Showing posts with label Begal. Show all posts
Showing posts with label Begal. Show all posts

Tuesday, 28 July 2026

Bandung Sepi Adalah Kegagalan Negara

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bandung yang biasanya sibuk siang-malam dan relatif aman untuk beraktivitas kini menjadi sepi dan mencekam. Kalau dulu-dulu, paling yang mengesalkan adalah parkir liar yang tidak jelas. Kalau pakai mobil, baru parkir saja diminta Rp20.000,-, pas pulangnya tidak ada yang ngejagain juga. Kalau motor, baru berhenti saja diminta Rp7.000,-, premannya langsung menghilang, tidak ada tanggung jawab buat ngejagain, minta uangnya saja. Meskipun demikian, masih relatif aman dari kekerasan. Sekarang menjadi tambah parah. Bandung terkuasai rasa takut oleh para begal, gank motor, dan kekerasan jalanan lainnya.


Salah satu sudut Bandung yang sepi mencekam (Foto: Instagram)


            Ada banyak video dan foto yang menayangkan Bandung sangat sepi, mencekam, dan mengerikan. Hal ini menunjukkan bahwa para penggerak begal dan penjahat lainnya sudah menang menguasai dan menebarkan teror di tengah masyarakat. Hal itu menimbulkan gangguan ekonomi terhadap kehidupan masyarakat. Bandung yang merupakan wilayah besar dan sibuk dengan aktivitasnya harus terhenti karena ketakutan teror kekerasan. Ada banyak kegiatan produktif malam hari yang biasanya bergerak di Bandung kini berhenti. Artinya, ada peredaran uang yang juga ikut terhambat.

            Kegiatan malam itu bukan hanya hiburan malam, melainkan juga kuliner, penginapan, seminar, gathering, pengajian yang gladinya biasanya malam hari, para pekerja yang berganti shift, klinik atau rumah sakit, dan masih banyak lagi. Saya saja kalau ke Bali menggunakan mobil, lalu sampai Denpasar tengah malam, ya keliling cari hotel yang masih tersedia kamarnya. Kalau di Bandung, saya nggak keliling cari penginapan karena saya orang Bandung, tinggal pulang saja. Jika ada wisatawan atau orang yang punya keperluan di Bandung, tidak bisa cari penginapan kalau sudah malam karena ada teror begal yang mengerikan. Itu sangat mengganggu masyarakat dan pertumbuhan Bandung sendiri.

            Sepi dan mencekamnya Bandung itu sudah merupakan “kegagalan negara” dalam menciptakan rasa aman dan kondusif rakyatnya. Ini tidak perlu disangkal. Ini adalah kegagalan aparat keamanan yang digaji rakyat untuk bekerja dengan baik. Apalagi jika masyarakat ikut turun menjaga keamanan, itu juga sudah indikasi kegagalan. Hal itu disebabkan seharusnya masyarakat berkonsentrasi pada pekerjaan dan aktivitasnya, bukan soal keamanan.

            Bagaimana negara mau maju jika masyarakat yang harusnya bergerak membangun ekonomi, malah ikut-ikutan lelah menjaga keamanan?

            Memang masyarakat sangat sadar untuk  menjaga keamanan, tetapi itu bukanlah tugas mereka yang utama. Seharusnya rakyat diberikan rasa aman yang utuh sehingga pikiran, fisik, dan potensinya bisa diarahkan pada hal lain yang bukan keamanan. Untuk urusan keamanan, rakyat sudah diwajibkan membayar pajak. Uang-uang pajak itulah yang sebagiannya diberikan pada negara dan disalurkan pada aparat keamanan untuk menciptakan rasa aman.

            Kalau masyarakat harus berletih-letih lagi menjaga keamanan, untuk apa bayar pajak menghidupi aparat keamanan?

            Itu pemerasan!

            Situasi Bandung yang mencekam adalah kegagalan negara dalam memberikan rasa aman pada rakyat. Meskipun demikian, kita patut memberikan apresiasi pada negara dan aparat yang tampak mulai berbenah untuk memberikan layanan pada masyarakat. Meskipun masih minim, kita perlu memberikan dukungan. Hal yang harus dikawal adalah negara harus diperhatikan agar benar-benar melayani rakyatnya. Dalam urusan begal dan kekerasan jalanan lainnya untuk saat ini harus menjadi prioritas yang lebih ditingkatkan pelayanannya.

            Ilustrasi salah satu sudut Kota Bandung yang sepi karena ketakutan malam berasal dari Instagram.

            Jangan lupa minum susu, hentikan alkohol!

            Sampurasun.

Sunday, 26 July 2026

Begal dan Politik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Aksi-aksi begal, penodongan, dan kekerasan gank motor akhir-akhir ini marak serta mendapatkan perhatian luar biasa dari masyarakat sehingga membuat kota, khususnya Bandung menjadi sangat mencekam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa tayangan video netizen yang memperlihatkan situasi Bandung malam yang sangat sepi, tidak seperti biasanya.


Para begal ditangkap di Bandung (Foto: Metro TV)

            Banyak orang yang berpendapat bahwa maraknya aksi-aksi itu berawal dari masalah ekonomi. Kesusahan hidup membuat banyak kejahatan yang terjadi. Akan tetapi, saya melihatnya dari sisi politik. Maraknya aksi kejahatan tersebut sangat erat kaitannya dengan politik. Tujuannya adalah adanya huru-hara atau kegoncangan sosial. Pada zaman Presiden Jokowi juga terjadi huru-hara dan demonstrasi yang merebak serentak meskipun dengan isu-isu yang aneh, misalnya, soal pembatasan jam malam bagi perempuan dan hewan peliharaan yang masuk ke rumah tetangga.

Jauh ke masa lalu, para perusuh memang biasa digunakan oleh para politisi. Para wali di Indonesia kerap menggunakan mereka untuk menjatuhkan para raja yang dianggap zalim terhadap rakyat atau menentang Islam. Dalam banyak kisah upaya menyebarkan Islam di tanah Jawa sering disebut bahwa saking saktinya para wali bisa memerintahkan cacing, tikus, ular, atau kalajengking untuk menghancurkan istana para raja. Hewan-hewan itu sebenarnya adalah sebutan kiasan bagi para perusuh, preman, para jagoan jalanan yang merasakan kezaliman penguasa saat itu. Mereka berada dalam barisan para wali.

Kondisi ini sama dengan situasi ketika kerusuhan terjadi dalam setiap masa. Intinya adalah adanya orang-orang yang dirugikan dan tidak puas oleh kebijakan pemerintahnya, lalu membuat keguncangan di dalam negeri. Sejak Presiden Jokowi sudah terlihat situasi seperti ini, misalnya, dengan adanya hilirasisi yang membuat bangkrut banyak pabrik di Eropa dan menutup pintu rezeki banyak eksportir dan importir komoditas yang terkena program hilirisasi. Zaman Prabowo lebih-lebih lagi karena hilirisasi diperluas, swasembada pangan, berhasilnya B50, Danantara, pengawasan ekspor satu pintu yang lebih ketat, MBG, penangkapan koruptor yang lebih masif, dan lain sebagainya. Hal-hal itu membuat banyak orang, baik di luar negeri maupun di dalam negeri mengalami kerugian dan kesusahan rezeki. Orang-orang itu pasti marah luar biasa. Sopir Angkot saja marah kalau rezekinya disalip atau trayeknya dihentikan. Orang yang rugi miliaran atau triliunan pasti sangat marah. Mereka inilah yang saya duga menggerakkan para begal dan pelaku kejahatan lainnya untuk membuat kekacauan dan ketakutan di masyarakat.

Jokowi terlalu kuat untuk dijatuhkan, hingga kasus recehan saja seperti ijazah palsu digunakan untuk menjatuhkannya, tetapi tidak pernah jatuh meskipun Jokowi sudah tidak lagi menjadi pejabat negara. Prabowo lebih sulit dijatuhkan dengan berbagai serangan media luar dan dalam negeri, LSM luar dalam negeri, hingga hinaan di Medsos tidak mempengaruhinya. Prabowo malah membuatnya seperti candaan. Orang-orang yang telah dirugikannya kayaknya kehilangan arah sekaligus kehilangan akal sehingga membuat kekacauan dan instabilitas melalui para begal dan pelaku kejahatan lainnya. Harapannya kekacauan akan menimbulkan ketidakstabilan politik yang berujung pada lemahnya pemerintahan. Dengan demikian, pemerintahan berganti sesuai yang diinginkan orang-orang itu.

Kalau masalahnya hanya ekonomi, kejahatan yang terjadi tidak akan serentak dan marak bersamaan. Kesusahan karena masalah ekonomi memang kerap terjadi, tetapi tidak seragam dalam waktu bersamaan secara masif. Kalau serentak, berarti terjadi pengorganisasian atau diorkestra oleh pihak-pihak kuat yang membekingi mereka.

Belum lagi jika diperhatikan dari pengakuan para penjahat yang sempat tertangkap dan diinterogasi warga. Banyak dari mereka yang mengaku hanya diajak orang lain. Bukan mereka sendiri yang berinisiatif melakukan kejahatan, melainkan “diajak”, digerakan orang lain. Pihak-pihak yang mengajaknya ini harus segera ditangkap karena merugikan keamanan warga.

Ini semua hanya politik yang bersaudara dengan ekonomi. Seperti itu yang saya lihat. Kalau belum paham, sebaiknya minum susu. Mau susu kambing atau susu sapi, boleh.

Kalau minum susu sambil “susulumputan”. Kalau susulumputan, kemungkinan susunya tidak halal. Jangan minum susu susulumputan karena susu itu halal.

Foto para begal yang ditangkap di Bandung adalah milik Metro TV.

Sampurasun