Showing posts with label Ahmad Heryawan. Show all posts
Showing posts with label Ahmad Heryawan. Show all posts

Sunday, 8 January 2023

Masjid Raya Al Jabbar Ternyata Menakutkan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Masjid Raya Al Jabbar yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada Jumat, 30 Desember 2022 berlokasi di Gedebage, Bandung, Jawa Barat. Masjid megah bernama Al Jabbar yang bisa berarti Mahaagung, Mahakuat, atau Maha Memaksa ini ternyata menggetarkan dan  menakutkan hati sebagian orang. Mereka yang bergetar dan tampak takut ini adalah para politisi yang merasa tersaingi untuk pemilihan presiden 2024. Hal itu disebabkan ada sosok teramat penting dalam pembangunan ini, yaitu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Keduanya pemimpin yang baik, punya prestasi, dan khususnya Ridwan Kamil terus bekerja. Mereka berdua hampir tak punya cacat. Kalaupun ada beberapa rencana Gubernur Ridwan Kamil yang belum terpenuhi, itu semuanya perlu waktu, tidak seperti sulap “sim salabim, abrakadabra”, ada hal-hal yang harus terus diperhitungkan untuk melaksanakan dan mewujudkan program-programnya.  

            Siapa pun tidak bisa menghindar, pura-pura tidak tahu, atau bahkan menutup mata. Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat adalah masjid megah, indah, bergaya futuristik masa depan, dan merajut harmoni kebangsaan dalam bernegara.


Foto: Republika


            Menurut catatan, masjid ini dibangun sejak 2017. Artinya, sudah digagas, didiskusikan, direncanakan, serta mulai secara bertahap dan dibiayai tahun-tahun sebelumnya, sejak gubernur sebelumnya, yaitu Ahmad Heryawan. Jika mengikuti keterangan Ridwan Kamil bahwa pembiayaan masjid ini sudah disetujui tujuh tahun lalu, berarti kesepakatan pembangunannya sudah mulai pada 2015.

            Ridwan Kamil adalah orang yang mendesain masjid bernuansa modern ini. Ia memang dikenal sebagai arsitek andal dan karyanya sudah sangat banyak berdiri di Indonesia ini, bukan hanya masjid, melainkan pula bangunan-bangunan lainnya.

Masjid Al Jabbar mampu menampung 50.000 jemaah. Bahkan, mungkin lebih jika diisi jamaah hingga ke luar, taman atau halamannya, hutan kota.


Foto: Okezone Muslim


            Masjid ini sangat kokoh hingga mampu menahan gempa berkekuatan enam magnitudo.  Di samping memiliki alun-alun yang dihiasi tanaman hijau, Al Jabbar memiliki ruang luas yang bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi masyarakat. Masjid ini berdiri di atas luas lahan 26 ha yang di seputarnya diproyeksikan menjadi central business district (CBD) atau distrik pusat bisnis baru. Di sekelilingnya dipenuhi air yang indah terkumpul di danau retensi yang berfungsi pula sebagai pengendali banjir di wilayah Gedebage, Bandung.

            Di dalamnya terdapat pintu-pintu yang setiap pintu dihiasi batik yang berasal dari 27 motif batik kabupaten dan kota di Jawa Barat. Itu adalah penghargaan kepada rakyat, budaya, dan persatuan warga Jawa Barat. Motif itu pun merupakan hasil karya warga Jawa Barat. Di samping itu, ada pula aksesoris lainnya, semacam lampu hias yang juga hasil karya rakyat Jabar. Bentuk masjid ini bukan kubah, melainkan melengkung yang melambangkan proses pendekatan dari bawah menuju atas sebagai puncak kedekatan dengan Allah swt. Dari dalam, puncaknya bertuliskan “Allah” yang filosofinya adalah cahaya Allah swt turun menuju imam.


Foto: CNN Indonesia

            Untuk kelengkapan sebagai masjid modern, difasilitasi pula oleh museum yang disesuaikan dengan era globalisasi berteknologi canggih. Masyarakat bisa menikmati museum digital Muhammad Rasulullah saw, sejarah Islam Nusantara, serta sejarah Islam di Jawa Barat.

            Apabila disimpulkan, Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat terdiri atas empat komponen, yaitu “tempat ibadat, museum, danau retensi, dan taman hutan kota”. Bangunan mewah ini diakui oleh Ridwan Kamil adalah masjid yang paling rumit dan paling lama dibangun dibandingkan masjid-masjid lain yang pernah dibangun oleh Ridwan Kamil.

            Keindahan dan kenyamanan Al Jabbar ini dibangun dengan membutuhkan dana sejumlah 1,2 triliun. Uang yang sangat besar. Para politisi dan pendukungnya yang merasa ketakutan, terancam, dan tersaingi oleh karya besar Ridwan Kamil ini mulai mencari-cari kelemahan pembangunan masjid ini sejak perencanaan, pembiayaan, pembangunan, peresmian, bahkan hingga ke diri pribadi Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan. Tujuannya adalah melemahkan kepercayaan dan rasa hormat rakyat kepada Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan. Kita harus paham bahwa Ridwan Kamil telah menyatakan siap untuk dicalonkan menjadi presiden Indonesia jika dirinya dipercaya rakyat dan partai-partai. Demikian pula, Ahmad Heryawan yang sedang diperkenalkan untuk menjadi calon wakil presiden. Inilah yang membuat banyak politisi dan para pendukungnya ketakutan dan terancam sehingga mengeluarkan pernyataan-pernyataan remeh dan sangat kelihatan jelas ketakutannya.

Bagaimana tidak ketakutan, Al Jabbar adalah masjid megah yang berasal dari uang rakyat yang mayoritas Islam?

Umat Islam sangat mencintai masjid. Sudah pasti masjid dengan bentuk mewah berteknologi tinggi dan bergaya futuristik akan menjadi kebanggaan umat serta pendirinya akan sangat dihormati umat.  Umat akan sangat berterima kasih kepada para pembangunnya. Inilah yang menjadi ketakutan para politisi dan pendukungnya itu. Jangan-jangan masyarakat semakin menyukai Ridwan Kamil dan mulai mengingat lagi jasa-jasa besar Ahmad Heryawan dalam membangun infrastruktur di Jawa Barat. Bisa-bisa, Ridwan Kamil menjadi presiden Indonesia. Mungkin begitu pikir mereka.


Foto: inijabar.com


Berikut beberapa serangan mereka terhadap Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat dan terhadap diri Ridwan Kamil. Serangan mereka itu, insyaallah saya jawab satu per satu.

Pertama, mereka menyayangkan uang satu triliun itu hanya dibuat untuk masjid, padahal ada banyak hal yang harus dibiayai. Misalnya, transportasi masal, memecahkan masalah kemacetan, membangun UMKM, memberikan beasiswa untuk generasi muda, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendidikan, meningkatkan pelayanan kesehatan, dan memberikan kesejahteraan kepada banyak pihak.

Kedua, kata mereka di Jawa Barat ini sudah berdiri 50.000 ribu masjid.

Apakah masih kurang sehingga harus membangun Masjid Raya Al Jabbar?

Ketiga, kata mereka uang APBD itu adalah uang rakyat yang terdiri atas banyak pemeluk agama berbeda. Jadi, seharusnya dibangun pula tempat ibadat agama lain.

Bayangkan, apa yang terjadi jika uang satu triliun itu digunakan untuk membangun gereja?

Pasti akan ditolak dan akan menjadi keributan.

Keempat, mereka membandingkan bahwa untuk apa membangun lagi masjid karena Jawa Barat adalah provinsi yang sangat intoleran, tidak mampu menghargai orang lain yang berbeda agama.

            Kelima, mereka menyerang kecakapan Ridwan Kamil. Menurut mereka, Ridwan Kamil punya banyak rencana dan keinginan, tetapi eksekusinya nol. Misalnya, rencana membangun monorel, membangun kereta gantung, membangun jalan tol Bandung-Garut-Tasikmlaya. Di samping itu, Ridwan Kamil sampai sekarang belum juga bergabung ke partai politik untuk dijadikan kendaraan menuju kursi Presiden RI.

            Keenam, mereka bilang Ridwan Kamil tidak cerdas, tidak pintar, tidak punya skala prioritas, dan tidak peka sebagai pemimpin karena menggunakan uang satu triliun hanya untuk membangun masjid yang dinikmati oleh satu golongan umat. Hanya umat Islam yang menikmati, pemeluk agama lain tidak boleh menikmati.

            Ketujuh, mereka menegaskan bahwa Ridwan Kamil tidak pantas untuk menjadi presiden ataupun wakil presiden. Ridwan Kamil hanya pantas sebagai arsitek dan artis Sinetron.

            Dari serangan-serangan mereka, tampak jelas ketakutan mereka terhadap Ridwan Kamil yang semakin disukai banyak orang. Mereka merasa terancam dengan hal itu. Mereka pun menggunakan Masjid Al Jabbar yang dianggapnya tidak penting untuk menyerang Ridwan Kamil. Mereka membungkusnya seperti kritikan untuk pemimpin atau pemerintah Jawa Barat. Akan tetapi, sesungguhnya mereka ketakutan jagoannya tergeser dari popularitas untuk di Pilpres RI tahun 2024. Ternyata, mereka serendah itu pikirannya. Penakut mereka itu.

            Seperti saya bilang, saya akan coba jawab serangan mereka itu satu per satu. Kalau ada yang tersinggung, silakan balas lagi saya. Saya akan sangat menyukainya.


Ridwan Kamil (Foto: Kompas.com)


            Pertama, mereka salah mengira atau memang menutupi kenyataannya. Biaya yang digunakan sejumlah satu triliun itu bukan diambil langsung dalam satu tahun APBD, melainkan diambil dari dana APBD selama bertahun-tahun. Seperti penjelasan Ridwan Kamil bahwa pembiayaan Masjid Raya Al Jabbar sudah disepakati antara eksekutif dan legislatif sejak tujuh tahun lalu, sejak 2015.  Artinya, masjid itu dibangun dengan menggunakan APBD Provinsi Jawa Barat dengan cara mencicil atau sedikit-sedikit mengambil setiap tahun sehingga jika dijumlahkan menjadi 1,2 triliun pada tahun 2022. Bisa dikatakan pembiayaannya adalah multi years, bertahun-tahun. Salah sekali jika ada anggapan mengambil satu triliun dari satu tahun APBD. Jadi, tidak tepat jika ada yang bilang itu seharusnya digunakan untuk hal lain. Misalnya, dalam satu tahun hanya menggunakan uang APBD untuk biaya konsultan, pembuatan design, atau pembebasan tanah secara bertahap. Anggaran tahun berikutnya, ada uang yang diambil untuk pembangunan tahap selanjutnya. Begitu seterusnya hingga pada 2022 berjumlah Rp1,2 triliun.

            Dengan pembiayaan seperti itu, pemerintah Jawa Barat masih bisa membangun dan membiayai hal-hal lainnya. Jumlah uang Provinsi Jawa Barat pada tahun 2022 adalah sebesar Rp32,10 triliun. Setiap tahun pemerintah Jawa Barat melakukan banyak pembangunan dan perbaikan, tidak terganggu oleh pembangunan masjid. Transportasi masal dibiayai sehingga semakin banyak bus yang bisa digunakan para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja dengan harga yang murah. Untuk mengatasi kemacetan, banyak dibangun flyover atau jalan layang untuk kendaraan dan pejalan kaki. Kalau belum tahu, main dong ke Bandung, sampai sekarang terus dibangun kok. Untuk membangun UMKM, pemerintah memberikan dorongan, pelatihan, dan kemudahan pendanaan. Salah seorang mahasiswa saya juga sedang melakukan penelitian kerja sama kelompok UMKM di Kota Bandung dengan kelompok UMKM di salah satu kota di Malaysia. Itu artinya ada pembangunan UMKM. Untuk mencerdaskan generasi muda, Provinsi Jawa Barat punya Jabar Future Leaders (JFL) Scholarship atau beasiswa untuk pendidikan. Saya juga dikasih uang oleh Provinsi Jawa Barat untuk menyelesaikan tugas akhir pendidikan S2 saya ketika gubernurnya masih Ahmad Heryawan. Artinya, ada dana untuk pendidikan rakyat. Sekolah-sekolah terus dibantu dananya. Lapangan kerja terus didorong untuk semakin banyak. Rakyat terus didorong untuk terampil melalui kursus-kursus atau pelatihan. Untuk masyarakat yang tidak mampu, banyak jaring pengaman sosial agar rakyat tetap bisa makan. Hari ini tidak terdengar lagi ada rakyat Jawa Barat yang kelaparan.

            Betul kan?

            Siapa sekarang yang kelaparan perutnya?

            Paling juga Hp-nya yang kelaparan kuota.

            Kalau dulu, ketika zaman Soeharto, memang ada rakyat Jawa Barat yang mati kelaparan. Beritanya sampai tersebar di koran-koran hingga ada perusahaan swasta yang memarahi lurah tempat orang yang mati kelaparan. Seharusnya, lurah menghubungi berbagai perusahaan atau menghubungi para donator untuk mengatasi persoalan pangan masyarakat. Sekarang tak ada lagi orang Jawa Barat yang mati kelaparan. Artinya, pemerintah Jawa Barat memperhatikan dan membiayai persoalan makanan rakyat. Soal pelayanan kesehatan, kita bisa lihat bahwa setiap hari Puskesmas dibangun lebih layak, obat-obatannya lebih beragam dan lebih berkualitas daripada masa lalu. Rakyat pun cukup mengeluarkan uang Rp7.000,-, padahal biaya kesehatan sebenarnya jauh lebih besar dari itu. Misalnya, Rp50.000,-. Jadi, ketika rakyat berobat dengan harga Rp7.000,-, gubernur Jawa Barat menambahinya Rp43.000,-. Coba jalan-jalan ke setiap kecamatan, Puskesmasnya sudah jauh lebih baik kok.

            Memang benar, berbagai rencana atau program yang diinginkan belum semuanya sempurna karena semuanya butuh proses, butuh waktu, dan butuh dana yang dilakukan secara bertahap. Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Presiden RI Jokowi bahwa membuat rakyat sejahtera itu tidak bisa sim salabim langsung jadi, tetapi butuh proses. Hal yang jelas adalah pembangunan dan perbaikan itu terus dilakukan.

            Dari pembangunan masjid saja sudah jelas bisa meningkatkan ilmu pengetahuan dan ekonomi. Masjid Al Jabbar itu bukan hanya tempat ibadat, tetapi dilengkapi pula dengan museum digital, hutan kota, danau retensi, ruang-ruang yang bisa digunakan untuk kegiatan ekonomi seperti bazar dan promosi produk UMKM. Untuk membangun dan memelihara masjid itu, dibutuhkan ratusan pekerja yang artinya telah menyerap tenaga kerja. Belum lagi jika semua rencana operasional masjid lancar, akan lebih banyak butuh tenaga kerja.

            Di samping itu, di wilayah sekeliling masjid akan diproyeksikan sebagai distrik pusat bisnis baru. Artinya, pada masa berikutnya akan tumbuh pusat-pusat ekonomi yang memakmurkan rakyat.  Begitu cara berpikirnya, Bro.

            Kedua, kata mereka di Jawa Barat sudah terlalu banyak masjid, sudah ada 50.000 masjid. Jadi, Masjid Al Jabbar sama sekali tidak penting. Soal jumlah masjid itu bagaimana kebutuhan, malah 100.000 masjid masih harus dibangun jika dibutuhkan. Jawa Barat ini berpenduduk lebih dari 45 juta orang, mayoritas muslim, dan akan terus bertambah. Wajar kalau masjid masih banyak yang ingin membangun. Banyak sekali masjid-masjid kecil yang penuh dan sulit menampung jamaah, termasuk di perkotaan, apalagi di pusat-pusat perdagangan. Untuk shalat dzuhur di wilayah Tegalega saja, saya masih kesulitan karena antrian wudhu, toilet, dan tempat shalat yang penuh.

            Khusus untuk Masjid Al Jabbar, itu sangat diperlukan karena Provinsi Jawa Barat belum punya masjid level provinsi, adapun masjid besar di Cikapundung, Alun-Alun Bandung adalah Masjid Agung Kota Bandung. Dengan adanya Masjid Al Jabbar, kita jadi punya masjid level provinsi di Jawa Barat.

            Paham, Bro?

            Ketiga, soal uang APBD satu triliun itu hanya untuk masjid dan bukan untuk membangun tempat ibadat agama lain. Itu pasti karena rakyat Jawa Barat mayoritas muslim. Tidak mungkin membangun gereja, vihara, klenteng, atau pura di Jawa Barat dengan biaya satu triliun, kan jumlah pemeluknya juga sedikit. Kalau di tempat lain yang mayoritas nonmuslim, wajar membangun tempat ibadat di luar Islam dengan harga selangit juga, misalnya, di Bali itu normal membangun pura dengan biaya triliunan juga karena mayoritasnya bukan Islam. Selama eksekutif dan legislatif setuju menggunakan uang APBD untuk membangun tempat ibadat agama apa pun, pembangunan itu bisa dilakukan.

            Lagian, pemerintah di Jawa Barat pun pasti memperhatikan pula tempat-tempat ibadat agama lain, sesuai dengan kebutuhannya, gereja ada, demikian pula tempat ibadat lainnya.

            Hal itu sama saja di seluruh dunia juga, misalnya, jika kita lihat di Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa, bangunan gereja selalu lebih besar dan lebih megah dibandingkan masjid. Hal itu disebabkan umat Islam di sana adalah minoritas. Bahkan, di Cekoslowakia pemerintahnya melarang pembangunan masjid karena mayoritas penduduknya ateis. Masjid hanya boleh dibuat di bawah tanah, basement pertokoan, itu pun tidak luas, secukupnya. Jika banyak masjid di Jawa Barat atau di Indonesia, wajar karena penduduknya mayoritas muslim.

            Keempat, menurut mereka, percuma membangun Masjid Al Jabbar karena intoleransi rakyat Jawa Barat sangat tinggi. Mereka salah berpikir. Pembangunan masjid dengan intoleransi itu adalah dua hal yang berbeda dan harus ditangani berbeda pula. Intoleransi itu masalah sosial, sedangkan masjid adalah tentang pembangunan fisik yang dapat digunakan pula untuk menyelesaikan masalah sosial. Dengan dibangunnya Masjid Al Jabbar, diharapkan akan tumbuh pendidikan yang mengajarkan toleransi. Kegiatan rutin ceramah atau pengajian bisa mengundang para ulama atau ustadz yang mengajarkan kebaikan, ramah, santun, dan mencintai bangsanya. Tidak mengundang para penceramah radikal intoleran yang berujung pada terorisme. Masjid Al Jabbar pun memang diharapkan menjadi pusat penyebaran dan peradaban Islam yang memberikan manfaat, khususnya bagi warga Jawa Barat dan Indonesia, umumnya untuk umat manusia di dunia.

            Kelima, mereka mulai menyerang pribadi dan jabatan Ridwan Kamil karena banyak program-program yang belum terlaksana dan belum punya Parpol untuk dijadikan kendaraan menjadi Presiden RI. Padahal, sudah saya tuliskan tadi, berbagai keinginan atau program positif untuk rakyat itu perlu waktu, dana, dan kondisi yang memungkinkan. Tidak bisa seperti sulap atau sihir membuat semua program itu berjalan lancar, perlu proses bertahap yang diperhitungkan dengan matang. Hal itu pun diakui Jokowi bahwa membuat rakyat sejahtera itu perlu proses, tidak bisa langsung jadi.

            Soal Ridwan Kamil belum punya Parpol untuk menjadi presiden Indonesia, itu kembali pada diri Ridwan Kamil sendiri. Mungkin dia berpikir belum saatnya masuk Parpol atau memang mengurungkan niatnya untuk menjadi presiden. Kita belum tahu.

            Lagian,  buat apa ngurusin hal yang begitu?

            Kelihatan sekali mereka ketakutan oleh Ridwan Kamil yang bisa saja memutarkan keadaan dan membuat rakyat Indonesia menyukai dirinya untuk menjadi presiden Indonesia. Dasar para penakut.

            Keenam, mereka bilang Ridwan Kamil tidak cerdas dan  tidak punya skala prioritas karena membangun masjid seharga 1,2 triliun hanya untuk dinikmati umat Islam dan tidak bisa dinikmati umat lain. Parah banget mereka. Menurut saya, Ridwan Kamil sangat cerdas dan punya skala prioritas. Masjid Al Jabbar itu mulai direncanakan sejak masih zaman Gubernur Ahmad Heryawan dan dananya sudah disepakati sejak 2015, artinya ada pekerjaan Ahmad Heryawan yang masih harus dilanjutkan karena pada 2018 posisi gubernur dilanjutkan Ridwan Kamil. Jadi, Ridwan Kamil melanjutkan program gubernur sebelumnya. Kalau Ridwan Kamil tidak melanjutkannya, program pembangunan masjid itu menjadi proyek mangkrak. Itu cerdas dan paham skala prioritas.

            Bukankah kalian juga ingin bahwa pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dilanjutkan oleh presiden pengganti Jokowi supaya tidak mangkrak?

            Ridwan Kamil sudah membuktikan bahwa dirinya mampu melanjutkan program Ahmad Heryawan hingga tuntas.

            Para penyerang Masjid Al Jabbar dan Ridwan Kamil tampak sekali orang-orang yang tidak paham masjid. Mereka mungkin sangat jarang ke masjid dan tidak pernah jadi aktivis masjid. Mereka bilang masjid hanya bisa dinikmati umat Islam.

            Siapa bilang masjid hanya untuk umat Islam?

            Bodoh kalian!

            Ingat ketika Aceh dilanda tsunami. Masjid Baiturrahman yang megah itu menjadi pusat pertolongan para korban tsunami. Ketika rumah-rumah mereka hancur dan mereka sendiri terluka parah, Masjid Agung Aceh Baiturrahman adalah satu-satunya bangunan kokoh yang dapat menampung para korban tsunami dalam jumlah banyak. Para korban itu terdiri atas semua agama yang ada di Aceh.

            Apakah para korban yang terluka dan membutuhkan tempat berlindung itu hanya orang Islam?

            Apakah dulu mereka ditanya apa agamanya ketika berlindung di masjid?

Apakah nonmuslim diusir dari Masjid Baiturrahman?

Tidak!

Itu artinya masjid bisa dinikmati semua orang.

Masih ingat Indonesia pernah juara AFF U17?

Timnas Indonesia pernah kehabisan bekal dan kesulitan untuk menginap. Mereka menggunakan masjid untuk menginap, termasuk pula anggota tim mereka yang bukan beragama Islam.

Masjid di daerah saya itu punya ruang serba guna yang dapat digunakan untuk musyawarah warga, baik yang beragama Islam maupun bukan. Pernah ada tetangga nonmuslim yang kesulitan air bersih untuk minum, memasak makanan, mencuci pakaian, dan mandi. Mereka menggunakan air dan kamar mandi masjid untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tak ada seorang muslim pun yang melarang mereka menggunakan fasilitas masjid.

Kalau tiba Hari Raya Idul Adha, anak-anak nonmuslim diperbolehkan membantu panitia kurban sehingga mendapatkan daging kurban pula sebagai panitia. Di samping itu, keluarga mereka pun diberi bagian pula daging kurban. Semua pemeluk agama dikasih bagian.

            Siapa bilang masjid hanya bisa dinikmati umat Islam?

            Jangan ngaco kalian!

            Masjid Al Jabbar pun memiliki banyak fasilitas yang bisa dinikmati semua orang yang terdiri atas berbagai agama. Ada fasilitas untuk pengetahuan, pengembangan ekonomi, wisata, juga untuk mengendalikan banjir. Itu semua manfaatnya bisa untuk umat manusia, agama apa pun mereka. Tidak mungkin hanya untuk umat Islam.

            Ketujuh, kelihatan sekali bahwa para penyerang Masjid Al Jabbar dan Ridwan Kamil itu adalah benar-benar penakut. Mereka berharap bahwa Ridwan Kamil tidak ikut jadi Capres ataupun Cawapres. Mereka ingin Ridwan Kamil tetapi jadi arsitek dan artis Sinetron. Lucu memang para penakut itu.

            Sungguh, pembangunan Masjid Al Jabbar itu sangat sulit untuk dianggap sebagai pembangunan yang punya tujuan politik seperti yang para penakut itu tuduhkan. Pembangunan itu dilakukan karena memang merupakan aspirasi masyarakat Jawa Barat yang mayoritas Islam. Hal itu disebabkan rencana awalnya dilaksanakan pada masa Gubernur Ahmad Heryawan periode kedua. Ahmad Heryawan tidak mungkin menjadikannya sebagai tujuan politik karena jelas tidak akan pernah terwujud Masjid Al Jabbar pada masa kepemimpinannya, tidak akan kelihatan. Demikian pula Ridwan Kamil, sulit untuk menjadikan Masjid Al Jabbar sebagai bahan kampanye politik karena dirinya adalah melanjutkan apa yang sudah dilakukan Ahmad Heryawan. Kalau Ridwan Kamil menjadikannya tujuan politik, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama Ahmad Heryawan akan membantai Ridwan Kamil secara politik pula karena jasa awalnya adalah Ahmad Heryawan. Jadi, saya masih kesulitan memahami jika Masjid Al Jabbar dibangun atas dasar politik.

            Mereka yang justru menggunakan Masjid Al Jabbar sebagai alat politik adalah para penakut itu. Mereka merendahkan manfaat Masjid Al Jabbar dan berusaha membuat citra negatif terhadap Ridwan Kamil. Itu perilaku yang sangat buruk.

            Meskipun demikian, mereka itu layak untuk takut dan akan saya takut-takuti lebih dalam. Ridwan Kamil dan Ahmad Heryawan itu punya kesamaan. Mereka adalah sama-sama berawal dari orang-orang yang tidak diunggulkan dan bukan siapa-siapa. Ketika pemilihan walikota Bandung, Ridwan Kamil sama sekali tidak penting, tidak dianggap, dan tidak dihitung sebagai calon yang akan unggul. Akan tetapi, dalam kenyataannya, dia justru berhasil menjadi walikota Bandung. Demikian pula Ahmad Heryawan, tidak diunggulkan sebagai calon gubernur Jawa Barat dan survey-survey menunjukkan bahwa Ahmad Heryawan tidak akan menang. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan sebaliknya, Ahmad Heryawan berhasil menjadi gubernur Jawa Barat untuk dua periode.

Bisa jadi toh Ridwan Kamil tidak diunggulkan menjadi presiden RI, tetapi keadaan bisa berubah cepat seperti waktu dulu. Dia bisa menang. Apalagi Ridwan Kamil tampak tenang dengan survey-survey yang menunjukkan rendahnya dirinya dalam elektabilitas perolehan suara untuk menjadi presiden.

Bahkan, ketika ditanya wartawan soal rendahnya suara dalam survey, Ridwan Kamil menjawab, “Itu mah nanti, itu soal gampang.”  

Dalam hal pekerjaan dan pembangunan, Ridwan Kamil terus bekerja dan tidak ada masalah berarti. Beberapa hasilnya, sudah saya tulis tadi untuk menjawab serangan para penakut yang menyerang masjid dan dirinya. Minimal itu yang saya lihat dan saya rasakan sebagai rakyat. Hal yang tidak saya tahu mungkin lebih banyak lagi. Oleh sebab itu, Humas Pemda Jawa Barat harus lebih aktif menginformasikan berbagai keberhasilan pembangunan Jawa Barat dan meng-counter serangan-serangan terhadap Provinsi Jawa Barat. Jangan seperti sekarang ini, seolah-olah Ridwan Kamil sendiri yang menjawab atau menghadapi serangan-serangan itu.

Di mana Humas Pemda Jabar?

Terasa sepi informasi.


Ahmad Heryawan (Foto: Warta Kencana)


Ahmad Heryawan pada masa kepemimpinannya sangat berhasil dalam membangun infrastruktur di Jawa Barat. Kalau boleh saya bilang, pembangunan jalan yang menjadi tugas Gubernur berhasil 95% dilaksanakan dengan sangat baik. Kalaupun di Jawa Barat masih tampak jalan yang tidak bagus, itu bukan tugas gubernur karena bisa jadi tanggung jawabnya ada di presiden, walikota, bupati, atau bahkan kepala desa. Ada tugasnya masing-masing.

Coba cek sendiri keberhasilan pembangunan infrastruktur semasa Ahmad Heryawan.

Kalian pikir cuma Jokowi yang bisa membangun infrastruktur?

Banyak yang bisa tahu!

Cuma mereka kurang publikasi saja.

Para penakut akan semakin takut dan ucapan-ucapannya akan semakin remeh temeh dan menggelikan.

Kalau punya jagoan untuk pemilihan presiden 2024, boleh saja dorong dengan membuktikan kehebatan jagoannya dengan data dan fakta yang benar. Akan tetapi, jangan meledek orang lain dengan data yang tidak lengkap dan analisis yang lemah mengada-ada, bodoh dan lucu namanya.

Saya sungguh sangat bersyukur Jawa Barat punya masjid megah yang dilengkapi berbagai fasilitas modern untuk mengembangkan manusia lebih positif. Foto-foto Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan Ahmad Heryawan saya dapatkan dari Warta Kencana, Okezone Muslim, CNN Indonesia, inijabar com, Republika, dan Kompas com.

Mikir!

Sampurasun.

Monday, 20 March 2017

Ridwan Kamil-Dedi Mulyadi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Gubernur Ahmad Heryawan sudah harus menyelesaikan masa tugasnya sebagai gubernur Jawa Barat. Harus ada orang lain yang menggantikan posisinya sebagai gubernur.

            Ada banyak tokoh dan pemimpin yang hebat di Jawa Barat, tetapi saya harus mengakui bahwa Ridwan Kamil adalah satu sosok yang bisa sangat diandalkan untuk memimpin Jawa Barat. Dia sudah relatif berhasil mempercantik Kota Bandung. Dia sudah berhasil menjaga dirinya untuk bekerja dengan baik dan tidak memiliki masalah yang dapat menjerumuskannya menjadi orang yang korup. Dia pun relatif tidak memiliki masalah secara pribadi dengan warganya. Dia baik-baik saja dan mampu memanfaatkan potensi dirinya dalam memimpin Kota Bandung sebagai walikota. Ia arsitek nasionalis muslim berjiwa Sunda. Hal itu bisa dilihat dengan jelas, baik dari caranya berbicara, bersikap, dan mengambil kebijakan.

            Adalah hal yang tepat jika Partai Nasionalis Demokrat (Nasdem) pimpinan Surya Paloh yang dengan prinsip hebat “politik tanpa mahar” mendorong Ridwan Kamil untuk menjadi Gubernur Jawa Barat. Saya bilang politik tanpa mahar ini merupakan prinsip yang sangat hebat karena sepanjang pengetahuan saya baru Nasdem yang melakukannya, partai lain masih belum atau paling tidak belum mendeklarasikan sebagaimana Nasdem mendeklarasikan dirinya. Bahkan, mungkin baru Nasdem partai yang melakukannya di seluruh dunia ini. Hal ini merupakan fenomena yang harus dipelajari dan diteliti karena bisa mereduksi beberapa kebobrokan yang ada di dalam sistem politik demokrasi.

RIDWAN KAMIL. Foto: www.boombastis.com

            Ridwan Kamil memang tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan uang untuk menempati posisi politik karena sudah banyak mengumpulkan prestasi dan kekaguman masyarakat terhadap dirinya. Ia tidak perlu jor-joran memperkenalkan dirinya karena sudah terkenal. Ridwan Kamil hanya cukup mempromosikan dirinya, latar belakang, hidupnya, dan menampakkan prestasinya selama menjadi Walikota Bandung di samping visi dan misinya untuk membangun Jawa Barat pada masa depan yang lebih baik. Uang yang diperlukan pasti ada, tetapi tidak akan sebesar mereka yang berminat menjadi gubernur Jawa Barat tanpa banyak prestasi dan kurang dikenal. 


Wakil Gubernur
Untuk menjadi gubernur, tentu saja membutuhkan seorang wakil gubernur. Sosok wakil gubernur ini bukan hanya berguna dalam meraih banyaknya suara, melainkan pula harus berguna dalam menjalankan roda pemerintahan. Gubernur dan wakilnya harus berbagi tugas agar pembangunan masyarakat bisa lebih cepat mencapai tujuan. Jangan kayak yang dulu-dulu pada berbagai daerah. Sosok wakil hanya berguna dalam meraih suara. Akan tetapi, dalam menjalankan pemerintahan “berantem” melulu dengan atasannya karena saling merasa paling berjasa. Akhirnya, “cerai” dan  berhadapan dalam pemilihan pada periode berikutnya.

            Untuk wakil gubernur Jawa Barat, sosok yang menurut saya tepat adalah Dedi Mulyadi. Ketokohan dia sebagai urang Sunda sudah tidak bisa diragukan lagi. Ia sangat mencintai budaya Sunda dan budaya Indonesia. Baginya, jati diri seseorang itu harus ditampakkan melalui budayanya sendiri sehingga bisa tampil baik dan bermanfaat bagi orang banyak. Dedi adalah muslim Indonesia yang mencintai budaya. Dengan itulah, dia membangun Purwakarta. Ia orang baik. Ia tidak bermasalah dalam korupsi. Ia orang yang hemat dalam pengeluaran untuk hal-hal yang memang seharusnya dihemat sehingga mampu membelanjakan APBD untuk kepentingan yang lebih besar.

DEDI MULYADI. Foto: news.okezone.com

            Dedi Mulyadi memiliki banyak potensi dan ide-ide spektakuler di dalam kepalanya untuk membangun masyarakat menjadi cerdas, berbudaya, dan religius. Ia banyak menuntut pemerintah pusat dan provinsi untuk menyelesaikan kewajibannya di Purwakarta agar masyarakat Purwakarta dapat lebih terlayani dan sejahtera. Ia merasa bahwa dirinya sudah melakukan banyak kewajibannya sebagai pemimpin Purwakarta, tetapi masyarakat Purwakarta harus lebih dapat merasakan hadirnya pembangunan yang wajib dilakukan provinsi dan pemerintah pusat. Setidak-tidaknya, itulah yang membuat saya tertarik ketika berkunjung ke Purwakarta, saat masih menjadi staf DPD RI mendampingi Prof. H. Mohamad Surya. Dia pandai berhemat untuk hal-hal yang bisa dihemat, misalnya, dalam hal makan dan minum. Ia menghidangkan makanan yang biasa-biasa saja tidak mewah, tetapi nikmat. Ia menyuguhi makanan khas Sunda yang murah dan sehat, seperti, nasi timbel, tahu, tempe, jambal, sayur asem, daging ayam, lalapan, dan sambal. Minumannya juga biasa saja, seperti, air putih, teh, bajigur, dan bandrek. Snack-nya juga murah meriah, seperti, kacang tanah, ubi, dan ketela rebus. Berbeda dengan kepala daerah lain yang suka memberikan hidangan makanan dan minuman yang mahal-mahal, bahkan produk luar negeri.

            Tak heran jika Dedi bisa memberikan banyak santunan kepada pengurus DKM, guru ngaji, orang yang berhutang, orang bangkrut, dan orang-orang kurang beruntung lainnya. Pernah ada sekeluarga yang bangkrut dibantu Dedi dengan membelikan sepasang kambing sebagai modal kerja. Pernah pula Dedi membiayai operasi jantung seorang Hansip sampai seharga 40 juta rupiah.

            Dedi Mulyadi orang baik, punya banyak prestasi, dikenal, dan memiliki banyak gagasan untuk masyarakat. Jika dia bisa menjadi wakil gubernur, kewajiban provinsi yang kerap dimintanya dapat dilakukannya sendiri untuk Jawa Barat, sebagaimana dia membangun Purwakarta.


Kampanye Mendidik
Sebaiknya, memang Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi berpasangan dan jangan berhadapan. Dengan demikian, suara masyarakat akan terkumpul bulat. Wajib diingat ketika pemilihan gubernur yang lalu-lalu berhadapan antara Dany Setiawan dan Agum, padahal konstituen mereka adalah massa yang sama. Akibatnya, suara pecah dan tidak ada yang menang. Justru yang menang adalah pasangan yang sama sekali tidak diunggulkan alias “kuda hitam”, yaitu pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Padahal, saat itu pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf kalau dalam dunia sepak bola bisa dibilang under dog.

            Dedi tidak perlu berhadapan dengan Ridwan Kamil dan tidak perlu berspekulasi yang akhirnya bisa bikin kaget dan kecewa. Ridwan Kamil sudah berada pada posisi on the top pada masa sekarang ini di mata masyarakat. Tidak perlu melawan orang yang sudah kuat karena memang Ridwan Kamil adalah Walikota Bandung dan Kota Bandung adalah pusatnya Jawa Barat. Wajar jika dia menjadi gubernur.

            Demikian pula sebaliknya, Ridwan Kamil jangan pasang kuda-kuda melawan Dedi Mulyadi karena Dedi akan sangat berperan banyak, baik dalam proses pemilihan maupun dalam menjalankan roda pemerintahan agar tercipta Jawa Barat yang religius, cerdas, berbudaya, sejahtera, dan bahagia. Dedi Mulyadi akan menambah daya dorong dan citra positif, baik bagi Ridwan Kamil maupun bagi masyarakat Jawa Barat.

            Ridwan-Dedi adalah pasangan yang baik. Mereka berdua bisa berkampanye dengan baik dan menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat dalam berperan serta dalam pembangunan. Permasalahan terbesar masyarakat, yaitu persoalan ekonomi dan daya beli, insyaallah, akan mendapat jalan dari sinergi positif antara Ridwan dan Dedi.

            Kampanye yang harus banyak dilakukan, terutama oleh Dedi Mulyadi adalah kampanye yang mendidik masyarakat, terutama dalam hal hubungan antara Islam dan budaya. Kita tahu bahwa Dedi Mulyadi pernah dilaporkan oleh Rizieq-FPI soal penghinaan terhadap Islam. Bagi saya, laporan Rizieq itu mengada-ada karena hanya untuk meng­-counter laporan dari Ormas Sunda atas kebodohan Rizieq yang telah memplesetkan sampurasun menjadi campur racun.

            Justru laporan Rizieq-FPI itu membuat saya semakin kagum terhadap Dedi Mulyadi karena kalimat-kalimat dalam buku Dedi yang dianggap menghina itu merupakan pengetahuan baru tentang Islam. Islam itu agama yang sangat komprehensif dan meliputi berbagai ilmu pengetahuan. Dedi menerangkannya dengan menggunakan bahasa rasa dan itu sangat amazing.

            Ada baiknya Dedi Mulyadi mengadakan acara-acara semacam bedah buku Dedi sehingga pemahaman Dedi bisa didiskusikan oleh masyarakat dan mencerahkan banyak pihak. Jadi, di samping kampanye, juga memberikan masyarakat banyak ilmu pengetahuan. Pengetahuan itu bisa menjadi dasar agar rakyat Jawa Barat bersikap lebih positif, baik untuk dirinya sendiri, untuk lingkungannya, terhadap pemerintahnya, dan kepada Allah swt.

            Toh, Dedi Mulyadi sudah mendapatkan dukungan dari Ketua MUI Maruf Amin untuk ikut serta dalam pemilihan gubernur Jawa Barat. Itu artinya, hambatan dari kalangan Islam sudah clear, hampir tidak ada. Paling-paling mungkin cuma dari Rizieq-FPI. Itu mah kecil, kecil sekali, lucu malahan. Rizieq itu hal kecil. Dia itu memang suka seperti itu. Orang bikin buku, lalu isi bukunya tidak bisa dia pahami, disebutnya “menghina Islam”. Dedi bikin buku disebut “menghina Islam”. Ahok bikin buku disebut “menghina Islam”. Padahal, dia sendiri yang pikirannya terbatas. Seharusnya, untuk melawan ilmu pengetahuan, gunakan pula ilmu pengetahuan. Rizieq harusnya bikin buku sendiri, lalu curahkan semua gagasan dan landasan-landasan pengetahuannya itu dengan metode ilmiah sehingga masuk akal dan masyarakat bisa tercerahkan. Bikin buku sendiri dong untuk melawan pemikiran dari buku yang tidak disetujui, katanya S2 dari Malaysia. Itu juga kalau bisa bikin buku sendiri. Kalau tidak bisa, diam saja jangan banyak tingkah, malu.


Kepemimpinan Nasional
Apabila Ridwan Kamil-Dedi Mulyadi berpasangan, lalu dapat bekerja lebih baik lagi dibandingkan dengan prestasi yang telah diraih mereka di kampung halaman masing-masing, bukan tak mungkin seluruh mata masyarakat Indonesia akan tertuju pada pasangan ini. Suatu saat mereka bisa ambil ancang-ancang untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia setelah masa jabatan Jokowi-JK habis tentunya. Tak perlu berhadapan dengan Jokowi-JK karena itu tidak baik. Tunggu saja sampai habis masa jabatannya. Hal itu disebabkan Provinsi Jawa Barat adalah provinsi yang sangat penting dalam menyangga Ibukota Jakarta di samping jumlah penduduknya terbanyak di antara seluruh provinsi di Indonesia.

            Jika mereka dapat berpasangan dan setiap hari menunjukkan perbaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi daerah yang dipimpinnya. Indonesia menunggu mereka untuk memimpin Indonesia agar lebih baik lagi dan terus lebih baik lagi.


            Sampurasun.

Saturday, 24 December 2016

Menyelesaikan Kasus Ahok dengan Cara Sunda

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Saya berandai-andai bahwa kasus Ahok mengenai dugaan penistaan agama dapat diselesaikan dengan cara Sunda. Berandai-andai itu berarti berkhayal. Oleh sebab itu, tulisan ini hanya berupa khayalan saya karena sudah sulit dilaksanakan. Seandainya, kasus Ahok belum masuk ke pengadilan, cara Sunda ini masih dapat digunakan. Akan tetapi, kasusnya sudah masuk ke pengadilan dan hukum jalan terus sampai mendapatkan keputusan yang pasti.

            Karena tulisan ini hanya berupa khayalan, saya sarankan Saudara yang tidak menyukai khayalan saya untuk tidak membacanya. Sebaiknya, Saudara segera tutup halaman ini, lalu cari tulisan saya yang lain yang bukan khayalan atau beralih ke situs lain. Saya tidak apa-apa kok kalau tulisan ini tidak dibaca oleh Saudara. Akan tetapi, Saudara tampaknya bandel sehingga terus saja membaca tulisan ini.

            Iya kan?

            Saudara memang bandel dan terus bertahan membaca tulisan saya.

            Saya benar, kan?

            Saudara tidak beralih ke tulisan lain atau ke situs lain. Saudara di sini terus bersama saya.

            Cobalah ikuti saran saya untuk segera meninggalkan halaman ini. Silakan pergi.

            Tuh, kan Saudara terus di sini dan tidak mau pergi.

            Ya, sudah kalau tidak mau dikasih tahu. Disaranin jangan membaca tulisan ini, malah terus-terusan membaca. Saudara memang manusia yang bandel.

            Harus dengan kalimat apalagi saya menyarankan Saudara untuk pergi dari halaman ini?

            Saya harus mencoba untuk mengusir Saudara, “Pergi! Cepat pergi ke situs lain! Jangan baca tulisan ini!”

            Masyaallah, Anda tidak juga mau pergi.

            Apa menariknya tulisan ini?

            Saya kan sudah bilang isinya hanya khayalan, tetapi Saudara tetap saja penasaran. Okelah kalau begitu, terserah Anda saja.

            Jangan salahkan saya kalau Saudara terus membaca, lalu tersinggung. Kemudian, menuduh saya sebagai pelanggar Sara. Salah Saudara sendiri. Jangan melaporkan saya ke polisi dengan menggunakan UU ITE atau UU tentang Sara karena saya sudah mengusir Saudara, tetapi Saudara tidak mau pergi juga.

            Salah siapa kalau begitu, hayo?

            Salah Saudara sendiri atuh.

            Saya bilang jangan baca, eh … terus membaca juga.

            Saudara salah parah banget. Kacau.

            Tuh, kan masih terus membaca juga.

            Oke, saya menyerah, silakan baca tulisan ini bersama saya sampai dengan selesai. Salah sendiri.

            Indonesia harus belajar dari urang Sunda ketika mendapatkan penghinaan. Suku Sunda pernah dilecehkan dan dihina.

            Masih ingat ucapan pelecehan yang dilakukan Rizieq Shihab?

            Dia memplesetkan salam orang Sunda sampurasun dengan mengubahnya menjadi campur racun!

            Ingat sekarang?

            Kejadiannya masih belum lama kok.

            Itu benar-benar mutlak pelecehan yang dilakukan Rizieq terhadap orang Sunda. Tak ada penafsiran yang berbeda mengenai pelecehan itu. Dibandingkan QS Al Maidaah : 51, pelecehan yang dilakukan Rizieq sangat akurat dan terang-benderang. Kasus dugaan penghinaan yang dilakukan Ahok masih debatable. Saya sendiri tidak melihat ada kata-kata Ahok yang menunjukkan penghinaan, baik secara kata-kata dalam bahasa Indonesia maupun dari tafsir Ibnu Katsir dan dari Sejarah Muhammad karya Mohamad Haekal. Berbeda dengan pelecehan yang dilakukan Rizieq yang jelas-jelas memplesetkan sampurasun dengan mengubahnya secara sengaja menjadi campur racun. Plesetan itu sangat jelas dan tidak mungkin debatable.

            Pelecehan Rizieq yang angkuh dan arogan itu tentu saja membuat marah orang Sunda. Rizieq pun dilaporkan Ormas Sunda kepada pihak kepolisian. Orang Sunda yang mencintai sukunya menuntut Rizieq memohon maaf kepada masyarakat Sunda, bahkan mungkin sebagian ada yang menginginkan Rizieq dipenjara karena melakukan penghinaan kepada orang Sunda.

            Sampurasun itu kata yang teramat mulia bagi orang Sunda karena memiliki makna mendoakan keselamatan bagi manusia, melembutkan hati, meluweskan perilaku, mengungkapkan rasa persaudaraan, dan melapangkan dada untuk senantiasa mampu memberikan maaf kepada orang lain. Kata itu memiliki makna yang sama dengan assalaamualaikum wr. wb.. Orang Sunda sudah memiliki anugerah yang besar bahwa sebelum bahasa Arab hadir di tanah Sunda, Sang Cipta Rasa, yaitu Sang Hyang Kersa, yaitu Allah swt sudah memberikan kata salam dalam bahasa Sunda untuk digunakan sehari-hari sebagai doa, sebagaimana ajaran keluhuran Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as.

            Coba bayangkan betapa tidak sopannya Rizieq memplesetkan doa untuk keselamatan menjadi campur racun?

            Tak heran jika banyak orang Sunda marah. Jika saja orang Sunda mau, Jakarta bisa dipenuhi orang Sunda. Demo kemarin-kemarin yang diklaim sebagai demonstrasi umat Islam itu mah sangat sedikit. Demo itu kan hanya klaim merupakan demonstrasi umat Islam, padahal hanya beberapa kelompok umat Islam. Sebagian besar umat Islam kan tidak ikutan demo. Sebagian besar umat Islam tetap dengan aktivitasnya masing-masing. Kalau saja orang Sunda mau demonstrasi untuk menuntut Rizieq memohon maaf, bahkan menuntut agar Rizieq dimasukkan dalam jeruji besi, luas Jakarta tidak akan mampu menampung orang Sunda yang berdemo karena orang Sunda akan memenuhi Jakarta sampai ke gang-gang terkecil.

            Orang Sunda itu akan gampang tersulut emosi jika para pemimpin dan tokoh-tokohnya menyerukan bergerak dengan kalimat ajakan, “Demi Eyang Prabu Siliwangi!”

            Akan tetapi, orang Sunda tidak melakukannya, padahal jelas-jelas tanpa penafsiran berbeda bahwa Rizieq telah melakukan pelecehan.

            Inilah yang saya bilang bahwa bangsa Indonesia harus belajar dari urang Sunda. Ketika orang Sunda marah, Ormas Sunda melaporkan Rizieq ke polisi, dan mulai ada konflik-konflik fisik antara massa Ormas Sunda dan massa FPI, para pemimpin dan tokoh Sunda berupaya segera meredam kemarahan orang-orang Sunda. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan segera tampil dengan sejuk. Ia menjelaskan bahwa sampurasun itu sama dengan assalaamualaikum. Ia pun mencoba menenangkan orang Sunda bahwa Rizieq memplesetkan sampurasun menjadi campur racun itu secara tidak sengaja. Kemudian, mengisyaratkan bahwa sebaiknya Rizieq dimaafkan oleh orang Sunda. Demikian pula Walikota Bandung Ridwan Kamil menenangkan masyarakat dengan penjelasan yang mirip sebagaimana yang diungkapkan Gubernur Jabar Aher. Demikian pula, para tokoh-tokoh Sunda yang menganggap bahwa perilaku bodoh Rizieq itu sebagai sesuatu hal yang tidak perlu dibesar-besarkan.

            Coba bayangkan, bagaimana bijaksananya para pemimpin resmi di tanah Sunda itu dalam meredam kemarahan orang Sunda?

            Rizieq yang sepanjang pengetahuan saya tidak pernah meminta maaf atas kebodohan dan kesombongan dirinya itu, sudah dimaafkan oleh orang Sunda. Rizieq tidak meminta maaf pun, orang Sunda sudah memaafkan.

            Coba bayangkan kalau para pemimpin pemerintahan dan tokoh-tokoh di tanah Sunda menggerakkan rakyatnya untuk menuntut Rizieq masuk penjara dan meminta maaf kepada rakyat Sunda, kemudian demonstrasi di Monas, depan Istana, dan gedung MPR/DPR, Jakarta pasti habis. Jakarta pasti heurin ku tangtung wargi Sunda. Jakarta tidak akan bergerak sama sekali karena akan terlalu penuh oleh puluhan juta orang Sunda. Polri dan TNI akan lebih sibuk, lebih letih, dan lebih kelabakan.

            Tidak terjadinya demonstrasi besar-besaran oleh orang Sunda itu disebabkan oleh para pemimpin Sunda, baik formal maupun nonformal, akademisi Sunda, aktivis kesundaan, dan rakyat Sunda cepat memahami bahwa demonstrasi untuk hal itu sangatlah tidak produktif dan bisa memicu disintegrasi bangsa. Bahkan, berpotensi menghambat laju pembangunan nasional. Di samping itu, rakyat Sunda sudah merasa cukup dengan tindakan Ormas Sunda yang melaporkan Rizieq ke polisi sebagai warning  bahwa orang Sunda tidak menyukai perilaku tidak sopan Rizieq. Rakyat Sunda berharap bahwa Rizieq tidak mengulanginya lagi.

            Berbeda halnya jika Rizieq mengulangi kebodohannya lagi, situasinya bisa lain. Kalau dia mengulangi lagi kecerobohannya dan nyaman atau merasa senang karena orang Sunda tidak meneruskan kemarahannya, saya menyerukan kepada seluruh pemimpin formal dan nonformal di tanah Sunda untuk menggerakkan rakyat Sunda mendesak Polri, TNI, dan Presiden untuk memenjarakan Rizieq FPI karena orang ini benar-benar berpotensi memecah-belah persatuan dan kesatuan Indonesia. Jika dia mengulanginya lagi, dia benar-benar orang yang berbahaya. Pasukan TNI Siliwangi harus benar-benar berdiri bersama orang Sunda. Kalau Rizieq paham dan tidak mengulangi perilakunya lagi yang bisa menyakitkan hati orang lain, itulah hal yang sangat diharapkan orang Sunda sehingga kita bisa hidup bersama berdampingan saling menghormati, saling menghargai, dan saling melindungi.

            Bagaimana dengan Ahok?

            Begini Saudara … eh, tadi sudah saya bilang kan jangan membaca tulisan ini?

            Akan tetapi, Saudara terus membacanya. Jadi, mari kita selesaikan.

            Saya berkhayal bahwa kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok bisa diselesaikan dengan cara Sunda mirip dengan kasus campur racun  Rizieq. Demonstrasi besar yang telah dilakukan beberapa kelompok umat Islam sesungguhnya sudah masuk ke hati Ahok bahwa kelompok-kelompok itu tidak menyukai Ahok dan nonmuslim lainnya membahas atau membicarakan ayat-ayat suci Al Quran karena itu adalah domain umat Islam. Sudah cukup Ahok mendapatkan peringatan. Dengan sedikit keyakinan, kita bisa berharap bahwa dia tidak mengulanginya lagi. Akan tetapi, sebagai hukuman atas pelanggaran etika yang dilakukan Ahok, kita bisa menuntut Ahok untuk setiap hari meminta maaf kepada umat Islam di media massa selama setahun penuh.

            Mengenai adanya penghinaan dalam kata-kata Ahok, baik secara bahasa Indonesia maupun tafsir, sebenarnya debatable. Di antara ahli Islam sendiri terdapat perbedaan pandangan mengenai QS Al Maidaah : 51 sebagaimana yang disampaikan Kapolri Tito Karnavian. Sebaiknya, perbedaan pemahaman terhadap ayat ini diselesaikan di kelas-kelas kuliah atau di ruang-ruang pengkajian Islam dan bukan di pengadilan. Dengan masuknya kasus dugaan penistaan ini ke ruang pengadilan, sesungguhnya, saya sebagai orang Islam merasa malu sekaligus marah. Hal itu disebabkan dengan masuknya kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok ke ruang pengadilan ini sama artinya dengan menyerahkan kebenaran pemahaman mengenai QS Al Maidaah : 51 ke tangan hakim dan bukan ke tangan para ahli Islam yang jujur. Keputusan hakim bisa menentukan arah pemahaman QS Al Maidaah : 51. Artinya, jika Ahok dinyatakan tidak bersalah, QS Al Maidaah : 51 secara hukum dinyatakan “sama sekali tidak terkait dengan pemilihan pemimpin” dan setiap orang yang pernah menggunakan ayat ini untuk pemilihan pemimpin dinyatakan salah secara hukum. Sebaliknya, jika Ahok dinyatakan bersalah, QS Al Maidaah : 51 akan berpotensi untuk terus digunakan dalam meraih kepemimpinan di Indonesia ini, berkualitas atau tidak calon pemimpin, yang penting Islam. Hal ini pun akan membuat kebingungan umat Islam pada wilayah-wilayah tempat umat Islam sebagai minoritas dan tidak memiliki calon pemimpin yang siap memimpin. Jadi, penafsiran dan pemahaman mengenai QS Al Maidaah : 51 akan sangat dipengaruhi oleh hakim. Keputusan hakimlah yang menentukan arah pemahaman QS Al Maidaah : 51 dan bukan hasil diskusi, penelitian, penelaahan, dan pengkajian para ahli Islam yang jujur dan jernih hati.  Para ahli Islam dari pihak Jaksa Penuntut Umum mungkin akan mengatakan bahwa QS Al Maidaah : 51 adalah memang ayat yang harus digunakan umat Islam dalam memilih pemimpin sehingga Ahok memang bersalah. Akan tetapi, para ahli Islam dari pihak pembela mungkin akan bersikeras bahwa ayat itu tidak berkaitan dengan pemilihan pemimpin sehingga Ahok tidak bersalah. Pada akhirnya, kedua pandangan yang berbeda itu harus tunduk kepada keputusan hakim. Artinya, salah satu pandangan dari kedua kubu para ahli itu harus dinyatakan salah oleh hakim.

            Sungguh, saya pribadi merasa malu dengan hal itu. Para ahli Islam harus tunduk kepada hakim mengenai penafsiran ayat-ayat Al Quran. Padahal, seharusnya para hakimlah yang harus belajar banyak dari para ahli Islam.

            Sungguh, Allah swt memperhatikan kita. Allah swt akan sangat marah dan pasti menghukum dengan keras orang-orang yang secara salah memberikan arti terhadap firman-Nya yang sangat luhur dan mulia. Apalagi jika mengartikan ayat tersebut hanya untuk mendapatkan kepentingan politik dan ekonomi dan bukan untuk mendapatkan keridhoan Allah swt dengan cara memuliakan manusia dan kemanusiaan serta menebarkan cinta, kasih, dan perdamaian. Allah swt sangat mampu menjatuhkan bencana kepada seseorang, sekelompok orang, bahkan sebuah bangsa jika sudah marah karena petunjuk-Nya yang suci dijadikan bahan persengketaan.

            Sebagaimana yang tadi saya sampaikan bahwa saya berkhayal bahwa kasus seperti ini bisa diselesaikan sebagaimana orang Sunda meredam kemarahan terhadap Rizieq. Beri peringatan Ahok untuk tidak mengulanginya lagi. Suruh dia meminta maaf setiap hari selama satu tahun. Selesaikan perbedaan pemahaman mengenai QS Al Maidaah : 51 oleh para ahli Islam. Biarkan para ahli Islam berdebat dan berlelah-lelah hingga mendapatkan pemahaman yang sama karena ayat itu diucapkan oleh Zat Yang Sama, Allah swt.

            Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan Boy Rafli Amar bahwa setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat tidak harus semuanya berakhir di kepolisian. Masyarakat bisa menyelesaikannya sendiri dengan cara-cara yang bijak dan mencerahkan.

            Indonesia harus belajar dari urang Sunda yang telah mengerem kemarahan sehingga situasi tetap damai, tenang, bersatu, dan tidak menimbulkan potensi konflik di tengah masyarakat. Sungguh, Allah swt menginginkan kasih sayang dan perdamaian di muka Bumi ini. Kitalah yang harus menjadi wakil-Nya dalam menebar cinta kasih damai di seluruh penjuru muka Bumi. Demi Allah swt.