Showing posts with label Syahid. Show all posts
Showing posts with label Syahid. Show all posts

Thursday, 8 December 2022

Aiptu Sofyan Syahid Sesungguhnya

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bagi saya, Aiptu Sofyan adalah syahid pada peristiwa bom bunuh diri yang dilakukan teroris di Mapolsek Astana Anyar, Kota Bandung. Dia pergi dari rumahnya meninggalkan keluarganya untuk bekerja. Dia bertugas menjaga keamanan kondisi di wilayah hukum Astana Anyar agar masyarakat dapat tenang menjalankan aktivitas hariannya. Masyarakat bisa nyaman bekerja, sekolah, kuliah, bisnis, atau melakukan hal-hal yang harus diselesaikan. Orang-orang mungkin tidak merasakannya, tetapi begitulah kewajiban polisi.

            Pada pagi Rabu, 7 Desember 2022, Sofyan menjaga teman-temannya yang sedang apel pagi. Tiba-tiba seseorang memaksa masuk ke Mapolsek, Sofyan menghadangnya. Orang itu mengacungkan senjata. Ketika Sofyan mendorongnya, … bum …! Bom pun meledak. Beberapa orang terluka, Sofyan pun gugur syahid. Dia telah menyelamatkan nyawa banyak orang. Berbeda dengan teroris yang berusaha menghilangkan nyawa banyak orang.

            Ustadz Suparman Abdul Karim mengatakan, “Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ‘Seburuk-buruknya kematian adalah kematian seorang teroris. Sebaik-baiknya kematian adalah kematian orang yang memerangi teroris (khawarij)’.”

            Begitu kira-kira yang disampaikan Ustadz Suparman. Dia pun sambil sedih mendoakan Aiptu Sofyan.

            Foto Aiptu Sofyan saya dapatkan dari suara com.


Aiptu Sofyan (Foto: suara.com)


            Aiptu Sofyan orang baik dan bertugas dengan baik. Dia layak mendapatkan syahid dan surga Allah swt. Berdoalah untuknya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Kalau tidak mampu merangkai kata doa untuknya, bacalah surat Al Fatihah. Kalaupun Al Fatihah dirasakan terlalu panjang, cukup ucapkan satu kalimat ‘Ya Allah, ampuni dia’.

            Sampurasun.

Wednesday, 7 December 2022

Pikiran Ngawur Pengen Syahid

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya selalu penasaran kalau ada aksi-aksi brutal, tidak masuk akal, tidak ada perintahnya dari Allah swt, dan tidak ada ajarannya dari Nabi Muhammad saw. Biasanya, kita bisa memahaminya dari pengakuan mantan narapidana teroris (Napiter), seperti, Ali Imron, Syufyan At Tsauri, atau Umar Patek. Mereka yang sudah kembali sadar ke jalan ilahi kerap membagikan pengalaman dan apa yang ada di otak mereka ketika masih menjadi penjahat teroris.  Akan tetapi, saya kesulitan memahami kengawuran apa yang ada dalam diri teroris yang meledakkan diri di Polsek Astana Anyar Kota Bandung pada 7 Desember 2022. Soalnya, dia sudah mati berantakan, tidak bisa berbagi pikiran dan pengalamannya.

            Kita hanya bisa meraba pikirannya melalui peninggalannya yang berupa motor berwarna biru dan ada tulisan yang ditempelkan di situ. Itu jelas pikiran ngawur, pemahaman ngawur, ajaran ngawur, berasal dari guru-guru yang ngawur juga. Oleh sebab itu, tak heran jika saudara-saudara, sahabat-sahabat, teman-teman, dan kenalan saya dari NU suka menyebutnya “salah pengajian”. Itu karena memang penuh dengan kengawuran.

            Coba kita lihat dari peninggalannya di motor milik teroris itu. Foto motor itu saya dapatkan dari Jember Network.


Motor Teroris di Bandung (Foto: Jember Network)


            Saya membaginya menjadi empat. Pertama, stiker berlogo Isis. Itu jelas dia penggemar Isis. Biasanya, penggemar Isis selalu bercita-cita mendirikan Isis di Indonesia. Itu sudah kengawuran.

            Mana mungkin bisa mendirikan Isis di Indonesia?

            Isis itu kan singkatan dari “Islamic State of Iraq and Syiria”, ‘Negara Islam Irak dan Suriah’. Ini kan Indonesia.

            Bagaimana caranya secara geografi mengubah Indonesia menjadi Irak dan Suriah?

            Ngawur kan?

            Kedua, tulisan “KUHP = HUKUM Syirik/Kafir”. Saya yakin dia tidak mengerti kata-kata itu. Dia tidak mengerti KUHP, tidak mengerti hukum, tidak paham syirik, dan tidak paham kafir. Soalnya, gabungan kata-kata itu memerlukan penjelasan yang panjang dengan dalil-dalil yang kuat.

            KUHP itu singkatan dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Kitab itu digunakan untuk mengadili perkara pidana yang bertujuan melindungi kepentingan umum. KUHP mengandung peraturan mengenai tindak pidana yang berdampak buruk terhadap keamanan, ketenteraman, kesejahteraan, dan ketertiban umum. Jadi, jelas kitab hukum itu digunakan untuk kepentingan dan kenyamanan hidup rakyat. Tujuannya untuk keharmonisan hidup rakyat.

            Biasanya, orang-orang aneh ini selalu mengatakan bahwa kitab hukum itu sesat  dan kafir karena dibuat oleh manusia, bukan berasal dari Tuhan. Sungguh, kalimat-kalimat seperti ini ngawur dan menyesatkan. Hal itu disebabkan Allah swt tidak membuat aturan secara detil dan terperinci untuk segala hal. Allah swt memberikan kebebasan dan kemampuan kepada manusia untuk berpikir sendiri memecahkan masalahnya sendiri. Allah swt hanya memberikan garis besar atau panduan umum untuk mengatur manusia, misalnya, soal keadilan, keseimbangan, keharmonisan, pendidikan, dan perlindungan bagi manusia.

            Apakah Allah swt mengatur tentang hukum pemalsuan uang koin dan uang kertas?

            Apakah Allah swt mengatur tentang kejahatan pelayanan terhadap konsumen penerbangan?

            Apakah Allah swt mengatur tentang keadilan distribusi pembangunan Puskesmas?

            Adakah aturan-aturan itu dalam Al Quran? Dalam hadits?

            Tidak ada!

            Kalau ada, kasih tahu saya. Kalau ada, saya kasih hadiah, Cilok atau tahu bulat digoreng dadakan, kadarieu kadarieueueu ….

            Manusia harus berpikir sendiri. Kalau tidak, hidup ini akan berantakan, anarkis.

            Kalau ada yang tidak disetujui dalam KUHP itu, sebutkan pada buku keberapa, tentang apa, pasal keberapa, ayat keberapa, bab keberapa, apa isinya. Kalau sudah disebutkan secara rinci, baru bisa diperdebatkan.

            Saya malah curiga kalau aksi teror di Bandung itu adalah pesanan para pengacau yang ingin menghancurkan negara. Soalnya, KUHP yang terbaru ini baru disahkan sehari sebelum aksi teror itu. KUHP terbaru disahkan pada 6 Desember 2022. Ini memang mendapatkan banyak penolakan dan kritikan, biasalah, normal kalau setuju dan tidak setuju, perdebatkan saja. Mudah kok tidak perlu bawa-bawa sorga atau neraka. Berdebat saja secara akademis. KUHP ini menurut saya malah jauh lebih baik daripada yang sebelumnya karena sejak Indonesia merdeka, kita menggunakan KUHP warisan penjajahan Belanda yang semangatnya adalah menghukum orang di tanah jajahan. Indonesia berjuang untuk mengubah undang-undang itu selama 59 tahun dan sehari sebelum teror, disahkan untuk diujicoba. KUHP ini disesuaikan dengan kondisi dan keinginan rakyat Indonesia.

Mereka yang terlibat menyusun KUHP terbaru ini adalah pemerintah, DPR RI, para ahli, para akademisi, para tokoh masyarakat, para ahli agama, dan masyarakat sendiri. Berbagai pemikiran mereka dijadikan naskah akademik untuk disusun menjadi aturan yang berlaku. Lagian, KUHP ini juga diujicobakan selama tiga tahun ke depan. Artinya, jika ada yang tidak setuju, boleh mengajukan perubahan yang sebelumnya harus diperdebatkan dulu. Siapa pun boleh usul. Tidak perlu pake bom bunuh diri, ngawur jadinya.

Saya juga jadi curiga bahwa bom bunuh diri ini merupakan pesanan asing, para pengusaha kapitalis. Soalnya, bertepatan dengan bom bunuh diri ini, Eropa pun ikut-ikutan protes terhadap KUHP Indonesia.

Ngapain juga mereka ikut protes, ini kan urusan dalam negeri Indonesia?

Akan tetapi, saya bisa mengerti Eropa ikut-ikutan protes karena Eropa sedang marah kepada Indonesia. Mereka tidak boleh lagi beli bahan tambang mentah dari Indonesia dengan harga murah. Mereka sedang krisis, kelabakan. Mereka juga marah kepada Jokowi karena Jokowi menuding Eropa sebagai penjajah VOC yang memaksa Indonesia untuk ekspor paksa nikel. Selain itu, Eropa mulai menyerang Indonesia soal Ham di Papua dan pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Tambahan lagi, mereka mengumpulkan 27 negara untuk menyerang Indonesia. Para pemimpin Eropa sangat yakin bisa mengalahkan Indonesia. Akan tetapi, Indonesia pasti tidak mau kalah karena rakyat Indonesia adalah keturunan para pemenang perang.

Bisa jadi Eropa menggunakan orang-orang bodoh untuk meruntuhkan Indonesia.

Ketiga, di motor teroris itu ada tulisan “Perangi para penegak hukum setan”. Mungkin maksudnya polisi, padahal penegak hukum itu bukan hanya polisi. Itu bisa dilihat dari lokasi biom bunuh diri terjadi, kantor Polsek Astana Anyar, Kota Bandung. Ini juga ngawur. Sudah saya jelaskan tadi pihak-pihak dalam penyusunan KUHP ini adalah semuanya manusia, bukan setan. Bahkan, polisi tidak ikut-kutan menyusun KUHP. Polisi itu hanya menjalankan dan menegakkan KUHP. Polisi tidak ikut-ikutan bikin hukum.  Polisi juga manusia, bukan setan. Kalau setan mah, kakinya juga tidak menapak ke tanah, melayang kayak kuntilanak.

Keempat, di motor itu ada tulisan QS = 9 : 29. Maksudnya, Al Quran Surat At Taubah ayat ke-29. Baca sendiri ayatnya ya. Saya enggak mau tulis ayat itu di sini. Soalnya, kalau hanya membaca satu ayat itu dari terjemahannya, bisa bahaya dan mudah sekali dimanipulasikan. Dalam ayat itu memang ada perintah untuk memerangi orang-orang yang tidak beriman, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah swt, menghalalkan apa yang diharamkan Allah swt. Guru-guru sesat bisa menyesatkan orang dengan ayat ini. Padahal, untuk memahami ayat itu harus dibaca juga ayat sebelumnya, ayat sesudahnya, tafsir dari para ahli, memperhatikan asbabun nuzul, sejarah yang menunjukkan situasi dan kondisi ketika ayat ini turun, serta pihak yang disebutkan Allah swt tidak beriman itu. Hal yang sangat penting diperhatikan adalah ayat itu turun ketika dalam situasi perang dan kaum muslimin sedang menghadapi penyerangan dari pasukan Romawi Heraklius.

Indonesia kan tidak sedang perang. Indonesia dalam keadaan damai. Jadi, ayat itu tidak tepat dilaksanakan ketika dalam situasi damai. Hal ini seperti shalat Dzuhur itu tidak wajib karena masih pukul 09.00 pagi. Membunuh orang itu tidak wajib karena tidak sedang berperang. Kalau ayat perang dilaksanakan dalam situasi damai, ngawur jadinya.

Pikirannya saja sudah ngawur, tetapi pengen syahid dengan cara yang ngawur pula. Ngaji coba ke guru yang benar, ngaji ke beberapa guru berbeda supaya mendapatkan pemahaman yang lebih luas. Ingat, Islam itu rahmatan lil alamin, melaksanakannya juga harus dengan penuh rahmat, menyenangkan, dan menyamankan, bukan dengan cara horor.

Sampurasun.

Friday, 5 May 2017

Allah swt Mengganti-Ganti Penguasa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Dari sejak dulu hingga saat ini penguasa-penguasa di dunia silih berganti. Pergantian penguasa dan kekuasaan itu ada yang melalui perang, melalui pemindahan kekuasaan, melalui keturunan, melalui pemilihan, dan lain sebagainya. Allah swt sengaja melakukan itu agar manusia mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa pergantian kekuasaan itu.

            “…. Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), ….” (QS Ali Imran 3 : 140)

            Banyak hal yang bisa menjadi pelajaran manusia dari setiap pergantian kekuasaan itu, baik dari sisi pribadi penguasa, keluarganya, sukunya, rasnya, agamanya, sistemnya, zamannya, dan lain sebagainya. Jika manusia mau memikirkan pelajaran-pelajaran hal itu dengan jujur, seharusnya semakin hari kehidupan manusia semakin baik. Sayangnya, banyak manusia yang tidak mempelajarinya dengan jujur dan baik. Akibatnya, manusia dari zaman ke zaman selalu melakukan kesalahan yang sama dan menderita kesengsaraan yang sama dengan manusia zaman dulu, tak ada perubahan yang berarti dari kemanusiaan, kecuali teknologi.

            Paling tidak, kita bisa mengambil pelajaran bahwa kesombongan dan keangkuhan manusia atas dasar apa pun sangat tidak berpengaruh atas kekuasaan karena kekuasaan dipergilirkan Allah swt dari zaman ke zaman. Terkadang dunia ini dikuasai oleh orang-orang baik, terkadang pula oleh orang-orang jahat. Begitu seterusnya berputar berganti-ganti tidak akan pernah berhenti sampai kiamat.

            Pergantian kekuasaan itu akan terhenti jika sudah terjadi kiamat. Setelah kiamat, Allah swt memisahkan benar-benar antara keburukan dan kebaikan. Segala keburukan dikumpulkan dalam neraka dan seluruh kebaikan dikumpulkan dalam surga. Tak akan ada lagi persaingan di antara pihak baik dan buruk karena keduanya sudah terpisah. Paling-paling yang terjadi adalah saling menyalahkan di antara orang-orang buruk karena mereka ditempatkan dalam tempat yang buruk. Orang-orang buruk itu menganggap diri mereka merupakan korban dari pengaruh buruk orang lain. Sayangnya, mereka ketika masih di dunia tidak mau mendengar orang-orang baik yang menyerukan kebenaran. Pintu taubat sudah tertutup.

            Apabila kaum muslimin “terpaksa berperang” karena dirugikan serta diperlakukan jahat dan tidak adil, Allah swt memberikan semangat agar kaum muslimin terus berjuang dan tidak perlu takut.

            Kata Allah swt, “Jika kamu mendapat luka, mereka pun mendapat luka yang serupa ….” (QS Ali Imran 3 :140)

            Ketika kaum muslimin merasa takut, Allah swt mengingatkan bahwa musuh juga merasa takut. Jika kaum muslim terluka, musuhnya juga terluka. Jika kaum muslim letih, musuhnya juga sama-sama letih.

            Di samping itu, Allah swt pun hendak menjelaskan kepada kaum muslimin, mana yang benar-benar beriman, mana yang munafik, mana yang justru berbalik kafir karena perang adalah sesuatu hal yang sangat mengerikan. Akan terlihat dengan jelas mana pengecut yang tujuannya hanya kekuasaan dan kekayaan serta mana para mujahid yang benar-benar berperang untuk kemuliaan Islam, kemuliaan kaum muslimin, dan untuk terhentinya kejahatan di muka Bumi. Allah swt sengaja membuat sebagian kaum muslimin gugur sebagai syahid dalam perang agar para pejuang itu dapat kembali kepada Allah swt dalam keadaan suci.

            “… agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir.” (QS Ali Imran 3 : 140-141)

            Hal yang patut diingat adalah kaum muslimin hanya boleh berperang untuk membela diri, membela kehormatan, dan menegakkan keadilan. Tidak boleh mencari gara-gara untuk berperang atau memicu kerusuhan sehingga menimbulkan perang. Berperang hanya diperbolehkan jika syarat-syaratnya terpenuhi sebagaimana yang terjadi pada Muhammad saw. Jika sebagian kaum muslimin memicu huru hara, perpecahan, kerusuhan, perang hanya untuk mendapatkan kekuasaan, kekayaan, politik, dan kepentingan ekonomi lainnya, Allah swt akan menggerakkan kaum lain untuk menghentikan sebagian kaum muslimin itu agar kembali pada jalan yang benar. Golongan lain itu bisa berasal dari kaum muslimin sendiri, bisa pula dari golongan kaum nonmuslim.

            Sungguh, kekuasaan di Bumi ini selalu dipergilirkan di antara manusia sesuai dengan kehendak Allah swt. Tak ada gunanya kesombongan dan kepalsuan karena kita semua “dikendalikan” oleh Allah swt, apa pun agama kita.

            Khusus bagi kaum muslimin yang benar-benar menjalankan agamanya dengan baik, Allah swt memberikan dua kebaikan dalam situasi apa pun. Hal itu sebagaimana yang pernah dikatakan Muhammad saw bahwa hidup orang beriman itu sungguh unik, jika dia diberi kemudahan, dia bersyukur dan jika diberikan kesulitan, dia bersabar, syukur dan sabar adalah dua hal yang sama-sama baik untuk setiap orang beriman. Jadi, tak ada ruginya bagi orang beriman, mau suka ataupun duka, hidupnya selalu baik.


            Sampurasun.

Saturday, 8 April 2017

Meminimalisasi Teror di Eropa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Saya tidak akan Jaim, ‘jaga imej’, soal teror-teror yang terjadi di Eropa. Reaksi saya pertama kali ketika terjadi teror di Eropa adalah tertawa terkekeh-kekeh, lalu terbahak-bahak bahagia. Setelah itu, agak sedih sedikit, sedikit sekali, sangat sedikit, kebanyakan saya gembira bukan main.

            Saya senang karena apa yang saya “ancamkan” kepada mereka benar-benar terjadi. Hal itu menunjukkan bahwa saya telah memberikan peringatan kepada mereka dan peringatan itu benar-benar terwujud secara nyata. Berkali-kali peringatan saya ini terjadi secara nyata.

            Sebelum terjadi teror bom di Paris, Perancis, saya sudah berdebat dengan para anti-Islam Perancis dua bulan sebelumnya lewat youtube. Saya peringatkan bahwa mereka harus segera menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Allah swt, Islam, Muhammad saw, dan kaum muslimin. Saya ingatkan bahwa penghinaan kepada Islam hukumannya adalah “mati” dibunuh. Orang Islam yang memiliki semangat tinggi akan mengorbankan dirinya untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Itu artinya penghinaan kepada Islam yang mereka lakukan akan memicu teror. Akan tetapi, sayangnya, orang-orang Eropa dan Amerika Serikat itu kebanyakan belagu, sombong, angkuh, dan tidak mau kalah meskipun sudah jelas-jelas salah. Bahkan, mereka terus-terusan makin keras menghina Islam, baik di dunia maya maupun di dunia nyata dengan aksi-aksi jalanan yang memuakkan.

            Secara fakta dan pengetahuan, saya tidak pernah kalah berdebat karena mereka hanya memiliki pemahaman sedikit dan salah tentang Islam. Akan tetapi, brengseknya, mereka melakukan penghinaan itu just for fun, ‘hanya untuk bersenang-senang’ dan tidak peduli apakah mereka itu menyakiti orang lain atau tidak. Memang ini tampaknya penyakit yang mereka derita. Mereka gemar sekali membuli orang lain yang lemah dan minoritas, bukan hanya muslim, nonmuslim pun mereka buli.

            Akibatnya, bum …! Meledaklah teror di Paris, Perancis yang segera diklaim oleh Isis bahwa itu merupakan konser milik Isis. Pemimpin tertinggi Isis Al Baghdadi menyatakan bahwa teror itu sebagai balasan atas kebijakan pemerintah Perancis yang ikut-ikutan memerangi Isis di Suriah dan balasan atas penghinaan orang-orang Perancis kepada Muhammad saw.

            Saya segera saja bilang, “Gue bilang juga apa. Disuruh berhenti menghina Islam, malah menjadi-jadi, bukannya sadar.”

TEROR DI PARIS, PERANCIS. Foto:global.liputan6.com

            Begitu juga dengan orang-orang Inggris, saya sering sekali chit chat sama mereka agar menghentikan penghinaan kepada Islam. Akan tetapi, orang-orang Inggris ini jauh lebih sombong daripada orang-orang Eropa lainnya. Bahkan, saya bilang orang-orang ini paling sombong dan angkuh di seluruh daratan Eropa. Mereka malah menantang saya kapan hukuman dari Allah swt datang. Mereka melecehkan peringatan saya meskipun komentar-komentar tantangan mereka banyak yang mereka hapus sendiri. Mungkin mereka takut juga sebenarnya, tetapi karena sombongnya bukan main, mereka tidak mau kalah. Mereka minta saya menuliskan tanggal, hari, bulan, dan tahun hukuman Allah swt itu datang.

            Saya jawab saja, “Wait!”

            Disuruh menunggu, mereka malah balik mengejek saya karena tidak tahu kapan hukuman itu datang. Jelas saja saya tidak pernah tahu kapan hukuman itu datang. Akan tetapi, pasti datang karena itu adalah sunatullah. Memang beberapa waktu kemudian, terjadi pula teror menakutkan di Eropa sekaligus kekalahan mereka dalam pemilihan walikota London. Walikota London sekarang kan seorang muslim, namanya Sadiq Khan. Saya pikir itu hukuman bagi mereka dan peristiwa memalukan bagi mereka, ternyata warga London banyak yang sadar untuk tetap saling menghormati di antara umat yang berbeda agama. Tentu saja itu merupakan pukulan keras bagi para anti-Islam di Inggris. Hal itu berada dalam monitoring Allah swt karena Allah swt yang menguasai hati setiap manusia.

            Hal yang lebih mengejutkan adalah peristiwa teror di Stockholm, Swedia. Soalnya, dua hari sebelumnya ada salah seorang dari mereka yang juga mengganggu saya. Sebelum-sebelumnya mereka menuduh saya sebagai penghina Yesus Kristus.

            Saya tantang mereka, “Kapan aku menghina Yesus? Kata dan kalimat mana yang menjadi bukti aku menghina Yesus? Aku paling anti menghina agama orang lain.”

            Mereka tidak bisa menjawab karena memang tidak ada kata penghinaan itu.

            Meskipun demikian, mereka tetap mengganggu dengan menjawab, “This one.”

            This one, ‘yang ini’. Mereka menjawab itu tanpa menunjukkan kata yang mana dan kalimat mana, kecuali ‘yang ini’.  

            Yang ini teh yang mana atuh?

            Da euweuh.

            Mereka hanya mengganggu karena tak mau kalah.

            Dua hari kemudian, bum …! Terjadilah teror di Swedia.

            Saya segera bilang aja dalam hati, “Gue bilang juga apa. Pada belagu sih.”

TRUK ALAT TEROR SWEDIA. Foto:news.karirsumut.com

            Orang boleh saja menyalahkan pelaku teror, tetapi teror itu dipicu salah satunya oleh penghinaan-penghinaan terhadap Islam.


Menciptakan Suasana Saling Menghormati
Untuk meminimalisasi perilaku teror di Eropa, harus ada upaya bersama antara pemerintah Eropa dan masyarakat Eropa untuk menghentikan penghinaan-penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin. Berdebat boleh. Sampai urat leher tegang pun boleh berdebat. Akan tetapi, tidak boleh saling menghina. Berdebat itu soal ilmu pengetahuan, sedangkan saling hina itu terjadi karena sama-sama bloon dan tolol.

            Saya sangat menyukai pemerintah dan masyarakat Kanada yang melindungi muslim dan menghormati setiap manusia. Ketika ada teror pada masjid dan terhadap kaum muslimin yang sedang shalat, Perdana Menteri Kanada menangis. Ketika kaum muslimin shalat Jumat, orang-orang nonmuslim Kanada membuat pagar manusia mengelilingi masjid untuk melindungi umat Islam dari kejahatan teror. Demikian pula, pemerintah Jerman yang menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah bagian dari Jerman. Tak heran jika di Kanada dan Jerman dapat dikatakan jumlah teror yang terjadi adalah sangat minimal dibandingkan dengan negara besar Eropa lainnya.

            Di Swedia itu penghinaan kepada Islam sangat brutal, bukan hanya di dunia maya, melainkan di dunia nyata. Mereka yang anti-Islam pernah melakukan sabotase pada acara-acara diskusi, seminar, dakwah kaum muslimin dengan mengganti tayangan-tayangan video Islami dengan tayangan-tayangan penghinaan pada Islam.

            Tak heran jika umat Islam yang sudah menyiapkan dirinya untuk syahid melakukan bum …!

            Korbannya pun acak dan tidak terarah, siapa saja. Hal itu disebabkan banyak sekali yang melakukan penghinaan Islam di sana.

            Dalam hal ini saya harus memberikan penilaian bahwa pelaku teror di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan di Eropa. Bukan berarti saya setuju teror. Saya pasti tidak setuju teror. Akan tetapi, paling tidak, teror yang terjadi di Indonesia sasarannya lebih terarah, yaitu polisi, terutama Densus Antiteror. Pelaku teror di Indonesia tidak menyasar korban secara acak karena masih banyak muslim yang baik yang mencoba melakukan perlawanan terhadap penghinaan pada Islam di dunia maya dan banyak nonmuslim baik yang juga tidak setuju terhadap penghinaan pada Islam. Banyak sekali nonmuslim yang ingin hidup damai di lingkungan mayoritas muslim, apalagi yang memiliki ikatan darah. Banyak pula orang Islam yang melindungi nonmuslim.

            Berbeda dengan di Swedia. Karena jumlah anti-Islam sangat banyak dan melakukan penghinaan serta provokasi tanpa dikendalikan oleh pemerintah, jawabannya adalah kaum muslimin yang siap syahid melakukan perlawanan dengan keras bertaruh nyawa.

            Indonesia harus bersyukur memiliki undang-undang yang bisa mengendalikan kebebasan berbicara agar tidak jatuh menjadi kebebasan memfitnah dan menghina pihak lain, baik suku, agama, ras, ataupun adat istiadat. Persoalannya adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan berbagai penghinaan yang terjadi di dunia maya dan kurangnya kemauan polisi untuk menyelesaikan kasus-kasus itu. Di dunia nyata penghinaan-penghinaan itu tidaklah banyak. Kalaupun terjadi di dunia nyata, rata-rata karena “keseleo lidah”, tidak sengaja, lupa, atau kebablasan. Sangat jarang terjadi penghinaan di dunia nyata yang dilakukan dengan sengaja, apalagi untuk bersenang-senang.

            Berbeda dengan di dunia barat dan Eropa, penghinaan itu dibiarkan terjadi karena masih termasuk dalam kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Padahal, kebebasan berbicara itu tujuannya adalah untuk memperbaiki kehidupan manusia agar tidak terjadi pelanggaran hak azasi manusia dan agar tercipta dorongan lebih positif untuk kemajuan manusia. Penghinaan bukanlah bertujuan untuk hal-hal positif, melainkan hanya untuk meluapkan emosi tanpa kendali secara bodoh, tolol, dan penuh kebloonan.

SALING HINA ADALAH KEBODOHOAN. Foto: www.netralitas.com

            Apabila Eropa mampu mengendalikan penghinaan kepada Islam dan kaum muslimin, insyaallah, aksi-aksi teror pun akan terminimalisasi. Masalah yang tersisa hanya akan seperti yang terjadi di Indonesia, yaitu dukungan berlebihan terhadap Isis, keyakinan kekhalifahan selalu baik,  dan hoax tentang kisah-kisah zaman akhir. Oleh sebab itu, Indonesia lebih mengedepankan pendidikan, pemahaman, dan penyadaran terhadap ajaran Islam sebenarnya yang rahmatan lil alamin dalam mengatasi setiap aksi-aksi terorisme.

            Apabila Eropa masih membiarkan penghinaan terhadap Islam hidup di dunia maya dan di dunia nyata, teror-teror pun akan terus terjadi karena akan ada orang Islam yang merasa tersakiti dan terhina, kemudian melakukan pembalasan dengan nyawanya sendiri. Itu adalah teror bagi korban, tetapi bernilai jihad dan syahid bagi pelakunya. Tak ada gunanya hanya menyalahkan kaum muslimin atau menyebarkan hoax bahwa Islam adalah agama teror karena pada kenyataannya dunia butuh Islam dan kaum muslimin. Dunia harus bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

            Eropa, barat, dan anti-Islam boleh sesumbar berteriak seperti yang biasanya, “Kami baik-baik saja tanpa Islam!”

            Berteriak emosi sih boleh-boleh saja, tetapi dalam kenyataannya kan setiap pemimpin barat dan Eropa selalu berusaha mendatangi negeri-negeri muslim, termasuk ke Indonesia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau merasa diri hidup “lebih baik tanpa Islam”, jangan datangi negeri-negeri muslim dan kunci mati negara-negara Eropa dari Islam serta tak perlu ada kerja sama antara barat, Eropa, dan kaum muslimin. Begitu seharusnya bersikap kalau benar-benar bisa hidup tanpa Islam. Kenyataannya tidak bisa hidup tanpa Islam karena setiap manusia saling membutuhkan.

            Bisakah barat dan Eropa hidup tanpa berbisnis sumber daya alam dengan negeri-negeri muslim?

            Jawabanya pasti telak, “TIDAK BISA!”

            Bisa sih, tetapi bisanya hanya teriak emosi karena kenyataannya pasti tidak bisa. Akan selalu ada orang barat dan Eropa yang mendatangi negeri-negeri muslim untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu, jangan pada belagu. Setiap manusia, baik muslim maupun nonmuslim pada dasarnya saling membutuhkan dalam sepanjang hidupnya. Soal benar dan tidaknya suatu agama atau keyakinan akan dibuktikan dengan jelas di hadapan pengadilan Illahi kelak.


            Sampurasun.