Tuesday, 9 November 2010
Nggak Perlu Heboh dengan Kedatangan Obama
Bencana Tidak Akan Berhenti Selama Kita Berdemokrasi
oleh Tom Finaldin
Bandung, Putera Sang Surya
Bencana demi bencana akhir-akhir ini mewarnai kehidupan kita, warga Negara Indonesia, di mana saja berada. Memang tidak semua daerah ditimpa bencana, tetapi seluruh penduduk Indonesia merasakan benar-benar bencana itu dalam arti merasakan penderitaan saudara-saudaranya di tempat-tempat yang tertimpa bencana.
Bencana Wasior, Merapi, Sinabung, Mentawai, pesawat jatuh, huru-hara, kelaparan, dsb. adalah bencana yang merupakan rangkaian dari bencana sebelumnya dan pembuka bagi bencana-bencana berikutnya yang lebih hebat lagi. Perlu diketahui bahwa bencana ini akan terus-menerus terjadi sepanjang kita tidak mau berubah sikap dan tetap menyombongkan diri dengan kebodohan selama ini.
Tidak perlu heran dengan kehadiran bencana, bukankah sejak lalu dalam blog ini banyak ditulis bahwa jalan kita adalah sudah tampak salah sekali? Bukankah saya sudah mengingatkan bahwa sistem berbangsa dan bernegara kita ini sudah kacau melewati batas kesemrawutan dan kedustaan? Jika terus-menerus melakukan sistem politik rendahan dan kampungan ini, bukankah sudah saya peringatkan bahwa negeri ini akan ditimpa bencana yang dahsyat?
Saudara-saudara pembaca sekalian, sesungguhnya peringatan tersebut bukan hanya saya tulis di dalam blog ini, melainkan saya tulis langsung melalui pos kepada Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada Februari 2010 lalu sebanyak enam halaman folio, jauh sebelum bencana-bencana besar terjadi secara berurutan. Saya mendapatkan pemahaman dari Allah swt bahwa kita sudah di ujung kekusutan dan jika diteruskan kekusutan itu, bencana pun akan datang.
Saya berharap bahwa surat yang saya sampaikan kepada Presiden RI itu mendapat tanggapan. Akan tetapi, hari demi hari terus berlalu, sampai November 2010 ini, tanggapan tidak ada. Saya sungguh kecewa, sedih, dan agak marah. Saya kecewa dan sedih bukan karena saya tidak dianggap atau tidak diperhatikan, tetapi karena negeri ini akan ditimpa bencana yang tidak disangka-sangka sebelumnya dan rakyat banyak akan menderita (sekarang terbukti bencana besar itu datang bukan?). Saya agak marah karena saya merasa bahwa SBY itu sombong dan angkuh. Mungkin seandainya saya memiliki mobil mewah, punya uang banyak, perusahaan yang tersebar di mana-mana, punya jabatan sosial yang disegani, dia akan menanggapi. Akan tetapi, karena mungkin saya hanya seorang penulis lepas yang juga sebetulnya menulis biografinya dia, SBY tidak menanggapinya. Itu pun kalau dia baca surat saya. Lain lagi ceriteranya kalau surat itu tidak sampai ke tangannya, cuma sampai di Sekpri-nya atau di orang-orang dekatnya, lalu dibuang. Itu berarti sistem kerja di lingkungannya tidak berjalan dengan baik.
Untuk ke sekian kalinya, saya mengingatkan lagi dalam tulisan ini dengan maksud supaya kita mengerti bahwa kekusutan, kekacauan, kesemrawutan, penderitaan, rupa-rupa bencana, dan berbagai ketimpangan lainnya yang diderita negeri ini adalah disebabkan negeri ini menggunakan sistem politik demokrasi! Sistem politik demokrasi adalah sumber kejahatan terhadap manusia dan kemanusiaan. Sistem politik demokrasi adalah penghinaan terhadap Allah swt. Wajar toh kalau Allah swt marah kemudian menimpakan bencana dari langit dan dari Bumi.
Hal-hal yang sekarang terjadi pun sebenarnya pernah dilukiskan oleh Prabu Siliwangi ratusan tahun silam dengan kata-kata, “Langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan.”
Artinya, langit sudah memerah menunjukkan wajah marah, asap sudah mengepul dari perapian. Hal itu menunjukkan bahwa langit dan Bumi sudah sangat siap menjadi media tanda-tanda kemarahan Allah swt kapan saja.
Negeri ini perlu membangun sistem dan struktur politik baru yang benar-benar sesuai dengan jiwa bangsa dan berdasarkan pada nilai-nilai dan norma-norma yang telah dilekatkan Allah swt sejak dalam kandungan. Untuk itu, kita perlu berkaca pada sejarah diri sendiri dan menyingkirkan penghambaan terhadap nilai-nilai asing yang telah ditanampaksakan pada negeri ini.
Saya ingatkan bahwa negeri ini akan terus-menerus ditimpa bencana berkepanjangan dan bertubi-tubi yang tak akan pernah berhenti selama kita menggunakan sistem politik demokrasi yang kampungan, hina, kusut, dan menyedihkan ini. Suara demokrasi itu suaranya anjing syetan! Saya sungguh menantang siapa saja yang mengaku-aku penggemar berat dan pecinta demokrasi untuk membuktikan keagungan demokrasi yang telah dikeramatkan bahkan diper-Tuhan-kan orang itu. Seilmiah apa pun mereka, saya, sungguh, atas izin Allah swt, jika Allah swt berkehendak, akan menjungkirbalikkan alasan-alasan atau pilar-pilar pemikiran demokrasi itu dengan sangat mudah, insyaallah. Segala ilmu adalah milik-Nya.
Bencana akan reda jika negeri ini sudah tidak lagi menggunakan sistem politik demokrasi yang sesat ini, insyaallah. Demokrasi itu ajaran sesat, Bung.
Tidak percaya bahwa jika masih berdemokrasi, bencana akan terus datang, bahkan lebih besar lagi? Silakan terus berdemokrasi dan nikmati hari-hari penuh kesedihan dan kehinaan. Kita tunggu bersama hari-hari berikutnya dan saksikan apa yang terjadi. Mudah-mudahan Allah swt memberikan petunjuk kepada kita semua. Amin.
Perlu saya ulang-ulang lagi hal-hal yang telah ditulis dalam blog ini dan yang juga telah disuratkan kepada SBY. Dalam kesempatan kali ini, saya hanya akan menyampaikan ayat-ayat Allah swt yang berupa peringatan-peringatan keras. Itu pun tidak semua karena ayat-ayat seperti itu banyak sekali di dalam Al Quran.
Sudah menjadi kebiasaan Allah swt jika ingin menghancurkan negeri-negeri, jika hendak menurunkan azab, jika berketetapan menjatuhkan bencana, terlebih dahulu memberikan peringatan agar kaum dimaksud kembali ke jalan yang benar. Jika kaum itu mematuhi seruan Allah swt, selamatlah. Jika tidak, Allah swt akan menghancurkannya.
“Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberikan peringatan.” ( QS Asy Syu’araa : 208)
“Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al Israa : 16)
“Tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS Al Qashash : 59)
Masih banyak sesungguhnya ayat Al Quran yang bernada ancaman tersebut, tetapi cukuplah tiga ayat untuk menyadarkan kita bahwa Allah swt benar-benar akan mengazab kita jika kita mendustakan kebenaran yang nyata dan menghalangi sampainya kebenaran kepada umat manusia.
“Sesungguhnya, Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.
Tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang bathil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.
Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhan-Nya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya, Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya, dan Kami letakkan pula sumbatan di telinga mereka. Kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.
Tuhanmulah Yang Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentunya Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Akan tetapi, bagi mereka ada waktu yang tertentu untuk menerima azab yang mereka sekali-kali tidak akan mendapatkan tempat berlindung darinya.
Penduduk negeri itu telah kami binasakan ketika mereka berbuat zalim dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS 18 : 54 – 59).
Begitulah Allah swt berkehendak. Kita tak perlu menantang-Nya karena pasti akan dilumatkan-Nya.
Kalau Allah swt berkehendak kebaikan kepada negeri ini karena penduduknya berupaya keras untuk berubah baik, kebaikan itu pun akan datang. Jika tidak, Allah swt akan menyesatkannya dengan cara dalam hati dan pikiran kita terus ditanamkan bahwa cara-cara hidup berbangsa dan bernegara kita sudah benar.
“…. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS 5 : 41)
Demikian tulisan saya ini sebagai peringatan yang untuk ke sekian kalinya. Mudah-mudahan Allah swt memberikan pencerahan kepada kita semua. Saya hanya memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim yang apabila mendapatkan kebenaran, haruslah disampaikan walaupun hanya satu ayat.
Saya bersandar kepada Allah swt yang mengisyaratkan bahwa soal mereka mau percaya kepadamu atau tidak, mau mengikutimu atau tidak, itu bukan urusanmu. Itu urusan-Ku. Kamu hanyalah seorang pemberi peringatan. Oleh sebab itu, janganlah kamu bersedih hati atas perilaku mereka terhadapmu.
Yang pasti, saya akan terus berupaya menyampaikan petunjuk Allah swt ini sesuai dengan kemampuan dan sarana yang disediakan oleh-Nya dengan meneladani Nabi Muhammad saw yang mengisyaratkan bahwa akan berjuang sampai aku menang atau binasa karenanya.
Bismillaahi Allahu Akbar.
Tuesday, 10 August 2010
Teori Jam Dinding
Bandung, Putera Sang Surya
Dalam setiap diskusi dan berbagai kesempatan. Saya selau memberikan pemahaman bahwa demokrasi itu sesat dan menyesatkan, rendah dan merendahkan. Akan tetapi, setelah mereka memahami apa yang saya sampaikan, biasanya kebingungan. Pada satu pihak mereka sangat yakin bahwa negeri ini harus keluar dari demokrasi yang memuakkan ini, di pihak lain tidak memiliki pilihan lagi untuk mengganti sistem politik demokrasi karatan ini. Hal itu disebabkan di kepala mereka hanya ada sedikit pengetahuan mengenai sistem politik, yaitu sistem otoriter, demokratis, atau Negara Islam. Hanya itu yang ada. Padahal, jika kita mau, akan ada banyak sistem politik yang bisa dijadikan alternatif. Syaratnya adalah keluar dari kebiasaan kita yang selalu menyandarkan diri pada otak dan teori-teori yang berasal dari buku-buku barat.
Kita memang terbiasa dan kerap bangga jika sudah mampu mengemukakan gagasan atau opini dengan sandaran pendapat para intelektual barat. Padahal, mereka mengatakan hal-hal itu berdasarkan tempat dan waktu yang berbeda dengan kita sekarang ini. Itulah agaknya yang menjadi dasar Ir. Soekarno, Presiden RI ke-1, mengatakan bahwa kita, bangsa Indonesia, adalah bangsa yang malas berpikir, tidak mau berpikir yang rumit-rumit. Oleh sebab itu, berulang-ulang Pemimpin Besar Revolusi itu mengingatkan kita bahwa dalam berjuang menjalankan negara untuk mencapai kejayaan haruslah memikirkan sendiri gagasan-gagasannya dan cara-caranya, gagasan dan cara-cara yang datang dari luar, tidaklah boleh begitu saja semau-maunya dijiplak. Ia adalah tokoh yang sangat yakin dengan jati dirinya. Tak heran oleh sebab itu, nama dan semangatnya tak pernah mati di negeri ini. Tidak seperti kebanyakan pemimpin kontemporer saat ini, masih hidup saja semangat dan namanya sudah mati duluan, menyedihkan sekaligus memalukan.
Kita sebenarnya diberi anugerah berupa keyakinan bahwa tujuan hidup bangsa ini adalah menjadi/menjadikan manusia Indonesia seutuhnya. Manusia yang utuh itu mengandung pengertian terjadinya keseimbangan hidup secara batin maupun lahir. Tidak berat sebelah, memprioritaskan yang batin sambil meninggalkan urusan lahir atau sebaliknya.
Untuk menyeimbangkan kehidupan yang seimbang secara individu, setiap anggota rakyat Indonesia diberikan kebebasan menganut agama dan kepercayaannya masing-masing sebatas yang diakui oleh Negara Indonesia. Tak boleh ada agama dan kepercayaan lain di luar yang telah disepakati. Untuk berinteraksi antaragama, antarkepercayaan, dan antarsuku yang majemuk ini, Pancasila telah menjadi rumusan yang sangat tepat. Tak ada segolongan manusia Indonesia pun yang dimarjinalkan oleh Pancasila. Di samping itu, Pancasila menjadi penahan sekelompok umat untuk berdiri di atas umat lainnya di lingkungan Negara Indonesia. Tambahan pula, Pancasila akan menjadi filter yang tangguh dalam menahan arus gelombang negatif yang datang dari luar Negara Indonesia jika dilaksanakan secara benar dan konsekwen sesuai dengan keinginan Pancasila itu sendiri, bukan sesuai dengan hawa nafsu segelintir manusia yang rakus harta dan kekuasaan.
Untuk mendapatkan kondisi yang “utuh” tersebut, kita sudah selayaknya menggunakan seluruh sarana lahir dan batin yang kita miliki. Modal itu hendaknya digunakan secara seimbang dalam menata pergaulan berbangsa dan bertanah air. Saat ini kita hanya terbiasa menggunakan sarana lahir tanpa menggunakan sarana batin. Dengan pongah dan bingungnya kita berputar-putar menggunakan teori-teori dan pengalaman-pengalaman hidup bangsa lain dalam memberikan dasar-dasar bagi proses berbangsa dan bertanah air Indonesia. Bisa kita saksikan perdebatan demi perdebatan yang tak karu-karuan itu mengeluarkan teori atau pendapat asing di samping menjelaskan berbagai hal yang terjadi di luar negeri. Para elit kita sangat terbiasa dengan mencontohkan hal-hal yang terjadi di Amerika, Jepang, Swedia, Cina, India, Malaysia, dan negeri-negeri lain. Padahal, keluhuran dan kemuliaan telah dicontohkan oleh para pemimpin negeri ini sejak berabad-abad lalu dan itu adalah nyata menghasilkan kejayaan, keemasan, dan kemakmuran. Tentunya, sebelum terdistorsi kerakusan VOC plus penjajah lain.
Upaya-upaya lahir yang keterlaluan ini sudah saatnya dikurangi untuk kemudian ditambah dengan upaya-upaya batin. Pendekatan batin kepada Sang Pencipta adalah upaya yang sangat tepat untuk menyelesaikan berbagai masalah yang kita alami.
Kembali pada maksud dari tulisan ini. Ketika banyak orang yang bertanya jika tidak menggunakan sistem politik demokrasi, sistem apa yang lebih baik daripada demokrasi, sesungguhnya jawaban itu selalu ada dan setiap hari diberikan Allah swt. Masalahnya, kita terlalu sibuk dengan hal-hal yang lahir, urusan hiruk pikuknya dunia ini. Padahal, sementara itu, kita meyakini bahwa Tuhan adalah Mahabenar, Maha Pemberi Petunjuk. Sangatlah aneh jika memiliki keyakinan terhadap Tuhan, tetapi mencari jalan keluar yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan.
Saudara sebangsa dan setanah air, saya coba upayakan untuk menyederhanakan maksud ini. Kita tak akan pernah mendapatkan petunjuk yang jelas jika terlalu sibuk dengan hal-hal yang sifatnya lahir, duniawi. Kita akan selalu tersesat jika tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk batin.
Sebagaimana judul di atas, saya mengajak Saudara-saudara sekalian untuk memperhatikan jam dinding. Saat siang ketika dunia ini dipenuhi kebisingan suara-suara yang sibuk, jam dinding itu seolah-olah hanya berjalan seperti itu, tak ada istimewanya. Akan tetapi, ketika mulai menjelang malam, saat kesibukan dunia berkurang, kita mulai mendengar sesuatu yang lain dari jam dinding, yaitu detak jam. Suara detak jam itu semakin lama semakin keras seiring dengan berkurangnya hiruk-pikuk kesibukan dunia. Ketika malam semakin pekat, semakin gelap, semakin sepi, suara detak jam dinding itu keras sekali. Bahkan di ruangan tertentu suara itu menjadi raja dibandingkan suara-suara lainnya.
Sebenarnya, suara detak jam dinding itu sejak siang pun ada dan tetap ada. Kalaupun kita tidak tidak mendengarnya, itu disebabkan perhatian kita yang tersedot oleh suara kesibukan dunia. Kalau mau sedikit melelahkan diri dengan berkonsentrasi, kita setiap saat bisa mendengarnya, baik siang apalagi malam hari.
Sesungguhnya, petunjuk mengenai sistem politik alternatif yang dapat menyelamatkan, bahkan memuliakan negeri ini setiap saat selalu ada. Allah swt selalu memberikannya kepada kita, namun kita tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Hal itu disebabkan kita terlalu angkuh, pongah, sombong, dan bangga dengan pengetahuan yang kita dapatkan secara lahir dan bisa diraba atau dijelaskan secara lahiriah. Adapun pengetahuan dan petunjuk batin, kita abaikan. Padahal, keagungan petunjuk Allah swt itu hanya bisa diperoleh dengan upaya batin yang sungguh-sungguh.
Jika saja kita mau, sesungguhnya petunjuk untuk mengantarkan negeri ini menuju puncak kejayaannya selalu ada dan tidak pernah berhenti diberikan oleh Allah swt. Akan tetapi, hal itu hanya akan kita dapatkan jika kita mulai mengurangi kepusingan kita dengan segala hal yang sifatnya duniawi yang cenderung mengantarkan manusia untuk mengejar keuntungan sesaat.
Semoga tulisan ini memberikan sedikit pencerahan agar kita mau mencari petunjuk yang suci dari Allah swt sekaligus menghentikan atau setidak-tidaknya mengurangi kebiasaan-kebiasaan menipu, berdusta, mengingkari janji, khianat, bertengkar, berdebat, saling fitnah, saling umbar kebaikan diri pribadi, saling tuding, dan perilaku lainnya yang disahkan oleh sistem demokrasi. Sungguh sistem politik demokrasi itu sangat menggelikan. Acara yang disebut “terpelajar” dalam demokrasi adalah acara adu bacot dan adu tegang urat leher. Padahal, Pancasila mengajarkan kita untuk hidup saling membantu, bukan saling berkompetisi menjadi penguasa terhadap sekelompok manusia lainnya.
Perhatikan jam dinding. Dengarkan suaranya. Cari petunjuk Tuhan. Tuhan akan memberikan jalan keluar dari demokrasi yang menjijikan ini serta kita akan mendapatkan sistem politik yang lebih baik dan lebih agung untuk kebaikan negeri ini. Insyaallah.