Showing posts with label Suku Baduy. Show all posts
Showing posts with label Suku Baduy. Show all posts

Tuesday, 17 August 2021

Hina Jokowi Sekaligus Hina Suku Baduy “Hadiahnya Besar”

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak orang yang nggak tahan diri, geregetan, selalu ingin menghina Jokowi, padahal enggak pernah didengar. Bahkan, ada yang menghinanya kelewatan sampai menghina negara yang akibatnya harus berhadapan dengan hukum dan berhadapan dengan sanksi sosial. Memang sih Jokowi itu sudah saya bilang orangnya “cuek bebek berewek”. Dia mah “ngageboy we siga entog hare-hare”. Orang mau fitnah  atau hina dia, di dalam kepalanya mungkin bicara “EGP, ‘emang gue pikirin?’”.

            Sikap cuek ngageboy itu bikin para penghinanya frustrasi, kesal, stres. Orang yang suka menghina itu selalu berharap bahwa orang yang dihinanya bereaksi melakukan balasan atau jadi down, rendah diri, mentalnya jatuh. Mereka yang menghina Jokowi juga berharap mental Jokowi jatuh atau melakukan balasan dengan cara represif. Sayangnya, itu tidak terjadi pada Jokowi. Dia mah ngageboy we siga entog hare-hare. Bagi dia, hal yang sangat penting adalah terus bekerja sesuai dengan keyakinannya.

            Mereka yang sewot justru para pendukungnya, Jokower. Merekalah yang seru-seruan menyerang balik para penghina Jokowi sampai para penghinanya yang justru mentalnya hancur. Sekarang malah makin kencang mereka melakukan penyerangan, semua orang yang mereka anggap pengacau dideteksi, bukan hanya akun-akun medsosnya yang mereka lacak, melainkan pula foto dirinya, sampai alamat rumahnya, dan kehidupan pribadinya pun mereka serang dan sebar di internet. Jadi, ketika penghinanya bermasalah dengan hukum, kepolisian tinggal menciduknya. Hati-hati Bro berurusan dengan mereka.

            Hal ini terjadi baru-baru ini terhadap seorang penghina Jokowi. Ketika berpidato pada Sidang Tahunan MPR RI pada 16 Agustus 2021, Jokowi menggunakan pakaian adat Suku Baduy. Saya sebagai orang Sunda merasa senang Jokowi menggunakan pakaian itu karena mengangkat martabat Suku Baduy ke tingkat yang sangat tinggi. Jokowi pun mengungkapkan alasan penggunaan pakaian itu. Di samping dia senang karena pakaiannya sederhana, simpel, dan nyaman, juga sangat menghormati adat, nilai, budaya, dan berbagai keluhuran budi pekerti Suku Baduy. Dengan demikian, akan lebih banyak orang yang belajar tentang keluhuran Suku Baduy. Akan tetapi, ternyata orang yang sudah di otaknya penuh kebencian dan di hatinya penuh kedengkian, menghinanya.


Foto: CNN Indonesia



Foto: Indoposco.id

            Saya dapat berita ini dari “chanel youtube Miftah’s TV”, nih alamatnya https://www.youtube.com/watch?v=alFcsQDZjGc kalau mau lihat langsung sendiri mah.  

            Penghinanya menggunakan nama akun @pawletariat. Bunyi hinaannya seperti ini:

“Azzzsksksks Jokowi make baju adat Baduy cocok bgt, tinggal bawa madu + jongkok di perempatan”

            Dia mencuitkan hinaannya itu pada 8 : 40 AM 16 Agustus 2021.

            Coba perhatikan, bagaimana bisa itu disebut sebagai kritikan?

            Apa yang dia kritik?

            Kebijakan yang mana?

            Aturan dan eksekusi yang mana?

            Kalimat dia mah cuma sampah.

            Sudah saya bilang, Jokowi itu cuek saja, tidak bereaksi apa pun. Akan tetapi, yang dadanya bergemuruh kan pendukung Jokowi dan para pecinta Suku Baduy. Kalimat hinaan itu mengandung hinaan kepada Jokowi sekaligus hinaan pada Suku Baduy.

            Dari kalimatnya kan jelas pakaian seperti itu seolah-olah pakaian pedagang madu di perempatan jalan.

            Kalaupun memang Suku Baduy suka berjalan kaki puluhan kilometer untuk berdagang madu, apa salahnya?

            Mereka melakukan hal yang benar, tidak korupsi, tidak menghina orang, tidak melakukan penipuan. Berdagang madu itu bukan pekerjaan hina.


Foto: Kompasiana.com


            Pakaian yang digunakan Jokowi itu khusus memang dibuat untuk Jokowi dari bahan alam asli yang dilarang dijahit dengan menggunakan mesin. Pembuatnya juga langsung tokoh terkemuka Baduy, Tetua Adat Masyarakat Suku Baduy Jaro Saija. Bagi yang tahu bagaimana ketekunan dan daya spiritualitas Suku Baduy, apalagi tetuanya, akan sangat paham ketinggian nilai pakaian itu.

            Sudah saya bilang, pendukung Jokowi itu makin kencang serangannya. Pemilik akun yang menghina itu dicari nama asli dan identitasnya. Seorang yang bernama Akhmad Sahal yang memiliki akun @sahal_AS melacaknya. Hasilnya, ternyata nama asli penghina itu adalah Mohammad Bernie yang bekerja sebagai wartawan Tirto.id. Orang makin mudah mengenalinya.

            Akibatnya, dia mendapat bulian yang sangat gencar dari mana-mana. Bahkan, ada yang mewanti-wanti dengan ancaman teluh atau santet, Mohammad Bernie bisa muntah darah atau mungkin bakal diisi paku di kepalanya.

            Ngeri ya?

            Ini persoalannya bukan dengan Jokowi, tetapi dengan Suku Baduy. Kalau soal kebencian kepada Jokowi sebagai presiden, terserahlah, itu jadi urusan perdata dengan Jokowi yang cuek itu, tetapi bermasalah dengan Suku Baduy, itu soal lain lagi yang harus dihadapi.

            Meskipun demikian, saya yakin orang-orang Baduy itu orang yang baik, tidak mungkin melukai orang lain. Mereka itu sudah hidup ribuan tahun dengan kelapangan dada, keluasan hati, kemuliaan sikap, tetap “ngasuh ratu”, ‘membimbing para pemimpin’ dengan ajaran dan perilakunya yang luhur itu.

            Masa iya akan menjatuhkan keluhuran mereka dengan menyakiti orang lain?

            Apalagi gara-gara kelakuan wartawan dengan kemampuan kemarin sore. Tidak mungkin serendah itu warga Suku Baduy.


Foto: Art World – IndeksNews

            Akan tetapi, saya tidak yakin dengan orang-orang di luar Suku Baduy yang sangat menghormati Suku Baduy. Mereka bisa saja melakukan serangan-serangan gaib itu. Mudah-mudahan Mohammad Bernie sadar dan baik-baik saja, tidak ada yang melakukan penyerangan. Soalnya, dia sudah menerima “hadiah besarnya” sebagai penghina Jokowi dan Suku Baduy.

            Dia sudah dibuli habis, ditakut-takuti santet atau teluh, lalu meminta maaf atas perilakunya. Kemudian, dia menyatakan bahwa sudah berhenti dan tidak lagi bekerja sebagai  wartawan Tirto.id. Dari pihak Tirto.id pun menegaskan bahwa Mohammad Bernie memang sudah tidak lagi bekerja di perusahaannya dan mereka tidak bertanggungjawab atas perilaku Bernie. Urusan Bernie adalah urusan pribadinya dan bukan urusan Tirto.id.

            Dibuka identitasnya, dibuli habis, diancam teluh atau santet, kehilangan pekerjaan, dan dibiarkan bertanggung jawab sendiri oleh perusahaannya sudah merupakan hadiah besar bagi Bernie. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua dan tidak perlu lagi terjadi terhadap siapa pun.

                Sampurasun.


Foto: Suara.com

Saturday, 11 February 2017

Para Saksi Kehancuran Indonesia

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Bukan kehancuran Indonesia yang sekarang yang saya maksudkan, melainkan Indonesia yang dulu sebelum namanya bukan Indonesia ketika masih merupakan daratan Sundaland. Masa depan Indonesia yang sekarang masih belum diketahui apakah akan hancur atau bertambah mulia. Meskipun menjadi mulia dan besar, pada akhirnya akan hancur juga oleh kiamat karena semuanya ada waktu berakhirnya. Segala sesuatu yang memiliki awal, pasti memiliki akhir. Satu-satunya zat yang tidak berawal dan tidak berakhir hanyalah Allah swt. Oleh sebab itu, Allah swt tidak akan pernah hancur. Tugas kita sekarang adalah menjadikan Indonesia mulia dan besar sehingga rakyatnya pun menjadi mulia dan besar.

            Dulu, ketika Indonesia masih berupa Benua Sundaland, rakyat dan kerajaan-kerajaannya teramat makmur, mudah sandang, murah pangan, dan ketinggian teknologinya tak ada bandingannya di dunia ini. Bangunan-bangunan megah seperti di Gunung Padang dan ratusan, bahkan ribuan candi dibangun dengan sangat teliti dan rumit sehingga orang-orang sekarang pun tak memiliki kemampuan untuk menjelaskan bagaimana bangunan-bangunan megah itu bisa berdiri kokoh dan indah tiada tara. Di samping itu, makanan tidak pernah kekurangan, semua orang hidup dalam keadaan kaya raya dengan segala perhiasan-perhiasan dunianya. Akan tetapi, sayangnya, manusia memang kerap lupa dan menjadi serakah, tak pernah puas dengan apa yang telah didapatnya. Banyak manusia yang selalu ingin lebih dan lebih lagi. Ketika keinginannya untuk menjadi lebih kaya raya tidak terpenuhi dan doanya tidak dikabulkan Allah swt, mereka pun kecewa. Kekecewaan mereka pun mengubah sikap dan keyakinan hidup mereka kepada Allah swt. Mereka mencari sesembahan lain yang dianggap mampu memuaskan keinginan mereka. Akibatnya, mereka menjadi kafir dan bersahabat erat dengan Iblis Laknatulllah. Ketika kekafiran mereka menjadi-jadi dan meninggalkan ajaran para nabi, seperti, Nabi Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, Nabi Daud as, dan nabi-nabi lainnya, Allah swt pun murka dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya sehingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Benua Sundaland pun hancur berkeping-keping menjadi kepulauan seperti yang sekarang ini bernama Indonesia.

“… Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS 34 : 17)


Mereka yang Selamat Menjadi Saksi Kehancuran
Ketika Allah swt menghancurkan Benua Sundaland dengan sangat dahsyat yang menurut Plato, filsuf Barat, terjadi dalam satu hari, orang-orang Indonesia pun berlarian ketakutan kesana-kemari tak tentu arah, bingung dan cemas, para ibu meninggalkan bayi yang sedang disusuinya, terjadi kerusakan dalam organ-organ tubuh akibat getaran dan kepanikan luar biasa, serta sebagian kabur ke berbagai penjuru dunia. Bencana dahsyat itu benar-benar mengerikan dan sampai hari ini belum ada lagi bencana sesadis itu. Saking dahsyatnya, orang-orang sombong dan angkuh pun hancur lebur, baik fisik maupun jiwanya.

            Beberapa dari mereka yang kafir, tetapi tidak terlalu kafir diselamatkan Allah swt dari bencana spektakuler itu. Namun, mereka mulai gila dan kehilangan akal, tak jelas lagi pandangan dan arah hidup mereka. Allah swt tahu itu semua, kemudian menyelamatkan jiwa dan pikiran mereka serta kembali menenangkan mereka agar pikiran mereka dapat kembali lurus dan menyadari berbagai kesalahan dan kebodohan yang telah diperbuat mereka.

            “Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar,’ dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.” (QS 34 : 23)

            Orang-orang ini sadar atas kesalahan dirinya yang telah melupakan ajaran para nabi terdahulu. Mereka menyadari bahwa peringatan-peringatan dan ancaman-ancaman dari para nabi terdahulu adalah kebenaran dan bukan kebohongan karena mereka telah mengalaminya sendiri. Merekalah para saksi atas hancurnya Benua Sundaland sehingga menjadi kepulauan seperti sekarang ini.

            Beberapa dari mereka memulai kembali membangun perkampungan dengan menjaga setiap nasihat-nasihat leluhur mereka yang berasal dari para nabi terdahulu. Mereka bertahap membangun kerajaan-kerajaan kecil pada berbagai pulau dan tetap menjadikan ajaran para nabi mereka sebagi panduan. Begitulah kearifan lokal mulai terjadi. Sebagian lagi memilih untuk menjauhi kehidupan dunia karena saking takutnya kepada Allah swt yang bisa kapan saja menjatuhkan bencana dahsyat atas kekafiran mereka. Merekalah orang-orang yang anti pembaharuan, anti pembangunan, dan anti perubahan. Mereka tetap kuat dalam adat mereka dan tidak ingin berubah, bahkan menolak siapa pun dan apa pun yang dapat mengubah keyakinan dan cara hidup mereka. Mereka tidak peduli dengan perkembangan dan modernisasi. Mereka hanya peduli pada kehidupan spiritual dan menjaga diri agar Allah swt tidak lagi menjatuhkan bencana yang sangat dahsyat.

            Salah satu yang tidak menginginkan perubahan drastis dan menolak apa pun yang menurut anggapan mereka bisa membawa kerusakan adalah warga Kanekes yang biasa disebut Suku Baduy. Mereka benar-benar selektif atas hal-hal yang datang dari luar diri mereka. Mereka tak ingin diganggu dan tidak ingin berubah. Leluhur mereka secara turun-temurun mengingatkan bahaya apabila meninggalkan berbagai peribadatan kepada Allah swt. Leluhur mereka benar-benar mengalami bagaimana perubahan keyakinan dan kemunkaran mengakibatkan kehancuran luar biasa. Oleh sebab itu, mereka memilih untuk tidak meninggalkan peribadatan dan pengabdian kepada Allah swt dengan cara mereka sendiri sesuai syariat yang kemungkinan besar berasal dari Nabi Prabu Siliwangi as. Hal itu disebabkan mereka meyakini adanya Buana Larang, Buana Tengah, dan Buana Nyungcung.

            Apabila sampai meninggalkan adat dan keyakinan leluhur, mereka sangat takut Allah swt akan menimpakan azab seperti yang sudah-sudah, bahkan lebih besar. Hal ini sebagaimana yang dikatakan mereka sendiri.

            Ti meletuk datang ka meletek, ti segir datang ka segir deui. Lamun dirobah buyut kami lamun hujan liwat ti langkung lamun halodo liwat ti langkung. Tengsetna lamun buyut kami dipaksa dirobah cadas malela jadi tiis, buana larang buana tengah buana nyungcung pinuh ku sagara (Judistira Garna, 1991, Masyarakat Baduy dan Siliwangi [Menurut Anggapan Orang-Orang Baduy Masa Kini]).

            Apabila kita terjemahkan secara bebas, perkataan orang Baduy itu kira-kira akan seperti berikut.

            Dari subuh sampai subuh lagi, dari musim hujan sampai musim hujan lagi, dari musim kemarau sampai kemarau lagi, kami tidak akan berubah. Pendek kata, kalau keyakinan dan kebiasaan kami diubah, batu cadas dan hutan tidak akan lagi bermanfaat, seluruh dunia nyata dan dunia gaib akan dibanjiri lautan.

            Hal yang membuat saya sangat tertarik adalah kata-kata terakhir dalam kalimat mereka, yaitu “… pinuh ku sagara”, artinya “… dibanjiri lautan.”

            Mengapa mereka mengatakan bahwa azabnya itu adalah dibanjiri lautan?

            Mengapa bukan azab berupa angin puyuh puting beliung topan tornado?

            Mengapa bukan kehancuran akibat kebakaran hutan yang sangat masif atau bencana lainnya?

            Hal itu menunjukkan bahwa leluhur mereka memiliki pengalaman yang sangat buruk dengan bencana banjir yang meluap dari lautan lepas hingga menenggelamkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Hal itu pun mengisyaratkan bahwa memang Benua Sundaland itu adalah tempat yang sangat makmur dan hebat yang disebut-sebut orang sebagai Atlantis sebagaimana yang dikisahkan oleh Plato. Sayangnya, Benua Sundaland yang kini bernama Indonesia dan sekitarnya itu harus hancur berkeping-keping, bagai bubuk roti yang disebarkan hingga berupa kepulauan seperti sekarang ini. Hal itu disebabkan oleh kemarahan Allah swt akibat kedurhakaan dan keserakahan penduduknya yang keterlaluan hingga meninggalkan segala peribadatan dan mengalihkan keimanan mereka kepada Iblis Laknatullah, padahal Allah swt telah menjadikan penduduk Benua Sundaland adalah manusia paling unggul di muka Bumi.

            “Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang Mukmin.” (QS 34 : 20)

            “… mereka mendustakan para rasul-Ku. Maka (lihatlah) bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.” (QS 34 : 45)

            Hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa jika kita mengingkari Allah swt dan tak ada lagi orang yang mampu menjaga syariat Allah swt untuk tetap dalam kebenaran sehingga menganggap bahwa dosa-dosa mereka sebagai hal yang benar, Allah swt akan benar-benar menjatuhkan hukuman yang teramat berat dan mengerikan.

            “… Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.” (QS 34 : 19)

            Jaga diri dan perbuatan kita untuk tidak membuat murka Allah swt agar tak lagi mendapatkan azab sebagaimana yang telah disaksikan oleh leluhur Suku Baduy, warga Kanekes, Banten, Indonesia.

Thursday, 9 February 2017

Asal Mula Suku Baduy

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Masyarakat Baduy sebenarnya sangat tidak suka disebut “Baduy” karena kata Baduy berasal dari istilah orang-orang Belanda kolonial kepada mereka. Belanda menyebut mereka baduy karena menyamakan mereka dengan orang Arab “Badwi” yang tinggal di tenda-tenda dan hidup secara nomaden, berpindah-pindah tanpa tempat tinggal yang tetap. Sebutan itu sangat salah karena orang Baduy tidak tinggal di tenda-tenda dan tidak nomaden. Orang Baduy memiliki tempat tinggal yang tetap dan tanah yang juga tetap. Orang-orang ini sebenarnya lebih senang disebut sebagai orang “Kanekes” karena memang mereka adalah warga Kanekes.

            Dari zaman ke zaman sudah ratusan peneliti yang mencoba mencari tahu dari mana orang-orang Kanekes ini berasal dan bagaimana terbentuknya cara-cara hidup mereka yang sangat kuat memegang adat leluhur. Setiap ada peneliti yang mendapatkan kesimpulan tentang asal mula Baduy, orang-orang Kanekes ini selalu kesal, jengkel, dan marah karena menganggap bahwa hasil penelitian para peneliti itu salah dan selalu salah.

            Salah seorang dari mereka berkata keras, “Kami ti baheula ge geus aya di dieu. Ti jaman Nabi Adam ge kami mah geus di dieu!”

            Artinya, “Kami dari dulu juga sudah ada di sini. Sejak zaman Nabi Adam juga kami sudah berada di sini!”

            Hasil para peneliti itu, baik dari dalam maupun dari luar negeri selalu dibantah karena terkesan menyudutkan mereka, seperti menyebut mereka adalah berasal dari orang-orang Sunda yang kalah perang, lalu lari dan sembunyi di tempatnya sekarang dari kejaran musuhnya yang telah menghancurkan Kerajaan Sunda.

            Saya sendiri lebih percaya kepada kata-kata orang Baduy sendiri bahwa mereka sejak dulu juga sudah berada di tempat itu. Mereka memiliki nenek moyang sendiri yang diciptakan Allah swt sebagai Suku Sunda. Orang Sunda memiliki pasangan suami istri khusus yang melahirkan Suku Sunda. Di wilayah mereka ada lokasi yang ditandai batu yang merupakan tempat sepasang suami istri itu diciptakan Allah swt.

            Hal ini bisa dilihat dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa memang Allah swt menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan karakteristik masing-masing serta kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional juga yang masing-masing. Manusia diciptakan berbeda secara fisik, mental, intelektual, emosional, dan spiritual. Hal  itu dimaksudkan Allah swt untuk saling mengenal sehingga dapat saling belajar, saling mengisi, dan saling membantu dalam menyempurnakan hidup dan kehidupan yang diciptakan Allah swt.

            Orang Jawa, Minang, Batak, Papua, dan seluruh suku bangsa di dunia ini memiliki leluhur masing-masing, memiliki sepasang suami istri masing-masing yang merupakan awal dari suku bangsa itu. Di wilayah setiap suku ada tempat yang merupakan lokasi bagi Allah swt dalam menciptakan pasangan awal suami istri yang melahirkan suku bangsa mereka. Dari pasangan awal itulah lahir suku bangsanya yang khas dengan segala karakteristiknya sesuai dengan kehendak Allah swt.


Bagaimana dengan Adam as?
Perdebatan dan diskusi mengenai Nabi Adam as adalah manusia pertama atau bukan, sudah terlalu sering dan berlarut-larut sampai hari ini. Saya sendiri sering terlibat diskusi dan perdebatan itu hingga berminggu-minggu. Hasilnya, selalu saja mereka yang berpendapat bahwa Adam as adalah manusia pertama tidak pernah bisa menjawab berbagai pertanyaan yang “menjungkirkan” keyakinan bahwa Adam as adalah manusia pertama.

            Saya sendiri berpendapat bahwa Nabi Adam as adalah BUKAN MANUSIA PERTAMA. Akan tetapi, Nabi Adam as adalah nabi pertama, manusia beradab pertama, dan manusia yang diberi wahyu pertama oleh Allah swt sehingga diangkat menjadi khalifah di muka Bumi.

            Nabi Adam as adalah laki-laki pertama dan Siti Hawa adalah perempuan pertama yang kemudian melahirkan suku bangsanya sendiri dengan karakteristiknya sendiri pula. Nabi Adam as bukan manusia pertama, melainkan nabi pertama dan manusia beradab pertama karena diberi wahyu yang berupa tuntunan dari Allah swt untuk mencapai kehidupan yang sempurna.

            Apalagi jika kita baca Ensiklopedia Islam yang menuliskan bahwa ada salah seorang anak dari Nabi Adam as yang bermasalah dengan sebuah kerajaan, bahkan sampai ditangkap oleh rajanya.

            Raja yang menangkap anak Nabi Adam as itu turunan dari mana kalau memang Adam as adalah manusia pertama?

            Adam as bukanlah manusia pertama.

            Kalau masih ngotot meyakini bahwa Adam as adalah manusia pertama, coba jawab pertanyaan saya ini.

            Ada berapa ratus bahasa yang ada di dunia ini?

            Nabi Adam as menggunakan bahasa apa ketika berkomunikasi?

            Mengapa manusia tiba-tiba memiliki bahasa masing-masing?

            Mengapa tidak menggunakan bahasa Nabi Adam as? Bukankah seluruh manusia adalah keturunan Adam as?

            Ada masalah apa antara Adam as dengan keturunannya sehingga saking bencinya sampai-sampai harus meninggalkan bahasa Adam as?

            Malah, bukan hanya bahasa yang berbeda, hurufnya pun berbeda. Ada huruf Sunda, Jawa, Arab, Jepang, Cina, Yunani, dan lain sebagainya.

            Siapa orangnya yang pertama kali membenci Adam as sehingga tidak sudi lagi menggunakan bahasa Adam as?

            Hayo jawab.

            Saya sangat berterima kasih jika ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

            Kalau tidak ada yang bisa menjawab, berarti memang Adam as bukanlah manusia pertama. Allah swt menciptakan kita berasal dari sepasang suami istri tertentu yang melahirkan sebuah suku bangsa tertentu dengan karakteristik masing-masing. Begitulah yang saya pahami dari QS Al Hujurat 49 : 13.

            Allah swt menciptakan kita berbeda sesuai dengan karakteristik alam yang berbeda sehingga kita bisa saling mengenal, saling memberi, saling mengisi, dan saling membantu di antara sesama manusia. Bukan sebaliknya, saling ingin menguasai, saling ingin merampok, saling ingin menjatuhkan, saling ingin berada paling tinggi di atas yang lainnya, atau saling ingin berjaya dengan merendahkan manusia yang lainnya.

            Begitulah maksud Allah swt menciptakan kita berbeda-beda. Kita diciptakan berbeda, tetapi dengan maksud yang sama.

            Jadi, asal mula orang Baduy adalah berasal dari sepasang suami istri yang kemudian menjadi awal terbentuknya Suku Sunda dengan karakteristiknya yang khas, dengan mental tertentu, kecerdasan tertentu, kemampuan spiritual tertentu, serta tingkat emosi yang khusus pula. Lokasi penciptaan pasangan suami isteri pertama itu adalah di tempat yang ditunjukkan oleh orang Baduy sendiri. Bukan hanya Suku Sunda yang diciptakan seperti itu, melainkan semua suku di dunia ini pun diciptakan dengan cara seperti itu.


            Sampurasun

Thursday, 2 June 2016

Belajar dari Suku Baduy dan Kampung Dukuh

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Suku Baduy adalah salah satu suku yang sangat terkenal di dunia. Jangankan orang-orang Indonesia, para turis dan peneliti mancanegara pun kerap mendatangi suku ini.

            Sebenarnya, mereka sendiri tidak mau disebut Suku Baduy karena memang bukan Baduy. Mereka lebih suka disebut orang Kanekes. Baduy sendiri merupakan sebutan yang biasa digunakan kolonial Belanda kepada orang Kanekes. Belanda menggunakan istilah itu karena menyamakan mereka seperti terhadap orang-orang Badwi di daerah Arab yang hidup secara nomaden. Padahal, orang Kanekes tidak nomaden dan bukan orang Arab. Mereka urang Sunda tulen. Mereka pun tidak pernah berbunuh-bunuhan untuk membanggakan keluarga, kaum, atau sukunya. Berbeda dengan Badwi Arab yang penuh dengan kebanggaan terhadap kaum dan sukunya, penuh dengan perjuangan keras, heroik, dan tak segan untuk membunuh yang akhirrnya menimbulkan perang hanya untuk membela silsilahnya. Orang Kanekes memilih untuk tetap diam di tempat dan berupaya menyeimbangkan dirinya dengan alam.

            Orang Kanekes tidak mau ikut campur dalam kehidupan politik di luar desanya. Tidak juga ingin meniru hidup seperti orang-orang lain. Mereka menolak teknologi, pendidikan, keyakinan, kesehatan, dan menolak apa pun yang berasal dari luar mereka. Mereka tak ingin dipengaruhi apa pun dan oleh siapa pun. Mereka tak ingin dibimbing dan tak ingin dididik. Mereka memiliki cara-cara hidupnya sendiri yang bertahan dari zaman ke zaman. Bahkan, mereka sendiri yang berupaya di atas orang lain karena mereka selalu berupaya keras untuk mengasuh para pemimpin Indonesia dan para tokoh-tokoh Indonesia dengan cara-cara hidup mereka sendiri sehingga hidup mereka menjadi pelajaran bagi orang lain. Orang-orang Kanekes yang ingin hidup seperti orang lain, harus keluar dari wilayah pedalaman dan menjadi orang luar. Adapun orang-orang pedalaman tetap setia terhadap adat istiadatnya. Mereka tak ingin diganggu dan tak ingin mengganggu. Mereka hidup tak ingin dipengaruhi orang lain. Apa pun yang terjadi di luar mereka, terserah. Akan tetapi, mereka mempertahankan hubungan dengan orang luar dan para penguasa dengan cara tetap berperilaku baik dan mengirimkan hadiah kepada penguasa ketika kebun dan ladang mereka panen. Silaturahmi tetap dijaga sehingga tidak saling mengganggu.

            Kekuatan mereka dalam mempertahankan adat sangat luar biasa. Mereka orang-orang yang sangat teruji dalam beristiqomah. Kalau dihitung, mungkin sudah jutaan orang yang mendatangi kampung mereka, tetapi mereka tetap tidak bisa dipengaruhi. Bahkan, kehidupan merekalah yang telah mempengaruhi orang lain. Penolakan mereka sangat tegas terhadap sesuatu yang tidak mereka sukai dan tidak seorang pun di dunia ini yang mampu memaksa mereka untuk berubah.

            Ayah saya adalah seorang guru. Dulu ketika masih muda, dia pernah hendak memasuki ke pedalaman Kanekes, tetapi ditolak dan dilarang masuk. Mereka anti terhadap guru.

            Alasan mereka, “Lamun guru asup ka kami, engke rahayat kami jadi pinter. Lamun rahayat kami jadi pinter, engke rahayat kami jadi jelema jahat. (Kalau guru masuk ke daerah kami, nanti rakyat kami menjadi orang pintar. Kalau rakyat kami sudah menjadi orang pintar, nanti mereka menjadi orang-orang jahat).”

            Kalimat itu sangat dalam maknanya dan mempermalukan kita yang hidup penuh pendidikan sekaligus penuh kejahatan.

            Coba renungkan kalimat mereka itu. Ada banyak makna di sana.

            Dulu sekali mereka sangat tegas dan keras menutup diri. Akan tetapi, sekarang mereka membuka diri sedikit. Meskipun demikian, mereka tetap kuat memegang adat istiadat. Mungkin mereka sekarang melihat rakyat Indonesia mulai ada perubahan pada hal-hal yang lebih baik sehingga sedikit membuka diri. Kalau dulu pada masa kolonial dan Orde Baru, mereka sangat tertutup, mungkin karena banyak hal yang sangat mereka tidak sukai dari kehidupan di Indonesia ini.

            Kalau soal masa kolonialisme, pasti tidak mereka sukai karena banyak sekali kejahatan. Kalau masa Orde Baru, mungkin masih banyak yang tidak berkenan di hati mereka.

            Ketika menanggapi soal jatuhnya Soeharto dan Orde Baru, salah seorang dari mereka mengatakan, “Matak kitu oge teu bener meureun Soeharto teh. Da lamun bener mah, moal dikitukeun. (Dijatuhkan seperti itu mungkin karena Soeharto tidak benar memimpin. Kalau dia benar memimpin, tidak akan dijatuhkan seperti itu).”

            Sekarang mari kita tinggalkan kisah soal Suku Baduy yang sebenarnya orang Kanekes itu. Kini kita lihat bagaimana sekilas Kampung Dukuh yang berada di wilayah Garut. Warga Kampung Dukuh mirip-mirip dengan Kanekes. Mereka kuat memegang adat istiadat dan tidak mau dipengaruhi orang lain, tetapi tetap terbuka kepada siapa pun yang ingin bersilaturahmi. Mereka tidak mau menggunakan listrik. Penerangan hanya menggunakan lampu berbahan bakar minyak tanah. Mereka pun terlarang untuk menjadi pegawai negeri sipil. Hidup mereka dipenuhi ritual-ritual agama Islam.

            Hal yang paling unik adalah mereka merupakan pemegang naskah kuno mengenai sejarah dunia dan masa depan dunia. Saya menduga naskah itu berasal dari skrip-skrip yang diselamatkan oleh para pendeta gereja Sarabeum, Mesir ketika dikalahkan oleh pendeta Vatikan, Romawi. Dalam buku karya Muhammad Isa Dawud dijelaskan mengenai perebutan pengaruh di antara para pendeta. Perebutan pengaruh itu berujung pada perang antara pendeta-pendeta Vatikan, Romawi dengan pendeta-pendeta Sarabeum, Mesir. Keduanya memiliki simbol yang sama, yaitu salib. Akan tetapi, salibnya berbeda bentuk dan berbeda makna. Salib yang digunakan gereja Vatikan adalah salib sebagaimana yang kita kenal sekarang, yaitu salib berupa tempat pembunuhan terhadap orang yang mereka yakini sebagai Yesus. Adapun salib yang digunakan gereja Sarabeum adalah salib dalam bentuk kunci kehidupan, ”Anchor”. Perang besar itu dimenangkan oleh gereja Vatikan. Mereka membabi-buta membakar dan menghancurkan gereja-gereja Sarabeum. Oleh sebab itu, para pendeta Sarabeum yang kalah menyelamatkan naskah-naskah kuno mengenai dunia dan masa depan dunia ke seluruh penjuru dunia. Ada kemungkinan naskah yang dipegang di Kampung Dukuh secara turun-temurun itu berasal dari Sarabeum, Mesir.

            Karena pertempuran dimenangkan oleh gereja Vatikan, sedangkan gereja Sarabeum mengalami kehancuran total, dunia hanya mengenal satu salib, yaitu tempat dibunuhnya orang yang kata mereka adalah Yesus. Padahal, menurut Allah swt, yang disalib itu sama sekali bukan Yesus. Dia hanya orang yang mirip Yesus. Yesus as sebenarnya dalam kondisi baik-baik saja sampai hari ini. Berbeda halnya jika yang memenangkan pertempuran adalah gereja Sarabeum, kita akan mengenal salib yang digunakan adalah kunci kehidupan, “Anchor” yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyaliban yang katanya Yesus itu.

            Saya dua kali bertemu dengan orang-orang Kampung Dukuh. Pertama, ketika Indonesia dilanda krisis minyak tanah beberapa tahun lalu. Saat itu minyak tanah sulit sekali didapat. Kalaupun ada, mahalnya bukan main. Karena sulit mendapatkan minyak tanah dan mahal harganya. Kampung Dukuh menjadi gelap gulita pada malam hari. Mereka memang anti menggunakan listrik dan harus hanya menggunakan penerangan dari lampu minyak tanah. Saya mendatangi mereka untuk mengantarkan bantuan dua drum minyak tanah. Tentunya, saya hanya dititipi uang untuk mereka. Saya tidak membawa minyak tanah dari kota. Uang yang dititipkan dermawan kepada saya dibelikan dua drum minyak tanah dari daerah yang terdekat ke Kampung Dukuh. Mereka bersyukur sekali mendapatkan bantuan itu karena dalam satu dua bulan ke depan mereka memiliki cukup persediaan minyak tanah.

            Kedua, adalah ketika Kampung Dukuh mengalami kebakaran hebat. Baru juga kira-kira dua minggu saya datang membawa dua drum minyak tanah, tersiar kabar di media massa bahwa Kampung Dukuh kebakaran. Kembali saya mendatangi mereka beserta para dermawan untuk melihat kondisi mereka sekaligus memberikan bantuan. Ternyata, benar saja hampir setengah dari kampung itu habis terbakar dan hanya menyisakan reruntuhan rumah-rumah yang rata dengan tanah dan hitam gosong dimakan api. Kali ini bantuan jauh lebih besar daripada sebelumnya. Uang yang disalurkan bisa membangun kembali beberapa unit rumah panggung berbahan bambu dan kayu. Di samping uang, tentu saja beras dan kain sarung.

            Dua drum minyak tanah itu bagaimana?

            Habis terbakar Bro tidak bersisa!

            Menurut polisi, kebakaran disebabkan oleh silalatu dari api unggun para pemuda pada bagian bukit yang lain. Akan tetapi, saya sangat tidak percaya. Silalatu itu adalah bara api yang mudah terbang karena sangat ringan tertiup oleh angin. Dalam pandangan polisi saat itu, silalatu dari api unggun anak-anak muda itu tertiup angin, lalu mengenai rumah-rumah di Kampung Dukuh yang terbuat dari bahan bambu, alang-alang, dan kayu.  Saya tidak bisa percaya karena letak api unggun yang jadi tersangka itu berada pada bagian bukit yang lain dan jaraknya sangat jauh sekitar 300 s.d. 400 meter dari Kampung Dukuh. Silalatu atau bara api yang terbang itu dalam kenyataannya tidak pernah bisa sampai sejauh itu terbang tertiup angin. Paling-paling hanya sejauh 3 s.d. 5 meter, lalu padam sendiri. Kalau mau dijauh-jauhkan juga paling hanya bertahan 10 meter dan itu sangat tidak mungkin.

            Saya justru sangat menduga bahwa kebakaran itu disengaja oleh orang-orang yang terorganisasi dengan baik untuk melenyapkan keberadaan naskah kuno tentang sejarah dunia dan masa depan dunia. Di dalam naskah itu terdapat banyak prediksi mengenai kondisi masa depan dunia. Hal itu jelas sangat mengganggu orang-orang yang ingin membuat kisahnya sendiri tentang masa depan dunia dan ingin mengatur menguasai dunia sesuai dengan kisah yang berdasarkan hawa nafsunya sendiri.

            Sudahlah, itu kisah beberapa tahun lalu. Bukan itu sebenarnya yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini.

            Hal yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana uniknya Suku Baduy dan Kampung Dukuh. Mereka kukuh dalam cara hidupnya sendiri dan tidak pernah mau dipengaruhi orang lain. Tak pernah mereka tergoda untuk mengikuti cara hidup dan gaya hidup orang lain. Sudah jutaan orang datang ke tempat mereka dari zaman ke zaman, tetapi mereka tetap seperti itu, kuat dalam memegang teguh keyakinan. Orang-orang dari rupa-rupa latar belakang tak mampu menggoda mereka. Dengan demikian, mereka selamat dalam dirinya sendiri tidak terpengaruh oleh gonjang-ganjing dunia luar. Bahkan, mereka justru yang memaksa setiap siapa pun yang datang ke tempat mereka untuk patuh dan hormat terhadap mereka dan lingkungannya. Siapa pun orangnya, mereka tak peduli. Siapa pun harus patuh dan hormat terhadap keyakinan mereka.           

            Itulah yang menjadi daya tarik Suku Baduy Kanekes dan Kampung Dukuh. Konsisten dalam cara hidupnya sendiri. Itu pula yang membuat orang-orang ingin tahu lebih dekat tentang mereka dan mencoba mencari tahu hal-hal apa yang bisa dipelajari dari mereka.

            Jika saja Suku Baduy dan Kampung Dukuh dapat dipengaruhi oleh cara dan gaya hidup orang lain di luar mereka, daya tarik mereka pun musnah. Mereka tak ubahnya seperti orang kebanyakan. Tak akan ada lagi orang-orang yang datang ke tempat mereka dengan antusias.

            Apa menariknya mereka jika mereka hidup seperti orang kebanyakan?

            Buat apa mendatangi mereka, toh semuanya sama seperti kita, tak ada yang aneh?

            Keunikan dan keanehan merekalah yang membuat orang-orang tak pernah berhenti mendatangi mereka dengan berbagai tujuan. Ada yang ingin mempelajari sistem sosial, politik, teknologi, bahkan ada yang ingin menyelesaikan masalah dan mendapatkan doa-doa mujarab.

            Demikian pula jika kita, Indonesia, ingin didatangi oleh orang banyak melalui pintu sektor pariwisata. Kita harus kukuh dan teguh istiqomah dalam cara-cara hidup kita sendiri, tidak  banyak menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak meniru-niru atau mencontek-contek negara ini atau negara itu. Kita harus hidup dalam keunikan kita dan jangan mau dipengaruhi oleh orang lain karena kita memiliki cara sendiri dalam menyelesaikan berbagai masalah dan menyelaraskan kehidupan. Sudahi menganggap orang lain sebagai negara hebat. Kita hidup saja dalam anugerah kita sendiri. Dengan demikian, kita memiliki daya tarik yang kuat sebagaimana yang dimiliki Suku Baduy dan Kampung Dukuh. Kita pun akan lebih kuat dalam menangkal pengaruh-pengaruh asing yang sangat negatif.

            Terlalu banyak melihat orang lain membuat pikiran dan hidup kita menjadi rusak. Ir. Soekarno pernah mengingatkan bahwa negeri-negeri yang pernah diatur oleh aturan Barat selalu berakhir kusut samut. Salah satunya, ia mencontohkan bagaimana Mexico yang dulunya kuat, besar, dan makmur di bawah kepemimpinan Montezuma menjadi kacau balau setelah diatur oleh pihak Barat. India yang dulunya megah dan dipenuhi para pemikir andal menjadi lemah setelah diatur Inggris. Masih banyak lagi yang dia contohkan dalam Dibawah Bendera Revolusi.

            Kita pun bisa melihat bagaimana carut marutnya Timor Timur setelah ditinggalkan Portugis, kemudian Indonesia yang harus menerima getahnya. Saat ini pun kita menyaksikan dengan jelas bagaimana semakin runyamnya Mesir setelah kekuatan Barat ikut campur terhadap mereka. Demikian pula Libya yang selalu berdarah dan bergoncang setelah Nato menghajar Moamar Khadafi. Hal yang mengerikan dialami pula oleh Irak yang setelah masa Sadam Husein dipimpin oleh Amerika Serikat dan antek-anteknya. Mereka tak mengenal kata tenteram dan damai. Tak ada kemakmuran buat mereka, kecuali perselisihan dan pertengkaran. Afghanistan pun sama tak kunjung beres setelah dicampuri pihak Barat. Somalia pun sama saja.

            Sesungguhnya, mereka yang suka ikut campur hidup orang lain itu sama sekali tidak memiliki jalan yang benar. Selalu kacau. Kita pun hidup ikut-ikutan menjadi kacau karena mengikuti dan mengidolakan orang-orang yang kacau.

            Sesungguhnya, jalan yang benar itu ada di negeri ini, Indonesia. Jika kita mau belajar konsisten dan istiqomah sebagaima Suku Baduy dan Kampung Dukuh, akan ada banyak cahaya yang menyinari dunia seperti Matahari yang terbit dari Timur. Matahari itu mampu menyinari orang lain, tetapi dirinya lebih terang daripada segala yang ada di dunia ini. Dengan demikian, kita akan menjadi bangsa unik, menarik, dan menjadi tujuan banyak orang, baik itu untuk bersitirahat, menyamankan diri, maupun menggali ilmu pengetahuan. Kitalah yang harus memberikan banyak orang pelajaran, bukan kita yang banyak dipengaruhi orang sehingga menjadi semrawut.


            Di sinilah tempat segalanya berasal. Di sinilah tempat banyak cahaya yang masih tertutupi kabut kebodohan.