Wednesday, 27 May 2026

Soal Dollar? Markisu: Mari Kita Minum Susu

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Sebetulnya, saya malas ikut-ikutan ngomentarin dollar. Soalnya, lucu.

Orang-orang ini lagi ngeributin apa sih?

Memangnya kenapa?

Saya jadi ikut-ikutan menulis soal ini karena ada banyak permintaan, baik dari murid-murid saya, maupun dari teman-teman saya sendiri. Mereka ingin pendapat saya soal dollar yang lagi diributkan orang itu dari sudut pandang saya.

Memangnya penting pendapat saya?

Nanti banyak orang tersinggung. Makanya, saya kasih tahu dari sekarang. Kalau mudah tersinggung, jangan baca tulisan saya ini. Skip saja. Tetap saja kukuh pada pendapat kalian masing-masing. Jangan baca tulisan saya ini, lewati saja, segera pindah ke tulisan atau video lain.

            Jangan salahkan saya jika kalian tersinggung, saya sudah kasih tahu untuk tidak baca tulisan ini. Kalian masih membaca terus. Jadi, jangan tersinggung, kalian yang salah karena membaca tulisan ini. Sudah dikasih tahu, masih terus juga membaca, bandel.

            Karena kalian bandel, okelah saya kasih tahu pendapat saya tentang dollar yang diheboh-hebohkan orang itu. Saya tidak menggunakan angka-angka pasti ekonomi karena sudah saya bilang, lagi malas. Cari saja sendiri angka ekonomi pastinya, banyak kok. Saya hanya ingin menjelaskan dari sisi politiknya menurut keyakinan saya.

            Isu ini berasal dari orang-orang yang kalah secara politik, kalah secara ekonomi, dan kalah secara sosial. Sejak Jokowi menjabat Presiden RI periode pertama, sudah banyak isu yang digunakan menyerang pemerintah. Mulai isu Jokowi PKI, bodoh, planga-plongo, klemar-klemer, banyak bohong, pendusta, ingkar janji, dan lain sebagainya.  Mereka selalu mengancam dengan akan adanya penggulingan pemerintah seperti pada aksi 1998. Akan tetapi, buktinya Jokowi tetap kuat dan terpilih untuk periode kedua. Artinya, orang-orang itu kalah. Jokowi selaku pemerintah menang. Itu fakta.

            Sudah mulai tersinggung membaca tulisan ini?

            Kan udah dibilangin untuk berhenti membaca. Kalian membaca terus sih.

            Pemerintahan Jokowi tidak pernah sepi dari isu penggulingan dan keinginan untuk menciptakan kondisi yang mendorong aksi 1998. Pada periode kedua dia berkuasa pun ada banyak serangan, seperti, mobil Esemka, ekonomi memburuk karena Covid 19, soal infrastruktur, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pemerintahan gagal, omnibus law, dan lain sebagainya. Akan tetapi, Jokowi tetap kuat dan mendorong pasangan Prabowo-Gibran untuk memimpin Indonesia. Artinya, banyak orang yang dikalahkan. Jokowi tetap menang. Sementara itu, aksi mirip 1998, tidak pernah terjadi. Itu kenyataan.

            Ketika Prabowo Subianto menjadi presiden didampingi Gibran Rakabuming Raka yang anaknya Jokowi itu, gencar diisukan bahwa Prabowo adalah boneka Jokowi. Prabowo dikendalikan oleh Jokowi. Akan tetapi, Prabowo tidak merasa dikendalikan dan tetap menghormati Jokowi. Hubungan mereka tetap baik. Kemudian, diisukan pula bahwa Gibran adalah Fufufafa yang menghina dan merendahkan Prabowo sekeluarga. Maksudnya, supaya Prabowo marah dan membenci Gibran. Akan tetapi, isu itu gagal. Para pembenci dan penyinyir tetap dalam posisi kalah. Pemerintah tetap tegak dan kuat.

            Orang-orang yang dikalahkan pemerintah tetap menunggu dan menciptakan kondisi agar terjadi kekalutan untuk bisa menjatuhkan pemerintah melalui gerakan yang inkonstitusional karena jika melakukan gerakan yang sesuai dengan konstitusi, sudah pasti kalah, yaitu melalui Pemilu dan pemecatan. Mereka memilih untuk melakukan gerakan di luar konstitusi, yaitu huru-hara seperti aksi 1998 dalam pikiran mereka.

            Mereka rajin bikin narasi-narasi negatif tentang pemerintah. Meskipun salah dan kalah, mereka tetap konsisten mengarang berbagai isu yang akhirnya dilupakan orang juga. Ketika terjadi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang berlarut-larut, kondisi ekonomi dunia berguncang, beberapa negara kelimpungan. Indonesia pun ikut terpengaruh dengan harga BBM yang meningkat dan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar AS.

            Orang-orang kalah yang dirugikan pemerintah membuat banyak asumsi yang menggambarkan Indonesia akan rusak dan berantakan, terutama karena nilai tukar dollar yang semakin tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan pada saat aksi 1998. Mereka memprovokasi akan terjadinya negara kolaps karena ekonomi lemah akibat rupiah yang lemah terhadap dollar. Sebagaimana biasa, mereka mengancam akan terjadinya aksi 1998 karena kondisinya lebih parah dibandingkan 1998 dalam pikiran mereka.

            Ketika rajin-rajinnya mereka membuat banyak narasi kerusakan ekonomi akibat dollar AS yang meningkat, Presiden Indonesia Prabowo Subianto malah bercanda, terkesan melecehkan berbagai isu, narasi, framing, dan pikiran berbagai pihak yang menakut-nakuti masyarakat soal keruntuhan ekonomi yang akan menimbulkan kejatuhan pemerintah.

            Prabowo seolah-olah meledek bahwa yang pusing karena dollar adalah mereka yang suka bepergian ke luar negeri, sementara rakyat di desa-desa tenang-tenang saja karena tidak bertransaksi menggunakan dollar AS. Inilah yang membuat banyak orang marah karena merasa dilecehkan Presiden. Mereka lalu membuat lebih banyak narasi dan menyebarluaskannya lebih masif hingga ke orang-orang kecil yang tidak tahu juga soal transaksi menggunakan dollar. Mereka melebih-lebihkan situasi dengan mengungkapkan bahwa rakyat di desa banyak yang menjerit, berteriak, menderita karena harga melangit akibat rupiah lemah terhadap dollar.

            Pertanyaannya adalah rakyat mana yang menjerit?

            Di desa mana yang sangat terpengaruh oleh dollar sehingga rakyat menderita?

            Paling juga rakyat Medsos di Desa Medsos yang kalang kabut. Di dalam kehidupan nyata, biasa-biasa saja.

            Saya ini orang kampung lho, Kampung Sodong, Desa Nagrak, di sekitar perbukitan. Setiap pagi selepas shalat Shubuh sering berolahraga pagi mengitari dua atau tiga blok di komplek, lalu menemui teman saya pedagang bubur ayam untuk jajan dan ngobrol di sana dengan Ketua RW, RT, dan DKM. Harga bubur ayam tidak berubah dari bulan lalu, masih sama. Orang-orang tidak membicarakan dollar, paling mengobrol tentang lingkungan dan kerja bakti. Bubur ayam itu terdiri atas beras, seledri, kacang, kecap, kerupuk, dll. Harganya tidak berubah karena komponen-komponennya tidak mengalami kenaikan harga.

            Saya ini pengunyah bawang dan daun sirih. Jadi, suka ke warung sayuran untuk membelinya sekalian  membeli sayuran pesanan istri. Harganya masih sama kayak dua minggu kemarin, tidak berubah. Harga yang sering berubah naik turun itu harga telur dan minyak goreng. Dari dulu juga kedua barang itu sering naik-turun, tidak ada hubungannya dengan perang AS-Israel Vs Iran.

            Saya ini pemelihara bebek dan ikan. Harga pakan sekarung dedak dan pelet tidak berubah. Biasa saja. Itu saya sertakan video anak saya yang kedua sedang memberikan makan ikan di kolam dan bebek.




            Lalu, siapa yang menjerit karena dollar? Di kampung mana? Di desa mana?

            Oleh sebab itu, soal kenaikan dollar, Markisu saja, mari minum kita susu. Saya ini dua kali minum susu dalam sehari. Pagi-pagi minum susu kambing, siang atau sore minum susu sapi. Tidak perlu heboh jika tidak terjadi apa-apa, tenang saja. Minum susu saja. Kalau ada, tambah dengan susu kuda, mau kuda liar atau kuda lieur juga nggak apa-apa. Kalau masih punya uang, bisa juga beli susu unta. Hidup susu!

            Mengapa tidak terjadi tanda-tanda aksi huru-hara seperti 1998 padahal harga dollar lebih tinggi saat ini?

            Mari belajar bareng sambil minum susu.

            Pada masa di seputar aksi 1998 itu harga dollar AS meningkat sangat tinggi dalam waktu yang sangat cepat. Dari Rp2.500,- menjadi Rp15.000,-, kemudian naik lagi menjadi Rp16.800,-. Kenaikannya sangat tinggi, Rp14.300,- dalam waktu yang sangat cepat. Itulah yang membuat masyarakat panik, barang-barang mahal, perusahaan banyak yang bangkrut, PHK terjadi di mana-mana, pengangguran semakin meledak mendadak. Orang-orang kesulitan uang, dapur-dapur rumah tangga tidak lagi ngebul, sampai pedagang di emperan pun tak menghasilkan uang yang cukup untuk dibawa pulang. Itulah yang menggerakkan mahasiswa bersama rakyat melakukan aksi 1998. Ujungnya adalah pemerintahan Presiden Soeharto jatuh. Itu fakta, kenyataan yang tidak bisa dibantah.

            Berbeda jauh dengan situasi saat ini, 2026, rupiah melemah hanya sedikit, yaitu dari enam belas ribuan rupiah menjadi tujuh belasan ribu rupiah, hanya sekitar seribu rupiah kenaikannya. Jauh lebih sedikit dibandingkan 1998. Di samping itu, saat ini neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus. Ekspor Indonesia lebih besar dibandingkan impor. Artinya, Indonesia mendapatkan banyak untung, menghasilkan banyak uang dari perdagangan dengan pihak asing. Dengan keuntungan itu dan usaha-usaha negara lainnya, Indonesia masih bisa menstabilkan keadaan ekonomi sehingga rakyat tidak terlalu merasakan dampak dari kenaikan harga dollar AS. Dengan demikian, aksi mirip 1998, tidak juga terjadi. Pemerintahan Prabowo-Gibran tetap berdiri tegak.

            Sampai sini paham kan mengapa di tengah masyarakat tidak terjadi guncangan berarti?

            Kalau belum paham, sebaiknya minum susu.

            Saat ini situasi masih tenang-tenang saja. Orang-orang masih merayakan Idul Adha dengan baik tanpa memusingkan dollar. Saya dan tetangga masih bisa beli makanan buat Nobar Persib, tuh videonya ada. Bapa Aing Dedi Mulyadi masih ceria konvoy bareng ribuan fans Persib. Mendingan minum susu dibandingkan mikirin dollar mah.




            Kita masih punya Menteri Keuangan yang bekerja bersama kementerian lainnya untuk mempertahankan, bahkan membuat Indonesia maju.

Kata Prabowo, “ Selama Purbaya masih tersenyum, berarti keuangan kita baik-baik saja.”

Tentunya, keadaan akan menjadi tidak baik-baik saja jika pemerintah dan rakyat tidak bersatu untuk meningkatkan ekspor, menggantungkan diri pada impor dari negara lain, tidak menindak keras para koruptor, serta membiarkan kejahatan ekonomi dan kejahatan politik mengacaukan negara.

Mudah-mudahan kita semua paham dan tenang-tenang saja hingga dollar bisa dikembalikan ke Rp15.000,-. Kalau situasi masih tenang, tidak perlu bikin ricuh, Markisu mari kita minum susu.


Sampurasun.

No comments:

Post a Comment