Showing posts with label Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Penelitian. Show all posts

Monday, 28 November 2022

Kecurigaan Kristenisasi di Cianjur

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bencana gempa di Cianjur, Jawa Barat, baru-baru ini telah membuat banyak pihak tergerak untuk menyalurkan bantuan, baik kelompok, komunitas, maupun pribadi-pribadi telah berinisiatif untuk mengumpulkan bantuan, baik itu uang, makanan, obat-obatan, ataupun yang lainnya. Anak-anak laki-laki saya pun demikian. Anak saya yang kuliah di Uin SGD berupaya mengumpulkan dana dan berniat berangkat ke Cianjur. Anak saya yang masih SMP malahan baru pulang dari Cianjur bersama grup Karang Taruna di desanya untuk memberikan bantuan.

            Saya dikirimin foto anak saya yang lagi menyalurkan bantuan dan bangunan rumah yang rusak akibat gempa. Itu di foto anak saya yang sepatunya full putih.







            Lucu ini anak, perasaan baru minggu-minggu kemarin dia minta izin, “Pah, boleh Dede ikutan Tarang Karuna?”

            “Tarang Karuna apa?” tanya ibunya, “Karang Taruna gitu.”

            “Iya, itu.”

            Saya membolehkannya agar dia lebih dewasa berorganisasi meskipun masih SMP kelas 9. Beberapa hari kemarin, saya diundang untuk menyaksikannya dilantik oleh Kepala Desa.

            Mahasiswa Universitas Al Ghifari pun malam-malam ada yang mengajak saya ke Cianjur, “Pak, ikut yuk ke Cianjur.”

            Pendek kata, banyak yang peduli dan datang ke Cianjur untuk membantu korban bencana. Mereka datang dari seluruh Indonesia, dari berbagai kelompok dan agama.

            Dari semua kelompok yang berdatangan itu, ada yang dianggap bermasalah, yaitu dari “Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia”. Mereka memasang tenda biru dengan tulisan gerejanya. Hal itu memancing kecurigaan dan kemarahan kelompok lain yang diduga bernama Gerakan Reformis Islam (Garis) yang dikenal sebagai kelompok keras. Garis menyobek tulisan itu dan mencopotnya dari tenda.

            Foto tenda itu saya dapatkan dari Pojoksatu id. Adapun aksi pencopotan label oleh Garis berasal dari Tribun Jabar.


Tenda Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia (Foto: Pojoksatu.id)


Pencopotan Label Tanda Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia (Foto: Tribun Jabar)


            Segera saja aksi yang dilakukan Garis itu mendapatkan reaksi keras dari mereka yang dianggap sebagai pejuang NKRI dan penjaga toleransi. Saya sebut begitu saja untuk menamakan mereka. Aktivis Garis dianggap intoleran, mengganggu kehidupan harmonis antaragama, dan itu merupakan aksi radikal yang berbahaya.

            Saya sih melihatnya mereka itu, baik pejuang NKRI maupun Garis sama-sama memiliki kecurigaan yang diakibatkan kurang pengetahuan dan kurang pengalaman. Garis melakukan pencopotan dan dan penyobekan label nama itu diakibatkan kemarahan atas kecurigaan yang mungkin mereka alami dan lihat pada tempat dan waktu yang lain. Mereka mungkin pernah melihat atau mengalami upaya kristenisasi, terutama bagi warga muslim yang sedang dalam keadaan membutuhkan, kemiskinan, atau tertimpa bencana.

Kristenisasi dilakukan dengan cara menukar akidah muslim dengan makanan, beras, mie instan, uang, atau pengobatan. Sejak saya kecil hal ini sering saya dengar meskipun tidak pernah melihatnya benar-benar. Meskipun demikian, saya pernah mendengar pengakuan seorang pengamen jalanan yang kemudian murtad dari Islam dan pindah agama menjadi Kristen karena kesulitan hidup, kesulitan keuangan, sedangkan beberapa komunitas Kristen memberikan kemudahan dalam hidupnya. Akhirnya, dia berubah keyakinan menjadi Kristen. So, kristenisasi itu ada, beneran.

Guru ngaji saya sendiri, Ustadz Hasan pernah berceritera bahwa dirinya memiliki teman yang juga ustadz, tetapi kemudian berubah menjadi Kristen. Temannya yang masih ustadz itu menyesal dan mengakui dirinya berdosa besar, tetapi dia tetap Kristen dan menjadi penyebar Kristen. Hal itu disebabkan ketika dia sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit, tak seorang muslim pun memberikan pertolongan, padahal dia ustadz. Mereka yang memberikan pertolongan justru dari pihak gereja Advent dan membiayai seluruh pengobatannya. Itulah yang menyebabkannya menjadi Kristen.

Ayah saya sendiri pernah berkali-kali didatangi oleh penyebar Kristen sekte Mormon. Mereka mengajak ayah saya untuk pindah agama, waktu itu saya masih SD. Ayah saya orangnya easy going, ramah, mudah diajak ngobrol siapa pun. Dia selalu menerima para penyebar agama itu dengan baik.

Mereka berhenti mengajak ayah saya pindah agama setelah ayah saya mengatakan, “Semua yang ada di dalam ajaran agama kalian sudah ada di dalam ajaran agama saya, Islam. Jadi, saya tidak perlu pindah agama.”

Dua atau tiga tahun lalu pun, saya pernah diajak pindah agama ke Kristen sekte Saksi Yehova. Saya juga tidak mengerti kenapa mereka mendatangi saya, tetapi ke tetangga saya, tidak. Saya memang punya tetangga beragama Kristen Saksi Yehova. Mereka hidupnya serba kekurangan. Sepasang nenek-kakek renta mengurus cucunya yang masih SMP. Cucunya itu tidak diurus oleh ayah dan ibunya, mungkin karena kekurangan hidup juga. Mereka kadang meminta pakaian untuk sekolah cucunya. Kemudian, istri saya memberikan pakaian-pakaian bekas anak saya, termasuk seragam SMP untuk mereka. Terkadang juga makanan, sayuran, atau tanaman di kebun saya diberikan buat mereka oleh istri saya. Sekali dua kali saya juga pernah memberi mereka uang.

Mungkin mereka menganggap keluarga saya baik. Itu mungkin ya. Saya geer saja karena para penyebar agama itu tidak mendatangi tetangga muslim saya, hanya datang kepada saya. Keluarga renta itu pun sekali dua kali didatangi oleh komunitas gerejanya yang kemudian mereka mendatangi saya. Mereka bilang ingin silaturahmi. Saya terima dengan baik. Mereka kemudian mengajak ngobrol, lalu memberikan selebaran, brosur, leaflet tentang agama mereka kepada saya, dan ada sedikit ajakan kepada saya untuk pindah agama.

Saya bilang, “Terima kasih.”

Saya baca tentang agama mereka. Kesimpulannya, seperti apa yang ayah saya katakan dulu kepada para penyebar Mormon. Segala yang ada di dalam ajaran Saksi Yehova, seperti, mendapatkan ketenangan diri, berbuat baik, dan berhubungan dengan Tuhan sudah ada dalam agama saya, Islam. So, saya tidak perlu pindah agama karena Islam sudah memiliki semua itu, tinggal melaksanakan saja.

Jadi, kristenisasi itu memang ada. Apa yang terjadi kepada saya dan ayah saya adalah upaya kristenisasi, tetapi berlangsung dalam situasi yang wajar, normal, biasa. Wajar saja orang Kristen menawarkan agamanya supaya kita pindah agama mengikuti mereka, kan pada akhirnya gimana kitanya.

Sama juga toh orang Islam juga suka menawarkan agamanya kepada nonmuslim untuk menjadi muslim?

Menurut saya sih normal saja asal tidak menggunakan paksaan, kekerasan, atau penipuan dengan berkedok materi.

Nah, apa yang dilakukan Garis dengan mencopot label tenda dari “Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia” itu merupakan suatu bentuk kecurigaan adanya upaya kristenisasi kepada umat muslim di tengah bencana Cianjur. Mereka berupaya melindungi akidah muslim. Akan tetapi, saya menduga mereka itu baru sebatas curiga karena mungkin saja mereka tidak melakukan penelitian dahulu.

Apakah tim gereja itu benar-benar hanya untuk membantu dan tidak ada upaya kristenisasi? Atau memang ada upaya kristenisasi itu?

Tidak jelas.

Kalau memang hanya untuk membantu, tak mengapa label nama gereja itu ada. Hal itu merupakan ciri, tanda, atau pengumuman kepada umatnya sendiri bahwa dana umat Kristen itu benar-benar disalurkan sebagaimana yang diamanatkan umatnya. Label nama tenda itu sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada umatnya sendiri. Akan tetapi, jika memang ada upaya kristenisasi, memang akan menjadi masalah karena warga yang tengah dilanda bencana itu bisa jadi rentan murtad. Hal ini perlu penelitian lebih dahulu hingga jelas dan jelas pula tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya.

Demikian pula dari pihak pejuang NKRI tak perlu terlalu heboh dengan menuding Garis sebagai gerakan Islam intoleran, radikal, dan menganggu keharmonisan hidup beragama. Mereka perlu juga melakukan penelitian sebelum menghujat, menuding, atau menyalahkan. Kita harus memahami latar belakang tindakan pencopotan yang dilakukan oleh Garis. Semua harus tenang disertai penyelidikan sederhana sehingga tidak jatuh dalam aksi kriminal, radikal, atau sok tahu. Justru dengan saling curiga, kehidupan menjadi tidak harmonis.

Kalau tidak mau ada muslim yang pindah agama, sebaiknya bantu kaum muslimin yang sedang berada dalam kesusahan karena kesulitan dan kemiskinan itu berpotensi menjadikan orang menjadi murtad dan kafir. Mulai membantu dari tetangga terdekat, koordinasi dengan RT, RW, dan DKM. Malu rasanya bila ada tetangga yang murtad karena tidak bisa makan. Jangan menyalahkan Jokowi terus, kejauhan.

Tetangga kita yang lapar kok yang disalahkan Jokowi?

Kita dong tetangganya yang mulai membantu semampu kita. Itu adalah ladang pahala bagi kita.

Buat saudara-saudara nonmuslim, baik itu Kristen, Hindu, Budha, ataupun Konghucu, tidak perlu memanfaatkan saudara-saudara muslim yang sedang kesusahan dengan menawarkan materi agar pindah agama. Jangan rayu siapa pun untuk pindah agama di kala keadaan sulit. Kalau mau menawarkan agama, jangan dalam keadaan menderita karena pikirannya sedang tidak seimbang. Berdiskusilah dengan baik tanpa paksaan dan penipuan. Agama apa pun dan agama siapa pun.

Bagi saya, menawarkan agama itu boleh asal dengan keadaan baik dan situasi yang baik juga. Itu pendapat saya. Jika menggunakan hukum, itu sudah pelanggaran hukum karena undang-undang melarang siapa pun mengubah agama orang lain yang sudah memiliki agama sebelumnya. Jujur, hukum ini sulit terlaksana karena setiap pemeluk agama berusaha menawarkan agamanya masing-masing. Hal yang penting adalah jaga kehidupan tetap harmonis, saling memahami, tidak saling menyerang, dan saling membantu agama apa pun atau agama siapa pun

Sampurasun.

Saturday, 5 November 2022

Pelan-Pelan Saja

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Mereka berdua adalah mahasiswa saya yang termasuk minoritas. Mereka minoritas karena murid-murid saya mayoritas menggunakan jilbab. Hanya beberapa yang tidak menggunakan jilbab, minoritas. Mereka mungkin belum siap menggunakan jilbab secara rutin atau memang memiliki keyakinan bahwa jilbab itu tidak wajib. Itu soal kesiapan dan keyakinan. Saya tidak pernah mempermasalahkan itu. Biasa saja.




            Hal yang unik dan cukup mengagetkan adalah ketika mereka berkonsultasi soal penelitian yang akan mereka lakukan. Mereka berkonsultasi ketika saya baru selesai mengajar di Universitas Al Ghifari.

            “Pak, boleh mengganggu waktu Bapak sebentar?”

            “Ada apa memangnya?”

            “Ini Pak, mau konsultasi soal Riset dan Praktik. Saya mau meneliti tentang menurunnya ekspor Bandrek Cihanjuang, Indonesia ke Belanda.”

            “Memangnya, ada masalah apa soal bandrek?”

            “Iya itu tadi, Bandrek Cihanjuang pernah diekspor ke Belanda, tetapi sekarang terjadi penurunan.”

            “Itu masalah yang ingin kamu teliti? Bagus.”

            “Iya, Pak. Kan kalau musim dingin, orang Belanda dan Eropa lainnya suka meminum alkohol. Kata mereka alkohol bisa menghangatkan badan.”

            “Terusin.”

            “Minum-minuman keras beralkohol itu kan tidak boleh, Pak. Haram dan merusakkan kesehatan.”

            “Jadi …?”

            “Jadi, saya ingin tahu kenapa terjadi penurunan ekspor bandrek Indonesia ke Belanda. Minuman bandrek itu kan bisa menghangatkan badan, sehat, dan halal. Kalau terjadi peningkatan ekspor bandrek ke Belanda, bisa mengurangi penggunaan minuman beralkohol dan memajukan perusahaan bandrek Indonesia.”

            Seorang perempuan tidak berjilbab yang mungkin mendapatkan nyinyiran atau cacian kafir, ternyata pikirannya sangat islami dan punya pandangan ke depan memikirkan cara agar perusahaan minuman bandrek Indonesia bisa maju dengan melalui perdagangan internasional. Tidak banyak perempuan yang berpikiran seperti itu. Pikirannya original positif.

            Temannya yang satu lagi juga berkonsultasi kepada saya.




            “Pak.”

            “Ya?”

            “Bagaimana menurut Bapak kalau saya meneliti hambatan ekspor tekstil Indonesia ke India?”

            “Bagus. Apa yang membuat ekspor tekstil Indonesia terhambat masuk ke India?”

            “Ini, Pak. India membuat peraturan impor tekstil dari negara luar yang sulit masuk ke India.”

            “Bagus, kamu bisa menggunakan teori-teori diplomasi untuk memecahkan masalah itu.”

            “Baik, Pak. Kan kalau Indonesia mampu melakukan diplomasi perdagangan ke India, tekstil Indonesia bisa masuk ke India dan meningkatkan perusahaan Indonesia sehingga mencegah pengangguran.”

            Bisa lihat kan mereka punya pandangan yang sangat bagus, memikirkan negaranya, memikirkan kemajuan bangsanya, serta memperluas cakrawala pengetahuannya sendiri sehingga menjadi lebih cerdas. Begitulah seharusnya generasi muda, ikut memecahkan berbagai masalah sesuai dengan kompetensi dan gairahnya masing-masing. Tidak suka memperkeruh suasana, bikin huru-hara, atau cuma teriak-teriak tidak karuan mengganggu orang lain.

            Kalau penelitian mereka selesai, lalu dibuat artikel, kemudian saya terbitkan dalam Jurnal Global Mind, hasil karya mereka bisa dibaca seluruh dunia. Jika para pemangku kebijakan atau pihak yang berkepentingan lain membacanya, lalu terinsiprasi secara positif, karya mereka dapat diaplikasikan dalam kehidupan dan memberikan banyak manfaat. Pahala bagi mereka akan ada di dunia dan di akhirat. Insyaallah.

            Mereka memang tidak berjilbab, tak perlu risau soal itu. Jika ada di antara para pembaca yang meyakini bahwa berjilbab itu wajib, sampaikanlah pemahaman itu dengan baik dengan tidak menyaikiti orang lain. Pelan-pelan saja.

            Tahu kan Nikita Mirzani? Artis seksi yang suka mempertontonkan keseksiannya itu?

            Sesungguhnya, Nikita Mirzani pernah berjilbab. Akan tetapi, ketika dia belajar berhijab, banyak orang yang mengomentarinya, nyinyir, dan mencacinya hanya gara-gara mata kakinya atau bagian kakinya yang lain masih kelihatan. Akibatnya, dia marah, lalu melepas jilbabnya dan menjadi seperti sekarang ini.

            So, mungkin keangkuhan kita atau sok merasa paling benar dan paling suci telah membuat orang lain marah, bahkan melawan kita dengan cara yang sangat buruk. Jika kita benar menyakiti hatinya dan menjauhkannya dari jalan Allah swt, berdosalah kita.

            Kalau menghormati keyakinan orang lain soal jilbab, bagus. Kalau mengajak orang lain sesuai dengan keyakinan kita, itu juga bagus. Akan tetapi, lakukanlah dengan cara yang lembut, baik, dan cantik.

            Jadi ingat lirik vokalis rocker Tantri Kotak yang kini telah berjilbab, “Pelan-pelan saja ….”

            Sampurasun.

Saturday, 17 September 2022

Triangulasi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Triangulasi secara sederhana adalah suatu teknik untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas dengan cara menyerap informasi dari berbagai sumber dan dari bermacam-macam pendapat. Tujuan dari teknik ini adalah agar kita mendapatkan kebenaran setelah mengkonfrontir berbagai informasi dan pendapat yang ada tentang suatu kasus. Dengan teknik ini, kita tidak hanya mendapatkan informasi dari satu arah atau satu sumber yang tentu saja bisa sangat menyesatkan yang akibatnya salah mengambil simpulan dan salah bertindak yang bisa merugikan orang lain dan diri sendiri.

            Contohnya, ketika mendapatkan suatu kasus pertengkaran antara suami istri, kita bisa disesatkan jika hanya mendapatkan informasi dari satu pihak. Jika kita tanya istrinya tentang masalah yang sedang dipertengkarkan, maka Sang Suami adalah pihak yang salah dan selalu buruk, sedangkan istrinya berada pada pihak yang benar. Begitu juga sebaliknya, jika kita tanya suaminya tentang masalah mereka, maka kita akan mendapatkan bahwa istrinyalah yang selalu salah dan menjadi sumber kekacauan rumah tangga, sedangkan Sang Suami adalah pihak yang selalu benar dan selalu paling bijaksana.

            Bisa paham kan jika kita bisa disesatkan oleh istrinya atau suaminya?

            Hal itu disebabkan kita hanya mengambil informasi dari satu pihak tanpa mendengarkan pihak lainnya. Itu sangat berbahaya dan tidak adil. Untuk itulah, diperlukan metode atau teknik triangulasi. Kita harus bertanya kepada istrinya, suaminya, anak-anaknya, keluarga dan kerabatnya, tetangganya, sahabat-sahabatnya, serta pihak lain yang dianggap memahami permasalahan dengan lebih baik sehingga bisa memberikan simpulan dan saran untuk memecahkan masalah yang terjadi. Informasi-informasi dan pendapat-pendapat dari berbagai sumber itu akan memperkaya pengetahuan dan pemahaman kita sehingga memiliki wawasan lebih luas dan lebih bijak dalam bertindak. Jika kita hanya menetapkan kebenaran berdasarkan satu informasi, bisa terjadi kesalahan yang fatal.

            Triangulasi kerap dilakukan oleh para peneliti yang telah memberikan sumbangan banyak terhadap ilmu pengetahuan. Di samping itu, dilakukan pula oleh para peneliti di kampus-kampus. Sesungguhnya, teknik atau metode ini pun harus dilakukan dalam keseharian hidup kita ketika mendapatkan suatu informasi atau masalah agar kita bisa menyelesaikannya dengan baik dan terhindar dari pikiran sempit yang menimbulkan kesalahan bertindak.

            Sampurasun.

Tuesday, 14 December 2021

Pengangguran Akibat Medsos

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa hari lalu saya mengikuti “Capacity Building” yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Al Ghifari yang isinya memberikan pelatihan bagi para dosen untuk menjadi peneliti yang baik. Dalam pelatihan itu, saya sebagai orang yang dilatih sempat berkomunikasi dengan seorang pemberi materi atau pelatih tentang hal yang membuat saya tertarik. Hal itu adalah sekarang ini banyak peneliti, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang meneliti perilaku netizen di Media Sosial. Hasil penelitiannya digunakan oleh instansi-instansi pemerintah dan perusahaan swasta yang besar-besar untuk merekrut pegawai atau karyawan.

            Saya baru mendengar ada hal semacam ini dan sangat mengagetkan. Jadi, ketika kita melamar suatu pekerjaan atau mendaftarkan diri menjadi pegawai negeri atau swasta, di samping ada serangkaian tes yang biasa dilakukan, juga perilaku kita di media sosial semacam facebook, instagram, twitter, dan whatsapp, akan dijadikan pertimbangan dalam penilaian untuk diterima atau tidak. Bahkan, diri kita diteliti dari akun-akun kita sejak dari sekolah dasar. Mereka akan melihat dan menilai status-status yang kita buat, foto-foto yang kita upload, narasi-narasi yang kita posting, serta komentar-komentar yang kita tujukan pada status orang lain dan narasi-narasi yang kita sebarkan. Apa yang kita perbuat di Medsos milik kita akan jadi penilaian instansi pemerintah dan atau perusahaan swasta ketika kita melamar pekerjaan kepada mereka.

            Hal ini sangat terutama untuk membendung pikiran-pikiran dan aktivitas radikal yang ada di samping watak, sikap,  dan cara berbahasa kita. Mereka tidak akan mau menerima orang yang berpikiran radikal dengan sikap dan bahasa yang buruk. Hal itu disebabkan, baik instansi pemerintah maupun swasta tidak akan mau menerima orang yang akan menimbulkan masalah di tempat pekerjaan, baik di pemerintahan maupun di perusahaan swasta.

            Dari dulu saya sering mengingatkan untuk bijak dalam bermedsos, seperti, jangan berbohong, memfitnah, menyebarkan hoax, memposting ujaran kebencian, dan bikin huru-hara. Hal itu bisa menyebabkan pelanggaran hukum. Akan tetapi, banyak orang yang tidak menggubrisnya. Akibatnya, kita tahu banyak sekali orang yang ditangkap dan dihukum gara-gara itu. Sekarang saya ingatkan lagi bahwa perilaku, bahasa, pikiran, dan dukungan kita kepada pihak-pihak yang dianggap penyakit masyarakat akan membuat kita menjadi pengangguran. Jangan kaget ketika kita ditolak bekerja di mana-mana karena perilaku buruk kita di Medsos. Jangan heran pula ketika kita melihat teman atau kenalan yang kita anggap lebih bodoh dibandingkan kita atau tidak berpengalaman seperti kita, malah diterima kerja dengan baik. Jangan salahkan siapa-siapa pula ketika kita bekerja, tetapi karir kita terhenti di sana dan tidak pernah naik jabatan atau naik gaji. Itu semua bisa terjadi karena perilaku kita di media sosial.

            Hentikan memosting hal-hal yang membuat citra diri kita sendiri buruk. Hapus postingan dan komentar yang akan menghambat dunia kerja kita. Meskipun postingan dan komentar itu tetap masih bisa ditampilkan kembali walaupun sudah dihapus, minimal kita berupaya memperbaik citra diri kita. Postingan dan komentar itu masih bisa ditampilkan meskipun sudah dihapus, kecuali di-replace, begitu teorinya.

            Segera perbaiki citra diri kita di media sosial sehingga orang lain menyukai kita dan memudahkan kita dalam berbisnis. Kalau tidak, ya ada risiko yang harus kita tanggung dan itu menyusahkan.

            Jika kita selalu bersama orang-orang yang tidak baik, lalu kita mendapatkan kesulitan dalam hidup kita, apakah mereka bertanggung jawab atas diri kita?

            Apakah ketika kita terluka dan terjatuh dalam hidup, mereka ada untuk kita?

            Hati-hati menggunakan Medsos, jadilah manusia yang lebih baik lagi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya supaya kita lebih mudah dalam menjalani hidup.

            Sampurasun.

Friday, 28 May 2021

Obrolan Ringan Akademis


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

“Pak, penelitian yang baik itu harus bagaimana memulainya?”

“Kan sudah saya ajarkan, penelitian itu mulainya dari adanya masalah yang membuat kalian tertarik untuk mengetahuinya lebih jauh. Kalian lupa?”

“Harus ada masalah ya, Pak?”

“Iya. Masih ingat apa arti masalah?”

“Masih, Pak.”

“Coba jelaskan.”

“Masalah itu adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.”

“Bagus. Kalau masih kurang jelas, gunakan bahasa yang lebih sederhana. Masalah itu adalah tidak nyambungnya antara harapan dan kenyataan.”

“Kalau nyambung antara harapan dan kenyataan, bukan masalah atuh, Pak?”

“Memang bukan. Contohnya, kamu suka sama cewek cantik, tetapi ceweknya nggak suka sama kamu, dia menolak kamu. Masalah bukan?”

“Masalah, Pak.”

“Kalau cewek cantik itu suka juga sama kamu dan menerima cinta kamu, masalah bukan?

“Itu mah anugerah, Pak bukan masalah.”

“Kalau kalian ingin menikah lagi, tetapi istri kalian marah-marah dan keluarga kalian jadi berantakan, masalah bukan?”

“Wah, itu mah masalah besar atuh, Pak.”

“Kalau istri kalian setuju kalian menikah lagi dan beristri lebih dari satu dalam keadaan damai dan bahagia, masalah bukan?”

“Wah, itu mah anugerah besar atuh, Pak.”

“Kamu, dari tadi ngomongnya anugerah, anugerah melulu, memangnya kamu pengen punya istri lagi, ya?”

“Saya doakan Bapak supaya cepat punya istri baru.”

“Kamu mah ditanya malah ngedoain.”

“Takdir Bapak bagus.”

“Pake ngomong takdir lagi. Jadi, jelas pengertian masalah itu apa?”

“Jelas, Pak.”

“Jelas apa? Coba ulangi lagi pengertian masalah itu apa!”

“Tidak nyambungnya antara harapan dan kenyataan.”

“Kalau nyambung antara harapan dan kenyataan?”

“Bukan masalah, Pak. Itu anugerah.”

“Anugerah lagi kamu mah.”

“Memang iya kan, Pak, itu adalah anugerah?”

“Ya, ya, ya ….”

“Pak, lapar, Pak.”

“Hayu atuh kita pulang, lagian sudah terlalu malam.”

“Bapak pulang langsung?”

“Iya, memangnya kalian nggak pulang? Mau pada ke mana?”

“Terserah Bapak.”

“Kok terserah saya?”

“Bapak mau ke Ampera, Ayam Bakar KQ 5, Cibiuk, terserah Bapak mau ke mana.”

“Kalian mau nraktir saya? Sok atuh kalian duluan di depan, saya ngikutin kalian dari belakang. Kalian berhenti, saya juga ikut berhenti. Kalian yang ngajak, kalian yang nentuin tempatnya.”




“Siap! Hayulah, Pak.”

Begitulah obrolan ringan, namun akademis bersama mahasiwa reguler sore, Fisip, Universitas Al Ghifari. Mereka memang kuliah dari sore sampai malam hari karena dari pagi sampai sore, mereka harus bekerja di tempat kerjanya masing-masing. Mereka memang sudah pada kerja dan banyak yang sudah menikah, sudah punya anak. Akan tetapi, mereka semangat kuliah, belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya dan untuk meningkatkan karirnya.





Usia, tanggung jawab pekerjaan, tanggung jawab terhadap keluarga, bukan halangan bagi mereka untuk terus belajar.

Bukankah belajar itu hukumnya wajib sejak buaian hingga liang lahat?




Yuk, bareng belajar di Universitas Al-Ghifari bareng mereka.

Sampurasun.

Saturday, 1 February 2020

Jangan Memusuhi Ganja

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ini kali kedua saya menulis tentang hal ini. Dulu saya menulis dengan judul “Ganja Tidak Salah”. Tidak disangka tulisan itu menimbulkan banyak reaksi positif, paling tidak, banyak yang ingin mengontak saya, tetapi semuanya berasal dari Eropa dan rata-rata memang “pengusaha ganja”. Mereka kirim foto-foto ladang ganja dengan diri mereka juga.

            Tulisan kali ini mencoba ikut menanggapi usulan ekspor ganja sebagai salah satu komoditas ekspor nasional yang sempat dilontarkan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rafli Kande. Akan tetapi, belakangan dia ditegur partainya, lalu meminta maaf.

            Sebetulnya, kesalahan dia itu adalah mengajukan ekspor ganja sebelum diketahui manfaat ganja yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun secara hukum. Ganja itu memang barang haram yang tergolong narkotika kelas 1. Itulah yang membuatnya diserang dan dianggap bersalah. Seharusnya, dia dorong dulu penelitian tentang ganja hingga berhasil dan anggarkan dananya untuk penelitian tersebut. Dia kan anggota DPR RI yang memiliki kuasa dalam anggaran. Jika penelitian itu berhasil dan memang terbukti ganja ada manfaatnya, baru dorong perubahan undang-undang sekaligus upaya ekspor ganja dalam bentuk jadi, bisa berbentuk makanan atau obat.

            Dalam tulisan yang lalu saya menjelaskan bahwa ganja itu tidak bersalah dan tidak boleh dimusuhi.

            Kalau orang Eropa, bilang, “Itu kan hanya tanaman.”

            Saya bilang, “Itu kan ciptaan Allah swt.”

            Orang Eropa yang tadi saya sebutkan tidak mengerti jika manusia harus bermusuhan dengan tanaman. Saya berpendapat jangan ada yang dimusuhi atau dimusnahkan karena akan mengganggu ekosistem dan rantai makanan.

            Contoh pemusnahan nyamuk pernah terjadi di Afrika, akibatnya kucing banyak yang mati. Hal itu disebabkan nyamuk adalah makanan cicak, cicak makanan kucing. Karena nyamuk musnah, cicak tidak punya makanan dan ikut musnah, akibatnya kucing kelaparan, mati juga. Begitulah rantai makanan bekerja.

            Contoh lain ketidakseimbangan adalah kita bosan harus memotong rumput terus-terusan karena tumbuh lagi, tumbuh lagi. Akhirnya, jalan ditembok, pekarangan ditembok, saluran pembuangan air ditembok juga, semua diaspal. Akibatnya, tanah tidak bisa menyerap air hujan. Akibat lebih jauhnya, kalau musim hujan, banjir; kalau kemarau, kekurangan air bersih. Itu gara-gara kita memusnahkan rumput.

            Sampai hari ini kita mungkin belum tahu bahwa ganja ada gunanya karena belum ada penelitian tentang hal itu. Akan tetapi, kalau tanaman ganja dimusnahkan, bisa terjadi ketidakseimbangan alam yang kita belum tahu apa itu. Hal yang jelas adalah “seluruh ciptaan Allah swt tidak akan pernah sia-sia”. Ganja itu tidak bersalah. Tanaman itu ciptaan Allah swt. Kitanya saja yang belum tahu manfaatnya. Kita hanya tiba-tiba dikejutkan oleh efek negatif dari “penyalahgunaan ganja”. Ganjanya sendiri tidak bermasalah. Yang bersalah adalah manusianya yang menyalahgunakan tanaman itu. Hal itu sebagaimana alkohol dan morfin yang bermanfaat jika digunakan untuk keperluan medis, pengobatan. Alkohol dan morfin jika diminum sembarangan, itulah penyalahgunaan dan bisa berakibat rusaknya kesehatan serta pelanggaran hukum. Contoh lain, obat nyamuk bakar tidak salah, Bodrex tidak salah, Coca Cola tidak bersalah, tetapi jika obat nyamuk bakar dan Bodrex dibubukkan, lalu diminum bareng Coca Cola, jadilah penyalahgunaan. Itu mah  bukan mengakibatkan “fly” lagi, melainkan ngajak “modar”.

            Ganja pun jangan dimusuhi. Tanaman itu bergantung kepada kita menyikapinya. Dulu ketika saya menyusun buku “Bahaya Napza bagi Pelajar”, saya dibantu Polda Jawa Barat dalam mencari bahan-bahan tulisannya. Napza itu singkatan dari “Narkotika, Psikotropika, dan Zat Addiktif Lainnya”. Saya mendengar bahwa dulu ibu-ibu di Aceh terbiasa menggunakan daun ganja sebagai bumbu penyedap masakan. Kalau di Pulau Jawa seperti daun salam, pandan, atau lengkoas. Sepertinya, tak ada masalah jika jadi penyedap masakan. Akan tetapi, menjadi masalah jika ganja dikeringkan, lalu dibentuk seperti tembakau untuk kemudian dihisap sebagaimana rokok linting. Nah, ini baru penyalahgunaan yang mengakibatkan orang kehilangan kesadaran. Segala sesuatu kalau disalahgunakan, memang menjadi bahaya.






            Usulan Rafli Kande sebenarnya bagus agar ganja diekspor, tetapi jangan diekspor mentahnya karena rawan penyalahgunaan. Sebaiknya, adakan dulu penelitian, lalu jika memang para peneliti kita menemukan manfaat dari tananam ganja, baik sebagai makanan maupun obat-obatan, umumkan ke seluruh dunia, lalu biarkan para peneliti dunia mengujinya hingga hasil penelitian kita tak terkalahkan. Hal itu akan membanggakan Indonesia sebagai salah satu negara peneliti di samping memiliki hak paten atas hasil penelitian itu. Setelah itu, buat produk makanan atau obat-obatan dari hasil penelitian itu, baru diekspor. Hasil olahan ganja itu pun akan menjadi paten milik Indonesia.

            Itu juga kalau hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada manfaat positif dari tanaman ganja. Kalau tidak, ya jangan. Akan tetapi, jangan juga dimusnahkan karena dikhawatirkan bisa mengganggu keseimbangan alam yang kita belum tahu apa akibatnya.

            Sampurasun.