oleh
Tom FInaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Jokowi memang punya daya
tarik tersendiri, baik bagi para pendukungnya maupun bagi para pembencinya.
Boleh benci Jokowi?
Boleh.
Boleh benci, boleh suka, boleh setuju, boleh tidak
setuju, itu semua hak. Hal yang tidak diperbolehkan itu berdusta, fitnah, hoax,
bikin huru-hara, dan atau mengganggu ketenangan hidup orang lain. Ada
undang-undangnya, lho. Awas, jangan sampai tiba-tiba kalian dikejutkan polisi
yang datang ke rumah kalian, lalu menangkap kalian di rumah kalian sendiri.
Malu tahu!
Orang-orang memang susah “move on” dari Jokowi. Hampir seluruh gerak-geriknya dan
kata-katanya memancing perhatian orang. Dia itu bagai magnet. Buktinya,
kata-kata sederhananya saja jadi perbincangan orang, baik yang suka maupun yang
benci.
Iya toh?
Diakui atau tidak diakui, iya toh pisan pokoknya mah.
Soal kata-katanya tentang “mudik” dan “pulang kampung” (Pulkam) memancing banyak orang untuk bereaksi.
Kedua istilah itu berasal dari talk show yang
dipandu Najwa Shihab. Saya juga
sebetulnya ingin menonton talk show itu, cuma ngantuknya bukan main. Akhirnya,
ketiduran, tidak sempet nonton.
Sejak pagi, banyak status mengenai kedua kata itu karena
pemahaman orang-orang berbeda dengan yang dijelaskan Jokowi. Seperti saya
katakan tadi, saya ketiduran. Jadi, tidak mendengarkan langsung maksud kedua
kata itu dari Jokowi. Akan tetapi, saya perhatikan dari dari status-status netizen tentang kedua kata itu.
Berdasarkan status-status netizen, saya memahaminya
seperti ini. Menurut Jokowi, pulang kampung itu adalah pulang ke kampung karena
sudah tidak ada pekerjaan dan tidak punya uang. Adapun mudik adalah pulang
menemui keluarganya di kampung untuk bersilaturahmi serta masih punya uang dan
pekerjaan. Pulang kampung sifatnya lama, bahkan permanen, selamanya. Adapun
mudik sifatnya sebentar atau sementara, tidak selamanya, kemudian kembali
meninggalkan kampungnya untuk bekerja di kota lain. Begitu kira-kira.
Contohnya seperti ini. Ayah tetangga saya adalah salah seorang
direktur di PT Telkom. Dia memutuskan untuk berhenti menjadi direktur karena
sudah tidak nyaman dan selalu ingat masa kecilnya ketika menunggang kerbau di
sawah atau tegalan. Dia pun mengundurkan diri dari PT Telkom, lalu benar saja
baru juga sampai di kampungnya, langsung memeloroti celana panjangnya, ganti
pakai celana pendek, menyimpan jas dan dasinya, kemudian ke sawah dan kembali
menunggangi kerbaunya. Nah, ini namanya pulang kampung, bukan mudik. Berbeda
dengan mudik yang datang dari Jakarta atau kota lainnya, pulang bersilaturahmi
ke keluarganya beberapa waktu, lalu kembali lagi ke Jakarta atau kota lainnya
untuk bekerja. Nah, ini namanya mudik.
Jika kita klak-klik kamus, arti kata mudik adalah pulang
kampung. Udik itu artinya pedalaman atau kampung. Mudik berarti “meng-udik”, ‘melakukan
pulang kampung’. Kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris mudik adalah “going home” yang kalau diterjemahkan
kembali ke dalam bahasa Indonesia, artinya menjadi “pulang kampung”. Bolak balik bekok blekok.
Kalaulah Jokowi membedakan arti istilah pulang kampung
dengan mudik sesuai dengan pemahamannya sendiri, tidaklah mengapa. Hal itu
disebabkan Jokowi menggunakan pengertian “stipulatif”,
yaitu pengertian yang tidak lazim dan berbeda dari kamus yang biasa digunakan.
Orang-orang harus memahami kata itu berdasarkan pemahaman orang yang
mengucapkannya jika kita ingin berinteraksi dengan orang itu.
Hal yang sama juga dilakukan Menteri Koordinator Politik,
Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia (Menkopolhukam RI) Mahfud M.D. yang membagi
tiga pengertian stipulatif “radikal”,
yaitu pertama, “takfiri”,
‘mengafirkan orang lain yang memiliki pemahaman agama berbeda’; kedua, “jihadi”, ‘pembunuhan dan pengeboman
terhadap pihak lain karena perbedaan pemahaman agama’; ketiga, “ideologi dan pemikiran untuk selalu
mengubah sistem negara”. Ketiga arti radikal ini tidak ada di kamus, tetapi
hanya ada dalam pemahaman Mahfud M.D..
Hal yang sama juga dilakukan oleh Rocky Gerung yang
mengatakan bahwa “isi dari semua kitab
suci adalah fiktif”. Jika kita buka
kamus, fiktif atau fiksi itu bisa disamakan dengan “khayalan”. Tentu saja banyak orang yang marah karena Al Quran
adalah kitab suci umat Islam yang diyakini isinya bukanlah khayalan. Oleh sebab
itu, Rocky Gerung pun dilaporkan ke kepolisian, tetapi tidak ditahan.
Iya, kan? Rocky Gerung tidak ditangkap? Dia hanya
dipanggil polisi untuk memberikan penjelasan.
Fiktif dalam pemahaman Rocky Gerung adalah kisah atau
ajaran atau penuturan atau apa pun yang mendorong orang untuk memiliki
imajinasi. Sorga, neraka itu adalah imajinasi. Setiap orang memiliki imajinasi
berbeda tentang sorga dan neraka. Gambaran tentang sorga dan neraka bisa berbeda
dalam pikiran setiap orang. Termasuk malaikat Rokib dan Atid yang mencatat amal
baik dan amal buruk. Mungkin ada orang yang membayangkan kedua malaikat ini
membawa pulpen dan kertas catatan, mungkin
pula anak sekarang ada yang membayangkan kedua malaikat ini membawa
laptop atau gadget, bahkan mungkin pula ada yang membayangkan bahwa keduanya
duduk di tempat dengan memperhatikan gerak-gerik semua orang melalui kamera
CCTV seperti yang dilakukan petugas Dishub yang duduk saja di ruangan dengan
memperhatikan puluhan video dalam satu layar yang sama tentang situasi lalu
lintas di seluruh provinsi. Kita tidak pernah tahu isi bayangan semua orang.
Mungkin begitu yang dipahami Rocky Gerung tentang fiksi. Kalau pengen lebih
jelas, tanya saja Rocky Gerung.
Itulah pengertian stipulatif.
Hal yang sama juga pernah saya lihat sendiri. Teman saya
pernah mengadakan suatu acara dengan mengundang “Ustadz Jujun Junaedi”. Iya ustadz yang itu. Ustadz yang itu tuh
yang dari Cileunyi. Ustadz yang sering ada di tvOne.
Selepas Ustadz Jujun berceramah, pembawa acara (MC)
berbicara keras di atas panggung dengan menggunakan pengeras suara, “Gelo! Edan euy Ustadz Jujun!”
Itu juga stipulatif
karena kata “gelo” dan “edan” dalam pemahaman Si MC itu adalah “hebat, menarik, luar biasa”.
Meskipun Ustadz Jujun ketawa-ketawa mendengar kata-kata
Si MC dan tidak sedikit pun tersinggung, teman yang berada di samping Si MC
berkata keras yang juga menggunakan pengeras suara, “Sia nu gelo jeung edan mah! Lain Ustadz Jujun!”
Jadi, setiap kata,
setiap kalimat bisa memiliki arti sesuai kamus dan dipahami semua orang, bisa
juga berbeda dengan yang dipahami orang
lain. Oleh sebab itu, jangan tergesa-gesa menilai seseorang dengan
kata-katanya karena pemahaman yang dimilikinya bisa berbeda dengan pemahaman
kita. Jika kita menilai kata-kata orang lain tanpa memahaminya secara utuh, itu
namanya tidak nyambung.
Yuk ah, mari puasa, shaum Ramadhan. Mari saling memaafkan
karena kita manusia yang jelas punya salah dan kekhilafan. Nggak ada gunanya
terus-terusan berselisih. Sekarang mah bersih-bersih diri saja.
Sampurasun