Showing posts with label Penghinaan. Show all posts
Showing posts with label Penghinaan. Show all posts

Thursday, 3 August 2023

Jokowi Pelindung Rocky Gerung

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Seru ya kemarahan rakyat pendukung Jokowi setelah Rocky Gerung mengatakan bahwa Jokowi adalah “bajingan tolol”. Mereka marah karena menganggap kalimat itu tidak pantas untuk dialamatkan kepada presiden, presiden siapa pun. Bahkan, kepada orang biasa pun tidak pantas. Itu kalimat kasar dan sama sekali tidak terpelajar. Secara hukum pun jelas sekali telah melanggar hukum dan bisa menjerat Rocky Gerung ke dalam penjara.

            Sayangnya, Rocky Gerung tidak akan pernah masuk penjara. Bukan karena Rocky punya “backingan”, punya orang kuat sehingga kebal hukum, melainkan karena Jokowi tidak akan pernah melaporkan Rocky sebagai penghinanya. Jokowi memang tidak pernah akan melaporkan rakyatnya meskipun menghinanya. Tak ada yang dipenjara gara-gara dilaporkan Jokowi soal penghinaan kepadanya. Rizieq Shihab yang pernah mengatakan “Jokodok” dipenjara bukan karena menghina Jokowi, melainkan karena berbohong pada masa Covid-19 di Bogor. Rizieq dilaporkan oleh Walikota Bogor Bima Arya. Bahar Smith pun dihukum penjara bukan dilaporkan Jokowi karena menghina Jokowi sebagai “banci”, melainkan karena menyebarkan berita bohong, kebencian, dan membuat kegaduhan. Tak ada yang dipenjara gara-gara menghina Jokowi dan dilaporkan oleh Jokowi. Jokowi itu presiden yang harus bekerja dan melindungi rakyatnya. Meskipun rakyat itu tampak sombong, angkuh, menganggap rendah Jokowi, dan menganggap dirinya sendiri sebagai wakil Tuhan ataupun cucu Nabi saw meski tak punya bukti, Jokowi menganggap mereka hanya rakyat kecilnya, orang-orangnya yang harus dia lindungi.

            Hal ini harus dipahami oleh para pendukung Jokowi. Meskipun saat ini ramai dan sangat banyak pada berbagai daerah melaporkan Rocky Gerung agar ditangkap karena menghina Jokowi, polisi tak bisa berbuat apa-apa. Hal itu disebabkan Jokowi sendiri sebagai pihak yang dirugikan yang harus melaporkannya. Selama Jokowi tidak melaporkannya, Rocky Gerung tetap bebas dan tidak akan tersentuh hukum, bahkan untuk kembali menghina Jokowi pun dia bebas semau-maunya. Satu-satunya alasan Rocky tidak bisa dihukum adalah karena Jokowi melindunginya dengan tidak melaporkannya.

            Meskipun demikian, Rocky Gerung bisa dihukum untuk kalimat-kalimat lainnya. Rakyat Kalimantan tampaknya sangat paham bahwa Jokowi tidak akan melaporkan Rocky. Oleh sebab itu, mereka menuntut Kapolri menangkap Rocky karena telah menghina Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sedang dibangun di Kalimantan. Mereka menganggap Rocky telah menghina dengan mengatakan bahwa Jokowi menjual IKN ke Cina. IKN bagi rakyat Kalimantan adalah impian masa depan, harapan kemajuan, terbebas dari ketertinggalan. Mudah sekali memahaminya. Kalau IKN beroperasi normal, akan ada banyak bisnis rakyat yang berjalan, misalnya, akan tumbuh toko-toko, warung-warung kopi, cafĂ©, bengkel, bahkan tambal ban, banyak ekonomi rakyat yang bisa bergerak. Belum lagi soal pendidikan dan akses ilmu pengetahuan bagi rakyat Kalimantan. Mereka tidak mau pembangunan IKN yang sudah mencapai sekitar 35% ini diganggu ataupun dihina. Rocky dianggap mereka sebagai pengganggu dan penghina. Oleh sebab itu, mereka marah dan ingin Kapolri memenjarakan Rocky.

            Rakyat Kalimantan cerdas. Mereka menuntut Rocky bukan soal penghinaan kepada Presiden, melainkan penghinaan dan gangguan kepada dirinya. Ini sangat mungkin bisa menjerat Rocky. Kita lihat saja nanti. Foto demontrasi rakyat Samarinda, Kalimantan saya dapatkan dari PusaranMedia com.


Demonstrasi Rakyat Samarinda, Kalimantan, tuntut Rocky Gerung ditangkap (Foto: PusaranMedia.com)

            Bagi kita, sebagai rakyat harus memahami. Hujatan, makian, hinaan Rocky itu dalam demokrasi barat sangatlah biasa, saya pernah melihat seseorang yang menggunakan kostum anjing dengan kepala Presiden Amerika Serikat George Bush dan bersedia ditendang oleh siapa saja di jalanan AS. Orang-orang yang benci presiden pun banyak yang menendangnya. Akan tetapi, itu di Barat. Kita harus sadar bahwa kita diciptakan sebagai orang Timur yang dianugerahi nilai-nilai kebaikan dan kesopanan sebagai orang Timur mulai berbahasa hingga berperilaku. Jangan rusakkan anugerah keramahan dan kelembutan dari Allah swt dengan perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan ketimuran. Apalagi, kita mayoritas muslim yang berkata “ah” saja kepada orangtua bisa berakibat dosa.

            Bedakan antara mengkritik dan menghina. Kalimat “bajingan tolol” itu bukan kritikan, melainkan penghinaan. Jaga diri kita dan tetaplah dalam anugerah Allah swt dengan kelembutan yang telah dilekatkan Allah swt mungkin sejak kita berada dalam kandungan ibu kita.

            Sampurasun.

Wednesday, 25 May 2022

Ceramah Itu yang Bener, Jangan Menghina Orang Lain

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kejadiannya sudah setahun lalu, tetapi orang-orang selalu mengupload videonya dengan narasi kemarahan dan sakit hati. Saya juga mendapatkannya lagi pada 24 Mei 2022. Itu tandanya memang banyak orang yang kecewa. Nama penceramahnya tidak akan saya sebutkan karena dia menghina fisik orang lain yang bisa mengakibatkan saya pun bisa sedikit membuli dia. Dosa itu. Kalau mau tahu, cari saja sendiri, mudah kok. Klik saja di Youtube.

            Mungkin sudah banyak yang tahu karena sudah lama juga, tetapi mungkin juga banyak yang belum tahu. Saya sengaja menulisnya agar para penceramah lain dan siapa pun yang sedang belajar ceramah tidak meniru perilaku dia yang menyakiti orang lain.

            Di dalam ceramahnya, dia mendapatkan pertanyaan dari salah seorang jamaah tentang “fenomena Rina Nose”. Sang penceramah tidak segera menjawab, tetapi melakukan dulu penghinaan kepada Rina Nose.

            “Rina Nose ini siapa? Artis? Yang Pesek? Saya kalau artis-artis yang jelek kurang meminat saya. Apa kelebihan dia? Pesek, buruk, gitu lho.”

            Begitu hinaan dia.

            Pantaskah seorang penceramah berbicara seperti itu di depan para jamaah?

            Apa kesalahan Rina Nose kepadanya?

            Dibuat videonya, diupload di youtube, Viral lagi.

            Wajar kalau menimbulkan banyak kemarahan karena Viral. Kalau tidak mau dikritik, ya jangan diupload videonya. Kalau diupload, wajar dong kalau mendapatkan kritikan dan kemarahan karena semua orang tahu.

            Dia menghina fisik orang. Rina Nose itu seorang anak dari ibu yang melahirkannya.

            Apakah dia tidak berpikir bahwa ibunya akan sakit hati mendengar anak yang dilahirkan dan diurusnya dihina seperti itu?

            Apakah dia tidak berpikir bahwa ayah, keluarganya, dan kerabatnya akan sakit hati dan tersinggung bahwa orang yang dicintai dan dibanggakannya dipermalukan?

            Apakah dia tidak berpikir bahwa orang-orang yang bekerja padanya dan bergantung nafkah padanya marah melihat bosnya dihina?

Apakah dia tidak berpikir bahwa para penggemarnya kecewa, marah, dan sakit hati?

Kalau mengomentari perilaku Rina Nose yang buruk, sikap yang salah, okelah itu wajar untuk dikritik, diingatkan, dan dinasihati. Itu memang tugas penceramah.

Akan tetapi, kalau kelemahan fisik?

Apa urusannya dengan fisik pesek, mancung, pendek, kurus, atau yang lainnya?

Saya sendiri yang bukan ustadz, bukan ulama, tidak pernah berani menghina fisik orang lain. Itu dosa. Rina Nose dan kita semua adalah diciptakan oleh Allah swt sesuai dengan kehendak-Nya. Perilaku menghina fisik orang lain adalah sama dengan menghina Allah swt sebagai penciptanya. Sudah seharusnya penceramah tahu hal itu.

Karena Si Penceramah berbicara seperti itu, lalu dianggap biasa, kemudian jamaahnya tertawa ha ha hi hi. Itu perilaku buruk yang terjadi dalam suatu majelis yang katanya majelis ilmu.

Saya punya banyak murid dari tsanawiyah, aliyah, dan perguruan tinggi, tidak pernah berani mengatakan sesuatu yang jelek tentang fisik mereka karena di samping akan menyakitinya, itu adalah dosa karena menghina Allah swt.

Kalaulah Rina Nose kadang terlihat di televisi seperti dihina orang lain, itu kan acara televisi yang sudah mendapatkan persetujuan dari Rina Nose sendiri. Kalau tidak kenal, lalu tiba-tiba menghina tanpa persetujuan, itu beneran penghinaan namanya.

Kalaulah dianggap sebagai humor, gurauan, lelucon, coba cari lelucon yang tidak menyakiti perasaan orang lain dan tidak bikin dosa. Ulama terkenal seharusnya bisa dan kreatif tentang hal itu. Jangan karena ingin menyenangkan jamaah, ingin diundang lagi, ingin laku, ingin terkenal, tetapi membuat pernyataan yang menghina orang lain. Saya tidak tahu apakah uang hasil ceramahnya itu berkah atau tidak karena didapat dari menghina orang lain. Lalu, uang hasil hinaan itu diberikan kepada keluarganya, bisa berantakan keluarganya kalau begitu. Mungkin juga memang sudah berantakan, tidak tahulah. Mudah-mudahan sih tidak. Enggak tahu juga sih.

Bagaimana bisa memberikan contoh yang baik jika jamaahnya disuguhi penghinaan seperti itu?

Akibatnya, para jamaah akan menganggap perilaku seperti itu adalah benar dan itu berbahaya, sangat buruk.

Rina Nose pun tahu bahwa dirinya dihina.

Dia pun memberikan jawaban yang santun dan anggun meskipun ada sindiran di dalamnya, “Saya memang jelek, pesek, buruk, tidak memiliki kelebihan apa-apa, saya sudah tahu sebelum Anda mengatakannya. Tapi, dengan segala keterbatasan dan kelemahan ilmu, saya tak sampai hati mengatakan hal yang buruk tentang orang lain.”

Dia bisa saja membalas menghina fisik Sang Penceramah dengan membandingkannya dengan Primus Yustisio atau Baim Wong, tetapi tidak dia lakukan karena tidak mau mengatakan hal buruk tentang fisik orang lain. Dia memilih bersikap tenang dan dewasa. Balasan Rina Nose pun menunjukkan bahwa dia sebenarnya marah dan sakit hati karena tanpa seizinnya Sang Penceramah menghina dirinya.

Sekali lagi, bagi para penceramah, tidak perlu menghina orang lain untuk membuat humor hanya untuk menyenangkan jamaah. Kreatiflah dengan mencari humor yang tidak melukai orang lain karena itu adalah dosa.

Kalau mau tahu, cari sendiri ya videonya.

Sampurasun.

Saturday, 8 April 2017

Meminimalisasi Teror di Eropa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya tidak akan Jaim, ‘jaga imej’, soal teror-teror yang terjadi di Eropa. Reaksi saya pertama kali ketika terjadi teror di Eropa adalah tertawa terkekeh-kekeh, lalu terbahak-bahak bahagia. Setelah itu, agak sedih sedikit, sedikit sekali, sangat sedikit, kebanyakan saya gembira bukan main.

            Saya senang karena apa yang saya “ancamkan” kepada mereka benar-benar terjadi. Hal itu menunjukkan bahwa saya telah memberikan peringatan kepada mereka dan peringatan itu benar-benar terwujud secara nyata. Berkali-kali peringatan saya ini terjadi secara nyata.

            Sebelum terjadi teror bom di Paris, Perancis, saya sudah berdebat dengan para anti-Islam Perancis dua bulan sebelumnya lewat youtube. Saya peringatkan bahwa mereka harus segera menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Allah swt, Islam, Muhammad saw, dan kaum muslimin. Saya ingatkan bahwa penghinaan kepada Islam hukumannya adalah “mati” dibunuh. Orang Islam yang memiliki semangat tinggi akan mengorbankan dirinya untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Itu artinya penghinaan kepada Islam yang mereka lakukan akan memicu teror. Akan tetapi, sayangnya, orang-orang Eropa dan Amerika Serikat itu kebanyakan belagu, sombong, angkuh, dan tidak mau kalah meskipun sudah jelas-jelas salah. Bahkan, mereka terus-terusan makin keras menghina Islam, baik di dunia maya maupun di dunia nyata dengan aksi-aksi jalanan yang memuakkan.

            Secara fakta dan pengetahuan, saya tidak pernah kalah berdebat karena mereka hanya memiliki pemahaman sedikit dan salah tentang Islam. Akan tetapi, brengseknya, mereka melakukan penghinaan itu just for fun, ‘hanya untuk bersenang-senang’ dan tidak peduli apakah mereka itu menyakiti orang lain atau tidak. Memang ini tampaknya penyakit yang mereka derita. Mereka gemar sekali membuli orang lain yang lemah dan minoritas, bukan hanya muslim, nonmuslim pun mereka buli.

            Akibatnya, bum …! Meledaklah teror di Paris, Perancis yang segera diklaim oleh Isis bahwa itu merupakan konser milik Isis. Pemimpin tertinggi Isis Al Baghdadi menyatakan bahwa teror itu sebagai balasan atas kebijakan pemerintah Perancis yang ikut-ikutan memerangi Isis di Suriah dan balasan atas penghinaan orang-orang Perancis kepada Muhammad saw.

            Saya segera saja bilang, “Gue bilang juga apa. Disuruh berhenti menghina Islam, malah menjadi-jadi, bukannya sadar.”

TEROR DI PARIS, PERANCIS. Foto:global.liputan6.com

            Begitu juga dengan orang-orang Inggris, saya sering sekali chit chat sama mereka agar menghentikan penghinaan kepada Islam. Akan tetapi, orang-orang Inggris ini jauh lebih sombong daripada orang-orang Eropa lainnya. Bahkan, saya bilang orang-orang ini paling sombong dan angkuh di seluruh daratan Eropa. Mereka malah menantang saya kapan hukuman dari Allah swt datang. Mereka melecehkan peringatan saya meskipun komentar-komentar tantangan mereka banyak yang mereka hapus sendiri. Mungkin mereka takut juga sebenarnya, tetapi karena sombongnya bukan main, mereka tidak mau kalah. Mereka minta saya menuliskan tanggal, hari, bulan, dan tahun hukuman Allah swt itu datang.

            Saya jawab saja, “Wait!”

            Disuruh menunggu, mereka malah balik mengejek saya karena tidak tahu kapan hukuman itu datang. Jelas saja saya tidak pernah tahu kapan hukuman itu datang. Akan tetapi, pasti datang karena itu adalah sunatullah. Memang beberapa waktu kemudian, terjadi pula teror menakutkan di Eropa sekaligus kekalahan mereka dalam pemilihan walikota London. Walikota London sekarang kan seorang muslim, namanya Sadiq Khan. Saya pikir itu hukuman bagi mereka dan peristiwa memalukan bagi mereka, ternyata warga London banyak yang sadar untuk tetap saling menghormati di antara umat yang berbeda agama. Tentu saja itu merupakan pukulan keras bagi para anti-Islam di Inggris. Hal itu berada dalam monitoring Allah swt karena Allah swt yang menguasai hati setiap manusia.

            Hal yang lebih mengejutkan adalah peristiwa teror di Stockholm, Swedia. Soalnya, dua hari sebelumnya ada salah seorang dari mereka yang juga mengganggu saya. Sebelum-sebelumnya mereka menuduh saya sebagai penghina Yesus Kristus.

            Saya tantang mereka, “Kapan aku menghina Yesus? Kata dan kalimat mana yang menjadi bukti aku menghina Yesus? Aku paling anti menghina agama orang lain.”

            Mereka tidak bisa menjawab karena memang tidak ada kata penghinaan itu.

            Meskipun demikian, mereka tetap mengganggu dengan menjawab, “This one.”

            This one, ‘yang ini’. Mereka menjawab itu tanpa menunjukkan kata yang mana dan kalimat mana, kecuali ‘yang ini’.  

            Yang ini teh yang mana atuh?

            Da euweuh.

            Mereka hanya mengganggu karena tak mau kalah.

            Dua hari kemudian, bum …! Terjadilah teror di Swedia.

            Saya segera bilang aja dalam hati, “Gue bilang juga apa. Pada belagu sih.”

TRUK ALAT TEROR SWEDIA. Foto:news.karirsumut.com

            Orang boleh saja menyalahkan pelaku teror, tetapi teror itu dipicu salah satunya oleh penghinaan-penghinaan terhadap Islam.


Menciptakan Suasana Saling Menghormati
Untuk meminimalisasi perilaku teror di Eropa, harus ada upaya bersama antara pemerintah Eropa dan masyarakat Eropa untuk menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin. Berdebat boleh. Sampai urat leher tegang pun boleh berdebat. Akan tetapi, tidak boleh saling menghina. Berdebat itu soal ilmu pengetahuan, sedangkan saling hina itu terjadi karena sama-sama bloon dan tolol.

            Saya sangat menyukai pemerintah dan masyarakat Kanada yang melindungi muslim dan menghormati setiap manusia. Ketika ada teror pada masjid dan terhadap kaum muslimin yang sedang shalat, Perdana Menteri Kanada menangis. Ketika kaum muslimin shalat Jumat, orang-orang nonmuslim Kanada membuat pagar manusia mengelilingi masjid untuk melindungi umat Islam dari kejahatan teror. Demikian pula, pemerintah Jerman yang menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah bagian dari Jerman. Tak heran jika di Kanada dan Jerman dapat dikatakan jumlah teror yang terjadi adalah sangat minimal dibandingkan dengan negara besar Eropa lainnya.

            Di Swedia itu penghinaan kepada Islam sangat brutal, bukan hanya di dunia maya, melainkan di dunia nyata. Mereka yang anti-Islam pernah melakukan sabotase pada acara-acara diskusi, seminar, dakwah kaum muslimin dengan mengganti tayangan-tayangan video Islami dengan tayangan-tayangan penghinaan pada Islam.

            Tak heran jika umat Islam yang sudah menyiapkan dirinya untuk syahid melakukan bum …!

            Korbannya pun acak dan tidak terarah, siapa saja. Hal itu disebabkan banyak sekali yang melakukan penghinaan Islam di sana.

            Dalam hal ini saya harus memberikan penilaian bahwa pelaku teror di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan di Eropa. Bukan berarti saya setuju teror. Saya pasti tidak setuju teror. Akan tetapi, paling tidak, teror yang terjadi di Indonesia sasarannya lebih terarah, yaitu polisi, terutama Densus Antiteror. Pelaku teror di Indonesia tidak menyasar korban secara acak karena masih banyak muslim yang baik yang mencoba melakukan perlawanan terhadap penghinaan pada Islam di dunia maya dan banyak nonmuslim baik yang juga tidak setuju terhadap penghinaan pada Islam. Banyak sekali nonmuslim yang ingin hidup damai di lingkungan mayoritas muslim, apalagi yang memiliki ikatan darah. Banyak pula orang Islam yang melindungi nonmuslim.

            Berbeda dengan di Swedia. Karena jumlah anti-Islam sangat banyak dan melakukan penghinaan serta provokasi tanpa dikendalikan oleh pemerintah, jawabannya adalah kaum muslimin yang siap syahid melakukan perlawanan dengan keras bertaruh nyawa.

            Indonesia harus bersyukur memiliki undang-undang yang bisa mengendalikan kebebasan berbicara agar tidak jatuh menjadi kebebasan memfitnah dan menghina pihak lain, baik suku, agama, ras, ataupun adat istiadat. Persoalannya adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan berbagai penghinaan yang terjadi di dunia maya dan kurangnya kemauan polisi untuk menyelesaikan kasus-kasus itu. Di dunia nyata penghinaan-penghinaan itu tidaklah banyak. Kalaupun terjadi di dunia nyata, rata-rata karena “keseleo lidah”, tidak sengaja, lupa, atau kebablasan. Sangat jarang terjadi penghinaan di dunia nyata yang dilakukan dengan sengaja, apalagi untuk bersenang-senang.

            Berbeda dengan di dunia barat dan Eropa, penghinaan itu dibiarkan terjadi karena masih termasuk dalam kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Padahal, kebebasan berbicara itu tujuannya adalah untuk memperbaiki kehidupan manusia agar tidak terjadi pelanggaran hak azasi manusia dan agar tercipta dorongan lebih positif untuk kemajuan manusia. Penghinaan bukanlah bertujuan untuk hal-hal positif, melainkan hanya untuk meluapkan emosi tanpa kendali secara bodoh, tolol, dan penuh kebloonan.

SALING HINA ADALAH KEBODOHOAN. Foto: www.netralitas.com

            Apabila Eropa mampu mengendalikan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin, insyaallah, aksi-aksi teror pun akan terminimalisasi. Masalah yang tersisa hanya akan seperti yang terjadi di Indonesia, yaitu dukungan berlebihan terhadap Isis, keyakinan kekhalifahan selalu baik,  dan hoax tentang kisah-kisah zaman akhir. Oleh sebab itu, Indonesia lebih mengedepankan pendidikan, pemahaman, dan penyadaran terhadap ajaran Islam sebenarnya yang rahmatan lil alamin dalam mengatasi setiap aksi-aksi terorisme.

            Apabila Eropa masih membiarkan penghinaan terhadap Islam hidup di dunia maya dan di dunia nyata, teror-teror pun akan terus terjadi karena akan ada orang Islam yang merasa tersakiti dan terhina, kemudian melakukan pembalasan dengan nyawanya sendiri. Itu adalah teror bagi korban, tetapi bernilai jihad dan syahid bagi pelakunya. Tak ada gunanya hanya menyalahkan kaum muslimin atau menyebarkan hoax bahwa Islam adalah agama teror karena pada kenyataannya dunia butuh Islam dan kaum muslimin. Dunia harus bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

            Eropa, barat, dan anti-Islam boleh sesumbar berteriak seperti yang biasanya, “Kami baik-baik saja tanpa Islam!”

            Berteriak emosi sih boleh-boleh saja, tetapi dalam kenyataannya kan setiap pemimpin barat dan Eropa selalu berusaha mendatangi negeri-negeri muslim, termasuk ke Indonesia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau merasa diri hidup “lebih baik tanpa Islam”, jangan datangi negeri-negeri muslim dan kunci mati negara-negara Eropa dari Islam serta tak perlu ada kerja sama antara barat, Eropa, dan kaum muslimin. Begitu seharusnya bersikap kalau benar-benar bisa hidup tanpa Islam. Kenyataannya tidak bisa hidup tanpa Islam karena setiap manusia saling membutuhkan.

            Bisakah barat dan Eropa hidup tanpa berbisnis sumber daya alam dengan negeri-negeri muslim?

            Jawabanya pasti telak, “TIDAK BISA!”

            Bisa sih, tetapi bisanya hanya teriak emosi karena kenyataannya pasti tidak bisa. Akan selalu ada orang barat dan Eropa yang mendatangi negeri-negeri muslim untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu, jangan pada belagu. Setiap manusia, baik muslim maupun nonmuslim pada dasarnya saling membutuhkan dalam sepanjang hidupnya. Soal benar dan tidaknya suatu agama atau keyakinan akan dibuktikan dengan jelas di hadapan pengadilan Illahi kelak.


            Sampurasun.

Thursday, 26 January 2017

Soal Penghinaan Bendera, Tidak Perlu Sewot

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Bendera Merah Putih adalah simbol Negara Indonesia yang digunakan oleh banyak pejuang Indonesia ketika berusaha mengusir penjajahan. Orangtua kita dulu sangat susah untuk mengibarkan bendera kebanggaan Indonesia itu. Mereka kerap mencari cara untuk dapat mengibarkan bendera merah putih. Ada yang mengaitkannya dengan mitos, seperti melilitkan bendera merah putih pada bagian atap rumah yang sedang dibangun dengan alasan supaya bangunannya kuat. Padahal, hal itu dilakukan untuk mengelabui pihak penjajah agar tidak menangkap orang-orang Indonesia yang mengibarkan bendera merah putih. Sering juga membuat bubur merah dan bubur putih dengan alasan ritual dalam memberi nama bayi. Padahal, bubur merah dan bubur putih itu adalah  bendera merah putih. Kalau sampai ketahuan oleh penjajah kita mengibarkan atau menempelkan atau membuat simbol merah putih, kecelakaan besar akan terjadi dengan sangat mengerikan. Ayah saya pernah berceritera bahwa ketika dia masih kecil, pernah ada kejadian seorang pemuda menempelkan pin atau emblem logam persegi dengan warna merah putih pada kemejanya. Naas sekali pemuda itu berpapasan dengan prajurit Belanda yang bersenjata. Pemuda yang menggunakan pin logam merah putih itu pun ditangkap dan diinterogasi di pinggir jalan. Sebagai hukuman menggunakan pin merah putih itu, prajurit Belanda memaksa Si Pemuda menelan pin persegi logam yang ujungnya tajam itu. Sungguh, saya tidak ingin meneruskan ceritera itu di sini. Bayangkan saja kesakitan yang harus diderita pemuda itu dan darah yang pasti harus mengucur dari mulutnya ditambah air mata kesakitan dan kepedihan karena terhina.

            Bendera merah putih bukanlah sekedar benda mati biasa. Ia punya sejarah panjang di negeri ini dengan melibatkan darah, air mata, dan keringat para pejuang. Ia kini menjadi simbol Indonesia. Tanpa itu, kita bukanlah Indonesia, melainkan generasi pengkhianat Indonesia.

            Benar sekali bendera merah putih harus dihormati dan dihargai, bahkan dibela sebagai jati diri bangsa sekaligus penghormatan kepada para pendahulu kita yang telah mewujudkan suasana kemerdekaan yang kita nikmati. Akan tetapi, sayangnya, rasa hormat dan peraturan perundang-undangan yang digunakan untuk memperlakukan bendera merah putih sebagaimana mestinya belum tersosialisasikan dengan baik. Tak heran masih sangat banyak mereka yang memperlakukan merah putih tidak sebagaimana mestinya.

            Aparat penegak hukum, baik itu polisi, jaksa, maupun hakim harus adil dan bijaksana jika ada orang yang memperlakukan bendera merah putih secara tidak layak. Beberapa di antara masyarakat kita ada yang terlalu bangga dengan bendera merah putih sehingga memperlakukannya dengan kurang baik, misalnya menuliskan nama diri, kelompok, atau grup pada bendera setelah berhasil menaklukan puncak gunung. Ada yang membuat tanda tangan pada bendera sebagai rasa senang karena berhasil lulus SMA. Ada yang menuliskan sesuatu yang menggembirakan pada bendera karena telah berhasil dalam penyelaman dan memfoto bendera itu di dasar laut. Ada yang membuat tulisan dengan nama grup band asing pada bendera sebagai lambang bahwa grup band itu pun bangga dan menyukai Indonesia serta para penggemarnya pun menyukai grup band itu sebagai komunitas yang berhubungan erat dengan warga Indonesia. Kepada mereka yang terlalu bangga dan senang terhadap bendera merah putih sehingga memperlakukannya secara tidak layak, harus diberi pengertian, pembinaan, pendidikan, atau sosialisasi tentang perlakuan yang layak kepada bendera nasional Indonesia. Akan tetapi, kepada mereka yang memperlakukan bendera merah putih, baik itu dengan cara menulis apa pun di atasnya atau membuat gambar-gambar tertentu dengan maksud tidak baik, seperti, menginginkan bentuk Negara Indonesia di luar yang telah disepakati, menghina, dan merendahkan, perlu dilakukan penegakkan hukum secara tepat agar kehormatan bangsa Indonesia tetap terjaga dan semakin mulia.

            Baik yang terlalu bangga dan senang terhadap benderanya maupun yang berniat tidak baik terhadap Negara Indonesia, sama-sama telah melakukan kesalahan yang sama. Akan tetapi, berbeda dalam niat dan keinginannya. Kedua-duanya harus mendapatkan pembinaan, tetapi kepada mereka yang hanya sekedar terlalu gembira, harus dibina dengan cara yang soft, sedangkan kepada mereka yang berniat atau memiliki pemikiran untuk mengubah bentuk negara atau bahkan makar, harus dengan cara yang lebih tegas.

            Tidak perlu sewot dan berang soal bendera ini, semua masalah bisa diselesaikan dengan baik asal dengan pikiran dan hati yang jernih dan bersih.


            Sampurasun.