Showing posts with label Sedekah. Show all posts
Showing posts with label Sedekah. Show all posts

Monday, 15 November 2021

Kotak Amal Merusakkan Kotak Amal

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Densus 88 antiteror telah menyita 400 hingga 1.000 kotak amal yang beredar di mini-mini market, toko-toko, apotik, dan berbagai tempat lainnya karena ternyata kotak-kotak amal itu telah digunakan untuk membiayai gerakan terorisme di Indonesia. Para pengurus kotak amal itu sebagian telah ditangkap. Dari 400 s.d. 1.000 kotak amal itu ternyata dapat menghasilkan 70 hingga 100 juta rupiah per bulan. Celakanya, kotak amal para teroris itu diperkirakan berjumlah 20.000 yang tersebar di seluruh Indonesia. Artinya, pendanaan terorisme sangat luar biasa membahayakan di Indonesia. Mereka tertawa dan menari di atas kerusakan, derita, dan darah manusia.

            Para teroris itu menggunakan kebaikan dan kedermawanan rakyat Indonesia yang mudah menolong dan bersedekah. Memang Indonesia itu pada 2018 dan 2021 adalah negara paling dermawan, No. 1, sedunia. Hal itu disampaikan oleh “Charities Aid Foundation (CAF)” dengan menggunakan standar “World Giving Index (WGI)”.  Amerika Serikat saja berada   pada peringkat ke-19, Inggris ke-26, dan Singapura ke-22. Luar biasanya, pada 2021 Indonesia mengalami peningkatan hebat dalam hal berzakat dan bersedekah. Hal itu terjadi karena didorong oleh Pandemi Covid-19. Orang-orang baik tergerak hatinya untuk membantu sesama. Berbeda dengan orang-orang yang busuk hatinya, bukannya membantu, melainkan terus bikin fitnah, kebohongan, caci maki, dan membodohi rakyat, teriak-teriak nggak karuan.

            Lebih parah lagi, mereka yang kotor hati dan perilakunya justru memanfaatkan kebaikan hati orang-orang shaleh dengan cara menebarkan puluhan ribu kotak amal dan menyalahgunakan uang orang-orang baik itu untuk kegiatan terorisme. Mereka menuliskan di kotak amalnya berupa penipuan, seperti, membangun masjid, menolong anak-anak yatim piatu, membantu fakir miskin, dan penipuan lainnya.

            Kotak amal-kotak amal para teoris ini membuat kotak-kotak amal lain yang benar-benar tulus niatnya untuk mengajak ibadat dengan berbuat baik menjadi ikut tercoreng dan kemungkinan akan membuat para penyumbang menjadi enggan menyumbang dan bersedekah lagi melalui kotak amal. Inilah kerusakan yang ditimbulkan para teroris itu, kotak amal yang tulus menjadi terkotori oleh kotak amal teroris. Hal ini disebabkan semakin banyak orang yang mengingatkan untuk tidak lagi bersedekah melalui kotak amal. Saya juga menyarankan seperti itu. Saya sarankan kalau ingin bersedekah atau menyumbang, sebaiknya disalurkan melalui orang-orang atau lembaga yang sudah sangat dikenal dengan baik, paham dengan niatnya, tahu pula uang kita digunakan untuk apa. Jangan menyumbang melalui kotak amal atau lembaga atau orang yang tidak kita kenal. Berbahaya. Bisa juga kita menyalurkan uang secara langsung kepada orang yang memang benar-benar sangat membutuhkan. Lebih baik menyumbang dan bersedekah kepada orang-orang yang kita kenal daripada ke kotak amal yang kita sendiri tidak tahu siapa pengelolanya dan untuk apa sebenarnya uang yang terkumpul itu.

            Semoga Densus 88 berhasil memberantas terorisme, tetaplah menjadi dermawan, jangan berhenti bersedekah, kukuhkan Indonesia agar tetap menjadi negara No. 1 paling dermawan sedunia hingga kiamat tiba. Semoga Allah swt membalas segala kebaikan dan kedermawanan kita dengan  berlipat-lipat ganda. Aamiin.

            Sampurasun.

Thursday, 4 May 2017

Tak Ada Kebahagiaan Tanpa Berbagi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Betapa sering kita berharap hidup kita penuh dengan kebaikan, kesenangan, dan kebahagiaan. Sesungguhnya, kebahagiaan itu tidak akan pernah datang jika kita tidak pernah berbagi dengan sesama.

            Untuk mendapatkan kebahagiaan, upayakanlah terbiasa berbagi dengan sesama manusia, terutama dengan orang-orang yang lebih sulit hidupnya dibandingkan kita. Hidup kita mungkin sedang sulit, tetapi ada orang lain yang lebih sulit dibandingkan kita. Berbagilah dengan mereka. Berbagilah uang, rezeki, perhiasan, pakaian, dan harta-harta lain yang kita cintai dengan orang yang sedang dalam kesusahan. Di situlah letaknya kunci kebahagiaan.

            Pikiran kapitalistis dan komunistis tidak akan mencapai kebahagiaan ini. Kapitalis dan komunis menganggap materi dan uang adalah sumber kebahagiaan, tetapi sebenarnya jika tidak berbagi dengan orang lain, uang dan materi itu akan menjadi sumber masalah dan hanya sampai pada kebahagiaan semu dan palsu. Percuma memiliki banyak harta benda, tetapi batin dan keseluruhan hidup kita dalam kekusutan dan kegelisahan.

            Kekusutan dan kegelisahan itu hanya bisa hilang oleh kebiasaan berbagi rezeki dengan orang lain, terutama yang lebih sulit hidupnya dibandingkan kita.

            Kata Allah swt, “Kamu tidak akan memperoleh kebaikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS Ali Imran 3 : 92)

            Kebaikan dan kebahagiaan itu akan datang setelah kita berbagi dengan orang lain. Kebaikan dan kebahagiaan tidak akan datang jika kita tidak pernah berbagi atau bersifat pelit, kikir.

            Tidak perlu takut untuk bersedekah karena Allah swt akan menggantinya banyak sekali, tujuh ratus kali lipat. Lakukan tanpa diketahui orang lain sehingga kebaikan kita tidak dikotori oleh rasa pamer diri, angkuh, dan sombong. Perasaan pamer, angkuh, dan sombong akan menghapuskan kebaikan dan kebahagiaan yang seharusnya kita terima. Di samping itu, Allah swt melihatnya bukan sebuah kebaikan. Akibatnya, perbuatan baik kita tidak bernilai apa pun. Jika akal kalian tidak dapat memahami hal ini, lakukan saja bersedekah dan berbagi dengan orang lain, terutama dengan orang yang lebih menderita dibandingkan kita, lalu lihat hasilnya. Kalian akan mengerti sendiri.


            Sampurasun.

Monday, 1 May 2017

Menghilangkan Rasa Takut dan Kesedihan

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Manusia hampir setiap hari dilanda rasa takut dan kesedihan. Perasaan takut dan sedih ini disebabkan berbagai alasan. Ada yang takut miskin, takut ditangkap, takut dibuli, takut hantu, takut diperkosa, takut dianiaya, takut dirampok, dan berbagai ketakutan lainnya. Demikian pula dengan kesedihan. Ada yang sedih karena kehilangan barang, kehilangan manusia, kehilangan kedudukan, kehilangan kesempatan, kehilangan karir, dan berbagai kehilangan lainnya.

            Perasan takut dan sedih ini selalu menemani hidup manusia. Oleh sebab itu, perasaan-perasaan ini kerap mengganggu jalan hidup manusia. Manusia menjadi tidak tenang, mudah gelisah, stress, bingung, dan lain sebagainya.

            Sesungguhnya, ada cara ampuh untuk menghilangkan berbagai rasa takut dan kesedihan itu. Allah swt dengan kasih sayang-Nya memberikan petunjuk bagi manusia untuk tidak mudah takut dan tidak sedih. Satu-satunya cara untuk menghilangkan perasaan takut dan sedih itu adalah akrab dengan Allah swt.

            Bagaimana caranya untuk akrab dengan Allah swt?

            Biasakan untuk hidup berbagi uang, rezeki, kebahagiaan dengan orang-orang miskin, orang-orang lemah, orang-orang yang sedang kesulitan, orang-orang yang sedang kecewa, orang-orang yang patah hati karena kehidupan dunia.

            Belum pernahkah kita mendengar kata-kata Allah swt, “Carilah Aku di antara orang-orang yang patah hati.”?

            Allah swt ada bersama orang-orang yang teraniaya dan kecewa. Allah swt bersama orang-orang yang sedang menderita.

            Dekati orang-orang itu, insyaallah, kita akan menemukan Allah swt. Dekati orang-orang yang sedang berada dalam kesulitan, bersedekahlah kepada mereka. Berbagi kebahagiaanlah bersama mereka. Niscaya, Allah swt mengganti apa yang kita berikan kepada mereka sebesar tujuh ratus kali lipat.

            Dengan mendekati orang-orang miskin dan lemah, kemudian berbagi uang, rezeki, dan kesenangan, Allah swt akan menghilangkan rasa takut dan kesedihan dalam diri kita.

            Kata Allah swt, “Dan orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS Al Baqarah 2 : 274)

            Orang-orang yang gemar mengeluarkan harta untuk menolong orang lain dengan cara yang benar dan niat hanya untuk mendapatkan cinta Allah swt, tidak akan merasa takut dan merasa sedih. Hal itu disebabkan mereka sudah menjadi wakil Allah swt di muka Bumi dalam menebarkan cinta, kasih sayang, perdamaian, dan rezeki kepada manusia.
  
          Apa yang perlu ditakutkan jika mereka sudah dekat dengan Allah swt yang Mahakuat, Mahakaya, Mahaperkasa?

            Mereka tidak takut miskin karena sudah merasakan benar bagaimana Allah swt mengganti harta-harta yang mereka keluarkan untuk menolong sesama manusia.

            Mereka tidak pernah takut dan ragu untuk mengorbankan dirinya karena mereka bersama Allah swt dan selalu diganti oleh Allah swt dengan harta yang lebih banyak, lebih berlimpah, dan lebih berkah.

            Apa yang perlu disedihkan jika sudah berada dekat dengan Allah swt?

            Kehilangan apa pun selalu Allah swt ganti dengan hal yang lebih baik. Mereka sudah merasakan benar hal itu. Jadi, mereka tidak pernah bersedih hati terhadap hal apa pun.

            Mereka senantiasa berada dalam keadaan stabil dan tenang menjalani hidup karena merasakan benar bagaimana Allah swt melindungi mereka dan menjamin mereka.

            Terkadang mereka bersedekah menolong orang lain dengan cara terang-terangan jika hatinya sedang kuat untuk tidak berlaku sombong. Terkadang pula mereka menyembunyikan diri karena takut kebaikannya rusak oleh keinginan hatinya untuk pamer di hadapan manusia. Melakukan kebaikan dengan cara terang-terangan adalah sangat baik, tetapi jauh lebih baik dengan cara sembunyi-sembunyi karena akan lebih menjamin bahwa kebaikan itu tetap baik dan tidak rusak oleh rasa angkuh diri.

            Kata Allah swt, “Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Baqarah 2 : 271)

            Mereka benar-benar yakin kepada Allah swt dan “penggantian” dari Allah swt atas harta-harta yang mereka keluarkan untuk kebaikan sesama manusia. Hal itu memang ditegaskan sendiri oleh Allah swt.

            “ … Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).” (QS Al Baqarah 2 : 272)

            Allah swt tidak pernah merugikan mereka sedikit pun, bahkan memberikan mereka banyak kemudahan dan pahala. Mereka yakin karena telah merasakan benar kehadiran Allah swt dalam kehidupan mereka sehari-hari.

            Jika kita ingin menghilangkan rasa takut dan kesedihan yang kerap mengganggu hidup kita sehari-hari, berbagilah dengan sesama. Bantulah orang-orang miskin, anak-anak terlantar, orang-orang yang sedang kesulitan, dan mereka yang tidak beruntung. Jika kita melakukannya dengan konsisten, Allah swt akan menghilangkan berbagai rasa takut dan kesedihan kita, kemudian melindungi kita dari berbagi sisi serta memberikan kemudahan-kemudahan dalam hidup kita. Lebih jauh lagi, Allah swt akan menjadikan kita sebagai wakil-Nya di muka Bumi untuk menebarkan rezeki, cinta, kasih sayang, perdamaian, dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Insyaallah.


            Sampurasun.

Jangan Takut untuk Berbagi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Jangan takut untuk bersedekah, berinfak, dan mengeluarkan harta untuk kebaikan manusia. Kita tidak akan pernah bangkrut disebabkan banyak melakukan kebaikan. Tidak pernah ada di dalam catatan sejarah bahwa manusia yang dermawan jatuh miskin menjadi sengsara karena dia banyak melakukan kebaikan. Justru orang-orang pelit yang terlalu banyak berhitung untung-rugi kerap mengalami kebangkrutan dan kegelisahan hidup. Hal itu disebabkan mereka takut untuk berbagi, takut miskin, dan takut kehilangan harta.

            Sesungguhnya, ketakutan-ketakutan itu berasal dari syetan, dari Iblis. Syetan berharap manusia sedih, susah, gelisah, pelit, selalu was-was, banyak khawatir, dan tidak tenang dalam hidupnya. Syetan dan Iblis meniup-niupkan hoax bahwa berbagi uang, rezeki, dan berbagi kesenangan dengan sesama manusia adalah kerugian dan akan membuat kita menjadi miskin atau kehilangan uang dan harta benda. Itu adalah hoax dari syetan.

            Allah swt tidak seperti itu. Allah swt justru mendorong manusia untuk hidup berbahagia, harmonis, makmur, tenang, dan penuh berkah. Allah swt mendorong manusia untuk berbagi, saling menghormati, saling menghargai, saling menjaga, dan saling memiliki. Berbagi rezeki, berbagi uang, dan berbagi kebahagiaan adalah untuk mencapai maksud agar manusia hidup dalam kebahagiaan.

            Kata Allah swt, “Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah 2 : 268)

            Syetan membisiki manusia untuk tidak saling berbagi dan menghembuskan isu bahwa jika kita berbagi, kita akan kehilangan uang dan harta. Dengan demikian, jika kita tergoda, kita akan menjadi kikir, pelit, dan tidak mau berbagi. Itu adalah perbuatan keji.

            Adapun Allah swt memberikan janji akan mengganti uang atau harta yang kita berikan kepada orang-orang miskin dan lemah sebanyak tujuh ratus kali lipat. Tidak tanggung-tanggung diganti oleh Allah swt, tujuh ratus kali lipat. Di samping itu, harta penggantian itu adalah harta yang bersih, bebas dari kekotoran sehingga kita hanya akan memakan dan menggunakan uang halal dan bukan uang haram hasil kecurangan, kelicikan, dan korupsi.

            Pilih mana, ikut syetan agar kita menjadi pelit dan hidup penuh kesulitan, kegelisahan atau ikut Allah swt agar kita mendapatkan banyak harta, hidup penuh karunia dengan harta yang berkah?

            Orang yang sehat jiwa dan otaknya pasti akan memilih Allah swt.

            Sampurasun.

Mewujudkan Kelanggengan Kemakmuran

 oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Beberapa tulisan yang lalu sebelum tulisan ini, saya menguraikan hal-hal yang harus dilakukan agar kita mendapatkan kemakmuran yang langgeng sesuai dengan yang diajarkan Allah swt. Cara terbaik dan sesuai itu adalah membiasakan untuk hidup “berbagi” dengan orang-orang miskin, lemah, kurang beruntung, dan mereka yang sedang berjuang di jalan Allah swt. Akan tetapi, itu saja tidak cukup. Ada hal yang harus dilakukan “hati kita” agar kebiasaan berbagi yang kita lakukan benar-benar bisa membuat kita makmur dan hidup langgeng dalam kemakmuran itu.

            Apabila sudah mulai terbiasa berbagi, bersedekah, berinfak, dan mengeluarkan harta untuk kebaikan, berapa pun besarnya, kita harus menjaga hati kita agar kebiasaan baik itu memiliki nilai di hadapan Allah swt. Dengan demikian, kemakmuran yang langgeng itu dapat terwujud dalam hidup kita. Kita harus menjaga hati kita agar tidak sombong, tidak pamer, tidak menceriterakan perilaku baik kita kepada orang lain. Hal itu disebabkan perilaku memamerkan kebaikan yang kita lakukan akan membuat kebaikan kita tidak bernilai apa pun di hadapan Allah swt. Perilaku memamerkan kebaikan kita itu akan mendorong kita untuk “ingin dipuji dan dipuja”, ingin dihormati orang lain, ingin dianggap sebagai pahlawan, ingin dihargai orang lain. Hal itu berarti kita mengharapkan pujian dan mengharapkan balasan dari manusia serta bukan balasan dari Allah swt. Sungguh, Allah swt akan membiarkan kita tetap dalam keadaan tidak punya jalan, tidak memiliki arah karena kita berbuat baik hanya untuk mendapatkan rasa simpatik manusia, bukan mendapatkan cinta dari Allah swt. Hal itu akan menyebabkan Allah swt tidak akan memberikan balasan yang baik dan membiarkan manusia hanya mendapatkan balasan dari manusia, tetapi tidak dari Allah swt.

            Sebaiknya, jika kita menolong orang lain, berbagi dengan orang-orang miskin, membantu orang-orang lemah, lakukanlah sembunyi-sembunyi, tidak perlu diketahui orang lain. Biarkan hanya kita, orang yang ditolong, dan Allah swt yang mengetahuinya. Lebih baik lagi jika orang yang ditolong tidak mengetahui bahwa kitalah yang menolong dirinya, misalnya, ketika kita memberikan uang atau melunasi pinjaman hutang orang lain, katakan saja itu bukan dari kita, melainkan dari uang milik seorang dermawan yang menitipkan uang kepada kita. Dengan demikian, hanya kita dan Allah swt yang tahu, orang lain tidak pernah tahu. Itu sangat baik.

            Jika kita merasa diri sebagai orang biasa-biasa saja, lakukanlah sedekah, infak, dan kebaikan dengan cara sembunyi-sembunyi agar hati kita tidak dihinggapi penyakit pamer, sombong, angkuh, dan lain sebagainya. Akan tetapi, jika kita merasa diri kita sudah terlatih untuk tidak sombong dan tidak gemar pamer, lakukanlah di depan orang lain karena akan mendorong orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama dengan kebaikan yang kita lakukan.

            Perilaku membicarakan kebaikan kita kepada orang lain pun dapat menyebabkan orang miskin yang kita tolong sakit hati. Meskipun kita tidak bermaksud menyakiti hatinya, tetapi itu menimbulkan rasa sakit hati dan rendah diri pada diri orang-orang yang sedang dalam kesulitan. Apalagi jika kita memang berniat menyakiti orang-orang yang sedang kesusahan itu dengan cara membicarakan berulang-ulang kebaikan kita kepadanya di hadapan banyak orang. Itu sama sekali perbuatan yang sia-sia. Tak ada nilainya sama sekali di hadapan Allah swt.

            Kata Allah swt, “Hai orang-orang yang beriman!

            Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena pamer kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah swt dan Hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu licin itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu licin itu lagi. Mereka tidak memperoleh suatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS Al Baqarah 2 : 264)

            Perhatikan kalimat Allah swt di atas.

            Hai orang-orang yang beriman!

            Orang yang tidak beriman tidak “Hai’ karena hanya orang beriman yang kebaikannya hanya untuk pengabdian kepada Allah swt dan bukan untuk diagungkan manusia.

            Kebaikan kita bersedekah, berinfak, dan mengeluarkan harta untuk kebaikan diibaratkan debu di atas batu licin. Jika kita selalu membicarakan kebaikan kita dengan maksud menyakiti orang lain dan ingin dipuji manusia, debu itu diumpamakan ditimpa hujan lebat dan batu licin itu kembali licin tanpa debu. Artinya, segala perbuatan baik kita sia-sia karena disapu oleh hujan yang berupa “perasaan ingin dipuji”, perasaan ingin dihormati, perilaku ingin diagungkan dan dianggap lebih tinggi dibandingkan orang lain. Sayang sekali jika perbuatan baik kita hancur disebabkan perilaku kita sendiri.

            Upayakan sembunyi-sembunyi jika bersedekah, berinfak, dan menolong orang lain. Tak perlu orang lain tahu. Biarkan hanya kita dan Allah swt yang tahu. Dengan demikian, Allah swt sangat mencintai kita karena kita berbuat baik adalah untuk mengharapkan diri-Nya dan bukan makhluk-Nya. Jika Allah swt mencintai kita, kemakmuran yang langgeng pun menjadi milik kita selama kita beriman dan terus bersedekah untuk mengharapkan cinta Allah swt. Insyaallah.


            Sampurasun.

Jangan Tunggu Masa Kaya untuk Berbagi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Janganlah menunggu hidup kita berada dalam kemudahan untuk memulai berbagi. Jangan menanti kita menjadi orang kaya terlebih dahulu untuk bersedekah, berinfak, dan menolong orang lain. Hal itu disebabkan bisa jadi Allah swt menguji kita dalam keadaan kita tidak kaya untuk tetap berbagi. Bisa pula kita tidak akan mendapatkan banyak kemudahan, kecuali dimulai dari sikap berbagi.

            Banyak sekali orang pintar dan pekerja keras, tetapi penghasilannya sangat kecil. Itu artinya otot dan otak bukanlah jaminan untuk mendapatkan penghasilan yang besar. Otak dan otot memang harus digunakan untuk bekerja keras dalam rangka mensyukuri nikmat Allah swt yang telah memberikan kita alat untuk bekerja, tetapi tidak ada yang menjamin bahwa jika bekerja sangat keras akan menghasilkan sesuatu yang besar. Kenyataan sudah menunjukkan hal itu. Betapa banyak pekerja keras yang tidak bisa mencapai hasil yang diinginkannya. Betapa banyak orang-orang cerdas, brilian, dan jenius, tetapi hidupnya pas-pasan.

            Berbeda dengan sedekah, infak, dan mengeluarkan harta di jalan Allah swt. Semakin banyak harta kita yang kita keluarkan, semakin banyak pula hasilnya. Itu yang dijanjikan Allah swt. Ini bukanlah pepatah atau peribahasa. Ini adalah janji. Akan tetapi, bukan janji manusia ataupun janji malaikat. Ini adalah janji Allah swt yang memiliki segalanya, baik di langit, di Bumi, maupun yang ada di antara langit dan Bumi. Segala yang kita butuhkan dalam hidup kita adalah teramat kecil bagi Allah swt. Berapa pun yang kita butuhkan, sangatlah kecil dan mudah bagi Allah swt. Allah swt mudah saja jika ingin memberikan kita banyak harta benda.

            Untuk mendapatkan harta benda itu di samping bekerja keras, tentunya harus melapangkan hati untuk mau saling berbagi.

            Kata Allah swt, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah swt seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah swt melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah 2 : 261)

            Kalau dihitung secara matematis, adalah 1 X 7 X 100 = 700. Artinya, Allah swt mengganti harta yang kita keluarkan untuk kebaikan dalam keimanan adalah tujuh ratus kali lipat.

            Mulailah dari sekarang untuk bersedekah, berinfak, mengeluarkan harta di jalan Allah swt. Jangan anggap diri kita miskin atau berada dalam kekurangan karena masih banyak orang lain yang jauh lebih miskin dibandingkan kita. Jangan anggap uang yang ada di saku kita adalah sedikit karena masih banyak orang yang sama sekali tidak punya uang di sakunya.

            Kalau kita punya uang Rp10.000,-, kita bisa bersedekah Rp1.000,-. Tenang saja karena sebagaimana kata Nabi Muhammad saw bahwa sedekah itu tidak mengurangi harta. Kalau menurut hitungan kapitalis dan komunis, uang kita akan menjadi Rp9.000,-, tetapi tidak menurut Islam. Bahkan, uang itu bisa bertambah banyak.

            Jika kita hitung berdasarkan janji Allah, hasilnya adalah 1.000 X 7 X 100 = Rp700.000,-. Apabila Allah swt berkehendak, Rp700.000,- itu akan diberikan semuanya, bisa dicicil sesuai dengan kebutuhan kita, atau dibagi-bagi, misalnya, kita diberi kesehatan yang bisa dihitung Rp100.000,-, kita diberi perlindungan keamanan yang nilainya Rp100.000,-, kita diberi banyak teman yang mungkin nilainya Rp200.000,-. Jadi, kita akan dapat uang kas Rp300.000,-. Uang sisa itu jika diinfakkan lagi sebagian, akan menambah lagi harta kita sebagaimana hitungan tadi. Ketika Allah swt menggantinya, kita infakkan lagi sebagian. Begitu seterusnya hingga harta kita bertambah dan terus bertambah seiring dengan perilaku kita yang bertambah baik, bertambah mulia, bertambah iman, bertambah saleh, dan bertambah dekat kepada Allah swt.

            Jangan menunggu kita hidup dalam masa kaya karena kita tidak tahu kapan kita kaya dan tidak pernah tahu kapan kita mati. Selama kita masih bernafas, selama nyawa masih ada dalam raga, bersedekahlah, berapa pun itu. Kalau dianggap kecil, masukkan saja ke kencleng masjid karena kencleng tidak pernah protes diberi berapa pun. Lebih besar, lebih baik.

            Jangan takut bersedekah walaupun kita miskin karena meskipun miskin, kita masih bisa bersedekah dengan uang yang paling kecil. Jika kita kaya, jangan takut untuk bersedekah karena tidak akan bangkrut disebabkan sedekah.  Malahan, yang harus lebih kita takutkan adalah kita dibangkrutkan oleh Allah swt karena tidak pernah bersedekah.

            Upayakan bersedekah setiap hari, mulai dari orang-orang terdekat, saudara atau tetangga yang memang sedang memerlukan. Kalau malu karena sedekah kita masih sangat kecil, masukkan ke kencleng-kencleng. Hal itu akan melatih jiwa kita untuk tidak pelit dan memperteguh keimanan kita.

            Kata Allah swt, “Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Baqarah 2 : 265)

            Mulailah saat ini juga berbagi dengan sesama dan untuk hal-hal baik di jalan Allah swt. Mulailah dari hal yang paling sangat kecil. Jika perlu, cari mereka yang sedang berada di dalam kesulitan hidup, berbagilah dengan mereka. Insyaallah, Allah swt akan mengganti harta kita tujuh ratus kali lipat sebagaimana yang dijanjikan-Nya. Insyaallah.


            Sampurasun.