oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Sebetulnya, saya malas ikut-ikutan ngomentarin
dollar. Soalnya, lucu.
Orang-orang ini lagi
ngeributin apa sih?
Memangnya kenapa?
Saya jadi ikut-ikutan menulis
soal ini karena ada banyak permintaan, baik dari murid-murid saya, maupun dari
teman-teman saya sendiri. Mereka ingin pendapat saya soal dollar yang lagi
diributkan orang itu dari sudut pandang saya.
Memangnya penting pendapat
saya?
Nanti banyak orang
tersinggung. Makanya, saya kasih tahu dari sekarang. Kalau mudah tersinggung,
jangan baca tulisan saya ini. Skip saja. Tetap saja kukuh pada pendapat kalian
masing-masing. Jangan baca tulisan saya ini, lewati saja, segera pindah ke
tulisan atau video lain.
Jangan
salahkan saya jika kalian tersinggung, saya sudah kasih tahu untuk tidak baca
tulisan ini. Kalian masih membaca terus. Jadi, jangan tersinggung, kalian yang
salah karena membaca tulisan ini. Sudah dikasih tahu, masih terus juga membaca,
bandel.
Karena
kalian bandel, okelah saya kasih tahu pendapat saya tentang dollar yang
diheboh-hebohkan orang itu. Saya tidak menggunakan angka-angka pasti ekonomi
karena sudah saya bilang, lagi malas. Cari saja sendiri angka ekonomi pastinya,
banyak kok. Saya hanya ingin menjelaskan dari sisi politiknya menurut keyakinan
saya.
Isu
ini berasal dari orang-orang yang kalah secara politik, kalah secara ekonomi,
dan kalah secara sosial. Sejak Jokowi menjabat Presiden RI periode pertama,
sudah banyak isu yang digunakan menyerang pemerintah. Mulai isu Jokowi PKI,
bodoh, planga-plongo, klemar-klemer, banyak bohong, pendusta, ingkar janji, dan
lain sebagainya. Mereka selalu mengancam
dengan akan adanya penggulingan pemerintah seperti pada aksi 1998. Akan tetapi,
buktinya Jokowi tetap kuat dan terpilih untuk periode kedua. Artinya,
orang-orang itu kalah. Jokowi selaku pemerintah menang. Itu fakta.
Sudah
mulai tersinggung membaca tulisan ini?
Kan
udah dibilangin untuk berhenti membaca. Kalian membaca terus sih.
Pemerintahan
Jokowi tidak pernah sepi dari isu penggulingan dan keinginan untuk menciptakan
kondisi yang mendorong aksi 1998. Pada periode kedua dia berkuasa pun ada
banyak serangan, seperti, mobil Esemka, ekonomi memburuk karena Covid 19, soal
infrastruktur, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pemerintahan gagal, omnibus
law, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Jokowi tetap kuat dan mendorong pasangan
Prabowo-Gibran untuk memimpin Indonesia. Artinya, banyak orang yang dikalahkan.
Jokowi tetap menang. Sementara itu, aksi mirip 1998, tidak pernah terjadi. Itu
kenyataan.
Ketika
Prabowo Subianto menjadi presiden didampingi Gibran Rakabuming Raka yang
anaknya Jokowi itu, gencar diisukan bahwa Prabowo adalah boneka Jokowi. Prabowo
dikendalikan oleh Jokowi. Akan tetapi, Prabowo tidak merasa dikendalikan dan
tetap menghormati Jokowi. Hubungan mereka tetap baik. Kemudian, diisukan pula
bahwa Gibran adalah Fufufafa yang menghina dan merendahkan Prabowo sekeluarga. Maksudnya,
supaya Prabowo marah dan membenci Gibran. Akan tetapi, isu itu gagal. Para
pembenci dan penyinyir tetap dalam posisi kalah. Pemerintah tetap tegak dan
kuat.
Orang-orang
yang dikalahkan pemerintah tetap menunggu dan menciptakan kondisi agar terjadi
kekalutan untuk bisa menjatuhkan pemerintah melalui gerakan yang
inkonstitusional karena jika melakukan gerakan yang sesuai dengan konstitusi, sudah
pasti kalah, yaitu melalui Pemilu dan pemecatan. Mereka memilih untuk melakukan
gerakan di luar konstitusi, yaitu huru-hara seperti aksi 1998 dalam pikiran
mereka.
Mereka
rajin bikin narasi-narasi negatif tentang pemerintah. Meskipun salah dan kalah,
mereka tetap konsisten mengarang berbagai isu yang akhirnya dilupakan orang
juga. Ketika terjadi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang
berlarut-larut, kondisi ekonomi dunia berguncang, beberapa negara kelimpungan.
Indonesia pun ikut terpengaruh dengan harga BBM yang meningkat dan nilai tukar
rupiah yang melemah terhadap dollar AS.
Orang-orang
kalah yang dirugikan pemerintah membuat banyak asumsi yang menggambarkan
Indonesia akan rusak dan berantakan, terutama karena nilai tukar dollar yang
semakin tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan pada saat aksi 1998. Mereka
memprovokasi akan terjadinya negara kolaps karena ekonomi lemah akibat rupiah
yang lemah terhadap dollar. Sebagaimana biasa, mereka mengancam akan terjadinya
aksi 1998 karena kondisinya lebih parah dibandingkan 1998 dalam pikiran mereka.
Ketika
rajin-rajinnya mereka membuat banyak narasi kerusakan ekonomi akibat dollar AS
yang meningkat, Presiden Indonesia Prabowo Subianto malah bercanda, terkesan
melecehkan berbagai isu, narasi, framing, dan pikiran berbagai pihak yang
menakut-nakuti masyarakat soal keruntuhan ekonomi yang akan menimbulkan
kejatuhan pemerintah.
Prabowo
seolah-olah meledek bahwa yang pusing karena dollar adalah mereka yang suka
bepergian ke luar negeri, sementara rakyat di desa-desa tenang-tenang saja
karena tidak bertransaksi menggunakan dollar AS. Inilah yang membuat banyak
orang marah karena merasa dilecehkan Presiden. Mereka lalu membuat lebih banyak
narasi dan menyebarluaskannya lebih masif hingga ke orang-orang kecil yang
tidak tahu juga soal transaksi menggunakan dollar. Mereka melebih-lebihkan
situasi dengan mengungkapkan bahwa rakyat di desa banyak yang menjerit,
berteriak, menderita karena harga melangit akibat rupiah lemah terhadap dollar.
Pertanyaannya
adalah rakyat mana yang menjerit?
Di
desa mana yang sangat terpengaruh oleh dollar sehingga rakyat menderita?
Paling
juga rakyat Medsos di Desa Medsos yang kalang kabut. Di dalam kehidupan nyata,
biasa-biasa saja.
Saya
ini orang kampung lho, Kampung Sodong, Desa Nagrak, di sekitar perbukitan. Setiap
pagi selepas shalat Shubuh sering berolahraga pagi mengitari dua atau tiga blok
di komplek, lalu menemui teman saya pedagang bubur ayam untuk jajan dan ngobrol
di sana dengan Ketua RW, RT, dan DKM. Harga bubur ayam tidak berubah dari bulan
lalu, masih sama. Orang-orang tidak membicarakan dollar, paling mengobrol
tentang lingkungan dan kerja bakti. Bubur ayam itu terdiri atas beras, seledri,
kacang, kecap, kerupuk, dll. Harganya tidak berubah karena komponen-komponennya
tidak mengalami kenaikan harga.
Saya
ini pengunyah bawang dan daun sirih. Jadi, suka ke warung sayuran untuk
membelinya sekalian membeli sayuran pesanan
istri. Harganya masih sama kayak dua minggu kemarin, tidak berubah. Harga yang
sering berubah naik turun itu harga telur dan minyak goreng. Dari dulu juga
kedua barang itu sering naik-turun, tidak ada hubungannya dengan perang
AS-Israel Vs Iran.
Saya
ini pemelihara bebek dan ikan. Harga pakan sekarung dedak dan pelet tidak
berubah. Biasa saja. Itu saya sertakan video anak saya yang kedua sedang
memberikan makan ikan di kolam dan bebek.
Lalu,
siapa yang menjerit karena dollar? Di kampung mana? Di desa mana?
Oleh
sebab itu, soal kenaikan dollar, Markisu saja, mari minum kita susu. Saya ini
dua kali minum susu dalam sehari. Pagi-pagi minum susu kambing, siang atau sore
minum susu sapi. Tidak perlu heboh jika tidak terjadi apa-apa, tenang saja.
Minum susu saja. Kalau ada, tambah dengan susu kuda, mau kuda liar atau kuda
lieur juga nggak apa-apa. Kalau masih punya uang, bisa juga beli susu unta. Hidup
susu!
Mengapa
tidak terjadi tanda-tanda aksi huru-hara seperti 1998 padahal harga dollar
lebih tinggi saat ini?
Mari
belajar bareng sambil minum susu.
Pada
masa di seputar aksi 1998 itu harga dollar AS meningkat sangat tinggi dalam
waktu yang sangat cepat. Dari Rp2.500,- menjadi Rp15.000,-, kemudian naik lagi
menjadi Rp16.800,-. Kenaikannya sangat tinggi, Rp14.300,- dalam waktu yang sangat
cepat. Itulah yang membuat masyarakat panik, barang-barang mahal, perusahaan
banyak yang bangkrut, PHK terjadi di mana-mana, pengangguran semakin meledak
mendadak. Orang-orang kesulitan uang, dapur-dapur rumah tangga tidak lagi
ngebul, sampai pedagang di emperan pun tak menghasilkan uang yang cukup untuk
dibawa pulang. Itulah yang menggerakkan mahasiswa bersama rakyat melakukan aksi
1998. Ujungnya adalah pemerintahan Presiden Soeharto jatuh. Itu fakta,
kenyataan yang tidak bisa dibantah.
Berbeda
jauh dengan situasi saat ini, 2026, rupiah melemah hanya sedikit, yaitu dari
enam belas ribuan rupiah menjadi tujuh belasan ribu rupiah, hanya sekitar
seribu rupiah kenaikannya. Jauh lebih sedikit dibandingkan 1998. Di samping
itu, saat ini neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus. Ekspor Indonesia
lebih besar dibandingkan impor. Artinya, Indonesia mendapatkan banyak untung,
menghasilkan banyak uang dari perdagangan dengan pihak asing. Dengan keuntungan
itu dan usaha-usaha negara lainnya, Indonesia masih bisa menstabilkan keadaan
ekonomi sehingga rakyat tidak terlalu merasakan dampak dari kenaikan harga
dollar AS. Dengan demikian, aksi mirip 1998, tidak juga terjadi. Pemerintahan
Prabowo-Gibran tetap berdiri tegak.
Sampai
sini paham kan mengapa di tengah masyarakat tidak terjadi guncangan berarti?
Kalau
belum paham, sebaiknya minum susu.
Saat
ini situasi masih tenang-tenang saja. Orang-orang masih merayakan Idul Adha
dengan baik tanpa memusingkan dollar. Saya dan tetangga masih bisa beli makanan
buat Nobar Persib, tuh videonya ada. Bapa Aing Dedi Mulyadi masih ceria konvoy
bareng ribuan fans Persib. Mendingan minum susu dibandingkan mikirin dollar
mah.
Kita
masih punya Menteri Keuangan yang bekerja bersama kementerian lainnya untuk
mempertahankan, bahkan membuat Indonesia maju.
Kata Prabowo, “ Selama Purbaya
masih tersenyum, berarti keuangan kita baik-baik saja.”
Tentunya, keadaan akan menjadi
tidak baik-baik saja jika pemerintah dan rakyat tidak bersatu untuk
meningkatkan ekspor, menggantungkan diri pada impor dari negara lain, tidak
menindak keras para koruptor, serta membiarkan kejahatan ekonomi dan kejahatan
politik mengacaukan negara.
Mudah-mudahan kita semua paham
dan tenang-tenang saja hingga dollar bisa dikembalikan ke Rp15.000,-. Kalau
situasi masih tenang, tidak perlu bikin ricuh, Markisu mari kita minum susu.
No comments:
Post a Comment