini semakin banyak orang yang cemas atas keselamatan Presiden RI Jokowi dan istrinya, Iriana dalam misinya untuk mendamaikan perang antara Rusia dan Ukraina. Perjalanan Jokowi dari Indonesia ke Jerman memenuhi undangan G7, lalu transit di Polandia untuk menggunakan kereta api menuju Ibu Kota Ukraina, Kiev, menemui Presiden Ukraina Zelensky, kemudian ke Moskow menemui Presiden Rusia Putin, mendapatkan sorotan rakyat Indonesia, termasuk perhatian dunia internasional. Banyak sekali doa yang dipanjatkan rakyat Indonesia dalam berbagai agama. Menurut survey, 76,7% rakyat Indonesia puas terhadap kinerja Jokowi. Wajar jika mendapatkan banyak doa dari seluruh agama di Indonesia.

            Sudah sesuatu yang normal jika rakyat Indonesia mencemaskan pemimpinnya yang mengunjungi medan perang yang dikabarkan lebih dahsyat dibandingkan perang dunia masa lalu. Bahkan, kata pengamat AS, tiga hari serangan Rusia ke Ukraina menimbulkan kerusakan yang sama dengan 73 tahun serangan Israel ke Palestina. Soal suka atau tidak suka terhadap Jokowi, semestinya dikesampingkan dahulu karena dia bagaimana pun adalah Presiden Indonesia. Saya tidak menyukai Presiden RI Soeharto, tetapi ketika dia keluar negeri dan mendapatkan perlakuan tidak baik dari negara lain, saya pasti tersinggung dan membela Soeharto. Saya tidak memilih Presiden SBY, tetapi ketika dia mendapatkan perlakuan buruk dari negara lain, saya pasti membelanya. Soal saya tidak suka, itu adalah urusan di dalam negeri.

            Indonesia adalah ibarat sebuah keluarga. Jika ada perselisihan di dalam keluarga, itu adalah urusan dalam keluarga, bukan urusan orang lain. Jika kita mengajak orang lain untuk ikut campur urusan keluarga kita,  itu artinya parah dan keluarga itu berantakan. Sudah tidak pantas lagi seorang anggota keluarga yang mengajak pihak luar untuk merusakkan keluarganya sendiri masih disebut anggota keluarga. Dia harusnya keluar dari keluarga itu. Tidak pantas seseorang meminta orang lain memukuli ayahnya, kakaknya, adiknya, atau bahkan ibunya sendiri karena ada persengketaaan keluarga. Apa pun yang terjadi dalam keluarga kita, jika anggota keluarga kita mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain, kita harus membelanya. Soal perselisihan keluarga, kita selesaikan di dalam keluarga sendiri.

            Hal yang banyak dicemaskan rakyat adalah ketika Jokowi berada di Kiev menemui Presiden Zelensky karena Ukraina adalah medan pertempuran. Sebetulnya, dalam etika hubungan internasional, Jokowi adalah tamu kehormatan negara. Ukraina harus menjamin keselamatan Jokowi. Demikian pula, Rusia harus menjaga keselamatan Jokowi. Wajib hukumnya. Jaminan itu pasti diberikan oleh Zelensky dan Putin. Jadi, selama Jokowi berada di Ukraina dan Rusia, sudah seharusnya perang berhenti untuk tercipta kondusivitas upaya perdamaian.

            Keamanan yang diberikan Ukraina dan Rusia sudah cukup bisa dipercaya oleh dunia untuk keselamatan Jokowi karena keduanya adalah negara sahabat Indonesia. Jadi, sudah pasti menjaga persahabatan itu. Hal yang tidak bisa diduga adalah adanya kemungkinan teroris “lone wolf” yang bergerak atas dasar keinginan kelompoknya sendiri dan tidak mengatasnamakan negara tertentu.  Dia atau mereka akan melakukan tindakan-tindakan brutal karena tidak menginginkan perdamaian terjadi dan sangat diuntungkan oleh perang tersebut. Dunia sudah mengalami kejahatan mereka itu, seperti, pembunuhan terhadap Presiden AS Abraham Lincoln dan Kennedy. Presiden Kuba Fidel Castro sempat mengalami ancaman yang sama berupa upaya pembunuhan menggunakan peluru, racun yang ditaburkan di gelas susunya, atau dioleskan di cerutunya, tetapi upaya para penjahat ini tidak berhasil terhadap Castro.

            Karena ancaman yang serius, Jokowi dilengkapi dengan Paspampres terbaik berjumlah 39 orang yang dilengkapi senjata laras panjang, helm, dan rompi antipeluru. Itu jumlah yang diberitakan, jumlah yang sebenarnya, saya yakin jauh lebih banyak dari itu.

            Semua persiapan yang dilakukan Indonesia-Ukraina-Rusia sudah sangat baik. Akan tetapi, hal apa pun bisa terjadi di medan tempur. Oleh sebab itu, diperlukan doa bersama agar perdamaian bisa tercipta. Minimal, upaya dialog awal mulai diciptakan Indonesia karena dialog pertama perdamaian yang dilakukan oleh Turki dan dialog kedua oleh Israel telah gagal mendamaikan mereka. Kalau perang tidak berhenti juga, dalam beberapa bulan akan terjadi kelaparan di dunia serta prediksi IMF bahwa akan ada 60 negara yang bangkrut dan 42 di antaranya dipastikan bangkrut, benar-benar terjadi.

Memang Indonesia tidak ada dalam daftar negara bangkrut itu. Akan tetapi, kalau banyak negara yang bangkrut, Indonesia akan kehilangan banyak rekan bisnis dan akan pula menanggung banyak kerugian.

            Semoga Presiden Jokowi dan rombongan tetap selamat dan perdamaian mulai tercipta. Aamiin.

            Sampurasun.

Saturday, 25 June 2022

Hebatnya Ulama Pendiri Bangsa

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Indonesia ini didirikan oleh ulama, para santri, dan para pejuang nasionalis lainnya. Orang-orang nonmuslim dan muslim yang tidak tergabung dalam organisasi keagamaan biasanya termasuk dalam golongan nasionalis. Merekalah yang disebut “founding fathers” atau “para pendiri bangsa”.  Jadi, bukan hanya Soekarno dan Mohammad Hatta, melainkan pula banyak elemen yang membidani kelahiran bangsa Indonesia.

            Kalau kita jadikan Soekarno sebagai tokoh sentral kependirian bangsa, banyak sekali ulama yang memberikan masukan dan partner debat Soekarno. Dia sendiri adalah murid dari Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Soekarno ditemani berjuang oleh Mohammad Natsir dan Mohammad Hatta. Dia sering berdebat dengan Buya Hamka dan Haji Agus Salim. Dalam catatan sejarah, dia pun kerap berdiskusi dengan Hassan Bandung. Di samping itu, dalam mempertahankan kemerdekaan sering sekali meminta nasihat Hasyim Asyaari dan Ahmad Dahlan. Dalam sidang-sidang konstituante dipenuhi pula oleh ulama.

            Diskusi, perdebatan, dan berbagai nasihat ulama itu telah membentuk dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Salah satu dasar yang menarik perhatian saya adalah politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif” dan sikap nonblok atau non alignment yang harus dijalankan Indonesia dalam bergaul di kancah pergaulan internasional.

            Politik luar negeri yang bebas dan aktif itu ternyata terbukti hari ini telah menyelamatkan Indonesia untuk tidak terseret-seret kepentingan asing, baik kepentingan Barat maupun Timur. Indonesia tidak boleh berpihak pada salah satu blok, tetapi harus bebas dari tekanan negara mana pun, tetapi tetap aktif mewujudkan perdamaian dunia. Indonesia harus tetap berada di tengah.

            Ulama dan para pendiri bangsa lainnya sudah punya penglihatan atau prediksi terhadap masa depan. Para ulama itu memahami kejadian-kejadian masa depan. Oleh sebab itu, mereka meletakkan dasar-dasar kehidupan bernegara, termasuk politik luar negeri bebas dan aktif agar bangsa Indonesia tetap berada dalam keadaan baik menghadapi situasi kehidupan masa depan. Makin kagum saya terhadap para ulama itu.

            Pada zaman ini semakin jelas dengan adanya perang Rusia Vs Ukraina yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya. Indonesia dibujuk rayu sekaligus diancam jika tidak memihak Barat oleh AS dan sekutunya. Indonesia pun didekati dan dipuji-puji oleh Rusia, Cina, dan sekutunya. Akan tetapi, karena diamanati oleh para sepuhnya yang terdiri atas para ulama dan pejuang nasionalis itu, Indonesia tetap kukuh pada prinsipnya, yaitu tidak memihak Barat maupun Timur. Dengan demikian, Indonesia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk aktif dalam mendamaikan Timur dan Barat agar kehidupan dunia berjalan lebih baik dan harmonis sesuai perkembangan zaman secara natural.

            Saat ini tampak jelas ketika dunia terbagi dua blok barat dan blok timur serta saling menguatkan kelompoknya masing-masing dan menjatuhkan lawannya, Presiden RI Jokowi malah memilih untuk berangkat menemui kedua presiden yang sedang berperang itu. Jokowi menemui Presiden Ukraina Volodymir Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan pesan perdamaian. Memang tidak mungkin hanya satu atau dua kali kunjungan akan terjadi perdamaian karena perdamaian itu memerlukan upaya besar dan berbiaya mahal, tetapi dengan kehadiran Jokowi ke kedua negara yang sedang perang itu minimal berhenti perang ketika Jokowi sedang berada di kedua negara itu. Mereka harus bertangung jawab atas keselamatan Presiden Indonesia sebagai tamu kehormatan mereka.

            Meskipun demikian, Paspampres Jokowi pun sudah bersiap bertugas dengan berupa gabungan pasukan Kopassus, Den Jaka, dan Paskhas dengan senjata laras panjang yang dilengkapi helm, rompi antipeluru, dan jumlah peluru tak terbatas. Kehadiran Jokowi dengan pasukannya yang berjumlah 39 orang itu disebut publik AS, Malaysia, dan Singapura, sebagai tindakan gila.

            Indonesia memang harus berperan aktif dalam mendamaikan dunia karena itu adalah pesan para pendiri bangsa sebagai wujud dari politik luar negeri bebas aktif. Politik luar negeri ini kalau dipandang dari ajaran Islam adalah sesuai dengan keinginan Allah swt dalam “QS Al Baqarah : 143” bahwa umat Islam adalah harus menjadi “ummatan wasathan”, ‘umat pertengahan’, yang bisa juga diartikan sebagai umat penengah yang menjadi saksi atas kehidupan manusia dan memberikan solusi bagi kekisruhan manusia, tidak berat sebelah, tidak ke kanan dan tidak ke kiri, tidak ke timur dan tidak ke barat, melainkan berada di pertengahan dengan sikap seimbang dan adil.

            Sekali lagi, sungguh saya mengagumi kecerdasan dan kemampuan prediksi para ulama pendiri bangsa agar Indonesia tetap berada di jalur yang benar.

Kalaulah ada yang sok tahu dan mengecilkan, bahkan menganggap karya besar para ulama Indonesia terdahulu dalam mendirikan bangsa ini adalah sebuah kesalahan dan menganggap diri mereka sendiri adalah lebih hebat dan lebih cerdas sehingga ingin mengubah Indonesia sesuai keinginan mereka, saya hanya ingn bertanya, apa yang telah kalian lakukan untuk negeri ini dan apa yang telah kalian korbankan untuk kepentingan rakyat Indonesia?

            Sampurasun.

Saturday, 5 October 2019

Demo Damai Berhasil


oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Masyarakat dan mahasiswa tidak perlu ingin mengulang “demonstrasi dahsyat 1998”. Cukup satu kali kita menggulingkan pemerintahan dengan cara seperti itu. Memang saat itu kondisinya mengharuskan “siap mati”. Pemerintahan Soeharto sangat represif, rakyat tidak boleh bicara berbeda dengan pemerintah, orang bisa hilang tiba-tiba (oleh sebab itu lahir KontraS), korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) menjamur di mana-mana, kekuasaan politik sentralistik, semua orang dibungkam, tuduhan PKI mudah sekali keluar (siswa kesiangan saja disebut PKI, orang joget depan panggung aja disebut PKI), kekuasaan militer, polisi, lembaga pendidikan sangat dikuasai dan sangat menakutkan rakyat, jarak Si Miskin dan Si Kaya sangat lebar. Ujungnya, krisis moneter yang berubah menjadi krisis ekonomi, kemudian meluas krisis multidimensi. Tak bisa dihindari bahwa darah harus tertumpah dan nyawa harus hilang. Cukup satu kali dan tidak boleh ada lagi. Kalau mau menggulingkan pemerintahan sekarang, gunakan cara-cara yang konstitusional. Itu sah.

            Kalau mau demonstrasi, ya demonstrasi saja. Itu hak dan dilindungi undang-undang, tetapi jangan anarkis, memprovokasi aparat  untuk tawuran. Sampaikan melalui orasi atau aksi teatrikal. Itu bagus. Saya juga dulu begitu kok. Demonstrasi damai dan berhasil. Paling tidak, kalau tidak salah, saya ikut tiga kali demonstrasi dengan isu besar, yaitu soal penghapusan perjudian, penghentian pembantaian muslim Bosnia oleh militer Serbia-Kroasia, dan penyelesaian pembantaian terhadap muslim Rohingya di Provinsi Rakhine, Myanmar. Dua berhasil, soal perjudian dan pembantaian muslim Bosnia. Satu lagi soal Rohingya belum berhasil hingga hari ini. Demonstrasinya damai, tidak ada saling pukul dengan polisi. Tidak ada saling maki atau saling hina. Malah polisi menjaga agar demonstrasi bisa berjalan, lalu lintas tetap tidak terganggu.

            Mungkin masih banyak yang ingat bahwa dulu di Indonesia marak sekali dengan perjudian. Setiap hari dan setiap minggu orang-orang pasang nomor judi, hiburan katanya. Nama perjudiannya “Porkas” yang berasal dari bahasa Inggris “Forecast”, artinya ‘dugaan’ atau ‘ramalan’. Akan tetapi, banyak penentangan dari para ulama, kiyai ustadz, dai, atau mubaligh. Akhirnya, pemerintah mengganti namanya menjadi Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Dalih adanya perjudian itu untuk membiayai kegiatan olah raga di Indonesia, seperti, sepakbola, bulutangkis, atletik, dan catur. Malah, sebagian pejabat ada  yang mengatakan bahwa itu bukan judi, melainkan sumbangan. Kami, mahasiswa, berpendapat kalau judulnya sumbangan, ya jangan pakai embel-embel “berhadiah”. Orang pikirannya bukan mau menyumbang, tetapi ingin mendapatkan hadiah. Itulah judi. Haram.

            Demonstrasinya damai. Orasi di depan aula kampus Universitas Padjadjaran Bandung, lalu ke luar sambil teriak-teriak di Jln. Dipatiukur, Teuku Umar, H. Djuanda, Sangkuriang, Taman Sari, Ganesa, balik lagi ke kampus. Selesai. Yang punya jadwal kuliah, ya pada kuliah lagi. Empat hari sejak demonstrasi itu, pemerintah menjawab akan menghentikannya. Memang berhenti bertahap hingga hari ini tidak ada lagi perjudian yang dilakukan pemerintah dengan dalih apa pun. Kalau masih ada, perjudian itu pasti ilegal dan melanggar hukum.

            Soal pembantaian muslim Bosnia Herzegovina pun demikian. Demonstrasi dilakukan dengan damai. Mahasiswa orasi, shalawat badar, mengaji, dan siap berjihad ke Bosnia. Saya juga berusaha daftar kok untuk jihad bertaruh nyawa ke Bosnia karena memang genosida, “ethnic cleansing”, pembantaian ras, dan pembantaian muslim terjadi dengan sangat mengerikan.

            Akan tetapi, pemerintah Soeharto melarang mahasiswa untuk berjihad ke Bosnia dengan alasan yang lucu, pikaseurieun, “Jangan pergi berjihad karena mereka itu orang-orang bule. Orang Bosnia dan orang Serbia sama-sama bule, nanti tertukar. Kita sulit membedakan mereka. Nanti kita malah membunuh sesama muslim.”

            Memangnya mahasiswa itu bodoh?

            Masa berangkat dari Indonesia ke Bosnia, pas turun dari pesawat, lalu lihat orang bule langsung kita bunuh?

            Kan pastinya juga ada jaringan kerja dari Indonesia dan yang berada di Bosnia, pasti ada koordinator yang mengurus hal itu. Mereka pasti mengatur dan melakukan pembinaan, mana kawan mana lawan.

            Larangan itu membuat mahasiswa mayoritas tidak berangkat meskipun sudah ada yang berangkat juga sih. Meskipun tidak ikut berperang, saya masih ikut berpartisipasi. Saya berusaha daftar untuk mengadopsi anak-anak Bosnia korban perang. Banyak anak yang menjadi yatim piatu karena ayah dan ibunya mati dibantai. Saya berharap dapat mengadopsi anak Bosnia yang perempuan, rambutnya pirang, usianya tujuh belas tahun, cantik, tinggi, dan tubuhnya menarik hati.

            Teman saya bilang, “Kamu  mah bukan mau mengadopsi, tapi cari cewek!”

            “Memang iya, mau saya nikah. Itu juga menolong, sama-sama ibadah!” jawab saya, jujur aja.

            “Menolong kok harus sama yang cantik.”

            “Biarin.”

            Akan tetapi, tidak ada yang bisa saya adopsi. Mungkin yang cantik-cantik mah sudah sama orang lain yang ganteng dan kaya raya. Da aku mah apah atuh. Yang jelas mah bukan takdir.

            Meskipun pemerintah melarang, tetapi membuka pintu hubungan Bosnia-RI lebih dekat. Bahkan, Presiden Bosnia pun datang ke Indonesia, berterima kasih kepada rakyat Indonesia yang telah memberikan banyak dukungan, terutama makanan, pakaian, dan uang. Pemerintah Indonesia pun aktif membantu Bosnia di ruang-ruang internasional. Bahkan, Presiden Soeharto datang langsung ke Bosnia. Akan tetapi, ketika ia ingin ke wilayah-wilayah tempat terjadinya pembantaian, pasukan PBB tidak bisa menjamin keamanannya karena memang perang masih berlangsung. Meskipun demikian, Presiden Soeharto menguatkan rakyat Bosnia dengan membangun masjid di sana, namanya Masjid Istqlal sama dengan nama masjid nasional yang ada di Indonesia. Sampai sekarang masjidnya masih ada dan menjadi pusat aktivitas keislaman di Bosnia.

            Intinya, demonstrasi berjalan damai. Tak ada perkelahian dengan aparat, tak ada yang mati. Semua tenang dan berhasil. Bosnia kembali aman, kehidupan berjalan dengan baik. Sementara itu, para jenderal Serbia yang melakukan pembantaian didakwa sebagai “penjahat perang” dan dihukum dengan hukuman teramat berat. Kabarnya, ada yang dihukum mati. Nggak tahu juga sih, pokoknya dihukum berat.

            Demonstrasi damai ternyata berhasil. Hal itu disebabkan karena masalahnya jelas, mahasiswa mengerti jelas apa yang diperjuangkan, fakta-faktanya tidak bisa didebat, murni moral force, tak ada yang dibayar serupiah pun.

            Memang siapa yang diuntungkan secara ekonomi dengan membela Bosnia dan menghentikan perjudian?

            Itu murni “jihad fi sabilillah”. Bahkan, kita yang mengeluarkan uang untuk ongkos dan memberikan sumbangan.

            Soal tidak kebagian mengadopsi cewek bule cantik, itu mah urusan takdir.

            Ketika demonstrasi aksi membela Rohingya pun demikian, berjalan damai. Sayangnya, hingga hari ini soal Rohingya belum bisa selesai. Pembahasan soal ini mah beda lagi. Banyak peneliti yang melakukan penelitian soal sulit selesainya kasus pembantaian di Rohingya. Entar lagi soal ini mah.

            Demonstrasi itu bisa menggunakan orasi, aksi teatrikal, atau aksi lainnya yang beradab. Jangan memprovokasi aparat dan golongan masyarakat lain untuk tawuran karena jika terjadi beradu fisik, kerugian ditanggung semua.

            Sampurasun.

Sunday, 10 September 2017

Salut untuk Kaum Budha Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kaum Budha Indonesia memberikan contoh yang sangat baik bagi para penganut Budha di seluruh dunia sekaligus contoh hebat bagi penganut agama-agama lain. Kaum Budha Indonesia memberikan kecaman yang sangat keras terhadap militer dan pemerintah Myanmar yang melakukan kekerasan keji terhadap kaum muslim Rohingya. Mereka sadar bahwa kejahatan terhadap manusia adalah bukan ajaran Budha. Mereka insyaf bahwa kaum Budha radikal dapat merusakkan nama baik kesucian ajaran Budha. Mereka paham benar bahwa kaum Budha di Indonesia adalah minoritas sehingga merasa perlu untuk terus hidup rukun dengan mayoritas kaum muslimin jika ingin bertahan hidup dalam damai di Indonesia. Mereka memaki perbuatan keji. Mereka pun mengumpulkan donasi untuk kaum muslimin di Myanmar.

            Perilaku kaum Budha Indonesia itu patut mendapatkan acungan jempol, penghargaan yang sangat tinggi. Mereka tak segan dan tak malu untuk memaki siapa pun yang menggunakan ajaran Budha untuk kekerasan.

            Memang begitulah seharusnya, setiap agama mengendalikan penganut agamanya sendiri untuk tidak melakukan kekerasan atas nama agamanya. Kaum muslimin sudah sejak lama melakukan hal itu. Setiap ada kelompok muslim yang lemah pengetahuan agama Islam, lalu menggunakan Islam sebagai alasan untuk melakukan kejahatan, kaum muslimin yang waras otak dan berpengetahuan agama luas akan melakukan kritik, makian, penentangan, bahkan bersiap untuk memerangi kaum muslimin yang dengan ceroboh menggunakan agama sebagai alat kekerasan. Dari zaman ke zaman perilaku itu sudah ada di lingkungan kaum muslimin. Hal itu memang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri bahwa suatu saat akan ada masa datangnya orang-orang berpikiran pendek untuk melakukan kekerasan dan orang yang paling mulia adalah orang yang memerangi orang-orang berpikiran pendek itu.

            Agama-agama lain pun seharusnya melakukan hal yang sama. Tidak perlu membela  orang-orang yang melakukan kerusakan, kejahatan, kekejian, dan kekerasan meskipun orang itu satu agama dengan kita. Katolik waras harus memerangi Katolik jahat, Protestan baik harus memerangi Protestan buruk, Hindu baik harus memerangi Hindu buruk, Yahudi waras harus memerangi Yahudi brengsek, Konghucu cerdas harus memerangi Konghucu bloon. Begitu seterusnya dengan agama-agama lain. Dengan demikian, tidak perlu terjadi saling hujat di antara penganut agama yang berbeda karena setiap penganut agama akan mengendalikan penganut agama sendiri. Orang Kristen tidak perlu menghujat orang Islam yang melakukan teror. Demikian pula orang Islam tidak perlu memaki dan menelanjangi orang Kristen yang melakukan kejahatan kemanusiaan atas dasar agama. Orang Islam wajib mengendalikan kaum muslimin sendiri. Kaum Kristen wajib mengontrol kaum Kristen sendiri. Dengan demikian, perdamaian di antara manusia bisa terus menguat dan semakin tercipta dengan nyata karena salah satu faktor pemicu kekusutan sudah bisa diatasi, yaitu perbedaan agama.

            Saat ini terjadi saling bela yang buruk berdasarkan agama. Hal itu disebabkan kejahatan pemeluk agama tertentu dibela oleh penganutnya walaupun jelas-jelas salah. Akibatnya, kejahatan itu ditimpakan dan dituduhkan pada kejahatan ajaran agamanya. Hal itu mengakibatkan persengketaan yang keras dan menyita banyak energi.

            Kaum muslimin sudah sangat lama mengontrol dan berupaya keras mengendalikan umatnya yang salah jalan, bahkan memeranginya, hingga membunuhnya. Kini kaum Budha dengan sangat nyata mengecam keras umatnya sendiri yang melakukan kekerasan terhadap kaum muslim Rohingya di Myanmar. Itulah kaum Budha yang cerdas dan patut dihormati oleh semuanya. Saya yakin kaum muslimin yang sehat jiwanya akan mendukung para penganut Budha yang seperti itu sehingga keharmonisan hidup di antara pemeluk umat beragama di Indonesia dapat dijaga. Itulah Pancasila sila ketiga, Persatuan Indonesia.


            Sampurasun

Thursday, 4 May 2017

Menggunakan Ayat Al Quran untuk Melakukan Fitnah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak sekali orang yang menggunakan ayat-ayat Al Quran untuk membuat fitnah, huru-hara, kebingungan, kekacauan berpikir, dan perpecahan di antara manusia. Mereka pikir Allah swt tidak tahu perilaku mereka. Sesungguhnya, Allah swt telah mengetahuinya sejak lama. Oleh sebab itu, perilaku mereka diabadikan di dalam Al Quran sebagai peringatan bagi seluruh manusia.

            “Dia-lah yang menurunkan kitab kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (mudah dipahami maksudnya), itulah pokok-pokok Kitab (Al Quran) dan yang lain mutasyabihat (mengandung beberapa penafsiran). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah.

            Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, ‘Kami beriman kepadanya (Al Quran), semuanya dari sisi Tuhan kami.’

            Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran 3 : 7)

            Pada ayat itu jelas sekali Allah swt menegaskan bahwa ada ayat-ayat yang mutasyabihat, yaitu ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian, sulit dipahami, atau hanya Allah swt yang tahu. Ayat ini bukan berarti rahasia karena Allah swt akan memberikan pengetahuan yang benar kepada orang-orang yang dianggap-Nya pantas untuk mendapatkan ilmu tersebut. Orang-orang yang dipercaya Allah swt adalah orang yang mendalam ilmunya pada berbagai bidang ilmu, bukan hanya pandai berbahasa Arab. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya sudah penuh dengan kesesatan, penuh kebencian, dan gemar membuat bingung masyarakat akan terus-menerus menggunakan ayat-ayat mutasyabihat  dengan tujuan untuk membuat kebingungan, kesesatan berpikir, huru-hara, perpecahan, dan menggiring masyarakat untuk mengikuti hawa nafsu mereka.

            Kalaupun ada orang-orang yang mendalam ilmunya yang telah diberi Ilmu oleh Allah swt tentang ayat-ayat yang mutasyabihat tersebut memberikan penjelasan, orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan akan menolak apa pun penjelasan dan bukti yang diberikan kepadanya. Mereka terus-menerus mempertahankan pendapatnya sendiri karena memang niatnya juga untuk mencari-cari gara-gara dan membuat fitnah di antara manusia. Mereka terus mengampanyekan pikirannya sendiri, padahal ayat tersebut memiliki banyak penafsiran dan sangat mungkin pendapat mereka bertolak belakang dengan maksud Allah swt. Sayangnya, mereka tidak berpikir lagi apakah mereka benar atau salah karena maksud awalnya juga hanya untuk cari gara-gara, fitnah, dan perpecahan di antara manusia.

            Allah swt tahu niat buruk mereka. Allah swt sangat paham terhadap diri mereka.

            Adapun orang-orang yang mendalam ilmunya akan menerangkannya untuk memberikan pemahaman yang baik kepada manusia agar kehidupan manusia menjadi penuh cinta, kasih sayang, harmonis, dan selalu damai dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt. Hal itu disebabkan Allah swt adalah Maha Penuh Cinta, Mahakasih, Maha Penyeimbang Kehidupan.

            Berbeda jauh antara manusia yang hatinya sudah sesat dengan manusia bijak yang penuh dengan ilmu.

            Bagi mereka yang hatinya condong pada kesesatan, ada peringatan dari Allah swt. Sehebat apa pun mereka menutupi kesesatan hati dan pikirannya dengan berkoar-koar bahwa langkah-langkahnya sebagai jihad fisabilillah, Allah swt tidak pernah tertipu. Allah swt tahu benar isi hati mereka semuanya.

            “Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di Bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkan (perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Baqarah 2 : 284)

            Percuma berbohong, percuma bikin hoax, percuma tampil seperti orang-orang baik jika hanya untuk menutupi kejahatan yang tersembunyi di dalam hati. Allah swt tahu apa yang ada di dalam hati manusia, baik jika manusia itu mengatakannya lewat mulut dan lidahnya atau sama sekali disembunyikan dalam hatinya. Sama saja bagi Allah swt, dinyatakan atau tidak. Allah swt tahu segala isi hati seluruh manusia dan akan menuntut pertangungjawaban atas isi hati itu, baik sekarang di dunia ataupun nanti di akhirat.


            Sampurasun.