Showing posts with label Pelit. Show all posts
Showing posts with label Pelit. Show all posts

Monday, 6 April 2020

Salah Arti Salah Tindak

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Banyak hal atau kata yang salah diartikan yang kemudian mengakibatkan kita salah bertindak. Banyak orang yang tidak bisa membedakan atau pura-pura tidak tahu perbedaan antara “hemat” dengan “pelit”; “progresif”/”maju cepat” dengan “panik” dan “grasa-grusu”; “lambat” dengan “terprogram”/”gradual”; “revolusi” dengan “reformasi”; “hoax” dengan “ilmu”; “kritikan” dengan “fitnah” dan “cacian”.

            Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi jika situasi sosial sedang menghadapi situasi khusus seperti perebutan politik dan sekarang ini menghadapi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), banyak kesalahan pemahaman terhadap suatu kata sehingga menimbulkan kesalahan dalam bertindak. Mari kita bedakan satu per satu arti kata-kata tadi secara umum dan biasa-biasa saja, tidak perlu rumit-rumit. Jika ada pendapat yang berbeda, koreksi saya. Saya akan sangat berterima kasih.

            “Hemat” itu berarti menggunakan aset/harta secara bijak sesuai dengan keperluan, sedangkan “pelit” berarti enggan mengeluarkan harta meskipun untuk hal yang benar-benar diperlukan. Orang pelit lebih suka menumpuk-numpuk harta, baik besar maupun kecil dan tidak mau mengeluarkannya, bahkan rela menderita asal uangnya tidak keluar. Kalaupun uangnya keluar, dia akan merasa sangat terpaksa dengan hati yang sedih.

            “Progresif” atau maju cepat itu memiliki nilai positif. Sikap ini adalah berpandangan ke depan dengan mempersiapkan segala sesuatunya secara cermat, lalu melangkah dengan cepat dan tidak menunda-nundanya serta konsisten. Adapun "panik" adalah tindakan grasa-grusu yang diakibatkan ketakutan-ketakutan yang biasanya tidak berdasarkan kenyataan. Tindakannya kerap tidak beraturan karena tidak disertai data, informasi yang jelas, program yang tepat sasaran, dan hasilnya sulit diukur, terkadang boros materi dan boros energi. Hal yang lebih parah adalah paranoid yang selalu ketakutan dirinya terancam oleh berbagai hal. Kalau sudah paranoid, itu sudah tidak sehat mentalnya dan harus disembuhkan di rumah sakit jiwa (RSJ).

            “Lambat” itu artinya melakukan sesuatu dalam waktu lama tidak sesuai dengan jadwal atau ukuran yang diharapkan dan telah direncanakan. Tindakan ini mengakibatkan gangguan pada pekerjaan-pekerjaan lainnya. Adapun “terprogram” berarti melaksanakan pekerjaan atau tindakan sesuai dengan jadwal atau gradual dengan maksud seluruh tugas dapat mencapai hasil yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber daya yang ada.

            “Revolusi” adalah perubahan cepat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dengan mengorbankan berbagai hal yang diperlukan. Tak peduli dengan pengorbanan yang dikeluarkan asal tujuannya dapat terlaksana dengan cepat. “Reformasi” adalah penataan ulang struktur, kebijakan, program, atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Reformasi adalah tindakan yang dilakukan secara gradual, bertahap, dan terjadwal dengan meminimalisasi pengorbanan.

            “Hoax” atau hoaks adalah berita palsu atau informasi yang menyesatkan. Hoax diproduksi untuk mengelabui orang banyak atau menyebarkan berita bohong tentang sesuatu hal atau berbagai hal. Hoax itu selalu “misleading”, ‘menyesatkan’. Hal itu disebabkan hoaks adalah informasi yang sama sekali tidak benar.

            Adapun “ilmu” adalah pemahaman atau pengetahuan terhadap suatu hal berdasarkan data, fakta, atau ajaran yang diakui kebenarannya pada masa sebelumnya. Meskipun demikian, ilmu itu sifatnya terbuka. Artinya, bisa dikoreksi oleh ilmu baru yang bisa membantah ilmu sebelumnya. Kalau suatu ilmu sudah bisa dibantah oleh ilmu yang baru, ilmu yang lama wajib gugur.

            Contoh yang paling mudah tentang ilmu adalah seperti ini. Dalam Ilmu Alamiah Dasar sering dicontohkan tentang “pelangi”. Dulu orang percaya bahwa pelangi adalah jalan bagi para bidadari dari kahyangan turun ke Bumi untuk menyelesaikan berbagai urusannya. Semua orang tidak ada yang membantah. Itu adalah ilmu. Akan tetapi, ketika ada orang lain yang menemukan kenyataan bahwa pelangi adalah sinar Matahari yang menembus butiran air di langit sehingga menimbulkan berbagai macam warna, ilmu bahwa pelangi adalah jalan bagi para bidadari harus gugur.

            Contoh lain, dulu gereja di Eropa meyakini bahwa Bumi itu datar dan di ujungnya adalah neraka. Tak ada orang yang membantah. Itu juga ilmu. Akan tetapi, ketika Galileo dan Copernicus menemukan kenyataan lain dengan mengatakan bahwa Bumi itu bulat, maka teori Bumi datar itu harus gugur, apalagi zaman sekarang yang bentuk Bumi bisa difoto dari luar angkasa dan ternyata memang bulat. Pihak gereja pun sekarang mengakuinya bahwa Bumi itu memang bulat.

            Begitulah sifatnya ilmu. Kalau suatu pemahaman tidak boleh dibantah, didebat, atau dikoreksi, itu bukan ilmu, melainkan doktrin yang tidak boleh dipertanyakan benar dan salahnya. Orang-orang harus percaya secara mutlak dan dilarang untuk memikirkan benar dan salahnya. Itu bukan ilmu. Itu hanyalah keyakinan paksaan.

            Contoh lain lagi. Kali ini kasusnya terjadi di Indonesia baru-baru ini. Seorang aktivis Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), perempuan, dalam suatu acara talk show di KompasTV mengatakan bahwa pemerintah Indonesia menggunakan hoax tentang virus corona. Dia menyebutkan bahwa hoax itu disampaikan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto yang mengatakan kalau tidak salah bahwa Indonesia tidak terkena virus corona, Indonesia kuat, atau yang semacam itulah. Si Aktivis itu mengatakan bahwa itu hoax.

            Sungguh, dia tidak bisa membedakan antara hoax dengan ilmu sebagaimana yang saya terangkan tadi. Bagi saya, Menkes RI Terawan itu mengatakan sebuah ilmu dan bukan hoax. Pada kenyataannya memang ketika Menkes RI Terawan mengatakan itu, tidak ada yang terkena virus corona karena memang tidak ada datanya. Bahkan, bukan hanya Terawan yang mengatakan hal itu, dokter lain pun mengatakannya karena Indonesia diuntungkan dari segi iklim yang tropis. Saya pun berpendapat seperti itu saat itu.

            Seperti saya jelaskan tadi bahwa ilmu itu bisa dikoreksi dan dibantah dengan ilmu yang baru. Berdasarkan data, fakta, dan informasi terbaru, sejak diketahui ada warga Depok yang positif terjangkit virus corona, maka ilmu yang disampaikan oleh Terawan itu harus gugur karena ternyata dibantah oleh ilmu yang baru bahwa Indonesia terkena virus corona.

            Kalau sekarang Menkes RI Terawan mengatakan bahwa Indonesia tidak terkena virus corona, itu baru hoax. Itu sah dikatakan bahwa pemerintah melakukan hoax.

            Paham tidak? Masa tidak?

            Sekarang soal kritikan dengan fitnah dan caci maki. Orang masih tidak bisa membedakan atau memang tidak mau membedakan antara kritikan, caci maki, dan fitnah.

            “Kritikan” itu bagus, mengkritik itu boleh untuk memperbaiki keadaan yang ada. Kritikan itu harus bertujuan positif agar pihak yang kita kritik dapat menjadi lebih baik, situasi menjadi lebih baik, keadaan menjadi lebih baik. Hal itu pun diperintahkan Allah swt dalam QS Al Ashr bahwa yang namanya saling mengkritik, saling mengoreksi, saling menasihati itu akan membuat hidup kita menjadi beruntung, lebih sabar, lebih kuat, dan lebih baik lagi. Justru jika tidak melakukan saling koreksi, hidup kita akan merugi.

            Kritikan yang sesungguhnya positif itu akan jatuh menjadi “caci maki” jika disampaikan secara tidak beradab dan jauh dari inti kritikan, misalnya, mengatakan seseorang itu sebagai binatang, penjahat, hantu, stereotip, rasis, penghinaan terhadap fisik, dan lain sebagainya yang tidak ada hubungannya dengan kritikan. Di samping itu, kritikan akan terjerumus menjadi “fitnah” jika tidak disertai data-data yang valid, sah, dan sesuai fakta. Fitnah pun akan terjadi jika hal yang disampaikan tidak secara utuh dengan cara sepotong-sepotong dan merekayasa dari hal yang sebenarnya sehingga menyesatkan orang lain dan merugikan orang yang menjadi sasaran fitnah.

            Baik caci maki maupun fitnah, di samping mengakibatkan dosa, tidak berbudi pekerti luhur, juga bisa terjerat hukum, baik pidana maupun perdata. Jika sudah terjerat hukum, jika salah mengartikan, dia akan tetap meyakini bahwa dia telah melakukan kritik, padahal sesungguhnya menyebarkan fitnah dan caci maki. Itulah bahayanya jika salah mengartikan kata yang mengakibatkan salah berrtindak, bahkan semakin menyesatkan dirinya sendiri dan orang lain. Jika sudah terjerat hukum, tetapi salah mengartikan fitnah dan caci maki sebagai kritik, dia semakin tersesat dengan mengatakan bahwa polisi tebang pilih, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, tidak adil. Semakin ngaco dia.

            Ada yang lebih parah lagi dengan meneriakkan bahwa ini adalah “Hukum Jokowi!”

            What?

            Apa itu Hukum Jokowi?

            Tidak ada itu Hukum Jokowi. Jokowi itu presiden, eksekutif. Hukum itu kekuasaannya ada di para hakim sebagai yudikatif. Undang-undang itu dibangun bersama dengan DPR sebagai legislatif.

            Jangan salah mengartikan istilah atau pura-pura tidak tahu, salah bertindak bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

            Yu ah, bagi para generasi muda maupun generasi tua yang masih mau meningkatkan ilmu pengetahuan supaya cara berpikir kita semakin baik dan semakin bermanfaat bagi manusia, saya mengajak untuk kuliah di Universitas Al-Ghifari. Manfaatkan berbagai fasilitas beasiswa yang ada di Universitas Al-Ghifari. Daftarnya bisa #dirumahaja.

            Klik http://pmb.unfari.ac.id jadilah mahasiswa Universitas Al-Ghifari.

            Sampurasun.

Monday, 15 May 2017

Kikir dan Pelit Karena Takut Masa Depan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Kikir dan pelit adalah sifat dan sikap yang sangat dicela dan dianggap sangat buruk dalam ajaran Islam. Allah swt dan Nabi Muhammad saw sangat membenci sifat kikir dan pelit ini.

            Sifat dan sikap kikir dan pelit ada yang disebabkan oleh ketakutan atas masa depan. Manusia sering sekali was-was dan khawatir terhadap masa depannya sendiri. Oleh sebab itu, ia berlaku kikir dan pelit karena hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia lebih percaya mempersiapkan masa depannya dengan menabung daripada dengan sedekah atau infak. Ia terus-terusan takut terhadap kemiskinan atau kebangkrutan yang dapat kapan saja menimpanya. Oleh sebab itu, ia terus-terusan menabung dan selalu menumpuk-numpuk hartanya tanpa mau berbagi dengan orang lain.

            Karena sangat buruknya sifat kikir, takut terhadap masa depan, dan takut miskin. Allah swt sangat mencelanya, bahkan menyediakan neraka khusus bagi orang-orang sejenis ini.

            Dulu Kardam bin Zaid memberikan nasihat buruk kepada kaum Anshar, “Janganlah kalian menafkahkan harta yang kalian miliki karena kami khawatir kalian akan menjadi fakir. Lalu, janganlah kalian tergesa-gesa menginfakkan harta kalian sebab kalian belum mengetahui apa yang akan terjadi kelak.”

            Kardam bin Zaid adalah orang yang sangat pelit. Dia bukan hanya pelit dan kikir, melainkan pula mempengaruhi orang lain agar berbuat pelit dan kikir seperti dirinya. Ia mempengaruhi orang lain dengan cara menakut-nakuti terhadap kemungkinan kebangkrutan atau kepailitan pada masa depan. Ia memberikan penjelasan bahwa bisa jadi pada masa depan kita akan kehilangan pekerjaan, mendapatkan kerugian, mengalami musibah, atau hal-hal lainnya sehingga kita tidak perlu berbagi uang, rezeki, dan kebahagiaan dengan orang-orang miskin dan lemah. Jika kita berbagi dan bersedekah, kita bisa benar-benar melarat pada masa depan ketika memasuki masa pailit. Sebaiknya, uang-uang kita itu ditabungkan, ditahan, dan jangan terburu-buru untuk bersedekah.

            Pikiran-pikiran Kardam bin Zaid yang sangat buruk ini selalu ada dari zaman ke zaman, termasuk pada zaman kita ini. Bahkan, terlalu banyak orang-orang yang berpikiran terbelakang seperti Kardam bin Zaid ini.

            Berkaitan dengan pikiran-pikiran dan ajakan-ajakan buruk seperti itu, Allah swt menurunkan ayat kepada Nabi Muhammad saw.

            “… Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.” (QS An Nisa 4 : 36-37)

            Orang-orang pelit dan kikir selalu memiliki ciri sombong dan sering membangga-banggakan diri atas hartanya. Hal itu sangat dibenci Allah swt. Apalagi, jika dia memberikan saran sangat buruk kepada orang lain untuk berbuat kikir. Ia menganggap lebih baik menabung untuk masa depan dibandingkan bersedekah berbagi dengan sesama manusia.

            Ia percaya bahwa tabungan dapat menolong hidupnya. Padahal, jika Allah swt menghendaki, uang tabungan itu bisa musnah atau kehilangan nilainya karena berbagai krisis ekonomi atau harus dikeluarkan dan diambil karena Allah swt menimpakan musibah yang tiba-tiba.

            Sungguh, uang kita yang ada di bank, belum tentu milik kita karena tiba-tiba bisa terjadi krisis moneter, musibah atau kecelakaan mendadak, ditagih hutang, kepailitan yang datang tiba-tiba, sakit parah yang tidak diduga-duga, atau terjadi perang yang sangat mengerikan. Begitu pula uang yang ada di saku kita dan di dompet kita, belum tentu milik kita karena bisa tiba-tiba jatuh di jalan, hilang, dicopet orang, dirampok, mengalami kecelakaan, mentraktir orang lain, diperas, atau ditodong.

            Sungguh, rezeki kita itu hanya ada dua, yaitu rezeki yang telah kita nikmati dan uang atau harta yang kita berikan kepada orang lain dengan hati yang tulus. Uang yang telah kita makan dan kita nikmati jelas sekali merupakan rezeki kita karena memang kita sudah menikmatinya. Demikian pula uang atau harta yang kita berikan kepada orang lain dalam cara Allah swt adalah rezeki kita juga karena para malaikat akan mencatatnya, kemudian menjadi catatan pahala milik kita di akhirat dan akan diganti di dunia ini oleh Allah swt sebanyak tujuh ratus kali lipat. Adapun uang yang kita duga milik kita ada di bank, di saku, dan di dompet, belumlah tentu rezeki kita karena segalanya bisa terjadi dan uang itu bisa tiba-tiba bukanlah untuk kita, melainkan untuk orang lain.

            Menabung boleh, bahkan harus, tetapi jangan kikir, jangan pelit. Jangan terlalu takut terhadap masa depan yang mengakibatkan diri kita tidak mau berbagi uang, rezeki, kebahagiaan dengan orang-orang lain, terutama mereka yang miskin, lemah, dan kurang beruntung.


            Sampurasun.

Allah swt Merasa Heran

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kalau dikatakan Allah swt merasa heran, bingung, dan tidak mengerti, bukan berarti Allah swt benar-benar heran, bingung, atau tidak mengerti, melainkan Allah swt ingin menunjukkan bahwa betapa bodohnya manusia dan ingin mengajak manusia berpikir tentang hidup dan kehidupan. Sesungguhnya, Allah swt tidak pernah heran, bingung, atau tidak mengerti. Allah swt mengetahui segalanya. Allah swt Mahatahu.

            Allah swt mengajak kita berpikir dan merenungi sifat buruk manusia, yaitu kikir, pelit, dan tidak mau berbagi uang, rezeki, serta kebahagiaan terhadap sesama manusia.

            Kata Allah swt, “Apa (keberatan) bagi mereka jika mereka beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah berikan kepadanya?

            Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.” (QS An Nisa 4 :39)

            Ayat di atas adalah pertanyaan Allah swt kepada manusia.

            Apa sebabnya manusia tidak mau beriman kepada Allah swt?

            Mengapa manusia tidak percaya pada hari Kiamat?

            Apa yang menyebabkan manusia sangat pelit dan kikir?

            Soal beriman kepada Allah swt dan pada hari Kiamat, kita bicarakan nanti. Sekarang, soal sifat pelit dan kikir manusia.

            Allah swt menanyakan manusia menjadi kikir dan pelit, padahal tidak sepantasnya manusia bersifat kikir dan pelit. Hal itu disebabkan setiap rezeki, uang, ataupun kesenangan yang diperoleh manusia adalah berasal dari Allah swt sendiri. Allah swt yang mampu memudahkan rezeki bagi manusia. Allah swt pula yang mampu menahan dan menghentikan rezeki bagi manusia.

            Mungkin manusia berpikir bahwa harta, uang, dan kesenangan yang mereka peroleh adalah berasal dari kerja keras dan kecerdasan mereka. Sungguh, pikiran itu sama sekali keliru dan sangat salah. Rezeki itu bukan karena kecerdasan dan kerja keras, melainkan karena “izin dan ridha” dari Allah swt.

            Bukankah kita sering melihat orang pandai, cerdas, dan pekerja keras, tetapi hidupnya pas-pasan dan sering tidak punya uang?

            Bukankah kita sering melihat orang-orang bodoh dan pemalas, tetapi kaya raya?

            Bukankah kita pernah bertanya kepada diri sendiri, mengapa dia lebih kaya raya dibandingkan kita, padahal kita lebih pandai dan lebih rajin dibandingkan dia?

            Bukankah kita kerap melihat orang yang rajin, tetapi  hidup berada dalam kemiskinan?

            Bukankah kita pernah merasa bahwa segala upaya telah kita lakukan, tetapi tidak berhasil atau tidak menghasilkan sesuatu sesuai dengan keinginan kita?

            Bukankah kita berulang-ulang mendapatkan keuntungan dan rezeki dari arah yang tidak kita duga-duga dengan sangat mudah tanpa melalui kerja keras kita?

            Apa penjelasan dari berbagai fenomena itu semua?

            Penjelasannya adalah seluruh kehidupan manusia dan seluruh alam ini berada di dalam kekuasaan Allah swt. Allah swt memiliki rencana-Nya sendiri. Allah swt yang membagikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah swt pula yang menghentikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Semuanya bergantung kepada Allah swt.

            Ketika Allah swt memberikan banyak rezeki kepada seseorang atau sekelompok orang, tetapi orang-orang itu pelit, kikir, dan tidak mau berbagi kebahagiaan bersama orang-orang yang miskin dan lemah, Allah swt mempertanyakan hal itu.

            Rezeki mereka berasal dari Allah swt, tetapi mereka pelit dan kikir kepada sesama manusia. Padahal, Allah swt bisa kapan saja mengambil kembali kebahagiaan mereka dengan kematian, kecelakaan, pencurian, perampokan, kebakaran, dan kebangkrutan.

            Sungguh, ketika Allah swt memberikan rezeki kepada kita, berarti Allah swt mempercayakan rezeki-Nya kepada kita untuk dibagikan kepada sesama manusia karena memang itulah gunanya Allah swt menciptakan manusia, yaitu untuk menjadi wakil-Nya di dunia.  Ketika kita tidak mau berbagi dan terus-menerus berbuat kikir, Allah swt akan menimpakan berbagai kesulitan hidup bagi kita. Keburukan apa pun bisa terjadi pada diri kita, baik fisik maupun jiwa.

            Allah swt mempertanyakan kepada manusia bahwa Allah swt sendiri telah berjanji akan mengganti uang atau rezeki yang kita bagikan kepada manusia sebanyak tujuh ratus kali lipat, tetapi manusia tidak mempercayainya. Padahal, sejarah kehidupan manusia telah menunjukkan bahwa tidak ada seorang dermawan pun yang jatuh miskin karena kedermawanannya. Padahal, sejarah kehidupan sering sekali menunjukkan bahwa justru orang-orang pelit, kikir, dan tidak mau berbagi itulah yang kerap bangkrut, kesulitan, gelisah, dan menderita.

            So, mengapa kita tidak mau berbagi uang, rezeki, dan kebahagiaan bersama orang-orang miskin, lemah, yatim piatu, dan mereka yang tidak beruntung?

            Allah swt bisa menjatuhkan kita kapan saja karena kita pelit dan kikir.

            Demi Allah swt.


            Sampurasun.

Monday, 8 May 2017

Kebencian Allah swt terhadap Kekikiran

 oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Sifat pelit dan kikir adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah swt. Adapun sifat dermawan, baik hati, dan penuh kasih sayang adalah sifat manusia yang sangat dicintai Allah swt.

            Manusia berlaku kikir atau pelit disebabkan ketakutan atas kekurangan harta dan keinginan untuk selalu memiliki lebih banyak dibandingkan orang lain. Padahal, kekikiran itu sama sekali tidak menguntungkan manusia. Sifat pelit itu tidak akan mampu mempertahankan harta yang ada dan tidak pula akan dapat menambah harta yang baru. Hanya sifat dan sikap “berbagilah” yang akan membuat harta kita berlipat ganda. Kebiasaan berbagi akan menyehatkan fisik dan rohani kita. Di samping itu, harta yang kita berikan kepada orang-orang yang sedang dalam hidup kesusahan sama sekali tidak akan mengurangi hak kita atas harta kita.

            Allah swt sangat membenci orang-orang yang kikir dan pelit. Di akhirat nanti harta yang kita “tahan” untuk tidak diberikan kepada orang lain akan menjerat diri kita sendiri.

            Kata Allah swt, “Jangan sekali-sekali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa saja (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada Hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di Bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Ali Imran 3 : 180)

            Allah swt marah dan murka kepada orang-orang yang pelit dan tidak mau berbagi dengan sesama manusia. Hal itu disebabkan orang-orang pelit ini sangat senang jika berbahagia pada saat orang lain menderita. Harta-harta yang tidak mereka berikan kepada orang-orang yang sedang kesulitan akan dikalungkan, dililitkan, diikat pada leher-leher mereka di akhirat nanti. Leher-leher mereka harus menarik seluruh harta mereka yang selama ini dikumpulkan di dunia, tetapi tidak mau berbagi dengan orang lain.

            Segeralah berbagi uang, rezeki, harta, kesenangan dengan orang lain, terutama dengan mereka yang sedang dalam kesulitan. Harta kita tidak akan pernah berkurang jika berbagi dengan manusia. Bahkan, akan semakin bertambah besar dan bertambah besar lagi. Allah swt akan mengganti harta-harta kita yang diberikan kepada orang lain yang sedang menderita itu sebanyak tujuh ratus kali lipat. Jangan takut untuk berbagi karena sesungguhnya harta kita itu berasal dari kasih sayang Allah swt. Berbagilah sehingga Allah swt senang berbagi dengan kita.


            Sampurasun.

Monday, 1 May 2017

Jangan Takut untuk Berbagi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Jangan takut untuk bersedekah, berinfak, dan mengeluarkan harta untuk kebaikan manusia. Kita tidak akan pernah bangkrut disebabkan banyak melakukan kebaikan. Tidak pernah ada di dalam catatan sejarah bahwa manusia yang dermawan jatuh miskin menjadi sengsara karena dia banyak melakukan kebaikan. Justru orang-orang pelit yang terlalu banyak berhitung untung-rugi kerap mengalami kebangkrutan dan kegelisahan hidup. Hal itu disebabkan mereka takut untuk berbagi, takut miskin, dan takut kehilangan harta.

            Sesungguhnya, ketakutan-ketakutan itu berasal dari syetan, dari Iblis. Syetan berharap manusia sedih, susah, gelisah, pelit, selalu was-was, banyak khawatir, dan tidak tenang dalam hidupnya. Syetan dan Iblis meniup-niupkan hoax bahwa berbagi uang, rezeki, dan berbagi kesenangan dengan sesama manusia adalah kerugian dan akan membuat kita menjadi miskin atau kehilangan uang dan harta benda. Itu adalah hoax dari syetan.

            Allah swt tidak seperti itu. Allah swt justru mendorong manusia untuk hidup berbahagia, harmonis, makmur, tenang, dan penuh berkah. Allah swt mendorong manusia untuk berbagi, saling menghormati, saling menghargai, saling menjaga, dan saling memiliki. Berbagi rezeki, berbagi uang, dan berbagi kebahagiaan adalah untuk mencapai maksud agar manusia hidup dalam kebahagiaan.

            Kata Allah swt, “Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah 2 : 268)

            Syetan membisiki manusia untuk tidak saling berbagi dan menghembuskan isu bahwa jika kita berbagi, kita akan kehilangan uang dan harta. Dengan demikian, jika kita tergoda, kita akan menjadi kikir, pelit, dan tidak mau berbagi. Itu adalah perbuatan keji.

            Adapun Allah swt memberikan janji akan mengganti uang atau harta yang kita berikan kepada orang-orang miskin dan lemah sebanyak tujuh ratus kali lipat. Tidak tanggung-tanggung diganti oleh Allah swt, tujuh ratus kali lipat. Di samping itu, harta penggantian itu adalah harta yang bersih, bebas dari kekotoran sehingga kita hanya akan memakan dan menggunakan uang halal dan bukan uang haram hasil kecurangan, kelicikan, dan korupsi.

            Pilih mana, ikut syetan agar kita menjadi pelit dan hidup penuh kesulitan, kegelisahan atau ikut Allah swt agar kita mendapatkan banyak harta, hidup penuh karunia dengan harta yang berkah?

            Orang yang sehat jiwa dan otaknya pasti akan memilih Allah swt.

            Sampurasun.