Showing posts with label Karikatur. Show all posts
Showing posts with label Karikatur. Show all posts

Wednesday, 18 November 2020

Jangan Berlebihan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Berlebihan itu dalam bahasa Sunda adalah “leuwih teuing”. Segala sesuatu yang berlebihan itu jelek. Dalam hal apa pun tetap jelek. Segala yang berlebihan itu berarti melewati batas yang telah ditentukan.

            Dalam hal agama pun demikian, tidak boleh melebihi batas yang telah ditentukan.

            Siapa yang menentukan batas-batas itu?

            Tidak ada yang lain yang menentukannya, kecuali Allah swt dan Rasulullah saw sendiri. Semua orang harus berpegang pada keduanya jika tidak ingin tersesat.

            Mari kita perhatikan QS Al Maidah, 5 : 77:

            “Katakanlah, ‘Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu. Janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia). Mereka sendiri telah tersesat dari jalan yang lurus.”

            Itu firman Allah swt, bukan kata-kata Nabi Muhammad saw, bukan pendapat ulama, apalagi pendapat saya. Begitulah larangan dari Allah swt. Kita tidak boleh berlebihan dalam hal agama seperti umat-umat dahulu yang telah tersesat karena sikapnya yang berlebihan.

            Itu memang ayat tersebut pada saat lalu diarahkan kepada para ahli kitab, tetapi kita dapat mengambil pelajaran dari hal itu.

            Kalau bingung dengan ayat ini, tanyakan dan diskusikan dengan ulama, para ahli, dan cendekiawan muslim. Tugas merekalah untuk menerangkan ayat tersebut. Saya sangat senang mendapatkan pengetahuan dari para ahli. Kalau dari para pembaca ada yang memiliki pemahaman tentang ayat ini, saya sangat senang mengetahuinya. Saya akan sangat berterima kasih.

            Kalau kita mencintai Allah swt, perilaku kita harus sesuai dengan yang diajarkan, jangan berlebihan. Misalnya, shalat wajib itu sudah ditentukan lima waktu, selebihnya sunat. Ya sudah, harus begitu. Kalau bersikap lain, itu menjadi berlebihan, misalnya, menentukan sendiri shalat wajib itu tujuh atau sebelas waktu. Itu berlebihan. Bisa juga dengan melebih-lebihkan firman Allah swt atau bahkan menguranginya. Itu juga berlebihan.

            Contoh lain, ada sekelompok orang yang mewajibkan shalat malam sambil mematikan lampu, lalu sesudahnya membakar alat kelaminnya sendiri, baik pria maupun wanita. Hal itu dilakukan mereka untuk merasakan panasnya api neraka. Itu berlebihan.

            Kalau ditanya, apakah mereka mencintai Allah swt?

            Jawaban mereka pasti sangat mencintai Allah swt karena mereka melakukan itu atas dasar cintanya kepada Allah swt. Akan tetapi, itu berlebihan, tidak sesuai aturan dan standar. Akibatnya, mereka menjadi kelompok sesat, lalu ditangkap polisi. Ini terjadi di Indonesia beberapa tahun lalu, beritanya ada di TV.

            Cinta kepada Nabi Muhammad saw juga jangan menimbulkan perilaku berlebihan, harus sesuai dengan ajaran Muhammad saw sendiri. Tidak boleh melewati batas yang ditentukan.

            Rasul Muhammad saw tidak boleh digambarkan itu adalah batas yang ditentukan agar umat Islam tidak berlebihan berperilaku dalam mencintai Nabi saw. Mayoritas ulama sepakat untuk mengharamkan perilaku menggambar atau melukis Nabi Muhammad saw. Hal itu disebabkan umat-umat terdahulu telah menggambar para nabi, murid-muridnya, orang-orang sholeh, dan orang-orang bijaknya. Awalnya, baik-baik saja. Generasi pertama sepeninggal para nabi itu menggunakan lukisan-lukisan itu untuk mengingatkan keluhuran, kemuliaan, dan keshalehan orang-orang suci itu. Akan tetapi, setelah berganti generasi, terjadi penyimpangan akidah. Mereka mulai sangat menghormati dan mensucikan gambar-gambar itu hingga akhirnya menyembah lukisan-lukisan itu. Itulah yang namanya berlebihan. Peristiwa-peristiwa itulah yang menyebabkan para ulama mengharamkan Nabi Muhammad saw untuk digambarkan. Para ulama sangat khawatir akidah umat menyimpang karena sangat cinta kepada Rasulullah saw melebihi cintanya kepada manusia, nabi lain, bahkan malaikat sekalipun. Karena cinta umat yang sangat tinggi itu dikhawatirkan umat akan berperilaku seperti umat yang terdahulu, yaitu menyembah lukisan Nabi Muhammad saw.

            Hal itu pun dikuatkan oleh peristiwa ketika Nabi Muhammad saw sakit, para istri beliau membicarakan gereja yang di dalamnya ada patung-patung orang-orang sucinya, seperti, Nabi Isa as, Siti Maryam, dll.. Mendengar hal itu, Nabi saw menjelaskan bahwa baik para isterinya maupun kaum muslimin untuk tidak berlebihan dalam mencintai dirinya. Maksudnya, meskipun sangat mencintai Nabi saw, kita tidak boleh membuat patung dirinya, apalagi di dalam masjid. Itulah batas perilaku kita dalam mencintai Nabi Muhammad saw.

            Meskipun sangat cinta, kita tidak boleh membuat patung dan gambar Nabi saw. Beliau sendiri yang membatasinya. Meskipun bagus dan indah manusia bisa membuat patung dan lukisan Nabi Muhammad saw, bagi mayoritas ulama, itu adalah berlebihan. Bagus dan indah saja tidak boleh, apalagi jelek.

            Itu bagi mayoritas ulama, bagi ulama yang lainnya, tidak begitu. Mereka membolehkan gambar dan lukisan Nabi Muhammad saw dibuat dan dipajang. Saya sendiri beberapa kali melihat lukisan itu. Banyak sekali dan rupa-rupa gambarnya. Ada yang masih kecil, masih remaja, serta dewasa dan matang. Akan tetapi, saya tidak melihat para pemilik lukisan itu menyembahnya, biasa saja. Akan tetapi, itu minoritas. Kalau dibagikan ke khalayak ramai, khawatir orang-orang akan menyembahnya seperti waktu lalu.

            Semua lukisan itu bagus, indah meskipun beda-beda, dinyatakan bahwa itu lukisan Nabi Muhammad saw. Kalau karikatur Nabi saw, banyak dibuat para ateis dan selalu buruk.

            Begitulah sikap-sikap berlebihan yang harus dihindari dari rasa cinta. Itu terjadi pada masa yang lalu.

            Pada masa sekarang, saya melihatnya lebih pada fanatisme organisasi. Mungkin ada ratusan, bahkan ribuan kelompok di kalangan kaum muslimin yang bersikap berlebihan ini. Mereka menganggap bahwa golongannyalah, kelompoknyalah yang paling benar, pemimpinnyalah yang paling suci. Kelompok yang berada di luar mereka, salah. Hampir tidak ada ayat-ayat Al Quran maupun hadits yang keluar dari mulut mereka, kecuali sedikit. Kalaupun ada, kebanyakan tentang perang. Hal yang banyak diucapkan mereka adalah kata-kata para pemimpinnya saja. Mereka berbanga-bangga dengan kelompoknya dan cenderung kasar, bahkan ekstrim. Jika punya senjata, mereka bisa menjadi pengacau. Ini sudah terjadi, pertarungan senjata di antara kelompok-kelompok itu sering sekali terjadi. Kita masih ingat ada pembunuhan ulama di Suriah yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu. Di Timur Tengah dan juga beberapa bagian dunia lain, kelompok-kelompok berlebihan ini bertebaran dan mengacaukan situasi.

            Jika ditanyakan kepada mereka apakah mereka mencintai Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw?

            Jawabannya, pasti sangat mencintai. Akan tetapi, rasa cinta mereka itu diwujudkan dengan perilaku yang sangat berlebihan.

            Jangan berlebihan dalam hal apa pun jika kita tidak ingin hidup tersesat. Soal rasa cinta boleh seluas samudera dan setinggi langit, bahkan harus menembus lautan dan angkasa, tetapi dalam mewujudkannya harus ada dalam koridor perilaku-perilaku yang sesuai dengan Al Quran dan hadits.

            Sampurasun

Wednesday, 28 October 2020

Pembunuhan Atas Nama Cinta Nabi Muhammad saw

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Beberapa tahun lalu, saya sering “chit chat” di youtube dengan orang asing, orang luar negeri dengan beragam keyakinan. Ada yang berasal dari Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, India, Italia, dan Australia; paling banyak dari Inggris. Pernah saya hitung, mereka yang chit-chat dengan saya itu sekitar 208 orang. Mereka beragam keyakinannya, ada yang ateis, Katolik, Hindu, dan Budha; paling banyak ateis. Di negaranya mereka gemar sekali menghina Islam dan Nabi Muhammad saw. Mereka membuat video-video bohong, dusta, dan berbagai penghinaan kepada Nabi Muhammad saw. Mereka banyak yang mem-bully saya sebagai anggota Isis, imigran gelap, dan tidak berperikemanusiaan. Hal itu disebabkan saat itu memang Isis berada pada puncak kekuasaannya, di Inggris sedang terjadi kampanye pemilihan walikota London yang kemudian dimenangkan oleh orang Islam bernama Sadiq Khan, dan di Indonesia sedang dilaksanakan persiapan hukuman mati bagi delapan pengedar Narkoba dari berbagai negara. Hal itu membuat mereka marah dan melakukan banyak penghinaan kepada Islam dan kepada diri saya juga. Percakapan saya dengan mereka bisa dilihat di Google+ saya. Sayangnya, Google+ saya sudah tidak aktif.

            Hal yang aneh adalah mereka itu marah pada keadaan, tetapi menyalahkan Islam dan Muhammad saw. Padahal, jika ada orang yang salah, mereka benci dan kebetulan beragam Islam, seharusnya orangnya atau kelompoknya saja yang disalahkan, dibenci, dan dihukum. Jangan menghina Islam dan Muhammad saw karena hal itu berbahaya, membuat masalah menjadi makin luas dan mengerikan.

            Meskipun mereka mem-bully saya. Saya sih tenang-tenang saja. Kalaupun saya marah, nggak ada penyelesaiannya. Saya di Bandung, Indonesia, sedangkan mereka ada di negara mereka dan di kotanya masing-masing. Kami hanya chit chat lewat youtube. Pengennya sih saya hajar mereka, tetapi kan susah, jauh.

            Saya ingatkan mereka, “Jangan menghina Muhammad saw. Umat Islam itu lebih cinta Muhammad dibandingkan dirinya sendiri. Kalau kalian berperilaku seperti itu, kita tidak tahu akan ada orang yang marah di negara kalian. Lalu, masuk kamar kalian ketika kalian tidur dan leher kalian digoroknya.”

            Mereka nggak mau tahu, malah menjawab, “Negara kami adalah negara maju dan punya alat untuk mendeteksi kejahatan seperti itu.”

            Ya, sudah. Saya sudah mengingatkan.

            Saya jawab saja, “Bagus kalian punya alat seperti itu.”

            Sayangnya, alat itu tidak pernah ada dan hanya celoteh kosong mereka saja. Dua hari kemudian, ada berita bahwa di Amerika Serikat terjadi penembakan terhadap ketua panitia lomba menggambar karikatur Nabi Muhammad saw. Itu tandanya alat itu tidak pernah ada. Mereka cuma cari penyakit.

            Mereka pun bertanya lagi sama saya, ”Mengapa Muhammad tidak boleh digambar? Itu kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi!”

            Yakin sekali mereka dengan kebebasan berekspresi kampungan itu.

            Saya jawab saja, “Kalian membuat karikatur Muhammad saw dengan pose-pose yang sangat buruk dan itu menyakiti perasaan umat Islam.”

            Mereka tetap berkilah bahwa itu adalah kebebasan berekspresi.

            Ya sudah, saya tanya mereka dengan pertanyaan kasar dan sangat ekstrim, “Kalau ibu kalian digambar sedang telanjang di kandang babi dan melakukan hubungan seks dengan babi, hukuman apa yang akan kalian lakukan terhadap orang yang menggambar ibu kalian itu?”

            Saya yakin dalam hati mereka akan menjawab “hukuman mati”. Akan tetapi, mereka tidak mau menjawab dan tidak pernah ada jawaban sampai hari ini.

            Sekarang sedang viral pembunuhan seorang guru sejarah di Perancis yang mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad saw oleh seorang muslim Rusia, Chechen. Itu juga atas nama kebebasan berekspresi yang menimbulkan kemarahan dan kematian.

            Betul kan hal yang saya ingatkan kepada mereka?

            “Jangan menghina Nabi Muhammad saw karena kita tidak pernah tahu akan ada orang yang marah dan menggorok leher kalian dengan tiba-tiba”.

            Perancis perlu meniru Jerman yang menerapkan hukuman kepada para penghina Muhammad saw.

            Sampurasun.