Showing posts with label Jangan Tertipu. Show all posts
Showing posts with label Jangan Tertipu. Show all posts

Sunday, 10 April 2011

Orang-Orang yang Tertipu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya


Jika dikatakan bahwa demokrasi itu salah dan penuh dengan kejahatan, kemudian diserukan untuk segera menghentikan sistem politik tersebut, orang-orang yang belum mengetahui ilmunya biasanya menolak. Hal itu disebabkan mereka masih berpandangan bahwa demokrasi itu luhur dan agung serta merupakan sistem politik yang dapat menjawab kebutuhan manusia. Mereka kurang pengetahuan karena hanya mendengar isu. Isu yang dikembangkan memang demokrasi itu adalah sistem politik terhebat, padahal sangat buruk. Maklum, demokrasi itu kan hanya isu dan penerapannya di Indonesia pun atas dasar isu, tidak pernah ada pengkajian serius terlebih dahulu tentang baik-buruknya demokrasi diterapkan di Indonesia. Karena hidup berdasarkan isu, tak heran jika kualitas hidupnya pun sebatas isu, tidak bernilai tinggi.

Dalam Al Quran, menurut penafsiran saya, orang-orang yang menolak untuk menghentikan demokrasi itu diibaratkan orang-orang yang tertipu, bahkan mereka memang benar-benar tertipu. Tertipu karena kurang pengetahuan.

Perhatikan firman Allah swt berikut ini.

“Apabila dikatakan kepada mereka ‘Janganlah berbuat kerusakan di muka Bumi!’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan’.

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.”
(QS Al Baqarah : 11-12)

Demokrasi adalah sistem politik yang membuat Bumi menjadi rusak. Buktinya bisa dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari di berbagai belahan dunia lainnya. Ayat di atas tepat sekali dialamatkan kepada orang-orang yang tertipu oleh isu demokrasi. Adapun orang-orang yang telah mendapatkan pencerahan menyadari bahwa demokrasi itu bejat dan merusakan Bumi, lalu memberitahukan kepada khayalak ramai agar menghentikan sistem politik rendahan yang merusakkan Bumi itu. Akan tetapi, orang-orang menolak dan memberikan bantahan bahwa sesungguhnya demokrasi itu penuh kebaikan dan bermaksud memperbaiki kehidupan umat manusia. Mereka sendiri mengklaim diri dengan bangga sebagai pejuang demokrasi karena meyakini perilaku mereka adalah benar untuk perbaikan. Itulah yang digambarkan dalam ayat di atas dengan mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan’.

Akan tetapi, sayangnya mereka sebenarnya justru sedang melakukan kerusakan di muka Bumi ini, tetapi tidak menyadarinya, sebagaimana ayat di atas, ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya. Mereka tidak sadar bahwa dengan melakukan praktik-praktik demokrasi berarti membuka banyak peluang untuk bermunculannya perilaku-perilaku yang merusak, baik itu merusakkan pikiran manusia, fisik manusia, ekonomi, tatanan pergaulan, maupun merusakkan alam semesta. Soal demokrasi merusakkan alam semesta ada pada tulisan lain di blog ini. Gampang kok menerangkannya, soalnya kan demokrasi itu digembar-gemborkan oleh kapitalis. Kapitalis itu sangat senang mengeruk keuntungan dari berbagai lini sampai-sampai merusakkan lingkungan yang akhirnya menimbulkan kerusakan ekosistem. Rusaklah alam semesta. Sekarang ini kan kita sudah merasakan kerusakannya, ya nggak? Mudah kan mengilustrasikannya?

Tuesday, 9 November 2010

Nggak Perlu Heboh dengan Kedatangan Obama

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Negeri ini, Indonesia yang kita cintai, kedatangan tamu. Namanya Obama. Kehadirannya menyedot perhatian berbagai pihak, baik media massa maupun rakyat biasa.

Sudah menjadi kebiasaan kita, kalau ketemu sama orang Barat, sepertinya ingin selalu melihat, memperhatikan, perasaannya senang. Entah kenapa. Dulu saja ketika dijajah Belanda, banyak orang yang senang hanya sekedar untuk menyentuh kulit atau bersalaman dengan mereka. Secara tak sadar, perilaku tersebut sudah merendahkan diri sendiri. Sebaiknya, biasa saja atuh.

Saat Obama datang, 9-10 November 2010, banyak orang yang lumayan heboh. Kedatangan Obama itu seperti didatangi idola superhero. Padahal, dia datang itu dalam rangka menjalankan politik luar negerinya. Dalam hubungan internasional, setiap aktivitas internasional sudah seharusnya merupakan aktivitas untuk memenuhi kepentingan dalam negeri masing-masing. Artinya, dia datang itu untuk kepentingan negaranya sendiri, bukan untuk kepentingan Indonesia.

Obama itu bukan Pancasilais, tak peduli dengan Sumpah Pemuda, tak ada kepentingan dengan Bhineka Tunggal Ika, tak mau tahu dengan Preambul UUD 1945, apalagi NKRI. Dia datang ke Indonesia itu karena negerinya melihat ada keuntungan besar yang didapatnya dari Indonesia.

Memang benar dia pernah di Indonesia, tetapi kehadirannya itu tidak dalam rangka untuk mencintai Indonesia dan tidak untuk membesarkan Indonesia. Dia tetap kapitalis yang mencintai AS, negerinya. Dia datang sebagai wakil negaranya agar mendapatkan keuntungan maksimal dari Indonesia.
Ia memang pintar melihat sifat dan watak masyarakat Indonesia yang masih banyak mengagung-agungkan Barat. Oleh sebab itu, dalam pidatonya di kampus UI ia menggunakan kemampuannya untuk menarik simpati rakyat Indonesia seolah-olah dirinya ingin memajukan Indonesia. Hal itu memang terbukti berhasil saat itu. Ia mendapatkan banyak tepukan meriah dari audiens. J. Kristiadi yang dari CSIS itu pun memujinya bahwa Obama itu cerdas. Ia datang untuk kepentingan diri dan negaranya, tetapi mendapatkan tepukan dari orang Indonesia yang negerinya sedang diincar berbagai potensinya untuk dinikmati AS.

J. Kristiadi sangat benar. Meskipun demikian, saya memiliki pendapat yang terbalik, tetapi sama. Bagi saya, bukanlah Obama yang pintar dalam berorasi atau menarik simpati, tetapi rakyat kitanya sendiri yang bodoh menganggap Obama itu layaknya orang yang akan membangkitkan Indonesia dari keterpurukan. Hal itu disebabkan rakyat kita masih harus banyak belajar mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan hubungan internasional.

Saya sangat setuju dengan pendapat Anis Baswedan bahwa kita jangan terlalu romantis terhadap Obama hanya karena dia kecilnya pernah tinggal di Indonesia. Semestinya, kita, rakyat memberikan dorongan penuh kepada pemerintah agar kehadiran Obama itu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan kita, kemakmuran rakyat Indonesia. Hal itu disebabkan memang sudah wajib hukumnya bagi pemerintah untuk memanfaatkan setiap hubungan internasional bagi kepentingan dalam negeri kita sendiri.

Dalam berinteraksi dengan Obama atau dengan negeri mana pun jangan pernah ada pikiran takut Obama atau orang asing rugi berhubungan dengan kita. Untung atau rugi, itu urusan dia bukan urusan kita. Kewajiban kita adalah bagaimana kita mendapatkan untung sebesar-besarnya karena mereka pun sebenarnya berupaya ingin untung sebesar-besarnya. Jangan khawatir orang asing rugi karena mereka pun sama sekali tidak khawatir kita rugi. Jika kita rugi, itu akan jadi beban kita. Selama ini juga kan begitu. Ketika kita susah, mereka bukannya ikhlas menolong, malahan memberikan pinjaman uang dengan bunga yang sangat berat. Kita-kita juga yang merasakan beratnya kesusahan.

Jika kita ternyata berhasil mendapatkan berbagai keuntungan, jangan anggap Obama baik, tetapi yang harus dipuji adalah pemerintah kita sendiri yang telah optimal bekerja keras untuk rakyatnya.

Demokrasi

Sebelum kedatangannya ke Indonesia, Obama sangat memuji demokrasi di Indonesia. Ia benar-benar mengaguminya. Kalau dihitung, sudah lebih dari seratus kata demokrasi yang keluar dari mulutnya, baik sebelum, sedang, maupun pada akhir kunjungannya ke Indonesia. Ia tampak ingin sekali Indonesia tetap menggunakan sisem politik demokrasi. Ia bahkan sedikit menantang Indonesia untuk mampu menyelesaikan masalah-masalah demokrasi di Asean, khususnya di Myanmar. Ia memberikan nilai A plus untuk demokrasi di Indonesia.

Sesungguhnya, ia mengulang-ulang kata demokrasi dengan segala pujiannya itu karena AS merasa untung dengan demokrasi yang dijalankan di Indonesia. Banyak sekutunya yang mengeruk keuntungan besar dari Indonesia yang telah berdemokrasi ini. Para kapitalis itu sudah memiliki banyak kunci yang tepat untuk mendapatkan kenikmatan tiada tara dari negeri kita. Sementara itu, kita dibuai oleh kata-kata palsu dan pujian demokrasi. Saat kita disibukkan dengan demokrasi dengan segala kepusingannya, mereka anteng-anteng melahap berbagai hidangan yang ada di Bumi Pertiwi ini.

Sungguh pelaksanaan demokrasi di Indonesia itu sangat menguntungkan pihak kapitalis. Orang-orang Pancasilais sendiri dilanda kelaparan, huru-hara, fitnah, bencana, pembunuhan, korupsi, kolusi, kemiskinan, kebodohan, dan berbagai ketimpangan sosial lainnya.

Jadi, jangan tertipu dengan pujian telah melaksanakan demokrasi. Obama, AS, dan sekutu kapitalisnya tidak akan segan-segan memberikan medali emas 100 karat kepada Indonesia, bahkan memberikan gelar setinggi langit sebagai negara termajemuk yang paling berhasil dalam berdemokrasi dan mengumumkan kepada seluruh makhluk di Bumi ini bahwa Indonesia adalah negeri paling toleran di seluruh jagat raya dengan sistem demokrasinya. Mereka akan menyanjung Indonesia setinggi langit, bahkan kalau masih ada langit, pujian mereka akan sampai kesana dengan catatan Indonesia tetap berdemokrasi. Sementara itu, Indonesia dalam kenyataannya dengan menggunakan sistem politik demokrasi justru terus meluncur jatuh ke jurang kehancuran.

Jangan tertipu dengan pujian itu. Justru kita harus membumihanguskan demokrasi di negeri ini karena sistem politik itu telah membuat negeri ini carut marut tidak karu-karuan di berbagai bidang. Demokrasi itu jahat, sesat, kampungan, bodoh, serta melanggar kesucian dan kemuliaan manusia.

Jangan tertipu Saudaraku!