Showing posts with label QS Al Baqarah. Show all posts
Showing posts with label QS Al Baqarah. Show all posts

Saturday, 22 April 2017

Nabi Adam Diciptakan Belakangan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang menduga bahwa Adam as adalah manusia pertama. Padahal, bukan. Beberapa tulisan saya yang lalu menjelaskan hal ini. Berdasarkan keterangan QS Al Hujurat 49 : 13, Allah swt menciptakan banyak suku dengan bahasa tertentu, kemampuan tertentu, kecerdasan tertentu, kondisi fisik tertentu, dan tantangan hidup tertentu. Untuk asal mula setiap suku, Allah swt menciptakan sepasang suami-istri khusus sebagai cikal bakal suku tersebut. Jadi, banyak sekali manusia yang diciptakan langsung oleh Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa hanyalah salah satu pasangan yang diciptakan Allah swt tanpa ayah dan tanpa ibu. Pasangan Adam-Hawa merupakan cikal bakal untuk sukunya sendiri dan bukan menjadi leluhur seluruh manusia.

            Hal ini dijelaskan pula oleh Allah swt bahwa sebelum Nabi Adam diciptakan, sudah sangat banyak manusia hidup di muka Bumi ini.

            Perhatikan firman Allah swt dalam QS Al Baqarah 2 : 213 berikut ini.

            “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian, yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab) setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka karena kedengkian di antara mereka sendiri. Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberikan petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Perhatikan dua kalimat pertama.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Kedua kalimat itu mengandung arti bahwa dulu manusia ini satu umat. Yang dimaksud satu umat adalah satu keyakinan, satu Tuhan. Dr. Ahmad Hatta, M.A.  mengartikannya sebagai satu ketauhidan. Oleh sebab itu, tak ada perselisihan di antara manusia meskipun terdiri dari ribuan suku bangsa. Tak ada pertengkaran dan perebutan kekuasaan, ekonomi, maupun sumber daya alam karena semua memiliki keyakinan yang sama bahwa hidup adalah hanya untuk mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu, dalam bahasa Arab disebut Allah swt dan dalam bahasa lain ada sebutan lain pula.

            Ketika manusia sudah semakin banyak, semakin berkembang kecerdasannya, semakin berkembang kebutuhannya, terjadilah banyak masalah dan perselisihan. Konflik-konflik itu membuat kerusakan tatanan hubungan di antara manusia. Kemudian, lambat atau cepat manusia terlalu sibuk memikirkan duniawi sehingga melupakan kewajibannya yang pasti, yaitu mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Satu. Ketika manusia sudah sangat kafir dan kekafirannya tidak bisa ditolerir lagi, Allah swt menghukumnya dan menghancurkannya hingga tak bersisa atau hanya disisakan sedikit saja. Ketika suatu zaman dihancurkan, dimusnahkan, dan ditenggelamkan hingga hilang dari kehidupan dunia, Allah swt memunculkan kembali umat-umat yang baru. Dalam perjalanannya, umat-umat yang baru ini pun melakukan kesalahan yang sama dengan umat-umat yang telah dihancurkan. Akibatnya, Allah swt melumatkannya lagi, kemudian menciptakan lagi umat yang baru. Begitu berulang-ulang Allah swt menciptakan dan menghancurkan manusia.

            Jika dilihat dari hasil penelitian para peneliti terkait dengan geografi, geologi, oceanografi, atau ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan daratan dan lautan, disepakati bahwa seluruh daratan di muka Bumi ini dulunya adalah satu daratan yang sama dan tidak terpisah-pisah. Akan tetapi, bentuk daratan yang satu itu mengalami perubahan oleh banyak bencana besar yang berulang-ulang hingga memisahkan daratan itu menjadi beberapa benua dan beberapa pulau.

            Apabila kita membaca Al Quran, sering sekali Allah swt menyuruh kita berjalan-jalan di muka Bumi untuk mellihat bagaimana Allah menghancurkan manusia-manusia durhaka dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Bentuk daratan seperti saat ini sesungguhnya telah mengalami ribuan kali bencana teramat dahsyat.

            Suatu saat Allah swt memiliki kebijakan lain, yaitu ingin menciptakan manusia yang menjadi wakil dirinya di muka Bumi. Tak heran rencana itu sempat membuat bingung para malaikat.

            Para malaikat bertanya, “Untuk apa menciptakan manusia yang akan menumpahkan darah di muka Bumi? Bukankah kami yang selalu memuji dan mengagungkan Engkau, ya Allah?”

            Begitu kira-kira malaikat merasa heran. Malaikat bertanya-tanya soalnya mereka sangat tahu bahwa sudah ribuan umat yang diciptakan, lalu dihancurkan. Diciptakan lagi yang lain, lalu dihancurkan lagi.

            Mereka tidak percaya bagaimana mungkin Allah swt akan menjadikan manusia yang suka melakukan kekafiran, membuat kekacauan di muka Bumi, dan saling bunuh itu menjadi wakil Allah swt di Bumi?

            Kalaupun mau mengangkat wakil, seharusnya dari kalangan malaikat karena malaikat adalah yang selalu memuji dan mengagungkan Allah swt, tidak pernah bikin kekacauan, apalagi saling bunuh. Adapun manusia, berulang-ulang bikin kekacauan, saling bunuh, dan berubah kafir. Begitu kira-kira yang ada di pikiran malaikat.

            Akan tetapi, Allah swt menegaskan, “Aku lebih tahu.”

            Kemudian, Allah swt memerintah Adam untuk memamerkan kecerdasannya di hadapan malaikat. Akhirnya, para malaikat pun mengakui bahwa Adam as adalah lebih hebat, lebih cerdas, dan lebih unggul dibandingkan para malaikat. Allah swt pun memerintah para malaikat untuk segera bersujud kepada Adam sebagai penghormatan dan pengakuan bahwa Adam lebih cerdas dan lebih mulia.

            Allah swt memang menciptakan Adam as dengan kecerdasan di atas malaikat dan di atas rata-rata manusia biasa yang sudah diciptakan sebelumnya.

            Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu, Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

            Pada masa belum ada nabi seluruh manusia selalu dihancurkan, kemudian diganti oleh umat manusia yang lain dan berbeda. Kemudian, dihancurkan lagi. Selalu begitu. Oleh sebab itu, Allah swt menurunkan nabi agar manusia mendapatkan petunjuk, tidak lagi berselisih, tidak lagi saling berebut, tidak saling bunuh, dan tetap mengabdi dengan benar kepada Tuhan Yang Satu. Dengan demikian, manusia tidak perlu dihancurkan lagi dan lagi dalam sejarah kehidupan dunia ini.

            Nabi yang pertama diciptakan namanya adalah Adam. Istrinya bernama Hawa di Amerika Serikat dan Eropa disebut Eva. Adam-Hawa sama dengan Adam-Eva.

            Lalu, diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

            Para nabi itu diutus Allah swt dengan membawa kita-kitab suci sebagai panduan bagi manusia untuk menyelesaikan berbagai permasalah manusia, baik persoalan ekonomi, sumber daya alam, politik, maupun ritual keagamaan. Akan tetapi, sayangnya setelah para nabi dan kitab itu turun, manusia tetap berselisih, bertengkar, malah berperang saling bunuh. Hal itu disebabkan manusia terbagi dua, yaitu ada yang bersikap benar dan sesuai dengan petunjuk para nabi serta ada yang mengingkari kebenaran para nabi beserta kitab-kitabnya. Mereka yang ingkar itu disebabkan iri dan dengki kepada orang-orang yang bersikap benar dan hidup sesuai dengan petunjuk para nabi dan kitab-kitabnya. Akibatnya, orang-orang yang ingkar ini bukan saja memusuhi orang-orang yang benar, melainkan pula memusuhi para nabi, kitab-kitab suci, bahkan memusuhi Tuhan Yang Satu.

            Karena manusia tetap berselisih, bertengkar, saling bunuh, bahkan mengingkari Tuhan Yang Satu, Allah swt membagi dua kelompok manusia, yaitu kelompok beriman dan kelompok tidak beriman.

            Oleh sebab itu, dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

            Orang-orang yang beriman terus-menerus diberi pemahaman yang benar oleh Allah swt agar tetap menjadi orang-orang yang benar. Adapun orang-orang yang penuh rasa iri, dengki, dan bersikap ingkar, dibiarkan tersesat hingga menemui kehidupan yang sesat dan penuh dengan kekalutan. Jika Allah swt tidak menyayangi mereka, mereka akan tetap durhaka hingga hari kiamat dan berada di dalam neraka yang sejak lama tidak mereka percayai. Setelah mereka berada di dalam neraka, barulah mereka percaya. Sayangnya, saat itu sudah terlambat dan tak ada jalan kembali pulang ke dunia ini. Kekal selamanya di dalamnya.

            Adam bukanlah manusia pertama, melainkan nabi pertama yang diutus Allah swt untuk memberikan petunjuk agar manusia tidak selalu berselisih dan bertengkar hanya karena rebutan ekonomi, politik, sumber daya alam, atau cara-cara ritual keagamaan. Para nabi selalu lurus dari awal hingga akhir, dari Adam hingga Muhammad selalu mengajarkan kebaikan dan memberikan penjelasan mengenai penyelesaian masalah manusia. Sayangnya, manusia selalu menganggap diri terlalu pintar dan tidak memerlukan ajaran para nabi. Akhirnya, manusia selalu hidup kusut, menderita, mudah bertengkar, mudah stres, mudah berkelahi, bangga terhadap dirinya, dan gemar melakukan pembunuhan.

            Kembalilah kepada ajaran para nabi sejak Adam hingga Muhammad agar persoalan-persoalan manusia dapat diselesaikan dengan cepat dan baik. Jika tidak, manusia tetap akan terbagi dua, yaitu manusia baik dan manusia buruk. Kita memiliki kebebasan untuk menjadi baik atau menjadi buruk. Menjadi baik atau menjadi buruk sama-sama memiliki konsekwensi dan harus selalu diperjuangkan. Orang baik akan berakhir baik dan orang buruk akan selalu berakhir buruk jika tidak berubah menjadi baik.

            Sampurasun.

Thursday, 20 April 2017

Kata Allah swt Jangan Suap Hakim untuk Korupsi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Korupsi itu perbuatan buruk dan rusak. Corupt itu artinya busuk, buruk, dan atau rusak. Tindakan korup yang sangat kita kenal adalah mengambil uang negara, perusahaan, organisasi, dan masyarakat untuk kepentingan pribadi dan atau kelompoknya. Sebetulnya, masih banyak bentuk korupsi di luar yang kita kenal tadi, misalnya, abuse of power, ‘penyalahgunaan wewenang’ juga termasuk korupsi. Apa pun bentuknya, korupsi adalah kerusakan mental dari pelakunya, kurangnya keyakinan kepada Allah swt, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

            Apabila kalian melakukan korupsi dan itu terjadi karena khilaf, lupa, tergoda, kemudian sadar, segera perbaiki diri, kembalikan, cari cara yang baik untuk menyelesaikan persoalan itu dengan baik. Akan tetapi, apabila urusan korupsi itu sudah sampai di meja hakim, sudah berada di persidangan, mudahkanlah persidangan itu, akuilah dengan jujur dan bekerja samalah dengan hakim dalam mengungkapkan kebenaran. Jangan mempersulit persidangan atau bahkan melakukan penyuapan terhadap hakim untuk membebaskan diri dari segala tuduhan dan atau untuk tetap dapat menikmati hasil korupsi itu.

            Persoalan suap-menyuap ini sudah pada tahu semua bahwa orang yang menyuap dan orang yang disuap tempatnya adalah di neraka. Akan tetapi, karena tidak takut neraka, banyak orang yang terus melakukan penyuapan, padahal neraka itu rasanya sudah terasa di dunia, misalnya, rasa khawatir, cemas, bingung, gelisah, sakit, menderita, takut, tidak dipercaya, dihujat, dimaki, sedih, galau, dan sebagainya.

            Taubatnya orang korupsi adalah bukan hanya duduk berdzikir dan memohon ampun kepada Allah swt. Urusan korupsi itu dengan manusia, bukan dengan Allah swt. Allah swt tidak akan menerima taubat para koruptor karena urusannya bukan dengan Allah swt. Para koruptor itu harus meminta maaf kepada pihak-pihak yang dikorupnya dan menjalani hukuman sebagai penebus kesalahannya. Setelah itu, Allah swt baru akan mengampuninya. Allah swt tidak akan mengampuninya jika tidak meminta maaf dulu kepada pihak yang dirugikannya dan tidak melakukan penebusan kesalahan dengan menjalani hukuman.

            Allah swt tahu itu semua. Oleh sebab itu, sudah sejak lama Allah swt mewanti-wanti tentang hal tersebut.

            “Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara yang bathil dan janganlah kamu menyuap hakim agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan cara dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah 2 : 188)

            Korupsi itu adalah memakan harta orang lain dengan cara yang salah dan penuh dosa. Kesalahan dan dosanya akan berlipat-lipat ganda jika melakukan penyuapan pada hakim untuk membebaskan dirinya dari jeratan hukum serta untuk tetap menikmati harta orang lain itu.

            Bro, harta itu bukan milik kalian. Itu punya orang lain.

            Kalian nggak malu makan harta orang lain?

            Kalian pikir kalian sukses hidup dengan memakan harta orang lain?

            Punya orang Bro. Itu punya orang.

            Ngaku-ngaku milik dirinya, padahal punya orang lain.

            Memalukan.

            Kata Allah swt, jangan.

            Jangan apa?

            Jangan korupsi, jangan menyuap hakim, dan jangan memakan harta orang lain dengan cara dosa, misalnya, menggelapkan surat-surat tanah, menghilangkan hak cipta orang lain, merekayasa hutang-piutang, dan lain sebagainya.

            Jangan.


            Sampurasun.

Friday, 14 April 2017

Kejayaan Sunda Masa Sundaland

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Ada lagi bukti penemuan prasejarah yang menunjukkan bahwa orang Sunda sudah melakukan berbagai hubungan internasional dengan negeri-negeri yang sangat jauh. Hal itu menandakan bahwa pada masa Benua Sundaland sebelum hancur menjadi negeri kepulauan bernama Indonesia ini masyarakat Sunda hidup dalam kemakmuran luar biasa dengan keramaian penduduknya.

            Dr. Hasan Muarif Ambary dalam Karangan Penunjang ke-10 berjudul Refleksi Budaya Sunda Dillihat dari Pengamatan Temuan Arkeologi (1986) menuturkan bahwa sebuah situs kuno dari tradisi prasejarah salah satunya adalah situs Buni dan situs Cipari. Situs Buni telah diketahui melalui penelitian arkeologi merupakan sebuah pemukiman masyarakat kuno di Pantai Utara Jawa Barat membentang dari Karawang hingga Tanggerang. Bentangan tersebut dilihat dari gerabahnya merupakan satu kontek budaya yang sama (Sutayasa, 1972 : 182). Di situs itu ditemukan benda sangat penting yang disebut Romano Indian Rouletted, sebuah fragmen gerabah yang merupakan bahan komoditi perdagangan kuno berasal dari Romawi.

            Ditemukannya pemukiman padat penduduk yang membentang dari Karawang hingga Tanggerang serta adanya komoditi perdagangan dari Romawi menunjukkan adanya kehidupan yang ramai dalam frekwensi mobilitas tinggi dan kemakmuran penduduknya, baik dari hasil alam berupa laut, kebun, hutan, dan gunung, maupun dari perdagangan internasional. Hal ini pun menguatkan pandangan bahwa memang di Indonesia-lah sebenarnya Atlantis itu berada.

            Ketika kejayaan dan kemakmuran demikian tingginya, orang-orang lupa dengan ajaran para nabi, seperti, Nabi Prabu Siliwangi as, Nabi Sulaeman as, dan Nabi Daud as. Bahkan, bukan hanya lupa, melainkan menjauh dari Allah swt, kemudian mengikuti ajaran Iblis. Oleh sebab itu, Allah swt murka dan menghancurkan Benua Sundaland yang megah itu menjadi 17.000 pulau lebih yang kini bernama Indonesia. Untuk lebih jelasnya, baca tulisan saya yang lalu berjudul Indonesia dalam Pandangan Allah swt.

            Penemuan pemukiman ramai dan barang dagangan dari Romawi itu pun menunjukkan kesalahan dari dugaan Darwin. Para pengikut Darwin selalu berpandangan bahwa manusia itu berasal dari makhluk bersel satu dan berkembang hingga menjadi sekarang ini. Penemuan adanya budaya yang sama dalam keadaan ramai dan padat seperti yang ditemukan peneliti tanpa adanya penemuan manusia purba dan atau bentuk fisik manusia yang sedang berubah dari monyet menjadi manusia di tanah Sunda sudah menegaskan kesalahan Darwin. Hal yang benar adalah sesungguhnya sebagaimana yang diinformasikan oleh Allah swt dalam QS Al Hujurat 49 : 13.

            “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.”

            Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa Allah swt menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan karakteristik masing-masing serta kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional juga yang masing-masing. Manusia diciptakan berbeda secara fisik, mental, intelektual, emosional, dan spiritual. Hal  itu dimaksudkan Allah swt untuk saling mengenal sehingga dapat saling belajar, saling mengisi, dan saling membantu dalam menyempurnakan hidup dan kehidupan yang diciptakan Allah swt.

            Orang Sunda, Jawa, Minang, Batak, Papua, dan seluruh suku bangsa di dunia ini memiliki leluhur masing-masing, memiliki sepasang suami istri masing-masing yang merupakan awal dari suku bangsa itu. Di wilayah setiap suku ada tempat yang merupakan lokasi bagi Allah swt dalam menciptakan pasangan awal suami istri yang melahirkan suku bangsa mereka. Dari pasangan awal itulah lahir suku bangsanya yang khas dengan segala karakteristiknya sesuai dengan kehendak Allah swt.

            Allah swt memberikan contoh penciptaan sepasang suami-istri ini sebagaimana penciptaan Adam-Hawa. Adam-Hawa adalah leluhur pertama bagi sukunya sendiri dan bukan leluhur seluruh manusia.

            Penemuan pemukiman manusia dalam satu kontek budaya yang sama pun menegaskan “kesalahan” berbagai dugaan yang selama ini berkembang dan dikembangkan bahwa orang Indonesia merupakan para pendatang dari negeri-negeri lain. Banyak sekali buku sejarah yang menulis bahwa orang Indonesia ini merupakan pendatang dari bangsa Yunan, Cina tanpa memberikan bukti yang benar.

            Coba terangkan kepada saya ahli sejarah mana saja di dunia ini yang dapat menjelaskan bahwa jika bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina, mengapa perilaku dan tradisi Yunan tidak pernah ada pada bangsa Indonesia?

            Mengapa tak ada jejak keyakinan suku Yunan, Cina pada penduduk pribumi Indonesia?

            Mengapa pula bangsa Indonesia tidak pernah menggunakan bahasa Yunan?

            Ada masalah apa antara antara bangsa Indonesia dengan leluhurnya dari Yunan sehingga tidak sudi lagi menggunakan bahasa Yunan?

            Tak ada jejak signifikan penggunaan bahasa Yunan di Indonesia. Orang Indonesia menggunakan bahasa ibunya masing-masing dan kini sepakat menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, bahasa persatuan.

            Ke mana bahasa Yunan?

            Saya menunggu penjelasan atas itu.

            Kalau tidak ada yang bisa menjelaskan dan memang tidak akan pernah ada yang bisa menjelaskan, penjelasan dari Allah swt adalah yang paling benar. Mahabenar Allah swt dengan segala firman-Nya.

            Saya memahami penjelasan dari Allah swt adalah bahwa setiap suku di dunia ini memiliki sepasang suami-istri khusus yang diciptakan Allah swt sebagai leluhur mereka dengan fisik berbeda, bahasa berbeda, tantangan hidup berbeda, watak berbeda, serta dibekali modal pengetahuan minimal yang berlainan sesuai dengan tantangan hidup masing-masing. Untuk kebutuhan keberlangsungan hidup, Allah swt menciptakan alam sekitarnya agar modal minimal pengetahuan manusia itu dapat memanfaatkannya. Perbedaan suku-suku sengaja diciptakan agar manusia dapat saling belajar antara satu dengan yang lainnya agar tercipta kehidupan saling membantu dan saling mengisi dalam menyempurnakan kehidupan sebagaimana yang direncanakan Allah swt.

            Sepasang suami-istri Sunda melahirkan anggota-anggota sukunya, lalu berkembang dan belajar sepanjang hidupnya sehingga makmur dan kaya raya atas izin Allah swt. Semua suku di Indonesia pun seperti itu diciptakan Allah swt. Akan tetapi, sayang sekali orang-orang Indonesia yang sudah kaya raya, cerdas, kuat itu harus dihancurkan Allah swt karena terlalu banyak dosanya kepada Allah swt. Mereka yang lemah dan selamat dari hukuman Allah swt adalah orang-orang miskin dan terhina, tetapi tetap beriman dalam kehidupan masa Sundaland dengan jumlah sedikit yang kembali mencoba hidup baru dan berkembang sampai saat ini dalam kondisi wilayahnya sudah menjadi kepulauan berjumlah lebih dari 17.000 pulau bernama Indonesia. Kita adalah keturunan mereka.

            Sampurasun.

Thursday, 13 April 2017

Tiket Masuk Surga

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang yang menganggap dirinya atau kelompok agamanya adalah yang pasti masuk surga, kelompok yang lain tidak dan pasti masuk neraka. Kalaupun harus masuk neraka, mereka yakin hanya sebentar, ujung-ujungnya, pasti masuk surga. Sayangnya, Allah swt membantah mereka yang berpendapat demikian. Mereka hanya berangan-angan tanpa bukti dan hanya menyebar hoax agar orang lain sama pikirannya dengan dirinya.

            Kata Allah swt, “Bukan demikian, yang benar adalah siapa saja berbuat dosa dan dirinya telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah 2 : 81)

            Jadi, seseorang atau sekelompok manusia dijerumuskan ke dalam neraka bukanlah disebabkan ras, negara, atau pengakuan agamanya di hadapan manusia, melainkan karena dirinya telah diliputi oleh banyak dosa sehingga Allah swt menggambarkannya sebagai manusia yang ditenggelamkan oleh dosanya sendiri. Karena dosa dan pengingkarannya kepada Allah swt sangat banyak, mereka tak pernah bisa keluar dari neraka dan terus menderita, sedih, sakit, sengsara, gelisah, cemas, dan penuh kesulitan.

            Untuk menjadi penduduk surga, harus ada tiket yang dimiliki. Tiket itu adalah beberapa hal yang harus dilakukan oleh manusia.

            Begini Allah swt menjelaskan hal tersebut.

            “Adapun orang-orang beriman serta berbuat kebaikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah 2 : 82)

            Jadi, tiket untuk memasuki surga adalah hanya dua hal, yaitu beriman dan berbuat kebaikan.


Beriman
Orang yang beriman artinya “orang yang memiliki keyakinan”.

            Hal apa saja yang harus diyakini atau diimani itu?

            Ada enam hal minimal yang harus diyakini, yaitu yakin terhadap eksistensi dan kekuasaan Allah swt, yakin terhadap adanya malaikat-malaikat Allah swt, yakin terhadap para utusan Allah swt, yakin terhadap kitab-kitab yang dibawa para utusan itu, yakin terhadap terjadinya kiamat, dan yakin terhadap adanya takdir baik dan takdir buruk.

            Keenam hal itu adalah dasar keyakinan atau dasar keimanan. Tanpa meyakini keenam hal itu, seseorang tidaklah bisa disebut orang beriman. Satu hal saja tidak diyakini, seseorang tidaklah beriman. Jadi, jangan mengharapkan surga jika tidak mempercayai keenam hal itu.

            Jika sudah mempercayai keenam hal itu, pintu surga pun mulai terbuka. Akan tetapi, beriman saja tidak cukup, meyakini keenam hal itu saja tidak cukup. Keimanan atau keyakinan itu harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari yang disebut berbuat kebaikan.


Berbuat Kebaikan
Terdapat banyak kebaikan yang bisa kita lakukan. Akan tetapi, jenis kebaikan minimal yang harus dilakukan seseorang untuk mendapatkan surga adalah sebagaimana yang dijelaskan Allah swt sendiri.

            “… Janganlah kamu menyembah selain Allah, berbuat baiklah kepada orangtua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat, serta tunaikanlah zakat….” (QS Al Baqarah 2 : 83)

            Berdasarkan keterangan Allah swt tersebut, untuk dapat menjadi penghuni surga, kita harus hanya menyembah Allah swt. Jangan menyembah hal-hal yang diciptakan Allah swt, semacam, batu, gunung, pohon, malaikat, jin, manusia, atau hal yang lainnya. Termasuk pula, jangan menyembah hal-hal yang ada dalam fantasi manusia seperti adanya tuhan-tuhan lain yang sesungguhnya hanya ada dalam dongeng dan khayalan tanpa bisa dibuktikan eksistensinya.

            Berbuat baiklah kepada orangtua. Kita dilahirkan dari sepasang suami-istri, yaitu ayah-ibu, papa-mama, papah-mamah, umi-abi. Merekalah yang menjadi wakil Allah swt di muka Bumi ini yang mengurus, merawat, dan memelihara sejak lahir sampai tumbuh besar hingga kita mampu bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Oleh sebab itu, muliakanlah mereka, hargai mereka, rawatlah mereka jika sudah renta, jangan sakiti hati mereka, berilah senyuman untuk mereka, dan bahagiakanlah mereka. Jika mereka melakukan kesalahan, segera maafkan mereka, dan berilah pemahaman dengan cara yang agung agar mereka mendapatkan karunia Allah swt yang sangat besar.

            Berbuat baiklah kepada kaum kerabat. Kita memiliki saudara yang jauh dan dekat. Berlakulah baik kepada mereka. Minimal, hade ku basa, ‘berbahasa yang baik, sopan, dan tidak menyakitkan’. Sambungkanlah tali silaturahmi terus-menerus supaya tidak pareum obor, ‘tidak kehilangan cahaya hidup’. Sesungguhnya, bersama merekalah kita bisa saling membantu karena adanya hubungan darah dan garis keturunan yang sama. Itulah ikatan yang tidak bisa terhapus. Ketika mereka membutuhkan pertolongan kita, tolonglah karena mereka akan ingat pertolongan kita sehingga ketika kita kesulitan, mereka pun akan menolong kita.

            Berbuat baik kepada anak-anak yatim. Anak-anak yatim dan yatim piatu telah kehilangan tangan yang mewakili Allah swt di muka Bumi untuk mengurus dan membesarkan mereka. Oleh sebab itu, siapa pun yang sudi mengulurkan tangan untuk mereka dan merawatnya dengan baik hingga dewasa, ia sudah menjadi tangan Allah swt dalam menjaga dan memelihara kehidupan manusia. Tak heran jika Allah swt mengangkat derajat orang yang bersedia menjadi orangtua angkat anak-anak yatim piatu ke derajat yang sangat tinggi asal tidak menjadikan anak-anak yatim itu sebagai budak belian atau bahan bullying.

            Berbuat baik kepada orang-orang miskin. Orang miskin adalah orang yang sedang berada dalam kesulitan, terutama dalam hal ekonomi. Ketika mereka tidak memiliki makanan, jika kita memberinya makanan, kita sudah menjadi media bagi Allah swt untuk mengantarkan rezeki Allah swt kepada mereka dan kita tidak akan pernah jatuh miskin hanya karena mengantarkan rezeki mereka dari Allah swt. Allah swt akan mengganti berlipat-lipat harta kita yang diberikan kepada mereka. Demikian juga ketika mereka kesulitan untuk biaya sekolah, jika kita membuat longgar kehidupan mereka, memudahkan kehidupan mereka, Allah swt akan memudahkan hidup kita dan melancarkan berbagai urusan kita.

            Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. Berbicara dan berucap yang baik harus dilakukan kepada seluruh umat manusia, tanpa kecuali. Ucapan kata yang baik tidak boleh hanya kepada orang yang dekat atau satu agama, melainkan kepada seluruh manusia meskipun berbeda agama, keyakinan, ras, suku, maupun adat istiadat. Berbicara yang baik adalah keharusan untuk disampaikan kepada seluruh manusia. Jangan mengucapkan kata-kata kotor, penuh penghinaan, penuh pelecehan, apalagi berteriak-teriak menghujat, memaki, dan memfitnah penuh hoax.

            Dirikanlah shalat. Sesungguhnya, di dalam shalat terdapat keseluruhan hidup manusia dalam berhubungan dengan Allah swt, sesama manusia, dan alam semesta. Di dalam shalat pun bukan hanya ada kewajiban, tetapi ada hal-hal yang dibutuhkan manusia karena mengandung pernyataan diri sebagai hamba Allah swt, pemujaan kepada Allah swt, permohonan atas segala yang kita butuhkan, permohonan untuk dilepaskan dari segala kesulitan, penghormatan dan penjagaan terhadap alam semesta, serta salam damai untuk seluruh kaum muslimin dan seluruh manusia.

            Minimal lima kali dalam sehari semalam, shalat harus dilakukan. Lebih dari itu, lebih baik.

            Tunaikanlah zakat. Di dalam harta kita ada harta orang lain, ada harta orang miskin. Dengan zakat, kita bisa saling berbagi dengan seluruh manusia. Di samping itu, dengan zakat, kita membersihkan harta kita yang bisa saja ada harta yang sebetulnya kita ambil dengan cara tidak suci tanpa kita sadari. Akan tetapi, zakat tidak bisa digunakan untuk membersihkan harta dari tindakan korupsi. Perilaku korup adalah perilaku maling yang dilakukan dengan sadar. Zakat bukanlah salah satu cara dari money laundry, bukan cara mencuci uang dari haram menjadi halal. Zakat hanya bisa menyucikan harta dan diri kita dari harta haram yang terambil tanpa kita sadari.

            Dengan zakat yang baik dan teratur, kita sudah menghalangi perilaku pelit dari dalam diri kita. Dengan demikian, kita akan mudah berbagi dan berhubungan dengan sesama manusia serta dengan alam semesta, terutama dengan Allah swt.

            Itulah hal-hal minimal yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan tiket surga. Semoga Allah swt melancarkan keinginan kita untuk mendapatkan tiket itu.

            Amin.

            Sampurasun.

Kata Allah swt, “Jangan jual ayat-ayat-Ku …!”

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Allahu Akbar! Subhanallah! Mahapandai Allah swt. Mahatahu Allah swt.

            Allah swt sudah tahu tentang perilaku manusia sejak dulu, sekarang, maupun nanti. Allah swt tahu bahwa akan ada manusia-manusia yang memanfaatkan ayat-ayat-Nya yang sesungguhnya penuh tuntunan, kebaikan, kebenaran, dan kedamaian itu untuk kepentingan-kepentingan rendah.

            Manusia bisa jadi sedang khilaf atau memang punya derajat yang rendah sehingga dengan semau-maunya memutarbalikkan fakta, mengacaukan pemahaman yang benar tentang ayat-ayat Allah swt, dan menyesatkan manusia dengan pemahaman-pemahaman yang keliru. Lalu, mereka menjualnya untuk kepentingan politik, ekonomi, dan berbagai kekuasaan lainnya, baik kekuasaan dirinya maupun orang lain. Mereka sengaja melakukannya karena adanya “bayaran” atau janji politik dan ekonomi dari pihak-pihak yang sedang dibelanya.

            Ayat-ayat Allah swt dibolak-balik dan ditafsirkan sekehendak hati hanya untuk memuaskan kepentingan kekuasaan dan ekonomi. Ayat-ayat Allah swt sengaja dikacaukan pemahamannya agar masyarakat tertipu dan tergiring sesuai dengan keinginannya sendiri.

            Benar-benar manusia rendah dan bejat!

            Allah swt tahu perilaku itu sejak lama. Allah swt pun tahu bahwa mereka yang sedang memutarbalikkan fakta dan mengacaukan pemahaman ayat-ayat Allah swt sebenarnya tahu bahwa dirinya salah. Akan tetapi, karena keangkuhan dan keterlanjurannya basah dalam kepentingan politik dan ekonomi, mereka tidak juga berhenti dan malah semakin kuat berada dalam jalan yang sesat dan salah.

            Allah swt mengingatkan:

            “…. Jangan jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah dan bertakwalah hanya kepada-Ku. Janganlah kamu campur adukan kebenaran dengan kebathilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS Al Baqarah 2 : 41-42)

            Sangat terang bahwa Allah swt melarang kita untuk menggunakan ayat-ayat Allah swt dengan cara memutarbalikkan fakta dan mengaburkan pemahaman yang benar sehingga menjadi salah. Allah swt tahu bahwa mereka yang mencampuradukkan kebenaran dan kesalahan itu hanya mengharapkan kepentingan-kepentingan rendah yang harganya murah.

            Apabila kita terlibat dalam hal mengaburkan pemahaman yang benar tentang ayat-ayat Allah swt, kemudian kita sadar bahwa sebenarnya kita sendiri tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah salah, tidaklah mengapa. Selama nafas masih ada, selama nyawa dikandung badan, pintu taubat selalu terbuka. Bertaubatlah dan lakukan hal-hal yang lebih baik lagi bagi manusia dan kemanusiaan dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt.

            “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al Baqarah 2 : 45)

            Taubat itu berat. Meninggalkan lingkungan yang terbiasa berada di lingkaran kita itu sungguh berat. Mengakui kesalahan itu berat. Mohon maaf itu berat. Shalat itu berat. Akan tetapi, itu semua tetap harus dilakukan jika kita ingin menyucikan diri kita dari berbagai kesalahan yang telah kita lakukan, terutama jika telah memperjualbelikan ayat-ayat Allah swt untuk kepentingan politik dan ekonomi dengan harga yang murah.

            Apabila kalian masih juga angkuh dan sombong, tetap memperjualbelikan ayat-ayat Allah swt, ada ancaman dari Allah swt.

            “Dan takutlah kamu pada hari (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Adapun syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak akan diterima dan mereka tidak akan ditolong.” (QS Al Baqarah : 48)

            Saat ini mungkin kalian masih tenang karena masih banyak anggota gerombolan kalian yang membela kalian. Bahkan, jika kalian masuk penjara dan diadili pun masih memiliki hak untuk didampingi pembela. Akan tetapi, jika “hari itu” tiba, kalian tidak akan mendapatkan seorang pembela pun, tak ada penolong, dan kalian dibiarkan menderita, kesakitan, malu, dan sengsara.

            Apa yang dimaksud Allah swt dengan “hari itu”?

            “Hari itu” adalah hari ketika Allah swt membalas semua perilaku keji kalian.

            Kapan itu terjadi?

            “Hari itu” bisa terjadi sebelum kiamat maupun setelah kiamat. Jika sebelum kiamat, Allah swt bisa menurunkan bencana besar, huru-hara tak terkendali, kematian sadis, kecelakaan lalu lintas, sakit tak terobati dan tak tertahankan, kehilangan harta benda, dan lain sebagainya. Ingat Indonesia dulunya adalah daratan yang satu sangat besar dan megah, Benua Sundaland. Akan tetapi, kini hancur berkeping-keping menjadi 17.000 pulau karena dosa-dosa penduduknya yang melecehkan ayat-ayat Allah swt. Jika “hari itu” terjadi setelah kiamat, berarti itu adalah “pengadilan Illahi” yang tidak ada seorang pun yang mampu berbohong dan mengingkari segala perbuatannya. Tak ada pembela karena para pembela pun sedang sibuk menderita memikirkan nasibnya sendiri dengan penuh kecemasan yang tidak karu-karuan.

            “…. Jangan jual ayat-ayat-Ku….”


            Sampurasun.