Showing posts with label Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Pesantren. Show all posts

Tuesday, 13 June 2023

Ternyata Temannya Kawan Lama

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Awal Ramadhan 2023 anak bungsu saya yang masih SMP ikutan pesantren kilat (Peskil) di Al Basyariyah 3, Arjasari, Kabupaten Bandung. Sambil mengantar anak saya waktu hari pertama masuk pesantren, saya ngobrol-ngobrol dengan siswa kelas 12 MA Al Basyariyah 3 barangkali mereka mau meneruskan kuliah ke Universitas Al Ghifari, saya bisa bantu. Beberapa hari kemudian, pemimpin Al Basyariyah 3 menelepon saya mengajak diskusi soal kelanjutan pendidikan anak-anak didiknya. Akan tetapi, kebetulan saya sakit jadi tidak bisa menemuinya. Baru beberapa hari kemarin saya bisa menemuinya.

            Setelah bertemu, ya berdiskusi soal pendidikan, kondisi ekonomi masyarakat untuk meneruskan studi, termasuk kemungkinan adanya beasiswa bagi mahasiswa. Banyak hal yang dibicarakan, malah sedikit melebar ke arah situasi politik saat ini. Di tengah-tengah obrolan pemimpin Al Basyariyah 3 itu bilang bahwa punya teman satu kobong ketika di pesantren dulu. Temannya ini kabarnya sering ke Al Ghifari.




            Ternyata, temannya itu kawan lama saya juga, malah berkali-kali ke rumah karena dia ingin bisa menulis naskah dan ingin belajar dari saya. Obrolan pun semakin cair dan tidak lagi terlalu kaku seperti seperti bicara dengan ustadz atau kiyai. Biasa saja kayak teman biasa karena terhubung dengan teman dia dan kawan lama saya juga yang sempat kuliah di Suriah sebelum terjadi perang dengan Isis.

            Intinya, terjadi hubungan yang baik untuk saling membantu, khususnya pendidikan untuk generasi muda agar dapat menghadapi masa depan yang dipenuhi persaingan dan untuk menempati berbagai posisi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan Negara Indonesia.

            Sampurasun.

Tuesday, 1 February 2022

Kalau Tidak Dicabuli, Jadi Teroris

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Berita akhir-akhir ini banyak yang menyedihkan, mengerikan, menjengkelkan, sekaligus membuat marah.

            Bagaimana tidak memusingkan?

Lembaga-lembaga keagamaan yang seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia, ternyata disusupi para pemangsa seks. Beneran rusak nih orang-orang.

            Belum lepas kita dari kekagetan pemaksaan seks itu, muncul lagi berita dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bahwa terdapat 198 pesantren yang terafiliasi atau bekerja sama dengan kelompok-kelompok radikal terorisme.

            Bagaimana kumaha ini teh?

            Masyarakat jadi ketakutan untuk menitipkan anak-anaknya di pesantren. Masyarakat berharap bahwa lembaga pesantren dapat menjadikan anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi yang unggul tercerahkan dan mampu bermanfaat bagi agamanya, dirinya, keluarganya, masyarakat, dan bangsanya dengan berbagai hal yang positif. Akan tetapi, dengan berseliwerannya berita-berita seperti itu, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap pesantren.

            Kalau pesantren sudah tidak dipercaya, bagaimana nasib akhlak generasi muda ke depan?

            Meskipun demikian, ada berita baik bahwa yang terdeteksi itu hanya 198 pesantren. Artinya, pesantren yang baik-baik saja dan tetap baik jauh lebih banyak. Pesantren yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) saja berjumlah sekitar 23 ribu pesantren, belum lagi yang dimiliki Muhammadiyah, Persis, dan Ormas-Ormas lainnya. Masyarakat tidak perlu terlalu ketakutan, hanya memang harus waspada dan pandai berhati-hati memilih pesantren. Kalau salah memilih, anak-anaknya bisa jadi korban pencabulan atau pelaku terorisme.

            Sebetulnya, bukan cuma pesantren yang terdeteksi, melainkan pula perguruan-perguruan tinggi dan rumah-rumah tahfidz tersusupi pula oleh perilaku seksual bejad dan pemikiran-pemikiran radikal. Kasad TNI Jenderal Dudung pun dengan tegas menyatakan bahwa mahasiswa sudah disusupi dan menjadi target gerakan radikalisme. Oleh sebab itu, seluruh prajurit TNI AD diperintahkannya untuk mencermati simpul-simpul lokasi gerakan radikal itu. Dengan demikian, jika situasi mengarah pada kerusakan, TNI AD dapat langsung memberangusnya. Kata-katanya sangat tegas bahwa prajurit TNI tidak boleh menjadi penakut  dan pengecut seperti ayam sayur, tetapi harus menjadi pemberani dan pemenang untuk menyelamatkan NKRI.

            Intelijen, TNI, BNPT, kepolisian, Densus 88 bergerak dalam bidang penegakkan hukum untuk memberantas berbagai perilaku menyimpang. Akan tetapi, tidak cukup kekuatan mereka untuk melakukannya. Pesantren-pesantren dan lembaga-lembaga lainnya yang baik-baik dan shaleh-shaleh harus pula ikut terlibat dan bersuara dalam membersihkan dirinya dari racun-racun yang mengatasnamakan pesantren, tetapi menyimpang tersebut. Memang jumlah para penjahat itu sangat kecil, tetapi ibarat pepatah “hanya karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Jumlah yang kecil itu, 198, membuat rusak nama baik pesantren yang jumlahnya puluhan ribu. Susu yang putih bersih dan suci pun menjadi ungu pucat karena nila setitik itu.

            Beranilah bersuara dan bertindak untuk membersihkan diri karena itu senilai dengan jihad besar. Jihad kecil itu mudah, hanya membunuh, terbunuh, merusak, dirusak, mengebom, dibom, hidup, mati, menyakiti, disakiti, menang, atau kalah. Jihad besar itu sulit karena harus memperbaiki diri dari dalam.  Jika kita ibaratkan umat Islam ini bagaikan satu tubuh, tentunya jika bagian anggota tubuh kita ada yang salah, kita harus memperbaikinya agar seluruh tubuh dapat lagi bergerak secara terkoordinasi sesuai dengan fungsinya masing-masing.

            Adalah sangat tepat jika penyimpangan yang dilakukan dalam pesantren, diperbaiki oleh pesantren juga. Hal itu sebagaimana para habib yang menyimpang diperbaiki pula oleh para habib yang lurus.

            Jangan takut melangkah di jalan yang benar untuk berperan serta mewujudkan rahmat bagi semesta alam sehingga hidup menjadi lebih baik dan dunia terasa lebih indah. Allah swt bersama para penebar cinta.

            Sampurasun.

Friday, 10 December 2021

Diperkosa Itu Satu Kali, Bukan Berkali-Kali

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kejadian yang dilakukan Herry Wirawan yang telah melakukan kekerasan seksual pada santriwatinya di Yayasan Pendidikan dan Sosial Manarul Huda: Boarding School, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung telah menghebohkan sangat banyak orang di Indonesia ini, bahkan mungkin di dunia karena zaman sekarang ini berita sangat mudah sekali tembus ke berbagai negara. Saya jadi teringat kasus yang pernah melibatkan mantan Bupati Garut Aceng Fikri yang menikahi gadis 17 tahun dan kemudian berrmasalah, banyak orang Pakistan, India, Brunei, Inggris, dan Amerika Serikat yang bertanya-tanya. Kasus kawin kontrak di Puncak, Bogor pun menjadikan warga Inggris banyak bertanya kepada saya.

            Karena kasus Herry Wirawan yang dianggap telah memperkosa santriwatinya sejumlah 12, ada yang bilang 14, bahkan kalau lapor semuanya akan lebih dari itu jumlahnya, membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung menyatakan sikap. Ada tujuh pernyataan sikap yang dikeluarkan MUI. Dari ketujuh pernyataan itu, enam saya setujui, tetapi satu sikap MUI yang saya tidak setujui, yaitu imbauan MUI agar masyarakat tidak  menyebarkan atau terus-terusan membicarakan berita buruk ini. MUI menginginkan agar berita ini segera tertutup dan tidak lagi menjadi bahan perbincangan masyarakat.

            Jujur saja, bagi saya, berita ini justru harus semakin dihebohkan dan dibicarakan agar ada otokritik dan perubahan ke arah yang lebih baik lagi dalam lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia ini, khususnya di lembaga-lembaga keagamaan. Dari data Kompas, di seluruh lembaga pendidikan di Indonesia ini terdapat kasus kekerasan seksual. Pelecehan seksual yang tertinggi ada di universitas, lalu peringkat kedua ada di pesantren, kasus yang paling sedikit ada di lembaga vokasi. Ngeri jika melihat data itu. Oleh sebab itu, kasus seperti ini harus terus dibicarakan agar setiap orang dapat memberikan masukan, kritikan, dan jalan keluar yang lebih baik. Bukan hanya harus menjadi urusan para kiyai, ulama, ustadz, pemerintah, atau pengelola lembaga tentang hal ini, melainkan pula masyarakat umum, para orangtua, akademisi, dan lapisan masyarakat lainnya harus tahu agar dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk menghentikan kasus-kasus seperti ini.

            Saya jadi teringat waktu kecil dulu ketika masih suka tawuran dan main “gank-gank-an”, saya suka membuli anak-anak ustadz dengan menghina bapaknya dengan kata-kata “Ustadz Cabul”. Saya ikut-ikutan anak yang lebih besar daripada saya. Istilah ustadz cabul itu tentunya lahir dari memang adanya perilaku cabul yang terjadi mungkin dari jauh sebelum saya lahir. Artinya, perilaku bejat itu sudah terjadi sejak lama dan terus berulang hingga saat ini. Kalau mau jujur, kasus ini ada di banyak kota dan banyak lembaga pendidikan. Kepolisian punya data yang sangat lengkap. Menkopolhuhkam Mahfudz M.D. pun pasti punya banyak data.

            Kalau ada yang merasa risih dan ingin kasus ini tidak lagi dibicarakan, saya malah curiga. Kemungkinannya ada dua, yaitu kebagian ikutan menikmati seksual atau menikmati uang hasil “ngamen”  Si Herry Wirawan. Saya dengar dalam membangun lembaga pendidikannya, dia mengumpulkan sumbangan dari para donatur, mengambil hak santri dari dana Program Indonesia Pintar (PIP), dan penggunaan dana Bos yang tidak jelas. Kemudian, anak-anak yang lahir dari para santriwati akibat perbuatan Si Herry itu diklaim sebagai anak yatim piatu yang juga dijadikan bahan untuk meminta sumbangan. Hiii … ngeri ….

            Siapa yang harus bertanggung jawab?

            Kita semua!

            Saya sebenarnya selalu tidak percaya jika ada orang yang melaporkan kasus perkosaan kepada kepolisian dengan jumlah perkosaan berulang-ulang, berkali-kali. Pernah ada yang lapor ke polisi mengaku telah diperkosa sebanyak 141 kali. Saya suka pengen ketawa.

            Masa diperkosa sampai sering begitu?

            Diperkosa itu satu kali. Seharusnya, Sang Perempuan melawan, lalu segera lapor ke polisi. Kalau sampai berkali-kali hingga ratusan kali, bahkan bertahun-tahun, itu bukan perkosaan. Itu mah ceweknya juga keenakan, ikut menikmati. Ketika cowoknya bosan dan tidak lagi peduli, ceweknya marah dan kecewa, sakit hati, lalu lapor polisi, ngakunya diperkosa, padahal cowoknya sudah pindah ke lain hati. Diperkosa itu hanya sekali harusnya.

            Akan tetapi, berbeda dengan kasus yang dilakukan Si Herry ini. Dari beberapa sumber informasi, lembaga pendidikannya tertutup, pemimpinnya tidak bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, komunikasi dengan orangtua dibatasi, Hp tidak boleh digunakan, pulang kepada orangtua hanya satu tahun sekali, tidak ada pendampingan dari lembaga berwenang lainnya, tidak ada pengawasan, tidak diakui sebagai bagian dari MUI, dibantah sebagai bagian Forum Pondok Pesantren Kota Bandung, santriwatinya berasal dari keluarga ekonomi sangat lemah, diiming-imingi pesantren gratis, serta hal-hal lainnya yang membuat para santriwati tertekan, terancam, dan terkendalikan. Para santriwati itu masih di bawah umur, anak-anak berusia antara 13 s.d. 16 tahun yang jauh dari perlindungan orangtua dan kerabat di kampungnya.

            Kebejatan Herry ini sudah berlangsung dari 2016 sampai dengan dibongkar para netizen pada akhir 2021. Artinya, sudah lima tahun dia melakukan kejahatan itu terhadap murid-muridnya yang seharusnya dia lindungi dan dia siapkan masa depannya dengan lebih baik. Dalam lima tahun dia telah membuat belasan anak-anak perempuan kehilangan keperawanannya, merusakkan jiwanya, menganggu masa depannya, menghancurkan harapan para orangtua, merusakkan nama baik para ustadz, merendahkan kesucian pesantren, dan merontokkan hal-hal lainnya. Berbeda dengan saya yang dalam lima tahun bisa membuat belasan, bahkan puluhan perempuan menjadi sarjana (sombong dikit pada para penjahat boleh kan?). Bahkan, ke depan mungkin ratusan perempuan bisa jadi sarjana (berharap boleh kan?), insyaallah.

            Bagi saya, perilaku seperti yang dilakukan Herry ini adalah penghinaan kepada Islam. Dia menggunakan agama untuk kepentingan uang dan hasrat seksual yang tak terkendali. Dia menggunakan istilah kelembagaan pendidikan Islam, tetapi justru lembaganya digunakan untuk melakukan pelanggaran dan penentangan terhadap ajaran Islam. Seharusnya, mereka yang gemar berteriak-teriak di jalanan dengan menuduh orang sebagai penghina Islam, juga ikut menyuarakan penghinaan yang dilakukan orang-orang semacam Herry sebagai penista agama, bukannya diem-diem bae. Kita semua warga bangsa harus bersama-sama mengatasi hal ini karena ini menentukan masa depan bangsa Indonesia.

            Kepada siapa lagi kita menitipkan bangsa ini kalau bukan kepada anak-anak kita yang sekarang masih duduk di bangku sekolah?

            Bagaimana jadinya masa depan negeri ini jika generasi muda kita dirusakkan oleh kita sendiri?

            Pemerintah, lembaga-lembaga keagamaan, rakyat, dan kita semua harus sensitif terhadap hal-hal seperti ini. Jangan sampai lembaga-lembaga pendidikan lainnya, terutama pesantren menjadi buruk citranya karena sesungguhnya sangat banyak pesantren yang diasuh oleh orang-orang baik, teruji, terpercaya, dan telah melahirkan lulusan-lulusan yang memberikan manfaat besar kepada masyarakat dan bangsa. Bagi masyarakat yang ingin menitipkan anak-anaknya ke pesantren, teliti dulu lembaga itu dengan baik. Jangan hanya karena iming-iming gratis dan janji-janji palsu, tergiur untuk membiarkan anak-anaknya diasuh oleh para penjahat.

            Sampurasun.

 

 

https://jabar.tribunnews.com/2021/12/10/mui-kota-bandung-minta-warga-berhenti-sebar-berita-buruk-aib-kasus-herry-wirawan-perkosa-santriwati

https://www.youtube.com/watch?v=QCz7eu57yj4

Sunday, 17 June 2018

Antara Ilmu Umum dan Ilmu Agama

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Istilah ilmu umum dan ilmu agama sampai hari ini ternyata masih terus digunakan dengan sangat lucunya. Masih teramat banyak orang yang memisahkan antara ilmu umum dengan ilmu agama yang ditandai dengan ilmu umum didapat dari sekolah umum atau konvensional, sedangkan ilmu agama didapat dari madrasah atau pesantren. Hal yang sungguh menggelikan dan menyesatkan adalah banyaknya pendapat bahwa ilmu umum adalah untuk kepentingan duniawi dan ilmu agama adalah untuk kepentingan akhirat dengan harapan bahwa orang-orang akan lebih memilih lembaga pesantren dibandingkan sekolah biasa.

            Kalimat semacam ini masih sering saya dengar, “Buat apa sekolah umum, tetapi tidak tahu agama? Lebih baik masuk pesantren karena akan menjadikan anak-anak kita menjadi ahli agama dan masuk surga.”

            Membedakan ilmu umum dengan ilmu agama adalah sungguh membingungkan dan menyesatkan. Sesungguhnya, tidak ada itu ilmu umum dan ilmu agama karena semua ilmu berasal dari Allah swt. Soal ilmu itu untuk kepentingan duniawi atau akhirat sangat bergantung pada pemilik ilmu tersebut. Misalnya, seorang dokter yang membaktikan hidupnya untuk kemanusiaan dengan niat untuk mengabdikan diri kepada Allah swt sama sekali tidak bisa dibilang ilmunya hanya sebatas kepentingan duniawi. Dia akan mendapatkan bagian pahala yang besar di akhirat kelak. Hal itu berarti ilmu kedokteran yang jelas tidak ada di pesantren dan didapat dari perguruan tinggi umum akan membawanya ke surga. Sebaliknya, lulusan pesantren yang menggunakan ilmunya hanya untuk kepentingan duniawi, ingin dihormati orang lain, ingin dipuja-puji, ingin dipatuhi sebagai orang paling suci, bahkan menyesatkan orang dengan memutarbalikkan fakta, ilmunya jelas digunakan hanya untuk kepentingan duniawi dan akan membawanya ke neraka.

            Sesungguhnya, bangsa ini sudah melakukan banyak hal untuk mendamaikan hal tersebut dengan adanya Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, termasuk SD Plus, SMP Plus, SMA Plus, atau SMK Plus. Di dalam lembaga-lembaga pendidikan tersebut diajarkan apa yang disebut-sebut sebagai ilmu umum dan ilmu agama. Demikian pula pada banyak pesantren dilengkapi dengan keterampilan wirausaha, pertanian, peternakan, atau yang lainnya. Akan tetapi, masih saja ada pihak-pihak yang berpikiran kuno bahwa lembaga-lembaga tersebut pun masih lebih rendah dibandingkan pesantren murni dalam arti masih termasuk lembaga pendidikan umum dan berorientasi duniawi.

            Sungguh, saya merasa ngeri dengan hal ini, apalagi jika sudah berpengaruh pada generasi muda yang juga pada akhirnya berkecenderungan berpikiran sama kolotnya. Mereka sama sekali tidak berpikir bagaimana mungkin kita, bangsa Indonesia, bisa memiliki masjid sehebat Istiqlal jika hanya mengandalkan pesantren. Masjid itu berdiri megah bukan karena ilmu dari pesantren, melainkan dari ilmu arsitektur.

            Di samping itu, jika yang disebut ilmu agama itu hanya sebagaimana yang diajarkan di pesantren, sangatlah sempit arti dari ajaran Islam itu sendiri. Dalam kata lain, ilmu Islam hanyalah yang didapat dari pesantren. Di luar itu bukan ilmu Islam. Hal ini harus dibenahi karena ilmu Islam itu meliputi seluruh ilmu, baik ilmu yang sudah ditemukan maupun ilmu yang belum ditemukan. Kita bisa lihat sejarah bahwa pendekar-pendekar ilmu pengetahuan di muka Bumi ini dipenuhi orang-orang Islam yang saleh. Ilmu kedokteran, matematika, fisika, kimia, astronomi, aerounotika, dan lain sebagainya yang disebut-sebut ilmu umum dikuasai orang-orang Islam dan menjadi dasar ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan umum di seluruh dunia.

            Tidak perlulah mendikotomikan ilmu umum dengan ilmu agama karena itu akan mempersempit arti Islam sendiri. Kalau mau, gunakan istilah ilmu umum dan ilmu khusus. Kedua ilmu itu berasal dari Allah swt dan harus saling melengkapi. Ilmu umum untuk membekali manusia agar bermanfaat bagi manusia lain dan seluruh alam semesta dengan segala keterampilannya, sedangkan Ilmu khusus sangat berguna untuk memagari manusia agar ilmunya tidak digunakan untuk melakukan kejahatan kepada sesama manusia dan alam semesta. Sesungguhnya, pesantren dan sekolah konvensional seharusnya saling mendukung agar manusia semakin sempurna mengabdikan diri kepada Allah swt. Tidak perlu ada persaingan di antara lembaga pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya.

            Sampurasun

Thursday, 4 October 2012

Pesantren Perlu Wawasan Kebangsaan





 oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Selama ini, terutama sejak Orde Baru berkuasa, kalangan pesantren seolah-olah terpinggirkan dalam berperan serta membangun bangsa dan menikmati kue pembangunan. Mereka seakan-akan sebuah komunitas yang hampir terpisah dari masyarakat umum. Kaum pesantren selalu tercurigai akan mengubah tatanan negara menjadi negara yang sesuai dalam pemikiran pesantren. Bahkan, parahnya, para santri kerap disudutkan sebagai lapisan masyarakat yang mengganggu kemapanan karena memiliki berbagai ide dan gagasan yang berasal dari pengetahuan yang didapatnya dari pesantren. Dalam hal politik, kalangan pesantren mendapatkan perhatian khusus, baik itu dijadikan sebagai lawan politik atau dimanfaatkan suaranya untuk kepentingan politik. Kondisi-kondisi seperti itu menjadikan pesantren lebih terpisah dibandingkan masyarakat pada umumnya.

            Karena situasi dan kondisi yang seolah-olah meminggirkan pesantren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, para santri lebih bertekad dan memantapkan bahwa dirinya memang berbeda dibandingkan masyarakat lainnya. Mereka merasa memiliki kewajiban untuk mengubah pandangan dan sikap masyarakat sesuai ilmu pengetahuan yang mereka miliki dari pesantren. Sementara itu, ilmu pengetahuan yang didapat dalam pesantren sangat sedikit mengenai wawasan kebangsaan, bahkan mungkin tidak ada. Mereka memang mempelajari Al Quran, Hadits, Tarikh, dan hal-hal lain yang sangat erat dengan kultur Arab. Akan tetapi, teramat kurang memahami kultur dan sejarah bangsa. Oleh sebab itu, tak heran dalam pikiran, sikap, dan perilakunya cenderung kearab-araban. Lihat saja dari cara mereka berpakaian, gayanya lebih ke Timur Tengah.

            Karena kurangnya wawasan kebangsaan, pesantren sangat rawan menjadi tempat perekrutan aktivitas terorisme. Para perekrut itu menggunakan bahasa Arab serta menukil ayat Al Quran   dan Hadits tentang kewajiban jihad di samping bergaya dan berpakaian sama dengan para santri. Kaum muda pesantren yang memiliki ghirah Islam tinggi menjadi merasa sangat dekat dengan para perekrut itu karena memiliki banyak kesamaan. Kemudian, meyakini bahwa para perekrut teroris itu adalah para mujahid ulung, pencari kesyahidan kelas kakap, jundullah nomor wahid. Padahal, ayat Al Quran, Hadits, tarikh, dan keterangan lainnya tentang jihad yang mereka ajarkan kepada para santri muda itu hanya sepotong-sepotong, malahan ada yang diputarbalikkan mirip sekali dengan kebiasaan orang Yahudi yang gemar memutarbalikkan fakta. Di samping itu, para santri muda lebih mendekat kepada para perekrut dan penghasut itu disebabkan pula oleh kenyataan bahwa orang-orang yang berasal dari luar pesantren, kemudian menduduki jabatan penting di Indonesia melakukan banyak kejahatan, misalnya, korupsi, kriminal, dan kejahatan dosa individual, seperti, pelacuran, judi, narkoba, dan mabuk-mabukan di samping melecehkan kaum santri. Perilaku buruk dari oknum penyelenggara negara tersebut memantapkan para santri dan aktivis Islam bahwa sesungguhnya merekalah yang lebih pantas mengelola negara. Jalan pintas untuk menguasai negara itu adalah tindakan terorisme. Mereka pun mengambil jalan pintas tersebut meskipun sesungguhnya mereka telah tertipu oleh para petualang busuk yang menggunakan Islam untuk membuat kekacauan di Indonesia. Orang-orang busuk itu jelas digerakkan syetan yang terdiri atas jin dan manusia untuk membuat kehidupan manusia tidak harmonis dan selalu dalam kekusutan.

       Dengan memperhatikan fenomena tersebut, menjadi sangat penting wawasan kebangsaan ditanamkan kepada para santri. Wawasan kebangsaan yang harus dikembangkan bukanlah sebagaimana yang sudah-sudah, perlu perubahan mendasar dalam materi dan penyampaiannya. Pemberian wawasan kebangsaan di kalangan pesantren bukanlah untuk “mencekoki” para santri dengan pemahaman kebangsaan yang hitam dan penuh dusta, melainkan untuk membuka mata para santri. Di samping itu, pengembangan wawasan kebangsaan tersebut dimaksudkan untuk lebih mendekatkan para santri dengan masyarakat umum dan negara agar lebih percaya diri dalam berperan serta membangun bangsa.

            Adalah kejahatan dusta yang telah terjadi puluhan tahun di negeri ini bahwa yang namanya materi wawasan kebangsaan dan atau wawasan nusantara berikut sejarahnya selalu mengecilkan bahkan menghilangkan peranan pesantren dalam perjalanan sejarah bangsa. Padahal, pesantren merupakan ujung tombak yang sangat kuat dan tajam dalam memerdekakan Negara Indonesia. Para pemimpin pesantren dan santrinya menyerukan jihad melawan penjajahan Belanda. Dengan teriakan Allahu Akbar, mereka bertaruh nyawa untuk kemerdekaan Indonesia. Kisah-kisah inilah yang tampaknya terhapus atau memang sengaja dihapus dalam berbagai materi mengenai kebangsaan di Indonesia.
             
            Kita semestinya berlaku jujur dalam mengisahkan perjalanan bangsa. Kalau pada masa Orde Baru, memang terasa sekali peranan umat Islam dari kalangan pesantren dihilangkan atau dikecilkan dalam memori anak-anak negeri. Hal itu disebabkan ada ketakutan terhadap Islam dan kepentingan politik tertentu yang tidak menghendaki kekuatan Islam untuk berperan serta membangun bangsa. Malahan, dalam banyak hal, kelompok-kelompok Islam dituduh sebagai pihak yang mengganggu kepentingan bangsa.
           
        Kita bisa memulai penambahan wawasan kebangsaan di kalangan pesantren dengan mengisahkan perjuangan pesantren dalam memerdekakan dan mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia. Kita bisa mengetengahkan profil kaum santri yang nyata-nyata berperan teramat besar dalam membentuk Negara Indonesia. Para santri yang sudah nyata tersebut, misalnya, HOS Cokroaminoto, Haji Agus Salim, Mohamad Natsir, Buya Hamka, termasuk Ir. Soekarno, dan lain sebagainya. Berikan kisah yang jujur jangan dipotong-potong tentang orang-orang itu, jangan menghitamkan sejarah. Kemudian, kemukakan cita-cita orang itu dalam mengusir penjajah dan berperan besar dalam membentuk Negara Indonesia.
         
          Di samping itu, gali pula sejarah di tingkat lokal. Cari sejarah para santri yang menjadi pahlawan di tingkat lokal agar para santri pada zaman ini merasa terhubung dengan sejarah Indonesia. Misalnya, kisah Hasan Arif yang melakukan pemberontakan di Cimareme, Garut, Jawa Barat. Saya yakin orang-orang dan atau santri-santri Garut sendiri banyak yang tidak mengenalnya, apalagi santri se-Indonesia. Padahal, kisahnya heroik bukan main. Sejak remaja Hasan Arif sudah teramat berani menentang penjajahan meskipun sendirian. Ia menolak keras untuk melakukan kerja paksa yang diwajibkan oleh Belanda. Akibat dari penolakannya itu, ia bersitegang dengan kontrolir Belanda. Saking ngototnya Hasan Arif untuk meninggalkan kerja paksa, Sang Kontrolir Belanda mencabut pistol untuk menembaknya. Akan tetapi, Hasan Arif tidak gentar, matanya tetap nyalang menantang. Hasan Arif berhadap-hadapan dengan kontrolir Belanda itu, duel. Hasan Arif tak bersenjata apa pun, sedangkan kontrolir itu memegang pistol yang hanya tinggal menarik pelatuknya untuk menembak. Para penduduk kampung cemas terhadap keselamatan Hasan Arif karena pistol kontrolir itu bisa meletus sewaktu-waktu dan pelurunya membunuh Hasan Arif. Walaupun cemas, penduduk kampung tidak mampu melakukan apa pun karena takut oleh Belanda. Mereka hanya menonton ketegangan itu dalam kondisi yang tegang juga.

Akan tetapi, apa yang terjadi?

Tangan kontrolir Belanda itu tiba-tiba gemetar, tak mampu membuat pistolnya meletus. Hasan Arif pun dalam kondisi garang meninggalkan duel yang tertunda itu, pergi meninggalkan keinginan penjajah untuk melakukan kerja paksa.

Pada masa dewasanya, Haji Hasan Arif diserahi tugas oleh ayahnya untuk memimpin pesantren. Pada masa kepemimpinannya, ia mampu menolak membayar upeti berupa beras untuk kepentingan Belanda. Saat Belanda marah dan mengerahkan aparatnya, Haji Hasan Arif mengumpulkan seluruh santri berikut bekerja sama dengan pesantren se-wilayah Garut dan kota-kota di sekitarnya sehingga terbentuk pasukan jubah putih ribuan orang. Jubah putih itu berbahan kain kafan dengan maksud jika mati syahid, kain itulah yang akan menjadi pembungkus jasadnya.

Nah, kisah-kisah heroik kalangan pesantren semacam itu semestinya ada dalam materi wawasan kebangsaan. Dengan demikian, para santri sekarang akan merasa terhubung dengan para pendahulunya dalam memerdekakan dan membangun bangsa. Selain itu, mereka pun akan merasa dihargai karena merupakan kaum yang sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa.

Jika telah terhubung dan merasakan dengan benar bahwa para pendahulunya adalah pahlawan bangsa, mereka akan lebih memahami bahwa mereka harus meneruskan perjuangan para pendahulunya itu untuk mengisi kemerdekaan Indonesia dengan berbagai hal positif. Berbeda jika mereka selalu berada dalam kondisi terpinggirkan dan terlupakan atau sengaja dilupakan, para santri tidak merasakan adanya kewajiban untuk membangun bangsa Indonesia. Mereka akan langsung merasa sebagai warga dunia dan berupaya keras mewarnai dunia dengan ajaran Islam sampai Islam tegak di muka Bumi karena Islam itu bersifat universal. Adapun Indonesia hanyalah merupakan tempat tinggal dan lahir mereka secara administratif. Kalaupun mereka bekerja mencari nafkah, pekerjaan mereka hanyalah dianggap sebagai alat mencari uang, tidak untuk berperan serta membangun bangsa. Mereka merasa terikat secara emosional dan spiritual dengan umat Islam sedunia serta harus menjawab permasalahan dunia dengan ajaran Islam. Parahnya, jika Negara Indonesia dianggap sebagai batu sandungan untuk “bersaudara” dengan sesama muslim dunia, mereka pun akan menyepelekan Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, mereka sangat rentan mendapat pengaruh buruk dari para perekrut teroris. Kalaupun tidak terpengaruh untuk melaksanakan aksi teror, minimal mereka akan menganggap bahwa Indonesia merupakan salah satu item yang harus “dibereskan” untuk kemudian diarahkan menjadi wilayah perwakilan kekuatan Islam dunia. Bahkan, sangat mungkin Indonesia tidak ada dalam agenda mereka untuk dibangun, hanya merupakan negeri biasa yang mudah sekali untuk ditinggalkan dan dilupakan kalau tidak bisa “diperbaiki”. Konsentrasi mereka langsung untuk menyerukan kebenaran Islam pada manusia di seluruh dunia. Padahal, untuk bisa menjalin ukhuwah dengan kaum muslim sedunia dan berperan banyak dalam menyelesaikan permasalahan kaum muslimin dunia bisa dimulai dengan berpartisipasi aktif dalam membangun bangsa dan Negara Indonesia.

Hal yang harus diperhatikan jika akan memberikan wawasan kebangsaan di pesantren adalah para pematerinya bukanlah politisi dan atau mereka yang berniat mencekoki pesantren dengan pemahaman baru yang akibatnya menjadi racun, baik bagi pesantren sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Sebaiknya, orang-orangnya berasal dari pesantren sendiri atau setidak-tidaknya mengerti tentang pesantren, tetapi memiliki jiwa nasionalis. Dengan demikian, para santri akan lebih dekat dan lebih mudah menerima wawasan kebangsaan di pesantrennya.

Ingatkan para santri dan kita semua bahwa negeri Indonesia merdeka karena seruan jihad para pemimpin Islam di masjid-masjid dan teriakan Allahu Akbar para mujahid. Ingatkan pula teriakan Allahu Akbar Bung Tomo ketika membakar semangat massa. Jangan lupakan pula kisah Jenderal Besar Soedirman yang memegang erat tasbih sambil melafalkan Al Fatihah ketika berada di tengah hutan.

Dengan pemahaman kebangsaan tanpa menghitamkan sejarah dan membuka dengan jelas perjuangan kalangan pesantren, para santri akan memiliki filter yang lebih kuat dalam menangkal ajakan para perekrut teroris. Hal itu disebabkan para santri akan lebih memilih berjihad membangun bangsa daripada membuat suasana ketakutan di tengah masyarakat.

Itu pun jika memang benar-benar ingin menghapuskan terorisme di Indonesia, kalangan pesantren harus diikutsertakan aktif terlibat. Lain lagi jika setengah hati menanggulangi terorisme karena kegiatan teror itu bisa digunakan untuk mendapatkan kepentingan ekonomi dan politik.

Kalau cuma pura-pura mengatasi tindakan terorisme, padahal tetap memeliharanya, ya terserah elu aja deh.