Showing posts with label QS Al Maidah : 51. Show all posts
Showing posts with label QS Al Maidah : 51. Show all posts

Friday, 12 May 2017

Antara Sistem Hukum dan Ilmu

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Benar kita harus mengormati sistem dan hukum positif. Sesalah apa pun hakim membuat keputusan, sebrengsek apa pun hakim menjatuhkan vonis, sebodoh apa pun sekumpulan hakim, setolol apa pun sebuah vonis, kita tetap harus menghormatinya. Hal itu disebabkan hakim merupakan bagian dari sistem yang harus dihormati agar sistem negara tetap tegak dan tidak berubah menjadi anarkis. Akan tetapi, rasa hormat itu hanya sebatas terhadap sistem, tidak ada rasa hormat dalam ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan yang ada hanya benar dan salah. Tidak ada hubungan dengan harga diri, toleransi, dan rasa hormat. Benar harus dikatakan benar. Salah harus dikatakan salah. Tidak ada rasa keadilan dalam ilmu pengetahuan. Contohnya, kita tidak boleh ragu mengatakan bahwa Bumi itu bulat dan harus berani menyalahkan orang lain yang mengatakan Bumi itu datar. Siapa pun yang mengatakan Bumi itu datar, dia adalah orang bodoh dan kita harus mengatakannya sebagai kesalahan. Mau itu ulama, presiden, mertua, orangtua kandung, pendeta, biksu, rahib, siapa pun yang mengatakan bahwa Bumi itu datar adalah salah. Di samping itu, siapa pun yang mempertahankan mati-matian pendapat bahwa Bumi itu datar adalah sekumpulan manusia bodoh, tolol, dan goblok.

            Meskipun demikian, jika terjadi silang sengketa kasus hukum tentang bentuk Bumi dan prosesnya masuk sidang pengadilan, semua harus menghormatinya meskipun hakim memutuskan bahwa orang yang mengatakan bahwa bentuk Bumi bulat adalah orang yang melakukan penodaan pada kitab astronomi dan melakukan penghinaan kepada orang-orang yang berpendapat Bumi itu datar. Keputusan tolol hakim itu harus dihormati karena itu merupakan bagian dari sistem yang harus disepakati. Akan tetapi, tidak ada rasa hormat dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bergerak sendiri membuktikan kebenarannya dan tidak bisa dibendung maupun dibatasi. Keputusan hakim memang harus dihormati, tetapi secara ilmu, keputusan itu harus disalahkan karena memang salah. Semua tahu bahwa Bumi itu bulat dan tidak datar.

            Begitulah seharusnya kita menyikapi vonis hakim terhadap Ahok yang telah menyatakan bahwa Ahok melakukan penodaan terhadap agama. Bagaimana pun kita menganggap salah vonis hakim, kita tetap harus menghormatinya. Akan tetapi, kita tidak bisa menghormatinya secara ilmu pengetahuan. Hal itu disebabkan secara ilmu, Ahok tidaklah salah karena pendapat yang mengatakan bahwa QS Al Maidah : 51 adalah ayat larangan untuk memilih pemimpin beragama Kristen dalam sistem politik demokrasi sebetulnya pendapat yang salah. Ayat itu sama sekali tidak berhubungan dengan pemilihan pemimpin dalam sistem politik demokrasi. Ayat itu adalah larangan bagi kaum muslimin untuk berlindung dan patuh kepada Yahudi dan Kristen jika terjadi perang yang melibatkan Yahudi dan Kristen sebagai pengkhianat perjanjian damai dengan kaum muslimin. Beberapa tulisan di blog ini juga sudah menerangkannya dan tidak ada yang berani membantah secara ilmu. Semua pengecut untuk berdebat soal itu.

            Penggunaan QS Al Maidah : 51 itu terasa sebagai akal-akalan untuk menjatuhkan Ahok dan itu adalah tindakan pengecut yang aneh karena ternyata banyak pos-pos kepemimpinan di Indonesia ini yang dipegang oleh orang-orang Kristen, tetapi tidak pernah dipermasalahkan. Ada banyak ratusan kepemimpinan orang Kristen dalam mengelola masyarakat muslim yang tidak pernah dipermasalahkan, tetapi ketika urusan Ahok dan posisi Gubernur DKI Jakarta, ayat itu pun digunakan, termasuk dalam menjerumuskan Ahok ke dalam penjara.

            Ahok hanyalah salah seorang warga Negara Indonesia. Jika pemahaman QS Al Maidah : 51 tetap dalam keadaan salah, kasus-kasus seperti ini memiliki potensi kemungkinan terjadi berulang-ulang dan kita jatuh dalam kerumitan yang sama berulang-ulang pula. Itulah yang dimaksudkan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno sebagai umat Islam tetap tertinggal seribu tahun lamanya. Pemahaman QS Al Maidah : 51 harus diluruskan karena pasti ada pemahaman yang salah. Tidak mungkin pemahaman yang bertolak belakang itu benar semuanya, harus ada satu yang benar dan tepat, pemahaman yang lain pasti salah. Tidak perlu ada alasan lagi “demi persatuan dan ketenangan” sehingga tidak memperbaiki pemahaman-pemahaman yang keliru. Semuanya harus diluruskan. Caranya, perdebatkan ayat itu secara ilmu hingga lelah dan letih dengan menggunakan metode ilmiah, hasilnya kita pegang bersama.

            Sayangnya, saya yakin bahwa BANYAK ORANG TERBELAKANG YANG GEMAR HADITS-HADITS PALSU PASTI PENGECUT UNTUK BERDEBAT KARENA MEREKA MEMANG MANUSIA TERBELAKANG.


            Sampurasun.

Thursday, 11 May 2017

Saatnya Meninggalkan Ulama Terbelakang

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Kehidupan ini berkembang dan terus maju mengikuti putaran roda zaman yang berubah-ubah. Apa pun kondisi kita, siap tidak siap, zaman terus melaju dalam iramanya yang telah ditetapkan Allah swt. Waktu terus berjalan dan meninggalkan semua yang tidak siap. Demikian pula pemahaman-pemahaman dan pelaksanaan ajaran Islam semakin berwarna sesuai dengan kehidupan modern. Islam tidak akan pernah ketinggalan zaman, tetapi selalu saja ditahan-tahan untuk tidak berkembang oleh para ulama yang terbelakang. Mereka adalah ulama-ulama yang jiwanya masih tenggelam dalam dendam lama tentang kisah-kisah kejatuhan kekhalifahan Turki, ulama yang mudah memberikan cap “kafir dan sesat” dengan hal-hal baru yang tidak mereka pahami dengan benar, ulama yang terlalu banyak menyuguhkan dongeng-dongeng irrasional dengan menyandarkan kegaiban pada “kekuasan Allah swt”, ulama yang terlalu menikmati penghormatan umat sehingga berbicara tanpa pengetahuan yang benar, ulama yang terlalu banyak berimajinasi dan menikmati khayalannya untuk disebarkan pada masyarakat, ulama yang enggan untuk berdebat tentang kebenaran karena takut kalah, ulama yang kerap menyatakan dirinya paling benar tentang pemahaman suatu ayat, ulama yang keras kepala, dan lain sebagainya. Mereka adalah ulama-ulama terbelakang yang harus segera ditinggalkan karena akan menghambat kemajuan umat Islam dalam “mengendalikan” manusia. Merekalah yang sesungguhnya membuat umat Islam tetap dalam kondisinya yang lemah dan terbelakang.

            Jujur saja, dengan banyaknya buku referensi yang bisa didapat hari ini dan praktik-praktik spiritual yang bisa dilakukan dengan lebih baik pada zaman ini, banyak sekali ayat Al Quran yang pemahamannya justru berbeda dibandingkan dengan pemahaman lama. Ayatnya tetap sama, tetapi pemahamannya bisa lebih baik. Ulama-ulama terbelakang akan mengatakan bahwa pemahaman yang telah berkembang itu sebagai “sesat” dan “kafir”. Termasuk pula pemahaman tentang QS Al Maidah : 51. Orang-orang menduga bahwa itu larangan untuk memilih Kristen dan Yahudi untuk menjadi pemimpin dalam berbagai situasi, baik perang maupun damai, termasuk dalam sistem politik demokrasi. Sesungguhnya, saya bisa membuat satu buku khusus tentang pemahaman yang benar mengenai QS Al Maidah : 51 yang lebih baik dan berbeda jauh dengan yang diduga orang saat ini. Saya bertanggung jawab penuh terhadap hal itu secara keilmuan. Seandainya ada penerbit yang tertarik menerbitkan naskah itu, saya bersedia menyusunnya untuk menjadi pemicu agar orang-orang berani berpikir, berani mengambil terobosan, dan berani memuliakan Islam dan kaum muslimin dengan cara-cara yang lebih logis, rasional, dan tidak irrasional. Dalam beberapa tulisan di blog ini pun, saya menulis sedikit tentang pemahaman saya tentang QS Al Maidah : 51, bahkan ada yang satu tulisan mencapai enam belas halaman. Saya sengaja menulis itu untuk menantang orang lain berdebat, siapa pun itu. Akan tetapi, ternyata tidak ada yang berani mendebat tulisan saya. Orang-orang mungkin terlalu pengecut dengan alasan “kita harus memperkecil perbedaan dan melebarkan persamaan”. Alasan itu tidak tepat di dalam ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan itu bersifat “jujur” serta akan mengatakan salah jika dirinya salah dan akan mengatakan benar jika dirinya benar. Alasan itu hanya tepat dalam hubungan hidup sehari-hari ketika kita bersosialisasi. Orang-orang tidak mau mendebat saya mungkin karena ingin selalu berbeda sehingga dapat menggunakan perbedaan itu untuk kepentingan politik dan ekonominya. Sungguh, pemahaman QS Al Maidah : 51 itu lurus dan hanya satu. Hal yang membuat berbeda adalah keterbelakangan dan penggunaan ayat untuk kepentingan politik dan ekonomi.

            Baru-baru ini saya mendengar ulama terbelakang berceramah tanpa ilmu pengetahuan yang benar sehingga menyesatkan orang lain.

            Pengen tahu?

            Dalam ceramahnya dia memuji-muji kemuliaan Ramadhan yang dibumbui dongeng tidak masuk akal, tetapi disampaikan seolah-olah benar.

            Ulama itu berkata, “Saking mulianya bulan Ramadhan yang penuh ampunan, orang-orang yang sekarang sedang disiksa di dalam neraka pun dihentikan siksanya. Mereka diberikan waktu untuk berhenti dari siksa selama bulan Ramadhan.”

            Para pembaca mungkin kalau tidak saya bahas sekarang akan langsung percaya. Apalagi jika ulamanya janggutnya panjang, bajunya longgar kayak orang-orang Arab, sorbannya sedikit lecek, dan di tangannya ada tasbih.

            Iya kan?

            Enak bener orang itu berceramah kayak yang tahu saja. Dia mungkin sudah dimabuk hormat sehingga apa pun yang dia katakan akan dipercaya orang lain. Mungkin para pengikutnya percaya saja 100%, tetapi saya tidak akan pernah percaya karena ceramahnya tidak masuk akal.

            Memangnya siapa yang sudah masuk neraka sekarang?

            Bukankah kiamat belum terjadi?

            Bukankah manusia dikumpulkan di padang Mahsyar belum terjadi?

            Bukankah hari pengadilan akhirat belum terjadi?

            Bagaimana mungkin pengadilannya belum digelar, tetapi sudah ada yang dihukum dalam neraka?

            Untuk apa ada pengadilan akhirat jika sejak sekarang sudah ada yang dihukum berada di dalam neraka?

            Bahkan, menurut Dr. Deden Suhendar, teman saya yang mendapatkan nilai cum laude dari Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Padjadajaran Bandung bahwa surga dan neraka itu “belum diciptakan”. Surga dan neraka diciptakan nanti setelah dunia ini dihancurkan. Berdasarkan keterangannya itu sudah pasti belum ada orang yang berada di dalam neraka karena nerakanya juga belum diciptakan.

            Kalau begitu, apa dasar ilmu yang digunakan ulama itu bahwa sudah ada orang yang berada dalam neraka saat ini?

            Itulah ulama terbelakang yang gemar menceramahkan dongeng-dongeng dan bukan ayat-ayat Al Quran.

            Umat Islam harus terbuka untuk menerima pemahaman baru mengenai Islam. Generasi muda pun harus berani “menggebyarkan” pemikiran-pemikiran baru tentang Islam dan jangan takut terhadap para ulama terbelakang yang gemar dengan cap “kafir dan sesat”. Islam itu mendorong kemajuan berpikir dan bukan membatasi hidup manusia  soal halal, haram, sunah, makruh saja. Islam adalah agama yang membebaskan manusia untuk berpikir dan berbuat lebih baik untuk manusia dan kemanusiaan dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt.

            Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Soekarno mengatakan dengan tegas sekali, Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah yang telah saya tuliskan di dalam satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan bukan hanya karena fardhu atau sunnah, melainkan juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh aturan jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batas zaman. Islam is progress. Progress berarti barang baru, barang baru yang lebih sempurna, yang lebih tinggi tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, creation baru.”

            Islam itu maju dengan pemikiran baru, bukan statis terkurung aturan-aturan tak logis.


            Sampurasun.

Wednesday, 10 May 2017

Presiden Jokowi Mungkin Kurang Beriman dan Berdosa

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Hahaha … hahahaha ….

            Kalian memang orang-orang bodoh, tolol, dan goblok!

            Hahaha ….

            Beginilah kalian, benar-benar bodoh. Kalian punya keyakinan, punya pendapat, dan memperjuangkannya mati-matian, tetapi kalian melanggarnya sendiri.

            Hahahahaha ….

            Menurut kalian, QS Al Maidah : 51 itu adalah ayat larangan untuk memilih pemimpin yang beragama Yahudi dan Kristen dalam situasi apa pun, baik perang maupun damai, dalam sistem politik apa pun, termasuk demokrasi. Oleh sebab itu, Ahok yang memiliki pendapat lain berdasarkan pandangan kenalannya yang beragama Islam tentang ayat itu divonis bersalah. Itu artinya, baik langsung maupun tidak langsung, vonis hakim itu membenarkan pemahaman bahwa QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk memilih pemimpin beragama Kristen. Kalau pemahaman itu tidak dianggap benar, tak ada alasan untuk menghukum Ahok. Karena pemahaman itu dianggap benar, Ahok dinyatakan bersalah.

            Iya toh?

            Koreksi saya jika saya salah.

            Kalau begitu, Jokowi adalah orang Islam yang kurang beriman dan berdosa karena telah memilih orang Kristen untuk menjadi menteri.

            Siapa bilang menteri itu bukan pemimpin?

            Menteri adalah pemimpin di departemennya dan memimpin mengelola masyarakat sesuai dengan bidang kerjanya. Orang Kristen yang dipilih Jokowi untuk menjadi menteri sudah pasti akan memimpin departemennya yang dipenuhi orang Islam untuk mengelola masyarakat Islam. Artinya, Jokowi telah memilih orang Kristen untuk memimpin umat Islam.

            Karena umat Islam dilarang menjadikan orang Kristen sebagai pemimpin, berarti Jokowi kurang beriman dan berdosa karena tidak mematuhi QS Al Maidah : 51.

            Begitu kan?

            Hahahahaha …. Benar-benar bodoh kalian!

            Menteri Agama RI yang beragama Islam itu pun kurang beriman dan berdosa karena mau-maunya dijadikan menteri oleh presiden yang kurang beriman dan jelas telah berdosa melanggar QS Al Maidah : 51. Di samping itu, ia pun tidak pernah mengingatkan Jokowi agar tidak memilih menteri beragama Kristen. Bertambahlah dosa Menteri Agama karena tidak mengingatkan Jokowi sebagai saudara sesama muslim.

            Anggota DPR dan DPD pun sama-sama kurang beriman dan berdosa karena tidak pernah mengingatkan presiden tentang QS Al Maidah : 51 itu sehingga Jokowi menjadikan orang Kristen untuk menjadi pemimpin bagi umat Islam. Tak ada protes dari anggota legislatif yang pro-pemahaman bahwa QS Al Maidah : 51 adalah ayat yang  melarang untuk memilih pemimpin beragama Kristen.

            Mengapa mereka tidak protes kepada Presiden soal menteri beragama Kristen itu?

            Mereka tidak protes karena mereka bodoh!

            Para pemimpin Ormas Islam pun tidak ada yang protes soal itu. Tenang-tenang saja. Itu artinya, para pemimpin Ormas Islam pun kurang beriman dan berdosa karena tidak mengingatkan presiden soal itu.

            Mengapa para pemimpin Ormas Islam yang memahami QS Al Maidah : 51 adalah larangan memilih pemimpin beragama Kristen itu tidak mengingatkan presiden?

            Mereka tidak mengingatkan presiden karena mereka bodoh!

            Sudah tahu dilarang yang akan mengakibatkan dosa, eh dibiarkan. Benar-benar bodoh kalian.

            Partai-partai apalagi jelas sekali kurang beriman dan berdosa. Di dalam tubuh partai-partai itu dipenuhi banyak pemimpin, mulai ketua umum, wakil, Sekjen, ketua bidang, kepala biro, ketua departemen, ketua wilayah, ketua daerah, ketua cabang, ketua ranting, dan rupa-rupa jabatan lainnya yang semuanya adalah pemimpin di levelnya masing-masing. Di dalam partai-partai nasionalis itu saya duga sangat keras ada banyak pemimpin beragama Kristen pada level masing-masing. Akan tetapi, anehnya ada di antara partai-partai itu yang meyakini dan mendukung pemahaman bahwa QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk menjadikan orang Kristen sebagai pemimpin. Bahkan, semangat sekali mereka menjatuhkan Ahok alias Basuki Tjahaya Purnama.

            Mengapa mereka membiarkan orang-orang Kristen untuk menjadi pemimpin pada berbagai level di dalam tubuh partainya, padahal mereka yakin bahwa orang Kristen dilarang untuk menjadi pemimpin sehingga seru sekali menjerumuskan Ahok ke penjara?

            Mereka berperilaku seperti itu karena mereka orang-orang bodoh!

            Partai-partai Islam juga sama dipenuhi oleh orang-orang kurang beriman dan berdosa karena tak jarang mereka juga berkoalisi untuk kepentingan tertentu dengan partai-partai nasionalis yang memiliki banyak pemimpin di setiap level yang beragama Kristen.

            Mengapa partai-partai Islam yang berpendapat bahwa QS Al Maidah : 51 itu adalah larangan untuk memilih pemimpin beragama Kristen mau bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki banyak pemimpin Kristen untuk memimpin umat Islam di dalam partainya?

            Mereka melakukan itu karena mereka bodoh!

            Sudah tahu Kristen dilarang menjadi pemimpin umat Islam, eh malah bekerja sama lagi. Benar-benar bodoh kalian.

            Rakyat juga sama kurang beriman dan berdosa karena tidak ada yang mengingatkan presiden, anggota legislatif, dan partai-partai soal itu. Jadi, negeri ini memang negeri orang-orang kurang beriman dan berdosa.

            Mengapa rakyat yang memahami QS Al Maidah : 51 sebagai larangan memilih pemimpin beragama Kristen itu tidak ada yang protes soal menteri beragama Kristen dan soal partai-partai yang memiliki banyak pemimpin Kristen pada setiap level?

            Mereka tidak protes karena mereka bodoh!

            Rakyat malah lebih banyak dosanya. Sudah tahu dilarang menjadikan orang Kristen menjadi pemimpin, eh malah bekerja di perusahaan-perusahaan yang dipimpin dan dimiliki orang Kristen. Mereka bersukarela untuk dipimpin oleh orang Kristen di tempat kerjanya. Padahal, jangankan berharap dapat bekerja dipimpin orang Kristen, memilihnya pun tidak boleh.

            Mengapa mereka yang memahami QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk memilih pemimpin Kristen, tetapi berusaha keras untuk mendapat pekerjaan di tempat-tempat yang dimiliki dan dipimpin oleh orang Kristen?

            Mereka melakukan itu karena mereka bodoh!

            Sekarang para hakim.

            Halo para hakim, otak Anda sedang sehat?

            Kalaulah ada hakim yang setuju terhadap pemahaman QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk memilih pemimpin Kristen, mestinya mereka protes terhadap pemimpin-pemimpin Kristen di level apa pun di lembaga kehakiman karena itu adalah salah dan sangat dilarang. Kalau mereka membiarkannya, berarti sama dengan perilaku orang-orang Kepulauan Seribu yang tidak protes dan marah ketika Ahok berpidato menyinggung soal QS Al Maidah : 51. Orang-orang di Kepulauan Seribu dikatakan Novel yang jadi saksi pelapor itu sebagai “orang yang kurang iman”. Jadi, para hakim yang membiarkan orang-orang Kristen untuk menjadi pemimpin di level apa pun di lembaga kehakiman adalah hakim-hakim muslim yang kurang beriman dan berdosa karena tidak memperjuangkan QS Al Maidah : 51.

            Is that clear?

            Mengapa para hakim yang setuju terhadap pemahaman QS Al Maidah : 51 adalah larangan untuk memilih pemimpin beragama Kristen tidak protes atas adanya para pemimpin Kristen di lingkungan kehakiman?

            Mereka melakukan itu karena mereka …..

            Halo para hakim, otak Anda sedang sehat?

            Pokoknya, tidak boleh ada pemimpin beragama Kristen yang memimpin umat Islam dalam hal apa pun dalam level apa pun karena begitulah menurut orang-orang yang pro pemahaman QS Al Maidah : 51 sebagai larangan memilih orang Kristen.

            Mau berdebat dengan saya?

            Saya tunggu!

            Sudahlah, di negeri ini jangan ada lagi pemimpin beragama Kristen, baik itu di bidang olah raga, seni, budaya, kemasyarakatan, keamanan, organisasi profesi, organisasi ekonomi. Kita harus membersihkan diri dari semua kepemimpinan yang dipegang oleh orang Kristen, baik itu RT, RW, kepala ronda, kepala koperasi, pemimpin paduan suara, ketua kontingen catur, badminton, tenis meja, pilot pesawat terbang, nakhoda, pemimpin bengkel, pemimpin persatuan ojek, ketua ikatan mahasiswa, kepala asuransi, dan rupa-rupa kepemimpinan lainnya.

            Silakan saja teruskan kebodohan kalian karena kalian memang orang-orang bodoh. Saya tidak mau ikut-ikutan bodoh. Bagi saya, Jokowi adalah orang Islam yang baik dan tetap beriman meskipun menjadikan orang-orang Kristen sebagai pemimpin bagi umat Islam di Indonesia.


            Sampurasun.