Showing posts with label Ganja. Show all posts
Showing posts with label Ganja. Show all posts

Saturday, 5 August 2023

Rocky Gerung Kena Pengaruh Ganja


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Tidak aneh kalau Rocky Gerung bicaranya ngelantur, ngecapruk, ngaco, berantakan, dan menyesatkan. Bisa jadi ketika dia berbicara ngawur itu berada di bawah pengaruh ganja.

            Dia sendiri kok yang mengaku menghisap ganja Desember lalu di Nepal, tepatnya di Gunung Himalaya. Dengan menghisap ganja Nepal, dia jadi bisa membedakan antara ganja Himalaya dengan ganja Aceh. Lihat saja pengakuannya dalam video di @SAGOETV. Menurutnya, ganja Aceh itu lebih murni karena ketika dibakar, apinya berwarna merah muda. Adapun ganja Himalaya ketika dibakar, seperti rokok biasa. Artinya, Rocky menghisap ganja Himalaya dan ganja Aceh juga. Anehnya, ketika dia menerangkan hal itu, orang-orang bertepuk tangan.

            Apakah para pendengarnya gembira hingga bertepuk tangan adalah karena mereka pengggemar dan pecandu ganja?

            Rocky berbicara menghisap ganja kok dikasih tepuk tangan.

            Saya dapatkan foto ketika Rocky menerangkan dirinya berada di antara pohon ganja dari FIN.


Rocky dan Ganja (Foto: FIN)

            Saya juga membaca berbagai komentar di video itu yang mayoritas memberikan dukungan.

            Ada yang menulis, “Love you ganja.”

            “Ganja is the best.”

            “Legalkan ganja!”

            “Ada nggak orang mati karena ganja?”

            Semacam itulah komen-komen para pendukungnya yang aneh-aneh itu. Rusak bangsa kalau ini semakin diteruskan.

            Dia mengaku menghisap ganja Nepal di Himalaya. Itu artinya di luar hukum Indonesia. Meskipun di luar Indonesia, pengaruhnya ada di tubuhnya dan dibawa ke Indonesia.

            Kalau menghisap ganja Aceh, di mana? Kapan?

            Berapa linting ganja yang telah dia hisap selama ini?

            Polisi dan BNN harus segera bergerak memeriksa Rocky terkait ganja ini. Rocky harus segera dites urine. Orang-orang bodoh banyak yang mengikutinya.

Kalau pengikutnya ikut-ikutan jadi penghisap ganja, bagaimana coba?

            Saya jadi kasihan sama para penggemarnya yang selalu mengelu-elukannya. Bisa jadi selama ini mereka memberikan dukungan pada ocehan orang yang sedang di bawah pengaruh ganja. Mereka tertipu. Bahkan, hal yang lebih parah adalah banyak yang meneriakan takbir untuk mendukung provokasi Rocky ketika berbicara ngawur soal Negara Indonesia. Masyaallah, luar biasa, super sekali.  

            Berpikirlah cerdas, gunakan akal sehat, biasakan runut dalam berlogika, dan jadikan ayat-ayat Tuhan sebagai dasar berbicara serta berperilaku. Jangan memutar-mutarkan ayat agar sesuai dengan hawa nafsu kita.

            Sampurasun.

Saturday, 1 February 2020

Jangan Memusuhi Ganja

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ini kali kedua saya menulis tentang hal ini. Dulu saya menulis dengan judul “Ganja Tidak Salah”. Tidak disangka tulisan itu menimbulkan banyak reaksi positif, paling tidak, banyak yang ingin mengontak saya, tetapi semuanya berasal dari Eropa dan rata-rata memang “pengusaha ganja”. Mereka kirim foto-foto ladang ganja dengan diri mereka juga.

            Tulisan kali ini mencoba ikut menanggapi usulan ekspor ganja sebagai salah satu komoditas ekspor nasional yang sempat dilontarkan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rafli Kande. Akan tetapi, belakangan dia ditegur partainya, lalu meminta maaf.

            Sebetulnya, kesalahan dia itu adalah mengajukan ekspor ganja sebelum diketahui manfaat ganja yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun secara hukum. Ganja itu memang barang haram yang tergolong narkotika kelas 1. Itulah yang membuatnya diserang dan dianggap bersalah. Seharusnya, dia dorong dulu penelitian tentang ganja hingga berhasil dan anggarkan dananya untuk penelitian tersebut. Dia kan anggota DPR RI yang memiliki kuasa dalam anggaran. Jika penelitian itu berhasil dan memang terbukti ganja ada manfaatnya, baru dorong perubahan undang-undang sekaligus upaya ekspor ganja dalam bentuk jadi, bisa berbentuk makanan atau obat.

            Dalam tulisan yang lalu saya menjelaskan bahwa ganja itu tidak bersalah dan tidak boleh dimusuhi.

            Kalau orang Eropa, bilang, “Itu kan hanya tanaman.”

            Saya bilang, “Itu kan ciptaan Allah swt.”

            Orang Eropa yang tadi saya sebutkan tidak mengerti jika manusia harus bermusuhan dengan tanaman. Saya berpendapat jangan ada yang dimusuhi atau dimusnahkan karena akan mengganggu ekosistem dan rantai makanan.

            Contoh pemusnahan nyamuk pernah terjadi di Afrika, akibatnya kucing banyak yang mati. Hal itu disebabkan nyamuk adalah makanan cicak, cicak makanan kucing. Karena nyamuk musnah, cicak tidak punya makanan dan ikut musnah, akibatnya kucing kelaparan, mati juga. Begitulah rantai makanan bekerja.

            Contoh lain ketidakseimbangan adalah kita bosan harus memotong rumput terus-terusan karena tumbuh lagi, tumbuh lagi. Akhirnya, jalan ditembok, pekarangan ditembok, saluran pembuangan air ditembok juga, semua diaspal. Akibatnya, tanah tidak bisa menyerap air hujan. Akibat lebih jauhnya, kalau musim hujan, banjir; kalau kemarau, kekurangan air bersih. Itu gara-gara kita memusnahkan rumput.

            Sampai hari ini kita mungkin belum tahu bahwa ganja ada gunanya karena belum ada penelitian tentang hal itu. Akan tetapi, kalau tanaman ganja dimusnahkan, bisa terjadi ketidakseimbangan alam yang kita belum tahu apa itu. Hal yang jelas adalah “seluruh ciptaan Allah swt tidak akan pernah sia-sia”. Ganja itu tidak bersalah. Tanaman itu ciptaan Allah swt. Kitanya saja yang belum tahu manfaatnya. Kita hanya tiba-tiba dikejutkan oleh efek negatif dari “penyalahgunaan ganja”. Ganjanya sendiri tidak bermasalah. Yang bersalah adalah manusianya yang menyalahgunakan tanaman itu. Hal itu sebagaimana alkohol dan morfin yang bermanfaat jika digunakan untuk keperluan medis, pengobatan. Alkohol dan morfin jika diminum sembarangan, itulah penyalahgunaan dan bisa berakibat rusaknya kesehatan serta pelanggaran hukum. Contoh lain, obat nyamuk bakar tidak salah, Bodrex tidak salah, Coca Cola tidak bersalah, tetapi jika obat nyamuk bakar dan Bodrex dibubukkan, lalu diminum bareng Coca Cola, jadilah penyalahgunaan. Itu mah  bukan mengakibatkan “fly” lagi, melainkan ngajak “modar”.

            Ganja pun jangan dimusuhi. Tanaman itu bergantung kepada kita menyikapinya. Dulu ketika saya menyusun buku “Bahaya Napza bagi Pelajar”, saya dibantu Polda Jawa Barat dalam mencari bahan-bahan tulisannya. Napza itu singkatan dari “Narkotika, Psikotropika, dan Zat Addiktif Lainnya”. Saya mendengar bahwa dulu ibu-ibu di Aceh terbiasa menggunakan daun ganja sebagai bumbu penyedap masakan. Kalau di Pulau Jawa seperti daun salam, pandan, atau lengkoas. Sepertinya, tak ada masalah jika jadi penyedap masakan. Akan tetapi, menjadi masalah jika ganja dikeringkan, lalu dibentuk seperti tembakau untuk kemudian dihisap sebagaimana rokok linting. Nah, ini baru penyalahgunaan yang mengakibatkan orang kehilangan kesadaran. Segala sesuatu kalau disalahgunakan, memang menjadi bahaya.






            Usulan Rafli Kande sebenarnya bagus agar ganja diekspor, tetapi jangan diekspor mentahnya karena rawan penyalahgunaan. Sebaiknya, adakan dulu penelitian, lalu jika memang para peneliti kita menemukan manfaat dari tananam ganja, baik sebagai makanan maupun obat-obatan, umumkan ke seluruh dunia, lalu biarkan para peneliti dunia mengujinya hingga hasil penelitian kita tak terkalahkan. Hal itu akan membanggakan Indonesia sebagai salah satu negara peneliti di samping memiliki hak paten atas hasil penelitian itu. Setelah itu, buat produk makanan atau obat-obatan dari hasil penelitian itu, baru diekspor. Hasil olahan ganja itu pun akan menjadi paten milik Indonesia.

            Itu juga kalau hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada manfaat positif dari tanaman ganja. Kalau tidak, ya jangan. Akan tetapi, jangan juga dimusnahkan karena dikhawatirkan bisa mengganggu keseimbangan alam yang kita belum tahu apa akibatnya.

            Sampurasun.

Thursday, 6 April 2017

Ganja Tidak Salah

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Pada dasarnya semua yang telah diciptakan Allah swt tidak ada yang sia-sia. Semuanya memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing, baik makhluk hidup maupun benda mati. Tak ada satu pun yang diciptakan tanpa ada manfaatnya, termasuk hal yang diharamkan dan dinajiskan-Nya sendiri. Babi, anjing, cecunguk, rayap, nyamuk, rumput, semak belukar, termasuk opium dan ganja memiliki fungsi masing-masing dalam ekosistem dan rantai makanan kehidupan. Tak boleh ada satu pun ciptaan Allah swt yang dimusnahkan, kecuali oleh Allah swt sendiri. Misalnya, Allah swt memusnahkan zaman dinosaurus agar menjadi minyak yang dapat diambil manfaatnya pada zaman ini. Manusia tidak memiliki kemampuan “berencana” seperti Allah swt. Jadi, tidak memiliki hak memusnahkan karena sama sekali tidak memiliki kecerdasan untuk memandang sangat jauh ke depan mengenai masa depan kehidupan. Apabila manusia memaksakan diri memusnahkan sesuatu, akan terjadi ketidakseimbangan alam. Contohnya, dulu di Afrika pernah ada pembasmian nyamuk besar-besaran. Akibatnya, terjadi kematian kucing secara massal. Hal itu disebabkan nyamuk adalah makanan cicak, sedangkan cicak adalah makanan kucing. Ketika nyamuk habis, cicak pun ikut mati. Akhirnya, kehidupan kucing pun menjadi terganggu. Kalau jumlah kucing berkurang, tikus bertambah jumlah dengan pesat. Akibatnya, ladang, sawah, dan tempat tinggal manusia harus ikut rusak pula oleh tikus. Manusia harus menanggung sendiri akibat yang telah dilakukannya sendiri.

POHON GANJA. Foto: www.cahayapapua.com

            Ganja adalah tumbuhan yang jelas diciptakan Allah swt. Ganja memiliki peran tersendiri dalam menyeimbangkan sistem kehidupan ini. Dengan demikian, jika ganja musnah, terjadi ketidakseimbangan alam yang pada akhirnya berpengaruh pada kehidupan manusia. Contoh kecil adalah seperti terhadap rumput. Banyak orang kesal terhadap rumput karena harus selalu memotong dan membersihkannya berulang-ulang. Akhirnya, tidak sedikit orang yang menghalangi tumbuhnya rumput dengan menembok tanah tempat tumbuh rumput. Memang tempat itu menjadi bersih dari rumput, tetapi ada efek lain, yaitu berkurangnya tanah sebagai media penyerap air. Akibatnya, air bersih menjadi kurang dan ketika hujan besar, terjadi banjir.

            Ganja tidak boleh dimusnahkan karena memiliki peran dan fungsi sendiri. Tidak mungkin Allah swt menciptakan sesuatu yang sia-sia. Ganja tidak bersalah. Yang salah adalah manusia yang telah “menyalahgunakan ganja”. Sepanjang tidak disalahgunakan, ganja akan tetap pada fungsi dan perannya sendiri.

            Dulu ketika saya menyusun buku yang berjudul Bahaya Napza bagi Pelajar, dalam suatu wawancara saya mendapatkan jawaban bahwa di Aceh itu memang banyak tumbuh ganja dan ibu-ibu rumah tangga menjadikannya sebagai “penyedap masakan” sebagaimana daun salam, pandan, atau serawung. Sepanjang ganja dimakan dan dijadikan sayur, tampaknya tidak apa-apa, bahkan mungkin bermanfaat bagi kesehatan. Akan tetapi, ganja yang sesungguhnya enak dimakan dan bermanfaat itu menjadi rusak dan menimbulkan kerusakan terhadap kesehatan manusia ketika terjadi “penyalahgunaan”. Ganja yang seharusnya dimakan “disalahgunakan” dengan cara dihisap menjadi rokok sebagaimana tembakau.








            Di Indonesia baru-baru ini pun sempat ada peristiwa bahwa ganja digunakan untuk obat penyembuhan pasien yang sudah tidak dapat disembuhkan oleh dokter di rumah sakit. Keluarga pasien menanam ganja itu sebagai bahan obat bagi pasien. Akan tetapi, karena di Indonesia menanam ganja itu dilarang dan ilegal, Sang Penanam Ganja ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN). Akibatnya, pasien tidak lagi mendapatkan obat berbahan ganja. Akhirnya, pasien meninggal.

            Siapa yang salah?

            Perang terhadap Narkoba, termasuk ganja adalah bertujuan untuk menyelamatkan hidup manusia. Akan tetapi, ketika diperangi, ada korban mati akibat kekurangan obat berbahan ganja.

            Siapa yang salah?

            Tak ada yang salah.

            Mereka yang bersalah adalah yang tidak mau belajar dari kejadian ini. Peristiwa ini seharusnya memberikan pelajaran berharga bagi perubahan undang-undang, penelitian di bidang medis, penelitian dalam bidang tumbuh-tumbuhan, penggunaan kearifan dan kebijaksanaan, dan lain sebagainya. Paling tidak, hal yang harus kita perangi adalah perilaku “penyalahgunaan” ganja dan bukan memerangi pohon ganja.

            Hal yang sama pun terjadi pada alkohol, morfin, dan lem. Sepanjang alkohol dan morfin digunakan untuk keperluan medis, tidak perlu diperangi karena itu memang dipergunakan sesuai peruntukannya. Akan tetapi, ketika alkohol dan morfin “disalahgunakan”, wajib diperangi. Begitu pula dengan lem kayu, kertas, atau kulit. Sepanjang lem itu digunakan untuk merekatkan sesuatu, tidak perlu diperangi. Akan tetapi, ketika dihisap menjadi bahan inhalant, wajib diperangi. Sama pula seharusnya dengan ganja. Ketika ganja dipergunakan sebagai penyedap masakan dan bahan pengobatan bagi pasien, tidak perlu diperangi. Akan tetapi, kalau sudah dipotong-potong, diiris, dikeringkan, dan dijadikan bahan rokok, lalu dihisap, wajib diperangi karena itu adalah “penyalahgunaan”.

            Ganja tidak salah. Mungkin kita yang belum memahami dengan benar manfaat dari ganja untuk kehidupan. Tidak perlu dimusnahkan habis-habisan sampai punah karena bisa mengakibatkan ketidakseimbangan alam yang kerusakannya belum kita ketahui. Hal yang perlu dilakukan adalah perang terhadap “penyalahgunaan” ganja. Mungkin ladang ganja yang memang dimaksudkan untuk menyediakan madat bagi para pecandu Narkoba memang harus dimusnahkan. Akan tetapi, jika ganja tumbuh sendiri tanpa direncanakan untuk bisnis Narkoba, biarkan saja meskipun harus tetap diawasi secara terkendali. Demikian pula kalau ada yang menanam ganja untuk memasak makanan atau untuk bahan obat, tidaklah bermasalah meskipun sebaiknya dikomunikasikan dengan aparat hukum. Bahkan, sangat perlu ada izin khusus bagi penanam ganja untuk keperluan memasak atau obat-obatan dengan pengawasan dan pengendalian super ketat.

PEMUSNAHAN LADANG GANJA. Foto: www.bbc.com

            Yang harus diperangi adalah “penyalahgunaan” dan bukan memerangi jenis barang atau tumbuhannya karena sangat mungkin memiliki manfaat yang tinggi jika digunakan sesuai dengan peruntukannya.


            Sampurasun.