Showing posts with label Iman. Show all posts
Showing posts with label Iman. Show all posts

Monday, 8 May 2017

Kaum Muslimin Harus Selalu Bersiap Siaga

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Hidup ini selalu berubah dan terus berputar tanpa berhenti hingga datangnya kiamat. Hidup bagaikan pentil ban mobil yang kadang-kadang harus di atas, turun ke samping, di pinggir, di bawah, naik lagi ke samping, kembali lagi berada di atas, dan terus begitu berulang-ulang dari awal hingga akhir.

            Berkaitan dengan hal itu, Allah swt menginginkan kaum muslimin harus selalu bersiap siaga untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Kaum muslimin yang saat ini berada di atas, dalam posisi makmur dan penuh kemenangan harus bersiap siaga untuk tiba-tiba bangkrut, jatuh miskin, dan menderita. Hal itu disebabkan Allah swt akan menguji setiap muslim tentang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah swt. Bagi Allah swt, kaya dan miskin, tidaklah ada bedanya, semuanya sama. Allah swt akan menilai seorang muslim dari tingkat keimanan dan ketakwaannya.

            Apakah dia tetap beriman dalam keadaan kaya atau dalam keadaan miskin?

            Demikian pula kaum muslimin yang saat ini sedang dalam keadaan lemah, miskin, dan menderita harus bersiap siaga untuk mendapatkan kemakmuran, kemenangan, dan kekayaan. Hal itu disebabkan Allah swt akan mengganti kesulitan-kesulitan kaum muslimin dengan berbagai kemudahan.

            Apakah kaum muslimin tetap akan beriman dan bertakwa jika diberi kekayaan atau justru akan lupa diri dan  melupakan kewajibannya dalam beriman dan bertakwa kepada Allah swt?

            Di samping itu pun, kaum muslimin harus selalu bersiap siaga dalam menghadapi musuh, yaitu syetan dalam bentuk jin maupun manusia serta dalam menghadapi kaum munafik yang selalu menggerogoti kaum muslimin di dalam tubuh kaum muslimin sendiri.

            Kata Allah swt, “Wahai orang-orang yang beriman!

            Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetap bersiap siagalah dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

            Kaum muslimin harus selalu bersiap siaga dengan menggunakan kesabaran dalam menghadapi hidup dengan berbagai kemungkinannya. Kemenangan, kemakmuran, kekayaan, kekalahan, kejatuhan, kemiskinan, dan penderitaan bagi kaum muslim adalah sesungguhnya “ujian dari Allah swt”. Allah swt tidak menilai kekayaan atau kemiskinan kaum muslimin. Kaya atau miskin, menang atau kalah, tidak ada nilai apa pun bagi Allah swt. Hal itu disebabkan bagi Allah swt mudah sekali memberikan kemenangan dan kekayaan bagi seseorang, demikian pula mudah sekali memberikan kekalahan dan kemiskinan bagi seseorang. Jadi, tak ada bedanya kaya, menang, miskin, atau kalah bagi Allah swt. Hal yang dinilai Allah swt adalah keimanan dan ketakwaan seorang muslim kepada-Nya, baik dalam keadaan kaya, menang atau miskin, menderita. Oleh sebab itu, setiap kaum muslim harus selalu bersiap siaga dalam arti mempertahankan dan selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaannya setiap hari agar mendapatkan nilai yang tinggi dari Allah swt.


            Sampurasun.

Dasar Kesetaraan Gender dalam Islam

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Orang baru ramai membicarakan kesetaraan gender mulai abad 20 ini. Kaum perempuan melakukan banyak aksi untuk memperoleh hak yang sama dengan laki-laki. Demikian pula kaum laki-laki yang menghargai kesamaan hak manusia memberikan dukungan pada kesetaraan gender. Laki-laki maupun perempuan harus memiliki hak yang sama.

            Islam sesungguhnya sejak dulu sudah memberikan dasar kesetaraan gender tersebut dengan sangat sempurna. Dalam berbagai bidang kehidupan Islam memandang bahwa kaum perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama, kecuali dalam hal fisik. Islam memang membedakan laki-laki dan perempuan dari fisiknya karena memang berbeda. Perempuan bisa hamil, laki-laki tidak. Perempuan haid, laki-laki tidak. Perempuan menyusui, laki-laki tidak. Hal-hal itulah yang diatur oleh Islam agar perempuan dan laki-laki tetap berada dalam fitrahnya. Akan tetapi, dalam kesempatan mengembangkan karir, mengembangkan potensi diri, mengembangkan kemampuan diri, laki-laki dan perempuan semuanya sama. Kalau istri yang terbiasa di rumah, kemudian ingin berkarir, Islam menyerahkannya kepada kesepakatan di antara suami-istri tersebut. Mereka bisa bersepakat. Kalau tidak bisa bersepakat, ada perceraian yang bisa dilakukan untuk mengatasi ketidaksepakatan tersebut.

            Laki-laki dan perempuan sama saja dalam Islam. Kita sama-sama manusia yang diciptakan sebagai ciptaan yang paling sempurna dibandingkan ciptaan-ciptaan lainnya. Allah swt membeda-bedakan manusia bukan dari jenis kelaminnya, melainkan dari keimanan dan ketakwaannya. Manusia yang memiliki keimanan tinggi dan tingkat ketakwaan yang tinggi adalah manusia yang pasti memiliki nilai kemuliaan yang sangat tinggi di hadapan Allah swt.

            Kata Allah swt, “… Sesungguhnya, Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) sebagian yang lain….” (QS Ali Imran 3 : 195)

            Tak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam pandangan Allah swt, semuanya sama saja. Perbedaan di antara manusia, baik laki-laki maupun perempuan adalah dari tingkat keimanan dan ketakwaan mereka. Tidak ada yang lain.

            Jelas sudah bahwa mereka yang sering mengatakan bahwa Islam melakukan diskriminasi terhadap perempuan adalah salah dan sangat salah. Kalaupun ada di kalangan umat Islam yang membeda-bedakan derajat manusia berdasarkan jenis kelaminnya, itu bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan dari adat-istiadat, budaya, dan kebiasaan hidup mereka. Oleh sebab itu, Islam memberikan pengajaran bagaimana seharusnya setiap manusia memandang dan memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan untuk beraktivitas dalam kehidupan dunia ini agar mendapatkan banyak kebaikan.

            Kebiasaan hidup di lingkungan masyarakat pun sangat berpengaruh. Ada yang memang perempuan justru ingin dibedakan daripada laki-laki karena tugas dan tanggung jawab laki-laki lebih berat. Oleh sebab itu, mereka terbiasa menempatkan perempuan berada di dalam rumah dan laki-laki yang bertebaran mencari rezeki. Akan tetapi, ada pula yang kaum perempuannya ingin memiliki karir dan mengembangkan dirinya untuk beraktivitas yang sama dengan laki-laki. Itu juga tidak pernah dilarang oleh Islam. Persoalan itu diserahkan pada kesepakatan di dalam keluarga mereka masing-masing.

            Islam adalah agama yang sempurna dan menyamakan seluruh kesempatan kepada seluruh manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Hanya iman dan takwalah yang membedakan derajat manusia di hadapan Allah swt.


            Sampurasun.

Wednesday, 26 April 2017

Kita Masih Harus Berkorban

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Indonesia adalah negara yang dilahirkan melalui perjuangan darah, keringat, air mata, nyawa, dan harta benda. Kemerdekaan Indonesia tidak didapat dari pemberian, hadiah, atau didapatkan dengan gratis, tetapi diperoleh dengan harga yang sangat mahal. Jutaan orang telah mati untuk kemerdekaan Indonesia. Ribuan pahlawan telah gugur untuk kemerdekaan Indonesia. Ratusan pendiri bangsa telah menderita dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia. Mereka semua berkorban untuk kemerdekaan. Mereka berhasil. Indonesia telah merdeka.

            Akan tetapi, harus diingat bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari segalanya. Kemerdekaan bukanlah tujuan yang sebenarnya. Sebagaimana yang dikatakan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno, kemerdekaan hanyalah jembatan emas untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, meskipun Indonesia sudah merdeka, Soekarno selalu mengingatkan bahwa revolusi belum selesai, revolusi belumlah selesai. Kemerdekaan sesungguhnya yang diinginkan oleh Soekarno adalah kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Selama seluruh rakyat Indonesia belum sejahtera, kata Soekarno, sejatinya Indonesia belum merdeka.

            Hal itu menunjukkan bahwa pengorbanan masih harus terus dilakukan. Kita semua harus berkorban untuk kesejahteraan bersama. Kita menyangka bahwa setelah merdeka, kita bebas berekspresi untuk mencapai kekayaan masing-masing, bekerja keras untuk hidup masing-masing, dan mengupayakan mendapatkan kedudukan yang kita inginkan sebagai buah dari kemerdekaan. Sesungguhnya, itu teramat salah. Kita telah terbuai dan terlena oleh keadaan yang menipu, kemudian berbangga-bangga dengan apa yang telah kita capai. Sementara itu, masih banyak saudara kita yang masih hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Celakanya, banyak di antara kita yang mempertontonkan keberhasilan kita dalam memperoleh kedudukan dan kekayaan dengan angkuh di depan mata saudara-saudara kita yang masih belum beruntung dan selalu sedih setiap hari. Kemudian, kita menyalahkan mereka sebagai orang yang malas dan tidak kreatif. Padahal, mereka masih berada di dalam tanggung jawab perjuangan kita bersama. Selama kita masih melihat saudara-saudara kita yang hidup dalam penderitaan, Indonesia belumlah merdeka.

            Sungguh, kita masih belum merdeka. Kalau dulu para orangtua kita memiliki musuh secara fisik, yaitu orang-orang yang menghalangi proklamasi kemerdekaan Indonesia, kini kita memiliki musuh yang lebih jahat, yaitu orang-orang yang menghalangi dan menghambat kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Musuh kesejahteraan adalah mereka yang gemar melakukan aksi-aksi perpecahan di antara kita, menimbulkan huru-hara, mengundang pihak asing untuk melakukan keributan, koruptor, penghasut, penipu, orang-orang licik, birokrat yang mempersulit masyarakat, perilaku kapitalistis, orang-orang serakah, dan lain sebagainya.

            Bagaimana mungkin Indonesia dapat mewujudkan sila kelima dari Pancasila yang mewajibkan adanya keadilan dalam berbagai bidang bagi seluruh rakyat Indonesia jika perilaku-perilaku penghambat kesejahteraan itu masih ada?

            Bangsa ini memang sedang berupaya untuk mengatasi itu semua, tetapi menganggap bahwa upaya itu hanya merupakan sebuah “pekerjaan” dan bukan “pengorbanan”. Terdapat perbedaan yang jauh antara pekerjaan dengan pengorbanan. Pekerjaan adalah sesuatu hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan upah dan meminimalisasi kerugian. Adapun pengorbanan adalah upaya maksimal untuk meraih cita-cita meskipun harus menderita kerugian.

            Ada contoh yang menarik disampaikan oleh Soekarno tentang pengorbanan. Ia mengisahkan pengorbanan yang dilakukan oleh dr. Tjipto Mangunkusumo. Tjipto adalah seorang dokter yang memiliki “perusahaan tabib” yang cukup besar dan maju. Akan tetapi, kecintaan Tjipto terhadap rakyat Indonesia membuatnya harus ditangkap dan dibuang oleh penjajah. Akibatnya, perusahaannya hancur dan jatuh miskin secara tiba-tiba. Bukan hanya menjadi miskin, melainkan Tjipto melarat benar-benar. Soekarno memujinya dan menjadikannya contoh bagi seluruh rakyat Indonesia, baik rakyat yang dulu maupun rakyat pada masa sekarang ini. Bagi mereka yang saat ini tidak mau berkorban seperti Tjipto Mangunkusumo, harus ditanyakan apakah dia orang Indonesia atau bukan. Kalau bukan dan tidak mau berkorban, persilakan untuk pergi dari Indonesia dan menjadi warga negara lain. Indonesia masih membutuhkan orang-orang yang rela berkorban untuk bhineka tunggal ika, persaudaraan, persatuan, dan kesejahteraan dengan cara berkorban untuk mau “berbagi” dengan sesama.

            “Tjipto Mangunkusumo telah menunjukkan jalan dalam mengabdi kepada rakyat dan bangsa. Ia menuntun. Ia memberi contoh …. Walaupun menderita kesengsaraan rezeki, walaupun merasakan kemelaratan yang terjadi oleh matinya ia punya perusahaan tabib, walaupun lijdensbeker ada sepenuh-penuhnya, dengan roman muka penuh senyum, ia memikul segenap beban yang ditimbunkan di atas pundaknya oleh pengabdiannya kepada rakyat dan bangsanya.

            Inilah contoh dan pengajaran yang kawan Tjipto Mangunkusumo berikan kepada kita. Pengajaran pengorbanan dan pengajaran kewajiban, der leer van het offer, de leer van den plicht, pengajaran yang menyerapi segenap Bhagavad Ghita, menyerapi segenap nasihat-nasihat Chri Krishna dengan arti bahwa tiada suatu hal yang besar bisa tercapai bila tidak dibeli dengan pengorbanan yang mahal serta menyerapi nasihat-nasihat Chri Krishna itu dengan arti pula bahwa tiap-tiap manusia harus melakukan kewajibannya dengan tidak menghitung-hitung apa yang nanti akan menjadi buahnya, tidak membilang-bilang apa yang nanti akan berikut.

            Di dalam pengabdian kepada Ibu Indonesia, di dalam menjalankan kewajiban-kewajiban patriot, putera-putera Indonesia harus mempersembahkan dengan iman yang besar dan hati yang ridla segala pengorbanan walaupun bagaimanapun juga pahitnya dan walaupun bagaimana juga getirnya. Selama putera-putera Indonesia belum cukup mempunyai kekuatan tersenyum manakala Ibu Indonesia minta kebesaran iman dan keridlaan hati atas pengorbanan yang sepahit-pahitnya dan segetir-getirnya, selama itu, maka mereka pun belum cukup kekuatan menerima hadiah yang diingininya.

            Selama mereka belum kuat memikul susah, selama itu mereka belum kuat memikul senang!

            Di dalam arti inilah pengorbanan kawan Tjipto itu harus kita artikan.

            Apakah pengorbanan ini tidak akan sia-sia?

            Apakah ia akan berfaedah?

            Tiada pengorbanan yang sia-sia, tiada pengorbanan yang tidak berfaedah, tiada pengorbanan yang terbuang.

            ‘No sacrifice is wasted,” begitulah Sir Oliver Lodge berkata.

            Dari pengorbanan-pengorbanan hari sekarang itulah, hari kemudian akan terjadi. Dari pengorbanan-pengorbanan hari sekarang itulah, hari Indonesia baru akan terlahir, lebih besar, dan lebih mulia daripada Indonesia sekarang yang lebih mulia daripada Indonesia dahulu.

            No sacrifice is wasted!

            Oleh karenanya, putera-putera Indonesia, bekerjalah, bekerja, jangan putus asa!”

            Sesungguhnya, masih panjang ajaran Soekarno itu, Saudara. Akan tetapi, beberapa paragraf itu sudah cukup untuk mempermalukan mereka yang tidak mau berkorban untuk bangsa dan negara. Mereka dan kita semua sebenarnya terlalu cepat menganggap diri sudah merdeka, padahal masih banyak yang harus kita lakukan sebagai sebuah bentuk pengorbanan. Kita seolah-olah sudah terlepas dari gangguan atas persatuan, kesatuan, dan kedaulatan Indonesia, padahal masih jauh Saudara. Kita masih rentan perpecahan, masih banyak para oportunis yang hanya menginginkan kekuasaan meskipun menimbulkan kekusutan pikiran dan kekacauan di tengah masyarakat, masih banyak mereka yang serakah dan tidak mau berbagi rezeki, masih banyak yang ingin menguasai sumber-sumber energi Indonesia sendirian, masih banyak saudara-saudara kita yang hanya makan satu kali dalam sehari, masih banyak saudara-saudara kita yang tinggal di gubuk-gubuk derita, masih banyak saudara-saudara kita yang kebingungan apakah besok hari bisa makan atau tidak, masih banyak yang harus berhenti sekolah karena uangnya hanya cukup untuk beli makanan, dan rupa-rupa kondisi lain yang menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia belumlah merdeka benar-benar.

            Indonesia belum sejati merdeka, Saudara. Kita masih harus berkorban untuk “kebersamaan”. Mereka yang tidak mau berkorban, sebaiknya dipersilakan pergi ke negara-negara lain yang sudah benar-benar merdeka agar mereka bisa mendapatkan segala yang mereka inginkan. Kita masih belum merdeka dan masih harus banyak berkorban.


            Sampurasun.

Thursday, 13 April 2017

Tiket Masuk Surga

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Banyak orang yang menganggap dirinya atau kelompok agamanya adalah yang pasti masuk surga, kelompok yang lain tidak dan pasti masuk neraka. Kalaupun harus masuk neraka, mereka yakin hanya sebentar, ujung-ujungnya, pasti masuk surga. Sayangnya, Allah swt membantah mereka yang berpendapat demikian. Mereka hanya berangan-angan tanpa bukti dan hanya menyebar hoax agar orang lain sama pikirannya dengan dirinya.

            Kata Allah swt, “Bukan demikian, yang benar adalah siapa saja berbuat dosa dan dirinya telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah 2 : 81)

            Jadi, seseorang atau sekelompok manusia dijerumuskan ke dalam neraka bukanlah disebabkan ras, negara, atau pengakuan agamanya di hadapan manusia, melainkan karena dirinya telah diliputi oleh banyak dosa sehingga Allah swt menggambarkannya sebagai manusia yang ditenggelamkan oleh dosanya sendiri. Karena dosa dan pengingkarannya kepada Allah swt sangat banyak, mereka tak pernah bisa keluar dari neraka dan terus menderita, sedih, sakit, sengsara, gelisah, cemas, dan penuh kesulitan.

            Untuk menjadi penduduk surga, harus ada tiket yang dimiliki. Tiket itu adalah beberapa hal yang harus dilakukan oleh manusia.

            Begini Allah swt menjelaskan hal tersebut.

            “Adapun orang-orang beriman serta berbuat kebaikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah 2 : 82)

            Jadi, tiket untuk memasuki surga adalah hanya dua hal, yaitu beriman dan berbuat kebaikan.


Beriman
Orang yang beriman artinya “orang yang memiliki keyakinan”.

            Hal apa saja yang harus diyakini atau diimani itu?

            Ada enam hal minimal yang harus diyakini, yaitu yakin terhadap eksistensi dan kekuasaan Allah swt, yakin terhadap adanya malaikat-malaikat Allah swt, yakin terhadap para utusan Allah swt, yakin terhadap kitab-kitab yang dibawa para utusan itu, yakin terhadap terjadinya kiamat, dan yakin terhadap adanya takdir baik dan takdir buruk.

            Keenam hal itu adalah dasar keyakinan atau dasar keimanan. Tanpa meyakini keenam hal itu, seseorang tidaklah bisa disebut orang beriman. Satu hal saja tidak diyakini, seseorang tidaklah beriman. Jadi, jangan mengharapkan surga jika tidak mempercayai keenam hal itu.

            Jika sudah mempercayai keenam hal itu, pintu surga pun mulai terbuka. Akan tetapi, beriman saja tidak cukup, meyakini keenam hal itu saja tidak cukup. Keimanan atau keyakinan itu harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari yang disebut berbuat kebaikan.


Berbuat Kebaikan
Terdapat banyak kebaikan yang bisa kita lakukan. Akan tetapi, jenis kebaikan minimal yang harus dilakukan seseorang untuk mendapatkan surga adalah sebagaimana yang dijelaskan Allah swt sendiri.

            “… Janganlah kamu menyembah selain Allah, berbuat baiklah kepada orangtua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat, serta tunaikanlah zakat….” (QS Al Baqarah 2 : 83)

            Berdasarkan keterangan Allah swt tersebut, untuk dapat menjadi penghuni surga, kita harus hanya menyembah Allah swt. Jangan menyembah hal-hal yang diciptakan Allah swt, semacam, batu, gunung, pohon, malaikat, jin, manusia, atau hal yang lainnya. Termasuk pula, jangan menyembah hal-hal yang ada dalam fantasi manusia seperti adanya tuhan-tuhan lain yang sesungguhnya hanya ada dalam dongeng dan khayalan tanpa bisa dibuktikan eksistensinya.

            Berbuat baiklah kepada orangtua. Kita dilahirkan dari sepasang suami-istri, yaitu ayah-ibu, papa-mama, papah-mamah, umi-abi. Merekalah yang menjadi wakil Allah swt di muka Bumi ini yang mengurus, merawat, dan memelihara sejak lahir sampai tumbuh besar hingga kita mampu bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Oleh sebab itu, muliakanlah mereka, hargai mereka, rawatlah mereka jika sudah renta, jangan sakiti hati mereka, berilah senyuman untuk mereka, dan bahagiakanlah mereka. Jika mereka melakukan kesalahan, segera maafkan mereka, dan berilah pemahaman dengan cara yang agung agar mereka mendapatkan karunia Allah swt yang sangat besar.

            Berbuat baiklah kepada kaum kerabat. Kita memiliki saudara yang jauh dan dekat. Berlakulah baik kepada mereka. Minimal, hade ku basa, ‘berbahasa yang baik, sopan, dan tidak menyakitkan’. Sambungkanlah tali silaturahmi terus-menerus supaya tidak pareum obor, ‘tidak kehilangan cahaya hidup’. Sesungguhnya, bersama merekalah kita bisa saling membantu karena adanya hubungan darah dan garis keturunan yang sama. Itulah ikatan yang tidak bisa terhapus. Ketika mereka membutuhkan pertolongan kita, tolonglah karena mereka akan ingat pertolongan kita sehingga ketika kita kesulitan, mereka pun akan menolong kita.

            Berbuat baik kepada anak-anak yatim. Anak-anak yatim dan yatim piatu telah kehilangan tangan yang mewakili Allah swt di muka Bumi untuk mengurus dan membesarkan mereka. Oleh sebab itu, siapa pun yang sudi mengulurkan tangan untuk mereka dan merawatnya dengan baik hingga dewasa, ia sudah menjadi tangan Allah swt dalam menjaga dan memelihara kehidupan manusia. Tak heran jika Allah swt mengangkat derajat orang yang bersedia menjadi orangtua angkat anak-anak yatim piatu ke derajat yang sangat tinggi asal tidak menjadikan anak-anak yatim itu sebagai budak belian atau bahan bullying.

            Berbuat baik kepada orang-orang miskin. Orang miskin adalah orang yang sedang berada dalam kesulitan, terutama dalam hal ekonomi. Ketika mereka tidak memiliki makanan, jika kita memberinya makanan, kita sudah menjadi media bagi Allah swt untuk mengantarkan rezeki Allah swt kepada mereka dan kita tidak akan pernah jatuh miskin hanya karena mengantarkan rezeki mereka dari Allah swt. Allah swt akan mengganti berlipat-lipat harta kita yang diberikan kepada mereka. Demikian juga ketika mereka kesulitan untuk biaya sekolah, jika kita membuat longgar kehidupan mereka, memudahkan kehidupan mereka, Allah swt akan memudahkan hidup kita dan melancarkan berbagai urusan kita.

            Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. Berbicara dan berucap yang baik harus dilakukan kepada seluruh umat manusia, tanpa kecuali. Ucapan kata yang baik tidak boleh hanya kepada orang yang dekat atau satu agama, melainkan kepada seluruh manusia meskipun berbeda agama, keyakinan, ras, suku, maupun adat istiadat. Berbicara yang baik adalah keharusan untuk disampaikan kepada seluruh manusia. Jangan mengucapkan kata-kata kotor, penuh penghinaan, penuh pelecehan, apalagi berteriak-teriak menghujat, memaki, dan memfitnah penuh hoax.

            Dirikanlah shalat. Sesungguhnya, di dalam shalat terdapat keseluruhan hidup manusia dalam berhubungan dengan Allah swt, sesama manusia, dan alam semesta. Di dalam shalat pun bukan hanya ada kewajiban, tetapi ada hal-hal yang dibutuhkan manusia karena mengandung pernyataan diri sebagai hamba Allah swt, pemujaan kepada Allah swt, permohonan atas segala yang kita butuhkan, permohonan untuk dilepaskan dari segala kesulitan, penghormatan dan penjagaan terhadap alam semesta, serta salam damai untuk seluruh kaum muslimin dan seluruh manusia.

            Minimal lima kali dalam sehari semalam, shalat harus dilakukan. Lebih dari itu, lebih baik.

            Tunaikanlah zakat. Di dalam harta kita ada harta orang lain, ada harta orang miskin. Dengan zakat, kita bisa saling berbagi dengan seluruh manusia. Di samping itu, dengan zakat, kita membersihkan harta kita yang bisa saja ada harta yang sebetulnya kita ambil dengan cara tidak suci tanpa kita sadari. Akan tetapi, zakat tidak bisa digunakan untuk membersihkan harta dari tindakan korupsi. Perilaku korup adalah perilaku maling yang dilakukan dengan sadar. Zakat bukanlah salah satu cara dari money laundry, bukan cara mencuci uang dari haram menjadi halal. Zakat hanya bisa menyucikan harta dan diri kita dari harta haram yang terambil tanpa kita sadari.

            Dengan zakat yang baik dan teratur, kita sudah menghalangi perilaku pelit dari dalam diri kita. Dengan demikian, kita akan mudah berbagi dan berhubungan dengan sesama manusia serta dengan alam semesta, terutama dengan Allah swt.

            Itulah hal-hal minimal yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan tiket surga. Semoga Allah swt melancarkan keinginan kita untuk mendapatkan tiket itu.

            Amin.

            Sampurasun.

Sunday, 2 April 2017

Arsitektur "Gunungan" Keyakinan Ketuhanan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sebuah atau sejumlah bangunan didirikan biasanya disesuaikan dengan rasa manusia yang mendirikannya atau pemiliknya. Di dalam proses pembangunan itu terlibat rasa keindahan, kepatutan, kemegahan, keyakinan, kekuatan, serta kesesuaian dengan kesediaan lahan dan kondisi alam. Di seluruh dunia, baik kaya maupun miskin, hal-hal itu selalu ada dalam setiap proses membangun sebuah bangunan, baik bangunan pribadi maupun bangunan publik.

            Di Indonesia ini bangunan-bangunan megah peninggalan masa lalu, baik yang sudah muncul ke permukaan di hadapan publik maupun yang masih terpendam dalam tanah akibat bencana dahsyat masa lalu memiliki kesamaan keyakinan, yaitu keyakinan terhadap adanya Zat Tertinggi yang kita kenal dalam bahasa Indonesia dengan sebutan “Tuhan Yang Menguasai Seluruh Kehidupan”. Kekuasaan zat tertinggi ini hanya berada pada Satu Zat, tidak dua, tiga, atau lebih. Nenek moyang Indonesia hanya yakin bahwa semua kekuasaan berujung pada kekuasaan tunggal. Apa pun nama agamanya, leluhur Indonesia keyakinannya hanya satu, yaitu Pencipta Mahatunggal dan Penguasa Mahatunggal. Hal ini menunjukkan bahwa Allah swt telah menurunkan banyak sekali nabi di Indonesia dengan bahasa kaumnya masing-masing dan berasal dari kaumnya masing-masing.

            “Tiap-tiap umat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.” (QS Yunus 10 : 47)

            “Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ibrahim 14 : 4)

            “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS Al Anbiya 21 : 25)

            Keyakinan adanya Zat Tertinggi Maha Tunggal yang berasal dari para nabi itu diwujudkan dalam berbagai seni “arsitektur gunungan”. Baik rumah pribadi, bangunan publik, maupun tempat ibadat, selalu mengambil arsitektur gunungan. Bentuk arsitektur semacam ini mengungkap rasa keyakinan keagamaan yang sangat kuat dan berkembang saat itu.

            Arsitektur gunungan menandakan adanya tahapan-tahapan keyakinan manusia dalam menempuh hidup dalam mencapai kesempurnaan. Di samping itu, menyimbolkan perjuangan manusia untuk mencapai keridhoan Tuhan. Perjuangan mencapai derajat kesalehan menemui Tuhan harus dimulai dari bawah. Hal itu pun menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat gunungan, semakin kecil atau semakin sedikit jumlah manusia yang mampu terus meningkatkan kualitas dirinya.

            Dr. Abay D. Subarna menuturkan arsitektur gunungan dalam artikelnya yang berjudul Tinjauan Estetika Atas Sejumlah Temuan Karya Seni Rupa dan Arsitektur di Tanah Pasundan (1991). Menurutnya, bentuk-bentuk arsitektur yang serupa di Jawa Barat terjadi pula di tempat lain dan senantiasa berkesinambungan dari masa ke masa. Ia mencontohkan berbagai arsitektur masa lalu hingga masa kini, di antaranya, Candi Cangkuang, Gua Sunyaragi, Masjid Banten, dan Lukisan Sadali. Jika diperhatikan, semuanya memiliki arsitektur gunungan. Jangan dilupakan pula bahwa Candi Borobudur juga berarsitektur gunungan.

CANDI CANGKUANG. Sumber Foto: www.nasionalisme.co

MASJID BANTEN. Sumber Foto: www.raddien.com

GUA SUNYARAGI. Sumber Foto: wisatadanbudaya.blogspot.co.id

LUKISAN SADALI: Sumber Foto: harian.analisadaily.com

CANDI BOROBUDUR. Sumber Foto: id.wikipedia.org 

            Bentuk gunungan yang memiliki beberapa tahapan itu selalu minimal tiga tahap, sebagian lebih dari tiga tahap. Ketiga tahap itu kerap dinyatakan sebagai simbol dari  iman, Islam, ihsan. Iman merupakan keyakinan yang berasal dari pengetahuan yang diterima. Islam merupakan keimanan yang diwujudkan dalam kepatuhan untuk mencapai kesempurnaan. Ihsan merupakan kesadaran tertinggi bahwa dirinya dan Allah swt tidak bisa dipisahkan. Allah swt sangat dirasakan teramat dekat dan berada bersama dirinya sehingga tindak-tanduknya mewujudkan sifat-sifat Allah swt di muka Bumi.

            Arsitektur gunungan adalah arsitektur khas Nusantara yang berasal dari keyakinan adanya Zat Tertinggi Satu-satunya, Tunggal, dan tak ada yang mampu menyaingi-Nya. Itu adalah ilmu tauhid.


            Sampurasun.