Showing posts with label Kota Bandung. Show all posts
Showing posts with label Kota Bandung. Show all posts

Tuesday, 31 January 2023

Masjid Raya Al Jabbar Bakalan Sepi

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Begitu kata kaum “nyinyirun” penakut yang stress karena melihat kemegahan Al Jabbar dan kecerdasan Ridwan Kamil. Mereka kebanyakan salah menganalisa karena datanya ngarang sendiri dan tidak punya pengalaman soal masjid. Mereka hanya melihat data bahwa ada lebih dari 50.000 masjid di Jawa Barat dan banyak masjid yang jamaahnya sedikit sehingga terlihat kosong dan sepi kegiatan. Itu tidak salah karena memang di Jawa Barat terlalu banyak masjid yang berdekatan sehingga jamaahnya tampak sepi dari ibadat dan aktivitas keagamaan lainnya. Hal itu disebabkan jamaah tersebar pada banyak masjid kecil dan tidak terkonsentrasi pada satu masjid. Akan tetapi, jika hanya melihat masjid-masjid kecil berdekatan yang sepi, lalu menjadi dasar pemikiran bahwa Masjid Raya Al Jabbar pun akan sepi senasib masjid-masjid kecil, itu adalah analisa yang salah besar, tidak objektif, tidak netral, dan hanya terdorong oleh rasa iri, takut, dan nyinyir. Lemah sekali analisa mereka.

            Dalam pandangan saya, Masjid Raya Al Jabbar tidak akan pernah sepi, bahkan akan semakin ramai dan semakin banyak kegiatan. Hal itu disebabkan banyak hal. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya hanya menjelaskan satu hal ringan yang menjadi dasar pemikiran bahwa Masjid Al Jabbar tidak akan sepi. Lihat saja Masjid Agung Kota Bandung yang berada di Cikapundung, Alun-alun Bandung. Itu adalah masjid setingkat kota, tetapi tidak pernah sepi. Sejak sebelum saya lahir pun tidak pernah sepi. Ibu saya berceritera tentang hal itu. Ketika saya masih sangat kecil pun sangat sering diajak ayah saya ke Masjid Agung Kota Bandung itu untuk shalat, bertemu dan berdiskusi dengan teman-temannya, atau ngabuburit jika Ramadhan tiba. Saya masih ingat ketika masjid itu masih memiliki empat pilar besar sebagai penopang hampir di tengah bangunan, sekarang tak ada lagi tiang itu. Saya masih suka berlari-lari di dalam masjid itu serta meloncati ayah saya dan teman-temannya yang terkadang kelelahan sehingga tidur di dalam masjid. Saya masih ingat bahwa dulu masjid itu terpisah dengan alun-alun yang memiliki air mancur. Sekarang, alun-alun menjadi bagian dari masjid dan air mancurnya menghilang. Masjid itu tidak pernah sepi hingga sekarang, bahkan makin ramai. Masjid itu selalu penuh, kecuali jika pengurus masjid menutupnya. Biasanya, malam tahun baru ditutup untuk menghindari digunakan orang-orang yang sedang tahun baruan hanya untuk tidur dan ngobrol nggak karuan. Shubuhnya baru dibuka lagi.




            Masjid itu tidak pernah sepi sejak dulu hingga sekarang, padahal itu masjid setingkat kota. Al Jabbar adalah masjid setingkat provinsi yang karena kemegahan dan kemodernannya terkenal senasional, bahkan ke seluruh dunia. Itu jelas tidak akan sepi. Sampai hari ini pun selalu ramai dan penuh hingga sekitar pukul 21.00. Masjid itu ditutup hingga menjelang shubuh untuk proses pembersihan karena banyak sekali orang yang datang berdesakan dan kurang disiplin dalam membuang sampah.




            Pengalaman saya juga begitu kok. Ketika istri dan anak perempuan saya puasa, shaum mengganti hutang pada Ramadhan lalu, orang Sunda bilang “ngodoan”, saya ajak mereka untuk ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar supaya ngabuburitnya tambah menyenangkan dan menambah pahala. Sejak masuk wilayah Rancapati, jalanan mulai terasa macet. Ketika di parkiran pun mulai susah cari tempat parkir. Saat berjalan menuju pintu gerbang pelataran alun-alun masjid pun sangat banyak orang. Ketika sudah memasuki gerbang pun, sangat banyak manusia di sana. Saya di komplek masjid sekitar sejak pukul 17.00 s.d. pukul 20.30. Orang-orang masih banyak dan sepertinya tidak mau meninggalkan tempat itu karena makin malam makin indah. Jika saja pintu masjid tidak ditutup dan petugas tidak menginformasikan akan dilakukan pembersihan dan pemeliharaan, akan banyak orang yang rela hingga Shubuh berada di sana. Artinya, masjid itu tidak sepi, di parkiran pun banyak mobil dan bus dengan Nopol bukan Kota Bandung.




            Meskipun saya bilang Masjid Raya Al Jabbar tidak akan pernah sepi, faktanya benar bahwa Al Jabbar bakal sepi. Jangankan masjid, seluruh dunia ini pun akan sepi pada akhirnya karena sudah ketentuannya untuk kiamat. Ketika kiamat tiba, dunia ini sangat sepi. Hanya Allah swt dan Malaikat Izrail Sang Pencabut Nyawa yang ada setelah kehancuran itu. Setelah itu, Allah swt menghentikan hidup Malaikat Izrail sehingga tinggal diri-Nya yang tetap ada.

            Lalu, Allah swt berseru pada seluruh alam semesta, “Wahai Makhluk-makhluk Angkuh, di mana kalian sekarang? Wahai kalian yang tidak mempercayai diri-Ku dan kejadian hari ini, sedang apa kalian? Tunjukkan kekuasaan kalian!”

            Tak ada yang menjawab, tak ada komentar, tak ada suara, semua mati, kecuali Allah swt. Semuanya telah berakhir, kemudian Allah swt menghilangkan semuanya dan membentuk lagi ciptaan baru bernama Akhirat untuk mengambil pertanggungjawaban dari seluruh makhluk ketika berada di alam dunia.

            So, Masjid Raya Al Jabbar pasti sepi jika dilanda kiamat.

            Sampurasun.

Sunday, 16 April 2017

Bandung Heurin ku Goler

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Orang Bandung pasti mengenal istilah Bandung heurin ku tangtung, ‘Bandung padat oleh orang yang berdiri’. Entah sejak kapan kalimat itu ada. Pasti umurnya sudah sangat tua. Kakek-kakek yang sudah sangat renta lanjut usia saat ini pun sudah mendengarnya sejak 1920. Mereka mendengarnya dari orang-orang tua mereka. Kalimat itu memang sudah teramat tua.

            Kalimat itu merupakan prediksi para orang tua zaman dulu dengan kekuatan spiritualnya yang luar biasa. Bayangkan, pada 1920 saja Bandung masih sangat lengang. Sebelum tahun itu pasti masih lebih lengang. Sebelum-sebelumnya, pasti jauh lebih lengang, mungkin masih sekitar 200 orang yang berada di Bandung. Jumlah 200 orang itu adalah jumlah rakyat Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah saat pertama kali membangun Bandung yang dimulai dengan pembangunan pendopo dekat Sungai Cikapundung yang kini menjadi rumah dinas walikota Bandung. Saat mendirikan Kota Bandung, Bupati RAA Wiranatakusumah masih berusia 16 tahun.

            Saya masih ingat tulisan tokoh pers nasional yang sangat terkenal di Jawa Barat, yaitu Atang Ruswita, pendiri Harian Umum Pikiran Rakyat. Ia (alm.) semasa hidupnya setiap hari menulis di pojok khusus yang ada pada halaman pertama HU Pikiran Rakyat. Dalam tulisannya ia mengakui mendengar istilah Bandung heurin ku tangtung dari kakeknya pada 1920.

            Kakeknya bilang, “Nanti itu Bandung akan sangat padat, penuh dengan orang-orang. Bandung heurin ku tangtung. Untuk berjalan saja, sulit. Malahan, kita pun akan kesulitan mendapatkan tanah untuk kuburan kita jika kita mati.”  

            Kata-kata kakek seorang tokoh pers itu tampak sekali sekarang mulai terjadi, bahkan sedang terjadi. Beberapa waktu lalu, ketika menyelesaikan pembayaran administrasi makam kakek saya di Dinas Pemakaman Kota Bandung, saya sekalian berziarah ke makam kakek saya di Pemakaman Umum Muslim Sirnaraga yang dikelola pemerintah Kota Bandung. Meskipun saya tidak pernah bertemu dengannya karena kakek saya meninggal pada usia sangat muda, 32 tahun, ketika ibu saya masih kecil, saya meneruskan tradisi nenek saya yang selalu berziarah ke makam kakek saya. Ada pemandangan aneh di pekuburan umum itu. Di samping sudah sangat padat hingga kuburan-kuburan itu saling berhimpitan, tak ada lagi jarak antara satu kuburan dengan kuburan lainnya, juga banyak kuburan yang satu lubang digunakan untuk dua jenazah. Saat diperhatikan satu lubang kuburan itu digunakan oleh dua jenazah yang masih satu keluarga, misalnya, suami dan istri, ibu dan anak, ayah dan anak, atau adik-kakak. Di samping kuburan kakek saya pun ada dua nisan pada satu kuburan yang sama. Ketika saya lihat dari namanya, ternyata itu adalah kuburan seorang ayah dengan seorang anak perempuannya. Padahal, dulu kalau saya berziarah, masih hanya ada satu nisan, yaitu nama ayahnya. Sekarang ada nisan lagi pada bagian perut kuburan itu dengan nama perempuan yang ditambahkan kata binti nama ayahnya.

TPU SIRNARAGA, KOTA BANDUNG. Foto: www.pikiran-rakyat.com
            Dilihat dari cara memasang nisan, saya membayangkan bahwa mungkin para penggali kubur menggali kuburan ayah perempuan itu, lalu tulang belulang ayahnya dikumpulkan dan ditumpukkan pada bagian kepalanya, setelah itu dimakamkanlah puterinya.

            Bandung benar-benar sudah padat. Kini bukan hanya Bandung heurin ku Tangtung, melainkan pula ditambah dengan Bandung heurin ku goler, ‘Bandung padat oleh tubuh yang rebah’.

            Perlu ada cara agar Kota Bandung tidak selalu menjadi tempat bermukim penduduk, tak perlu lagi ada penambahan penduduk di Kota Bandung. Seharusnya, diupayakan penyebaran penduduk ke wilayah-wilayah terdekat yang masih di seputaran Bandung Raya,  misalnya, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

            Saya juga memilih pindah rumah dari Kota Bandung ke Kabupaten Bandung salah satunya disebabkan semakin padatnya Kota Bandung, baik penambahan penduduk akibat urbanisasi maupun penambahan volume kendaraan yang memacetkan lalu lintas. Saya sekarang tinggal di perbukitan. Di sini udaranya masih sangat segar. Ketika membuka pintu rumah, saya langsung melihat pegunungan yang jaraknya teramat dekat, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di sini masih banyak lahan kosong dan jarang kendaraan. Anak-anak masih memiliki tempat yang sangat luas untuk bermain dan setiap orang masih kenal satu sama lain meskipun berbeda RT, beda RT, malah beda desa. Kesulitannya adalah masih kurang lengkap sarananya. Kalau membutuhkan barang-barang seperti di kota, harus agak jauh menuju ke jalan ramai. Kalau sakit agak berat dikit, dokter masih jauh. Puskesmas juga cukup jauh. Begitu juga tukang cukur masih jarang. Bidan yang membantu kelahiran pun jaraknya lumayan jauh. Akan tetapi, keperluan-keperluan itu masih bisa diatasi, hanya beda jarak dengan di kota.

            Saya juga melihat masih sangat banyak lahan kosong di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Kalau penyebaran penduduk dan penyebaran pertumbuhan ekonomi semakin baik dan merata ke wilayah lain, kepadatan Kota Bandung akan semakin teratasi.


            Sampurasun.

Tuesday, 21 March 2017

Banjir Langganan

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya
Setiap hari hujan, apalagi jika hujan besar, jalan raya di Rancaekek dan Dayeuhkolot, terutama Cieunteung selalu direndam banjir.

            Apakah banjir itu tidak bisa ditanggulangi?

            Perasaan, saya sudah pernah mendengar sekitar tiga atau empat tahun lalu bahwa banjir di Rancaekek itu akibat dari penyempitan aliran sungai gara-gara pembangunan pabrik. Kepolisian sudah menetapkan tersangka untuk kasus banjir akibat penyempitan aliran sungai itu. Dalam kata lain, penyempitan itu diakibatkan oleh ulah manusia. Manusia itu sudah jadi tersangka.

            Kalau sudah ada tersangka, seharusnya sudah ditindaklanjuti, kemudian dilakukan perbaikan terhadap penyempitan aliran sungai itu. Akan tetapi, banjir ternyata terus terjadi. Bahkan, banjir menggenang terus ada, padahal hujan sudah lebih dari 24 jam berhenti.

            Aneh.

            Apakah ini ada tersangka lain dengan kasus yang lain, misalnya, penyumbatan gorong-gorong?

            Apakah kasus penyempitan aliran sungai yang lalu belum dituntaskan kasusnya?

            Kepolisian dan Pemda, baik Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, maupun Provinsi Jawa Barat hendaknya serius berkoordinasi. Hal ini sebenarnya bisa ditanggulangi, dicari penyebabnya, ditemukan pendosanya, kemudian dilakukan perbaikan.

            Hal yang sangat rumit dan sangat aneh adalah soal banjir di Cieunteung, Kabupaten Bandung. Wilayah ini sudah ratusan tahun selalu kena banjir. Akan tetapi, tak ada yang mampu menanggulanginya. Sebelum Indonesia dijajah, daerah ini selalu banjir. Ketika VOC datang, wilayah ini masih banjir. Saat Pemerintah Belanda mengambil alih, wilayah ini tetap banjir. Sewaktu RAA Wiranatakusumah menjadi Bupati Bandung, baru ada kesadaran untuk meninggalkan tempat ini. Dulu wilayah ini namanya Krapyak dan menjadi pusat Ibukota Kabupaten Bandung. Oleh sebab itu, sekarang namanya menjadi Dayeuhkolot, ‘Kota Tua’, dan memang ada ciri-ciri jelas merupakan bekas pusat pemerintahan. RAA Wiranatakusumah memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung karena wilayah ini selalu dilanda banjir. Banjir ini terus terjadi sampai sekarang. Ketika Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah berusia genap 16 tahun, pusat pemerintahan dipindahkan ke dekat Sungai Cikapundung, lalu membuat pendopo bersama rakyatnya. Sekarang pendopo itu menjadi rumah dinas walikota Bandung dan wilayah itu dikenal sebagai Alun-alun Bandung.

            Hebat ya RAA Wiranatakusumah. Dalam usianya yang masih 16 tahun sudah jadi bupati dan membuat kota besar yang sekarang menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Anak sekarang mana ada yang usianya 16 tahun sudah bisa memikirkan bagaimana caranya membangun kota. Paling-paling, mereka masih main game di handphone, play station, atau game on line. Saya pikir ada yang salah dalam pendidikan kita yang kebarat-baratan ini. Anak muda dulu malah lebih bertanggung jawab dan kreatif.

            Wilayah Dayeuhkolot yang ditinggalkannya tetap banjir. Anehnya, baik RAA Wiranatakusumah maupun Belanda tidak tertarik untuk memperbaiki wilayah itu. Mungkin memang tepat jika wilayah itu sudah seharusnya dijadikan danau. Saat ini pun rencananya memang hendak dijadikan danau, tetapi tidak kunjung terwujud. Ada banyak kerumitan di sana, yaitu soal penempatan masyarakat yang akan tergusur karena pembangunan danau atau polder, soal pengalihan tempat usaha masyarakat dan pasar, soal jumlah ganti rugi yang harus dibayarkan kepada masyarakat, soal banyaknya kelompok berperilaku preman yang membuat urusan tambah kusut, soal kurang adanya koordinasi yang baik di antara SKPD-SKPD yang bertanggung jawab atas hal tersebut, dan masih banyak lagi kerumitan lainnya. Paling tidak, itulah yang dapat saya dengar ketika mengantar teman saya yang melakukan penelitian di sana untuk meraih gelar masternya terkait kebijakan publik.

            Saya melihatnya agak aneh.

            Serius nggak sih menyelesaikan banjir di sana yang sudah ratusan tahun itu?

            Apakah mau dibiarkan seperti itu serta menjadikannya proyek penanggulangan bencana alam rutin dan mengambil keuntungan sampingan dari bantuan-bantuan yang kerap diberikan, baik oleh organisasi, kelompok masyarakat, individu, atau mobil-motor yang lewat di sana ketika terjadi banjir?

            Saya pikir, kalau serius dengan niat yang kuat, pasti selesai.

            Lamun keyeng, tangtu pareng, ‘kalau serius ngotot, pasti tercapai’. Begitu kata pepatah orang tua Sunda.


            Sampurasun.

Monday, 20 March 2017

Ridwan Kamil-Dedi Mulyadi

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Gubernur Ahmad Heryawan sudah harus menyelesaikan masa tugasnya sebagai gubernur Jawa Barat. Harus ada orang lain yang menggantikan posisinya sebagai gubernur.

            Ada banyak tokoh dan pemimpin yang hebat di Jawa Barat, tetapi saya harus mengakui bahwa Ridwan Kamil adalah satu sosok yang bisa sangat diandalkan untuk memimpin Jawa Barat. Dia sudah relatif berhasil mempercantik Kota Bandung. Dia sudah berhasil menjaga dirinya untuk bekerja dengan baik dan tidak memiliki masalah yang dapat menjerumuskannya menjadi orang yang korup. Dia pun relatif tidak memiliki masalah secara pribadi dengan warganya. Dia baik-baik saja dan mampu memanfaatkan potensi dirinya dalam memimpin Kota Bandung sebagai walikota. Ia arsitek nasionalis muslim berjiwa Sunda. Hal itu bisa dilihat dengan jelas, baik dari caranya berbicara, bersikap, dan mengambil kebijakan.

            Adalah hal yang tepat jika Partai Nasionalis Demokrat (Nasdem) pimpinan Surya Paloh yang dengan prinsip hebat “politik tanpa mahar” mendorong Ridwan Kamil untuk menjadi Gubernur Jawa Barat. Saya bilang politik tanpa mahar ini merupakan prinsip yang sangat hebat karena sepanjang pengetahuan saya baru Nasdem yang melakukannya, partai lain masih belum atau paling tidak belum mendeklarasikan sebagaimana Nasdem mendeklarasikan dirinya. Bahkan, mungkin baru Nasdem partai yang melakukannya di seluruh dunia ini. Hal ini merupakan fenomena yang harus dipelajari dan diteliti karena bisa mereduksi beberapa kebobrokan yang ada di dalam sistem politik demokrasi.

RIDWAN KAMIL. Foto: www.boombastis.com

            Ridwan Kamil memang tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan uang untuk menempati posisi politik karena sudah banyak mengumpulkan prestasi dan kekaguman masyarakat terhadap dirinya. Ia tidak perlu jor-joran memperkenalkan dirinya karena sudah terkenal. Ridwan Kamil hanya cukup mempromosikan dirinya, latar belakang, hidupnya, dan menampakkan prestasinya selama menjadi Walikota Bandung di samping visi dan misinya untuk membangun Jawa Barat pada masa depan yang lebih baik. Uang yang diperlukan pasti ada, tetapi tidak akan sebesar mereka yang berminat menjadi gubernur Jawa Barat tanpa banyak prestasi dan kurang dikenal. 


Wakil Gubernur
Untuk menjadi gubernur, tentu saja membutuhkan seorang wakil gubernur. Sosok wakil gubernur ini bukan hanya berguna dalam meraih banyaknya suara, melainkan pula harus berguna dalam menjalankan roda pemerintahan. Gubernur dan wakilnya harus berbagi tugas agar pembangunan masyarakat bisa lebih cepat mencapai tujuan. Jangan kayak yang dulu-dulu pada berbagai daerah. Sosok wakil hanya berguna dalam meraih suara. Akan tetapi, dalam menjalankan pemerintahan “berantem” melulu dengan atasannya karena saling merasa paling berjasa. Akhirnya, “cerai” dan  berhadapan dalam pemilihan pada periode berikutnya.

            Untuk wakil gubernur Jawa Barat, sosok yang menurut saya tepat adalah Dedi Mulyadi. Ketokohan dia sebagai urang Sunda sudah tidak bisa diragukan lagi. Ia sangat mencintai budaya Sunda dan budaya Indonesia. Baginya, jati diri seseorang itu harus ditampakkan melalui budayanya sendiri sehingga bisa tampil baik dan bermanfaat bagi orang banyak. Dedi adalah muslim Indonesia yang mencintai budaya. Dengan itulah, dia membangun Purwakarta. Ia orang baik. Ia tidak bermasalah dalam korupsi. Ia orang yang hemat dalam pengeluaran untuk hal-hal yang memang seharusnya dihemat sehingga mampu membelanjakan APBD untuk kepentingan yang lebih besar.

DEDI MULYADI. Foto: news.okezone.com

            Dedi Mulyadi memiliki banyak potensi dan ide-ide spektakuler di dalam kepalanya untuk membangun masyarakat menjadi cerdas, berbudaya, dan religius. Ia banyak menuntut pemerintah pusat dan provinsi untuk menyelesaikan kewajibannya di Purwakarta agar masyarakat Purwakarta dapat lebih terlayani dan sejahtera. Ia merasa bahwa dirinya sudah melakukan banyak kewajibannya sebagai pemimpin Purwakarta, tetapi masyarakat Purwakarta harus lebih dapat merasakan hadirnya pembangunan yang wajib dilakukan provinsi dan pemerintah pusat. Setidak-tidaknya, itulah yang membuat saya tertarik ketika berkunjung ke Purwakarta, saat masih menjadi staf DPD RI mendampingi Prof. H. Mohamad Surya. Dia pandai berhemat untuk hal-hal yang bisa dihemat, misalnya, dalam hal makan dan minum. Ia menghidangkan makanan yang biasa-biasa saja tidak mewah, tetapi nikmat. Ia menyuguhi makanan khas Sunda yang murah dan sehat, seperti, nasi timbel, tahu, tempe, jambal, sayur asem, daging ayam, lalapan, dan sambal. Minumannya juga biasa saja, seperti, air putih, teh, bajigur, dan bandrek. Snack-nya juga murah meriah, seperti, kacang tanah, ubi, dan ketela rebus. Berbeda dengan kepala daerah lain yang suka memberikan hidangan makanan dan minuman yang mahal-mahal, bahkan produk luar negeri.

            Tak heran jika Dedi bisa memberikan banyak santunan kepada pengurus DKM, guru ngaji, orang yang berhutang, orang bangkrut, dan orang-orang kurang beruntung lainnya. Pernah ada sekeluarga yang bangkrut dibantu Dedi dengan membelikan sepasang kambing sebagai modal kerja. Pernah pula Dedi membiayai operasi jantung seorang Hansip sampai seharga 40 juta rupiah.

            Dedi Mulyadi orang baik, punya banyak prestasi, dikenal, dan memiliki banyak gagasan untuk masyarakat. Jika dia bisa menjadi wakil gubernur, kewajiban provinsi yang kerap dimintanya dapat dilakukannya sendiri untuk Jawa Barat, sebagaimana dia membangun Purwakarta.


Kampanye Mendidik
Sebaiknya, memang Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi berpasangan dan jangan berhadapan. Dengan demikian, suara masyarakat akan terkumpul bulat. Wajib diingat ketika pemilihan gubernur yang lalu-lalu berhadapan antara Dany Setiawan dan Agum, padahal konstituen mereka adalah massa yang sama. Akibatnya, suara pecah dan tidak ada yang menang. Justru yang menang adalah pasangan yang sama sekali tidak diunggulkan alias “kuda hitam”, yaitu pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Padahal, saat itu pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf kalau dalam dunia sepak bola bisa dibilang under dog.

            Dedi tidak perlu berhadapan dengan Ridwan Kamil dan tidak perlu berspekulasi yang akhirnya bisa bikin kaget dan kecewa. Ridwan Kamil sudah berada pada posisi on the top pada masa sekarang ini di mata masyarakat. Tidak perlu melawan orang yang sudah kuat karena memang Ridwan Kamil adalah Walikota Bandung dan Kota Bandung adalah pusatnya Jawa Barat. Wajar jika dia menjadi gubernur.

            Demikian pula sebaliknya, Ridwan Kamil jangan pasang kuda-kuda melawan Dedi Mulyadi karena Dedi akan sangat berperan banyak, baik dalam proses pemilihan maupun dalam menjalankan roda pemerintahan agar tercipta Jawa Barat yang religius, cerdas, berbudaya, sejahtera, dan bahagia. Dedi Mulyadi akan menambah daya dorong dan citra positif, baik bagi Ridwan Kamil maupun bagi masyarakat Jawa Barat.

            Ridwan-Dedi adalah pasangan yang baik. Mereka berdua bisa berkampanye dengan baik dan menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat dalam berperan serta dalam pembangunan. Permasalahan terbesar masyarakat, yaitu persoalan ekonomi dan daya beli, insyaallah, akan mendapat jalan dari sinergi positif antara Ridwan dan Dedi.

            Kampanye yang harus banyak dilakukan, terutama oleh Dedi Mulyadi adalah kampanye yang mendidik masyarakat, terutama dalam hal hubungan antara Islam dan budaya. Kita tahu bahwa Dedi Mulyadi pernah dilaporkan oleh Rizieq-FPI soal penghinaan terhadap Islam. Bagi saya, laporan Rizieq itu mengada-ada karena hanya untuk meng­-counter laporan dari Ormas Sunda atas kebodohan Rizieq yang telah memplesetkan sampurasun menjadi campur racun.

            Justru laporan Rizieq-FPI itu membuat saya semakin kagum terhadap Dedi Mulyadi karena kalimat-kalimat dalam buku Dedi yang dianggap menghina itu merupakan pengetahuan baru tentang Islam. Islam itu agama yang sangat komprehensif dan meliputi berbagai ilmu pengetahuan. Dedi menerangkannya dengan menggunakan bahasa rasa dan itu sangat amazing.

            Ada baiknya Dedi Mulyadi mengadakan acara-acara semacam bedah buku Dedi sehingga pemahaman Dedi bisa didiskusikan oleh masyarakat dan mencerahkan banyak pihak. Jadi, di samping kampanye, juga memberikan masyarakat banyak ilmu pengetahuan. Pengetahuan itu bisa menjadi dasar agar rakyat Jawa Barat bersikap lebih positif, baik untuk dirinya sendiri, untuk lingkungannya, terhadap pemerintahnya, dan kepada Allah swt.

            Toh, Dedi Mulyadi sudah mendapatkan dukungan dari Ketua MUI Maruf Amin untuk ikut serta dalam pemilihan gubernur Jawa Barat. Itu artinya, hambatan dari kalangan Islam sudah clear, hampir tidak ada. Paling-paling mungkin cuma dari Rizieq-FPI. Itu mah kecil, kecil sekali, lucu malahan. Rizieq itu hal kecil. Dia itu memang suka seperti itu. Orang bikin buku, lalu isi bukunya tidak bisa dia pahami, disebutnya “menghina Islam”. Dedi bikin buku disebut “menghina Islam”. Ahok bikin buku disebut “menghina Islam”. Padahal, dia sendiri yang pikirannya terbatas. Seharusnya, untuk melawan ilmu pengetahuan, gunakan pula ilmu pengetahuan. Rizieq harusnya bikin buku sendiri, lalu curahkan semua gagasan dan landasan-landasan pengetahuannya itu dengan metode ilmiah sehingga masuk akal dan masyarakat bisa tercerahkan. Bikin buku sendiri dong untuk melawan pemikiran dari buku yang tidak disetujui, katanya S2 dari Malaysia. Itu juga kalau bisa bikin buku sendiri. Kalau tidak bisa, diam saja jangan banyak tingkah, malu.


Kepemimpinan Nasional
Apabila Ridwan Kamil-Dedi Mulyadi berpasangan, lalu dapat bekerja lebih baik lagi dibandingkan dengan prestasi yang telah diraih mereka di kampung halaman masing-masing, bukan tak mungkin seluruh mata masyarakat Indonesia akan tertuju pada pasangan ini. Suatu saat mereka bisa ambil ancang-ancang untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia setelah masa jabatan Jokowi-JK habis tentunya. Tak perlu berhadapan dengan Jokowi-JK karena itu tidak baik. Tunggu saja sampai habis masa jabatannya. Hal itu disebabkan Provinsi Jawa Barat adalah provinsi yang sangat penting dalam menyangga Ibukota Jakarta di samping jumlah penduduknya terbanyak di antara seluruh provinsi di Indonesia.

            Jika mereka dapat berpasangan dan setiap hari menunjukkan perbaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi daerah yang dipimpinnya. Indonesia menunggu mereka untuk memimpin Indonesia agar lebih baik lagi dan terus lebih baik lagi.


            Sampurasun.