Showing posts with label Sampurasun. Show all posts
Showing posts with label Sampurasun. Show all posts

Thursday, 27 July 2017

Pancasila Idealisme Islami

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya
Siapa bilang Pancasila bertentangan dengan Islam?

            Siapa bilang Pancasila adalah hukum jahiliyah?

            Siapa bilang Pancasila adalah aturan kafir?

            Mereka yang berpendapat bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam adalah orang-orang yang tidak mengerti Islam dan tidak mengerti Pancasila dengan benar atau orang-orang yang tidak mau tahu tentang Islam dan tidak mau tahu tentang Pancasila karena menginginkan posisi poltik dan ekonomi dengan kekuasaan yang sangat besar. Hanya dua golongan itulah yang berpandangan bahwa Islam dan Pancasila saling bertolak belakang.

            Pancasila sesungguhnya adalah pandangan atau gagasan yang sangat islami dan digali serta dipikirkan secara islami pula. Untuk memahami hal ini tentu cukup sulit. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama dan para pemikir pro-Pancasila yang hanya menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Akan tetapi, mereka tidak memberikan contoh-contoh praktis tentang kehidupan ber-Pancasila yang sama persis dengan kehidupan islami. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini, saya mencoba memberikan contoh kecil kehidupan islami yang sama persis dengan kehidupan ber-Pancasila.

            Dalam tulisan-tulisan yang lalu, masih dalam blog ini juga, ada sebetulnya contoh-contoh kehidupan islami yang juga Pancasilais. Hal yang paling mudah dipahami adalah tulisan tentang keharusan hidup bertetangga sesuai ajaran Nabi Muhammad yang berjudul Mendamaikan Dunia dan Mereka Tetangga Kita. Dalam kedua tulisan itu jelas sekali rujukan yang saya gunakan adalah berasal dari hadits Nabi Muhammad.

            Mari kita perhatikan bersama-sama.

            Kata Muhammad, “Tetangga itu ada tiga macam, yaitu: tetangga yang hanya memiliki satu hak, yakni orang musyrik. Ia hanya memiliki hak tetangga. Tetangga yang memiliki dua hak, yaitu seorang muslim. Ia memiliki hak tetangga dan hak Islam. Selain itu, tetangga yang memiliki tiga hak, yaitu tetangga, muslim, memiliki hubungan kerabat. Ia memiliki hak tetangga, hak Islam, dan hak silaturrahim.” (Thabrani)

            Coba perhatikan ajaran Muhammad tersebut. Kita harus berperilaku baik dengan memenuhi kewajiban kita dalam bertetangga dengan orang-orang yang berbeda agama, orang-orang yang seiman, serta orang-orang seiman yang memiliki hubungan darah dengan kita.

            Apa itu artinya?

            Artinya, dalam berbangsa dan bernegara kita harus menjalankan Pancasila, terutama sila ketiga, yaitu tentang Persatuan Indonesia. Dengan menjadi orang yang baik untuk tetangga kita, siapa pun dia, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad, kita sekaligus menjalankan sila ketiga. Hal itu disebabkan dengan kehidupan bertetangga yang baik kita sudah menjaga persatuan Indonesia.

            Coba perhatikan lagi. Muhammad menjelaskan bahwa jenis tetangga itu ada tiga, yaitu tetangga yang berbeda agama, tetangga yang seiman dengan kita, serta tetangga seiman dan sedarah dengan kita. Setiap jenis tetangga itu memiliki hak masing-masing yang harus kita penuhi. Tetangga yang berbeda agama hanya memiliki satu hak, tetangga seiman memiliki dua hak, serta tetangga seiman dan sedarah memiliki tiga hak. Tentang hak-hak tetangga, pelajari tulisan saya yang lalu berjudul Mendamaikan Dunia.

            Apa itu artinya?

            Artinya, dalam berbangsa dan bernegara kita harus berlaku manusiawi dan adil. Adil itu bukan berarti harus sama, melainkan seimbang, tepat, dan proporsional. Tiga jenis tetangga memiliki hak yang berbeda sesuai jenisnya masing-masing dalam keadaan dan perlakuan yang sangat adil.

            Ajaran apa lagi yang adil dan proporsional dalam bertetangga, kecuali ajaran Muhammad?

            Teliti sekali lagi. Sejumlah enam puluh rumah di sekitar rumah kita adalah tetangga kita. Mereka ada yang berbeda agama dan berbeda hubungan darah dengan kita. Perbedaan dan persamaan agama serta perbedaan dan persamaan hubungan darah itulah yang membedakan cara kita bersikap kepada seluruh tetangga kita dengan adil dan proporsional.

            Dengan berperilaku manusiawi dan adil, kita sekaligus melaksanakan sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.  Sila kedua itu menuntut kita berperilaku adil, beradab, dan manusiawi. Ajaran bertetangga dari Nabi Muhammad menjelaskan hal itu semua.

            Mari kita rasakan lagi hal yang berkaitan dengan itu. Apabila ada masalah yang terjadi dalam kehidupan bertetangga, sebagaimana adat orang Indonesia, semua permasalahan itu sebaiknya diselesaikan secara kekeluargaan dengan cara musyawarah dan mufakat. Itu artinya, kita sudah menyelesaikan masalah dengan menggunakan sila keempat, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

            Dalam bermusyawarah itu tentunya tidak bisa semua orang berbicara. Biasanya, orang-orang mewakilkan pendapatnya kepada orang yang pandai berbicara, pintar menyusun kata-kata, dan cerdas dalam mengelola pikiran sehingga berbagai pendapat dapat disuarakan dengan jernih dan jelas. Itulah yang namanya perwakilan.

            Coba pahami lagi. Ajaran Muhammad tentang kehidupan bertetangga itu tak lain dan tak bukan adalah untuk mengantarkan manusia menjadi hamba-hamba Allah swt yang baik dan sempurna melalui perbuatan-perbuatan baik kepada tetangga kita.

            Apa itu artinya?

            Artinya, semua perilaku baik kita itu hanya ditujukan untuk mengabdikan diri kepada Allah swt yang dalam Pancasila ada dalam sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

            Sila yang mana yang belum saya sebutkan terkait kehidupan bertetangga yang diajarkan Muhammad?

            Pasti sila kelima, iya kan?

            Dengan kehidupan bertetangga yang baik, kita akan menjadi orang-orang baik dan mampu menciptakan kehidupan yang baik sebagaimana sila kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

            So, masihkah kita mau mengatakan bahwa Pancasila bertentangan dengan Islam?

            Pancasila Vs Islam, No!

            Pancasila sesuai dengan Islam, Yes!

            Sampurasun.

            Eh, tahukah arti dari kata sampurasun?

            Sampurasun artinya sempurnakanlah dirimu.

            Sempurnakanlah dirimu secara lahir dan batin.

            Itulah tujuan nasional bangsa Indonesia, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang makmur sempurna lahir dan batin.

            Paham kan sekarang?


            Sampurasun.

Saturday, 24 December 2016

Menyelesaikan Kasus Ahok dengan Cara Sunda

oleh Tom Finaldin

Bandung, Putera Sang Surya

Saya berandai-andai bahwa kasus Ahok mengenai dugaan penistaan agama dapat diselesaikan dengan cara Sunda. Berandai-andai itu berarti berkhayal. Oleh sebab itu, tulisan ini hanya berupa khayalan saya karena sudah sulit dilaksanakan. Seandainya, kasus Ahok belum masuk ke pengadilan, cara Sunda ini masih dapat digunakan. Akan tetapi, kasusnya sudah masuk ke pengadilan dan hukum jalan terus sampai mendapatkan keputusan yang pasti.

            Karena tulisan ini hanya berupa khayalan, saya sarankan Saudara yang tidak menyukai khayalan saya untuk tidak membacanya. Sebaiknya, Saudara segera tutup halaman ini, lalu cari tulisan saya yang lain yang bukan khayalan atau beralih ke situs lain. Saya tidak apa-apa kok kalau tulisan ini tidak dibaca oleh Saudara. Akan tetapi, Saudara tampaknya bandel sehingga terus saja membaca tulisan ini.

            Iya kan?

            Saudara memang bandel dan terus bertahan membaca tulisan saya.

            Saya benar, kan?

            Saudara tidak beralih ke tulisan lain atau ke situs lain. Saudara di sini terus bersama saya.

            Cobalah ikuti saran saya untuk segera meninggalkan halaman ini. Silakan pergi.

            Tuh, kan Saudara terus di sini dan tidak mau pergi.

            Ya, sudah kalau tidak mau dikasih tahu. Disaranin jangan membaca tulisan ini, malah terus-terusan membaca. Saudara memang manusia yang bandel.

            Harus dengan kalimat apalagi saya menyarankan Saudara untuk pergi dari halaman ini?

            Saya harus mencoba untuk mengusir Saudara, “Pergi! Cepat pergi ke situs lain! Jangan baca tulisan ini!”

            Masyaallah, Anda tidak juga mau pergi.

            Apa menariknya tulisan ini?

            Saya kan sudah bilang isinya hanya khayalan, tetapi Saudara tetap saja penasaran. Okelah kalau begitu, terserah Anda saja.

            Jangan salahkan saya kalau Saudara terus membaca, lalu tersinggung. Kemudian, menuduh saya sebagai pelanggar Sara. Salah Saudara sendiri. Jangan melaporkan saya ke polisi dengan menggunakan UU ITE atau UU tentang Sara karena saya sudah mengusir Saudara, tetapi Saudara tidak mau pergi juga.

            Salah siapa kalau begitu, hayo?

            Salah Saudara sendiri atuh.

            Saya bilang jangan baca, eh … terus membaca juga.

            Saudara salah parah banget. Kacau.

            Tuh, kan masih terus membaca juga.

            Oke, saya menyerah, silakan baca tulisan ini bersama saya sampai dengan selesai. Salah sendiri.

            Indonesia harus belajar dari urang Sunda ketika mendapatkan penghinaan. Suku Sunda pernah dilecehkan dan dihina.

            Masih ingat ucapan pelecehan yang dilakukan Rizieq Shihab?

            Dia memplesetkan salam orang Sunda sampurasun dengan mengubahnya menjadi campur racun!

            Ingat sekarang?

            Kejadiannya masih belum lama kok.

            Itu benar-benar mutlak pelecehan yang dilakukan Rizieq terhadap orang Sunda. Tak ada penafsiran yang berbeda mengenai pelecehan itu. Dibandingkan QS Al Maidaah : 51, pelecehan yang dilakukan Rizieq sangat akurat dan terang-benderang. Kasus dugaan penghinaan yang dilakukan Ahok masih debatable. Saya sendiri tidak melihat ada kata-kata Ahok yang menunjukkan penghinaan, baik secara kata-kata dalam bahasa Indonesia maupun dari tafsir Ibnu Katsir dan dari Sejarah Muhammad karya Mohamad Haekal. Berbeda dengan pelecehan yang dilakukan Rizieq yang jelas-jelas memplesetkan sampurasun dengan mengubahnya secara sengaja menjadi campur racun. Plesetan itu sangat jelas dan tidak mungkin debatable.

            Pelecehan Rizieq yang angkuh dan arogan itu tentu saja membuat marah orang Sunda. Rizieq pun dilaporkan Ormas Sunda kepada pihak kepolisian. Orang Sunda yang mencintai sukunya menuntut Rizieq memohon maaf kepada masyarakat Sunda, bahkan mungkin sebagian ada yang menginginkan Rizieq dipenjara karena melakukan penghinaan kepada orang Sunda.

            Sampurasun itu kata yang teramat mulia bagi orang Sunda karena memiliki makna mendoakan keselamatan bagi manusia, melembutkan hati, meluweskan perilaku, mengungkapkan rasa persaudaraan, dan melapangkan dada untuk senantiasa mampu memberikan maaf kepada orang lain. Kata itu memiliki makna yang sama dengan assalaamualaikum wr. wb.. Orang Sunda sudah memiliki anugerah yang besar bahwa sebelum bahasa Arab hadir di tanah Sunda, Sang Cipta Rasa, yaitu Sang Hyang Kersa, yaitu Allah swt sudah memberikan kata salam dalam bahasa Sunda untuk digunakan sehari-hari sebagai doa, sebagaimana ajaran keluhuran Islam yang dibawa oleh Nabi Prabu Siliwangi as.

            Coba bayangkan betapa tidak sopannya Rizieq memplesetkan doa untuk keselamatan menjadi campur racun?

            Tak heran jika banyak orang Sunda marah. Jika saja orang Sunda mau, Jakarta bisa dipenuhi orang Sunda. Demo kemarin-kemarin yang diklaim sebagai demonstrasi umat Islam itu mah sangat sedikit. Demo itu kan hanya klaim merupakan demonstrasi umat Islam, padahal hanya beberapa kelompok umat Islam. Sebagian besar umat Islam kan tidak ikutan demo. Sebagian besar umat Islam tetap dengan aktivitasnya masing-masing. Kalau saja orang Sunda mau demonstrasi untuk menuntut Rizieq memohon maaf, bahkan menuntut agar Rizieq dimasukkan dalam jeruji besi, luas Jakarta tidak akan mampu menampung orang Sunda yang berdemo karena orang Sunda akan memenuhi Jakarta sampai ke gang-gang terkecil.

            Orang Sunda itu akan gampang tersulut emosi jika para pemimpin dan tokoh-tokohnya menyerukan bergerak dengan kalimat ajakan, “Demi Eyang Prabu Siliwangi!”

            Akan tetapi, orang Sunda tidak melakukannya, padahal jelas-jelas tanpa penafsiran berbeda bahwa Rizieq telah melakukan pelecehan.

            Inilah yang saya bilang bahwa bangsa Indonesia harus belajar dari urang Sunda. Ketika orang Sunda marah, Ormas Sunda melaporkan Rizieq ke polisi, dan mulai ada konflik-konflik fisik antara massa Ormas Sunda dan massa FPI, para pemimpin dan tokoh Sunda berupaya segera meredam kemarahan orang-orang Sunda. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan segera tampil dengan sejuk. Ia menjelaskan bahwa sampurasun itu sama dengan assalaamualaikum. Ia pun mencoba menenangkan orang Sunda bahwa Rizieq memplesetkan sampurasun menjadi campur racun itu secara tidak sengaja. Kemudian, mengisyaratkan bahwa sebaiknya Rizieq dimaafkan oleh orang Sunda. Demikian pula Walikota Bandung Ridwan Kamil menenangkan masyarakat dengan penjelasan yang mirip sebagaimana yang diungkapkan Gubernur Jabar Aher. Demikian pula, para tokoh-tokoh Sunda yang menganggap bahwa perilaku bodoh Rizieq itu sebagai sesuatu hal yang tidak perlu dibesar-besarkan.

            Coba bayangkan, bagaimana bijaksananya para pemimpin resmi di tanah Sunda itu dalam meredam kemarahan orang Sunda?

            Rizieq yang sepanjang pengetahuan saya tidak pernah meminta maaf atas kebodohan dan kesombongan dirinya itu, sudah dimaafkan oleh orang Sunda. Rizieq tidak meminta maaf pun, orang Sunda sudah memaafkan.

            Coba bayangkan kalau para pemimpin pemerintahan dan tokoh-tokoh di tanah Sunda menggerakkan rakyatnya untuk menuntut Rizieq masuk penjara dan meminta maaf kepada rakyat Sunda, kemudian demonstrasi di Monas, depan Istana, dan gedung MPR/DPR, Jakarta pasti habis. Jakarta pasti heurin ku tangtung wargi Sunda. Jakarta tidak akan bergerak sama sekali karena akan terlalu penuh oleh puluhan juta orang Sunda. Polri dan TNI akan lebih sibuk, lebih letih, dan lebih kelabakan.

            Tidak terjadinya demonstrasi besar-besaran oleh orang Sunda itu disebabkan oleh para pemimpin Sunda, baik formal maupun nonformal, akademisi Sunda, aktivis kesundaan, dan rakyat Sunda cepat memahami bahwa demonstrasi untuk hal itu sangatlah tidak produktif dan bisa memicu disintegrasi bangsa. Bahkan, berpotensi menghambat laju pembangunan nasional. Di samping itu, rakyat Sunda sudah merasa cukup dengan tindakan Ormas Sunda yang melaporkan Rizieq ke polisi sebagai warning  bahwa orang Sunda tidak menyukai perilaku tidak sopan Rizieq. Rakyat Sunda berharap bahwa Rizieq tidak mengulanginya lagi.

            Berbeda halnya jika Rizieq mengulangi kebodohannya lagi, situasinya bisa lain. Kalau dia mengulangi lagi kecerobohannya dan nyaman atau merasa senang karena orang Sunda tidak meneruskan kemarahannya, saya menyerukan kepada seluruh pemimpin formal dan nonformal di tanah Sunda untuk menggerakkan rakyat Sunda mendesak Polri, TNI, dan Presiden untuk memenjarakan Rizieq FPI karena orang ini benar-benar berpotensi memecah-belah persatuan dan kesatuan Indonesia. Jika dia mengulanginya lagi, dia benar-benar orang yang berbahaya. Pasukan TNI Siliwangi harus benar-benar berdiri bersama orang Sunda. Kalau Rizieq paham dan tidak mengulangi perilakunya lagi yang bisa menyakitkan hati orang lain, itulah hal yang sangat diharapkan orang Sunda sehingga kita bisa hidup bersama berdampingan saling menghormati, saling menghargai, dan saling melindungi.

            Bagaimana dengan Ahok?

            Begini Saudara … eh, tadi sudah saya bilang kan jangan membaca tulisan ini?

            Akan tetapi, Saudara terus membacanya. Jadi, mari kita selesaikan.

            Saya berkhayal bahwa kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok bisa diselesaikan dengan cara Sunda mirip dengan kasus campur racun  Rizieq. Demonstrasi besar yang telah dilakukan beberapa kelompok umat Islam sesungguhnya sudah masuk ke hati Ahok bahwa kelompok-kelompok itu tidak menyukai Ahok dan nonmuslim lainnya membahas atau membicarakan ayat-ayat suci Al Quran karena itu adalah domain umat Islam. Sudah cukup Ahok mendapatkan peringatan. Dengan sedikit keyakinan, kita bisa berharap bahwa dia tidak mengulanginya lagi. Akan tetapi, sebagai hukuman atas pelanggaran etika yang dilakukan Ahok, kita bisa menuntut Ahok untuk setiap hari meminta maaf kepada umat Islam di media massa selama setahun penuh.

            Mengenai adanya penghinaan dalam kata-kata Ahok, baik secara bahasa Indonesia maupun tafsir, sebenarnya debatable. Di antara ahli Islam sendiri terdapat perbedaan pandangan mengenai QS Al Maidaah : 51 sebagaimana yang disampaikan Kapolri Tito Karnavian. Sebaiknya, perbedaan pemahaman terhadap ayat ini diselesaikan di kelas-kelas kuliah atau di ruang-ruang pengkajian Islam dan bukan di pengadilan. Dengan masuknya kasus dugaan penistaan ini ke ruang pengadilan, sesungguhnya, saya sebagai orang Islam merasa malu sekaligus marah. Hal itu disebabkan dengan masuknya kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok ke ruang pengadilan ini sama artinya dengan menyerahkan kebenaran pemahaman mengenai QS Al Maidaah : 51 ke tangan hakim dan bukan ke tangan para ahli Islam yang jujur. Keputusan hakim bisa menentukan arah pemahaman QS Al Maidaah : 51. Artinya, jika Ahok dinyatakan tidak bersalah, QS Al Maidaah : 51 secara hukum dinyatakan “sama sekali tidak terkait dengan pemilihan pemimpin” dan setiap orang yang pernah menggunakan ayat ini untuk pemilihan pemimpin dinyatakan salah secara hukum. Sebaliknya, jika Ahok dinyatakan bersalah, QS Al Maidaah : 51 akan berpotensi untuk terus digunakan dalam meraih kepemimpinan di Indonesia ini, berkualitas atau tidak calon pemimpin, yang penting Islam. Hal ini pun akan membuat kebingungan umat Islam pada wilayah-wilayah tempat umat Islam sebagai minoritas dan tidak memiliki calon pemimpin yang siap memimpin. Jadi, penafsiran dan pemahaman mengenai QS Al Maidaah : 51 akan sangat dipengaruhi oleh hakim. Keputusan hakimlah yang menentukan arah pemahaman QS Al Maidaah : 51 dan bukan hasil diskusi, penelitian, penelaahan, dan pengkajian para ahli Islam yang jujur dan jernih hati.  Para ahli Islam dari pihak Jaksa Penuntut Umum mungkin akan mengatakan bahwa QS Al Maidaah : 51 adalah memang ayat yang harus digunakan umat Islam dalam memilih pemimpin sehingga Ahok memang bersalah. Akan tetapi, para ahli Islam dari pihak pembela mungkin akan bersikeras bahwa ayat itu tidak berkaitan dengan pemilihan pemimpin sehingga Ahok tidak bersalah. Pada akhirnya, kedua pandangan yang berbeda itu harus tunduk kepada keputusan hakim. Artinya, salah satu pandangan dari kedua kubu para ahli itu harus dinyatakan salah oleh hakim.

            Sungguh, saya pribadi merasa malu dengan hal itu. Para ahli Islam harus tunduk kepada hakim mengenai penafsiran ayat-ayat Al Quran. Padahal, seharusnya para hakimlah yang harus belajar banyak dari para ahli Islam.

            Sungguh, Allah swt memperhatikan kita. Allah swt akan sangat marah dan pasti menghukum dengan keras orang-orang yang secara salah memberikan arti terhadap firman-Nya yang sangat luhur dan mulia. Apalagi jika mengartikan ayat tersebut hanya untuk mendapatkan kepentingan politik dan ekonomi dan bukan untuk mendapatkan keridhoan Allah swt dengan cara memuliakan manusia dan kemanusiaan serta menebarkan cinta, kasih, dan perdamaian. Allah swt sangat mampu menjatuhkan bencana kepada seseorang, sekelompok orang, bahkan sebuah bangsa jika sudah marah karena petunjuk-Nya yang suci dijadikan bahan persengketaan.

            Sebagaimana yang tadi saya sampaikan bahwa saya berkhayal bahwa kasus seperti ini bisa diselesaikan sebagaimana orang Sunda meredam kemarahan terhadap Rizieq. Beri peringatan Ahok untuk tidak mengulanginya lagi. Suruh dia meminta maaf setiap hari selama satu tahun. Selesaikan perbedaan pemahaman mengenai QS Al Maidaah : 51 oleh para ahli Islam. Biarkan para ahli Islam berdebat dan berlelah-lelah hingga mendapatkan pemahaman yang sama karena ayat itu diucapkan oleh Zat Yang Sama, Allah swt.

            Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan Boy Rafli Amar bahwa setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat tidak harus semuanya berakhir di kepolisian. Masyarakat bisa menyelesaikannya sendiri dengan cara-cara yang bijak dan mencerahkan.

            Indonesia harus belajar dari urang Sunda yang telah mengerem kemarahan sehingga situasi tetap damai, tenang, bersatu, dan tidak menimbulkan potensi konflik di tengah masyarakat. Sungguh, Allah swt menginginkan kasih sayang dan perdamaian di muka Bumi ini. Kitalah yang harus menjadi wakil-Nya dalam menebar cinta kasih damai di seluruh penjuru muka Bumi. Demi Allah swt.

Sunday, 29 November 2015

Jika Terus Begitu, Habieb Rizieq Bego Menolak Rahmat Allah swt

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, saya ingin menulis judul Habieb Rizieq Bego Menghina Allah swt. Akan tetapi, saya tidak menemukan penghinaan yang dia lakukan. Dia hanya bego. Bego itu lebih parah daripada bodoh. Bodoh bukanlah suatu kesalahan. Hal itu merupakan kondisi ketidakmengetahuan atas sesuatu. Bodoh bisa diatasi dengan belajar dan menambah ilmu pengetahuan. Adapun bego adalah menganggap kebodohan sebagai suatu kebenaran. Nah, Habieb Rizieq itu berada dalam “kebegoan” karena dia menganggap kebodohan dirinya sebagai suatu kebenaran.

Iya, dia. Habieb Rizieq yang itu. Saya sedang menulis tentang Ketua FPI. Memang dia yang sedang saya bahas kebegoannya. Jangan berpikir tentang Habieb Rizieq yang lain. Yang itu saja. Dia orangnya, Tepat dia. Jadi, saya bertanggung jawab atas apa yang saya tulis. Dia memang sedang “bego”. Kalau dia tidak mau memperbaiki kebegoannya. Dia akan jatuh menjadi “tolol” dan “goblok”.

Sungguh saya mengaguminya dan sering ingin membelanya dari tuduhan orang-orang asing. Di luar negeri itu dia terkenal sebagai Ketua Teroris Indonesia. Orang asing yang berinteraksi dengan saya sering sekali mengatakan itu. Saya sesungguhnya ingin membelanya karena dia bukanlah teroris. Dia tidak melakukan sesuatu yang dianggap teror sehingga mendapatkan hukuman atas perilaku teror. Dia manusia bebas dan tetap menjadi bagian dari warga muslim Indonesia. Sampai saat ini pun saya menganggapnya seperti itu.
Akan tetapi, sebagai muslim, saya harus melaksanakan ajaran Islam dalam hal “saling menasihati” untuk kebaikan dan kesabaran. Saya harus menasihati Habieb Rizieq yang sedang “bego” itu. Saya tidak ingin dia jatuh menjadi orang tolol, kemudian goblok, yang akhirnya melakukan penghinaan kepada Allah swt.

Saya membaca kebegoannya itu di internet. Jadi, dasar saya menulis ini adalah informasi dari internet.

Dia dikabarkan memplesetkan sampurasun menjadi campur racun. Ya, itu adalah kebegoannya yang pertama.

Dia mengatakan bahwa membungkus pohon-pohon di jalan dengan kain kotak-kotak itu adalah kemusyrikan. Ya, itu adalah kebegoannya yang kedua.

Entah ada berapa lagi kebegoan yang telah dia lakukan. Akan tetapi, kedua hal itu sudah sangat cukup untuk kali ini kita bahas karena akan terlalu panjang jika ditulis hal yang lainnya dan saya keburu males menulisnya.

Dia mempelesetkan sampurasun  menjadi campur racun karena katanya ada pihak yang ingin mengganti ucapan asalaamu alaikum wr. wb.. Secara tidak langsung, dia menunjuk Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi yang berupaya melakukan penggantian salam itu. Di samping itu, pada tahun 2015 ini, Rizieq masih mengatakan bahwa ada yang menginginkan ucapan asalaamu alaikum wr. wb. diganti dengan selamat pagi, selamat siang, dan selamat malam.

Sementara itu, Dedy sendiri mengatakan bahwa tak ada penggantian itu. Dia setelah mengucapkan asalaamu alaikum wr. wb. melanjutkan dengan sampurasun. Menurut saya, Dedy sudahlah sangat benar. Dia muslim, Sunda, dan Bupati. Sebagai Bupati, jika dia berpidato, tidak hanya didengar atau diikuti oleh orang Islam, ada juga nonmuslim. Jadi, sampurasun sangat tepat karena tidak ada kekhususan pengucapan hanya untuk kalangan tertentu. Ucapan itu bisa dilakukan kepada siapa saja. Berbeda dengan asalaamu alaikum wr. wb. yang hanya harus diucapkan di antara sesama muslim.

Saya juga begitu kok. Kalau sedang berbicara di depan banyak orang selalu mengucapkan asalaamu alaikum wr. wb. yang dilanjutkan dengan Salam Sejahtera. Hal itu disebabkan saya berbicara tidak hanya kepada muslim, tetapi juga nonmuslim yang bukan Sunda. Ada dari Medan, Timor Leste, Ambon, dan lain sebagainya. Apalagi Dedy yang bupati yang dituntut untuk berbicara kepada rakyatnya yang bukan  hanya beragama Islam.

Rizieq pun mempersoalkan ada yang berupaya mengganti asalaamu alaikum wr. wb.  dengan selamat pagi, siang, sore, atau malam. Untuk hal ini, Rizieq mencoba “meracuni” pikiran orang dengan persoalan yang sudah lama usang, out of date, kedaluwarsa. Dia mencoba menghangatkan kembali masalah yang sudah kedaluwarsa. Makanan apa pun yang sudah kedaluwarsa jika mau dihangatkan bagaimana pun, tetap saja  menjadi racun. Begitu juga dia menghangatkan “makanan” yang jika dimakan, akan menjadi racun. Dialah sebenarnya yang melakukan “campur racun” dalam arti memasukan masalah yang kedaluwarsa ke alam pikiran masyarakat muslim yang sebetulnya sudah lama paham soal itu.

Persoalan asalaamu alaikum wr. wb. dan selamat pagi, siang, sore, malam, tengah malam, subuh itu persoalan ketika saya masih SMP dan sudah selesai ketika saya memasuki SMA. Kaum muslim sudah sangat mengerti. Tidak perlu lagi diomongin pada tahun ini, nggak ada gunanya.

Nggak ada gunanya, Bieb!

Tambuh laku!

Ucapan selamat pagi, siang, sore, ataupun malam sudah jarang terdengar. Orang-orang mayoritas sudah menggunakan asalaamu alaikum wr. wb. dan ditambah ucapan salam lain, seperti, Salam Sejahtera, Sampurasun, ataupun Om Swastiastu karena mereka berhadapan bukan hanya dengan orang Islam. Di sekolahan, instansi pemerintah dan swasta, di gedung dewan sudah seperti itu. Kalau di masjid dan lingkungan pengajian, ya gak perlu ditambahin lagi, cukup asalaamu alaikum wr. wb..

Jadi, jangan racuni lagi orang-orang dengan masalah yang sudah lama kedaluwarsa. Orang-orang sudah sangat bijak dengan ucapan salam yang bisa diterima semua orang dan tidak melanggar syariat Islam.

Malahan saya sekarang, sudah berusaha melatih diri jika menulis surat, baik resmi ataupun tidak, tidak lagi menggunakan asalaamu alaikum wr. wb..

Kenapa?

Hal itu disebabkan Nabi Muhammad saw tidak pernah menggunakan kalimat asalaamu alaikum wr. wb. ketika membuat surat.

Nah, baru tahu kan?

Nabi Muhammad saw itu kalau membikin surat selalu diawali dengan bismillaahirrahmaannirrahiim, tidak pernah asalaamu alaikum wr. wb.. Jadi, saya juga membiasakan diri dan orang-orang di sekeliling saya untuk menerima bismillaahirrahmaannirrahiim sebagai kalimat pembuka surat, bukan lagi asalaamu alaikum wr. wb..

Ngerti?

Harusnya Rizieq juga bicara keras soal ini kalau mau karena menulis surat dengan kalimat pembuka asalaamu alaikum wr. wb. adalah tidak sesuai dengan kebiasaan Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, kemungkinan besar orang-orang FPI masih banyak yang bikin surat diawali dengan asalaamu alaikum wr. wb..

Itu tidak sesuai dengan kebiasaan Rasulullaah saw, Bieb … tidak sesuai Bieb!

Akan tetapi, tidak perlu juga kita mengatakan bidah, syirik, atau sesat kepada mereka yang masih menggunakan asalaamu alaikum wr. wb. dalam membuat surat. Hal itu disebabkan mereka belum paham, kayak orang-orang FPI juga kemungkinan masih belum paham. Persoalan seperti ini bisa disosialisasikan dengan santun, ramah, dan penuh dasar ilmu pengetahuan. Tidak perlu teriak keras-keras, Takbiiir! Emangnya mau perang.

Lalu .. apa ya?

Oh, ya. Soal kain poleng kotak-kotak di pohon di jalan-jalan. Rizieq kabarnya bilang Bupati Purwakarta melakukannya bukan untuk keindahan, tetapi untuk keberkahan.

Wow, bukankah keindahan itu adalah bagian dari keberkahan?

Innallaaha jamiilun yuhibbul jamaal, ‘Allah itu sesungguhnya indah dan mencintai keindahan’.

Jelaslah bahwa keindahan itu bagian dari keberkahan. Allah swt sendiri yang penuh berkah adalah penuh dengan keindahan.

Apa masalahnya?

Di Kota Bandung malah pohon-pohon di jalan dibungkus kain poleng hijau, biru, kuning.

Masalah juga buat Lu?

Begini ya, kalau memahami ayat-ayat Allah swt itu jangan hanya yang ada dalam Al Quran dan Hadits. Ayat Allah swt itu kan terdiri atas ayat quraniyah atau qauliyah  dan ayat kauniyah. Tidaklah beriman seseorang jika mengingkari ayat quraniyah dan ayat kauniyah. Tidak beriman juga seseorang jika hanya menerima ayat quraniyah dan menganggap sesat atau mengingkari ayat kauniyah.

Warna-warna yang diciptakan Allah swt itu ada gunanya. Tidak ada sesuatu pun yang diciptakan Allah swt itu sia-sia. Orang-orang tua Sunda itu sejak masa dahulu gemar sekali melakukan hubungan batin dengan alam sekitarnya dan memahami benar bahwa dirinya dengan alam ini merupakan satu kesatuan yang utuh tidak terpisahkan karena berawal dari Zat Yang Satu, Tunggal, Esa. Oleh sebab itu, tak heran jika Islam sangat mudah diterima oleh Urang Sunda. Hal itu disebabkan banyak sekali kemiripan antara keyakinan Sunda Lama dengan ajaran Islam. Misalnya, kalau di agama lain, tingkat tertinggi peraihan kehidupan manusia itu adalah Nirwana atau Surga, tetapi ajaran Sunda lebih dari itu, yaitu Ngahiyang, ‘men-Tuhan’, atau bersatunya diri dengan zat ketuhanan. Mirip sekali dengan ajaran Islam bahwa peraihan tertinggi dalam perjalanan hidup manusia itu bukan Surga, tetapi mendapatkan ridha Allah swt, melebur dalam cinta Allah swt. Patuh dan loyal bukan karena takut neraka atau menginginkan surga, tetapi karena mengharap ridha Allah swt.

Gitu, Coy!

Saking diterimanya Islam di masyarakat Sunda, Drs. H. Sali Iskandar, Ketua Pembina Yayasan Al Ghifari, mengatakan bahwa Sunda itu identik dengan Islam. Jika ada orang Sunda tidak beragama Islam, akan sangat sulit orang itu disebut orang Sunda. Dalam kata lain, orang Sunda itu sudah sepantasnya Islam.

Kembali pada kain poleng kotak-kotak itu. Dalam perjalanan batin sepuh-sepuh Sunda, ditemukan bahwa warna-warna itu memilliki pengaruh masing-masing terhadap kehidupan ini.

Jangan dulu bilang musryik Lu kalau belum mengerti benar. Entar seperti orang-orang yang suka menertawakan air doa, padahal air yang sudah didoakan itu berubah molekulnya menjadi lebih positif dan berguna untuk penyembuhan. Sains sudah membuktikan hal itu. Begitu juga warna.

Warna poleng kotak-kotak itu juga pasti ada maksudnya, yaitu mungkin mendorong gelombang energi positif yang bisa membuat lebih harmonis situasi. Persoalannya pengetahuan kita belum nyampe ke situ.

Beberapa warna lain mungkin kita sudah tahu manfaatnya bagi manusia. Misalnya, warna hijau. Dokter mata sangat menganjurkan kita untuk melihat warna-warna hijau agar mata kita sehat. Memang kenyataannya seperti itu kok. Saya punya teman, namanya Dr. H. Deden Suhendar, M.Si., mantan rektor Universitas Al Ghifari Bandung. Ketika masih mahasiswa Sastra Arab di Universitas Padjadjaran Bandung, dia berkacamata tebal sekali. Saya Sastra Indonesia. Dia kesal dengan keadaan matanya. Dia mengikuti anjuran dokter, yaitu harus melihat yang hijau-hijau, apa pun itu. Selepas shalat Shubuh, dia selalu pergi ke bukit di daerah Dago, Bandung, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat pepohonan yang hijau-hijau. Dalam kesehariannya pun dia berusaha untuk melihat yang hijau-hijau pula. Suatu saat kekesalannya memuncak, dia banting kacamatanya hingga pecah. Ajaibnya, dia sembuh. Tak lagi menggunakan kacamata. Lalu, dia melatih lagi matanya dengan membaca Al Quran yang hurufnya kecil-kecil.

Nah, bukankah warna hijau itu mengandung keberkahan?

Ini fakta, bukan dongeng. Tanya aja langsung sama orangnya kan saya tulis jelas namanya.

Adalagi orang yang punya penyakit batuk menahun. Dia mendapatkan saran untuk lebih sering menggunakan warna kuning. Oleh sebab itu, sebelum tidur ia mendekatkan lampu lima wat berwarna kuning ke tenggorokannya beberapa menit. Setelah  sekian lama melakukan itu, ia pun sembuh.

Nah, bukankah warna kuning juga mengandung keberkahan?

Masih belum mengerti juga?

Okelah.

Mengapa Kabah warna kain penutupnya selalu hitam dan ada warna putih bercampur kuning keemasan?

Kenapa tidak diganti dengan warna lain saja yang lebih cerah dan ngejreng?

Ada yang berani menggantinya?

Nggak ada kan?

Kalau ditanyain sama Rizieq juga mungkin jawabannya, Nabi Muhammad juga tidak menggantinya atau itu sudah menjadi kebiasaan Nabi dan kita harus mengikutinya. Padahal, sebelum Muhammad saw diangkat menjadi Nabi juga, Kabah itu sudah begitu dan punya dasar kain penutup warna hitam ditambah warna-warna lain. Saat itu Kabah dikelilingi orang-orang kafir dan para penyembah berhala.

Warna hitam itu punya pengaruh bagi kehidupan dan memiliki simbol yang nyata. Hitam itu melambangkan ketegasan, kejujuran, keberanian, sekaligus kekuatan yang menghancurkan. Oleh sebab itu, universitas paling tua di dunia, Al Azhar, Kairo, Mesir, menggunakan warna hitam bagi para wisudawan. Kebiasaan Al Azhar ini diikuti oleh perguruan tinggi di seluruh dunia. Para sarjana itu diharapkan mampu menggunakan ilmu pengetahuannya bersandarkan pada energi Kabah, yaitu hidup penuh kejujuran, tegas, adil, berani membela yang lemah, serta mampu menghancurkan kekafiran.

Nah, warna hitam itu juga mengandung keberkahan bukan?

Nabi Muhammad saw tahu itu. Oleh sebab itu, warna Kabah bukanlah warna pelangi, tetapi hitam dengan sedikit putih dan keemasan. Akan tetapi, jamaah haji dan umroh harus menggunakan kain berwarna putih. Itu juga ada maksudnya. Hitam Kabah dan putih jamaah menjadi paduan hitam-putih yang bukan hanya indah, tetapi ada maksud lain yang kita belum tahu.

Jadi, poleng kotak-kotak hitam dan putih di pohon Purwakarta dan hijau, biru, kuning di Bandung itu punya maksud untuk kebaikan. Itu diciptakan oleh Allah swt. Itu tidak ada dalam Al Quran dan Hadits yang tersurat. Akan tetapi, ada pada ayat-ayat kauniyah.

Bisa jadi juga penggunaan kain poleng kotak-kotak hitam dan putih itu diajarkan oleh salah seorang nabi yang ada di Indonesia. Kan nabi itu banyak, bukan cuma 25 orang. Lebih dari seribu. Sangat mungkin ada nabi yang lahir di Indonesia dan mengajarkan penggunaan kain poleng kotak-kotak itu karena di samping menimbulkan keindahan juga memberikan efek positif bagi lingkungannya sehingga kehidupan menjadi berkah. Toh, Kabah dan para jamaahnya juga paduan antara hitam dan putih. Pasti ada maksud-Nya. Hanya otak kita belum mencapai ke arah sana.

Ada yang menertawakan saya karena saya mengatakan mungkin ada nabi yang lahir di tanah Indonesia?

Bego kalian!

Memang ada gitu keterangan bahwa nabi itu harus selalu berasal dari Timur Tengah?

Nggak ada kan? Memang pasti nggak ada.

Jangan ngarang kalian!

Penelitan terbaru yang dilakukan oleh Dr K.H. Fahmy Basya, ahli Matematika Islam, mengatakan bahwa Nabi Sulaiman a.s. adalah berasal dari Indonesia. Ia mendapatkan banyak bukti, baik dari relief di Candi Borobudur maupun dari nama-nama tempat di Indonesia, seperti, Wonosobo atau Wanasaba dan itu ada ditulis dalam Al Quran tentang negeri Saba yang Indonesia banget. Entar saya tulis bagaimana jelasnya Saba yang difirmankan Allah swt dengan keadaan Indonesia. Sabar ya. Di samping itu, ada kota yang namanya Sleman. Dari sanalah Nabi Sulaeman berasal. Fahmy Basya punya banyak perhitungan yang mendukung bukti bahwa Nabi Sulaeman itu berada di tanah Indonesia.
Jadi, ada kemungkinan banyak nabi berada di Indonesia dari zaman ke zaman. Toh, Allah swt menegaskan bahwa sudah mengutus para Rasul dengan menggunakan bahasa kaumnya sendiri.

Dengan demikian, jangan hanya terpaku pada ayat-ayat yang tersurat, melainkan pula harus memahami ayat-ayat yang tersirat yang ada di alam ini. Kalau kita hanya mengandalkan ayat-ayat yang tersurat dan menganggap remeh ayat-ayat kauniyah hanya karena kita belum mengerti, kita sudah meracuni diri kita dengan kebodohan yang akan menyebabkan kita mengingkari dan menolak rahmat Allah swt.

Rizieq memang harus lebih banyak belajar. Jika dia ngotot bahwa sesuatu yang belum dimengertinya merupakan kemusyrikan, dia benar-benar bego dan menutup diri dari pemahaman-pemahaman baru mengenai kekuasaan Allah swt.

Lebih bego lagi jika dia tidak meminta maaf kepada masyarakat Sunda. Artinya, dia menganggap bahwa dirinya benar 100% berdasarkan pengetahuannya yang teramat terbatas itu. Itu adalah keangkuhan arrogant-ignorant, ‘sombong-bloon’.

Kita harus mendukung masyarakat Sunda yang telah melaporkan penghinaan Rizieq terhadap adat Sunda yang penuh keluhuran itu. Polisi wajib menuntaskan masalah itu agar tidak lagi ada orang yang berani mengumbar ketololannya untuk menghina suku-suku yang  ada di Indonesia.

Sekarang Suku Sunda yang merasa dilecehkan. Kalau dibiarkan, baik polisi maupun pemerintah sama dengan “merestui” pelecehan tersebut. Bahayanya, perilaku arogan tak berpengetahuan itu dianggap benar dan akan terjadi pelecehan-pelecehan lain terhadap suku-suku lain. Akibatnya, akan ada banyak kekisruhan dan kemarahan. Lebih dari itu, perilaku seperti itu sama saja dengan menolak rahmat Allah swt hanya karena dia tidak mengerti. Padahal, yang dia tolak itu adalah ayat-ayat kauniyah yang belum dia pahami.

Ingat kalimat yang harus diucapkan sesering mungkin dalam setiap keadaan adalah bismillaahirrahmaannirrahiim. Artinya, kita harus menebarkan kasih dan sayang dalam kehidupan ini, bukan kemarahan dan kebencian. Jika menemukan sesuatu yang kita yakini merupakan kesalahan, perbaiki dengan cara yang santun dan beradab, tidak dengan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kata-kata. Kekerasan hanya dilakukan jika kemunkaran itu sudah tidak bisa lagi diperbaiki dengan cara-cara yang baik.

Baik menurut siapa?

Baik menurut Allah swt berdasarkan ayat-ayat quraniyah dan kauniyah.

Kalau menolak atau mengingkari ayat-ayat Allah swt, baik yang quraniyah maupun yang kauniyah, itu adalah kebegoan yang akan berakhir pada penghinaan kepada Allah swt. Hal itu disebabkan akan mudah menganggap sesuatu sebagai tidak berguna dan musyrik, padahal Allah swt menciptakan hal itu untuk kebaikan manusia. Akhirnya, kita akan tidak mendapatkan rahmat Allah swt karena menganggap sesuatu yang baik itu sebagai kemusyrikan.

Habieb Rizieq harus sadar dan meminta maaf serta belajar lebih giat lagi tentang hidup dan kehidupan ini. Kalau tidak, dia pantas untuk dipenjarakan karena akan meracuni pikiran banyak kaum muslim dengan pikiran-pikirannya yang sangat terbatas itu. Dia akan menolak rahmat Allah swt yang berada dalam ayat kauniyah hanya karena dia belum paham atau menolak untuk mengerti tentang ayat-ayat itu.